CHAPTER 2

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong ^^. jeongmal gomawo bwt chingudeul yg udh berkenan mampir, ngikutin, & ksh review bwt ff aneh ini. hehe... mian, mgkn ini critanya agak sdkt panjang & lebar (?). prjalanan yunjae rada lambat sdkt, jd biar yunho maen2 sbntr sm yoona gpp ya ~maafkan saya yg payah~ hehe... jd saya mohon ksabaran chingudeul skalian :p. smoga chingudeul ga pada bosen, ya ^^.

###

Yunho membuka matanya perlahan. Dia memicingkan matanya untuk menyesuaikan dengan penerangan yang ada di situ. Dia lalu duduk dan menekan kepalanya yang terasa berputar. Dia melihat sekeliling. Dia merasa tidak mengenali ruangan ini.

"Jung Yunho-shi, kau sudah sadar?" Yunho menoleh ke asal suara. Seorang yeojya manis mendekatinya sambil tersenyum ramah.

"Ini di mana? Kau siapa?" tanya Yunho bingung.

Yeojya itu duduk di tepi tempat tidur Yunho. "Ini ruang kesehatan. Kau tadi pingsan waktu ada di ruang kepala sekolah. Lalu kau dibawa ke sini. Kau murid baru, kan."

Yunho mengangguk. "Ne. Aku.. Aku memang sedang tidak enak badan. Aku baru tiba dari luar kota semalam."

"Wajahmu pucat sekali. Kalau badanmu terasa tak enak, kenapa kau memaksakan diri berangkat? Seharusnya kau istirahat dulu di rumah."

Yunho tersenyum. "Gwenchana. Aku hanya sedikit pusing."

Yeojya itu mengambil obat di meja di dekat tempat tidur lalu menyodorkannya ke Yunho bersama segelas air. "Ini, minumlah dulu."

"Gomawo." Yunho menerima obat itu dan meminumnya. "Kau yang bertugas di ruang ini? Siapa namamu?"

"Yoona. Im Yoona imnida." jawabnya sambil tersenyum.

"Aku Yunho. Jung Yunho." ujar Yunho sambil mengulurkan tangannya.

Yeojya itu tertawa kecil sambil membalas jabatan tangan Yunho. "Ne. Aku tahu."

Yunho tertawa. 'Ommo, dia manis sekali kalau sedang tertawa.' pikirnya. "Gomawo, Yoona-shi. Kau sudah menjagaku di sini. Sekarang aku mau ke kelas." Yunho beranjak dari tempat tidurnya.

"Kau yakin sudah kuat, Yunho-shi? Kenapa tidak istirahat di sini dulu?"

Yunho menggeleng. "Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir. Tapi, umm.. aku belum tahu di mana kelasku."

"Aku tahu. Tadi Choi songsaengnim memberitahuku. Kajja. Aku antar ke kelasmu."

Beberapa saat kemudian Yunho tiba di kelas. "Annyeonghasaeyo.. Jung Yunho imnida.." Dia membungkukkan tubuhnya.

Seisi kelas memperhatikannya dan mulai berbisik-bisik. Mereka mengagumi wajah kecil Yunho yang tampan itu. Sorot tajam dari kedua matanya yang sipit dan alis tebalnya membuatnya tampak semakin mempesona.

"Jung Yunho-shi. Kau sudah baikan? Saya dengar kau pingsan di ruang Choi songsaengnim." ujar sang guru sambil tersenyum ramah.

Yunho tersenyum dan menjawab, "Ne. Saya sudah tidak apa-apa, songsaengnim. Gomawo."

"Baiklah. Selamat datang di sekolah ini, Yunho-shi. Silakan duduk di sebelah sana." kata sang guru seraya menunjukkan salah satu kursi kosong di pojok. Yunho kembali membungkuk lalu berjalan menuju kursi yang ditunjuk.

"Annyeong.. Kim Junsu imnida." Namja yang duduk di sebelahnya memperkenalkan diri.

Yunho menoleh ke arah namja itu. "Junsu-shi, senang bisa berkenalan denganmu." ujarnya sambil tersenyum.

Namja itu tertawa kecil. "Tidak perlu sungkan, Yunho-shi. Ini hari pertamamu, kan. Kalau ada yang ingin kautanyakan atau perlu sesuatu, katakan saja padaku. Aku pasti akan membantumu."

"Gomawo. Kau baik sekali, Junsu-shi. Ne, aku pasti akan sangat membutuhkan bantuanmu di sini."

Junsu memperhatikan wajah Yunho. "Kau yakin sudah baikan? Kulihat wajahmu pucat."

"Gwenchana. Hanya masih sedikit pusing, tapi tidak seperti tadi pagi. Mungkin aku hanya kecapekan. Aku sudah minum obat di ruang kesehatan tadi."

Beberapa saat kemudian seorang namja cantik memasuki kelas. Guru dan beberapa murid memandangnya dengan tajam dan marah. Tapi dia nampaknya tidak peduli dengan semua itu. Sambil bersiul pelan dia berjalan ke tempat duduknya.

"Jaejoong, kau pikir jam berapa ini? Masuk dan keluar seenaknya, apa kau tidak tahu jam masuk dan pulang sekolah?" ujar sang guru dingin sambil menatap tajam namja itu.

Namja itu menoleh acuh tak acuh ke arah gurunya. "Mianhae, songsaengnim. Aku ada bisnis yang tidak bisa kutinggalkan."

Sang guru mendengus kesal. Namja yang bernama Jaejoong itu hanya menyeringai melihat responnya lalu berjalan menuju kursinya. Yunho memandang namja itu dengan heran. Kenapa dia bisa datang terlambat dan tidak merasa bersalah sedikitpun? Kenapa dia bersikap sangat tidak sopan terhadap gurunya sendiri?

Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi. Beberapa namja dan yeojya mengerumuni Yunho. Mereka memperkenalkan diri mereka dan bertanya macam-macam pada Yunho. Yunho tersenyum lega. Murid-murid di sini sangat ramah dan bersahabat. Dia berpikir tidak akan memerlukan waktu lama untuk beradaptasi di sini.

Junsu menepuk pundaknya. "Ayo, Yunho-shi. Kuantar kau melihat-lihat seluruh sekolah."

"Ne, gomawo." kata Yunho penuh semangat lalu berjalan mengikuti Junsu.

Mereka berjalan di sepanjang koridor sekolah. Junsu menunjukkan letak ruang guru, perpustakaan, kantin, dan ruang-ruang penting lainnya. Semakin lama Yunho semakin mengagumi sekolahnya. Sesekali mereka berpapasan dengan murid-murid dari kelas lain yang memandang kagum wajah Yunho yang memang mempesona dengan kulit coklatnya dan tubuhnya yang atletis.

"Kau lapar? Ayo, kita makan dulu di kafetaria." ajak Junsu. Mereka lalu masuk ke kafe. Sesudah memesan makanan, mereka duduk berhadapan dengan beberapa namja.

"Kau murid baru di kelasku, kan. Sepertinya kita belum berkenalan." ujar salah seorang namja. Dia mengulurkan tangannya pada Yunho. "Kim Jaejoong imnida."

Yunho memperhatikan namja itu. Dia adalah murid yang tadi terlambat masuk. Yunho tidak menyukai sikapnya, tapi bagaimanapun juga Jaejoong adalah teman sekelasnya jadi dia harus bersikap sopan. Dia membalas jabatan tangannya mencoba bersikap ramah. "Jung Yunho imnida."

"Kau berasal dari mana? Sepertinya logatmu bukan logat orang Seoul." tanya Jaejoong.

Yunho mengangguk lalu menjawab. "Ne. Rumahku ada di Gwangju. Baru kemarin aku tiba di Seoul."

"Oh, begitu." Jaejoong manggut-manggut kemudian menyelesaikan makanannya. "Senang berkenalan denganmu, Yunho-shi. Semoga kita bisa menjadi teman. Aku mau pergi dulu. Oh, ya. Kapan-kapan kalau kau mau berjalan-jalan, kau bisa hubungi aku. Aku akan dengan senang hati menemanimu." Jaejoong tersenyum lalu bangkit dari kursinya.

Yunho membalas senyumannya sambil mengangguk. "Ne. Gomawo, Jaejoong-shi."

Yunho memandangi punggung Jaejoong sampai namja itu keluar dari pintu. Dia merasakan keanehan dari namja cantik itu. Dia menoleh ke Junsu. "Jaejoong itu namja, kan. Kalau aku tidak benar-benar memperhatikan, pasti aku akan mengira dia seorang yeojya."

Junsu menjawab sambil menyeruput jusnya. "Ne. Wajahnya memang cantik. Karena itu dia punya banyak idola di sini." Dia terdiam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Yunho-shi, sebaiknya kau tidak usah dekat-dekat dengannya."

Yunho memandangnya heran. "Mwo? Wae?"

Junsu menghela nafasnya. "Suatu saat nanti kau akan tahu. Jaejoong itu orang aneh."

Yunho mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu.."

"Sudahlah. Kita harus cepat menghabiskan makanan kita. Bel masuk sebentar lagi berbunyi."

Yunho terdiam. Ternyata pikirannya tentang Jaejoong tadi tidak salah. Tapi apa anehnya? Memang siapa sebenarnya Jaejoong itu? Dia masih ingin bertanya lebih banyak tapi kelihatannya teman barunya ini tidak berminat untuk membahas Jaejoong. Mereka kemudian melanjutkan makan tanpa suara.

Bel usai sekolah berbunyi. Yunho dan Junsu berjalan keluar dari kelas mereka. "Sampai bertemu besok, Junsu-shi. Gomawo sudah mengantarkanku berkeliling hari ini." ujar Yunho sesudah mereka sampai ke dekat pintu gerbang.

"Yunho-shi, kau parkirkan di mana motormu?" tanya Junsu.

Yunho menggeleng. "Aku naik bis. Aku akan tunggu di halte seberang sana."

"Rumahmu di mana? Ayo aku antar saja." ajak Junsu.

"Tidak usah. Aku sudah cukup merepotkanmu hari ini. Aku bisa pulang sendiri.."

"Sudahlah. Bukankah aku sudah bilang tidak usah sungkan padaku?" Junsu tertawa sambil menepuk pundak Yunho. "Ayo naik."

Yunho ragu-ragu sejenak. "Ne. Gomawo, Junsu-shi."

Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen kecil tempat Yunho tinggal. Junsu memperhatikan apartemen itu sekilas. "Kau tinggal dengan siapa di sini?"

"Aku tinggal sendirian. Orangtuaku bukan orang kaya jadi aku hanya bisa menyewa apartemen kecil ini." Yunho tersenyum tipis.

"Ommo, kau pasti kesepian Yunho-shi. Aku janji aku akan sering main ke sini menemanimu."

"Ne. Gomawo, Junsu-shi."

"Aisshh.. Sampai kapan kau akan terus mengatakan itu? Aku hampir mati bosan mendengarnya." Junsu tertawa.

Yunho tertawa. "Kau mau masuk dulu? Tapi maaf karena ini bukan tempat yang layak."

"Yah, sejak kapan aku mempermasalahkan itu? Yunho, menurutku di sini menyenangkan. Tapi umm.. Aku ada urusan siang ini. Kapan-kapan aku pasti mampir. Dan mulai sekarang kau panggil aku Junsu saja. Dan aku akan memanggilmu Yunho. Ne?" kata Junsu sambil tersenyum.

Yunho mengangguk. "Ne, Junsu. Gomawo."

Junsu memutar bola matanya, merasa kesal sekaligus geli mendengar ucapan terimakasih Yunho yang berulang-ulang. Dia lalu mengendarai motornya pergi dari situ.

###

Yunho membaringkan tubuh ke tempat tidur sesudah membersihkan dirinya. Terbayang di ingatannya kejadian tadi pagi di kafe. Sorot mata Jaejoong setiap kali memandang Yunho membuatnya merasa aneh. Sorot mata yang tajam menusuk membuat Yunho merinding. Berbeda dengan teman-teman yang lain. Dan Junsu, kenapa kelihatannya dia tidak menyukai Jaejoong? Apa mereka bermusuhan? Dia merasa ada yang Junsu sembunyikan darinya.

Dia menghela nafasnya. 'Besok akan kutanyakan lagi pada Junsu. Aku tidak bisa terus dipenuhi rasa penasaran seperti ini.' Perlahan dia menutup matanya. Benar-benar hari yang melelahkan.

###

Huff... ini dia. msh adakah review bwt saya ^^?