CHAPTER 3

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul. saya bnr2 terharu krn ada bbrp chingudeul yg mau masukin ff abal2 sy ke fav & follow list, hikz... smoga saya ga mengecewakan chingudeul skalian. om jidat lebar mulai muncul di part ini, akhirnya, hehe... btw chingudeul udh dngr lagunya Changmin yg A Person Like Tears blm ^^? itu lagu dahsyat bgt. lagu kbangsaan saya saat ini ~abaikan~ :p. anyway saya ucapkan selamat menikmati HarPitNas bagi yg merayakannya, hoho...

###

Hari itu di jam istirahat Jaejoong mendekati Yunho.

"Yunho, umm.. kalau kau tidak keberatan, aku mau mengajakmu ke kafetaria." katanya sambil tersenyum ramah. Yunho hanya memandangnya ragu-ragu, tidak tahu apa yang harus dia perbuat.

Tiba-tiba Junsu yang ada di sebelahnya menarik tangannya. "Yunho, ayo kita pergi sekarang." Tanpa menunggu respon Yunho, Junsu langsung menariknya keluar kelas.

Yunho memandang Junsu heran. "Kau mau mengajakku ke mana, Junsu?"

Junsu terus berjalan tanpa menoleh. "Aku tidak mau kau dekat dengan Jaejoong. Kau harus jaga jarak dengannya, Yunho."

"Kemarin kau sudah bilang seperti itu padaku. Tapi kenapa? Kenapa aku harus menghindari Jaejoong? Dia hanya ingin berteman denganku."

"Kau tidak mengenal siapa Jaejoong itu. Kau tidak tahu niatnya mendekatimu."

"Kenapa kau sepertinya benci sekali padanya? Apa kalian pernah bertengkar? Memang apa yang sudah dia lakukan?" Yunho yang penasaran terus berusaha mendorong Junsu bercerita.

Namja itu diam tidak menjawab. Yunho kecewa karena tidak berhasil mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Kedua namja itu berjalan ke kafetaria. Sesudah mengambil makanan, Yunho melihat Yoona yang duduk di pojok. Dia mendekati yeojya itu. "Yoona-shi, boleh aku duduk di sini?"

Yeojya itu mengangkat kepalanya. "Ah, Yunho-shi. Tentu saja boleh." jawabnya tersenyum.

"Oh, kau sudah kenal dengan Yoona noona?" tanya Junsu heran yang menyusul di belakangnya.

"Ne. Kemarin dia yang merawatku waktu aku pingsan."

"Yunho, noona sudah beberapa bulan menjadi perawat di sini."

"Oh, kukira kau salah satu murid juga yang sedang piket di ruang kesehatan." Yunho menoleh ke arah Junsu. "Dan kenapa kau memanggilnya noona?"

"Aku baru saja lulus universitas keperawatan. Umurku sudah 20. Kenapa kau bisa mengira aku murid di sini?" tanya Yoona sambil tersenyum geli.

"Mwo? Apa benar, Yoona-shi? Aku kira kau sebaya dengan kami." Yunho mengusap kepalanya malu-malu.

Yoona dan Junsu tertawa. "Mulai sekarang kau harus panggil dia noona, Yunho. Kau harus sopan padanya." kata Junsu.

Yoona tertawa mendengarnya. "Sudahlah. Umur kita juga hanya terpaut tiga tahun, kan. Ayo cepat habiskan makanan kalian, kalau tidak kalian bisa terlambat masuk kelas."

Kedua namja itu tersenyum dan mengangguk, lalu segera menghabiskan makanan mereka. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka dari kejauhan.

###

Sepulang sekolah, Jaejoong kembali mendekati Yunho. "Yunho, kau sudah mau pulang ya? Apa boleh aku datang ke rumah…"

"Ayo, Yunho. Kita pulang sekarang." kata Junsu memotong ucapan Jaejoong. Dia mengambil tasnya dan langsung menarik Yunho pergi.

Yunho ragu-ragu, dia memandang Jaejoong dengan perasaan tidak enak. "M-mianhae, Jaejoong. Lain kali saja ne."

Jaejoong tersenyum. "Ne. Tidak apa-apa, Yunho. Dan... kau tidak perlu sungkan seperti itu padaku. Panggil aku Jaejoong saja."

"Ne. Aku pergi dulu." ujarnya sambil tergesa-gesa mengikuti langkah Junsu diikuti tatapan mata namja cantik itu.

"Ada apa sebenarnya, Junsu? Kenapa kau larang aku berteman dengannya? Kau sembunyikan apa dariku?" desak Yunho.

"Suatu saat kau akan tahu sendiri. Dan ingat, jangan pernah mau kalau dia mengajakmu pergi."

Yunho meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Kau sudah bilang begitu berkali-kali. Kenapa aku tidak boleh tahu alasannya? Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Jaejoong? Apa kau ada masalah dengannya?"

Junsu menatap Yunho tajam. Sejenak kemudian dia menghela nafas. "Kami tidak ada hubungan apa-apa." jawabnya pendek. Jawaban yang tidak memuaskan bagi Yunho.

###

"Apa yang sedang kaupikirkan, Jaejoong-ah?"

Namja cantik itu tersadar dari lamunannya seraya menoleh ke arah namja yang berbaring di sampingnya. "Memang kenapa, Yoochun-ah?"

Namja itu menggeser tubuhnya ke dekat Jaejoong dan melingkarkan lengannya pada pinggang Jaejoong. "Aku lihat dari tadi kau melamun, chagi. Apa yang mengganggu pikiranmu?" bisiknya seraya membiarkan bibirnya berkelana di leher dan bahu polos Jaejoong. Jaejoong menggeliat karena sentuhan Yoochun itu. "Haha.. sudah, lepaskan aku. Aku geli, Chunnie." tawa Jaejoong.

Yoochun semakin mengeratkan pelukannya di pinggang namja cantik itu. "Tidak sebelum kau ceritakan padaku apa yang sedang kau pikirkan. Kita sudah sedekat ini tapi kau tidak mau jujur padaku. Padahal aku selalu menceritakan apapun padamu."

Jaejoong tertawa semakin keras. "Ne, arasseo, arasseo." Dia terdiam sejenak lalu menyahut. "Kau tahu Jung Yunho?"

Yoochun mengerutkan alisnya. "Murid baru itu? Ada apa dengannya?" Sejenak kemudian dia memasang wajah cemberut. "Jaejoong-ah, jangan bilang kau tertarik padanya."

Jaejoong tersenyum mendengarnya. "Menurutku dia namja yang tampan. Aku juga bisa melihat cara yeojya-yeojya di kelas kita waktu menatapnya. Dia sangat mempesona, Chunnie. Dia bisa menarik perhatian banyak orang. Apa kau tidak melihat itu?"

Yoochun hanya diam sambil memutar bola matanya. Dia mengalihkan pandangannya dari Jaejoong dan menatap langit-langit kamar.

Tidak mendapat respon dari Yoochun, Jaejoong melanjutkan kata-katanya. "Tapi Junsu itu masalahnya. Kupikir dia tidak mau membiarkanku dekat dengan Yunho. Dia selalu mengajak Yunho pergi setiap kali aku mendekatinya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin saja dia tertarik pada Yunho." Dia tertawa kecil.

Wajah Yoochun semakin keruh. Dia menyahut ketus, "Aku pikir dia biasa saja. Apa yang menarik darinya? Aku rasa aku masih jauh lebih tampan darinya."

Jaejoong cekikikan sambil mencubit Yoochun. "Yah.. kau cemburu, Chunnie?" Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yoochun. "Chunnie, aku hanya ingin merasakan tubuhnya sekali. Jadi jangan khawatir, aku tidak mungkin melupakanmu." bisiknya. Suara lembut Jaejoong dan hembusan nafasnya membuat Yoochun merasakan benda diantara selangkangannya menegang lagi.

Segera dia menindih tubuh tubuh namja cantik itu dan menghujaninya dengan ciuman. "Kau sudah membuatku mengeras lagi, Joongie-ah. Kau harus rasakan akibatnya." ujarnya seraya menekan bibirnya ke bibir Jaejoong lalu bergerak menelusuri leher putihnya. Jaejoong mendesah nikmat dan melingkarkan kedua lengannya ke leher Yoochun.

###

Malam itu di apartemen Yunho sedang menikmati kopi panasnya. Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone dari ponsel Yunho. Yunho mengambilnya dan melihat nomor asing muncul di layar. "Yoboseyo. Yunho di sini."

"Yunho. Ini aku, Jaejoong." Terdengar suara dari seberang sana.

Yunho mengerutkan alisnya. Dari mana Jaejoong tahu nomornya?

"Maafkan aku kalau teleponku mengejutkanmu. Aku mendapat nomormu dari teman. Kau teman baruku dan aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Tidak ada masalah kan dengan itu? Tapi sepertinya Junsu salah paham terhadapku." Yunho kebingungan mendengar nada suara sedih itu. Mendadak dia merasa bersalah dan menyesal.

"Ani.. Bukan seperti itu. Umm.. memang kebetulan Junsu sedang memintaku membantunya." Yunho berpikir sejenak. Dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berdua, tapi segera dia urungkan niatnya. Dia belum mengenal Jaejoong. Dia khawatir kalau pertanyaannya mungkin menyinggung Jaejoong dan justru membuat masalah semakin kacau.

"Umm.. apa besok sepulang sekolah kau ada waktu? Aku mengajakmu jalan-jalan."

Yunho kembali ragu-ragu. Di satu sisi dia tidak mau mengabaikan larangan Junsu. Tapi dia tidak menemukan alasan untuk menolak ajakan namja cantik itu. "... Ne. Besok siang aku tidak ada acara." jawabnya sesudah berpikir lama.

"Kalau begitu kita pergi besok siang. Ingat, kau jangan buru-buru pulang, ya." Jaejoong tertawa kecil. "Gomawo. Aku lega karena kau menerima ajakanku."

"Gwenchana, Jaejoong-shi."

"Aisshh.. bukankah aku sudah bilang jangan panggil aku Jaejoong-shi?" Terdengar nada protes dari seberang sana.

"Arasseo, arasseo. Mulai sekarang aku panggil kau Jaejoong. Apa kau senang?" ujar Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong tertawa. "Ne. Sampai bertemu besok, Yunho."

###

Sekian. kepanjangan ga, ya? hehe... mian kl mgkn adegan yoona nya kbanyakan. mohon reviewnya, chingudeul ^^.