CHAPTER 4
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong ^^. pertama2 saya mau ngucapin dulu HAPPY 9TH ANNIVERSARY FOR DBSK. ALWAYS KEEP THE FAITH ^^.
Gomawo pd chingudeul skalian yg msh mau memberi saran & support bwt saya smp skrg ini. mian krn saya ga bs bikin NC di chap sbelumnya. lagian saya ga bs mbiarin jaema NC an sm om jidat LOL ~ngeles~ hehe... jd cm superfisial :p. dsni fakta jaema kebuka dikit, hihi... sok maen rahasia2an. ok lgsg aja.
###
"Yunho-ah, apa nanti sepulang sekolah kau bisa menemaniku ke toko buku? Aku perlu membeli beberapa alat tulis."
Yunho menghentikan aktivitas menulisnya. Dia berpikir apakah dia harus berterus terang pada Junsu kalau dia berencana pergi dengan Jaejoong.
"Umm.. mianhae, Junsu-ah. Aku ada janji nanti siang." jawabnya tanpa berani menoleh ke temannya itu.
"Oh, kau mau pergi dengan siapa dan mau ke mana?"
Yunho bimbang. Dia tidak mau membohongi Junsu. Lagipula dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Dia ingin tahu reaksi sahabatnya itu kalau dia menceritakan yang sebenarnya.
"Umm.. aku mau jalan-jalan dengan Jaejoong." jawabnya jujur.
Seketika mata Junsu terbelalak. "Kau.. kau.. Bagaimana bisa? Bukankah sudah kubilang…"
"Ya. Dan kau hanya bisa melarang aku ini dan itu. Kau tidak pernah menceritakan alasan kenapa aku tidak boleh berteman dengannya. Mungkin kau memang terlibat masalah dengannya, tapi tidak denganku. Jadi atas dasar apa aku membencinya?" Yunho menyahut sengit.
"Kau.." Junsu menarik nafasnya dalam berkali-kali untuk mengontrol emosinya. Dia lalu menyeret Yunho keluar kelas dan membawanya ke gudang di belakang sekolah yang sepi.
"Apa yang mau kaukatakan sekarang? Kau masih mau melarangku tanpa alasan yang jelas?" teriak Yunho gusar.
"Yunho, aku sudah memperingatkanmu. Aku tidak mau kau sampai menyesal besok." Junsu menatap tajam ke arah Yunho.
"Kenapa aku harus menyesal? Aku murid baru di sini dan aku ingin berteman dengan siapa saja. Aku tidak mau bermasalah dengan siapapun. Kau tidak berhak melarangku. Lagipula kupikir Jaejoong itu teman yang baik dan ramah."
"Baik? Baik katamu?" Nada suara Junsu mulai meninggi. "Dia itu pelacur! Kau dengar? Dia itu seorang pelacur!"
Seketika mata Yunho terbelalak menatap Junsu. Dia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "M-mwo? Barusan kau bilang apa?"
Junsu menarik nafas dalam-dalam. Dia berpikir tidak mungkin lagi menyembunyikan aib ini dari Yunho. Sekarang Yunho sudah menjadi bagian dari sekolah ini jadi dia berhak tahu.
"Dia senang menggunakan tubuhnya untuk menggoda setiap orang. Karena wajahnya yang sempurna dan keindahan tubuhnya, banyak murid di sekolah ini yang memujanya, baik itu namja maupun yeojya. Banyak yang tergila-gila padanya sampai akhirnya dia mengajak mereka ke tempat tidur. Bukan hanya itu. Kadang dia juga menetapkan harga atas servis yang sudah dia berikan. Semua murid di sini sudah tahu tentang itu. Tapi pesona Jaejoong begitu kuat sampai-sampai mereka tidak kuasa menolaknya. Sudah banyak murid yang menjadi korbannya."
Yunho masih terdiam. Dia masih belum bisa percaya dengan ini semua. Bagaimana bisa seorang Kim Jaejoong yang berwajah cantik berkelakuan rendah seperti itu? Tapi Junsu ini sahabatnya. Teman pertamanya di sekolah ini. Tidak mungkin Junsu menipunya.
"Tapi… tapi, kalau seluruh sekolah sudah tahu kelakuannya, kenapa dia masih bersekolah di sini? Bukankah itu bisa membuat citra buruk sekolah?" tanyanya bingung.
Junsu menghela nafas panjang. "Orangtua Jaejoong salah satu donatur terbesar di sini. Tentu saja kepala sekolah tidak mau melepasnya. Dan kau tahu? Sebagian guru pun tidak lepas dari godaan Jaejoong. Dan itu bisa dia lakukan di mana saja, termasuk di dalam sekolah ini saat jam pelajaran. Itu sudah menjadi rahasia umum. Tapi kami berusaha keras supaya hal ini tidak menyebar ke luar sekolah."
Yunho kembali membelalakkan matanya dengan mulut terbuka lebar. Apa benar ada orang seperti itu? Kalau memang benar apa yang dia katakan, kelakuan Jaejoong benar-benar rendah dan keterlaluan.
"Sebenarnya aku tidak mau menyebarkan aib ini. Tapi aku lihat dia tertarik padamu dan terus berusaha mendekatimu. Kau sahabatku, Yunho-ah. Kau orang yang baik dan polos. Aku tidak mau kau sampai terjerat rayuannya dan pasti menyesal nantinya. Kalau kau masih tidak percaya, kau bisa tanya teman kita yang lain." Junsu terdiam sejenak lalu melanjutkan, "Dia iblis yang bersembunyi di tubuh malaikat. Kau harus hati-hati dengannya."
Sekilas Yunho menangkap sorot mata Junsu yang sedang menerawang. Sepertinya ada yang sedang Junsu pikirkan. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Junsu. Dia takut sahabatnya itu tersinggung.
###
Siang itu sepulang sekolah Jaejoong menghampiri Yunho. "Yunho, kau tidak lupa dengan janjimu kan?" Jaejoong bertanya sambil tersenyum manis.
Yunho memandangnya sekilas. "Mianhae. Aku mendadak berubah pikiran." sahutnya dingin.
Jaejoong membulatkan mata indahnya. "Mwo? Tapi.. tapi kenapa? Kau sudah berjanji kemarin."
"Ya. Aku memang berjanji kemarin tapi tiba-tiba saja aku tidak ingin pergi. Dan aku pikir kau tidak usah mengajakku lagi. Aku banyak urusan hari-hari ini." sahutnya tanpa menoleh ke arah Jaejoong.
Jaejoong terdiam sejenak melihat perubahan sikap Yunho. Dia tertawa kecil. "Gwenchana, Yunho. Mungkin lain kali saja kalau kau ada waktu."
"Ne. Aku mau pulang dulu." Lalu dia berjalan keluar diikuti Junsu yang memandang Jaejoong sekilas.
Jaejoong masih tersenyum di tempatnya berdiri. "Tidak masalah kau menolakku hari ini. Masih banyak waktu untuk menaklukkanmu. Lain kali.. ya, suatu hari nanti kau pasti jatuh ke pelukanku, Yunho-ah. Tunggu saja, waktumu akan segera tiba. Di mana kau akan bertekuk lutut di hadapanku."
Yunho dan Junsu berjalan beriringan menuju tempat parkir. Junsu menoleh ke arah sahabatnya.
"Aku lega akhirnya kau bisa tegas terhadapnya, Yunho-ah." ujarnya sambil tersenyum.
"Gomawo, Junsu. Aku tidak mau mengalami masalah apapun di sekolah baruku ini. Tujuanku ke sini untuk belajar supaya lulus. Aku tidak mau memikirkan hal-hal lain lagi. Aku tidak mau mengecewakan guru-guruku di Gwangju. Aku berterimakasih karena kau mau menceritakannya padaku walaupun harus kupaksa dulu." Yunho tertawa kecil.
"Gwenchana. Kau sahabatku, kan. Aku minta maaf karena tidak langsung menceritakannya. Itu karena aku bingung." ujar Junsu lirih. Pandangannya menerawang.
Tiba-tiba Yunho berhenti berjalan dan memicingkan matanya. Dari jauh dia melihat ada dua orang namja dan yeojya di depan pintu gerbang. Dia maju beberapa langkah untuk memperjelas pandangannya. Sepertinya mereka sedang bertengkar. Beberapa saat kemudian yeojya itu menoleh ke samping sehingga wajahnya terlihat.
"Yoona…?" gumam Yunho terkejut.
Junsu menoleh ke arah Yunho lalu segera mengikuti arah pandangan Yunho.
"Oh, ya. Itu Yoona dan pacarnya. Dia sering menjemputnya di sini."
"Oh…" gumam Yunho sambil terus memperhatikan mereka. Seketika matanya terbelalak melihat namja itu menampar Yoona dengan keras.
"Mwo? Apa yang dia lakukan? Bisa-bisanya dia menampar Yoona seperti itu?!" Yunho tidak bisa menahan dirinya dan segera mendekati pintu gerbang.
"Yunho…" panggil Junsu dengan nada khawatir sambil mengikuti Yunho.
Yunho mempercepat langkahnya tapi sebelum dia mencapai pintu gerbang, mereka sudah berlalu dengan motornya. "Bukankah namja itu pacarnya? Kenapa dia bisa sekasar itu terhadap Yoona?" katanya geram pada Junsu yang akhirnya berhasil menyusulnya.
"Aku belum pernah melihat Siwon-shi bersikap begitu pada Yoona." ujar Junsu sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Kau kenal dengan pacarnya? Yang kulihat tidak seperti itu. Seandainya tadi aku datang tepat waktu, sudah kuberi dia pelajaran." geram Yunho yang tidak bisa menahan kemarahannya.
Junsu menghela nafas panjang. "Yunho, kita tidak tahu masalah mereka. Sebaiknya kita jangan ikut campur."
"Tapi tetap itu bukan perbuatan yang pantas dilakukan namja terhadap yeojya, terlebih itu pacarnya sendiri. Aku tidak habis pikir dengan orang yang bernama Siwon itu."
"Kenapa kau bisa semarah ini, Yunho-ah? Seolah-olah Yoona itu pacarmu saja." goda Junsu sambil tertawa kecil.
"Mwo? Kenapa… Kenapa kau bisa bicara begitu? Aku hanya tidak terima melihat dia memperlakukan Yoona." Yunho tidak menyadari wajahnya yang mulai memerah. Junsu hanya tertawa melihat reaksi Yunho.
"Kajja. Haha… Ayo kita pulang, Yunho."
###
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Hari ini jam pertama olahraga di kelas Yunho. Para murid berjalan menuju ruang loker untuk berganti pakaian. Ruang itu segera dipenuhi oleh suara-suara gaduh mereka yang mengobrol dan bercanda dengan teman mereka.
Jaejoong melepas pakaiannya, memperlihatkan kulitnya yang putih bersih dan halus. Gerakannya mengalihkan perhatian beberapa namja di sekitarnya. Mereka berjalan mendekati Jaejoong, menggoda namja cantik itu. Sesekali mereka mencari kesempatan bermain-main dengan kulit lembutnya. Jaejoong tertawa-tawa, kelihatannya sangat menikmati perhatian dan sentuhan para namja itu.
Yunho membelalakkan matanya melihat pemandangan itu. 'Ternyata Junsu benar' katanya dalam hati, berterimakasih pada sahabatnya yang sudah memperingatkannya. Seketika dia mengalihkan wajahnya dengan jijik.
"Yunho-ah, kutunggu di lapangan ne." ujar Junsu diikuti dengan anggukan Yunho. Dia berlalu dari ruang itu.
"Yah." Yunho terkejut melihat Jaejoong yang tiba-tiba berada di depannya. Dia menyandarkan tubuhnya yang masih polos pada loker di samping loker Yunho. Sejak kapan dia berdiri di situ? Yunho menoleh sekeliling yang kini tampak sepi. Sepertinya teman-temannya sudah menuju ke lapangan. Refleks dia mundur selangkah.
"Kenapa kau masih di sini? Segeralah pakai baju olahragamu." katanya sambil merapikan kausnya.
Mata indah Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam. "Yunho, ada apa denganmu? Beberapa hari ini aku mencoba mengajakmu tapi kau selalu menolak. Kadang kusapa saja kau tidak mau menoleh ke arahku. Aku hanya ingin berteman denganmu, Yunho. Apa yang salah dengan itu?"
Yunho mengalihkan pandangannya dari Jaejoong. "Kalau kau tidak segera memakainya, kau bisa terlambat dan dimarahi guru. Aku duluan ne?" sahutnya lalu berjalan meninggalkan loker.
Tiba-tiba Jaejoong menarik tangan Yunho mendekat ke tubuhnya. Yunho terkesiap dengan tindakan Jaejoong yang tiba-tiba itu. Tubuhnya kini nyaris menempel dengan tubuh polos Jaejoong.
Perlahan Jaejoong mendekatkan wajahnya ke wajah Yunho. "Apa.. kau takut, Yunho-ah?"
Yunho menatap wajah cantik Jaejoong yang hanya beberapa centi dari wajahnya. "Ke-kenapa aku harus takut?" tanyanya tanpa menyadari suaranya yang gemetar.
"Kau tidak mau terlalu dekat denganku. Karena.. karena kau takut kau akan terjerat pesonaku dan jatuh ke pelukanku, kan?" Jaejoong meraih tangan Yunho dan menempelkannya ke dadanya sendiri. Perlahan dia mengusapkan tangan Yunho ke kulitnya, membiarkan Yunho merasakan kehalusan dan kehangatannya. Sebelah tangannya masih menggenggam tangan Yunho yang lain.
Yunho terbelalak menatap tangannya yang gemetar sedang membelai dada polos Jaejoong. Betapa lembut kulitnya hingga membuat jantung Yunho berdebar kencang. Dia berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya. Dia benci situasi seperti ini. Dia benci cara Jaejoong memperlakukannya.
'Dia iblis yang bersembunyi di tubuh malaikat.' Kata-kata Junsu tiba-tiba terlintas di kepala Yunho. Beberapa saat lamanya dia menetralkan debaran jantungnya. Dia tidak mau bersikap sungkan lagi terhadap Jaejoong. Yang ada hanya rasa muak dengan kelakuan Jaejoong dan membayangkan betapa dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan namja-namja tadi. Dia juga jijik dengan cara Jaejoong memanggilnya. Akhirnya dia berhasil juga menepis tangan Jaejoong.
"Kau jangan mimpi, Kim Jaejoong. Jangan kau pikir semua orang itu sama, yang bisa kau goda dengan mudah. Karena aku tidak pernah tertarik padamu. Lebih baik kau simpan tenagamu dan jangan buang-buang waktumu. Aku tidak akan pernah jatuh dalam jebakanmu. Dan... lain kali bersikaplah sopan sedikit padaku." sahutnya dingin sambil menatap Jaejoong tajam seraya melepaskan genggaman tangan Jaejoong. Lalu dia berjalan meninggalkan loker.
Jaejoong tertawa kecil sambil menatap tubuh Yunho sampai hilang dari pandangan. "Yunho-ah, kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan. Tunggu saja saatnya kau berlutut memohon-mohon agar bisa berbagi ranjang denganku."
###
"Jaejoong-ah, apa kau sedang memikirkan sesuatu? Hari-hari ini aku sering melihatmu melamun."
Jaejoong mengalihkan pandangannya ke arah Yoochun. Hari itu mereka sedang berjalan-jalan ke mall. Jaejoong memang terkenal sebagai player di sekolah. Tapi hubungannya yang paling dekat adalah dengan Yoochun. Mereka sudah berkali-kali menjalin cinta. Ketika Yoochun tahu kebiasaan buruk Jaejoong, Yoochun tetap tidak bisa membencinya. Hatinya sudah terlanjur lekat pada Jaejoong, dan berharap suatu hari nanti Jaejoong hanya melihat ke arahnya.
"Ani. Kenapa kau bisa berpikir begitu, Yoochun-ah?"
Yoochun menatap namja itu dengan tajam. "Jaejoong-ah, kau tidak bisa bohong padaku. Kau seperti sedang memikirkan sesuatu atau seseorang."
"Mwo? Seseorang? Haha… Tidak ada seorangpun yang kupikirkan selain dirimu, Chunnie."
"Jae-ah, aku sudah lama mengenalmu. Aku mengerti dirimu luar dalam. Aku tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu. Kau tidak seperti biasanya, Jae-ah. Jangan berpura-pura lagi di depanku."
Jaejoong menyeringai. "Haha.. Kau jangan sok tahu, Park Yoochun. Umm.. ne, memang sebenarnya ada yang baru kupikirkan." Dia terdiam sejenak lalu melanjutkan. "Aku sedang memikirkan Yunho."
Yoochun terdiam. Entah kenapa tadi dia sempat menebak bahwa Yunho lah yang ada di pikiran namja yang dia cintai itu. Dan ternyata itu memang benar.
Pandangan Jaejoong menerawang. "Sudah beberapa minggu ini aku mencoba mendekatinya. Biasanya hanya perlu waktu sebentar saja bagiku untuk menarik perhatian teman-teman kita. Tapi tidak dengan Yunho. Sampai hari inipun aku belum berhasil mendapatkannya. Dia begitu dingin, berbeda dengan orang lain."
Yoochun merasakan hatinya seperti tertusuk. Kenapa dia harus mendengar ini semua? Dia menyesal kenapa tadi dia harus menanyakan itu pada Jaejoong.
"Kau merasa penasaran karena dia berbeda? Lalu sekarang kau mulai menyukainya?"
Jaejoong tertawa. "Haha… suka? Tolong jelaskan padaku rasa suka itu seperti apa, Yoochun-ah? Karena sampai sekarang aku belum pernah tahu rasanya."
'Bisa-bisanya kau menanyakan itu padaku, Jae-ah? Apa sampai sekarang kau belum juga bisa menyadari perasaanku?' batin Yoochun.
"Aku heran, apa pesonaku sudah jauh berkurang sekarang?" Jaejoong tertawa mendengar ucapannya sendiri.
"Jae-ah, kau adalah orang yang istimewa. Kau sempurna di mata semua orang. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu."
"Yah, Yoochun-ah. Aku sudah bilang berkali-kali, jangan sebut aku cantik. Apa kau lupa kalau aku ini namja, huh?"
Yoochun tersenyum. "Kau tampan sekaligus cantik. Kau memiliki semuanya. Pesonamu mampu menggerakkan hati setiap orang. Kau mampu mengalihkan pandangan semua orang di dunia ini, Jae-ah. Tidak ada seorangpun yang tidak ingin mendekatimu."
Jaejoong menatap Yoochun sambil tersenyum manis. "Nah, aku suka sekali dengan ucapanmu ini. Hmm.. Yunho memang begitu bodoh sampai-sampai dia tidak menyadarinya. Aku akan membuatnya segera sadar dan hanya melihat ke arahku. Aku yakin aku pasti bisa menaklukkannya, Yoochun-ah. Gomawo."
Yoochun menatap Jaejoong tanpa respon. 'Kau yang bodoh, Jae-ah. Kau seharusnya sudah sadar dengan perasaanku yang tulus padamu.' batinnya pahit.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat parkir.
"Jae-ah, boleh aku datang ke rumahmu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Kurasa banyak tempat yang lebih menarik yang bisa didatangi."
"Wae? Sejak kita berteman, belum pernah sekalipun aku ke rumahmu. Kau juga tidak pernah mengundangku atau teman-teman lain. Setiap aku bilang ingin ke rumah, kau selalu menolak. Kau tidak mau mengenalkan sahabatmu ini ke orangtuamu?"
Jaejoong menatap Yoochun tajam. "Bisakah kau berhenti menanyakan itu karena jawabannya akan tetap sama. Sudahlah, aku bosan dengan pertanyaan itu terus." sahutnya dingin.
Yoochun menghela nafasnya. Dia tidak tahu kenapa Jaejoong selalu bersikap begitu ketika ada teman yang ingin datang ke rumahnya. Jaejoong memakai helmnya dan duduk di belakang Yoochun. Mereka kembali ke sekolah untuk mengambil motor Jaejoong.
###
Segini dulu. apakah trlalu panjang? mian kl makin membosankan. hehe... mohon repiu nya, chingudeul :).
