CHAPTER 5

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong. saya dtg lg membawa ff gaje, hehe... saya ucapin terimakasih sbesar2nya pd chingudeul yg udh mau ngeramein ff ini. jg atas supportnya yg bikin saya tmbh smangat nge post, jeongmal gomawo ^^. sbnrnya ff ini udh agak lama sembunyi di kompie, & emg smp chap yg saya tulis blm ada sang maknae si kulkas lover, hehe... rncn dia mau saya masukin ke chap2 terakhir tp blm pasti jg, sih :p. mian, mgkn yunjae jadiannya msh bbrp chap lg TT ~maafkanlah saya yg tdk brguna~. harap brsabar ne ^^? bwt chingu yg ksh saran spy diperpanjang, gomawo, ini saya coba gabungin 2 chap. tp kpanjangan ga, ya :p?

###

Yunho berdiri dengan gelisah di halte bis. Berkali-kali dia melirik ke jam tangannya. Beberapa saat kemudian, bis yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dia menghela nafas lega lalu menaiki bisnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada kursi kosong, terpaksa dia berdiri dengan beberapa penumpang lain.

Setibanya di halte berikutnya, bis berhenti. Terlihat beberapa orang masuk dan keluar. 'Kenapa bis begitu padat hari ini?' batinnya.

"Yunho, selamat pagi. Kebetulan bertemu denganmu di sini." Pandangan Yunho bergerak mencari asal suara itu dan seketika wajahnya mengeruh.

"Kau naik bis ini juga?" Namja cantik itu mendekatinya sambil tersenyum.

Yunho mengalihkan pandangannya. "Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau biasa naik motor?" tanyanya acuh tak acuh.

Jaejoong mengerutkan alisnya. "Wae? Dari kata-katamu sepertinya kau tidak suka kalau aku ada di sini. Apa kau pikir bis ini hak milikmu? Apa aku harus minta izin padamu supaya bisa naik?"

Yunho mendengus kesal. Dia tidak tertarik berdebat untuk sesuatu hal yang tidak penting dengan Jaejoong. Jaejoong hanya tertawa kecil.

"Motorku mendadak macet tadi. Aku tidak ada waktu untuk mengeceknya jadi kuputuskan untuk naik bis."

Yunho hanya diam tidak merespon. Dia tidak mau terlibat pembicaraan apapun dengan Jaejoong. Beberapa lama mereka tenggelam dalam kesunyian. Tiba-tiba sopir bis mengerem mendadak, membuat tubuh Jaejoong terdorong ke depan. Refleks dia berpegangan pada Yunho dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Yunho terkesiap dan mundur merapat jendela.

"Mianhae." ujar Jaejoong sambil tersenyum-senyum dan melepaskan lengan Yunho.

Sampai di halte berikutnya, terlihat semakin banyak penumpang yang masuk. Bis semakin penuh, membuat tubuh Jaejoong semakin merapat ke Yunho. Perlahan tercium aroma harum tubuh Jaejoong yang memabukkan membuat pikiran Yunho melayang. Dengan jarak sedekat ini dia bisa melihat dengan jelas wajah cantik Jaejoong. Kulitnya yang halus dan putih, juga kedua bola matanya yang besar dan indah. Hidung mancung dan bibir serta pipinya yang memerah karena pengaruh hawa panas semakin menambah kesempurnaan wajah itu.

Tanpa sadar sudah beberapa menit Yunho menatap Jaejoong tanpa berkedip. Seakan ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya untuk terus menatap wajah itu. Sekuat apapun dia berusaha, tetap dia tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Jaejoong. Tubuh mereka yang nyaris menempel entah mengapa membuat Yunho tegang dan sedikit gemetar. Dia menarik nafas dalam-dalam berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Kau kepanasan, Yunho?" Jaejoong memperhatikan wajah Yunho. Tangannya terangkat bermaksud menyeka keringat di dahi Yunho. Seketika Yunho sadar dan menepis tangannya.

"Apa-apaan kau? Jangan macam-macam." sahut Yunho ketus. Wajahnya semakin memerah dan terasa panas.

Jaejoong tertawa melihat reaksi Yunho. "Kulihat kau berkeringat banyak. Aku hanya ingin membantumu. Kenapa kau tidak bisa menerima niat baikku?"

"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku hanya perlu kau jaga jarak denganku." kata Yunho dingin, lalu membuang wajahnya. 'Bisa-bisanya tadi aku mengagumi wajah Jaejoong. Ingat Yunho, dia itu iblis. Hanya di luarnya saja kelihatan indah dan sempurna.' suara batinnya mengutuki tindakan yang baru saja dia lakukan. Jaejoong hanya memutar bola matanya melihat sikap Yunho.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di halte depan sekolah. Mereka berjalan berusaha menerobos kerumunan penumpang. Tanpa sengaja Jaejoong menginjak kaki seorang namja. Namja itu marah dan mendorong tubuh Jaejoong dengan kasar. Refleks Yunho menangkap tubuh yang nyaris jatuh itu.

"Ahjussi, tolong bisakah anda sopan sedikit?" tegur Yunho sambil menatap tajam ke namja itu.

Namja itu melotot marah. "Orang ini tadi menginjak kakiku. Kau lihat tidak? Kakiku ini sedang dalam pengobatan!" teriaknya sambil menunjuk kakinya yang diperban.

Yunho tersenyum tipis. "Mianhae. Dia tidak sengaja, Ahjussi. Saya harap Anda tidak memperpanjang masalah ini. Dia benar-benar tidak bermaksud melakukannya."

Namja itu mendengus. "Lain kali kau awasi baik-baik pacarmu. Suruh dia pakai matanya kalau sedang berjalan."

Yunho terkejut mendengar ucapan si namja. Dia melepaskan tangannya yang sedari tadi masih memeluk tubuh Jaejoong. "Maaf. Kami bukan…"

"Perhatian bagi para penumpang. Ada yang mau turun di sini?" Suara itu memotong kata-kata Yunho. Yunho dan Jaejoong cepat-cepat berjalan keluar dari bis itu.

Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menghirup udara segar di luar. Yunho menoleh ke arah Jaejoong. "Jaejoong, gwenchana?"

"Ne, gwenchana. Aku tidak mengira ternyata kau senang memelukku, Yunho-ah." jawab Jaejoong dengan senyum menggodanya.

Mendadak wajah Yunho memerah lagi. Dengan segera dia membuang muka. "Jangan salah paham. Aku hanya bermaksud menolongmu. Aku rasa orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Tidak usah berpikir macam-macam."

Jaejoong tertawa mendengar perkataan Yunho ini. "Terserah apapun perkataanmu. Gomawo, Yunho. Kau sudah mau menolongku."

'Reaksimu tadi lebih penting dari apapun, Jung Yunho.' batinnya dengan tawa penuh kemenangan.

Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Setiap berpapasan dengan beberapa teman, mereka selalu disambut dengan tatapan mata yang aneh. Bagaimana bisa Yunho sang murid teladan bisa bersama dengan Jaejoong si pelacur itu?

Setibanya di kelas Junsu melihat mereka, seketika dia menarik tangan Yunho. "Apa-apaan kau? Kau berangkat sekolah bersamanya?" sahutnya ketus. Yunho hanya menggelengkan kepalanya.

###

"Kenapa kau bisa datang bersamanya, Yunho-ah?" tanya Junsu penasaran pada jam istirahat siang itu.

"Tadi dia bilang kalau motornya mendadak macet. Aku kaget juga tadi. Aku heran saja ternyata namja sekaya dirinya mau naik bis yang panas dan padat penumpang."

Junsu berpikir sejenak. "Apa… Apa ada unsur kesengajaan di balik ini?"

"Mwo? Apa maksudmu, Junsu-ah?"

Junsu mendesah. "Apa kau lupa? Dia sedang berusaha mendekatimu. Aku rasa dia akan melakukan apa saja supaya dia punya kesempatan bersamamu."

Yunho mengerutkan alisnya. "Aku tidak percaya kalau dia sampai mau melakukan itu. Tadi kulihat raut wajahnya serius."

"Yunho, kau belum mengenalnya. Dia tidak akan berhenti bergerak sebelum usahanya berhasil. Kau harus tetap waspada, Yunho. Jangan sampai lengah."

Yunho tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Junsu untuk menenangkannya. "Ne. Arasseo, Junsu."

###

Sepulang sekolah Yunho dan Junsu berjalan ke tempat parkir. Dia melihat ada dua orang namja dan yeojya sedang berdiri di dekat motor. Dia menajamkan pandangannya dan mengenali mereka adalah Yoona dan Siwon pacarnya. Tiba-tiba dia melihat Siwon mendorong Yoona dengan kasar.

Mata Yunho terbelalak melihat kejadian itu. Segera dia mendekati mereka dan menarik bahu Siwon dengan kasar.

"Yah, apa yang kaulakukan pada noona?!" teriak Yunho geram.

Yoona memandang Siwon dan Yunho bergantian dengan khawatir, begitu pula dengan Junsu yang berhasil menyusul Yunho.

"Yunho…" bisik Yoona dengan gemetar.

Siwon menatap Yunho tajam dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Oh, jadi kau yang bernama Yunho?"

Yunho tercengang mendengar ucapan Siwon. Dari mana Siwon tahu tentangnya?

"Dari dulu aku penasaran ingin melihat bagaimana tampangmu. Ternyata kau tidak ada istimewanya sama sekali." kata Siwon sambil tersenyum sinis.

"Bagaimana kau bisa tahu namaku? Dan kenapa kau mendorong noona? Apa kau tidak bisa sedikit lembut pada yeojya? Kau ini namja atau bukan?" sahut Yunho berapi-api.

Siwon tertawa. "Haha… Yoona adalah pacarku. Tentu saja aku bebas berbuat apa saja. Aku punya hak penuh terhadapnya. Kau tahu apa? Hmm.. Tapi kebetulan kau muncul di sini sekarang. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu… untuk memberi sedikit pelajaran."

Yunho baru berusaha mencerna kata-kata Siwon ketika tiba-tiba pukulan keras mendarat di wajahnya. Dia terdorong ke belakang beberapa langkah. Dia merasakan perih di ujung bibirnya yang berdarah.

"Yunho..!" teriak Yoona dan Junsu bersamaan.

Tidak memberi kesempatan Yunho untuk bergerak, Siwon mendekati Yunho dan memukul perutnya hingga tubuhnya terhempas ke tanah.

Junsu segera mendekati mereka dan mencegah Siwon berbuat lebih jauh. "Sudah cukup, Siwon-shi…"

Siwon mendorong tubuh Junsu dengan kasar. "Jangan ikut campur!"

"Ada apa ini?" Beberapa murid berdatangan ke tempat kejadian. Mereka melihat wajah Siwon yang penuh kemarahan dan Yunho yang tergeletak tak berdaya di tanah.

"Siwon-shi, tolong apapun masalahnya jangan membuat keributan di sini." ujar salah satu murid dengan nada memohon.

Siwon memandang Yunho yang sedang berusaha untuk berdiri. "Dia yang lebih dulu mencari masalah denganku. Jangan salahkan aku kalau aku memukulnya." Dia tersenyum sinis. "Ternyata kau lemah sekali, tidak seimbang dengan nyalimu."

"Yunho-ah…" Yoona berlutut di dekat Yunho. Dia memegang lengan Yunho, berusaha membantu namja itu berdiri.

"Apa yang kaulakukan?!" geram Siwon sambil menarik Yoona kasar.

"Lihat apa yang sudah kauperbuat! Kenapa kau memukulnya? Apa salahnya?!" teriak Yoona.

"Lalu apa pedulimu? Kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kan." tukas Siwon. Dia menarik Yoona ke motornya. "Ayo naik."

Yoona menatap Yunho dengan penuh rasa penyesalan dan permintaan maaf sebelum naik ke motor Siwon.

Sebelum melajukan motornya, Siwon memandang Yunho sekilas. "Itu peringatan karena kau sudah berani mencampuri urusanku. Lain kali pikir dulu sebelum bertindak, Jung Yunho." Segera mereka berlalu dari situ.

###

"Yunho-ah, sakit kah?" tanya Junsu sambil mengompres pipi Yunho dengan handuk hangat. Sekarang mereka ada di apartemen Yunho. Yunho tidak punya siapa-siapa di situ. Tidak ada yang bisa menjaga dan merawatnya.

Yunho tertawa kecil. "Yah, apa sekarang ini aku kelihatan menderita di matamu?"

Junsu menatapnya dengan prihatin. "Aku khawatir sekali padamu. Siwon itu benar-benar membuatku naik darah. Aku menyesal kenapa bisa-bisanya dulu aku membelanya." Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Yunho, kenapa dia bisa tahu namamu?"

Yunho terdiam. Benar, bukan itu saja. Siwonpun bisa menyebut nama lengkapnya. Bagaimana mungkin, mereka baru pertama kali ini bertemu dan belum pernah berurusan satu sama lain.

"Seberapa dekat kau mengenal Siwon? Apa Yoona memang sering menceritakan tentang teman-teman pada Siwon?"

Junsu mengangkat bahunya. "Aku pernah mengobrol sesekali dengannya. Tapi yang satu itu aku tidak yakin, Yunho-ah."

Yunho mengerutkan alisnya. Kenapa sepertinya Siwon marah dan sangat membencinya? Bertemu saja belum pernah. 'Besok aku harus menanyakan ini pada Yoona. Aku khawatir sekali, entah apa yang terjadi padanya sekarang.'

###

Keesokan paginya Yunho dan Yoona duduk di taman. Yoona memeriksa tubuh Yunho. "K-kau tidak apa-apa? Bagaimana keadaanmu, Yunho-ah? Di mana yang sakit?"

Yunho menggeleng sambil tersenyum. "Gwenchana, noona. Lukaku tidak serius. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Bagaimana denganmu? Apa dia memukulmu lagi?"

Yoona menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Mendadak matanya berkaca-kaca. "Mianhae, Yunho-ah. Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku sama sekali tidak mengira dia akan berbuat sejahat itu. Mianhae."

Yunho terkejut melihat Yoona yang hampir menangis. "Ommo, kenapa kau menangis noona? Bukan kau yang salah. Kenapa kau minta maaf padaku?"

"Mianhae. Dia pacarku tapi aku tidak bisa mencegahnya. Kau dipukul gara-gara aku."

"Sudahlah. Noona, sebelumnya aku minta maaf karena aku mengatakan ini. Tapi aku pikir Siwon bukan orang baik. Entah apa saja yang pernah dia lakukan padamu aku tidak tahu. Dia tidak pantas mendapatkan orang sepertimu, noona. Mianhae, sebenarnya aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku tidak bisa menahan diri lagi."

"Yunho, tolong lain kali jangan campuri urusan kami lagi."

Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani. Kalau suatu saat aku sampai melihatnya berbuat seperti itu lagi, mana bisa aku diam saja? Noona, aku memang orang yang lemah. Mempertahankan diriku saja aku tidak mampu. Tapi aku tidak mau melihatmu terluka. Umm… ada yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa Siwon bisa tahu namaku? Apa kau yang menceritakan padanya?"

Yoona menghela nafas panjang. "Ne. Dulu aku pernah bercerita bahwa kau murid baru dan kita sering mengobrol bersama. Aku memang sering bercerita tentang kegiatanku di sini dan tentang murid-murid. Aku bilang bahwa kau orang yang menyenangkan dan suatu saat aku ingin mengenalkannya padamu. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia terlihat kesal setiap aku bercerita tentangmu. Padahal kalian belum pernah bertemu."

Yunho berpikir keras. Dia tetap tidak mengerti dengan sikap Siwon. Mereka belum saling mengenal. Sama sekali tidak ada alasan Siwon sampai membencinya. Beberapa saat mereka tenggelam dalam dunia masing-masing sampai akhirnya bel masuk berbunyi.

###

"Benar begitu, Yunho-ah?" tanya Junsu.

"Ne. Aku pikir wajar dia menceritakan tentang teman-temannya. Apa kau pernah melihatnya memukul orang lain?"

Junsu menopang dagunya sambil mengingat-ingat. "Sejauh yang aku tahu, dia tidak pernah melakukan kekerasan di sini."

"Berarti dia hanya berbuat kasar padaku. Tapi kenapa? Apa salahku padanya? Aku benar-benar bingung." sahut Yunho dengan wajah muram.

Junsu mengerutkan alisnya seraya berpikir. "Umm… menurut pendapatku, Siwon cemburu padamu, Yunho."

"M-mwo? Kenapa kau bisa bilang begitu?"

"Selama ini Yoona mengenalkan Siwon padaku dan teman-teman lain, dan dia mau berteman dengan kami. Tapi kenapa hanya terhadapmu saja dia bersikap begitu? Mungkin Siwon berpikir Yoona menyukaimu. Dia menganggapmu sebagai saingannya."

Yunho terdiam. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya. Mana mungkin Siwon curiga pada pacarnya sendiri? Kalau Siwon mencintai Yoona, seharusnya dia percaya padanya.

"Andwae. Yoona itu hanya menganggapku sahabat atau saudara, tidak lebih. Junsu-ah, kau jangan berpikir macam-macam." bantah Yunho. Dia tidak bisa mempercayai pendapat Junsu, walaupun di dasar hatinya dia berharap Yoona juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Ya, dia memang menyukai Yoona. Beberapa kali dia mencoba mencari kesempatan ke ruang kesehatan hanya untuk bertemu Yoona. Dia tidak tahu kapan perasaannya mulai muncul. Yang jelas dia ingin selalu bisa melindungi yeojya itu.

"Gunakan pikiranmu, Yunho. Kalian belum pernah bertemu dan kau tidak pernah terlibat masalah apapun dengannya. Jadi ini satu-satunya alasan paling masuk akal. Kau bilang Yoona hanya menganggapmu saudara. Apa kau benar-benar yakin dengan itu? Karena kurasa sikapnya terhadapmu memang berbeda dengan teman lain."

"M-mwo?"

Junsu menarik nafas panjang. "Itu baru tebakanku saja. Tapi apa kau tidak menyadari itu, Yunho-ah? Kulihat dia perhatian sekali padamu."

"Haha… Junsu-ah, kau jangan bercanda lagi. Mana mungkin dia menyukaiku. Dia sudah punya Siwon, kan." tawa Yunho.

Junsu menatap Yunho dengan kesal. "Sudahlah kalau kau tidak percaya padaku. Coba mulai besok perhatikan baik-baik. Perhatikan dan rasakan, Yunho. Umm… Aku lapar sekali sekarang. Apa kau punya makanan?"

Yunho mengangguk. Dia masih memandang Junsu dengan tatapan geli. Dia berpikir mungkin Junsu sedang kelaparan jadi otaknya kacau. "Sebentar kuambilkan dulu ne." katanya sambil berjalan menuju dapur.

###

Yunho berjalan tergesa-gesa menuju halte. Beberapa kali dia melihat jamnya, gelisah karena bis yang ditunggunya belum juga datang. Pagi itu dia bangun kesiangan karena dia mengerjakan tugas sekolahnya sampai tengah malam. Setelah lama berdiri akhirnya bisnya muncul juga.

'Ommo, ada pelajaran berenang pagi ini. Apa yang harus kulakukan?' pikirnya.

Setibanya di sekolah dia berjalan cepat-cepat ke loker dan mengganti bajunya, kemudian segera menuju ke kolam.

"Yunho, kenapa bisa terlambat? Lihat jam berapa sekarang!" teriak gurunya.

Yunho menghampiri sang guru lalu membungkukkan tubuhnya. "Mi-mianhae, songsaengnim. Saya… umm, saya… bangun kesiangan." ujarnya jujur dengan nafas terengah-engah. Wajahnya memerah karena malu.

Gurunya menghela nafas panjang. "Tidak ada dispensasi baik bagi siswa sekolah ini maupun siswa pertukaran. Tetap ada hukuman bagi yang terlambat mengikuti pelajaran saya. Sekarang kaulakukan pemanasan dulu lalu berenang bolak-balik kolam ini sebanyak 10 kali."

"Ne. Mianhae, songsaengnim. Saya mengerti peraturan di sini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya." kata Yunho dengan nada menyesal.

"Kau masuklah ke kolam. Saya ada urusan sebentar di ruang guru."

"Ne." angguk Yunho lalu mempersiapkan dirinya. Dia melihat ke sekeliling kolam. Kolam mulai sepi karena murid-murid sudah melakukan aktivitas yang lain seperti basket dan voli.

Setelah melakukan pemanasan, dia mengerjakan apa yang diminta gurunya. Dia ingin segera menyelesaikan hukumannya supaya bisa segera bergabung dengan yang lain. Sesudah putaran kelima dia mulai merasa lelah. 'Tinggal sebentar lagi, Yunho.' Dia menyemangati dirinya dan mempercepat gerakan tangan kakinya. Tapi tiba-tiba saja sebelah kakinya terasa sangat nyeri dan tidak bisa digerakkan.

'Appo, kenapa kakiku? Mungkin pemanasanku kurang lama tadi.' Yunho mengeluh dalam hati. Dia mengabaikan rasa sakitnya dan tetap berusaha menggerakkan kedua kaki. Tapi sekuat apapun usahanya tidak berhasil mendorong tubuhnya ke tepi kolam. Perlahan-lahan dia mulai tenggelam di kolam dengan ketinggian 3 meter itu. Beberapa kali air kolam tertelan olehnya, hingga pandangannya mulai gelap.

Yunho POV

Setengah sadar aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah menempel di bibirku dan hembusan angin masuk ke saluran pernafasan melalui mulutku. Juga ada sesuatu yang beberapa kali menekan dadaku. Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat. Begitu mataku mulai terbuka seketika aku merasakan air yang memenuhi tenggorokanku. Aku segera bangun dan memuntahkannya. Aku terbatuk-batuk berusaha mengeluarkan semua air itu sampai dadaku terasa sesak.

"Akhirnya kau sadar juga. Yunho-ah, gwenchana?" Aku menoleh ke arah sumber suara. Dan kulihat Jaejoong berlutut di dekatku.

"K-kau sedang apa? A-apa yang terjadi?" tanyaku sambil berusaha mengumpulkan kesadaran dan mengingat-ingat.

"Yunho, tadi kulihat kau tenggelam. Kebetulan aku ada di dekatmu jadi aku langsung menolongmu. Waktu kubawa keluar kau sudah pingsan. Aku takut kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Apa yang kaurasakan sekarang?" tanya Jaejoong dengan nada khawatir.

Akhirnya aku ingat peristiwa tadi. Kakiku kram karena itu aku kesulitan bergerak sehingga akhirnya aku tenggelam. Aku menggerakkan kepalaku ke sekeliling dan melihat teman-teman mengerumuniku dengan wajah khawatir. Aku lalu mencoba untuk berdiri.

"Appo…" Kupegangi kakiku yang terasa nyeri sekali. Tubuhku lemas serasa tidak bertenaga dan nyaris jatuh. Jaejoong segera memegangiku dan menopang tubuhku.

"Lepaskan! Aku bisa sendiri. Jangan sentuh aku!" sahutku dingin sambil menepis tangannya.

"Kau bisa lihat tidak kalau kakimu bengkak? Kau masih bilang bisa berdiri sendiri? Kau keras kepala sekali. Bisakah sedikit saja kau menghargai kebaikan orang yang sudah menolongmu?!" Bentakan Jaejoong membuatku membatu di tempat.

"Ayo, kuantar kau ke ruang kesehatan." Jaejoong melingkarkan tanganku ke lehernya sedangkan lengannya melingkari pinggangku. Aku berusaha melepaskan diri tapi apa daya kakiku tidak mampu berkompromi.

Kulihat Junsu mendekatiku dan mencoba menarik tanganku. "Biar aku saja yang mengantarnya."

Jaejoong menepis kasar tangan Junsu. "Tidak perlu! Aku sendiri saja bisa mengantarnya." sahutnya dingin sambil menuntunku meninggalkan kolam. Aku hanya bisa menatap Junsu, berharap dia bisa menyelamatkanku dari Jaejoong. Tapi aku tidak tahu kenapa aku tidak mendorong Jaejoong. Tetap saja kubiarkan dia menopang tubuhku.

End of POV

###

Huff... sekian dulu bwt chap ini. saya tggu review chingudeul ^^.