CHAPTER 6

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong. apa ada chingudeul yg nunggu ff ini ^^? smoga ~ngarep bgt~ hehe... lgsg lanjut aja ne.

###

"Ommo... Yunho-ah, kau kenapa? Wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanya Yoona khawatir melihat Yunho yang berjalan terpincang-pincang dituntun oleh Jaejoong.

"Kakiku kram waktu olahraga tadi. Sekarang sudah tidak apa-apa, noona. Kau tenang saja."

Jaejoong mendudukkan Yunho di tepi tempat tidur. Yoona segera berjalan menuju lemari obat.

"Aku yang akan mengurus Yunho. Kau pergi saja sana." sahut Jaejoong ketus sambil menyusul Yoona ke lemari obat.

"Eh... tapi..."

"Apa kau tuli? Kau tidak dengar ya kata-kataku barusan? Kau bisa keluar sekarang." usir Jaejoong sambil mencari-cari salep tanpa menghiraukan Yoona.

Yoona menghela nafas panjang. Dia sudah tahu tabiat Jaejoong dan tidak mau mencari masalah dengan putra dari salah satu keluarga terkaya di sekolah. Dia lalu keluar dari ruang itu.

Yunho menatap tajam Jaejoong yang mendekatinya dengan membawa obat. "Bisakah kau bersikap sopan sedikit terhadap yeojya? Terlebih dia lebih tua daripada kita." tegurnya.

Jaejoong memutar bola matanya. "Wae? Kau tidak terima dengan sikapku? Memang apa yang kulakukan padanya ada hubungannya denganmu?"

"Bukan begitu. Tapi kau harus menghargai…"

"Kulihat kau perhatian sekali padanya. Yunho, apa kau menyukainya?"

Yunho membelalakkan matanya. "Ani. Aku hanya…" Dia terkesiap melihat Jaejoong yang tiba-tiba berlutut di depannya dan memegang kakinya. "Apa-apaan…"

"Aku mau memeriksa kakimu."

Yunho terdiam mendengar suara Jaejoong yang dingin. Perlahan Jaejoong meraba kaki Yunho. "Bengkak sekali." gumamnya. Dia membuka salep yang diambilnya tadi.

Yunho segera meraih salep di tangannya. "Sini. Aku bisa…"

"Sudahlah. Kau duduk saja, ne?"

Yunho kembali terdiam. Dia benci pada Jaejoong tapi mengingat Jaejoong yang sudah menolongnya tadi membuatnya tidak tega untuk berkata kasar. Dia memandangi Jaejoong yang sedang mengoleskan salep dan memijat kakinya dengan hati-hati. Dia belum pernah melihat Jaejoong yang seperti ini. Begitu lembut dan perhatian. Dia mengira-ngira ada berapa banyak sisi dari Jaejoong yang belum dia ketahui?

Jaejoong yang dia tahu adalah sosok yang tidak peduli dengan sekitarnya. Hanya di saat berdekatan dengan namja-namja Jaejoong bisa tertawa. Tapi di luar itu, Jaejoong adalah sosok yang dingin dan tanpa ekspresi. Apa benar Jaejoong begitu menyukai sentuhan mereka? Apa benar tidur dengan mereka adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya puas?

Beberapa lama kesunyian menyelimuti mereka. Tiba-tiba saja dia menyadari sesuatu yang membuatnya tersentak. "K-kau… Waktu aku pingsan, kau yang menolongku ya?"

"Kau sudah tahu, kenapa masih bertanya?" kata Jaejoong tanpa mengangkat kepalanya.

"K-kau… Dengan cara apa kau menolongku?" tanya Yunho lagi dengan gelisah. Wajahnya perlahan memerah membayangkan apa yang sudah dilakukan Jaejoong terhadapnya.

Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap Yunho dan tersenyum lebar. "Tentu saja… aku menempelkan bibirku ke bibirmu dan…"

Seketika Yunho menepis kasar tangan Jaejoong yang memijat kakinya. "Mwo?! Lancang sekali kau melakukan itu? Kau memang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, huh? Kelakuanmu benar-benar rendah! Aku heran kenapa di dunia ini bisa ada orang sepertimu?!" bentak Yunho. Dia benar-benar merasa terhina dan dipermalukan.

Senyum Jaejoong mendadak hilang, wajahnya berubah penuh kemarahan. "Kalau aku tidak melakukan itu, kau pasti sudah mati sekarang, Jung Yunho!" Jaejoong balas berteriak.

Mulut Yunho mendadak terkunci mendengarnya.

"Tadi aku menemukanmu dalam keadaan pingsan. Dada dan perutmu penuh air. Tubuhmu kaku, telapak tangan dan kakimu dingin. Apa kau tidak pernah mendapat pelajaran CPR? Apa kau tahu cara untuk menyelamatkan korban tenggelam selain cara ini? Kau bisa jelaskan padaku, huh?!" bentak Jaejoong bertubi-tubi.

Yunho tertegun. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia memandang Jaejoong dengan bingung. Perasaannya benar-benar bercampur aduk. Tapi dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Jaejoong itu memang benar. Kalau tidak ada Jaejoong di dekatnya, mungkin dia sudah mati sekarang. Dia ingat saat itu kolam sudah sepi dari murid-murid.

"Kau mungkin membenciku. Tapi aku terpaksa melakukan itu untuk menyelamatkanmu. Orang lain pun akan melakukan hal yang sama. Kenapa tidak ada sekalipun ucapan terimakasih yang keluar dari mulutmu, huh?" Jaejoong menundukkan kepalanya dan kembali memijat kaki Yunho.

"… Gomawo." ucap Yunho lirih sesudah beberapa lama terdiam.

"Aku tidak menerima ucapan terimakasih dari orang yang terpaksa melakukannya." sahut Jaejoong dingin.

"A-aku benar-benar minta maaf atas kekasaranku. Kau sudah bersusah payah menyelamatkan hidupku tapi balasanku malah seperti ini. Mianhae, Jaejoong." ucap Yunho dengan nada menyesal.

"Gwenchana. Tidak usah kaupikirkan lagi."

Kembali ruang kesehatan itu diliputi kesunyian. Jaejoong mendongak dan mengerucutkan bibir mungilnya. "Kau keterlaluan, Yunho-ah. Aku sudah menolongmu dua kali. Tidak seharusnya kau kasar padaku."

"Dua kali? Apa maksudmu?"

"Waktu pertama kali kau datang ke sekolah ini, kau masuk ke ruang Choi songsaengnim, lalu tiba-tiba kau pingsan. Apa kau sudah lupa, hum?" tanya Jaejoong sambil tersenyum-senyum.

Yunho mengerutkan alisnya sambil mengingat-ingat. Perlahan bayangan namja yang memeluk tubuhnya waktu itu muncul di pikirannya. Seketika matanya terbelalak menatap Jaejoong.

"K-kau? A-apa kau… Ja-jadi kau... Kau yang di ruang Choi songsaengnim? K-kau yang…" Yunho yang terbata-bata tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.

Jaejoong tertawa kecil melihat reaksi Yunho. "Tepat sekali. Dan aku juga yang membawamu ke sini. Apa kau tahu? Kau benar-benar berat, Yunho-ah."

Kembali Yunho merasakan wajahnya yang memanas. Ada apa ini? Kenapa bisa begitu kebetulan? Saat itu dia tidak bisa melihat dengan jelas karena pandangannya kabur. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa namja itu adalah Jaejoong.

"Tapi… Tapi kenapa waktu itu kau di ruang itu? Waktu masuk aku tidak melihatmu. Kau pasti membohongiku, kan?"

"Untuk apa aku membohongimu? Apa untungnya bagiku?"

"Tentu saja untuk menarik simpatiku."

"Haha… Kau terlalu percaya diri, Jung Yunho. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya sendiri ke kepala sekolah." tawa Jaejoong sinis.

Yunho masih memandangi Jaejoong dengan ragu-ragu. "Lalu apa yang kaulakukan di sana?"

"Menurutmu?" tanya Jaejoong dengan tatapan menggoda ke arah Yunho.

Yunho terdiam sebelum kembali membelalakkan matanya. "A-apa kau…"

"Jangan berpikir berlebihan, Yunho-ah. Tidak baik untuk kesehatanmu." kata Jaejoong sambil menunjukkan senyum termanisnya. "Aku sudah menolongmu dua kali, Yunho. Jadi kau berhutang banyak padaku."

"Ne. Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu? Akan kuusahakan selama itu tidak melanggar peraturan. Aku tidak mau berhutang terlalu banyak pada orang lain."

Jaejoong berpikir sejenak. "Umm… Aku hanya ingin berteman denganmu dan bermain denganmu. Cukup sederhana, kan?"

Yunho kembali merasa bimbang. Dia ingat semua ucapan Junsu tentang Jaejoong. Dia takut kalau dia membiarkan Jaejoong dekat dengannya, lama-kelamaan dia bisa jatuh ke perangkap namja cantik itu. Tapi saat ini dia tidak menemukan alasan untuk menolak tawarannya.

"Jadi… bagaimana?" Pertanyaan Jaejoong membuyarkan lamunan Yunho.

"Baiklah. Aku mau berteman denganmu, tapi ada syaratnya."

Jaejoong tertawa kecil. "Apa yang kauinginkan?"

"Pertama, kau harus bersikap sopan pada Yoona maupun orang lain. Kedua, kau harus menghentikan kebiasaanmu menggoda teman-teman kita. Dan ketiga, kau tidak boleh datang terlambat atau membolos lagi."

"Sebentar. Kenapa Yoona kau masukkan dalam syarat-syaratmu?" protes Jaejoong.

"Sudah seharusnya kau menghormatinya. Dia yeojya baik-baik dan lebih tua daripada kita. Lagipula apa yang dia lakukan sampai-sampai kau membencinya?"

"Aisshh… Kajja, kajja. Aku setuju dengan syaratmu dan akan berusaha menepati semua itu. Jadi sekarang kita teman, kan?" ucap Jaejoong tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

Yunho diam sebentar sebelum akhirnya menjabat tangan Jaejoong. "Ne." jawabnya. 'Kupikir tidak ada salahnya mencoba berteman dengannya. Dia sudah berjanji, dan aku ingin mempercayai kata-katanya. Mungkin saja aku bisa pelan-pelan mengubahnya.' kata Yunho dalam hati.

###

"Berteman dengannya? Apa kau sudah gila, Yunho-ah?" Junsu membelalakkan matanya tidak percaya.

"Aku sadar dengan apa yang kulakukan. Semuanya sudah kupikirkan. Mungkin dengan menjadi temannya aku bisa mengubah kebiasaan buruknya."

Junsu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau jangan mimpi, Yunho. Jaejoong itu sudah rusak, tidak mungkin ada yang bisa mengubahnya. Kau hanya akan membuang-buang tenagamu. Aku tidak bisa membiarkanmu berteman dengannya."

Yunho menghela nafas. "Junsu-ah, dulu dia yang menolongku waktu aku pingsan di ruang Choi songsaengnim. Kalau tidak ada dia, mungkin kepalaku sudah terbentur lantai. Lalu waktu aku tenggelam. Kurasa dia sebenarnya orang yang baik. Aku berhutang nyawa padanya."

"Tapi.. tapi.. itu berarti kau sudah mulai masuk perangkapnya. Apa kau tidak sadar bahwa dia pelan-pelan mendekatimu? Dia itu iblis. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu."

"Tenanglah. Aku tidak akan bertindak bodoh. Tidak akan kubiarkan dia mengambil kesempatan untuk menyentuhku."

"Tidak adakah cara lain? Kau bisa saja membantunya kalau suatu saat dia perlu sesuatu. Yunho-ah, aku khawatir akan terjadi sesuatu padamu. Dia pasti akan mengambil kesempatan saat kau lengah."

"Aku sudah membuatnya berjanji untuk tidak menggoda orang lagi. Dia namja, tentu dia akan menepati janjinya. Harus ada orang yang dengan tegas mengingatkan bahwa perbuatannya itu salah. Perbuatan yang seharusnya hanya dia lakukan dengan seseorang yang benar-benar dia cintai." ujar Yunho penuh keyakinan.

Junsu memandang Yunho dengan bimbang. "Tapi… tapi… aku tidak yakin dia bisa kembali ke jalan yang benar, karena sudah banyak yang mencoba menasihatinya. Dia sangat berbahaya. Sebaiknya kau pertimbangkan lagi."

Yunho menepuk bahunya. "Keputusanku sudah bulat, Junsu-ah. Aku mau berteman karena aku peduli padanya. Aku tidak mau dia semakin dibenci orang lain. Aku tahu kau ingin melindungiku. Aku janji akan menjaga diriku baik-baik. Percayalah padaku. Kau tidak perlu khawatir, ne?"

"Aisshh… Jaejoong itu membuatku emosi saja. Kenapa kau harus selalu berurusan dengannya?" sahut Junsu menggerutu. Yunho hanya tersenyum mendengarnya.

###

Yunho POV

Beberapa minggu sudah sejak kejadian itu. Aku mulai membuka diriku terhadap Jaejoong. Kadang saat kami berada di kelas yang sama, aku duduk semeja dengannya. Kami sering berjalan-jalan bersama. Kadang dia mengajakku ke game center, sesuatu hal yang belum pernah kulakukan seumur hidupku. Aku memang bukan berasal dari keluarga berada. Jadi aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk pergi ke tempat semacam itu.

Aku mulai mengenal pribadinya yang bersahabat. Aku menyukai sikapnya yang penuh perhatian. Dia selalu membantuku kapanpun aku memerlukan sesuatu. Dan yang terpenting, aku tidak pernah lagi melihatnya memamerkan tubuhnya ke orang lain ataupun membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya. Dia benar-benar sudah berubah. Ternyata mengajaknya ke jalan yang baik tidak sesulit yang kukira. Aku senang sekali. Akhirnya aku bisa membuktikan bahwa ucapan Junsu salah.

End of POV

Terdengar bel berbunyi di depan apartemen Yunho. Yunho bergegas membuka pintu dan tertegun melihat sosok namja cantik di depannya.

"Yunho-ah, apa kau sudah siap?"

Yunho menatap Jaejoong dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jaejoong mengenakan kaus V neck hijau dibalut sweater dengan warna senada dan celana panjang hitam ketat. Pakaiannya tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang indah. Yunho terpesona pada kecantikannya yang memancar kuat walaupun pikirannya menolak keras untuk mengakui hal itu.

"Yah, apa yang kaulihat?" tanya Jaejoong sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan Yunho.

Seketika Yunho tersadar dari lamunannya. "Ani."

Jaejoong tersenyum manis. "Ayo kita harus segera berangkat sekarang. Jangan sampai kita terlambat menonton film."

"Tunggu sebentar ne?" Yunho masuk lagi untuk mengambil tas dan merapikan dirinya sejenak di depan cermin. Lalu mereka berdua keluar dari apartemen.

"Yunho-ah, aku agak tidak enak badan hari ini. Kau tidak keberatan kan kalau aku yang memboncengmu?"

Yunho memandang Jaejoong dengan khawatir. Dia meraba dahi Jaejoong. "Kau sakit, Jaejoong-ah? Bagaimana kalau kau istirahat saja di kamarku? Kita bisa menonton lain kali."

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Gwenchana. Mungkin sebentar lagi juga hilang sakitnya. Lagipula sayang kalau tiket yang sudah kita beli terbuang percuma."

"Apa kau yakin?"

"Ne. Kau tidak perlu khawatir seperti itu, Yunho-ah. Kau saja yang di depan, ne?" ujar Jaejoong sambil mendorong pundak Yunho.

Yunho menghela nafas. "Kajja. Tapi kalau nanti kau merasa tidak enak, bilang saja padaku. Jadi kita bisa segera pulang."

Jaejoong mengangguk sambil tersenyum. Yunho naik ke motor dan menyodorkan helm pada Jaejoong. Jaejoong menerimanya lalu duduk di belakang Yunho. Tiba-tiba Yunho tersentak oleh kedua lengan Jaejoong yang melingkari pinggangnya.

"Ja-Jae…"

"Wae, Yunho-ah?"

Yunho terdiam sejenak. Dia ragu-ragu apakah dia harus menegur Jaejoong. Tapi Jaejoong sedang sakit dan mungkin perlu berpegangan padanya. Wajah Jaejoong tampak pucat.

"A-ani." jawab Yunho dengan suaranya yang sedikit gemetar. Lalu dia mulai menjalankan motor dan mengemudikannya pelan-pelan.

"Yunho-ah, kalau kecepatanmu seperti ini, bisa-bisa film habis begitu kita sampai. Aku heran sebenarnya kau bisa mengendarai motor atau tidak?" Terdengar suara Jaejoong di belakangnya.

Yunho menelan ludahnya. "Te-tentu saja bisa. Kau… kau pegang pinggangku yang kencang ne?" Yunho tidak yakin dengan apa yang baru saja dia ucapkan.

"Ne." jawab Jaejoong sambil mengeratkan pelukannya. Yunho menarik nafas panjang menenangkan hatinya lalu mempercepat laju motornya. Alasan sebenarnya adalah dia merasa tegang karena posisi mereka yang berdekatan seperti ini. Dia hampir saja meloncat terkejut ketika dia merasakan Jaejoong menyandarkan kepala ke punggungnya. Nafasnya mendadak menjadi tidak beraturan.

'Pabo, Yunho. Jaejoong sedang sakit. Dia perlu sesuatu untuk menyandarkan kepalanya. Kalau dia tidak berpegangan padamu, kau tidak akan tahu apa yang terjadi padanya. Kalau dia sampai jatuh, bagaimana kau bertanggungjawab pada keluarganya nanti?' batinnya sambil terus berusaha menenangkan diri.

Beberapa lama mereka berada pada posisi itu. Perlahan perasaan yang aneh mulai memasuki hati Yunho. Perasaan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Perasaan yang damai dan tenang. Hatinya menjadi hangat tanpa dia tahu penyebabnya. Dia tidak mengerti apakah ini karena Jaejoong yang menempel erat ke tubuhnya? Pelukan Jaejoong membuatnya merasa nyaman dan rileks. Dia sangat menikmati ini semua. Dia tidak menyadari tindakannya sendiri ketika perlahan dia memegang tangan Jaejoong di pinggangnya.

Setengah jam kemudian mereka tiba di bioskop. Jaejoong melepaskan pelukannya dari Yunho dan turun dari motor. Yunho tidak mengerti, tapi dia merasa kecewa karena perasaan yang menyenangkan itu sudah tidak ada.

Mereka berjalan memasuki bioskop. Yunho tersentak karena Jaejoong tiba-tiba saja menggandengnya. Cepat-cepat dia melepaskan tangan itu.

"Apa maksud tindakanmu ini, Jae?" tanya Yunho sambil menatap tajam wajah Jaejoong. Akhirnya pikirannya mulai rasional kembali.

"Wae? Apa anehnya kalau dua orang sahabat bergandengan tangan?" sahut Jaejoong dengan santai.

"Tapi kita ini namja, Jae-ah."

"Lalu kenapa? Apa kau mau bilang bahwa kalau seandainya kau berjalan bersama yeojya, kau bisa dengan bebas menggandeng mereka?"

"Ani…" Yunho menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia menyadari bahwa percuma berdebat dengan Jaejoong sekarang.

"Ayo cepat masuk. Kau membuang-buang waktu saja." sahut Jaejoong dingin lalu menarik tangan Yunho. Yunho menghela nafas, tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah Jaejoong.

Tiba-tiba Yunho melihat sepasang namja dan yeojya di depannya. Dia merasa senang bisa bertemu yeojya itu walau sebenarnya di dalam hatinya gelisah. Dia menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menyapa mereka.

"Yoona noona, Siwon-shi…" sapa Yunho.

Yeojya di depannya membalikkan tubuhnya. "Yunho-ah." Dia tersenyum melihat Yunho, tapi segera dia sadar dengan situasi. Senyumannya lenyap, raut wajahnya berubah menjadi kekhawatiran.

Yunho merasa gelisah. Sejak percakapannya terakhir dengan Junsu beberapa minggu yang lalu, dia menjadi salah tingkah setiap kali berhadapan dengan Yoona. Pikiran bahwa mungkin Yoona menyukainya membuatnya tidak tenang. Tapi dia tidak mau begitu saja percaya dengan kata-kata Junsu.

Siwon yang ada di sebelah Yoona menoleh padanya. "Ah, kau di sini juga. Kenapa kebetulan sekali, ya?" sahutnya dengan nada dingin. Yoona memandang Siwon dengan khawatir. Jangan sampai dia membuat masalah lagi dengan Yunho di tempat ramai begini.

"Yunho-ah, ayo kita tunggu di sana saja." ajak Jaejoong tanpa menghiraukan pasangan itu.

"Ssh.. Jae-ah, sopanlah sedikit." tegur Yunho.

Jaejoong memutar bola matanya. "Annyeong, Yoona-shi, Siwon-shi." sahutnya acuh tak acuh.

"Annyeong, Jaejoong." sapa Yoona.

"Umm… kalian menonton di teater berapa?" tanya Yunho berusaha menghilangkan suasana canggung diantara mereka.

"Umm… teater 4. Bagaimana dengan kalian?" jawab Yoona mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

"Begitukah? Kami juga sama. Aku tidak menyangka kau menyukai film horor, noona."

"Umm… Siwon memintaku untuk menemaninya." Yoona memaksakan diri untuk tersenyum.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tampaknya Siwon tidak berniat untuk memulai pembicaraan begitu pula dengan Jaejoong. Bahkan tidak ada permintaan maaf Siwon atas pemukulan yang dilakukannya beberapa minggu yang lalu.

Ketika Yunho kebingungan mencari bahan pembicaraan, Jaejoong melihat jam tangannya. "Yunho-ah, film sudah hampir mulai. Ayo kita masuk sekarang."

"Oh, ya?" Yunho mengalihkan pandangannya ke Yoona. "Noona, Siwon-shi, permisi. Kami…"

"Ommo…" Pekikan Jaejoong mengejutkan Yunho dan orang-orang di sekitarnya. Yunho menoleh ke arah Jaejoong yang sedang mengelap minuman di sweaternya.

"Mianhae, kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang baru saja menabraknya dan menumpahkan minuman dingin ke pakaiannya.

"Tidak apa-apa? Kau lihat bajuku basah begini dan kau masih bertanya apa aku tidak apa-apa?!" teriak Jaejoong gusar.

Namja itu memandangnya dengan penuh penyesalan. "Mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru. Lalu apa yang bisa kulakukan?"

"Sudah, sudahlah. Gwenchana, hyung-shi." ujar Yunho berusaha menengahi keduanya.

Jaejoong menatap Yunho tidak percaya. "Tapi, Yunho-ah…"

"Sudahlah, jangan membuat masalah di sini, Jae-ah." bujuk Yunho. "Gwenchana, hyung-shi. Anda tadi bilang sedang terburu-buru, kan?"

Namja itu memandang sekilas ke arah Jaejoong dengan ragu-ragu. "Benarkah tidak apa-apa? Sekali lagi aku minta maaf."

Yunho mengangguk, "Ne. Gwenchana." Si namja menghela nafas lega sebelum berlalu dari tempat itu.

"Ommo… Sweatermu basah semua, Jae-ah." Refleks Yunho melepaskan jaketnya. "Kau pakai saja jaketku, ne? Lagipula sweatermu tipis sekali. Kau bisa sakit kalau terus memakainya." kata Yunho sambil membantu Jaejoong melepaskan sweaternya.

Jaejoong melirik Yoona yang sedang berdiri terpaku memandangi mereka berdua. Jaejoong tersenyum lebar melihatnya. 'Yoona, akuilah kalau kau memang menyukai Yunho. Jelas sekali tampak dari wajahmu.' katanya dalam hati.

"Lalu bagaimana denganmu, Yunho-ah? Kau bisa kedinginan di dalam nanti." ujarnya manja.

Yunho memakaikan jaketnya ke tubuh Jaejoong. "Jangan pikirkan aku. Aku tidak apa-apa. Kau lebih membutuhkan ini sekarang."

"Gomawo, Yunho-ah." Jaejoong memegang tangan Yunho sambil tersenyum manis.

Siwon memperhatikan raut wajah Yoona dan dia mendengus. "Tunggu apa lagi, chagi? Ayo kita masuk."

Yoona terkejut lalu dia memandangi Siwon dan Yunho bergantian. "Yunho-ah, permisi. Kami mau masuk dulu."

Yunho mengalihkan pandangannya pada Yoona. "Ne. Kami menyusul sebentar lagi." Dia terus menatap punggung yeojya itu sampai akhirnya hilang dari pandangan.

Jaejoong memutar bola matanya kesal. Dia benci karena Yunho selalu bersikap lembut terhadap Yoona, berbeda sekali dengannya. Dia berpikir Yunho sering mengacuhkannya.

"Sepertinya kau menyukainya, Yunho." sahutnya dingin.

Yunho menghela nafas panjang. "Jae-ah, jangan mulai lagi. Aku hanya…"

"Benar begitu, kan? Tidak kusangka seleramu adalah yeojya yang lebih tua darimu. Terlebih dia ada di sekolah kita. Kau pasti senang bisa bertemu dengannya setiap hari." sahut Jaejoong sambil tersenyum sinis.

Yunho menatap Jaejoong tajam. "Jangan mengambil kesimpulan yang bukan-bukan, Jae. Sebaiknya kita masuk sekarang, ne?"

Begitu film selesai, Yunho dan Jaejoong berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang film tadi mereka hampir tidak saling berbicara. Suasana canggung terasa diantara mereka dan Yunho tidak tahu apa penyebabnya.

"Jae-ah, kuantar pulang ne? Nanti aku akan panggil taksi dari rumahmu."

"Tidak perlu." sahut Jaejoong singkat.

"Yah, kau tidak perlu sungkan. Ini sudah malam dan udaranya dingin sekali."

Jaejoong menatap Yunho dengan tajam. "Kau tidak mengerti bahasa Korea lagi? Aku kan sudah bilang tidak usah."

"Tapi kau sedang sakit…"

"Sudahlah. Sekarang kau bawa kita ke apartemenmu lalu aku akan pulang sendiri. Lagipula kenapa kau memaksa untuk mengantarkanku pulang? Aku bukan pacarmu yang perlu kau khawatirkan."

Wajah Yunho mendadak memerah. "Ani. Bukan begitu…"

"Ayo kita pulang sebelum semakin malam." potong Jaejoong lalu naik ke motornya. Yunho hanya menghela nafas lalu duduk di depan Jaejoong. Dia menjalankan motor menuju apartemennya.

Setibanya di apartemen, Yunho turun dari motor Jaejoong. "Gomawo, Jae. Kau mau masuk dulu?"

"Tidak usah. Aku langsung pulang saja." jawab Jaejoong lalu memindahkan posisi duduknya ke depan. "Aku pergi dulu. Sampai besok." Tanpa menunggu jawaban dari Yunho dia berlalu dari situ.

Yunho memandangi Jaejoong sampai hilang dari pandangan. Dia tidak mengerti kenapa Jaejoong terlihat kesal. Padahal waktu berangkat tadi dia baik-baik saja. Kenapa mendadak bisa berubah? Apakah karena sweaternya yang basah tadi? Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Jaejoong memang benar-benar orang yang aneh. Kadang dia lembut, tapi kadang juga bisa dingin dan keras kepala.

###

Review chingudeul skalian msh sangat2 saya nantikan. gomawo ^^. mian kl sdkt lbh panjang dr chap sbelumnya :p.