CHAPTER 7

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong :D. saya senang skali membaca review2 dr chingudeul yg msh setia menunggu ff saya. saya sangat bersyukur pny readers sprti chingudeul yg sll mendukung & memberi saran2 membangun bwt saya yg msh minim pngalaman ini. saya berharap utk ke depannya bs lbh baik lg & ga ngecewain chingudeul. gomawo ~bow 90 drajat ala uri oppadeul~ ^^.

###

"Pagi, Yunho-ah." sapa Jaejoong ramah.

Yunho merasa heran dengan sikap Jaejoong. Baru semalam dia merasa Jaejoong marah dan mengacuhkannya. Sekarang Jaejoong sudah kembali seperti biasanya. Begitu cepatkah mood nya berubah? Tapi walau bagaimanapun Yunho menjadi lega. Bukankah ini berarti hubungan mereka sudah normal kembali?

"Pagi. Bagaimana keadaanmu, Jae-ah?"

"Aku sudah merasa baikan sekarang. Ini kukembalikan jaketmu. Gomawo." ujar Jaejoong sambil menyodorkan jaket Yunho.

"Syukurlah kalau begitu."

"Kau sudah menjagaku dan meminjamkan jaketmu. Padahal aku tahu kau juga kedinginan, kan. Kapan-kapan kita menonton lagi ne?"

Yunho tersenyum. "Sudah seharusnya sesama teman itu saling menjaga, kan?"

Jaejoong mengangguk dan membalas senyumannya. Yunho lalu berjalan ke kursinya. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata menatap mereka penuh emosi.

###

"Jaejoong-ah, ayo kita ke kafetaria. Aku sudah lapar." ajak Yoochun pada jam istirahat siang itu.

"Mianhae, Yoochun-ah. Aku mau menemani Yunho ke perpustakaan. Dia mau mempersiapkan bahan untuk tes besok." jawab Jaejoong.

"Ayolah, Jae-ah. Aku sudah lama tidak mengobrol denganmu. Temani aku makan sekali ini saja."

"Aku sudah berjanji pada Yunho untuk membantunya mencatat materi. Lain kali saja ne."

Yoochun menatap Jaejoong kecewa, tapi dia tetap memaksakan senyumnya. "Gwenchana. Kalau nanti siang apa kau ada waktu? Aku mau mengajakmu ke Mirotic Club."

"Mianhae. Nanti siang aku mau ke toko buku dengan Yunho. Lain kali kalau aku ada waktu luang, aku pasti menghubungimu."

Yoochun mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Jaejoong. "Yang mau menjalani tes dia, kan. Kenapa kau harus repot juga? Sekarang kau sudah berubah. Setiap kuajak pergi kau selalu menolak. Kapan kau ada waktu untukku, Jae-ah? Apa kau sudah tidak mau berteman denganku lagi?"

"Aku sudah bilang kan, Yoochun-ah. Aku tidak mungkin melanggar janjiku. Dia temanku juga, sama sepertimu. Tolong mengertilah, ne?" kata Jaejoong dengan nada memohon.

Yoochun menghela nafasnya. Dia tidak tega melihat Jaejoong yang seperti itu. Dia menyesal sudah memarahi Jaejoong. "Ne. Arasseo." sahutnya perlahan.

Jaejoong tersenyum dan mencium pipi Yoochun. "Gomawo, Yoochun-ah. Aku tahu kau akan selalu ada untukku. Kita tetap berteman, kan?"

Yoochun mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia menatap sayang wajah namja yang sangat dicintainya itu.

###

Yoochun POV

Aku duduk sendirian di tempat favorit Jaejoong dan aku, Mirotic Club. Aku menenggak sisa soju ku. Perlahan bayangan Jaejoong terlintas di kepalaku. Jaejoong yang kurindukan sekarang bersama orang lain. Aku tahu tujuannya hanya untuk membuktikan bahwa orang itupun bisa dia jebak. Begitu Jung Yunho itu jatuh ke dalam perangkapnya, Jaejoong akan kembali padaku. Aku merindukan setiap sentuhannya yang membelai tubuhku. Tapi kulihat Yunho bukan seseorang yang mudah ditaklukkan. Sampai kapan aku harus menunggu?

Saat ini pikiranku penuh dengan kenangan bersamanya. Aku ingat, di tempat inilah kami mulai dekat. Di awal-awal sekolah aku tidak mempunyai kesempatan untuk mendekatinya karena dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memujanya. Ya, Jaejoong ku itu sejak dulu sudah membuat banyak orang terpesona. Caranya berbicara, tingkah lakunya semua memikat banyak orang, termasuk aku.

Saat itu aku duduk sendirian seperti sekarang. Lalu dia mendekati dan menyapaku. Aku tidak menyangka bisa bertemu dia di sini. Sejak aku tahu ini tempat favoritnya, aku berusaha untuk sering datang. Aku berharap bisa mengobrol bersamanya di sini, karena tidak mungkin aku bisa melakukannya dengan bebas di sekolah.

Di sini aku mulai mengenalnya dan tahu hal-hal tentangnya. Memang belum semua hal yang kuketahui. Dia tidak pernah sekalipun menceritakan tentang keluarganya, rumahnya, juga tidak pernah mengundangku untuk datang. Setiap kali aku bertanya, entah kenapa dia selalu marah. Tapi aku tidak mempermasalahkannya. Kalau dia keberatan menceritakan itu, aku tidak akan memaksanya.

Pada suatu malam akhirnya kami melakukan hal itu. Aku sangat bahagia bisa membuktikan cintaku padanya. Tapi aku tetap tidak berani mengungkapkan perasaanku, walaupun waktu itu aku yakin perasaannya sama sepertiku. Aku bisa merasakan cintanya melalui sentuhannya yang lembut. Aku bahagia karena aku bisa memiliki dia seutuhnya.

Hingga keesokan harinya aku tidak sengaja melihatnya berciuman dengan seorang namja. Dan sejak itu baru aku tahu kalau dia juga melakukannya bersama orang lain. Hal yang sama dengan yang kami lakukan malam itu. Bahkan bukan hanya satu atau dua namja yang digodanya. Itulah yang paling membuat hatiku sakit.

Hatiku benar-benar hancur. Baru semalam dia menerbangkanku ke awang-awang dan paginya dia menghempaskanku ke dasar bumi. Aku membencinya, begitu ingin membencinya. Tapi entah kenapa perasaanku melunak setiap kali dia mendekatiku. Setiap dia bersikap manis padaku, aku selalu luluh dan tidak berdaya.

Ketika orang-orang menjauhinya, aku ingin selalu dekat dengannya. Ketika orang-orang memakinya, aku ingin selalu menjadi orang yang memujanya. Ketika orang menyakitinya, aku ingin selalu melindunginya. Ketika orang-orang berkata bahwa dia adalah iblis di dalam tubuh malaikat, bagiku dia adalah malaikat itu sendiri.

Untuk mencapai yang dia inginkan, dia akan melakukan segala cara. Tapi aku tidak mengira bahwa untuk mendapatkan seorang Jung Yunho, dia bersedia meninggalkan kebiasaannya. Apakah dia benar-benar berubah demi Yunho? Kalau memang benar, kenapa Yunho yang bisa mengubahnya? Kenapa bukan aku?

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling pub. Keramaian di sini tetap tidak bisa mengobati hatiku yang kesepian. Tiba-tiba kurasakan getaran pada ponselku. Seketika aku tersenyum membaca pesan yang tertera di sana.

End of POV

###

"Yunho-ah, siang ini kau ada waktu? Aku mau mengajakmu berjalan-jalan."

"Ke mana? Bukankah kita ada tugas Matematika yang harus dikumpulkan besok?"

"Ayolah, sebentar saja. Nanti kau juga akan tahu. Yang pasti tempatnya mengasyikkan. Kau mau, kan." bujuk Jaejoong dengan nada manja.

Yunho menghela nafas panjang. "Kajja. Sebentar saja ne? Umm... aku boleh mengajak Junsu, kan?"

"Ne. Kenapa tidak?"

Yunho tersenyum lega. Dia lalu menghampiri Junsu. "Junsu-ah, ayo ikut aku dan Jaejoong pergi sebentar."

Junsu menoleh ke arah Yunho dan Jaejoong yang menyusul di belakangnya. Seketika wajahnya mengeruh. "Mianhae, aku tidak ada waktu. Kalian pergi saja sendiri."

"Wae? Tadi pagi kaubilang kau tidak ada pekerjaan siang ini. Lagipula kita belum pernah pergi bertiga, kan."

"Sudah kubilang aku tidak mau, Yunho. Aku tidak mau membuang waktuku bersama orang seperti dia." sahut Junsu dingin sambil menoleh ke arah Jaejoong sekilas.

"Wae, Junsu? Sepertinya kau benci sekali padaku." ujar Jaejoong sambil memegang lengan Junsu.

"Jangan sentuh aku!" bentak Junsu lalu menepis tangan Jaejoong dengan kasar.

Yunho terbelalak. Dia belum pernah melihat sikap Junsu yang sekasar itu. Dengan cepat dia menarik Junsu keluar kelas.

"Junsu-ah, kenapa kau seperti itu? Ada apa denganmu?!" teriak Yunho.

"Kau sudah tahu aku membencinya tapi kau malah mengajakku pergi bersama kalian. Apa maksudmu sebenarnya?!" Junsu balas berteriak.

Yunho menarik nafas dalam berusaha mengendalikan emosinya. "Junsu-ah, kaulihat sifatnya sudah berubah. Dia tidak lagi seperti dulu. Kenapa kau masih saja membencinya?"

"Aku tidak percaya orang seperti dia bisa berubah. Kau terlalu polos, karena itu kau bisa begitu mudah tertipu olehnya. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali tapi ternyata kau lebih percaya padanya daripada sahabatmu sendiri."

Yunho menatap Junsu tajam. "Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan mereka pantas diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Dan aku percaya dia sudah meninggalkan kebiasaannya."

"Kau sudah memilih untuk berteman dengannya. Kau sahabatku jadi kudukung apapun yang menjadi keputusanmu. Aku hanya berharap semoga kau baik-baik saja. Tapi jangan memaksaku untuk ikut berteman dengannya juga karena itu tidak akan pernah terjadi. Jadi tolong hargai keputusanku, Yunho-ah."

Yunho menghela nafas panjang. "Kajja. Kuharap suatu hari nanti kau bisa berubah pikiran." ujarnya lalu pergi meninggalkan Junsu.

###

Yunho terbelalak menatap bangunan di depannya. "Mirotic Club?"

Jaejoong tersenyum. "Ayo masuk."

"Jae-ah, kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini? Aku mau pulang saja."

Jaejoong segera menahan lengan Yunho. "Wae, Yunho-ah? Kita baru saja datang, kan."

"Aku tidak terbiasa dengan tempat semacam ini."

"Apa maksudmu dengan tempat semacam ini? Ini tempat favoritku. Di sini kita bisa melepas lelah dan bersenang-senang."

"Tapi..."

"Percayalah padaku, Yunho-ah. Kau belum pernah mencobanya, kan. Kujamin kau pasti menyukainya." Tanpa menunggu respon Yunho, Jaejoong segera menariknya masuk. Mereka langsung menuju ke suatu tempat di mana sudah duduk seorang namja.

Yoochun terdiam menatap dua namja yang baru datang itu. Dia tidak mengira Jaejoong akan mengajak Yunho. Dia berpikir mereka akan bersenang-senang berdua di sana.

"Hai, Yoochun-ah."

Yoochun memaksakan diri tersenyum membalas sapaan Jaejoong. Yunho ragu-ragu sebelum akhirnya duduk di sebelah Jaejoong.

"Ahjussi, lima botol seperti biasa." ujar Jaejoong pada bartender yang duduk di dekat mereka. Namja itu segera memenuhi pesanan Jaejoong.

Yoochun menatap Yunho tajam. "Aku tidak mengira kau mau datang ke tempat seperti ini."

"Aku..."

"Aku yang mengajaknya." potong Jaejoong. "Kupikir tidak ada salahnya, kan. Dia teman kita juga."

Yoochun hanya mendengus. Yunho bisa melihat bahwa Yoochun keberatan dengan kedatangannya. Dia berpikir mungkin Yoochun hanya ingin berduaan saja dengan Jaejoong. Lalu kenapa Jaejoong mengajaknya ke sana?

Beberapa saat kemudian bartender datang membawa lima botol soju. Jaejoong mengisi ketiga gelas di depannya dan menyodorkan salah satunya pada Yunho. Yunho hanya memandangi gelas itu dengan ragu-ragu.

"Ayo, Yunho-ah. Ini bisa membantu menghangatkan tubuhmu." bujuk Jaejoong.

Perlahan Yunho mengangkat gelasnya. Jaejoong tersenyum lalu memberi isyarat pada Yoochun. "Untuk menyambut kedatangan Yunho. Cheers!" ujarnya lalu menyatukan gelas mereka.

Yunho mengernyit ketika cairan pahit itu melewati kerongkongannya. Kepalanya terasa ringan dan wajahnya mulai memerah. Dia pernah beberapa kali merasakan soju saat di kampungnya dulu. Tapi kadar alkohol soju yang diminumnya ini terlalu tinggi di luar batas toleransinya. Jaejoong tertawa puas lalu kembali mengisi gelas Yunho.

Yunho mencoba mencegah Jaejoong. "Jae-ah, sudah cukup."

"Ayolah, Yunho. Itu tadi hanya sedikit. Kau belum bisa merasakan efeknya. Sekali lagi ne?"

"Tapi..."

"Yunho-ah, kalau kau tidak mau berarti kau tidak menghargaiku yang sudah mengajakmu ke sini. Ayo, minumlah sedikit lagi ne." Jaejoong mendekatkan gelas itu ke bibir Yunho. Yunho menghela nafas lalu dengan setengah hati meminumnya.

Yoochun memandangi mereka bergantian. Dia bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang direncanakan Jaejoong. Pikiran itu mulai membuat hatinya gelisah. Begitu gelas mereka kosong, Jaejoong mengisinya dengan segera. Yoochun menenggak soju nya dalam sekali teguk untuk menghilangkan kegelisahannya.

"Jae-ah, sudah cukup." sergah Yunho ketika Jaejoong akan mengisi gelas untuk yang kelima kalinya.

"Tapi, Yun..."

"Jae-ah, sekarang juga aku mau pulang. Masih banyak yang harus kukerjakan di rumah. Aku tidak mau mabuk di sini." ujar Yunho berusaha menekankan suaranya. Dengan cepat dia berdiri dan nyaris kehilangan keseimbangannya.

Jaejoong terdiam lalu tersenyum. "Kajja. Ayo kuantar pulang." Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yoochun. "Yoochun-ah, kami pulang dulu ne. Nanti kau kuhubungi."

Jaejoong menopang lengan Yunho untuk membantunya berjalan. Yoochun hanya menatap punggung mereka sampai hilang dari pandangan.

###

Jaejoong mendudukkan Yunho di tepi tempat tidur. Yunho memegangi kepalanya yang terasa pening. Empat gelas soju saja ternyata mampu memberikan efek sekuat itu. Seketika Yunho terbelalak melihat Jaejoong yang tiba-tiba saja membuka seragam dan kausnya, memperlihatkan kulitnya yang putih dan halus.

"A-apa yang kaulakukan?" Nada suara Yunho gemetar, dia berusaha mengalihkan pandangannya dari kulit indah Jaejoong. Wajahnya yang memerah terasa semakin panas.

Jaejoong tertawa melihat reaksi Yunho. "Mianhae, Yunho-ah. Aku kepanasan di sini, jadi terpaksa kubuka bajuku. Kau tidak keberatan, kan?"

Sekuat tenaga Yunho menetralkan debaran jantungnya. "N-ne. Gwenchana. Sebentar kuambilkan minum dulu ne." Dia bangkit tapi seketika rasa pusing menyerangnya lagi.

"Aku saja yang mengambilkannya. Kau tunggu di sini ne?" ujar Jaejoong lalu berjalan keluar kamar.

Yunhi membaringkan tubuhnya yang terasa lelah sekali. Dalam hati dia menyesal sudah menerima ajakan Jaejoong. Entah berapa lama matanya terpejam hingga dia merasakan hembusan hangat menerpa wajahnya. Perlahan dia membuka matanya dan seketika tersentak melihat wajah namja cantik itu yang hanya beberapa centi darinya. Dengan segera dia bangkit dari tempat tidur.

"Ma-mau apa kau?"

Jaejoong tertawa kecil. "Yunho-ah, sudah beberapa kali aku memanggilmu tapi kau tidak bangun juga. Aku penasaran ternyata kau tidur nyenyak sekali, ya. Ini minummu."

Tanpa menyahut Yunho menerima gelas itu dan menjauhkan dirinya dari Jaejoong. Jaejoong bangkit dari tempat tidur dan mengambil buku di tasnya. "Aku mau mengerjakan tugas dulu ne."

Yunho memperhatikan Jaejoong menelungkup dengan tubuh polosnya dan segera sibuk dengan tugasnya. Jantungnya kembali berdebar kencang. 'Tenangkan dirimu, Yunho. Tidak akan terjadi apa-apa.' batinnya. "Mianhae, Jae-ah. A-aku masih agak pusing. Aku mau tidur sebentar ne."

"Ne. Gwenchana. Tidurlah dulu."

###

Yunho mengusap kedua matanya yang masih sedikit mengantuk. Perlahan dia bangkit dan mendapati Jaejoong masih dalam posisinya semula.

Jaejoong mendongak lalu tersenyum. "Yunho-ah, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"

"Gwenchana. Kepalaku sudah tidak berat seperti tadi."

"Mianhae. Aku tidak tahu ternyata kau tidak terbiasa minum minuman seperti itu. Padahal tadi kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi."

"Umm... sebenarnya aku lebih menyukai teh daripada soju."

Jaejoong tertawa. "Ommo... benarkah? Baru kali ini aku tahu ada namja Korea yang tidak menyukai soju."

Yunho hanya tertawa malu mendengarnya.

"Oh, ya. Bisakah kau membantuku mengerjakan soal ini?"

"E-eh?" Dengan ragu-ragu Yunho mendekati Jaejoong. Jaejoong menunjuk soal yang dimaksud. Yunho lalu mengambil kertas dan menjelaskannya. Jaejoong memperhatikan Yunho dengan seksama, sesekali dia mengangguk-angguk. Jaejoong sama sekali tidak ada niat untuk menggodanya. Tapi kenapa jantungnya berdebar kencang setiap melihat tubuh polos Jaejoong? 'Pabo, Yunho. Jangan berpikir kotor terhadap temanmu sendiri.' Yunho mengutuki dirinya.

Sesudah dia selesai membantu Jaejoong, dia pun mengambil buku dan segera larut dengan pekerjaannya. Seketika ruangan menjadi sunyi, hanya sesekali mereka mengobrol. Yang sebenarnya terjadi adalah Yunho berusaha membatasi kontak dengan namja cantik itu.

Beberapa jam kemudian tugas mereka selesai. Yunho menghela nafas lega. Dia menoleh ke Jaejoong yang sedang merentangkan kedua tangannya, merilekskan otot-ototnya yang kaku.

Yunho tertawa. "Kau lelah, Jae-ah?" Dia melihat jam yang berada di atas mejanya. "Tak terasa sudah jam tujuh."

"Ommo... badanku jadi pegal-pegal begini. Aku lapar sekali sekarang."

Yunho tersenyum. "Kebetulan aku punya sup kimchi. Akan kupanaskan dulu, tunggu sebentar ne?"

"Yunho-ah, apa boleh kunyalakan laptopmu?"

"Ne." jawab Yunho sebelum keluar dari kamar.

Beberapa saat kemudian Yunho kembali dengan membawa dua mangkuk sup. "Kau sedang apa, Jae-ah?" tanyanya seraya mendekati Jaejoong yang sedang asyik dengan laptopnya. Dia duduk di sebelah Jaejoong dan seketika matanya terbelalak melihat pemandangan yang muncul di layar laptopnya.

"Oppa, kumohon jangan lakukan ini…" Seorang yeojya terisak sambil menatap namja yang ada di depannya.

"Ara-ah, aku mencintaimu. Apa kau tidak tahu perasaanku selama ini?" ujar si namja lalu menarik yeojya itu ke pelukannya dan mulai menciuminya. Yeojya itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

"Aku janji aku akan menikahimu. Tolong jangan tolak aku lagi, Ara-ah." bisik namja itu lalu menghempaskan tubuh si yeojya ke tempat tidur dan menindihnya. Tangannya mulai bekerja melepaskan pakaian yeojya itu.

"Apa-apaan kau menonton film seperti ini, Jae?" teriak Yunho kesal. "Matikan sekarang juga!" Tangan Yunho bergerak memegang mouse laptopnya.

"Jangan!" Jaejoong menarik tangan Yunho. "Aku kan sedang menontonnya, Yunho-ah."

Yunho berdiri sambil menatap Jaejoong tajam. "Jae, matikan! Atau…"

"Yah, kau ini kenapa, Yunho?" tukas Jaejoong sambil mengerucutkan bibirnya, yang perlahan kemudian berubah menjadi senyuman lebar. "Kau sudah dewasa, kan. Kenapa kau takut menonton film seperti ini?"

"Siapa yang takut? Aku hanya…"

Jaejoong menarik tangan Yunho supaya duduk di sebelahnya lagi. "Ayolah. Film ini harus kukembalikan besok. Aku takut aku tidak akan sempat menontonnya di rumah." bujuk Jaejoong dengan nada memohon.

Yunho menghela nafasnya yang berat. Dia lalu menonton film itu bersama Jaejoong. Dia menggerak-gerakkan kepalanya dengan gelisah melihat adegan panas itu. Dia merasa tidak nyaman menonton adegan itu, terlebih bersama Jaejoong. Diam-diam dia melirik namja yang duduk di sebelahnya. Seketika matanya terbelalak menatap tangan Jaejoong yang asyik memainkan juniornya. Entah mengapa wajah Yunho mulai memanas.

Segera begitu film berakhir, Yunho mematikan laptopnya. "Sekarang sudah malam. Kupikir kau harus segera pulang." ujarnya tanpa menoleh ke arah Jaejoong.

"Yah, kau bahkan belum menawariku sup kimchi. Lalu untuk apa kaubawa dua mangkuk ke sini?" sahut Jaejoong sambil tersenyum-senyum.

Yunho terdiam sejenak lalu menyodorkan mangkuk ke namja itu.

"Gomawo, Yunho-ah." Jaejoong dengan sengaja menyentuh lengan Yunho. Refleks Yunho menepis tangan Jaejoong sehingga isi mangkuk itu tumpah ke tangan dan celananya.

"Appo…" pekik Jaejoong sambil meniup-niup tangannya. Tangannya serasa terbakar akibat kuah sup yang panas.

"Mi-mianhae, Jaejoong. Mianhae…" ujar Yunho gemetar. Dia sangat bingung dan khawatir. Dia segera mengambil kain bekas dari dalam lemarinya. "Aku tidak bermaksud melakukan itu. Mianhae." Yunho mulai membersihkan tangan dan celana Jaejoong.

Dia merasakan tangan Jaejoong mengusap bahunya perlahan. Yunho terkesiap dan berusaha menjauh tapi Jaejoong mencengkeram kedua lengannya dengan kuat.

"Kau tidak ingin mencobanya, Yunho-ah?" bisiknya seraya mendekatkan tubuh polosnya ke tubuh Yunho.

"Mwo? Apa maksudmu…" Ucapan Yunho terpotong ketika merasakan tangan Jaejoong membelai pipinya. Tubuh Yunho gemetar, jantungnya berdebar tidak menentu. Dia ingin sekali mendorong tubuh itu menjauh darinya, tapi kenapa dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya? Jaejoong perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Yunho.

"Jangan… kumohon, Jae…" ujar Yunho lirih. Dia tidak mengerti kenapa tubuhnya bisa selemah itu. Dia merasa tidak mempunyai daya melawan namja cantik yang kelihatannya lemah ini.

"Yunho-ah, sekali ini saja. Aku tahu kau sebenarnya ingin merasakannya, kan. Jangan tolak aku, ne?"

"Tapi… tapi…" Yunho berusaha sekuat mungkin menarik tubuhnya.

"Sudahlah, jangan takut Yunho-ah. Kau tenang saja, ne? Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan." Bisikan Jaejoong yang lembut, nafasnya yang hangat menerpa wajah Yunho membuat pertahanannya runtuh. Pikirannya kosong, dia tidak lagi bisa berpikir jernih. Dia menahan nafas ketika bibir indah itu semakin mendekat ke bibirnya.

###

Kajja. sekian dulu ne. tolong tinggalkan komen & sarannya, chingudeul ^^.