CHAPTER 8

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong :D. bagi chingudeul yg nunggu yunjae moment, ini saya ksh cuma2 LOL. silakan dinikmati (?) ^^.

###

Semakin lama bibir itu semakin mendekat dan akhirnya menempel di bibir Yunho.

Yunho POV

Aku tersentak merasakan sensasi yang tiba-tiba itu. Kupejamkan mataku, kurasakan betapa hangatnya bibir itu menekan bibirku. Lama kutunggu bibir itu bergerak tapi sepertinya penantianku sia-sia. Aku sudah tidak sabar lagi. Aku benar-benar frustrasi ingin merasakan bibirnya. Tak mau membuang waktu kugerakkan bibirku menyusuri setiap bagian bibirnya tanpa tersisa sedikitpun. Tanpa ragu-ragu kugigit bibir bawahnya, dan itu membuatnya mendesah pelan. Aku sangat menyukai suaranya. Detik itu aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Sekali aku bertindak, aku tidak bisa menghentikannya.

Waktu seolah berhenti berputar. Tanpa kusadari tubuhku sudah menindih tubuhnya. Kuraup bibir merah itu dan kubiarkan lidahku menikmatinya. Kudengar lagi desahan lembutnya yang membuatku lupa segalanya . Entah setan apa yang menguasai pikiranku hingga aku mendorong lidahku memasuki mulutnya yang terbuka, bermain-main dengan lidahnya dan membelai langit-langit mulutnya.

Semakin lama gerakanku semakin agresif, seakan aku ingin menarik nafasnya sampai habis. Kubelai tubuh polosnya dan kurasakan kehangatan kulitnya. Kugerakkan kedua tanganku dari satu bagian ke bagian lain, ingin kucoba setiap inchinya. Kuhirup dalam-dalam aroma harum dan memabukkan yang keluar dari tubuhnya. Pikiranku berteriak mengutuk perbuatanku yang di luar batas ini, tapi entah kenapa tanganku terus bergerak tanpa sanggup kukendalikan.

"Jaejoong… Jaejoong-ah…" Aku menggumamkan namanya di setiap ciumanku. Rasanya aku tidak ingin melepaskan bibirku dari bibir lembutnya. Tanganku ingin terus menyentuh tubuhnya yang indah dan mempesona. Aku ingin dia menyebut namaku sama seperti aku menyebut namanya. Akan kulakukan apapun agar aku bisa mendengar namaku keluar dari bibirnya. Hanya dialah yang kuinginkan saat ini.

"Sudah cukup. Lepaskan aku sekarang." Tiba-tiba terdengar suara Jaejoong yang menarikku kembali ke dunia nyata.

End of POV

Yunho membuka matanya dan terkejut melihat posisi mereka sekarang. Sejak kapan tubuhnya berada di atas tubuh Jaejoong? Dia tidak ingat sama sekali. Namja cantik itu tersenyum penuh kemenangan. Segera dia menarik dirinya menjauh dari Jaejoong. Matanya terbelalak dan nafasnya tersengal-sengal.

'Ommo… setan apa yang sudah merasukiku?' suara batin Yunho berteriak tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia memeluk kedua lengannya berusaha keras mengendalikan tubuhnya yang gemetar hebat.

Jaejoong menatap Yunho lalu tertawa terbahak-bahak. "Haha… Kupikir ini ciuman pertamamu. Aku tidak yakin, Yunho-ah." Dia berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Umm… sebenarnya bukan yang pertama kali, karena dulu aku sudah pernah menciummu. Benar, kan?"

Yunho memandang Jaejoong dengan tegang dan ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya masih terasa panas akibat perbuatan yang baru saja dia lakukan.

"Tapi waktu itu kau sedang pingsan. Jadi sekarang aku berbaik hati memberimu kesempatan untuk menyentuh bibirku dengan kesadaranmu. Jadi bagaimana rasanya? Aku tidak menyangka ternyata kau begitu hebat sebagai pemula. Pemula yang sangat berpengalaman." ujar Jaejoong sambil tersenyum menggoda.

"Kau… kau benar-benar mengerikan…" Yunho tidak mampu menyembunyikan getaran dari suaranya.

Jaejoong tertawa kecil. "Wae? Kau menikmatinya, kan. Tadi aku hanya ingin menyentuhmu sedikit tapi ternyata responmu benar-benar mengejutkanku. Kau bahkan mengambil kesempatan dalam kesempitan meraba-raba tubuhku. Aku heran kenapa bisa ada orang sepertimu di dunia ini? Kalau seandainya tadi tidak kuhentikan, entah apa yang sudah kita lakukan sekarang, Yunho-ah."

Yunho tersentak mendengar ucapan Jaejoong. Seketika dia ingat kata-katanya sendiri pada Jaejoong di ruang kesehatan dulu. Tubuhnya menggigil, keringat dingin menetes turun membasahi punggungnya.

Jaejoong mendekati Yunho perlahan. "Kau memang berbeda dari yang lain, Yunho-ah. Hmm… Kau tahu tidak bagaimana kira-kira reaksi Junsu dan teman-teman kalau mereka tahu tentang ini?" bisiknya.

Yunho terbelalak menatap Jaejoong. "A-apa yang akan kaulakukan?"

Jaejoong membelai lengan Yunho tanpa menghiraukan pertanyaannya. "Sampai besok, Yunho-ah." Dia membersihkan sisa sup yang masih menempel di celananya lalu mengenakan pakaiannya lagi. Sesudah membereskan barang-barangnya dia berjalan menuju pintu. "Terimakasih atas sup kimchi nya. Maaf jadi terbuang percuma." Dia mengeluarkan senyum termanisnya sebelum berlalu dari kamar itu.

Yunho menekan dadanya, berusaha menetralkan debaran jantungnya. 'Tuhan, bagaimana bisa aku melakukan ini? Selama ini aku bisa mengendalikan diriku. Tapi kenapa dengan hari ini? Bagaimana bisa tubuhku bergerak sendiri di luar kendaliku? Padahal aku sudah meyakinkan Junsu bahwa aku pasti bisa mengubahnya. Ternyata aku gagal. Aku menyesal sudah mempercayainya.'

'Dia iblis yang ada di dalam tubuh malaikat.' Perlahan suara Junsu terngiang kembali di kepalanya. Yunho memejamkan matanya. Perlahan setetes air mata jatuh ke pipinya.

###

"Jae-ah, sudah, kau jangan minum lagi. Lihat, kau sudah menghabiskan dua botol sekaligus." bujuk Yoochun sambil menjauhkan botol soju ketiga dari tangan namja cantik itu. Malam itu mereka sedang berada di tempat favorit mereka, Mirotic Club.

"Yoochun-ah, ayo kembalikan botol itu. Aku sedang senang sekarang, benar-benar senang. Haha… Sekarang kau boleh ambil soju sebanyak yang kau mau. Aku akan mentraktirmu, Yoochun-ah." ujar Jaejoong sambil tertawa-tawa. Wajahnya yang memerah menunjukkan bahwa dia sudah mulai mabuk.

Yoochun menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyuman Jaejoong tidak pernah hilang dari bibirnya sejak Yoochun bertemu dengannya tiga jam yang lalu. Tadi Jaejoong meneleponnya dan mengajaknya bertemu lagi di sana. Yoochun penasaran apa yang sudah membuat mood Jaejoong sebaik ini. Tapi dia sangat bahagia. Setidaknya malam ini dia bisa bersama Jaejoong lagi seperti dulu. Mengobrol dan tertawa berdua tanpa ada pengganggu.

"Tunggu apa lagi, Yoochun-ah? Kapan lagi kau mendapat kesempatan sebaik ini? Ayo, cepat ambillah sesukamu."

"Kulihat malam ini kau ceria sekali, Jae-ah."

"Tentu saja. Kau mau tahu alasannya tidak?" bisik Jaejoong sambil mendekatkan tubuhnya ke Yoochun. Yoochun menatap Jaejoong penuh rasa ingin tahu.

"Domba itu akhirnya masuk perangkap juga. Haha…" Tawa Jaejoong membuat Yoochun semakin bingung. Dia mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?"

"Apa kau tahu?" Jaejoong bertanya lagi. "Namja yang sedang kudekati… akhirnya jatuh ke tanganku." Dia tersenyum mengingat apa yang tadi terjadi di apartemen Yunho.

Yoochun terbelalak mendengarnya. "Mwo? Maksudmu… Yun… Yunho?"

"Ne. Siapa lagi?"

Tiba-tiba Yoochun teringat saat Jaejoong mencoba membuat Yunho mabuk sore tadi. Dia gelisah membayangkan apa yang sudah terjadi diantara mereka. "Ba-bagaimana bisa begitu?"

"Yah, kau tidak memberi selamat padaku? Haha…"

"Ja-jadi? Sejauh apa kalian melakukannya?" tanya Yoochun dengan suara gemetar. Dia sudah terbiasa melihat kelakuan Jaejoong walau hatinya selalu sakit. Tapi entah kenapa hubungan Jaejoong dengan Yunho membuatnya tidak tenang.

"Umm… Kami hanya berciuman. Tapi aku yakin dia akan melakukan lebih dari itu kalau seandainya tidak kuhentikan tadi." ujar Jaejoong sambil tertawa cekikikan.

Tidak mendengar respon dari Yoochun, Jaejoong melanjutkan kata-katanya. "Yoochun-ah, apa kau tahu? Ciumannya benar-benar hebat. Sudah lama aku tidak merasakan ini."

Sorot kesedihan nampak dari mata Yoochun tanpa Jaejoong sadari. 'Hanya berciuman dengannya saja bisa membuatmu gembira seperti ini. Apa dia begitu menariknya di matamu, Jae-ah?'

Entah berapa lama Yoochun melamun sampai akhirnya Jaejoong berhasil merebut botol dari tangannya. "Yang ini milikku. Kau ambil sendiri sana, ne?" Jaejoong mengisi penuh gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk.

"Jae-ah…"

"Sudahlah. Aku bisa mentoleransi sampai lima botol. Apa kau lupa?" potong Jaejoong sambil tersenyum lebar.

Yoochun menghela nafas panjang. Dia tidak mau mengganggu kesenangan Jaejoong lagi. 'Kau sudah merasakan berciuman dengan banyak orang. Tapi kenapa reaksimu berbeda sekarang? Apa ini hanya perasaanku? Kenapa aku tidak pernah melihat kau tersenyum seperti ini saat bersamaku?' batinnya pahit.

Seorang namja mendekati meja mereka dan duduk di sebelah Jaejoong. "Malam, cantik. Boleh aku bergabung?" sapanya sambil menyeringai.

Jaejoong tersenyum. "Ne. Tentu saja." Dia menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat pada namja itu tapi si namja justru mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Jaejoong tersenyum-senyum melihat sikapnya. Yoochun menatap tajam namja yang baru datang itu.

"Kau jarang ke sini, ya? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya si namja.

"Kau jangan salah. Hampir tiap hari aku ke sini. Dan meja ini adalah tempat favoritku. Umm... tapi memang minggu-minggu ini aku agak sibuk."

"Oh, pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku baru pindah ke Seoul. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu hari ini, cantik."

Jaejoong melirik si namja dengan senyumnya yang menggoda. "Gomawo. Aku juga senang bertemu denganmu. Tapi bisakah kau berhenti menyebutku cantik? Aku ini namja, apa perlu kujelaskan padamu?"

Si namja tertawa dengan keras. "Mianhae, mianhae. Wajahmu yang mempesona membuatku lupa diri. Jadi siapa namamu?"

"Jaejoong. Kim Jaejoong."

"Kim Jaejoong… namamu benar-benar manis." Dengan sengaja dia menyentuh tangan Jaejoong yang masih memegang gelas. Yoochun terkejut dan panas melihatnya. Betapa beraninya namja itu menyentuh Jaejoong nya. Refleks dia mencekal tangan si namja dengan kasar.

"Apa-apaan kau ini, Yoochun-ah?" tegur Jaejoong. "Kenapa kau tidak sopan?"

Yoochun mati-matian berusaha menahan dirinya. Perlahan dia melepaskan tangannya dari tangan si namja. Namja itu sama sekali tidak memperdulikannya. Dia membuang wajahnya dengan kesal.

"Kau tidak mau menawariku minuman, Jaejoong-ah?" tanya namja itu dengan nada menggoda.

Jaejoong tersenyum manis. Dia mengambil botol soju dan meminumnya sebagian lalu menyodorkannya pada si namja. Dia menerimanya dengan senang hati dan langsung menenggaknya sampai habis. Yoochun terbelalak melihat ciuman tidak langsung itu. Emosi semakin memenuhi dadanya sehingga tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya.

"Apa kau keberatan kalau aku mengajakmu berdansa?"

"Ani. Tentu saja tidak."

Si namja tersenyum lalu menggandeng tangan Jaejoong dan membawanya ke lantai dansa. Jaejoong memandang Yoochun sekilas. "Tunggu sebentar, ne?"

Yoochun tidak menyahut. Matanya mengikuti ke mana arah mereka pergi. Di lantai dansa, si namja memeluk pinggang Jaejoong dan Jaejoong melingkarkan tangan ke lehernya. Yoochun menatap mereka dengan penuh kemarahan tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apa dia mempunyai hak untuk mengatur Jaejoong ? Dia memang mencintai Jaejoong, tapi apa yang Jaejoong rasakan terhadapnya? Mungkin hanya teman bermain dan teman di tempat tidur.

Yoochun beranjak ke toilet lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap iba pada bayangannya sendiri di kaca. Dirinya yang malang. Dirinya yang hanya bisa mencintai Jaejoong diam-diam dan harus terus menguatkan diri melihat Jaejoong bermesraan dengan orang lain. Dirinya yang pengecut karena tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Jaejoong.

Saat dia keluar, Jaejoong mendekatinya. "Yoochun-ah, mianhae. Aku harus pergi sekarang."

"Kau mau ke mana?" Yoochun memegang pergelangan tangan Jaejoong.

Jaejoong tersenyum-senyum sambil melirik ke arah namja tadi. Yoochun menghela nafasnya yang berat. Dia mengerti apa maksud Jaejoong. "Tapi kau harus segera pulang nanti, Jae-ah. Jangan malam-malam, berbahaya untukmu. Arasseo?"

Jaejoong mencium pipi Yoochun sekilas. "Arasseo. Kau jangan khawatir. Sampai bertemu besok, Chunnie." Dia berjalan mendekati si namja dan menggandeng tangannya. Mereka segera keluar dari tempat itu. Yoochun menekan dadanya yang terasa sesak. Ternyata Jaejoong memang belum berubah. Ternyata Yunho pun tidak mampu mengubahnya. Entah sampai kapan ini akan berakhir? Selama dia belum bisa menghilangkan Jaejoong dari hati dan pikirannya, dia akan terus merasakan sakit ini.

###

"Kau mau mengajakku ke mana, hyung-shi?" tanya Jaejoong dengan nada manja sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh namja itu.

Namja itu tertawa menyeringai lalu memeluk pundak Jaejoong. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk mencium bibir namja cantik itu. Dia tidak sabar ingin segera merasakan tubuhnya. "Yah, jangan sungkan lagi padaku. Panggil aku Leeteuk hyung saja agar terdengar lebih akrab."

"Kajja. Leeteuk hyung, kita mau pergi ke mana?" tanya Jaejoong lagi dengan senyum mautnya.

"Hmm… apa kau bisa mereferensikan tempat yang bagus, Jae-ah?"

"Di manapun terserah yang penting aku bisa berduaan saja denganmu tanpa ada pengganggu. Umm… aku sudah tidak sabar. Bagaimana rasanya berada di bawah tubuhmu yang seksi ini?"

Bisikan Jaejoong di telinganya sudah cukup membuat benda diantara selangkangannya menegang. Pesona Jaejoong benar-benar sulit untuk ditolaknya. Apa yang dia impikan semalam sampai-sampai sekarang dia bisa mendapatkan seorang namja semenawan Jaejoong? Dia merasa menjadi namja yang paling beruntung kali ini. Tanpa membuang waktu dia membawa Jaejoong ke mobilnya. Begitu duduk di kursi belakang, dengan segera dia melepas jaketnya dan langsung menindih tubuh Jaejoong. Dia menyerang bibir Jaejoong dengan agresif dan mulai membuka kancing baju namja cantik itu.

"Hyung…"

"Umm…?"

"Apa kau serius mau melakukannya di sini?"

"Wae? Apa kau ada masalah?"

Jaejoong tertawa kecil. "Ani. Tapi tidakkah kau berpikir ini terlalu sempit? Kau tidak mau mencari tempat di mana kita bisa benar-benar menikmatinya?"

Leeteuk berpikir sejenak lalu tertawa. "Kau benar juga. Kajja. Ayo kita ke hotel."

"Tunggu dulu."

"Wae?"

"Seperti yang sudah kita sepakati tadi, aku tidak akan memberikan tubuhku dengan gratis. Semakin banyak kau memberiku, kau akan mendapatkan lebih. Bagaimana?" ujar Jaejoong mulai melancarkan jurus-jurusnya.

Leeteuk tersenyum menyeringai. "Arasseo. Berapapun yang kauminta akan kuberikan, chagi."

###

Jaejoong berjalan terhuyung-huyung memasuki rumahnya. Pengaruh soju masih terasa hangat di tubuhnya dan wajahnya memerah. Perlahan dia menyentuh bagian bawahnya yang sedikit perih. Dia tersenyum mengingat aktivitas yang baru saja dia lakukan dengan namja itu. Dia baru saja akan masuk kamar dan mandi ketika dia mendengar pintu sebuah kamar dibuka dengan kasar. Seorang namja setengah baya muncul dari baliknya, memandangi Jaejoong dengan penuh nafsu.

"Ke mana saja kau?" tanya namja itu dengan tatapan tajam.

Jaejoong memutar bola matanya. Dia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan si namja dan terus berjalan ke kamar.

"Yah!" Namja itu berjalan cepat mendekati Jaejoong dan mencengkeram lengannya. "Apa kau tuli? Kau tidak mendengar pertanyaanku? Kau tidak ada di saat aku membutuhkanmu. Aku tahu kau bersenang-senang dengan orang lain tadi. Kaupikir siapa kau ini, huh?"

Jaejoong tetap diam tanpa reaksi. Si namja mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Dari nafasnya yang berat dan aromanya Jaejoong tahu kalau dia sedang mabuk. "Ommo… anakku ini semakin hari semakin cantik." Dia menyeringai lalu mencium pipi Jaejoong. Ekspresi Jaejoong yang datar membuat namja cantik itu semakin memikat di matanya.

Jaejoong menjauhkan wajahnya dan menepis tangan namja itu dengan kasar. "Mianhae, aku sedang tidak ada mood sekarang." sahutnya dingin.

Sorot penuh nafsu si namja mendadak menghilang dan berubah menjadi kemarahan. Dia menampar pipi Jaejoong dengan keras hingga sudut bibirnya robek.

"Kenapa kau selalu saja berani menentangku?! Apa kau sudah lupa dengan semua yang kulakukan selama ini padamu, huh? Ingat Jaejoong-ah, kau milikku. Selamanya kau berhutang padaku. Selama kau belum bisa membayar semua itu, kau harus menuruti semua kemauanku. Arasseo?!" bentaknya lalu menyeret namja cantik itu ke dalam kamar.

Jaejoong POV

Kubiarkan dia melakukan apapun yang dia mau terhadap tubuhku. Belasan tahun sudah aku merasakan ini. Seringkali ketika mabuk dia mencari kesempatan untuk menciumku paksa dan merobek pakaianku. Dalam keadaan sadar saja dia tidak segan melakukan itu padaku. Dia bisa memperlakukanku dengan kasar, seolah aku bukan manusia di matanya. Sekeras apapun teriakan dan tangisanku, dia tetap tidak peduli. Betapapun seringnya aku berlutut memohon padanya, dia tetap tidak mau menghentikan perbuatan bejatnya. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi pada apapun yang dia lakukan. Tubuhku sudah tidak berharga lagi. Jadi untuk apa kupertahankan? Ya, aku sudah mati rasa. Tidak ada lagi rasa sakit, sedih, maupun takut. Toh tidak ada seorangpun yang mau menolongku. Kalau ada, pasti sudah dari dulu aku keluar dari rumah neraka ini.

End of POV

###

Sekian dulu, chingudeul. mian kl chap ini kependekan & endingnya kurang greget dikarenakan saya mengalami ksulitan dlm hal pemotongan (?) adegan :p. tp saya janji bwt chap depan bkl usahain lbh baik, deh ^^. mian jg krn adegan yunjae "baru" dikit & jaema malah NCan sm org lain ~digebukin readers~ LOL. ga tau itu bs disebut NCan / ga, ya. maafkanlah saya yg msh sepolos yunpa di ff ini ~plak~ wkwk... review dr chingudeul skalian slalu saya nantikan :D.