CHAPTER 9
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, ini saya bw lanjutan ff nya. apa ada chingudeul yg msh menanti2 ^^? mian krn yunjae blm NCan krn wktnya bm tepat ~ngeles~ qiqi... yg kmrn itu tujuannya jaema cm bwt ngetes yunpa aja :p. oh, ya. kl skrg yunpa ga benci sm jaema. dia lbh ke arah takut krn br prtama kali dia yg lugu ngalamin kejadian ky gt. ya, mgkn benci jg tp dikit :p. oke, drpd kbanyakan omong lgsg cap cus aja ne :D.
###
Perlahan Yunho membuka matanya yang berat. Semalaman dia tidak bisa tidur mengingat kejadian kemarin sore. Bulu kuduknya merinding memikirkan semua itu. Sampai sekarangpun dia belum berhenti mengutuki perbuatannya. Apa yang dikatakan Jaejoong memang benar. Mungkin dia sudah bertindak lebih jauh kalau seandainya Jaejoong tidak menghentikannya. Dia menekan kepalanya yang berdenyut. Beberapa saat lamanya dia berbaring di tempat tidur dengan segala hal memenuhi kepalanya.
Dengan segenap kekuatannya dia berusaha menggerakkan tubuh lelahnya bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi. Dia menggosok bibir dan kedua tangannya kuat-kuat seakan bekas sentuhan bibir dan kulit Jaejoong masih tertinggal di sana. Dia tidak habis pikir dengan tindakannya. Kenapa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu terhadap tubuh Jaejoong? Perasaannya ketika tubuhnya menempel di tubuh Jaejoong begitu nyaman dan damai. Sama seperti ketika dulu dia memboncengkan Jaejoong, saat Jaejoong menyandarkan kepala ke punggungnya. Bahkan perasaannya kali ini terasa semakin kuat. Perasaan yang seharusnya hanya ada jika dia bersama dengan orang yang dia cintai. Jadi apakah dia mencintai Jaejoong?
Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Jaejoong adalah namja sama seperti dirinya. Jadi tidak mungkin dia jatuh cinta pada Jaejoong. Namja itu begitu licik dan penuh pengalaman sampai bisa membuat perasaannya campur aduk seperti ini. Berani-beraninya dia merampas ciuman pertamanya. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan mencoba menghilangkan pikiran itu. Dia bertekad dia tidak akan membiarkan dirinya terjebak namja cantik itu lagi.
Sesudah mandi dia bersiap-siap berangkat ke sekolah. Dia mengambil tasnya lalu keluar dari apartemennya.
"Pagi, Yunho-ah."
Yunho terpaku di depan namja yang duduk manis di atas motornya. Seketika pikiran menakutkan muncul lagi di kepalanya.
"Kenapa kau diam saja di situ? Ayo cepat berangkat. Kita bisa terlambat nanti." ujar Jaejoong sambil memberikan isyarat pada Yunho untuk naik ke motornya.
"Ke-kenapa kau di sini?" tanya Yunho dengan suaranya yang gemetar.
Jaejoong menggerak-gerakkan bola matanya memasang wajah bingung. "Wae? Tentu saja menjemputmu agar kita bisa berangkat sekolah bersama."
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa naik bis sendiri." sahut Yunho cepat sambil menghindari kontak mata dengan Jaejoong. Dia berjalan melewati Jaejoong.
Seketika Jaejoong menahan lengannya. "Yah, aku sudah susah payah datang ke sini. Kenapa kau tidak mau kuboncengkan? Aku juga sudah sering menjemputmu, kan. Lagipula aku khawatir padamu, Yunho-ah. Kau kelihatan lelah dan wajahmu pucat. Sepertinya kau tidak bisa tidur semalam." kata Jaejoong dengan senyum menggodanya.
Yunho berusaha melepaskan tangan Jaejoong ketika pandangannya tidak sengaja bertemu dengan mata Jaejoong. Tampak aura hitam di balik kedua mata yang indah itu yang membuat Yunho merasa ketakutan.
"Ayo naiklah." ajak Jaejoong lagi. Yunho ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di belakang Jaejoong. Jaejoong tersenyum penuh kemenangan lalu melajukan motornya.
Selama perjalanan kesunyian meliputi mereka. Entah kenapa Yunho merasa tidak tenang dan takut untuk membantah Jaejoong. Keberanian dan keteguhannya selama ini mendadak menguap entah ke mana. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah.
"Pagi, Yunho-ah." sapa Junsu. Raut wajahnya berubah begitu melihat wajah sahabatnya itu. "Kau kenapa, Yunho? Apa kau sedang sakit? Kau pucat sekali."
"Yunho bilang kalau dia tidak bisa tidur semalaman." ujar Jaejoong sambil tersenyum-senyum melirik Yunho.
"Yunho-ah, apa kau sedang ada masalah?"
Yunho tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa, Junsu-ah. Aku.. umm.. Aku hanya banyak pekerjaan rumah semalam."
"Seharusnya kau bilang padaku. Aku pasti akan datang dan membantumu."
Jaejoong memandangi mereka bergantian dan tersenyum. "Junsu-ah, kulihat kau perhatian sekali pada Yunho, ya. Kau begitu khawatir pada sahabatmu ini."
Junsu menatap tajam wajah Jaejoong. "Siapa yang mengajakmu bicara?" sahut Junsu dingin. Dia mengalihkan pandangannya lagi pada Yunho. "Yunho-ah, ayo duduk di sebelahku."
"Mianhae, Junsu-ah. Hari ini Yunho duduk di sebelahku. Ayo, Yunho-ah. Kita cari tempat duduk kita." Tanpa menunggu jawaban Yunho, Jaejoong langsung menarik tangannya menjauh dari Junsu. Yunho yang tidak berdaya hanya mengikuti langkah Jaejoong.
Selama pelajaran Yunho tidak bisa sedikitpun berkonsentrasi. Dia hanya memandangi gurunya dengan tatapan kosong. Tidak ada satupun materi yang dicatatnya. Terlebih Jaejoong yang terus menempel padanya membuat dia merasa tidak nyaman.
Pada jam istirahat mereka ke kafetaria. "Yunho-ah, apa tidak sebaiknya kau istirahat? Kau benar-benar pucat." ujar Junsu.
"Menurutku Junsu ada benarnya, Yunho-ah. Sebaiknya kau ke ruang kesehatan saja. Ada Yoona noona yang bisa merawatmu." timpal Jaejoong sambil tersenyum-senyum.
"Aku tidak apa-apa, hanya agak lelah. Aku tidak mau tubuhku menjadi manja nantinya." Yunho memaksakan dirinya untuk tertawa.
Junsu mengangguk sambil tertawa. Mereka melanjutkan makanan mereka masing-masing.
"PR Matematika kemarin sulit sekali, ya. Aku hanya bisa mengerjakan sebagian." keluh seorang yeojya yang duduk di depan mereka.
"Aku sudah selesai mengerjakannya. Appa ku seorang guru, jadi beliau yang menjelaskan semuanya padaku." kata yeojya lain dengan bangga.
"Kenapa kau tidak bertanya pada Yunho? Dia pandai sekali dan bisa mengerjakannya dengan lancar. Kemarin dia yang mengajariku." kata Jaejoong sambil melirik Yunho.
Yunho nyaris tersedak mendengar kata-kata Jaejoong.
"Jinja, Yunho-ah? Nanti kau harus mengajariku ne?" kata yeojya itu.
Junsu memandangi Yunho. "Oh, jadi kalian mengerjakan bersama-sama?"
"Ne. Kemarin aku ke apartemen Yunho. Kita mengerjakannya sampai lupa waktu. Dan apa kau tahu, Junsu-ah? Yunho juga membuatkan sup kimchi untukku." ujar Jaejoong sambil tersenyum penuh arti.
Wajah Yunho semakin pucat. Keringat dingin membasahi dahinya. Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya. "Kau sudah selesai, Jae?" tanyanya mencegah Jaejoong mengatakan hal yang lebih jauh.
"Ne. Aku sudah kenyang." jawab Jaejoong, senyuman masih belum hilang dari wajahnya.
"Teman-teman, kami duluan ne." Yunho menarik Jaejoong pergi. Junsu memperhatikan mereka sampai hilang dari pandangan. Dia merasakan keanehan pada mereka berdua.
Yunho membawa Jaejoong ke gudang belakang sekolah yang sepi dan jarang didatangi murid-murid.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Yunho-ah?" tanya Jaejoong sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Yunho menatap Jaejoong dengan serius. "Jae-ah, tolong. Jangan ceritakan pada Junsu atau teman-teman yang lain tentang kejadian kemarin."
Jaejoong mengerutkan alisnya seolah bingung dengan ucapan Yunho. "Kejadian kemarin? Memang apa yang terjadi, Yunho-ah?"
"Jangan berpura-pura bodoh, Jae. Kita sama-sama tahu tentang… Kau pasti tahu apa yang kubicarakan."
Seketika Jaejoong tertawa terbahak-bahak. "Oh, aku ingat sekarang. Waktu kau menciumku dan meraba-raba tubuhku dengan penuh nafsu?"
Seketika wajah Yunho memerah. Dia memegang kedua lengan Jaejoong. "Tolong jangan keras-keras, Jae. Kumohon padamu. Tolong jangan katakan ini pada siapapun. Aku… Aku akan melakukan apapun kemauanmu."
Jaejoong menyeringai sambil mendekatkan wajahnya pada Yunho. "Apapun? Jinja?"
Yunho terdiam menatap Jaejoong yang sekarang tinggal beberapa centi darinya. "N-ne." jawabnya lirih. Entah kenapa dia merasa menyesal dengan apa yang baru saja dia katakan.
Jaejoong mengerucutkan bibirnya memasang wajah kecewa. "Kupikir kau mengajakku ke tempat sepi ini karena mau menggodaku. Kukira kau merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita lakukan kemarin." Jaejoong tertawa lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Dengan cepat Yunho menahannya. "Jadi bagaimana, Jae? Kau tidak akan memberitahu siapapun, kan?"
Jaejoong menggerakkan pundaknya dengan senyum menggoda. "Umm… akan kupikirkan dulu." Dia tertawa lagi dan meninggalkan Yunho.
"Aisshh…" Yunho meremas rambutnya dengan frustrasi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Junsu sampai tahu masalah ini. Dia tidak akan bisa menghadapi Junsu seperti sebelumnya. Dia pernah mengatakan pada Junsu dengan penuh keyakinan bahwa dia pasti bisa mengubah Jaejoong. Tapi apa hasilnya? Yang terjadi adalah justru dia yang masuk perangkap namja cantik itu.
###
"Jaejoong-ah, umm… kau masih berhubungan dengan Yunho?"
Jaejoong menoleh ke arah Yoochun lalu mengerutkan alisnya. "Wae?"
"Aku ingat dulu kau bilang bahwa kau mendekatinya karena kau ingin menjebaknya. Lalu sekarang sesudah kau berhasil mendapatkannya, apa yang akan kaulakukan?"
Jaejoong terdiam sejenak sambil berpikir.
"Kau akan meninggalkannya sama seperti yang lain, kan?" tanya Yoochun penuh harap.
"Umm… sebenarnya aku sudah berubah pikiran, Yoochun-ah."
"Eh?" Yoochun memandang Jaejoong dengan bingung.
Jaejoong tertawa kecil. "Kulihat dia itu lucu juga. Sesudah kupikir-pikir aku ingin bermain-main dengannya sebentar lagi. Sayang kalau dilepaskan begitu saja."
"Maksudmu?"
"Yoochun-ah, tahukah kau? Dia takut sekali kalau perbuatannya hari itu ketahuan. Jadi dia memohon-mohon padaku supaya tidak menceritakannya pada orang lain. Haha… Seharusnya kaulihat raut wajahnya saat itu, membuatku ingin terus menggodanya."
Yoochun menghela nafasnya. Entah kenapa dia merasa kalau Jaejoong tidak akan mau melepaskan Yunho. "Lalu sampai kapan? Biasanya sesudah kau berhasil menggoda seseorang, kau akan langsung meninggalkannya."
"Umm… Aku masih belum tahu. Tapi yang jelas aku masih mau bersenang-senang dengannya. Lagipula aku belum sempat tidur dengannya." jawab Jaejoong sambil tersenyum-senyum.
Yoochun terdiam merasakan dadanya yang kembali sakit. Jaejoong menyadari perubahan raut Yoochun. Dia memeluk Yoochun dengan manja.
"Chunnie… Kau cemburu lagi. Ayo, kau harus lihat wajahmu ini, lucu sekali. Haha…" tawa Jaejoong lalu menyodorkan cermin pada Yoochun.
Yoochun berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya tapi gagal. Jaejoong bisa melihatnya dengan jelas dari sinar matanya.
"Chunnie, jangan khawatir. Walaupun aku masih mendekatinya, tapi aku juga tidak meninggalkanmu kan. Aku janji begitu aku bosan dengannya pasti langsung kutinggalkan. Jangan marah padaku ne?"
Yoochun kembali menghela nafasnya lalu mencium Jaejoong. Untuk kesekian kalinya dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menuruti keinginan Jaejoong. Ya, dia hanya perlu sedikit waktu. Ya, sebentar lagi Jaejoong pasti meninggalkan Yunho, satu-satunya orang yang menjadi ancaman baginya saat ini.
###
Belaian tangan yang halus membelai tubuh polosnya yang berkeringat. Bisikan-bisikan mesra dan desahan pelan terdengar jelas di telinganya, membuat tubuhnya menggigil dan sulit bernafas. Usapan lembut bibir yang indah itu menyapu setiap inchi dadanya, terus menuruni perutnya, lalu sampai ke benda miliknya yang sudah begitu tegang.
"Jangan, kumohon Jae…"
"Yunho-ah, aku tahu kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu…"
"Jangan lakukan ini. Kumohon…"
"Sentuhlah aku seperti yang pernah kaulakukan. Sentuhlah aku sebanyak yang kauinginkan. Sekarang aku milikmu, Yunho-ah… Hanya ada aku di pikiranmu…"
###
Segini dulu ne, chingudeul. kependekan, yah? hehe... tolong tinggalin review ne ^^. gomawo.
