CHAPTER 12

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong :D. salam kenal sm chingudeul readers baru. jeongmal gomawo udh nyempetin baca ff gaje ini. & bwt readers lama yg msh setia nemeni saya ^^.

Mgkn ada sbagian chingudeul yg rada bingung sm karakter tokoh dsni. mian krn saya br ke 2 kali nyoba bkin ff jd mgkn saya rada susah ngungkapin apa yg ada di pikiran saya ke dlm tulisan ~ngomong apa, sih~ hehe... saya bkl coba perinci di bbrp chap ini. dsni yunpa emg plinplan & nyebelin bgt, hehe... kl jaema jd serendah itu krn emg ada alasan di blknya. ttg junsu bsk jg bkl saya bahas. jd ini bkl jd ff yg rada panjang. saya brharap chingudeul ga pd bosan ne :).

Oh, ya. saya milih yoona jd kandidat (?) saingannya jaema krn mnrt saya dia yeojya paling cantek di SNSD ~alasan macam apa ini, abaikan~ LOL.

Curcolnya udahan dulu ne, chingudeul ^^.

###

Jaejoong mendorong tubuhnya hingga jatuh terduduk di sofa. Belum sempat dia bergerak, Jaejoong sudah duduk di pangkuannya dengan kedua kaki melingkari pinggulnya. Yunho terkesiap dengan tindakan Jaejoong. Sebelum dia sadar, Jaejoong sudah menciumnya dengan agresif. Yunho membelalakkan matanya, tidak menyangka Jaejoong akan melakukan ini terhadapnya. Sama sekali berbeda dengan ciuman pertama mereka. Kali ini bibir Jaejoong menyerang bibir Yunho dengan ganas tanpa memberi kesempatan Yunho untuk bernafas. Dia melingkarkan lengannya ke leher Yunho dan menarik Yunho untuk memperdalam ciuman mereka. Yunho berusaha keras melepaskan diri tapi tenaga Jaejoong terlalu kuat baginya.

Beberapa menit lamanya bibir Jaejoong bermain-main dengan bibir Yunho. Perlahan bibir itu mulai turun menyusuri leher Yunho. Yunho yang sudah kehilangan tenaga untuk melawan hanya bisa pasrah menghadapi perlakuan Jaejoong terhadapnya. Dia memejamkan matanya mendengarkan suara nafasnya memburu dan jantungnya yang berdebar sangat kencang. Dia merasa tubuhnya terlalu lemah untuk melawan Jaejoong. Semakin lama gerakan Jaejoong semakin agresif. Perlahan suatu perasaan mulai muncul di dalam dirinya. Perasaan aneh yang selalu muncul setiap dia berdekatan dengan Jaejoong seperti ini.

Tanpa sadar kedua tangannya sudah menyentuh pinggang Jaejoong, lalu terus menelusuri punggungnya. Dia menarik tubuh Jaejoong mendekat seakan tubuh mereka belum cukup menempel. Perlahan tangannya yang tak terkendali mulai menyusup ke dalam kaus Jaejoong, meraba kulit halusnya. Dia nyaris menjatuhkan tubuh mereka berdua di sofa ketika dia merasakan Jaejoong menghentikan kegiatannya. Yunho membuka matanya sambil terengah-engah menatap Jaejoong. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali. Wajah Jaejoong yang hanya beberapa inchi dari wajahnya terlihat tersenyum menggoda.

"Bagaimana, Yunho-ah? Kelihatannya kau begitu menikmatinya."

Seketika Yunho tersadar dan mendorong Jaejoong. Wajahnya pucat dan bibirnya gemetar. "A-apa yang kaulakukan?"

Jaejoong menatap Yunho dengan senyum menggodanya. "Aku hanya mau membuktikan bahwa kau juga menyukai sentuhanku. Kau sebenarnya juga menginginkan tubuhku sama seperti mereka."

Yunho tersentak lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ani! Kau salah. Jangan samakan aku dengan mereka yang rendah itu."

"Oh, ya? Tapi tindakanmu bertolak belakang dengan perkataanmu. Jadi kau memang ingin kita melakukannya berdua. Iya, kan?" ujar Jaejoong sambil berjalan pelan mendekati Yunho.

"Ani, ani! Kau salah. Aku tidak seperti itu!" teriak Yunho panik sambil berlari keluar meninggalkan Jaejoong yang tertawa-tawa.

###

Yunho POV

Beberapa hari sudah sejak kejadian malam itu tapi aku belum bisa menghilangkannya dari pikiranku. Aku benar-benar tidak menyangka Jaejoong akan berbuat seperti itu terhadapku. Tapi aku lebih tidak habis pikir dengan reaksiku sendiri. Aku masih mengingat gerakan tanganku yang tidak kalah agresifnya meraba-raba tubuhnya.

Aku sangat marah dan panas saat aku melihatnya bermesraan dengan namja itu. Aku benci dengan sikap namja-namja itu yang meletakkan tangan kotornya pada Jaejoong. Aku juga benci dengan sikap Jaejoong yang begitu senang dengan setiap perbuatan mereka. Mereka hanyalah orang-orang rendah yang memanfaatkan tubuh Jaejoong. Aku benci Jaejoong yang mengingkari janjinya.

Tapi ketika Jaejoong menyentuhku, kenapa selalu muncul perasaan aneh seperti itu? Aku begitu bergairah, aku begitu ingin merasakan tubuhnya. Aku sangat menyukai setiap sentuhannya. Walau aku sudah mencoba menyangkalnya mati-matian, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya. Apa Jaejoong memang benar, bahwa aku sama saja dengan mereka? Bahwa aku cemburu karena aku menginginkan tubuhnya untuk diriku sendiri? Benarkah aku serendah itu?

Andwae! Aku ingat waktu itu aku minum segelas penuh bir. Aku tidak pernah minum minuman semacam itu jadi aku tidak terbiasa. Pasti karena itu aku jadi tidak bisa berpikir lurus. Seharusnya aku tidak bertemu dengannya di tempat itu. Masalah Yoona belum beres, sekarang ditambah masalah Jaejoong. Kepalaku seperti mau pecah rasanya.

End of POV

Yunho membuka pintu apartemennya segera setelah dia mendengar bunyi bel.

"Junsu-ah..." sapanya lemah pada sahabatnya itu.

"Yunho-ah…" Junsu memandang Yunho penuh rasa simpati.

Yunho menghela nafasnya yang berat sebelum mempersilakan Junsu masuk. Dia langsung tahu apa tujuan Junsu mendatanginya.

Junsu menatap sahabatnya dengan prihatin. "Yunho-ah, kulihat kau benar-benar depresi dan putus asa. Aku khawatir padamu."

Yunho balas menatap Junsu dengan wajah pucat dan pandangan kosong.

Junsu duduk di sebelah Yunho dan memegang pundaknya. "Yunho-ah, kita bersahabat kan. Kalau kau memang ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku. Aku pasti akan mendengarkannya. Aku akan bahagia kalau kau mau berbagi masalahmu denganku. Dengan begitu bebanmu akan berkurang. Percayalah padaku, Yunho-ah."

Yunho kembali menghela nafasnya. Junsu memang benar. Tidak seharusnya dia menyembunyikan apapun dari Junsu. Dia sadar dia perlu seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.

"Aku... Aku sudah melakukan dosa besar."

Junsu terkejut mendengar pengakuan Yunho. Tapi dia tetap memperhatikan Yunho dengan serius.

"Aku... Aku mencium Jaejoong…" ujar Yunho gemetar.

Junsu terbelalak menatap Yunho. "M-mwo? Bagaimana bisa, Yunho-ah?"

"Waktu itu... Waktu itu dia mengusap pundakku dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Lalu entah bagaimana perasaan aneh itu muncul. Mendadak aku begitu ingin merasakan bibirnya dan aku langsung balas menciumnya berkali-kali."

Junsu terdiam sambil terus menatap Yunho. Selama beberapa saat pandangannya berapi-api dan kedua tangannya terkepal.

"Bukan itu saja! Aku juga menggunakan kesempatan itu untuk meraba-raba tubuhnya. Waktu itu aku merasakan nafsuku yang begitu tinggi sampai-sampai aku tidak sadar apa yang kulakukan." Yunho tidak menyadari nada suaranya yang meninggi ketika menceritakan hal memalukan itu. Dia mengepalkan kedua tangannya saat perasaan bersalah mulai memenuhi hatinya.

"… Se-seberapa jauh kalian melakukannya?" tanya Junsu dengan suara gemetar.

"Sebatas apa yang kuceritakan padamu. Tapi itu membuatku tidak tenang. Aku gelisah sepanjang hari dan malam sampai-sampai tidak bisa tidur. Aku tidak bisa lagi fokus dengan pelajaranku, dengan pekerjaan rumahku, dengan semuanya." Rasa malu dan bersalah semakin memenuhi dada Yunho sampai-sampai dia tidak berani memandang Junsu.

"Dan itu sudah terjadi dua kali. Itu terjadi begitu saja tanpa sanggup kukendalikan. Junsu-ah, aku orang yang rendah! Sama seperti orang-orang yang menikmati tubuh Jaejoong itu. Aku baru sadar ternyata aku sama rendahnya dengan mereka!" Yunho berteriak-teriak tanpa bisa mengendalikan emosinya lagi, hingga tidak menyadari adanya perubahan pada raut wajah Junsu.

Junsu menghela nafasnya sambil mengusap-usap pundak Yunho berusaha menenangkannya.

"Kau benar. Semua yang kaukatakan dulu memang benar. Kau sudah bilang bahwa dia berbahaya. Tapi kenapa aku tidak mempercayaimu? Aku orang yang rendah. Aku tidak bisa lagi menghadapimu seperti dulu. Kau pasti jijik padaku. Aku tahu itu."

"Jaejoong yang lebih dulu menggodamu. Kau tidak bersalah, Yunho-ah. Itu semua kesalahannya."

"Ani. Aku bersalah karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku tidak bisa menolaknya. Aku tidak pantas lagi menjadi temanmu." ujar Yunho penuh penyesalan.

Junsu memegang kedua pundak Yunho. "Yunho-ah, sekarang kau dengarkan aku. Kau tidak bersalah. Kau bukan orang yang rendah. Kau hanyalah korban dari kelicikannya. Jadi kau jangan pernah berpikir seperti itu, Yunho-ah. Siapa bilang kau tidak pantas menjadi temanku?"

"Kau masih mau menjadi temanku, sesudah kau mendengar semua yang kuceritakan ini? Kau tidak menganggapku rendah seperti mereka yang tidur dengan Jaejoong?"

"Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Aku tidak akan meninggalkanmu, Yunho-ah. Aku akan terus berada di sisimu dan mendukungmu."

Yunho memandang sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Gomawo, Junsu-ah. Aku… Aku benar-benar beruntung bisa bertemu denganmu dan menjadi sahabatmu."

Junsu tersenyum sambil mengusap-usap pundak Yunho.

"Tapi sampai sekarang aku masih tidak mengerti. Setiap kali aku berdekatan dengannya, selalu muncul perasaan aneh. Perasaan yang tidak seharusnya ada. Perasaan yang membuatku muak dengan diriku sendiri."

"Yunho-ah, bukankah sudah kukatakan padamu? Jaejoong itu punya segala cara untuk menggoda orang supaya jatuh ke pelukannya. Dia memang ahli di bidang itu, Yunho-ah. Jadi kau tidak perlu berlarut-larut membenci dirimu seperti ini."

"Aku takut dia akan menceritakannya pada semua orang. Jadi aku terpaksa melakukan semua yang dia suruh. Tidak ada jalan lain. Aku tidak mau mereka memandang rendah diriku. Dia juga mengancamku supaya memutuskan hubunganku dengan Yoona. Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya. Karena itu aku menghindari Yoona sampai saat ini."

"Mwo? Jadi dia biang keladi semua ini? Dia benar-benar keterlaluan! Besok aku akan memberinya pelajaran!" Junsu mengepalkan kedua tangannya penuh emosi.

"Sudahlah. Aku tidak mau membuat masalah semakin rumit. Jangan libatkan dirimu dalam masalah ini, Junsu-ah."

"Tapi kau sahabatku, Yunho. Tentu aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak mau kau terus-menerus diintimidasi olehnya."

"Sudahlah. Aku akan memikirkan cara untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Aku sudah sangat bahagia mempunyai sahabat sepertimu. Sekarang bebanku sudah jauh berkurang. Gomawo, Junsu-ah."

Beberapa saat kemudian mereka makan bersama. Yunho hanya diam dan pandangannya menerawang. Junsu mengira-ngira apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.

"Waktu itu aku melihatnya bermesraan dengan seorang namja di pub."

Junsu menatap Yunho dengan mulut menganga. "Yunho… Kau… ke pub? Bagaimana bisa?"

Yunho memandang Junsu dengan sorot malu sekaligus menyesal. "Umm… Aku… Waktu itu kepalaku pusing sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kebetulan aku melewati sebuah pub, dan tahu-tahu aku sudah masuk ke sana."

Tidak mendengar respon dari Junsu, Yunho melanjutkan ucapannya. "Entah apa yang kupikirkan waktu itu. Langsung saja kutarik tangannya yang sedang memeluk namja itu. Aku muak melihat cara namja itu menciumnya. Aku benci karena dia melanggar janji kami untuk tidak menggoda orang lain lagi."

Junsu tertegun mendengar cerita Yunho. Dia menghela nafasnya, merasakan sakit yang mulai muncul di hatinya.

"Yunho-ah, mulai besok kau jauhi dia ne? Jangan pedulikan ancamannya. Kalaupun dia bercerita ke teman-teman, itu bukan masalah. Setiap manusia pasti punya kesalahan. Aku, kau, ataupun semua orang bisa melakukan itu. Saat kau mencium dan menyentuhnya, itu saat kau khilaf. Yang terpenting adalah kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."

"Ani."

"Eh?" Junsu memandang Yunho bingung.

"Aku masih ingin berteman dengannya. Aku tidak akan meninggalkannya."

"Mwo?" Mata Junsu terbelalak, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

Yunho menatap Junsu dengan serius. "Junsu-ah, aku sudah pernah berjanji untuk berteman dengannya. Sebisa mungkin akan kupenuhi janjiku itu."

"Yunho-ah, apa kau sadar dengan apa yang kaukatakan? Sekarang kau sudah sadar kalau dia sangat berbahaya. Kau tahu kau tidak akan bisa menolaknya kalau kau dekat dengannya. Dia juga tidak memenuhi janjinya. Lalu kenapa kau harus terus memegang janji itu? Aku… Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Yunho-ah."

"Seorang namja yang baik akan selalu memegang janjinya walau dalam masalah seberat apapun. Aku tahu dia sangat berbahaya. Perbuatannya benar-benar di luar batas kewajaran. Tapi entah kenapa sampai sekarang aku masih merasa dia sebenarnya orang yang baik. Dia bukan orang yang tidak mempunyai hati. Jauh di lubuk hatinya dia pasti masih punya perasaan. Lagipula apa kau tahu kenapa dia melakukan itu?"

Junsu hanya diam tertegun memandang Yunho.

"Kuakui aku sangat takut padanya. Aku sudah dua kali masuk perangkapnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi lain kali. Apakah aku masih bisa mempertahankan diriku atau tidak. Aku takut dia akan menghancurkanku sedalam-dalamnya. Tapi keinginanku untuk mengenalnya jauh lebih besar daripada ketakutanku. Kenapa dia bisa menjadi orang seperti itu? Aku benar-benar ingin tahu."

Tidak mendapat respon dari Junsu, Yunho melanjutkan kata-katanya. "Aku tahu kau pasti menganggapku bodoh dan gila. Tapi inilah yang kupikirkan. Aku ingin mencari tahu tentang dia. Aku ingin belajar mengenalnya lebih dekat, aku ingin berusaha mengerti dia. Aku tahu ini hal yang sangat sulit. Tapi aku tetap ingin mencobanya, Junsu-ah."

Junsu menghela nafasnya yang berat. "Kau sudah yakin dengan apa yang akan kaulakukan? Kau tidak takut menyesal nantinya?"

"Aku akan lebih menyesal kalau aku hanya diam tanpa melakukan apa-apa, padahal hatiku dipenuhi penasaran seperti ini. Kau memang benar. Tidak ada gunanya terus ketakutan. Sekarang aku tidak peduli lagi apakah dia akan menceritakannya pada semua orang. Aku yakin mereka akan percaya padaku. Yang kupikirkan sekarang adalah dia. Aku ingin melihatnya berubah, karena aku… aku peduli padanya."

Junsu kembali menghela nafasnya. Dia tahu dia tidak akan bisa mengubah keputusan Yunho. "Yunho-ah, apapun yang akan kaulakukan, aku pasti akan terus ada di sampingmu. Kau tenang saja ne?"

Yunho terharu dengan kata-kata yang keluar dari mulut Junsu. Segera dia memeluk sahabatnya erat-erat. "Terimakasih atas pengertianmu. Terimakasih karena kau selalu di dekatku ketika aku jatuh. Terimakasih untuk semuanya."

Junsu tersenyum dan balas memeluk Yunho. Dalam hatinya dia kagum pada sahabatnya ini. Sejujurnya tidak pernah tebersit di pikirannya kenapa Jaejoong bisa mempunyai kebiasaan serendah itu. Yang dia tahu hanyalah bahwa Jaejoong itu iblis yang harus dijauhinya. Tapi pemikiran Yunho benar-benar di luar pemikirannya. Pemikiran yang jauh, yang keluar dari hati yang tulus. Pemikiran yang membuat Junsu bertanya-tanya apakah Yunho mempunyai perasaan lain terhadap Jaejoong.

'Apakah kau mencintainya, Yunho-ah?' Tanpa sadar air mata mulai membasahi pelupuk matanya.

###

"Yunho, apa kau bisa membantu saya?"

Yunho mendekati gurunya. "Ne. Ada perlu apa, songsaengnim?"

"Hari ini Jaejoong tidak masuk. Padahal ada tugas yang harus dikumpulkan besok. Apa kau bisa mengantarkan lembar soal ini ke rumahnya?" tanya gurunya lalu menyodorkan beberapa lembar kertas pada Yunho.

Yunho tertegun memandang gurunya. Dia ragu-ragu sejenak sebelum dia menerima soal itu.

"Tapi saya tidak tahu di mana rumahnya, songsaengnim."

Sang guru mengerutkan alisnya. "Oh, saya pikir kau sudah pernah ke rumahnya, karena saya lihat kalian cukup dekat akhir-akhir ini. Kalau begitu nanti sepulang sekolah kau pergi dulu ke ruang administrasi sekolah dan mencatat alamatnya ne?"

"Ne." Yunho membungkukkan badannya lalu kembali ke kelas.

Sepulang sekolah Yunho dan Junsu keluar kelas bersama.

"Junsu-ah, aku harus ke rumah Jaejoong sekarang."

Junsu terkejut mendengar ucapan Yunho. "Mwo? Kenapa tiba-tiba?"

"Hari ini Jaejoong tidak masuk. Tadi songsaengnim memintaku untuk mengantarkan tugas yang harus dikumpulkan besok padanya."

"Tapi kenapa songsaengnim menyuruhmu?"

"Aku tidak tahu. Mungkin karena kebetulan tadi aku ke ruang guru."

Junsu ragu-ragu sejenak. "Apa kau yakin mau ke sana?"

"Wae?"

"Aku takut dia akan berbuat sesuatu padamu."

Yunho tertawa mendengarnya. "Sudahlah. Jangan terus berpikiran kotor tentangnya. Aku tidak akan apa-apa. Sekarang aku mau ke kantor administrasi untuk meminta alamatnya."

"Sejauh yang aku tahu, tidak ada seorangpun yang pernah ke rumahnya. Aku tidak tahu kenapa. Bagiku aneh sekali mengingat Jaejoong begitu mempesona di mata orang-orang." kata Junsu dengan nada mencemooh.

Yunho tersenyum. "Kajja. Aku pergi dulu ne." ujarnya sambil berlalu.

"Tunggu, Yunho-ah. Aku akan menemanimu ke kantor." teriak Junsu lalu mengejar Yunho.

Beberapa saat kemudian Yunho mulai mencari alamat Jaejoong. Beberapa bulan di Seoul sudah cukup baginya untuk menghafal jalan-jalan besar di sana. Dia menyadari bahwa Jaejoong tidak masuk tapi tidak tahu alasannya. Dalam hati dia bersyukur karena songsaengnim memintanya jadi dia bisa tahu keadaan Jaejoong. Walaupun dia sadar tidak seharusnya dia pergi ke sana. Dia tidak bisa membayangkan apa yang mungkin dilakukan Jaejoong padanya.

Akhirnya Yunho sampai di rumah Jaejoong. Dia memandang rumah besar itu dengan takjub. Rumah megah di tengah-tengah taman bunga yang indah. Ternyata keluarga Jaejoong benar-benar kaya raya. Dia ragu-ragu sejenak sebelum memasuki halaman yang luas itu. Ketakutan yang besar masih menghantuinya. Dia menghela nafasnya lalu mengetuk pintu rumah itu. Pintu terbuka dan muncul seorang yeojya di baliknya.

"Annyeonghasaeyo. Umm... benar di sini rumah Jaejoong-shi?" tanya Yunho dengan formal.

"Ne." Yeojya itu mengangguk dengan sopan.

"Saya Jung Yunho teman sekolahnya. Apa dia ada di rumah?"

"Ne. Silakan masuk, Yunho-shi. Tuan muda Jaejoong sedang sakit. Sebentar saya panggilkan dulu."

"Siapa, Eun Mi?" Tiba-tiba muncul namja dan yeojya setengah baya dari salah satu ruangan. Mereka memperhatikan Yunho dengan seksama.

"Ini Jung Yunho-shi, teman tuan muda Jaejoong, Tuan, Nyonya."

Yunho membungkukkan badannya di depan mereka. "Annyeonghasaeyo, Kim Ahjussi dan Ahjumma. Jung Yunho imnida."

Tuan Kim tersenyum ramah pada Yunho. "Kau teman pertama Jaejoong yang datang ke sini. Saya heran kenapa dia tidak pernah memperkenalkan temannya pada kami. Dia sedang sakit, kau bisa menemuinya di kamar."

"Eh?" Yunho memandang Tuan Kim dengan ragu-ragu.

Tuan Kim menoleh ke istrinya. "Chagi, bisa kau antarkan Yunho-shi ke kamar Joongie?"

Nyonya Kim mengangguk sambil tersenyum. "Kajja. Mari saya antarkan ke atas." ujarnya lalu mendahului Yunho berjalan menaiki tangga.

Yunho menghela nafasnya sebelum mengikuti yeojya itu. Dia mulai merasa gelisah sekarang.

Sesampai di kamar Jaejoong, Nyonya Kim mengetuk pintunya. "Joongie, ini ada temanmu datang."

Nyonya Kim masuk dengan Yunho di belakangnya. Di balik pintu dia bertemu pandang dengan Jaejoong yang membelalakkan mata ke arahnya. Dia juga tidak kalah terkejutnya saat melihat wajah Jaejoong yang memar.

"Jaejoong kami sedang sakit. Dia mengalami kecelakaan kemarin. Kajja, saya turun dulu. Jangan sungkan di sini, anggaplah seperti rumahmu sendiri ne?" Nyonya Kim tersenyum lalu keluar dari kamar itu.

Jaejoong menatap Yunho dengan sorot mata setajam pisau. Yunho merasakan keringat dinginnya keluar melihat Jaejoong menatapnya seperti itu.

"Untuk apa kau ke sini?" tanya Jaejoong dengan nada sedingin es.

"Aku..." Perlahan Yunho mendekati Jaejoong dengan gelisah. Dia duduk di kursi di sebelah tempat tidur Jaejoong. "Aku mau menjengukmu. Apa yang terjadi, Jae-ah? Kenapa kau bisa luka-luka begini?" Yunho tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Yunho. "Bukan urusanmu." sahutnya dengan nada yang masih sama.

Yunho terkejut melihat reaksi Jaejoong. "Kau kecelakaan di mana? Mana saja yang terluka? Apa kau sudah ke rumah sakit?"

"Aku hanya jatuh kemarin. Jangan berpura-pura memasang wajah cemas seperti itu, Yunho-ah. Kau melihatku seperti melihat orang sekarat saja."

Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani. Aku khawatir padamu, Jae-ah."

Jaejoong tersenyum sinis. "Aku tahu kau membenciku. Kau sebenarnya ingin lari dariku tapi takut karena aku mengancammu, kan? Kau pasti tertawa dalam hati melihatku seperti ini. Kau puas karena kau sebenarnya ingin membalas dendam padaku, kan?"

"Ani! Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Jae?!" Yunho merasa emosinya mulai naik mendengar nada sinis Jaejoong sampai-sampai dia tidak menyadari nada suaranya yang meninggi. Dia tidak pernah mengira reaksi Jaejoong akan seperti itu.

"Cih... Sudah, cepat buang wajah polosmu. Aku muak melihatnya. Lagipula siapa yang memberimu izin untuk datang ke sini, huh?"

Yunho menarik nafas dalam untuk menekan emosinya, lalu mengeluarkan lembaran soal dari dalam tasnya. "Lee songsaengnim memintaku menyampaikan ini padamu. Ini tugas yang harus kaukumpulkan besok."

Jaejoong menatap Yunho tajam lalu dengan cepat mengambil kertas-kertas itu. "Ne. Gomawo. Sekarang kau bisa pergi."

"Jae..." Yunho membelalakkan matanya tidak percaya. Kenapa Jaejoong mengusirnya? "Jae, apa kau bisa masuk besok pagi? Kalau kau tidak keberatan, aku bisa membantumu mengerjakan..."

"Apa kata-kataku tadi kurang jelas? Kupikir seharusnya kau ke dokter untuk memeriksakan telinga dan otakmu. Kau benar-benar tidak bisa mengerti perkataan orang lain, huh?"

Yunho tertegun menelan kata-kata kasar itu. Sejak mereka bertemu sampai sekarang baru pertama kali ini dia mendengar ucapan semacam itu keluar dari mulut Jaejoong. Dia diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dadanya mendadak terasa sakit.

"Aisshh..." Jaejoong bangkit dari ranjangnya. "Aku mau keluar dulu. Kalau nanti aku kembali dan melihatmu masih di sini, jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar padamu." sahutnya dingin lalu meninggalkan kamar itu.

Yunho masih terpaku di kursinya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang tadi dikatakan Jaejoong padanya. Dia ingat sikap Jaejoong yang sering berubah-ubah tanpa dia tahu sebabnya. Kadang dia bisa bersikap kasar tapi sebentar saja berubah lembut. Lalu sikap manis dan penuh perhatian selama ini, apakah itu semua hanya topeng? Inikah sosok Jaejoong yang sebenarnya? Dia tidak mengerti.

Kenapa Jaejoong terlihat sangat marah dan tidak suka dengan kedatangannya? Dia hanya ingin menjenguk Jaejoong dan menyampaikan pesan gurunya. Apa salahnya dengan itu? Saat ini perasaan terpukul, khawatir, sekaligus penasaran atas apa yang terjadi pada Jaejoong bercampur menjadi satu membuatnya sejenak melupakan rasa takutnya.

Yunho tidak sadar sudah berapa lama dia duduk di tempat yang sama, tapi Jaejoong belum juga kembali. Dia ragu-ragu, apakah sebaiknya dia pulang sekarang? Toh urusannya di rumah itu sudah selesai. Sebenarnya dia berniat membantu Jaejoong untuk menyelesaikan tugasnya. Tapi Jaejoong sepertinya tidak menghendaki kedatangannya jadi untuk apa lagi dia di sana? Lagipula tidak seharusnya dia berlama-lama ada di tempat itu.

Yunho keluar kamar dan menuruni tangga. Samar-samar dia mendengar suara beberapa orang dari suatu ruangan. Dari nadanya sepertinya mereka sedang bertengkar. Tapi Yunho tidak mau ambil peduli dengan semua itu. Dia berjalan menuju pintu keluar.

PRANG!

Yunho terkejut mendengar suara itu. Dia sadar dia tidak berhak mencampuri urusan ini tapi entah kenapa dia begitu penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi. Dia berbalik dan segera mencari arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruangan yang tertutup. Tanpa pikir panjang dia membuka pintunya. Seketika Yunho terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan matanya.

###

Kajja. kpanjangan ga, nih? mohon tinggalkan reviewnya ne, chingudeul. gomawo :D.