CHAPTER 13
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, chingudeul :D. bwt readers lama & baru, jeongmal kamsahamnida ne. anda smua adalah pemacu smangat saya :). bagi chingudeul yg mgkn gemes liat jaema ngejar2 yunpa trus, skrg saya balik. hadeh... kok jd kejar2an ala India gini, trus kpn pacarannya ~digaplok pk DVD yunjae~ mauuu ^^. krn jaema msh berprasangka buruk sm yunpa. tp cm bntr aja kok acara giniannya, janji. harap bersabar ne :).
Btw kl ada chingudeul yg pny info dmn bs dpt DVD drama Yawang nya yunpa, tolong ksh tau ya. gomawo sbelumnya :D. btw ga sabar jg nungguin rocker cantek kita ngluarin album ^^. jaema mau nyaingin manly nya yunpa, ya? apa bs? hihi... oke, lanjut aja critanya ne :D.
###
Yunho terbelalak melihat Jaejoong bersandar pada lemari dengan tangan berdarah. Tapi hal yang paling mengejutkannya adalah Nyonya Kim yang sedang mencekik leher anaknya dan mendekatkan pecahan kaca ke wajahnya, siap menggores pipi namja cantik itu.
"Jaejoong!" Teriakan Yunho mengejutkan mereka berdua. Dengan cepat Nyonya Kim mundur menjauhi Jaejoong.
"Ommo... Joongie. Bukankah sudah umma katakan berkali-kali padamu agar berhati-hati saat mencuci gelas? Lihat, tanganmu sampai berdarah begini." Nyonya Kim memasang wajah khawatir sambil memegang tangan Jaejoong.
Jaejoong mendengus dan menepis kasar tangan umma nya. Dia berjalan keluar sesudah memberi Yunho tatapan yang tajam. Yunho segera menyusul Jaejoong ke kamarnya.
"Jaejoong-ah..." panggil Yunho setibanya mereka di kamar.
"Bukankah sudah kukatakan padamu supaya cepat pergi dari sini?" tanya Jaejoong dingin.
Tanpa sadar apa yang dilakukannya Yunho mendekat dan memegang tangan Jaejoong. Dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Jae, apa... apa yang terjadi sebenarnya? Ceritakan padaku. Ommo... kau berdarah. Kau harus diobati dulu..."
Yunho tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Jaejoong sudah mendorongnya dengan kasar. Dia menekan tubuh Yunho diantara pintunya yang tertutup. Yunho terkesiap menatap wajah Jaejoong yang begitu dekat dengannya. Nafasnya mulai cepat tidak beraturan.
"Tadi aku sudah bilang, kan. Kalau kau tidak mau pergi juga, aku bisa bersikap kasar." Nada suara Jaejoong terdengar penuh ancaman ketika dia mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho. Yunho menahan nafas melihat bibir Jaejoong yang semakin dekat ke bibirnya. Dia begitu tegang sampai-sampai dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dengan cepat Jaejoong membuka pintu kamarnya dan mendorong Yunho keluar, lalu mengunci kamarnya.
"Jaejoong, Jaejoong…" panggil Yunho sambil mengetuk-ngetuk pintu tapi usahanya sia-sia. Jaejoong tidak pernah membuka pintunya lagi. Dia menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
Setibanya di bawah dia bertemu dengan Nyonya Kim. Dia menatap tajam yeojya itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dingin.
"Oh, itu... itu tadi... Joongie kami sedang mencuci gelas. Dia mau menyiapkan minuman untukmu. Tapi ternyata gelasnya pecah. Dia memang kurang hati-hati." ujarnya sambil tertawa kecil.
"Saya sudah melihat semuanya. Jelas-jelas tadi anda mau melukai wajahnya, kan?" tanya Yunho. Sorot penuh emosi tergambar jelas di matanya.
Nyonya Kim tersentak, sadar bahwa dia tidak mungkin menutupinya lagi. Seketika itu juga dia tertawa keras. "Haha... Lalu kenapa kalau aku melakukan itu? Aku hanya memberi pelajaran pada anakku sendiri. Apa masalahmu?"
Walaupun Yunho melihat kejadian itu tetap saja dia terkejut mendengar pengakuan Nyonya Kim. "Justru karena anda umma nya saya tanya kenapa anda melakukan itu? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat sehingga anda harus menghukumnya seperti itu? Anda kejam sekali!"
"Kaupikir siapa kau berani-beraninya mengaturku? Kau tidak tahu apa-apa, jadi kau tidak berhak mengajariku dalam hal mendidik anak!" bentak Nyonya Kim.
Yunho membelalakkan matanya tidak percaya. Dia tidak habis pikir kenapa Nyonya Kim begitu kejam terhadap anaknya sendiri.
"Sekarang juga kau pergi dari sini. Kehadiranmu sudah tidak diinginkan lagi. Kau tahu jalan keluar, kan?"
Yunho tidak menyadari seberapa kuat dia mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat benci pada Nyonya Kim yang sudah menyakiti Jaejoong seperti itu. Tapi dia sadar kalau dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia menahan emosinya dan keluar dari rumah itu.
###
Yunho POV
Aku tidak menyadari sudah berapa lama aku duduk di kursi belajarku. Sejak tadi aku hanya memandangi buku tulisku tanpa melakukan apapun. Saat ini hanya kejadian siang itu yang memenuhi pikiranku. Sorot matanya yang begitu tajam, kata-katanya yang kasar, itu bukan Jaejoong yang kukenal. Jaejoong yang kukenal selama ini sangat lembut dan perhatian. Walaupun dia kadang berbahaya, kadang berteriak padaku, tapi aku merasa dalam hatinya dia tidak bermaksud melakukan itu. Dia orang yang baik. Dia tidak mungkin berkata sekasar itu padaku.
Perlahan kutelungkupkan kepalaku yang pening di meja. Aku benar-benar tidak mengerti. Dia adalah putra dari keluarga berada. Rumahnya mewah dan indah. Ketika pertama kali aku bertemu appa dan ummanya, aku berpikir mereka adalah keluarga harmonis. Dia memiliki segalanya, orangtua yang baik serta harta yang melimpah. Itu membuatku kagum sekaligus iri padanya. Tapi apa yang kulihat kemudian membuyarkan semua bayanganku. Umma yang tampaknya lembut ternyata tega berbuat kejam padanya. Aku curiga jangan-jangan umma nya yang sudah membuatnya memar. Yang juga membuatku heran adalah saat itu aku tidak melihat sedikitpun rasa takut di wajahnya. Apa dia tidak khawatir wajahnya terluka?
Sejujurnya perasaanku pada Jaejoong saat ini benar-benar rumit. Selama ini aku takut dengan semua tekanan darinya. Aku benci padanya yang sudah memisahkanku dari Yoona. Aku juga benci pada diriku sendiri karena tidak mampu menghindarinya. Tapi sekarang, setiap kali aku teringat kejadian itu, saat aku teringat wajahnya yang tanpa ekspresi, entah kenapa hatiku terasa sakit. Betapa ingin aku bisa melindunginya saat itu. Aku tidak mau dia terluka dan menderita. Kenapa aku berpikir kalau seharusnya aku tidak meninggalkannya? Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu? Aku benar-benar ingin tahu.
End of POV
###
Pagi itu setibanya di kelas Yunho menoleh ke kursi Jaejoong. Jaejoong belum juga muncul. Yunho gelisah membayangkan apa yang terjadi pada Jaejoong kemarin sesudah dia pergi. Wajahnya terlihat kusut karena kurang tidur.
"Pagi, Yunho-ah." Junsu menepuk pundak Yunho dan membuatnya terkejut.
"Pagi, Junsu-ah."
Junsu melihat wajah lelah Yunho. "Yunho-ah, apa ada masalah?" tanyanya khawatir.
Yunho menggeleng. Dia masih menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menceritakan semuanya pada Junsu.
Saat jam istirahat Junsu bertanya lagi. "Yunho-ah, apa yang terjadi padamu? Ceritakan padaku. Apa Jaejoong membuat masalah lagi ketika kau di rumahnya kemarin?"
Yunho terdiam sejenak. Dia berpikir dia harus menceritakan ini pada Junsu. Mungkin saja Junsu bisa membantunya, karena saat ini kepalanya begitu penuh dengan berbagai hal membuatnya tidak bisa memikirkan apapun.
"Junsu-ah, kemarin…"
"Junsu-ah." Tiba-tiba seorang murid mendekati Junsu dengan wajah panik. "Bisakah kau membantuku sebentar di laboratorium? Ada masalah dengan penelitian kita."
"Tapi…" Junsu ragu-ragu sambil menoleh ke arah Yunho.
Yunho menghela nafasnya. "Pergilah, Junsu. Kita bisa bicara lagi nanti."
"Mianhae, Yunho-ah. Aku akan segera kembali." ujar Junsu dengan pandangan menyesal lalu pergi bersama temannya.
Sepanjang hari itu Yunho menunggu Junsu tapi tetap tidak ada tanda-tanda kemunculan sahabatnya itu. Tiba-tiba ponselnya di sakunya berbunyi. Dia mengeluarkannya dan membaca sebuah pesan.
Junsu : Yunho-ah, mianhae. Aku tidak bisa pulang denganmu hari ini. Masih ada masalah di laboratorium.
Yunho menghela nafasnya yang berat lalu membalas sms Junsu. Dia melangkah gontai keluar dari kelasnya.
Sepanjang jalan dia hanyut dalam pikirannya sendiri. Tidak ada siapapun yang bisa diajaknya bicara membuatnya depresi dan putus asa. Dia tidak sadar sudah berapa lama dan ke arah mana dia berjalan. Dia hanya mengikuti arah kakinya melangkah. Ketika dia tiba di suatu tempat seketika pikirannya kembali ke dunia nyata. Matanya terbelalak menatap bangunan di depannya. Bagaimana dia bisa sampai di rumah Jaejoong?
Beberapa lama dia berdiri di sana, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia memasuki halaman yang besar itu. Setibanya di depan rumah, dia menyadari pintunya yang sedikit terbuka. Dia tidak tahu kenapa tapi seakan-akan ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka seketika dia terbelalak melihat pemandangan di depan matanya.
Dia melihat Jaejoong yang sedang berbaring menelungkup di lantai, dan Tuan Kim yang duduk di atasnya menekan tubuhnya. Tubuh keduanya polos tanpa sehelai benangpun. Yunho hanya terpaku menatap mereka tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.
Yunho merasakan kakinya yang gemetar ketika dia memaksakan dirinya berjalan keluar. Dia masih berusaha mencerna apa yang baru saja dia lihat. Apa penglihatannya itu tidak salah? Apa dia sudah tertipu oleh matanya sendiri?
Beberapa saat kemudian dia berjalan lagi tak tentu arah. Tanpa pikir panjang dia memasuki sebuah restoran kecil yang kebetulan dilewatinya dan memesan sebotol soju. Dia benar-benar tidak tahan lagi. Dadanya sesak sekali, segala hal berkecamuk di dalam pikirannya sampai-sampai dia merasa kepalanya hampir pecah.
Sesudah beberapa teguk tubuhnya mulai merasa hangat. Dia mengistirahatkan kepalanya di sofa, perlahan memikirkan semua yang baru saja terjadi. Jaejoong dan Tuan Kim… Bagaimana bisa appa dan anaknya melakukan hal serendah itu? Apa mereka sudah kehilangan akal sehat? Emosinya muncul mengingat bagaimana tadi Tuan Kim menyentuh Jaejoong. Dia tidak bisa menerima Jaejoong diperlakukan seperti itu. Tapi tunggu. Dia dan Jaejoong tidak ada hubungan apa-apa. Seharusnya dia tidak ambil peduli dengan apapun yang Jaejoong lakukan. Jadi kenapa dia harus marah? Atau apa benar yang dikatakan Jaejoong… bahwa dia cemburu?
Tidak, bukan begitu. Jaejoong sudah berjanji padanya untuk tidak menggoda orang lagi. Tapi ternyata Jaejoong mengingkarinya. Sudah sepantasnya dia kesal. Ya, dia marah bukan karena cemburu, tapi karena Jaejoong yang tidak menepati janjinya. Anak itu benar-benar keterlaluan. Besok dia harus diberi peringatan. Dengan pikiran itu Yunho menenggak soju nya. Dia benci Jaejoong. Sudah kedua kalinya dia membeli minuman keras seperti ini dan itu semua gara-gara Jaejoong.
###
Yoona terbelalak memandang Yunho yang berjalan terhuyung-huyung di depannya. Dengan cepat dia menangkap tubuh Yunho yang hampir jatuh. Dia sudah putus asa kehilangan kontak dengan Yunho sehingga dia memutuskan ke rumah Yunho. Lalu tidak sengaja menemukan Yunho dengan keadaan seperti itu di dekat rumahnya.
"Gwenchana. Aku bisa berjalan sendiri." gumam Yunho tidak menyadari kalau Yoona yang menopang tubuhnya.
Yoona menatap Yunho dengan khawatir. "Ommo, Yunho-ah. Kenapa kau mabuk?" Dengan hati-hati dia menuntun Yunho masuk rumah.
Dia membaringkan tubuh Yunho ke ranjang dan melepaskan jaketnya. Dia mengambil handuk basah lalu mengusapkannya ke wajah Yunho yang merah dan berkeringat. Dia duduk di kursi di sebelah ranjang dan memandangi Yunho. Keadaan Yunho seperti ini membuat hatinya hancur. Dengan hati-hati dia menyingkirkan rambut yang menutupi mata Yunho.
"Yunho-ah, aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Sebenarnya ada apa denganmu?" bisiknya lirih.
Yunho yang berbaring tidak berdaya tidak bisa mendengar ucapan Yoona. Terlalu banyak soju yang diminumnya membuatnya tidak sadar dengan keadaan sekeliling.
Mata Yoona mulai berkaca-kaca. "Yunho-ah, aku tahu kau sedang ada masalah. Kenapa kau tidak mau bercerita padaku? Bukankah aku pacarmu sendiri?"
"…-ah…"
Yoona mengerutkan alisnya karena tidak bisa mendengarkan dengan jelas gumaman Yunho. Dia lalu mendekatkan telinganya.
"Jaejoong-ah…"
Yoona terpaku mendengar nama itu keluar dari bibir Yunho. Kenapa Yunho menyebut nama namja itu?
"Wae? Jaejoong-ah… Wae?" gumam Yunho dengan matanya yang masih terpejam.
Yoona masih terdiam menatap Yunho. Jadi ini semua karena Jaejoong? Jaejoong yang sudah membuat Yunho menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa sakit mulai muncul di hatinya.
Yoona tidak sadar sudah berapa lama dia memandangi Yunho. Dia juga tidak tahu sudah berapa banyak Yunho menyebut-nyebut nama Jaejoong di dalam tidurnya. Tidak ada nama lain kecuali Jaejoong. Apa yang sudah dilakukan Jaejoong sampai membuat Yunho kehilangan akal sehat seperti itu? Sebenarnya dia mau menunggu sampai Yunho sadar tapi dia sudah tidak tahan lagi mendengar nama itu. Dia berdiri lalu mengambil air putih dan meletakkannya di meja dekat tempat tidur Yunho. Dia menyelimuti tubuh Yunho dan perlahan meninggalkan apartemen itu.
###
Hari itu Jaejoong kembali masuk sekolah. Yunho menghela nafas panjang sebelum mendekati namja cantik itu.
"Ja-Jae-ah…" sapanya pelan berusaha menyembunyikan nada suaranya yang gemetar.
Jaejoong memutar bola matanya, sikapnya menunjukkan kalau dia terganggu dengan keberadaan Yunho. Dia mengeluarkan bukunya dari tas lalu menulis sesuatu tanpa menghiraukan Yunho.
"Jaejoong-ah, bisa kita…"
Jaejoong berdeham sambil mencondongkan dagunya ke depan. Yunho mengikuti arah pandangannya dan melihat gurunya memasuki kelas. Yunho menarik nafas lalu kembali ke mejanya.
Pada jam istirahat Yunho kembali mendekati Jaejoong.
"Umm… Jae-ah, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?"
Jaejoong memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berjalan melewati Yunho dengan acuh tak acuh. Yunho merasa emosinya mulai naik melihat Jaejoong mengacuhkannya. Dengan cepat dia menarik pergelangan tangan Jaejoong.
"Jae, kita harus bicara." sahutnya tajam.
"Oh, tapi kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, Yunho-ah."
"Ada banyak masalah yang harus kita selesaikan dan aku perlu penjelasanmu."
"Terserah padamu tapi yang jelas aku mau ke toilet sekarang. Silakan saja kalau kau mau ikut." Jaejoong memutar bola matanya lalu berjalan keluar. Yunho ragu-ragu sebentar sebelum berjalan mengikuti Jaejoong.
Begitu Jaejoong keluar dari toilet, dia terkejut mendapati Yunho. Dia tidak menyangka Yunho benar-benar menunggunya. "Aku heran padamu. Biasanya kau takut sekali padaku dan terus mencoba menjauhiku." ujarnya sambil berjalan ke wastafel.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yunho tanpa menghiraukan kata-kata Jaejoong.
Melihat tidak adanya respon dari Jaejoong, Yunho bertanya lagi. "Wajahmu yang memar tempo hari, apa itu karena umma mu?"
Jaejoong memandang Yunho sekilas dari cermin di depannya. "Bukan urusanmu." sahutnya dingin.
"Kenapa umma mu mau melukaimu? Apa yang sudah kaulakukan?"
"Apapun yang kulakukan tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak harus menceritakan semua hal padamu."
"Kau temanku, Jae. Apa kau sudah lupa itu?"
"Haha… Jadi sampai sekarang kau masih belum mengerti? Aku mengajakmu berteman supaya aku bisa mengambil kesempatan bersamamu. Dan ternyata dugaanku benar. Kau sama saja dengan mereka. Kupikir Junsu sudah memperingatkanmu. Salahmu sendiri yang tidak mau mendengarkannya." Jaejoong menyeringai lalu berjalan keluar toilet.
Mendadak Yunho merasakan hatinya sakit. Dengan cepat dia menarik pergelangan tangan Jaejoong. "Kenapa kaulakukan itu, huh? Kau begitu menyukai sentuhan dan ciuman mereka? Kau begitu menginginkannya termasuk dengan appa mu sendiri?"
Ekspresi Jaejoong berubah mendengar perkataan Yunho. Dia terdiam beberapa saat lalu tertawa keras. "Ne. Aku sangat menyukai sentuhan mereka. Kau sudah tahu itu, kan?"
"Kau melakukannya dengan banyak orang, itu saja sudah keterlaluan. Sekarang kau melakukannya bersama appa mu. Tidak sadarkah kau bahwa itu dosa besar?"
"Haha… Wae? Aku suka melakukannya, begitu juga dengannya. Kupikir tidak ada salahnya kan dengan itu?"
Emosi Yunho langsung tersulut. "Lalu? Kau juga memeras appa mu seperti kau memeras orang lain?" sahutnya sengit.
"Ah, Yunho-ah, jangan terlalu naïf. Kita semua perlu uang, kan. Apa kau tidak mau mengakuinya?"
"Ne. Tapi uang bisa didapat dengan cara yang baik. Tidak dengan cara kotor sepertimu."
Mata Jaejoong berkilat marah. "Semua orang punya cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan uang. Dan ini adalah caraku. Kau tidak perlu ikut campur. Kau bukan siapa-siapa bagiku." Jaejoong berusaha melepaskan tangan Yunho tapi Yunho semakin kuat mencengkeram tangannya.
"Jaejoong-ah, appa mu orang yang kaya raya. Kalau kau perlu uang, kau bisa langsung meminta padanya, kan. Tidak perlu dengan menjual tubuhmu seperti ini. Itu berarti kau tidak menghargai dirimu sendiri. Jaejoong-ah, tidak sadarkah kau bahwa tubuhmu berharga?"
Jaejoong tertegun dengan nada suara dan sorot mata Yunho yang lembut. Beberapa saat dia terdiam tanpa sepatah katapun.
"Jae-ah, tubuhmu ini begitu berharga dan istimewa. Jangan kausia-siakan dengan membiarkan orang lain menyentuh dan menidurimu. Kau harus menyayangi tubuhmu. Percayalah, belum terlambat kalau kau mau menghilangkan kebiasaanmu ini. Aku yakin dalam hatimu sebenarnya kau tidak ingin melakukannya, kan?"
"Jangan sok tahu, Jung Yunho." sahutnya dingin lalu menepis tangan Yunho dengan kasar. "Aku berhak melakukan apapun yang kusuka terhadap diriku sendiri. Kau tidak perlu repot-repot mengaturku."
"Jae-ah, dengar. Sebagai sesama teman kita harus…"
"Aku heran ada masalah apa dengan telingamu. Apa suaraku kurang jelas sampai kau tidak bisa mendengarnya? Mulai sekarang menjauhlah dariku. Aku sudah benar-benar muak padamu. Sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Aku tidak akan menahanmu lagi." sahutnya sambil berlalu.
Yunho terdiam mendengar kata-kata menyakitkan itu. Tapi ada yang aneh saat Jaejoong menatap matanya tadi. Sekilas dia melihat air mata yang memenuhi kedua mata Jaejoong. Apa penglihatannya tadi tidak salah? Benarkah Jaejoong menangis? Dia seperti melihat kepedihan dari sorot mata itu. Saat ini dia merasa bahwa ketakutannya mulai menghilang. Sebaliknya dia merasa simpati pada namja cantik itu.
###
Jaejoong POV
Secepat kilat aku berlari dari toilet. Kenapa mendadak mataku panas begini? Tadi aku berusaha keras menahan air mataku yang berdesakan keluar. Aku tidak tahu seperti apa wajahku sekarang. Yang jelas aku tidak mau dia melihatku menangis. Aku tidak mau menangis di depannya. Aku mengeluarkan kata-kata kasar padanya supaya dia sakit hati. Kucoba mengalihkan perhatiannya supaya dia tidak melihat mataku yang basah.
Aku berlari ke atap sekolah yang sepi. Aku duduk dan meluruskan kakiku sambil mencoba menenangkan diri. Dadaku penuh sesak sampai-sampai kurasa bisa meledak setiap saat. Sesudah agak tenang, kurebahkan tubuhku dan memejamkan mata. Ada apa denganku? Kenapa aku harus menangis? Kenapa aku seperti merasa tersentuh dengan kata-katanya tadi?
Aku sudah tidur dengan banyak orang. Sudah banyak tangan yang menyentuhku. Aku sendiri jijik dengan tubuh kotorku. Begitu kotornya sampai-sampai aku tidak peduli lagi dengan apapun yang terjadi pada tubuhku. Aku tidak takut orang-orang akan menyakitiku dan melukai tubuhku. Bahkan aku sudah tidak mau tahu lagi dengan hidup matiku. Tapi apa yang dia bilang tadi? Dia bilang bahwa tubuhku berharga, bahwa aku harus menyayangi tubuhku? Apa dia sadar dengan yang dia katakan? Baru pertama kali aku tahu seseorang berpikir seperti itu tentang diriku. Ya, dia orang pertama yang pernah mengatakan itu.
Andwae! Aku tahu pasti dia punya maksud tersembunyi di balik kata-katanya. Dia kesal karena aku hanya menciumnya, tidak melakukan lebih seperti dengan orang-orang lain. Aku tahu dia juga menginginkan tubuhku. Dia ingin aku tidur dengannya, hanya dengannya seorang. Dia bilang seperti itu supaya aku menjadi lemah, supaya bisa memilikiku seutuhnya. Dia tidak mau membagi tubuhku dengan orang lain. Haha… Jung Yunho, betapa pandainya kau. Tapi sayang aku sudah tahu rencanamu.
Dan tatapan belas kasihanmu tadi benar-benar membuatku muak. Betapa ingin aku memukul wajahmu supaya tatapan menjijikkan darimu itu hilang. Aku heran kenapa selama ini aku tidak membuatmu tidur denganku padahal ada banyak sekali kesempatan. Dan sekarang aku berubah pikiran. Aku tidak mau memenuhi kemauanmu itu, Jung Yunho. Tidak akan pernah! Dan kau juga jangan bermimpi terlalu tinggi. Yunho-ah, dengarkan aku. Aku sudah muak padamu.
End of POV
###
"Jae-ah…"
Jaejoong memutar bola matanya dengan kesal. "Kau lagi. Apa kau sudah lupa kata-kataku kemarin, huh?"
Yunho menguatkan hatinya dan menatap Jaejoong. "Ani. Tapi pembicaraan kita belum selesai."
"Yoochun-ah." Yoochun yang mendengar panggilan Jaejoong segera mendekati namja cantik itu. "Ada apa, Jae-ah?"
Jaejoong memeluk lengan Yoochun dengan manja. "Ayo kita makan siang di kafe favorit kita." ujarnya sambil tersenyum manis.
Yoochun terkejut dengan tindakan Jaejoong yang tiba-tiba. Dia tidak pernah membayangkan Jaejoong akan mengajaknya lagi. "Kajja. Aku juga sudah lapar." Yoochun tersenyum lalu menggandeng Jaejoong keluar.
Yunho mengepalkan kedua tangannya lalu mengikuti mereka. Dia menahan emosinya, tidak percaya kalau dia mengejar-ngejar Jaejoong sekarang. Dulu Jaejoong yang selalu mengikuti ke manapun dia pergi. Dengan cepat dia menarik tangan Jaejoong.
"Yah, aku perlu bicara denganmu."
"Tapi aku rasa tidak perlu."
"Tapi…"
Tiba-tiba Jaejoong menarik lengan Yoochun dan menciumnya. Dia tahu pasti bahwa Yunho sangat membenci perbuatannya itu. Yoochun hanya terpaku dengan tindakannya yang tiba-tiba. Dan benar saja, Yunho terbelalak menyaksikan kejadian itu. Beberapa saat dia terdiam tanpa sepatah katapun.
Semenit kemudian Jaejoong melepaskan ciuman mereka. "Aku ingin berdua saja dengan Yoochun. Jadi jangan ganggu kami ne?" sahutnya lalu menggandeng Yoochun pergi.
Yunho mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan perasaannya. Dia tidak mengerti kenapa dia merasa begitu emosi melihat mereka berciuman? 'Wae? Jaejoong-ah, wae?'
###
"Yah!" Yunho membalikkan tubuhnya mendengar suara itu dan mendapati Yoochun berdiri di belakangnya. Dia memandang sekeliling kalau-kalau ada orang lain di sekitarnya. Tapi tidak ada siapapun. Berarti namja itu memanggilnya?
Yoochun berjalan mendekatinya dengan sorot mata tajam. "Ada yang mau kubicarakan denganmu."
###
Sekian dulu. tolong tinggalkan jejak anda ne, chingudeul. gomawo :D.
