Park Jimin
Jeon Jungkook
Boyxboy!Yaoi!Jikook!Jim!Seme!
DONT LIKE DONT READ!
Characters bukan punya saya, tapi cerita ini MURNI punya saya!
Chapter 2 : My Type
Namanya Jeon Jungkook.
Ramah, Rendah hati, Cerdas, Tampan dan menggemaskan disaat yang bersamaan,
Pindahan dari Busan,
Kepunyaan Jimin.
Kurasa yang terakhir tidak pantas.
Kau tipeku
Bahkan saat kau tidak mengatakan apapun
Aku punya perasaan
Dari kepala hingga ujung kakimu
Semuanya
Jungkook Menatap ngeri sebangkunya teman, 'Apa dia sakit?'
"Permisi, Apa terjadi sesuatu ?"
"Tidak, Aku hanya sedang merasa bahagia hari ini. Ah! Namaku Park Jimin. Kau bisa memanggilku Jimin, Senang berkenalan denganmu," Jimin berkata dengan ceria sambil mengulurkan tangannya,
Jungkook sedikit ragu untuk membalas uluran itu, ia takut jika Jimin benar-benar tidak waras.
"Semoga kita bisa menjadi teman yang saling membantu, Jimin Hyung."
"Jangan menggunakan embel-embel hyung, itu membuatku terlihat tua,"
"Aku enam belas tahun, Hyung, Oh aku lupa memberi tahumu ya ? Aku mengikuti kelas akselerasi."
"Begitu ya ? Baiklah. Eum, Terima kasih ya, sudah menyelamatkanku dari si tua itu,"
"Sama-sama, Apa kau memang sering terlambat Hyung ? Kata eomma itu tidak baik, Jangan sering melakukannya," Jungkook berucap polos.
Dan itu sukses membuat Jimin melongo, belum apa-apa tapi Jungkook sudah memperhatikannya.
Kau tipeku
Ketika aku melihatmu
Aku benar-benar menginginkanmu
Aku gila
"Hyung?"
"Jimin Hyung ?"
"Jiminnie Hyung ..?"
Panggilan yang terakhir itu baru menyadarkan Jimin, Dasar.
"Eung, Maaf aku melamun tadi, Aku tidak sering terlambat kok, Hanya-"
"Hanya kebiasaan,"
Seseorang menginterupsi kegiatan mereka,
Jungkook membulatkan matanya, saat tahu siapa yang ikut bergabung dalam obrolan mereka.
"Kau bisa lanjutkan acara wawancaramu nanti Jim,"
Siapa saja tolong lempar pak tua itu ke Sungai Han sekarang juga.
Jimin tidak bisa menahan kantuknya,
Ia terus-terusan menguap dan kadang melirik jam tangannya. Ia bosan, lapar, dan yang terpenting ia butuh kasur empuknya.
Sedangkan Jungkook, Ia dengan semangat memperhatikan apa yang gurunya katakan, dan sesekali mencatatnya.
Diliriknya Jimin yang mulai memejamkan matanya, Ia menggoyangkan bahu Jimin, Kemudian menuliskan sesuatu di buku Jimin,
'Jangan tidur saat pelajaran, nanti songsaenim memarahimu lagi,'
Jimin membuka matanya, melihat apa yang Jungkook tulis di bukunya, ia tersenyum.
Menulis Sesuatu dibawah Tulisan Jungkook,
'Tapi mataku tidak bisa diajak kompromi sekarang, aku butuh tidur~'
'Sebentar lagi istirahat, ayolah hyung~ Apa kau mau kuadukan ke pak tua itu ? hahaha~'
'Aku mengantuk kookie~ sangat mengantuk, awas saja kalau kau berani melakukannya!'
'Hyung~ Ayolah~ aku akan membelikan apapun yang kau mau saat di kantin nanti'
Jimin tersenyum geli, ia mengangkat kepalanya.
Menatap Jungkook yang memasang wajah memohonnya,
"Aku ingin roti isi dan susu pi-"
Dia mulai lagi,
Jungkook meletakkan jari telunjuknya dibibir Jimin.
"Nanti saat di kantin Hyung,"
Jimin melongo, lagi.
Kali ini tubuhnya juga kaku.
Ia tersadar saat suara nyaring terdengar ditelinganya, Bel istirahat.
Aku terpikat dengan mata memikatmu
Sentuhan yang detil
Tapi gerakan tubuhmu sedikit canggung
Aku menyukainya
Jimin dan Jungkook sedang menuju kantin sekarang,
Mereka berjalan beriringan dan sesekali bercerita tentang berbagai hal.
Sepertinya Jungkook mulai nyaman bersama Jimin, Begitu pula sebaliknya.
"Hyung, setelah ini tolong tunjukkan padaku apa saja yang ada disini, bisa ?" Pinta Jungkook disela perjalanan mereka ke kantin,
"Tentu saja, dengan senang hati." Jawab Jimin dengan senyum lembut yang tercetak di wajahnya.
"Terima kasih Jiminnie Hyung,"
Jimin mengangguk, "Ya, Kita harus cepat sampai di kantin, aku lapar, dan jangan lupa janjimu, Jung,"
Kemudian berjalan mendahului yang lebih muda,
"Ish! Tunggu aku! Urusan makanan memang kau yang paling rajin ya hyung,"
Hari ini kantin sangat ramai, tidak seperti biasanya.
Jungkook menatap Jimin ragu, Ia harus berdesakan demi mendapatkan dua botol susu pisang dan dua potong roti isi ? Yang benar saja!
"Aku yang akan membelinya, kau cari meja kosong," Ucap Jimin seakan tahu apa maksud tatapannya.
Jungkook tersenyum, Kemudian mengacungkan ibu jarinya.
Ia mulai mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru kantin, Matanya berbinar saat menemukan meja kosong, walaupun berada di sudut kantin.
Ia hampir mendudukkan dirinya di kursi kayu itu, sampai tiba-tiba ada seseorang yang menarik kerah bagian belakang seragamnya,
"Santai saja Jim- A-ah, Maaf, Apa kau memiliki urusan denganku ? Kau tidak perlu melakukan itu, Kau bisa melakukannya le-"
"Jangan menasehatiku, Bocah. Minggir, Ini tempatku."
Jungkook membulatkan matanya. Dia yang menempati meja ini lebih dulu.
"Tapi aku yang menemukannya lebih dulu, kau bisa cari meja lain kalau kau mau," Jungkook berujar datar, ia mencoba sabar.
"Apa kau lihat ada meja kosong ? Jika kau tidak ingin terkena masalah, Sebaiknya kau saja yang cari meja lain." Orang itu berucap santai,
Jungkook tidak bisa menahannya lagi sekarang.
"MEMANGNYA KAU SIAPA HAH ? PEMILIK SEKOLAH INI ?!"
Seluruh mata kini tertuju pada dua orang yang sedang saling berhadapan.
Jungkook menatap orang didepannya sengit, Orang yang ditatapnya hanya tersenyum miring.
"Kalau aku memang pemilik sekolah ini, Bagaimana ?"
Jungkook membisu,
"Kenapa hanya di-"
"Lepaskan dia, Kim Namjoon."
Seluruh siswa di kantin mulai saling berbisik, Beberapa dari mereka mulai mengeluarkan ponsel dan menghidupkan kameranya.
"Ini bukan film atau drama korea asal kalian tahu, matikan ponselnya atau akan kuhancurkan satu persatu benda itu."
"Woah, Lihat siapa yang datang. Lama tidak berurusan denganmu, Jimin. Dimana sopan santunmu ? Aku lebih tua satu tahun darimu, Bocah."
Jungkook menatap Jimin khawatir, Bagaimana jika hyungnya mendapat masalah karena dirinya ?
Ia hendak membuka mulutnya, namun Jimin lagi-lagi menginterupsi,
"Maaf saja, tapi aku tidak sudi memanggilmu dengan embel-embel Hyung"
"Haah, Si Pendek ini sekarang sudah menjadi jagoan rupanya,"
Namjoon berucap merendahkan.
Jimin kehilangan kesabarannya, Kakak kelasnya ini memang keterlaluan.
"Tutup mulutmu, Sialan."
Jungkook menahan bahu Jimin saat hyungnya hendak melayangkan pukulan pada Namjoon.
"Hyung, Sudahlah. Aku baik-baik saja, Lebih baik kita kembali ke kelas. Aku tidak mau kau mendapat masalah,"
Jimin menatap Jungkook lembut, "Tapi dia sudah keterlaluan Kookie,"
"Hyung, Komohon. Ya ?"
"Lebih baik kau indahkan saja ucapan kekasihmu itu Jim, Kalau kau tidak ingin mendapat bekas luka di wajahmu,"
Jimin menghela nafasnya pasrah, Baiklah.
Ia melayangkan satu pukulan ke wajah Namjoon, membuat pelipisnya mengeluarkan sedikit cairan merah.
Namjoon menatap Jimin remeh, Ia segera meninju wajah Jimin dan mengenai sudut bibirnya.
Membuat seluruh siswa disana menjadi heboh, Sudah lama tidak melihat Namjoon dan Jimin saling memukul.
Tapi sepertinya mereka harus merelakan acara yang dinanti itu terhenti, Karena Jungkook sudah menarik Jimin pergi.
"Mau kemana kau ?! Urusan kita belum selesai!"
Jungkook membawa Jimin ke kelas mereka, Ia menatap Jimin tajam.
Hyungnya ini bodoh atau apa, Bukannya menuruti perkataannya malah menyerang Namjoon seperti tadi.
"Lihat apa yang kau dapat sekarang ? Bodoh! Hiks-harusnya kau mendengarkan perkataanku, hiks-kau bodoh hyung!"
Eh, Kenapa Jungkook jadi terisak ?
Jimin terkesiap melihatnya.
"Hei, Tenanglah Kookie, Aku baik-baik saja, Aku sudah biasa seperti ini." Jimin berkata lembut, sambil mengelus surai hitam Jungkook.
Jungkook terdiam, menatap luka di sudut bibir hyungnya.
"Apa ini sakit ? Ayo ke ruang kesehatan,"
Jimin tersenyum, Berdiri dari kursinya dan menuju ruang kesehatan bersama Jungkook.
"Lupakan saja roti isi dan susu pisangnya,"
"Masih sempat memikirkannya ? Dasar, sekali tukang makan memang akan terus jadi tukang makan selamanya. Pantas saja tinggi badanmu dibawah rata-rata, nutrisinya masuk ke pipi gembulmu sih,"
"Ya! Jeon Jungkook!
Jungkook agak melemas saat melihat luka itu dari jarak dekat.
Dia takut darah, Sejujurnya.
Dengan hati-hati Jungkook mengobati luka Jimin.
Darahnya berdesir saat matanya bertatapan dengan manik milik Jimin.
Jarak mereka sangat dekat, Mereka bahkan bisa merasakan nafas satu sama lain.
Mata sipit yang indah,
Hidung yang tidak terlalu mancung tapi pas untuknya,
Bibir mungil yang bagian bawahnya sedikit berisi, Jangan lupakan juga luka yang belum kering itu.
Jungkook jadi merona sendiri melihatnya.
Jimin mendekatkan wajahnya saat melihat wajah Jungkook yang merona, Tapi Jungkook buru-buru menjauhkan dirinya.
"Hy-hyung sebaiknya kita kembali ke kelas, aku yakin pelajarannya sudah dimulai,"
Jimin tersenyum melihat tingkah lucu Jungkook.
"Ayo, Setelah ini matematika, kita bisa kena hukuman kalau terlambat,"
Jungkook segera mengembalikan kapas dan obat merah ke dalam kotak P3K, Lalu menyusul Jimin yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kenapa menjauh saat aku mendekat ? Kau mengira aku akan berbuat yang iya-iya kan' ?" Goda Jimin, Sukses membuat Jungkook memelankan langkahnya.
"Kalau kau lambat, Kita akan benar-benar dihukum,"
Jungkook mempercepat langkah kakinya. Mendahului Jimin.
Membuat Jimin terkekeh geli.
Kita semakin dekat
Mengapa kau datang sekarang
Cinta akhirnya datang padaku
Mereka tiba di kelas saat pelajaran sudah berlangsung,
Jimin masuk terlebih dahulu, disusul Jungkook setelahnya.
"Bahkan masuk kelas saat pelaran juga terlambat, Jimin ? Dan sekarang malah bersama teman barumu,"
Suara guru matematika itu terdengar pasrah, Sudah dengan hafal kebiasaan Jimin.
"Uhm, Maaf Saem. Tapi kami terlambat karena harus ke ruang kesehatan. Aku harus mengobati luka Jimin Hyung terlebih dahulu," Jungkook melontarkan pembelaannya,
Guru itu melihat wajah Jimin, Kemudian menghela nafasnnya. "Apa yang terjadi ?"
"Aku terjatuh dari tangga saat bermain dengan Jungkook tadi,"
Bohong.
Ia tidak mengatakan yang sejujurnya, Takut jika ia mengatakan yang sejujurnya, Dirinya akan berakhir di ruang pembinaan bersama wali kelas dan orang tuanya.
Jimin bisa melihat tatapan teman-temannya yang.. Err.
Mereka melihat kejadian yang sebenarnya saat di kantin tadi.
"Lain kali hati-hati saat bermain, Duduklah,"
Jimin dan Jungkook mengangguk lalu duduk di tempat mereka, saling menatap kemudian tersenyum.
Jimin mencatat rumus-rumus di papan tulis itu dengan malas, Sesekali meregangkan otot tangannya.
Ia menyukai matematika. Tapi itu dulu, Sebelum orang-orang mulai menambahkan huruf diantara barisan bilangan tersebut.
Jungkook juga terlihat ogah-ogahan, Padahal biasanya ia akan semangat mengikuti pelajaran apapun.
Ia merindukan ibunya, Merindukan masakan ibunya lebih tepatnya.
"Lihat, Siapa yang pemalas sekarang ?" Goda Jimin, Membuat Jungkook mendengus sebal.
"Apa perlu ku pinjamkan kaca untukmu ? Lagipula aku tidak malas, Hyung. Aku hanya kurang bersemangat,"
Jimin memukul bahu Jungkook, "Kau pintar mengelak, Jung,"
"Aku cerdas, Hyung," Kemudian Jungkook membalas perlakuan Jimin,
Dan Jimin melakukannya lagi, Jungkook membalasnya lagi.
Begitu seterusnya sampai terdengar suara nyaring yang berasal dari pengeras suara. Disusul teriakan girang para siswa.
Jimin dan Jungkook tersenyum lebar, Hari melelahkan ini akhirnya telah usai.
"Mau pulang bersama ? Aku akan mengajakmu berkeliling Seoul kalau kau ma- Oh! Aku lupa mengajakmu berkeliling sekolah hari ini," Jimin terkaget, Ia melupakan janjinya.
"Aku akan pulang bersamamu, Hyung, Tapi aku tidak bisa ikut bersamamu berkeliling Seoul. Eomma bilang aku tidak boleh pulang terlambat, atau aku tidak medapat jatah makan malam,"
Ey, Anak ini masih memikirkan masakan ibunya ternyata.
Jimin mengangguk lesu menanggapinya, Setelahnya ia tersenyum.
"Bukan masalah, Kita bisa melakukannya lain hari. Ayo, Hari sudah semakin sore."
Mereka berjalan beriringan, Dengan Jimin yang merangkul bahu Jungkook.
Senyum lembutmu
Matamu ketika melihatku
Tidak ada cacat di mana pun
Tidak ada waktu menjadi bosan
Kau sempurna
TBC
