CHAPTER 15
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, chingudeul. apa ada yg merindukan saya ~ngarep~. hehe... saya seneng bgt baca review2 dr chingudeul skalian. saya bersyukur ff aneh saya ada yg suka, anda smua pemacu semangat saya, hikz... selamat bagi chingudeul yg bs nebak asal usul jaema ~sok2an bikin teka-teki :p~, ini saya hadiahi DVD jackal YUNJAE version LOL. saya sndr jg pengen ^^. jd udh ga penasaran lg, kan? hehe... bagi chingudeul yg mgkn mikir kl saya updet nya terlalu kilat, bukan krn saya ngetik pk 20 jari ato apa, pengen jg sih kl bs ky gt, wkwk... ini ff udh ada di kompie saya sjk bbrp bln yll, tp saya br brani publish skrg. jd dsni saya tggl copas & edit dikit2 :p. jujur saya br stuck di tengah2 :(. tolong doain smoga saya bs nyelesein ff ini & smoga chingudeul skalian msh berkenan nemeni saya smp chap terakhir :). puanjang bgt ya curcolnya :p?
###
"Apa kau punya cukup uang untuk membeliku, seperti dulu dua orang Kim itu membeliku dari orangtua kandungku?"
"M-mwo?" Mata Yunho terbelalak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Kalau kau tidak punya semua itu, jangan bermimpi kau bisa membawaku keluar dari sana, Yunho." ujar Jaejoong sambil melepaskan tangan Yunho. "Mulai sekarang jangan coba-coba mendekatiku lagi." Jaejoong pergi meninggalkan Yunho yang masih berdiri terpaku dengan tubuh gemetarnya.
###
Yunho POV
Aku kembali menenggelamkan diri dengan botol soju ku. Semua ucapan Jaejoong beberapa jam yang lalu masih terngiang di kepalaku. Aku tidak bisa mempercayai apa yang dikatakannya mengingat wajahnya yang tanpa ekspresi. Tapi untuk apa juga dia berbohong untuk hal semacam itu? Dia… dijual? Benarkah? Bagaimana bisa ada orangtua sekejam itu terhadap anak kandungnya? Aku kembali menenggak soju ku. Kenapa nasib Jaejoong sepahit itu? Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada diriku sendiri.
Jaejoong dijual, lalu dijadikan pelampiasan emosi orangtua angkatnya. Orang yang dianggapnya paling dekat dan menyayanginya tega membuangnya ke tempat yang hanya membawa penderitaan padanya. Pantas saja dia tumbuh menjadi namja seperti itu. Tidak ada orang di dekatnya yang bisa dia percayai, tidak ada orang yang bisa dia harapkan untuk menopang hidupnya, tidak ada orang yang menemaninya setiap dia jatuh, tidak ada orang yang mendengarkan keluh kesahnya. Dia begitu kesepian. Dia mendambakan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Tapi tidak ada seorangpun yang memberikannya. Kenapa dia harus merasakan semua ini?
Andwae! Tidak mungkin ada orangtua yang berniat jahat pada anak kandungnya sendiri. Kurasa orangtuanya tidak mengenal keluarga Kim sebelumnya. Kurasa keluarga Kimlah yang menawari mereka untuk memberikan Jaejoong. Kalau bukan dalam keadaan terpaksa tidak mungkin mereka melakukan itu. Ya, aku percaya bahwa tidak ada orangtua yang jahat.
End of POV
Yunho berjalan terhuyung-huyung keluar dari pub. Kepalanya terasa berat, tapi untunglah dia masih bisa mengingat jalan pulang ke apartemennya. Tapi di tengah jalan dia melihat sosok yang dikenalnya. Sesudah dia mendekat dia menyadari bahwa namja itu adalah Yoochun.
"Kenapa kau masih saja mengejar-ngejarnya?" tanya Yoochun dingin begitu Yunho tiba di depannya. "Apa kata-kataku waktu itu belum…"
Yoochun belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika pukulan tiba-tiba menutup mulutnya. Dia mengusap bibirnya yang berdarah dan menatap Yunho penuh emosi. Tapi sebelum dia sempat bergerak, Yunho sudah mencengkeram krahnya.
"Kau bilang… kau mengenalnya luar dalam, huh?" ujar Yunho setengah mabuk. Yoochun tertegun mendengarnya. Apa maksud pertanyaan Yunho ini?
"A-apa kau tahu… kalau dia sering disakiti umma nya? Dia dipukuli sampai memar dan berdarah… apa kau tahu itu semua?"
Yoochun terbelalak menatap Yunho. Dia begitu terkejut sampai-sampai dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Cengkeraman Yunho terasa semakin kencang. "Apa kau pernah melihat appa nya… yang sering menidurinya? Orang yang tidak punya hati… yang bernafsu dengan tubuh anaknya?"
Yoochun kembali terguncang, tubuhnya gemetar hebat. Apa Yunho sadar dengan semua yang dikatakannya? Sebelum dia mampu menguasai pikirannya, pukulan kedua sudah melayang kembali ke wajahnya. Dia jatuh terjerembab ke tanah. Sebelum dia sempat berdiri, Yunho sudah mencengkeram krahnya lagi.
"A-apa kau juga tahu… kalau Tuan dan Nyonya Kim membelinya… dari orangtua kandungnya?"
Yoochun diam terpaku dengan kenyataan demi kenyataan yang terus mengguncang hatinya. Dia merasa sulit bernafas, bukan karena kencangnya cengkeraman Yunho, tapi karena emosinya yang meluap-luap memenuhi dadanya. Segala macam kebencian bercampur menjadi satu. Dia sangat membenci Yunho, membenci Tuan dan Nyonya Kim, membenci orangtua Jaejoong. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri. Kenapa dia baru mengetahui ini semua?
"Itukah… yang kaubilang cinta… huh?!" Yunho kembali melayangkan tinju ketiganya. Dia tidak pernah berpikir akan memukuli Yoochun. Dia tidak mau menyelesaikan masalah apapun dengan kekerasan. Tapi saat ini yang dia tahu adalah dia ingin meluapkan semua emosi yang sudah begitu lama terpendam di hatinya.
"Kau bilang… kau mencintainya. Tapi apa yang kau tahu tentang dia? Apa yang sudah kaulakukan… untuk menolongnya? Kau hanyalah pecundang yang tidak tahu apa-apa." sahut Yunho lalu meninggalkan Yoochun.
###
Jaejoong POV
Flashback
Aku memandangi rumah besar yang ada di depanku. Aku takjub dengan keindahannya. Tapi kenapa orangtuaku mengajakku ke sini?
"Umma, ini di mana?" tanyaku pada umma yang menggandengku masuk.
"Joongie, umma akan mengenalkanmu pada Kim Ahjussi dan Ahjumma." jawab umma sambil tersenyum padaku.
Aku mengerutkan alis mendengar nama asing itu. "Kim Ahjussi dan Ahjumma? Siapa mereka, umma?"
"Nanti kau juga akan tahu, Joongie." Kali ini appa yang menimpali sambil menekan bel rumah itu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kulihat appa berbicara dengan seorang Ahjumma yang belum pernah kulihat. Dia mempersilakan kami masuk. Mata besarku membulat melihat betapa luasnya rumah itu. Spontan aku berlarian memutari ruangan, mengagumi barang-barang unik yang ada di sana. Barang-barang yang belum pernah kulihat di rumahku sendiri. Oh, betapa ingin aku memegang semuanya.
"Joongie, jangan berlari-lari seperti itu. Hati-hati ne, itu semua barang mahal." Kudengar suara umma memperingatkanku. Tapi aku sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri.
"Joongie, ayo ke sini." Kali ini aku menoleh dan melihat ada Ahjussi dan Ahjumma duduk di depan orangtuaku. Dengan tidak bersemangat kudekati mereka. Aku masih ingin bermain-main sebentar lagi.
"Tuan Kim, Nyonya Kim, ini Jaejoong kami. Joongie, ini Kim Ahjussi dan Ahjumma." ujar appa memperkenalkan kami. Kulihat mereka menatapku penuh perhatian.
Aku membungkuk ke arah mereka. "Annyeonghasaeyo Ahjussi, Ahjumma."
"Jadi kau Jaejoong?" tanya Kim Ahjussi sambil menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Kim Ahjumma mendekatiku sambil tersenyum manis dan mendudukkanku ke pangkuannya. Dia menangkupkan kedua tangannya ke pipiku. "Ommo… Joongie, kau benar-benar cantik dan lucu."
Langsung saja aku merasa harga diriku sebagai namja terusik. Kutepuk dadaku dengan sikap gagah. "Ahjumma, aku ini namja. Jadi jangan sebut aku cantik ne?" ujarku tegas dan lantang.
Mereka tertawa melihat tingkahku. "Kajja. Joongie itu namja, namja yang tampan. Bagaimana, apa kau suka?" tanya Ahjumma sambil mencium pipiku. Aku mengangguk dan tersenyum lebar.
"Mulai sekarang Joongie jangan panggil Ahjussi dan Ahjumma. Panggil kami dengan umma dan appa ne?" ujar Ahjumma sambil membelai rambutku yang halus. Aku memandangi mereka dan orangtuaku dengan kebingungan.
"Ne. Mulai sekarang Joongie tinggal di sini. Ini rumah Joongie." ujar Ahjussi sambil tersenyum ramah.
"Oh, jadi kita bertiga akan tinggal di sini, umma?" tanyaku polos sambil menatap umma.
Umma menggeleng. "Ani. Umma dan appa akan pulang ke rumah."
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Kalau umma dan appa pulang, Joongie juga ikut."
"Wae? Joongie tidak suka tinggal di sini?" Kulihat raut wajah Ahjumma yang kecewa.
"Ani. Joongie suka, tapi Joongie mau umma dan appa Joongie di sini juga."
"Tidak bisa, Joongie. Appa dan umma masih banyak pekerjaan di rumah. Kami janji kami akan sering menengokmu." ujar appa lalu berdiri dari tempat duduknya diikuti umma. "Kami permisi dulu."
Tangisku mulai meledak. "Huweee… Umma appa mau meninggalkan Joongie... Umma appa tidak sayang Joongie lagi…"
Umma mendekatiku dan memelukku dengan mata berkaca-kaca. "Joongie, sekarang ada umma dan appa baru yang menyayangi Joongie. Baik-baiklah di sini. Jangan nakal ne?"
Aku terus saja menggelengkan kepala kuat-kuat. Tapi kulihat umma tidak mempedulikanku lagi. Mereka berpamitan pada Ahjussi dan Ahjumma lalu menoleh padaku sekilas sebelum berjalan keluar. Aku menangis keras lalu menghambur ke arah mereka. "Joongie tidak mau kalau tidak ada umma appa. Joongie juga pulang kalau begitu."
Umma berjongkok di depanku. "Sshh… Joongie tidak boleh begitu ne? Di sini Joongie bisa hidup senang dan makan enak, bisa minta mainan yang bagus-bagus pada umma dan appa baru Joongie. Bisa sekolah dan punya banyak teman. Joongie pernah bilang kalau ingin sekolah, kan?" bisiknya. Kulihat air mata menetes di pipinya. Ommo… aku baru menyadari betapa pucatnya wajah umma.
Tangisku semakin keras. "Ani. Joongie tidak mau. Joongie mau umma appa Joongie…" Aku berusaha menggapai tangan umma tapi Ahjumma mendekat dan memegangiku.
Umma dan appa memandangiku dengan tatapan yang sedih sebelum mereka pergi. Pergi untuk selamanya, dan tidak akan bisa kutemui lagi. Dalam pelukan Ahjumma aku terus berteriak-teriak memohon mereka kembali dengan air mataku yang terus bercucuran. Umma appa jahat! Tega sekali meninggalkan Joongie di tempat asing ini.
End of Flashback
Sewajarnya seseorang akan sulit mengingat masa lalunya ketika dia berumur 5 tahun. Tapi bagiku, kejadian itu masih tergambar jelas. Aku masih ingat raut wajah mereka yang meninggalkanku. Mereka tidak peduli dengan teriakanku, tidak mau menoleh ke belakang untuk sekedar melihat air mataku. Aku ingat aku pernah mencuri dengar percakapan appa ku di telepon. Dia membicarakan masalah jual beli dan uang, juga menyebut-nyebut namaku. Waktu itu aku tidak mengerti sama sekali. Tapi aku selalu memikirkannya sampai aku beranjak dewasa, akhirnya aku paham maksud mereka.
Apa dosaku sampai-sampai mereka membenciku dan tega membuangku? Sepanjang ingatanku, aku selalu berusaha menjadi anak yang baik dan membanggakan bagi mereka. Jadi apa salahku? Ya, mungkin kejadian itu begitu pahit sehingga tidak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku. Selamanya aku akan terus terperangkap oleh bayang-bayang itu. Peristiwa yang terlalu pahit untuk diingat dan juga dilupakan.
Flashback
"Appa, sudah pulang?" tanyaku riang melihat Kim appa di depan pintu.
Appa tersenyum menyeringai sambil menatapku. Dia mendekatiku dan membelai pipiku. "Ommo… Joongie ku benar-benar cantik."
"Kenapa appa terus saja bilang kalau Joongie cantik? Joongie ini namja, jadi…" Aku tidak sempat menyelesaikan protesku karena tiba-tiba saja appa merobek paksa pakaianku, memperlihatkan tubuh putihku.
"A-appa? Apa yang appa lakukan?" tanyaku dengan heran juga ketakutan karena belum pernah kulihat appa yang seperti ini.
Masih dengan seringaiannya, appa menarikku masuk ke kamar dan melemparku ke tempat tidur. Dia mulai menciumi tubuhku tanpa henti. Aku meronta-ronta tapi tentu saja tenagaku sangat lemah jika dibandingkan dengan appa. Tiba-tiba dia membalik dan menekan tubuhku dengan kasar sampai dadaku sesak.
"Appo…" Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang besar dan keras menusuk bagian bawahku. Sakit sekali… Sakit luar biasa yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
"Appa, tolong hentikan appa. Joongie sakit… Appa ini kenapa? Joongie salah apa?" Aku mulai menangis memohon supaya dia berhenti. Tapi dia sama sekali tidak mempedulikan air mataku yang membanjir. Dia terus saja meneruskan perbuatannya dan merobekku sampai ke dalam. Merusak tubuh sekaligus jiwaku hingga hancur berkeping-keping.
End of Flashback
Kepingan-kepingan kenangan menyakitkan itu silih berganti melintasi pikiranku. Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali aku tertawa lepas tanpa beban di hatiku. Yang kuingat hanyalah penderitaan yang tidak pernah bosan menghampiriku. Hingga aku merasa tidak bisa menangis lagi karena air mataku sudah mengering.
End of POV
###
Yoochun POV
Kukendarai motorku di tengah malam. Kuputar gasku kencang-kencang berusaha melupakan semua kata-kata orang itu. Apa dia sudah gila? Aku mengenal Jaejoong lebih dari yang dia tahu. Di mataku Jaejoong adalah namja yang ceria dan penuh semangat. Dia selalu tertawa saat bersamaku. Tidak pernah kulihat dia bersedih apalagi menangis. Bagaimana dia bisa mengarang-ngarang cerita seperti itu tentang Jaejoong ku? Andwae! Ini pasti mimpi! Aku harus segera bangun dari mimpi ini!
Kurasakan motorku yang melaju semakin kencang. Aku sudah tidak peduli lagi. Yang penting aku bisa bangun dari mimpi mengerikan ini. Tiba-tiba sebuah mobil besar entah dari mana menghantam motorku. Dalam sekejap kurasakan tubuh dan motorku terhimpit roda mobil, kami terseret entah seberapa jauhnya. Beberapa saat kemudian aku sudah tergeletak di jalan. Kucoba membuka mataku yang berat, kulihat darah membanjiri tubuh dan sekitarku. Perlahan pandanganku mengabur, kepalaku terasa ringan. Samar-samar kulihat beberapa orang ramai mengerumuniku.
"Jaejoong-ah… Jaejoong-ah…" Pandanganku mulai gelap, kupejamkan mataku dan aku tidak ingat apapun lagi.
End of POV
"Kenapa aku harus tinggal menunggui hewan-hewan sampai semalam ini di laboratorium? Padahal bukan aku yang melakukan kesalahan." gerutu Junsu memikirkan masalah penelitiannya yang belum beres. Ya, beberapa minggu ini dia terus berada di laboratorium sibuk membantu teman satu kelompoknya. Dia sedang keluar bermaksud mencari makanan. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam. Dia meluruskan otot-otot tangannya mencoba mengurangi kepenatan.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara benturan keras. Dengan mata terbelalak dia melihat pemandangan mengerikan di depannya. Sebuah mobil melaju kencang menyeret seseorang yang terjepit di bawahnya. Beberapa saat kemudian akhirnya tubuh orang itu terlepas. Mobil itu terus saja berjalan meninggalkan orang yang berlumuran darah itu.
Junsu berlari mengikuti orang-orang menuju arah yang sama. Mereka berteriak-teriak panik, beberapa yeojya menangis. Junsu mencoba menerobos kerumunan itu. Dia terkejut menyadari bahwa sosok yang tidak berdaya di bawahnya adalah Yoochun. Wajahnya nyaris tidak bisa dikenali. Kepalanya terus mengeluarkan darah. Kulitnya mengelupas, sebagian persendiannya terlihat.
"Yoochun…" Junsu berjongkok di dekat Yoochun. Dia melihat bibir Yoochun yang bergerak-gerak. Merasa penasaran, Junsu mendekatkan telinganya.
"Jaejoong-ah, wae? Jaejoong-ah…"
Jaejoong-ah… Jaejoong-ah…
Seketika wajah Junsu memucat. Ingatan masa lalu tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dia berjalan mundur sambil memegangi kepalanya.
"Ommo… Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang dengan nada khawatir.
Junsu menggeleng lemah. "To-tolong panggilkan ambulans. Dia… dia temanku." Dia berusaha memberi pertolongan sementara pada Yoochun.
###
Yoochun mengerjap-ngerjapkan matanya melihat ruangan putih di sekelilingnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya.
"Kau jangan banyak bergerak dulu. Lukamu belum kering." Yoochun menoleh ke asal suara dan melihat Junsu duduk di sampingnya.
"Ini…"
"Ini di rumah sakit. Kau tahu? Kau mengalami kecelakaan dan tidak sadar sampai seminggu."
"Mwo?" Yoochun terbelalak menatap Junsu. Dia berusaha mengumpulkan ingatannya kembali. "Andwae."
"Kau baru saja bangun. Sebaiknya kau berbaring dulu." ujar Junsu lalu memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian dokter dan perawat datang memeriksa kondisi Yoochun. Sesudah dokter memberi penjelasan seputar keadaannya saat ini dan memberikan beberapa instruksi kepada perawat, mereka meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana kau bisa membawaku ke sini?"
"Kebetulan aku ada di tempat waktu itu. Sesudah itu aku mengabari orangtuamu. Sekarang mereka sedang keluar. Barusan aku sudah memberitahu bahwa kau sudah sadar."
"Gomawo Junsu, untuk semuanya." ujar Yoochun tersenyum lemah.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai tertabrak?"
Seketika Yoochun teringat masalah yang sedang dialaminya. Dia memejamkan mata sambil memegang kepalanya yang diperban. Bagaimana dia bisa bercerita sedangkan dirinya sendiri sama sekali belum bisa menerima kenyataan itu.
"Kau sedang memikirkan Jaejoong?"
"Mwo? Bagaimana kau bisa mengatakan itu?"
Junsu tersenyum pahit. "Kau terus-menerus menyebut namanya selama tidak sadar. Jadi sudah jelas bagiku."
Yoochun menghela nafas panjang mencoba menghilangkan perih di hatinya. Junsu sudah tahu. Haruskah dia menyembunyikan ini semua? Tapi saat ini dia benar-benar memerlukan seseorang untuk berbagi. "Aku tahu ceritaku ini tidak berarti bagimu. Tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa."
Junsu tersenyum menenangkan Yoochun yang terlihat putus asa. "Gwenchana. Aku akan mendengarkan semua yang akan kaukatakan."
Yoochun mulai mencurahkan semua perasaannya terhadap Jaejoong. Junsu mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Lalu aku mulai menyadari kalau dia menghindari Yunho. Dia bahkan bersikap kasar dan mengusir Yunho. Aku tidak tahu kenapa sikapnya bisa berubah sedrastis itu. Dia bilang padaku kalau dia sudah tidak berminat pada Yunho tapi Yunho terus berusaha mendekatinya."
Junsu mengerutkan alisnya sambil berpikir. Dia sama sekali tidak tahu tentang ini. Biasanya Jaejoong yang selalu menempel pada Yunho. Beberapa minggu ini dia memang tidak ada kesempatan untuk mengobrol dengan Yunho karena kesibukannya. Dia terus berusaha mengingat-ingat terakhir kali dia bicara dengan sahabatnya itu.
"Selama ini aku menahan diri karena aku yakin suatu saat dia pasti meninggalkan Yunho. Betapa bahagianya aku ketika saat itu tiba. Tapi melihat Yunho yang terus mengejarnya, aku lalu memberinya peringatan. Tapi dia mengabaikan peringatanku, sampai akhirnya aku berkelahi dengannya di pub."
Junsu terbelalak menatap Yoochun. 'Yunho ke pub lagi?'
"Lalu entah kenapa Jaejoong mengusirku. Dengan terpaksa aku meninggalkan mereka berdua. Tapi aku tidak mau melepaskan Yunho begitu saja. Aku menunggu kesempatan waktu dia sendirian. Dan akhirnya aku melihatnya keluar dari pub dalam keadaan mabuk. Kucoba memperingatkannya lagi. Tapi tiba-tiba dia memukulku."
Junsu menatap Yoochun dengan mulut ternganga. Yunho memukul orang? Kejutan apa lagi ini?
"Dia bilang… dia bilang…" Suara Yoochun mulai gemetar di saat dia berusaha mengendalikan perasaannya. "Ja-Jaejoong sering dipukuli umma nya sampai memar dan berdarah… Dia… dia juga sering dipaksa tidur dengan appa nya… dan… dan…"
Junsu terpaku menatap Yoochun. Dia masih berusaha mencerna kata-kata Yoochun. Kelihatannya namja itu masih akan mengatakan sesuatu. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa menerimanya.
"Dia bilang…" Yoochun mengepalkan kedua tangannya. "… kalau Jaejoong di… dijual oleh orangtuanya pada Tuan dan Nyonya Kim…" Dia memejamkan matanya. Sebutir air mata menjatuhi pipinya.
"M-mwo?" Junsu tersentak mendengar semua cerita Yoochun. Dia tidak tahu apakah dia harus percaya atau tidak dengan ini semua. Seperti mimpi pikirannya dibuka oleh kenyataan-kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan.
"Aku tidak tahu apakah yang dikatakannya itu benar atau tidak. Waktu itu aku hanya ingin berlari dan melupakan segalanya. Tiba-tiba ada mobil menabrakku dan aku tidak ingat apa-apa lagi."
Junsu menekan dadanya yang terasa sakit. "Yoochun, tenangkanlah dirimu. Sekarang kau istirahat dulu ne? Aku akan menemanimu di sini." ujarnya lembut.
Yoochun mengangguk dan merebahkan tubuh lelahnya. Ya, tubuh dan jiwanya benar-benar lelah, dia tidak tahu apakah dia bisa bertahan. Perlahan dia memejamkan matanya.
Junsu menarik nafasnya dalam-dalam mencoba mengendalikan perasaannya. "Yoochun, aku sudah mendengarkan semua ceritamu. Sekarang maukah kau mendengarkanku? Aku tahu kau lelah. Kau cukup diam saja ne, tidak perlu menanggapi apapun." ujarnya pada Yoochun yang hampir tertidur.
"Dulu aku juga pernah punya hubungan dengan Jaejoong. Ya, dulu aku pernah mencintainya. Semula aku hanya menganggapnya teman. Tapi kemudian semuanya terjadi di luar dugaanku. Dalam waktu singkat aku tertarik padanya dan menghabiskan semalam bersamanya. Satu hari yang begitu berarti bagiku sampai sekarang. Waktu aku melihatnya bermesraan dengan orang lain, aku benar-benar marah. Tapi aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Tidak pernah sekalipun kata cinta keluar dariku maupun darinya. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa dia milikku. Jadi kupikir apa hakku untuk membencinya? Sebenarnya yang paling kubenci adalah diriku sendiri. Kenapa aku begitu mudah jatuh cinta padanya?"
Junsu melihat alis Yoochun yang berkerut, tapi matanya masih terpejam.
"Tapi aku tahu aku tidak boleh terus terpuruk dalam perasaan ini. Karena itu aku berusaha menghindarinya. Aku hampir tidak pernah menyapanya dan bicara dengannya. Tapi entah kenapa sampai sekarang… sampai sekarang aku masih mencintainya. Aku bingung, yang bisa kulakukan hanyalah tetap menjaga jarak dengannya. Mungkin kaulihat aku begitu kasar padanya. Tapi itu kulakukan hanya untuk menyembunyikan perasaanku. Untuk melindungi diriku, untuk menjaga hatiku supaya tidak luluh lagi di depannya.
Waktu aku melihatnya begitu terobsesi pada Yunho yang baru datang, aku merasa cemburu. Tapi aku berpikir lagi, apa hakku cemburu padanya? Terlebih Yunho adalah sahabatku. Dia orang yang baik dan tidak tahu apa-apa. Jadi atas dasar apa aku membencinya? Benci karena orang yang kucintai mengejar-ngejarnya? Itu alasan yang egois, kan? Lalu ketika dia menerima Jaejoong sebagai teman, aku berusaha mencegahnya. Alasanku yang sebenarnya adalah aku tidak mau mereka menjadi dekat. Aku tidak bisa menerima orang yang kucintai berhubungan dengan sahabatku. Tapi dia meyakinkanku kalau dia akan mengubah Jaejoong.
Tapi ternyata nasibnya sama dengan kita, sampai dia depresi dan putus asa. Tapi tahukah kau apa yang dia bilang padaku? Walaupun dia takut pada Jaejoong, dia tidak akan meninggalkan Jaejoong. Dia berusaha mencari tahu apa yang membuat Jaejoong seperti itu. Sampai akhirnya, seperti yang kita tahu, dia berhasil melakukannya hanya dalam beberapa bulan saja, entah bagaimana caranya aku tidak tahu. Hal yang tidak bisa kita lakukan selama hampir dua tahun kita bersama Jaejoong. Ya, hanya dia yang bisa.
Yoochun, kita sama-sama punya perasaan terhadap Jaejoong, dan kurasa Yunho juga. Kekuatan apa lagi yang membuatnya mempunyai keberanian seperti itu? Kita mencintai Jaejoong dengan cara masing-masing. Yunho pun menggunakan caranya sendiri untuk mencintainya. Tapi mungkin dengan cara itulah Jaejoong bisa berubah. Kita ingin Jaejoong menjadi lebih baik, kan? Kita perlu memberi kesempatan pada Yunho. Mungkin dia adalah satu-satunya harapan Jaejoong."
Junsu tidak tahu apakah Yoochun bisa mendengar semua yang dia katakan. Tapi dia melihat bulir-bulir air mata jatuh dari mata Yoochun yang terpejam. Dia menatap iba pada Yoochun. Kondisi Yoochun saat ini mirip dengan kondisinya beberapa waktu yang lalu. Ya, nasib mereka yang sama membuatnya simpati pada namja itu. Tapi mungkin kondisi Yoochun lebih menyedihkan darinya. Dia menelungkupkan wajahnya di sisi tempat tidur. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya pada Jaejoong saat ini, apakah benci atau simpati. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
###
Mian kl di chap ini isinya kbanyakan flashback & mgkn ga sesuai bayangan & harapan chingudeul skalian. hehe... tp inilah yg terpikirkan oleh saya. mian kl (lagi2) bhsnya alay & jd membosankan. tp saya mohon chingudeul keep reading & leave review ne? gomawo :D.
