Park Jimin

Jeon Jungkook

Boyxboy!Yaoi!Jikook!Jim!Seme!

DONT LIKE DONT READ!

Characters bukan punya saya, tapi cerita ini MURNI punya saya!

Chapter 3 : One Call Away


Ini sudah beberapa hari setelah kepindahan Jungkook dari Busan, ia sudah mulai terbiasa dengan suasana disini.

Jungkook dan Jimin juga semakin dekat.

Menurut Jungkook, Jimin itu baik, sangat. Dia perhatian, Jimin suka mengingatkan Jungkook tentang banyak hal. Jimin juga lucu, suaranya yang khas dan mata sipit yang akan hilang jika dia tertawa lebar itu, Ah, bahkan adik sepupu Jungkook tidak selucu Jimin.

Aneh memang membandingkan adik sepupunya dengan Jimin. Tapi memang begitu kenyataannya.

Kadang Jungkook merasa ada yang aneh saat dirinya bersama Jimin. Seperti detak jantung meningkat dan deru nafas yang memburu. Padahal seingatnya ia tidak punya riwayat penyakit jantung.

Tapi memang pada dasarnya Jungkook itu remaja yang kurang memiliki rasa peduli membiarkan rasa aneh itu terus hinggap dalam dirinya.


Hari ini Jungkook berangkat lebih pagi. Padahal ia masih ingin bermalas-malasan di kasurnya.

Tapi mau bagaimana lagi, jika ibunya yang meminta. Mana bisa Jungkook menolak.

Keadaan sekolah belum terlalu ramai, hanya ada beberapa siswa. Dengan malas Jungkook melangkah ke kelasnya, masih sepi.

Ia mendudukan diri dibangkunya, kemudian menyenderkan kepalanya pada meja. Mungkin sedikit memejamkan mata dapat menghilangkan rasa kantuknya.

Seseorang berjalan mendekati Jungkook, ia tersenyum.

Mendudukan dirinya disamping Jungkook dan memandangi bocah itu.

"Tidak pernah melihat pangeran yang sedang tidur ya, Hyung ?"

Jimin gelagapan saat mendengar suara bocah yang sejak tadi dipandangnya.

"Y-ya! Kau mengagetkanku!" Jungkook hanya terkekeh melihat tingkah hyungnya yang menurutnya kelewat lucu itu.

"Tumben datang pagi-pagi sekali, ingin mengerjakan tugas ya ?" Ucap Jungkook menggoda Jimin.

Oke, kenapa jadi Jungkook yang suka menggoda Jimin sekarang.

Jimin mendengus, merasa tidak terima dikatai seperti itu, "Aku tidak semalas yang kau kira, bocah,"

"Aku sudah besar Hyung," Jungkook menyeringai, menggoda Jimin dipagi hari sepertinya kegiatan yang menyenangkan.

"Kau bocah, mana ada orang dewasa yang selucu dirimu ini, Kookie,"

Blush.

Jungkook merona, kalau begini sih namanya senjata makan tuan.

"Sudah ah, jangan berdebat yang tidak penting. Oh iya, saat istirahat nanti aku tidak bisa menemanimu ke kantin. Maaf ya, aku ada urusan dengan klub vokal. Kau tidak keberatan kan ke kantin sendirian ?"

Jimin itu termasuk siswa aktif disekolahnya, ia mengikut banyak kegiatan disekolah.

Ia punya suara yang bagus, cita-citanya juga menjadi penyanyi. Jadi tidak salah dia menjadi anggota klub vokal.

Jungkook sebenernya sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa memaksa Jimin menemaninya kan. Lagipula, ia harus belajar mandiri. "Tidak masalah Hyung, aku bisa ke kantin sendiri."

Jimin mengusak rambut Jungkook gemas, rasa sukanya pada Jungkook jadi semakin bertambah. "Aku akan menyusul kalau urusanku sudah selesai, jangan khawatir."

Jungkook lega mendengarnya, sebenarnya ia masih terbayang kejadian beberapa hari yang lalu. Seseorang bernama Namjoon yang sukses merobek ujung bibir Jimin benar-benar membuatnya takut. Apalagi saat Namjoon bilang urusan mereka belum selesai.

No matter where you go

You know you're not alone


Seperti apa yang dikatakan Jimin tadi, Isirahat ini Jungkook duduk di kantin seorang diri.

Menikmati rotinya dengan tidak nafsu, rasanya benar-benar sepi tidak bersama hyung berisiknya itu.

"Sendirian saja, bocah ?"

Jungkook menegang, ia hafal suara itu. Bukan suara Jimin, itu suara Namjoon.

"Ada perlu apa kau kemari ?" Ucap Jungkook dibuat setenang mungkin.

Namjoon tersenyum mengejek, ia tahu anak dihadapannya ini sedang ketakutan, "Jangan sok jadi pemberani, aku bahkan bisa melihat tubuhmu bergetar,"

Jungkook menelan ludahnya kasar, ia butuh Jimin Hyungnya sekarang.

"Karena kau tidak sedang bersama dengan si pecundang itu, kami akan menemanimu dengan senang hati,"

"Jimin Hyung bukan pecundang, kalian yang pecundang!" Ucap Jungkook berteriak tepat didepan wajah Namjoon.

Namjoon berdecih, menatap para anak buahnya, seperti melakukan perintah.

Mereka mengangguk, kemudian memegangi kedua lengan Jungkook dan membawa anak itu secara paksa.


Mereka membawa Jungkook menuju toilet sekolah yang sudah tidak terpakai.

Lokasinya cukup sepi dan sedikit menyeramkan, efek sudah lama tidak digunakan.

"Apa yang kalian lakukan ? Cepat lepaskan aku!" Jungkook berontak, tapi sia-sia. Tenaganya tidak sekuat para anak buah Namjoon. Dalam hati Jungkook hanya berharap semoga mereka tidak menghabisi dirinya.

"Sepertinya Jiminmu itu sudah tidak peduli padamu lagi, buktinya dia tidak ada bersamamu saat kau dalam masalah seperti ini," Salah satu teman Namjoon bersuara, menarik kerah seragam Jungkook.

"Lepaskan tangan kotormu dari seragamku, sialan." Jungkook berusaha berontak lagi, kali ini matanya menatap nyalang pada orang dihadapannya.

"Hei, jaga bicaramu bocah kecil," Kali ini satu orang menyahut lagi.

Jungkook muak, ia dengan kasar melepas tangan yang masih menarik lengan seragamnya.

"Woah, lihatlah. Dia kuat juga ternyata," Itu Namjoon yang bersuara.

"Jika kalian mengira aku akan pasrah, kalian salah. Aku bisa saja mematahkan tulang hidung kalian atau membuat tulang kering kalian retak." Jungkook berujar dingin. Kali ini ia tidak main-main.

"Coba saja kalau bisa," Namjoon berujar enteng.

Belum sampai tinjuan Jungkook mengenai wajah lawan dihadapannya, lengannya sudah ditarik oleh salah satu teman Namjoon. Menariknya dengan kasar dan mendorong Jungkook masuk kedalam salah satu bilik dalam toilet itu.

Jungkook tentu saja kaget, ia bisa melihat Namjoon dan para temannya melayangkan senyum kemenangan padanya sebelum pintu bilik itu tertutup dari luar diikuti suara 'klik' yang nyaring.

Jungkook meringis.

And when you're weak I'll be strong

I'm gonna keep holding on


Jimin berlari kalang kabut mengelilingi seluruh penjuru sekolah, berharap menemukan sosok yang dicarinya. Taman belakang sekolah, atap sekolah, bahkan gudang sekolah sudah Jimin telusuri.

Tapi, bukan Jimin namanya jika ia menyerah begitu saja.

Ia berjalan tergesa, nafasnya memburu dan mata sipitnya berubah menjadi seperti mata seekor elang yang mencari tikus buruannya.

Jimin sampai pada ruangan tujuannya, membuka pintunya dengan kasar.

"KIM NAMJOON DIMANA KAU SEMBUNYIKAN JEON JUNGKOOK ?!"

Jimin mendatangi Namjoon yang sedang bergurau dengan teman-temannya.

"Wow, lihat siapa yang datang ? Kupikir kau sudah menemukannya," Ucap Namjoon mengejek.

Jimin kehabisan kesabarannya, makhluk didepannya ini memang tidak waras.

"Sialan. Cepat beritahu aku dimana Jungkook sekarang." Jimin berucap dingin.

Namjoon menyeringai, "Uah, Uri Jiminie sedang mencari kekasihnya yang hilang ya, Ou, Romantis sekali,"

Bugh.

Jimin melayangkan tinjuan pada hidung Namjoon, dan sukses membuat Namjoon menggeram.

Brak.

Namjoon mendorong Jimin hingga ia tersungkur dan punggungnya membentur beberapa meja dan kursi dikelas itu.

"Berani sekali si pecundang ini,"

"Tutup mulutmu itu, sialan." Jimin bangkit dan menendang dada Namjoon.

Seluruh siswa dikelas itu melongo, ternyata Jimin yang selama ini mereka kenal tidak seperti yang mereka kira.

Namjoon juga sama kagetnya, ia tidak mengira ternyata Jimin sekuat itu.

"Kau tahu tempatnya, dulu kau sering berada disana,"

Ucap Namjoon final, lebih baik ia memberi tahu dimana Jungkook berada daripada harus merasakan badannya yang dihancurkan oleh Jimin.

Masa bodoh dengan harga dirinya.

Uh, siapa yang pecundang sekarang ?

Sesaat setelah Namjoon mengatakannya, Jimin langsung melesat kesana.

I'm only one call away

I'll be there to save the day

Ia tahu betul tempat itu.

Tempat dimana Namjoon membullynya, tempat dimana tubuhnya selalu mendapat lebam baru setiap harinya. Tempat dimana ia tidak ingin mengingatnya kembali.

Jimin buru-buru mendobrak satu persatu pintu bilik disana, memeriksa apakah Jungkook benar ada disana.

Dan dia membulatkan matanya saat pintu terakhir terbuka.

Jungkook langsung memeluk Jimin erat, seragamnya yang lusuh dan suara isakan terdengar dari bibir tipisnya.

"Kookie tenanglah, aku disini. Jangan takut, aku bersama disini," Jimin membalas pelukan Jungkook dan sedikit mengusak kepalanya.

Jimin jadi merasa bersalah sekarang.

"Hyung.. Jiminie Hyung.. Kookie ta-takut, hiks.."

"Tenanglah Kookie, aku disini. Apa ada yang sakit ?" Jimin berujar lembut, berusaha membuat Jungkook menjadi lebih tenang.

Suara isakan Jungkook mulai tidak terdengar, sepertinya cara Jimin berhasil.

Jungkook melepas pelukannya dan menatap Jimin sendu.

Siapapun tolong benturkan kepala Jimin pada dinding atau tiang besi manapun.

Tatapan Jungkook itu, Ah sungguh membuat Jimin sakit.

"Maafkan aku hyung, aku tidak berniat membuatmu khawatir. Aku yang lemah, mau saja diseret Namjoon kemari, sekali lagi maaf merepotkanmu, Jiminie Hyung,"

Jimin menghapus jejak air mata yang tersisa dipipi Jungkook, "Bukan salahmu. Aku yang salah disini dan aku yang seharusnya meminta maaf padamu, maafkan aku Kookie. Kau bisa memukulku jika kau merasa kesal padaku."

"Aku mana bisa memukulmu kalau bahuku mati rasa hyung," Jungkook terkekeh.

Tadi menangis sekarang tersenyum tanpa dosa, dasar.

"Benarkah ? Astaga, aku benar-benar bodoh. Apa itu sakit sekali ? Kita harus segera mengobati bahumu," Jimin buru-buru memapah Jungkook keluar dari toilet dan membawanya ke ruang kesehatan.

Membolos demi membantu temanmu yang sedang kesakitan tidak masalah kan' ?

Now don't you worry, it won't be long

Darling, and when you feel like hope is gone

Just run into my arms

TBC

BANGTAN RAMBUTNYA BARU YA JAHAD SEKALI, MANA JIKOOK MINTA DIMAKI HMMM

balik lagi nih bawa jikook setelah sekian lama bertapa nyari ide, gimana ? masih kurang panjang ? konfliknya gajelas ya? emang T-T

tapi aku mau minta maaf nih sebelumnya, soalnya aku udah mau UN jadi ya ff ini hiatus dulu ya :3 kalo sempet aku update kok, kalo sempet tapi, HAAAA minggu depan udah ujian sekolah soalnya, huaaaa

maaf juga kalo ada typo(s) atau alurnya gaje, males baca ulang WKWKWK terus juga gak ada waktu mwehehe, udah ya segini dulu, bye~~

RNR JANGAN LUPAAAA