CHAPTER 16

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul. dsni saya ngedit di tengah2 hujan yg deras mengguyur rumah saya ~lebay dot com, cuekin~ XD. saya bingung krn udh khabisan teka-teki, mau crita apa lg ya ~author aneh~, wkwk... oke, saya fokus ke jadiannya yunjae dulu ne. nih couple emg super lambat, deh LOL. yoosu ga bkl saya tinggalin tp cm saya critain dikit aja :p.

###

Junsu POV

Flashback

"Kau sedang apa, Junsu?"

Kualihkan pandanganku dari motorku yang sedang bermasalah dan melihat sosok cantik itu di belakangku. "Ini ban motorku pecah, mungkin terkena kaca tadi pagi."

Jaejoong berjongkok di sebelahku. "Kenapa bisa seperti ini? Memang tadi kau lewat mana?"

"Jalan yang biasanya kulewati. Aku bingung harus minta tolong siapa. Appa ku sedang keluar kota sekarang." keluhku.

"Setahuku tidak ada bengkel di dekat sini. Kajja. Aku akan meminta asisten appa ku ke sini untuk membawa motormu."

"Eh, tidak perlu Jaejoong…"

"Sudahlah, tidak apa-apa." Jaejoong segera menelepon appa nya.

Beberapa menit kemudian asisten appa nya datang dengan mobil. Dia membawa motor Junsu pergi.

Aku menarik nafas lega. "Gomawo, Jaejoong. Aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada kau."

Jaejoong tersenyum manis. "Gwenchana, Junsu. Tidak perlu sungkan."

"Kajja. Aku akan mentraktirmu hari ini. Kau mau makan apa? Umm… tapi aku tidak ada motor."

"Kita pakai motorku. Ayo." ajak Jaejoong.

Beberapa menit kemudian kami menikmati ramen di sebuah restoran. Kulihat Jaejoong menjilati bibirnya membersihkan kuah yang tersisa di sana. Entah kenapa gerakannya menarik perhatianku.

"Junsu, wae?" Dia memandangku sambil tersenyum.

Aku tersentak dengan pertanyaannya. "Oh, ani." Aku menyelesaikan makananku tapi mataku tidak bisa terlepas darinya. Bibirnya yang merah dan lembut. Kira-kira bagaimana rasanya? Ani! Pikiran aneh apa ini? Kucoba menghilangkan pikiran kotorku dan berusaha fokus dengan apa yang sedang kulakukan.

"Jae, apa kau ada waktu setelah ini? Umm… mau jalan-jalan sebentar denganku?" tanyaku ragu-ragu. Aku juga tidak tahu kenapa pertanyaan ini tiba-tiba saja terlontar dari mulutku.

"Ne. Kau mau ke mana?" Aku tersenyum lega mendengar persetujuannya.

Kami pergi ke taman bermain. Hal yang sudah lama sekali tidak pernah kulakukan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin bermain bersamanya di sini. Kulihat dia tertawa di atas kudanya di komidi putar. Ternyata dia cantik sekali. Senyumnya yang manis, tawanya yang polos. Semakin kulihat dia semakin mempesona di mataku. Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Padahal kami sudah hampir setahun di sekolah yang sama.

Tak terasa aku menghabiskan waktu seharian bersamanya. Kami membeli es krim, mengambil motorku yang sudah selesai diperbaiki, mengobrol dan tertawa bersama. Sesudah itu aku mengajaknya menonton film. Aku senang lagi-lagi dia mau menerima ajakanku.

Kupandangi hujan di depan bioskop. "Bagaimana ini, Jae? Hujan lebat begini, entah kapan berhenti." Kulihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 11 malam. Aku menoleh ke arah Jaejoong dengan sorot menyesal. "Mianhae, aku mengajakmu keluar sampai malam."

"Gwenchana. Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini. Umm… tapi aku tidak berani pulang sekarang."

"Umm… bagaimana kalau kau menginap di rumahku? Rumahku dekat dari sini. Tapi apa orangtuamu akan mengizinkan?" tanyaku ragu-ragu.

"Aku mau saja kalau kau tidak keberatan, Junsu. Gomawo. Aku bisa mengabari mereka nanti."

Aku menghela nafas lega. Sesudah beberapa saat menunggu tetap tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dengan terpaksa kami pulang dengan tubuh basah kuyup.

Kutawarkan Jaejoong untuk mandi membersihkan dirinya selagi aku mempersiapkan kamar untuknya. Orangtua dan dongsaeng ku sedang pergi, pembantu juga baru pulang karena ada urusan. Jadilah aku sendirian di rumah malam ini. Aku tersenyum geli melihat kausku yang tampak kebesaran di tubuhnya.

"Istirahatlah, Jae. Kau pasti capek, kan. Aku ada di kamar sebelah. Kalau perlu apa-apa, panggillah aku ne?" ujarku lalu meninggalkan kamar itu.

Tiba-tiba saja terdengar suara guntur yang mengejutkan kami dan semuanya menjadi gelap.

"Ju-Junsu…" bisik Jaejoong dengan suara gemetar.

"Tidak apa-apa. Aku akan memeriksa listriknya dulu ne?"

"Yah, aku ikut." teriaknya sambil mengikutiku.

"Listriknya mati karena tersambar petir. Tidak apa-apa, besok pasti sudah menyala lagi." ujarku sesudah memeriksa sekring, menenangkan Jaejoong yang terlihat ketakutan. Kuantarkan dia kembali ke kamar. Kusiapkan lilin di kamarnya.

"Ju-Junsu, tolong temani aku di sini."

"Ta-tapi…"

"Kumohon, Junsu-ah. Aku takut sendiri di kegelapan seperti ini." Jaejoong menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku ragu-ragu sebentar sebelum mengikutinya ke kamar.

Entah berapa lama aku berbaring tanpa bisa memejamkan mata. Baru pertama kali ini aku berbagi tempat tidur dengan orang lain. Aku menoleh ke namja cantik yang tidur di sebelahku. Suara nafasnya yang teratur, harum alami tubuhnya entah kenapa membuatku tegang dan gelisah.

"Ju-Junsu…" Aku tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu aku sudah menindih tubuhnya. Kupandangi wajah cantiknya, kusibakkan poni yang menutupi matanya, kutatap mata besarnya yang indah.

Perlahan kudekatkan bibirku ke bibirnya yang sudah sejak tadi kukagumi dan ingin kurasakan. Aku tidak tahu apa yang menguasai pikiranku. Tapi aku sudah tidak peduli. Aku harus memilikinya malam ini. "Jaejoong-ah, kau orang paling istimewa yang pernah kutemui." bisikku di telinganya.

###

Dengan mata terpejam kugerakkan tanganku bermaksud meraih tubuh namja cantik di dekatku. Ketika sadar aku hanya menangkap udara kosong kubuka mataku. Aku melihat sekeliling bertanya-tanya ke mana dia pergi. Kemudian kutemukan secarik kertas di meja.

Terimakasih untuk malam ini, Junsu-ah. Aku pergi dulu, aku tidak mau membangunkanmu karena kulihat kau lelah sekali. Gomawo.

Aku tersenyum sendiri membaca suratnya. Aku teringat aktivitas yang baru saja kami lakukan. Aku segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Baru semalam kami bersama, sekarang aku sudah merindukannya. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya.

Dengan bersenandung kecil dan penuh semangat aku berjalan menuju kelas. Kubuka pintu, seketika aku terbelalak melihat pemandangan di depanku.

"J-Jae…" Suaraku gemetar menyaksikan dia sedang berciuman dengan seorang yeojya.

"Junsu-ah, selamat pagi. Bagaimana tidurmu semalam?" sapa Jaejoong dengan senyum menggodanya.

"A-apa yang sedang kaulakukan?"

"Mwo? Haruskah kujelaskan aku sedang apa?" Dia balas bertanya.

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat, tidak mau percaya dengan apa yang kulihat. "J-Jae, aku tidak mengerti. Bukankah semalam kita… Aku benar-benar tidak mengerti, Jae."

Jaejoong memasang wajah heran. "Junsu-ah, aku tidak mengira kejadian semalam kau anggap serius."

Kubelalakkan mataku ke arahnya. Perasaan terkejut, tidak percaya, dan emosi bercampur-aduk di hatiku. "Jae, kukira kau mencintaiku…"

Dia tertawa keras. Jadi apa yang terjadi diantara kami semalam dan kata-kataku hanyalah lelucon baginya? "Cinta? Aku tidak ingat kalau aku pernah mengatakan itu. Yang barusan terjadi hanyalah hubungan semalam saja, kan."

Kutatap dia penuh kemarahan. "Bisa-bisanya kau berkata seperti itu! Kenapa kau menggodaku semalam, huh?!"

Dia terkejut lalu tertawa lagi. "Mwo? Seingatku aku tidak melakukan apa-apa. Bukankah kau yang lebih dulu menciumku? Lalu semua terjadi begitu saja. Ingat, kaulah yang memulai semuanya, Junsu-ah. Aku tidak mau mengecewakanmu karena kulihat kau begitu menginginkannya."

Aku terdiam, benci untuk mengakui bahwa perkataannya memang benar. Kukepalkan tanganku menahan emosi. "Kau benar-benar iblis!" Aku berteriak dan berlari meninggalkan mereka.

Kukendarai motorku sekencang-kencangnya. Bisa-bisanya aku lupa kalau kebiasaannya memang menggoda orang? Aku tidak percaya aku bisa dengan mudah terpesona padanya hanya dalam waktu sehari saja. Andwae! Aku tidak bisa menerima ini semua! Pabo Junsu!

Tiba-tiba kulihat bis persis di depan mataku. Aku terkejut tapi aku tidak sempat menghindar lagi. Kubanting stang motorku ke kiri, seketika aku terbelalak melihat pohon besar di depanku. Semua terjadi begitu cepat, tahu-tahu tubuhku terlempar dan terbanting di jalan. Aku berusaha membuka mata, dengan pandanganku yang mengabur kulihat tubuhku yang berlumuran darah. Tubuhku mati rasa dan tidak bisa bergerak. Perlahan kurasakan kesadaranku mulai menurun.

Jaejoong-ah, wae? Jaejoong-ah…

End of Flashback

End of POV

###

Yunho pergi ke ruang kesehatan. Dia bermaksud mengakui semuanya pada Yoona. Dia tidak mau menutupinya lagi karena ini tidak adil bagi yeojya itu. Dia berusaha mengumpulkan keberaniannya sebelum membuka pintu. Dia melihat Yoona sedang duduk sendirian. Wajahnya terlihat kusut dan pucat. Yunho merasa sedih melihat Yoona yang seperti itu.

"Yoona-ah…" Yoona menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

Yunho menarik nafas panjang. Dia berjalan mendekati Yoona lalu duduk di sebelahnya. "Umm… Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Yoona memandang Yunho dengan gelisah. Dia mengira-ngira apa yang akan dikatakan Yunho padanya.

Yunho terdiam sejenak memikirkan bagaimana dia harus menjelaskannya. "Umm… Akhir-akhir ini aku memikirkan tentang hubungan kita."

Tidak mendapat respon dari Yoona, Yunho melanjutkan kata-katanya. "Aku sudah merenungkan semuanya. Dan sekarang aku baru sadar, bahwa perasaan yang kupunya padamu..." Yunho ragu-ragu sejenak. "… tidak lebih dari sekedar noona."

Yoona mulai merasakan kedua matanya yang memanas mendengar setiap ucapan Yunho. Dia sudah menebak Yunho akan mengatakan ini, tapi dia tetap tidak bisa menerimanya.

"Selama ini aku ingin selalu menjaga dan melindungimu. Aku mengartikannya sebagai perasaan cinta terhadap seorang kekasih. Tapi ternyata aku salah. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu. Karena jujur selama ini aku sendiri bingung dengan perasaanku. Karena itu aku mencoba menghindarimu. Aku… aku memang tidak pantas untukmu." ujar Yunho sambil menunduk.

Setitik air mata menetes di pipi Yoona. "Kau mencintai Jaejoong?"

Yunho mendongakkan kepalanya, terkejut dengan pertanyaan Yoona yang tiba-tiba. "Aku…"

"Kau tidak perlu menjawabnya, aku sudah tahu Yunho-ah. Jadi selama ini kau mendekatiku karena ada niat lain. Karena kau tidak mau orang-orang tahu kalau kau mencintai seorang namja."

Yunho terkejut mendengar kata-kata Yoona. "Ani! Bukan begitu…"

"Keluarlah sekarang, Yunho-ah."

"Dengarkan penjelasanku dulu, Yoona-ah…"

"Kumohon. Sekarang ini aku tidak mau mendengarkan apapun darimu. Tolong tinggalkan aku sendirian." Yoona memalingkan wajahnya dari Yunho.

Yunho mendesah. Hatinya sakit melihat Yoona seperti itu. Diapun tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri, tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya ingin jujur pada perasaannya sendiri. "Mianhae, Yoona-ah. Aku selalu saja menyakitimu. Aku tidak pantas menerima maafmu." ujarnya lirih sebelum keluar dari ruang itu.

Yoona menelungkupkan wajahnya di meja. Air matanya bercucuran membasahi pipinya. 'Aku sudah tahu, Yunho-ah. Waktu pertama kali aku melihat kalian di bioskop, aku sudah tahu… ada sesuatu diantara kalian.'

###

Jaejoong POV

Entah sudah berapa hari aku menghabiskan malam-malamku di Mirotic Club. Kenangan-kenangan menyakitkan yang tidak ingin kuingat, kini terus bermunculan di kepalaku. Dan ini semua gara-gara dia. Gara-gara Jung Yunho. Dia yang sudah membuatku seperti ini. Aku tidak habis pikir kenapa aku harus mengatakan itu, memberitahu nasibku yang buruk padanya. Aib yang selama ini kusembunyikan dari semua orang. Aku tidak mau mereka mengetahuinya. Aku benci melihat tatapan kasihan dari mereka, seperti tatapan Yunho waktu itu. Mereka hanya bisa kasihan padaku tanpa melakukan apa-apa. Lalu apa gunanya?

Tapi Yunho sudah terlanjur melihat perbuatan dua orang Kim itu. Semua yang kukatakan padanya hanya supaya dia berada jauh-jauh dariku. Mengajakku tinggal di apartemennya, apa dia sudah gila? Berani-beraninya dia menantang keluarga Kim? Aku mau dia sadar bahwa yang dia katakan sama sekali tidak berguna. Dan yang kulakukan itu memang tepat. Sampai sekarang dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi di depanku. Dia memang hanya ingin bersenang-senang dengan tubuhku, tidak mau tahu masalahku. Buktinya sekarang sesudah dia tahu semuanya, dia tidak peduli lagi padaku. Haha... Aku yakin dia takut sekarang. Dia pasti menyesali perkataannya yang bodoh itu. Ya, memang tidak ada siapapun yang mau menolongku.

End of POV

"Jaejoong-ah."

Namja cantik itu menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar suara familiar itu. Dia terbelalak tidak percaya melihat Yunho berdiri di sana. Dia tertawa kecil. "Tsk, kupikir… aku sudah bisa… membuatmu lari dariku. Kapan kau… berhenti menggangguku, huh?" ujarnya dengan mata setengah terpejam.

Yunho duduk di sebelah Jaejoong, melihat berbotol-botol soju di depan Jaejoong. Dia mendesah dan berusaha menjauhkan botol di tangan Jaejoong. "Kau sudah mabuk, Jae-ah. Sudah, jangan minum lagi."

"Apa urusanmu?" Jaejoong berusaha merebut botol itu lagi.

"Kumohon dengarkan aku sekali ini saja, Jae."

Jaejoong memutar bola matanya. "Kalau aku tidak mau… kau mau apa?"

Yunho menarik tangan Jaejoong dan menggenggamnya. "Jae-ah, hari-hari ini aku sudah memikirkannya. Aku serius dengan perkataanku tempo hari. Tolong pertimbangkanlah, Jae-ah."

"Tentang apa? Tentang tawaranmu… untuk tinggal di apartemenmu? Kutanya padamu. Apa kau… sudah punya uang?"

"Ani. Tapi…"

Jaejoong tertawa keras. "Haha… Kalau begitu… kau sama sekali… tidak punya hak membawaku keluar." Jaejoong menarik tangannya dengan kasar.

"Jae-ah, aku hanya ingin menjagamu. Kau tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tolong izinkan aku melindungimu."

Tiba-tiba Jaejoong menarik Yunho hingga tubuh mereka menempel. Yunho menahan nafas menatap wajah Jaejoong yang begitu dekat. Jantungnya berdebar kencang.

"Dengar, Yunho-ah... Aku capek… dengan semua ocehanmu." Jaejoong mendorong Yunho lalu berjalan keluar pub dengan terhuyung-huyung.

Yunho menghela nafas. Tapi dia tidak mau putus asa membujuk Jaejoong. Dia mengikuti Jaejoong keluar. Dia khawatir melihat Jaejoong yang berjalan tak tentu arah dan menabrak ke sana-sini. Dia berusaha menopang Jaejoong, tapi Jaejoong selalu mendorongnya dengan kasar. Jaejoong yang kesadarannya semakin berkurang berjalan ke arah jalan raya.

"Jae!" teriak Yunho ketakutan melihat mobil yang nyaris menyerempet tubuh namja cantik itu. Refleks dia menarik tangan Jaejoong. Tapi gerakannya yang terlalu cepat membuatnya kehilangan keseimbangan dan tidak bisa menahan berat Jaejoong sehingga mereka terjatuh di pinggir jalan. Dia menghela nafas lega karena tindakannya tepat waktu. Lalu dia menyadari Jaejoong yang tidak bergerak di pelukannya.

"Jae, Jae." Yunho mengguncang pelan tubuh Jaejoong tapi tidak ada reaksi. Melihat Jaejoong yang sepertinya sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol, Yunho dengan hati-hati menggendong Jaejoong di punggungnya. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam. Dia ragu-ragu. Haruskah dia mengantarkan Jaejoong pulang semalam ini? Dia khawatir Jaejoong akan mendapat masalah. Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan membawa Jaejoong ke apartemennya.

Dia menidurkan Jaejoong dengan hati-hati ke tempat tidurnya. Dia menatap iba wajah Jaejoong yang tertidur. Jaejoong yang malang dan putus asa. Jaejoong yang terlihat kuat di luar hanya untuk menutupi kerapuhannya. Sudah berapa lama dia dijual orangtuanya? Dia pasti sudah merasakan banyak penderitaan seumur hidupnya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Jaejoong sama sekali tidak mau menerima bantuannya. Harga dirinya terlalu tinggi, dia tidak mau orang lain melihat kelemahannya. Apa dia tidak percaya kalau ada seseorang yang mau menolongnya?

Dia tidak tahu sudah berapa lama dia memandangi Jaejoong seperti itu. Dia tidak menyadari tindakannya ketika dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Dia tidak bisa berhenti mengagumi wajah Jaejoong yang cantik. Jaejoong yang dia cintai. Sekarang dia baru sadar betapa berartinya Jaejoong baginya. Semakin lama bibir mereka semakin dekat.

Tiba-tiba Yunho tersentak dengan perbuatannya sendiri. 'Apa yang kulakukan?!' teriaknya dalam hati. 'Aku mau mencari kesempatan selagi dia tidur, huh? Apa yang ada di pikiranku? Pabo Yunho! Apa kau mau dia terus menganggapmu sama dengan orang-orang itu?' Dia terus mengutuki dirinya. Dia menarik nafas dalam menenangkan hatinya. Dia menyelimuti tubuh Jaejoong. Dia menoleh ke arah namja itu sekilas sebelum menutup pintu.

###

"Kau sudah bangun, Jae-ah?" Yunho memasuki kamar dan melihat Jaejoong yang kebingungan.

"Kenapa aku di sini?"

"Kau tidak ingat? Semalam kau mabuk, Jae. Aku takut mengantarkanmu pulang karena sudah terlalu malam. Jadi aku membawamu ke sini."

Jaejoong memeriksa tubuhnya dan tempat tidur Yunho. "Lalu kau tidur di mana?"

"Aku tidur di sofa ruang depan. Wae?"

Jaejoong memandang Yunho keheranan. "Kau tidak tidur di sini? Kau… kau tidak melakukan apapun padaku?"

"Mwo?" Seketika wajah Yunho memerah. Dia membelalakkan matanya ke arah Jaejoong. "Memang aku melakukan apa?"

Jaejoong tertawa kecil. "Kau bodoh atau apa? Kupikir kau pasti mengambil kesempatan di saat aku tidak sadar, kan. Kau benar-benar tidak melakukan apa-apa padaku?"

"Kau lihat? Pakaianmu masih lengkap, kan. Kau tidak percaya padaku?"

Jaejoong mengerutkan alisnya. "Wae? Bukankah kaubilang kau mencintaiku?"

Yunho mendesah. "Jae, bukankah sudah pernah kukatakan padamu? Aku mencintaimu apa adanya, bukan dari indahnya tubuhmu. Aku tidak perlu menunjukkan cintaku dengan cara tidur denganmu. Lagipula aku tidak akan melakukan itu tanpa persetujuanmu."

Jaejoong tercengang mendengar ucapan Yunho. Baru kali ini dia mendengar seseorang mengatakan seperti itu padanya.

"Sekarang segeralah mandi. Kalau kau memang mau pulang… aku akan mengantarmu."

"Kaubilang… umm… kau mau aku tinggal di sini, kan?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

Yunho menghela nafas panjang. "Aku memang menawarimu begitu. Tapi kalau kau tidak bisa menerimanya, aku tidak bisa apa-apa lagi kan." Dalam hati dia bertekad akan mencari cara untuk menemukan bukti kejahatan keluarga Kim. Walaupun dia mengakui bahwa sekarang ini dia sama sekali tidak tahu bagaimana memulainya.

Jaejoong terdiam menatap Yunho. Tanpa sepatah katapun dia pergi mandi dan bersiap-siap.

Setengah jam kemudian mereka tiba di depan rumah Jaejoong.

"Kau mau kuantarkan masuk? Aku akan jelaskan pada appa mu kalau kau di rumahku semalam." tanya Yunho.

"Dia bukan appa ku." sahut Jaejoong dingin.

"Ne, maksudku Tuan Kim."

"Tidak perlu."

Yunho memandang Jaejoong dengan bimbang. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jaejoong di sana, tapi apa lagi yang bisa dia perbuat? "Kajja. Aku pulang dulu, Jae-ah." Dengan setengah hati dan rasa khawatir dia pergi dari rumah itu.

"Yunho-ah!"

Yunho yang baru saja menyeberang jalan raya seketika menoleh ke belakang. Dia terbelalak melihat Jaejoong sedang berlari ke arahnya. "J-Jae?"

Tanpa mempedulikan kendaraan yang lalu lalang, Jaejoong berlari melintasi jalan mengejar Yunho. Terdengar teriakan panik orang-orang termasuk Yunho yang melihat perbuatan nekad Jaejoong itu.

"Jae-ah!" teriak Yunho ketakutan saat melihat mobil melaju kencang yang dalam beberapa detik siap menyambar tubuh namja cantik itu.

###.

Kajja, chingudeul. mbosenin, ya? hehe... mian saya bnrn ga jago bikin adegan NC an, qiqiqi... apa ada pencerahan dr chingudeul? mind to review :D? gomawo.