CHAPTER 17

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, saya dtg lg. huaaa... lg2 saya ngucapin jeongmal gomawo bwt readers lama & baru yg nyempetin nge review, seneng bgt rasanya ^^. sblmnya mian kl chap lalu isinya kecelakaan doang. sbnrnya aslinya itu 2 chap, tp krn kependekan jd saya gabungin aja, hehe... krn kynya sbagian besar org kl melampiaskan emo itu dgn cara kebut2an, cm itu yg ada di pikiran saya wkt nulis, qiqi... dsni jaema emg orgnya aneh bin ekstrim, wakaka... jd perlu bantuan appa bwt menjinakkan (?). emg jaema smacem bom gt? haha... skrg krn br khabisan ide, jdnya saya critain khidupan yunjae nya dl ne :D. NC blm ada. saya msh nyari wangsit kok smp skrg blm turun2 jg LOL. tolong jgn bosen baca ne, chingudeul ^^.

###

"Jae-ah!"

Yunho berlari mencoba menarik Jaejoong. Tapi sebelum dia sempat menghampiri Jaejoong, mobil itu berhenti tepat waktu persis di sebelah namja cantik itu. Terdengar makian dari mulut si pengemudi, tapi Jaejoong sama sekali tidak mempedulikannya. Dia terus saja berlari ke arah Yunho. Begitu dia sampai di depan Yunho, Jaejoong meraih tangan Yunho yang menggapainya lalu mengatur nafasnya yang memburu. "Wae? Kenapa kau meninggalkanku?"

Yunho hanya terbelalak menatap Jaejoong. "J-Jae…"

"Kaubilang… kau mau menjaga dan melindungiku. Kenapa… kau malah pergi?" ucap Jaejoong dengan nafas tersengal-sengal.

"J-Jae… Kaubilang kau tidak mau tinggal denganku. Kaubilang kalau aku tidak punya uang…" ujar Yunho dengan suara gemetar. Dia tidak percaya dengan ucapan Jaejoong. Apa ini hanya mimpi?

"Aku tidak peduli… Kau sudah janji padaku… jadi kau harus menepatinya. Atau jangan-jangan… semua yang kaukatakan padaku tidak serius?"

Mata Yunho berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Seketika itu juga dia memeluk Jaejoong erat-erat. Dia tidak mempedulikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Segala perhatiannya kini tercurah pada namja cantik di pelukannya. "Jae-ah, terimakasih karena kau sudah memberiku kesempatan."

Jaejoong terkejut dengan tindakan Yunho yang tiba-tiba. Dia tidak bergerak, tapi di dalam hatinya dia tidak bisa menyangkal bahwa dia menginginkan sentuhan ini. Lengan Yunho yang memeluk tubuhnya membuatnya merasa aman dan tenang. Perlahan rasa hangat mulai mengisi hatinya. Dia melingkarkan lengannya ke leher Yunho membalas pelukannya.

Beberapa saat lamanya mereka tidak bergerak dari posisi itu, saling merasakan kehangatan tubuh masing-masing dan mendengarkan jantung mereka yang berdebar kencang. Mereka tidak peduli dengan keadaan di sekitar mereka. Mereka tidak peduli dengan tatapan jijik orang-orang ke arah mereka. Karena saat ini, di tempat ini yang ada hanyalah mereka berdua.

###

"Yunho-ah."

"Hum?"

Jaejoong tertawa kecil. "Aku lupa kalau aku masih meninggalkan motorku di Mirotic Club. Sekarang kita ke sana dulu ne?"

Yunho tersenyum. "Kajja."

Beberapa saat kemudian mereka tiba kembali di apartemen Yunho. Selama itu Yunho tak henti-hentinya menatap Jaejoong.

"Yunho-ah, wae? Kenapa kau terus melihatku seperti itu?" tanya Jaejoong mulai merasa tidak nyaman.

"A-aku masih tidak bisa percaya. Kenapa kau mau ikut denganku, Jae? A-apa aku bermimpi?"

Tiba-tiba Jaejoong mencubit lengan Yunho membuat Yunho mengaduh kesakitan.

Jaejoong tertawa kecil. "Sakit? Apa kau sudah bangun sekarang?"

Yunho tersenyum dan menatap Jaejoong dengan lembut. "Kenapa kau senekad itu? Tadi kau nyaris tertabrak mobil, Jae."

"Aku tidak takut tertabrak."

Yunho mendesah. Dia tidak berani membayangkan seandainya mobil itu tidak berhenti tepat waktu. "Jangan bilang begitu, Jae-ah."

Jaejoong tertawa kecil. "Kau lihat, aku tidak apa-apa kan? Aku hanya ingat tentang ajakanmu untuk tinggal di sini. Apa itu masih berlaku?"

"Tentu saja. Tapi aku bingung apa yang membuatmu berubah pikiran?"

"Selama ini kupikir… kupikir kau sama dengan mereka yang hanya mengincar tubuhku. Tapi entah kenapa, walau kuanggap semua ucapanmu bohong, aku terus saja memikirkannya. Lalu kupikir dengan memberitahumu yang sebenarnya, kau akan menyerah dan berhenti mengejarku. Tapi ternyata aku salah. Dan tadi pagi… aku baru menyadari… tidak seharusnya aku meragukan ucapanmu, Yunho-ah." ujar Jaejoong sambil menatap Yunho.

Yunho memandang Jaejoong dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa terharu mendengar ucapan itu. "Tapi apa kau sudah memikirkannya masak-masak? Maksudku, kau tahu, hidupku sangat sederhana. Aku hanya mampu tinggal di tempat sekecil ini. Selama ini kau hidup mewah dan berkecukupan. Apa kau tidak keberatan hidup bersamaku di sini?"

"Semua kebutuhanku memang terpenuhi. Tapi apa gunanya kalau aku sama sekali tidak menemukan kebahagiaan. Waktu kau memintaku keluar dari sana, aku tidak pernah mengira kau serius. Tapi sekarang aku sudah mengambil keputusan. Aku akan tinggal di sini."

"Apa kau serius, Jae? Kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu ini?"

Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam. "Aku tidak pernah merasa seserius ini selama hidupku, Yunho-ah."

Yunho menggenggam kedua tangan Jaejoong. "Terimakasih karena kau memberi kesempatan padaku. Terimakasih karena kau mau mempercayaiku."

Jaejoong tersenyum. Sejenak mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun. Seluruh isi hati tercurah melalui tatapan mata mereka terhadap satu sama lain.

###

"Pagi, Junsu."

Junsu menoleh dan memandang Yunho dan Jaejoong bergantian. Yunho heran melihat ekspresi Junsu yang aneh. Ekspresi yang belum pernah Yunho lihat selama bersahabat dengannya.

Junsu memaksakan diri tersenyum. "Pagi. Kalian berangkat bersama?"

Yunho mengangguk. Dia menoleh ke arah Jaejoong sekilas. "Junsu-ah, ada banyak sekali yang ingin kuceritakan. Kapan kau ada waktu?"

Junsu memalingkan wajah dari Yunho. "Umm… aku masih sibuk hari-hari ini."

"Oh, kalau begitu mungkin lain kali saja." ujar Yunho sedikit kecewa.

Junsu meninggalkan mereka berdua menuju ke kursinya. Yunho memandang Junsu dengan heran. Kenapa dia merasa sepertinya Junsu menghindarinya?

###

Jam usai sekolah berbunyi. Yunho dan Jaejoong berjalan menuju pintu gerbang.

"Jae-ah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"Ke mana?"

"Sudahlah, kau ikut saja." ujar Yunho tersenyum sambil menggandeng Jaejoong.

Yunho mengajak Jaejoong ke pasar tradisional. Jaejoong memandang sekeliling pasar yang ramai itu dengan bingung.

"Kau belum pernah ke sini, kan? Di sini kita bisa berbelanja apapun dengan harga yang lebih murah daripada di toko."

Mereka berkeliling membeli beberapa bahan makanan dan barang keperluan Jaejoong. Yunho tersenyum saat melihat Jaejoong yang terus menoleh ke kanan kiri penuh rasa ingin tahu. Sepertinya Jaejoong menyukai tempat itu. Walaupun terlihat sempit, tapi semua barang tersedia lengkap di sana. Memang bukan barang mewah seperti yang ada di mall. Tapi Jaejoong merasa tertarik dengan hal baru yang belum pernah dilihatnya.

Setibanya kembali di apartemen, Yunho membawa bahan makanan ke dapur. Jaejoong membereskan dan menata barang-barang yang tadi dibelinya lalu menyusul Yunho.

"Kau sedang apa?"

"Aku sedang memasak sup kimchi untuk makan malam kita nanti."

"Kau memang suka memasak, ya?"

Yunho tertawa kecil. "Sebenarnya aku tidak ada bakat memasak. Tapi kau tahu, aku tinggal sendirian di sini. Tidak mungkin aku terus-menerus membeli makanan di luar, kan."

"Umm… apa kau mau mengajariku?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

"Mwo? Kau mau memasak juga? Tidak usah, Jae-ah. Nanti kau capek."

"Ayolah, Yunho. Aku tinggal di sini saja sudah membebanimu. Aku tidak mau hanya berdiam diri sementara kau sibuk bekerja. Aku tidak mau merepotkanmu lagi. Jadi kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja ne?"

"Jae-ah, kau tidak pernah menjadi beban untukku. Kau tahu? Aku sudah cukup bahagia karena kau mau percaya padaku. Aku tidak menuntut apapun darimu, Jae-ah."

"Tapi aku tidak bisa seperti itu. Aku ingin bisa membantumu." ujar Jaejoong bersikeras.

Yunho menghela nafas. "Kajja. Tapi sudah kuperingatkan padamu. Aku bukan pemasak handal. Jadi aku tidak bertanggung jawab kalau masakanku tidak enak."

Jaejoong tertawa. "Kajja. Kajja."

Yunho mulai mengajari Jaejoong. Ruang dapur yang kecil itu seketika menjadi ramai. Sesekali tawa mereka memenuhi dapur itu. Yunho menatap Jaejoong yang sedang mengaduk sup. Dia lega karena akhirnya Jaejoong mau membuka diri untuknya. Melihat Jaejoong tertawa seperti itu saja sudah membuat hati Yunho terasa hangat dan bahagia. Kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

"Ommo…" Jaejoong terkejut saat Yunho tiba-tiba saja mengoleskan minyak ke pipinya. Dia menoleh ke arah Yunho yang tertawa-tawa. Tanpa pikir panjang Jaejoong mengambil tepung di dekatnya dan mengusapkannya ke wajah Yunho. "Yah!"

Jaejoong tertawa dan berlari menjauhi Yunho yang mengejarnya. Mereka berkejar-kejaran sambil tertawa-tawa. Jaejoong tidak memperhatikan langkahnya ketika dia merasakan kakinya tersandung kaki meja. Dia terkejut dan tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

"Jaejoong-ah!" Dengan cepat Yunho menangkap tubuh Jaejoong yang hampir terjatuh. Dia meraih pinggang Jaejoong membuat namja cantik itu membalikkan tubuh mencoba berpegangan padanya. Mereka bertatapan selama beberapa saat dengan nafas tersengal-sengal. Semenit kemudian Yunho melepaskan tangannya dari Jaejoong.

"Mi-mianhae." ujarnya. Dia tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba saja dia merasakan pipinya memanas. Dia memalingkan wajahnya tidak berani menatap Jaejoong.

Wajah Jaejoong tidak kalah memerahnya dari Yunho. Dia tidak mengerti mengapa dia mendadak salah tingkah di depan Yunho seperti ini. "Umm… kurasa supnya sudah hampir matang." ujarnya sambil mendekat ke kompor. Yunho dengan wajah malunya berjalan mengikuti Jaejoong.

###

Sesudah makan malam, kedua namja itu pergi ke rumah Jaejoong. Kebetulan Tuan dan Nyonya Kim sedang pergi, jadi mereka menggunakan kesempatan itu untuk mengambil pakaian Jaejoong.

"Kau tunggu saja di luar sini. Jangan sampai pembantuku tahu kalau aku bersamamu."

Yunho memandang Jaejoong dengan ragu-ragu. "Benarkah tidak apa-apa?"

"Ne. Aku mau masuk dulu." ujar Jaejoong lalu menekan bel.

"Tuan muda Jaejoong. Tuan ke mana saja?" tanya Eun Mi dengan khawatir begitu membuka pintu.

Jaejoong tidak menjawab pertanyaannya. Dia langsung berjalan menuju kamarnya dan mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Eun Mi yang mengikuti Jaejoong memperhatikan tindakannya dengan kebingungan.

"Tuan mau ke mana?"

Jaejoong masih saja tidak menjawab. Dia masih saja melanjutkan apa yang sedang dia lakukan. Setelah selesai mengosongkan isi kamarnya, dia menoleh ke arah Eun Mi. "Aku akan pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi. Jadi jangan pernah mencariku."

Mata Eun Mi berkaca-kaca. Seketika dia menggenggam tangan Jaejoong. "Pergilah, tuan. Pergilah sejauh mungkin." Jaejoong tertegun menatap pembantunya itu.

Eun Mi terisak. "Jeongmal mianhae. Selama ini saya sudah banyak melihat tuan Jaejoong menderita tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya takut Tuan Kim akan marah dan memecat saya. Padahal di dalam hati saya sangat membenci perbuatan mereka. Mereka tidak punya perasaan. Maafkan saya yang tidak berani melawan Tuan Kim. Pergilah tuan, jangan sampai mereka menemukan tuan. Tuan pantas mendapatkan kebahagiaan."

Jaejoong memandang Eun Mi dengan mata berkaca-kaca. "Gomawo, Eun Mi. Selama ini kau selalu baik dan membantuku. Kau tidak pernah jahat padaku. Aku sudah cukup bahagia. Selamat tinggal, Eun Mi. Jaga dirimu baik-baik."

Eun Mi mengangguk-angguk sambil terus menangis. Sebelum keluar Jaejoong mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang sudah ditinggalinya selama belasan tahun itu.

###

Malam itu Yunho membereskan tempat tidurnya untuk Jaejoong.

"Jae-ah, kau tidur di kamar ini ne? Selamat malam." ujar Yunho lalu berjalan keluar kamar.

"Yah."Yunho membalikkan tubuhnya. "Umm… kau mau tidur di mana?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

"Aku tidur di sofa depan."

"Aku saja yang tidur di sofa. Yunho-ah, tempat tidur ini milikmu. Aku kan hanya menumpang di sini."

"Ani. Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sana, Jae-ah. Di sana dingin. Aku tidak mau kau sakit."

"Tapi…"

"Sudahlah. Dengarkanlah kata-kataku. Aku tidak pernah menganggapmu menumpang. Aku mau berbagi apartemen ini denganmu. Jadi semua yang ada di sini milikmu juga. Kau tidak perlu sungkan ne?"

Jaejoong menggigit bibirnya. "Tapi aku juga tidak mau kau sakit. Umm… kenapa… kenapa kau tidak tidur di sini juga?" Jaejoong merasakan pipinya panas oleh kata-katanya sendiri.

Wajah Yunho memerah mendengar ucapan Jaejoong. "Umm… mana mungkin. Kau lihat kan, tempat tidurnya hanya satu."

"N-ne, benar juga." Jaejoong memandangi Yunho dengan salah tingkah. Sebenarnya dia ingin menawari Yunho berbagi tempat tidur dengannya jadi Yunho tidak perlu tidur di sofa. Tapi entah kenapa dia merasa malu mengatakannya. Dia heran kenapa dia bisa secanggung ini di depan Yunho. Dia merasa tidak mengenal dirinya sendiri.

Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ka-kalau begitu, aku keluar dulu. Selamat malam, Jae-ah." ujarnya lalu keluar dari kamar itu dan menuju sofa.

Sebenarnya dia mengerti maksud Jaejoong. Jaejoong sudah berkali-kali ke sana. Mana mungkin dia tidak tahu bahwa ranjang Yunho hanya satu. Dia hanya merasa tidak nyaman berada satu ranjang dengan Jaejoong. Dia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya jika ada di dekat namja cantik itu. Dia tidak tahu pasti bagaimana perasaan Jaejoong padanya. Dia menyadari betapa sulitnya mendapatkan kepercayaan Jaejoong, jadi dia tidak mau semua itu rusak jika dia sampai berbuat macam-macam terhadap Jaejoong.

Sudah beberapa jam Jaejoong membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Segala hal memenuhi pikirannya. Dia turun dari tempat tidur dan perlahan membuka pintu kamar. Dia melihat Yunho yang tidur meringkuk di sofa sambil memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Jaejoong mendesah, merasa tidak enak hati melihat Yunho seperti itu. Dia mengambil selimut dari tempat tidur dan mendekati Yunho.

Perlahan dia menyelimuti tubuh Yunho, berusaha untuk tidak membuat namja itu terbangun. Entah apa yang terlintas di pikirannya, tiba-tiba saja dia berlutut dan memperhatikan Yunho yang sedang tidur pulas. Dia tidak tahu kenapa tapi dia mulai merasa tertarik dan tanpa sadar dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Yunho.

"Umm…"

"Eh?" Jaejoong terkejut ketika tiba-tiba kedua lengan Yunho melingkari tubuhnya dan menariknya ke sofa. Dia menahan nafas melihat posisinya sekarang yang ada di atas Yunho. Dia melihat wajah Yunho yang begitu dekat. Suara nafas Yunho yang teratur menandakan dia masih tidur. Bagaimana bisa Yunho tidak sadar dengan apa yang dilakukannya?

"Y-Yun…" bisik Jaejoong gemetar. Tapi Yunho tidak bangun oleh panggilannya, dia justru merasakan lengan Yunho yang memeluknya semakin erat membuat tubuhnya yang tegang menekan tubuh Yunho. Matanya membelalak ketika merasakan kaki Yunho yang membelit kakinya. Nafasnya mulai tidak beraturan, jantungnya berdebar kencang.

Jaejoong menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan diri dari Yunho. Ommo… kenapa tenaga Yunho yang sedang tidur ini begitu kuat? Dia berusaha keras menarik tubuhnya bangkit tanpa membangunkan Yunho.

"Aahh…" Jaejoong yang masih ada di pelukan Yunho terjatuh dari sofa. Tubuh mereka berdua mendarat di lantai dengan Yunho berada di atas Jaejoong. Seketika itu juga Yunho membuka matanya dan terbelalak melihat Jaejoong di bawahnya. Mereka saling berpandangan.

Beberapa saat kemudian Yunho menarik tubuhnya dari atas tubuh Jaejoong. "M-mianhae, mianhae, Jae-ah. Aku tidak sengaja. Aku tidak tahu apa yang kulakukan." teriaknya panik.

Jaejoong terduduk di lantai. Nafasnya masih tidak teratur. Debaran jantungnya masih terasa. Dia menatap Yunho dengan wajah memerah.

"Jae-ah, mianhae. Tolong jangan marah padaku. Jeongmal mianhae ne?" ujar Yunho dengan tatapan memohon.

Jaejoong tertawa dengan canggung. "G-gwenchana. Tadi kau sedang tidur, jadi tidak sadar dengan tindakanmu. Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya."

"K-kau tidak marah padaku? Jinja?"

Jaejoong menggeleng sambil tersenyum. Yunho menghela nafas lega.

"Tapi kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau tidur di dalam?"

"Umm… tadi aku bermaksud menyelimutimu karena kulihat kau kedinginan."

"Oh?" Yunho mengusap belakang kepalanya. "Tidak perlu, Jae-ah. Kaupakai saja selimut ini. Aku tidak apa-apa."

"Yunho-ah, kau lebih membutuhkannya. Aku sudah merasa hangat di dalam."

"Tapi…"

"Yunho-ah, aku sudah menuruti ucapanmu untuk tidur di ranjang. Sekarang aku memintamu untuk memakai selimut ini. Sekali ini kauturuti aku ne?"

Yunho terdiam beberapa saat. "Kajja kalau itu maumu."

Jaejoong tersenyum. "Ne. Selamat malam, Yunho-ah." ujarnya lalu kembali ke kamar.

Yunho memukul kepalanya sendiri. 'Mimpi apa aku, bisa-bisanya melakukan itu padanya? Kalau dia sampai marah, apa yang harus kuperbuat? Pabo Yunho!'

###

Pagi itu Yunho dan Jaejoong sedang menikmati sarapannya. Yunho tidak henti-hentinya melirik Jaejoong.

"Yunho-ah, wae?" tanya Jaejoong sambil menggigit rotinya.

"Umm…" ujar Yunho ragu-ragu. "Tentang semalam, aku benar-benar minta maaf."

Jaejoong mengalihkan wajahnya yang lagi-lagi memanas dari Yunho. Dia tidak marah pada Yunho. Dia justru merasa malu mengingat semalam dia nyaris saja mencuri ciuman Yunho. Hal yang tidak mungkin diceritakannya pada namja itu.

"Aku… aku tidak tahu kenapa kulakukan itu."

Jaejoong tersenyum. "Gwenchana. Aku mengerti. Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak marah padamu?"

"Aku takut… aku takut kau menganggapku sama dengan mereka. Bahwa aku mencari kesempatan untuk melakukan itu terhadapmu." ujar Yunho sambil menunduk.

"Aku percaya padamu, Yunho-ah."

"Eh?"

"Aku percaya kau tidak akan melakukannya. Karena aku tahu kau mencintaiku dan menghargaiku. Kau tidak memandangku rendah sesudah semua yang kulakukan padamu. Aku percaya, kalau tidak mana mungkin aku mau tinggal di sini bersamamu."

Yunho memandang Jaejoong dengan terharu. Dia menggenggam tangan Jaejoong. "Anggapanku padamu sejak dulu sampai sekarang tidak berubah, Jaejoong-ah. Walau apapun yang sudah kaulakukan, aku tidak pernah membencimu. Kau pantas untuk dicintai dan dihargai."

Mata Jaejoong berkaca-kaca mendengar ucapan Yunho.

"Ayo kita berangkat sekolah sekarang." ujar Yunho sambil tersenyum.

###

Seminggu sudah sejak Jaejoong pindah ke apartemen Yunho. Jaejoong tidak menyesali keputusannya pergi dari rumah itu. Saat ini dia menikmati kebersamaannya dengan Yunho. Hidup Yunho begitu sederhana, tapi dia selalu tersenyum bahagia dan penuh semangat. Itu benar-benar membuatnya kagum pada namja itu. Apartemen yang agak sempit yang sangat jauh jika dibandingkan dengan rumahnya, tapi selalu memberi kehangatan baginya.

Malam itu Yunho dan Jaejoong berjalan-jalan di dekat apartemen Yunho. Sinar bulan purnama menerangi setiap jalan yang mereka lewati. Udara malam yang sejuk membelai tubuh mereka. Yunho membawa Jaejoong ke taman yang terletak beberapa meter dari apartemen.

Jaejoong terpesona menatap pemandangan di depannya. Walaupun hanya ada sedikit cahaya dari lampu taman, dia bisa melihat dengan jelas. Hamparan bunga berwarna-warni yang tersusun rapi di sekelilingnya dengan kolam kecil di tengah-tengah membuatnya terpukau. Dia merebahkan tubuhnya di rumput. Yunho berbaring di sebelahnya. Beberapa lama mereka tenggelam dalam kesunyian, menatap bintang-bintang dan mendengarkan suara hewan-hewan kecil di sana.

"Dulu aku sering diajak mereka ke taman dekat rumah. Aku ingat aku suka sekali melihat kunang-kunang. Kadang aku menangkap mereka dengan plastik lalu melepaskan mereka di rumahku. Rumahku yang gelap menjadi terang karena mereka. Kejadian yang sudah lama sekali. Aku juga sudah tidak ingat persis. Karena mereka membawaku ke rumah neraka itu waktu umurku 5 tahun. Sejak itu aku terkurung di sana dan tidak bisa ke taman lagi."

Yunho menoleh ke arah Jaejoong dan memperhatikannya. Wajah Jaejoong masih sama, tanpa ekspresi seperti sebelumnya. Usia 5 tahun? Selama itukah Jaejoong memendam penderitaannya?

"Umm… apa kau masih bertemu mereka sesudah itu?"

Jaejoong tertawa kecil. "Mereka tidak pernah menemuiku lagi. Padahal terakhir kali mereka bilang, mereka akan sering datang. Aku masih ingat persis kejadian dan semua yang mereka katakan hari itu. Mereka penipu, tidak bisa dipercaya."

"Jae, mereka orangtuamu…"

"Mereka bukan orangtuaku!" sahut Jaejoong dingin.

"Eh?"

"Aku tidak pernah menganggap mereka sebagai orangtuaku. Mereka hanyalah orang asing yang kebetulan saja melahirkanku. Aku saja sudah lupa wajah mereka."

"Kau jangan bicara seperti itu tentang mereka. Walau bagaimanapun mereka tetap orangtua kandungmu. Kau tidak tahu kan alasan di balik ini?"

Jaejoong menatap Yunho dengan mata berkilat marah. "Orangtua macam apa yang tega membuang anak kandungnya walau dengan alasan apapun? Aku tidak peduli dengan mereka. Sejak mereka meninggalkanku, kuanggap mereka sudah mati!"

"Jae…"

Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Yunho. "Sudahlah. Aku menyesal menceritakan tentang mereka. Bisakah kita mengganti topik pembicaraan?"

Yunho menarik nafas panjang. "Jae-ah, kau percaya padaku kan? Kumohon dengarkan aku sebentar ne?" Tidak ada sahutan dari Jaejoong.

"Aku tahu kau sangat membenci mereka. Aku juga tidak mau membenarkan perbuatan mereka. Setiap orangtua tidak berhak membuang anaknya seperti itu. Tapi apa kau pernah sekalipun berpikir dari sudut pandang mereka?"

"Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan mereka atau bagaimana sudut pandang mereka. Jelas-jelas mereka membenciku dengan alasan yang tidak aku tahu." sahut Jaejoong dingin.

"Jae-ah, tidak ada orangtua yang rela memberikan anaknya kecuali dalam keadaan yang sangat terdesak sampai mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin kondisi ekonomi mereka begitu sulit, padahal mereka masih memiliki kau yang masih kecil. Mereka ingin kau bisa hidup seperti anak-anak lain yang berkecukupan dan bisa bersekolah tinggi. Tapi mereka tidak bisa melakukannya. Mereka tidak bisa membahagiakan anak yang mereka sayangi. Apa kau memahami kesedihan mereka? Lalu mereka bertemu keluarga Kim. Dan mereka melihat itu sebagai kesempatan."

"Tapi mereka mendapatkan uang dengan memberikanku pada dua orang Kim itu. Mereka sudah melemparku ke sarang serigala." tukas Jaejoong.

"Apa mereka tahu kalau keluarga Kim itu jahat? Kurasa tidak. Kalau seandainya mereka tahu, tidak mungkin mereka akan melakukan itu berapapun imbalannya. Selama ini orang-orang selalu berpikir bahwa kalian adalah keluarga yang bahagia. Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya kau menderita di dalam sana."

Jaejoong memejamkan matanya ketika rasa sakit di hatinya mulai muncul.

"Aku mengerti perasaanmu. Aku tentu tidak bisa memintamu memaafkan mereka. Tapi kau sudah tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Untuk apa kau terus membenci mereka? Apa gunanya kau terus menyimpan dendam pada orang yang tidak pernah kautemui? Lepaskan rasa benci dan sakit hatimu. Dengan begitu hidupmu akan terasa ringan dan bahagia.

Jaejoong-ah, tidak semua orang itu jahat seperti yang kaupikirkan. Kau hanya perlu percaya pada orang-orang yang tepat dan memberi kesempatan pada mereka untuk membantumu. Jangan simpan beban berat di hatimu sendirian. Kau lihat, hidup ini indah kalau kau mau membuka dirimu untuk orang lain dan menghargai mereka.

Aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu menemanimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadi kumohon biarkanlah aku menanggung sebagian bebanmu, Jae-ah. Walau seberat apapun aku ingin bisa menjadi sandaranmu. Kalau bisa melihatmu tertawa bahagia, aku juga akan bahagia."

Jaejoong menatap dalam mata Yunho. Kata-kata Yunho yang lembut menenangkan hatinya. Perasaan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Yunho yang selama ini dipandangnya rendah ternyata bisa menghilangkan segala keangkuhannya. Yunholah yang bisa menumbuhkan kepercayaannya pada orang lain. Yunholah yang bisa meyakinkannya bahwa seberat apapun penderitaannya dia tetap harus menghargai hidup. Juga seburuk apapun perbuatan yang pernah dilakukannya, dia masih pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan Yunholah yang pertama kali menumbuhkan perasaan istimewa di hatinya. Apa ini yang dinamakan perasaan cinta yang sesungguhnya?

Yunho menatap wajah cantik Jaejoong yang selalu membuatnya terpesona. Tanpa disadarinya dia mendekati tubuh Jaejoong dan mengusap rambut hitamnya, memainkan poni yang menutupi matanya. Beberapa saat lamanya mereka berpandangan dan melupakan keadaan di sekeliling mereka. Jaejoong menatap wajah Yunho yang begitu dekat. Yunho terlihat sangat tampan di matanya. Mata sipitnya yang begitu teduh, hidung mancungnya, garis rahangnya yang tegas, bibir bentuk hatinya yang selalu tersenyum tulus pada setiap orang. Pantas saja semua orang menyukainya. Jaejoong heran, kenapa baru sekarang dia menyadari itu semua?

Tanpa disadarinya kedua lengan Jaejoong sudah melingkar ke leher Yunho dan menariknya. Jantung Yunho berdebar kencang ketika bibir mereka semakin dekat dan akhirnya bertemu. Untuk sesaat Yunho tidak bisa berpikir jernih. Dia memejamkan matanya dan mulai menelusuri bibir Jaejoong.

Jaejoong memejamkan mata, merasakan gerakan bibir Yunho di bibirnya. Ciuman Yunho begitu lembut, berbeda dengan orang-orang yang pernah menciumnya. Ciuman mereka penuh nafsu, yang tidak memberikan pengaruh apapun baginya. Jauh di dasar hatinya dia tidak pernah menikmati setiap ciuman itu. Tapi dari sentuhan Yunho dia bisa merasakan besarnya cinta Yunho, membuatnya merasa dihargai dan dilindungi. Dia menarik Yunho memperdalam ciuman mereka. Betapa dia ingin waktu berhenti. Betapa dia tidak ingin saat-saat seperti ini berakhir.

###

Hehe... gmn khidupan rumah tangga (?) yunjae? ga romantis, ya? hehe... mian krn pengalaman saya minim di bidang ini LOL. mohon review ne, chingudeul ~bow 90 drajat~. gomawo :D.