CHAPTER 18

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul. saya seneng bgt trnyata chingudeul pd menikmati yunjae moment nya ^^. ini Mr & Mrs Kim saya munculin lg, critanya nih mrk br pulang dr acara bisnis di luar kota. ya, biar yunjae sempet romantis2an bntr, qiqi... kl ttg ortu kandung jaema terus terang smp skrg saya blm kpikiran mau bkin critanya krn saya br pusing mikirin ending, hikz... maafkan saya. saya usahain di tiap chap ada adegan romantis, smoga :D. kl yoona mgkn bkl muncul bntr bsk2 tp entah di chap yg ke brp, hehe... bwt unnie yg nanyain nasib yoosu, mian blm wktunya mrk beraksi, kekeke... mian ^^. kl di dunia maya saya biasa dipanggil Lin aja :D.

###

"Apa ada yang mencariku selama kami pergi?" tanya Tuan Kim ketika memasuki rumah besarnya dengan Nyonya Kim.

"Ti-tidak ada, Tuan." jawab Eun Mi dengan tegang.

Tuan Kim menoleh ke sekeliling. "Di mana Jaejoong?"

"Tuan Jaejoong, umm…"

"Yah, aku sedang bertanya padamu di mana Jaejoong?!" tanya Tuan Kim dengan nada meninggi.

Eun Mi menarik nafas dalam-dalam. Cepat atau lambat kepergian Jaejoong pasti akan ketahuan. "Tuan Jaejoong pergi."

Tuan dan Nyonya Kim membelalak menatap yeojya itu. "Sudah semalam ini dia belum pulang?! Sejak kapan?" teriak Nyonya Kim.

"Sa-saya tidak tahu, Nyonya. Dia tidak bilang apa-apa." jawab Eun Mi dengan suara gemetarnya.

Mereka menangkap adanya keanehan dari sikap pembantunya itu. Tuan Kim segera memasuki kamar Jaejoong diikuti Nyonya Kim dan Eun Mi. Di sana hanya ada ranjang dan meja yang kosong. Dia membuka lemari pakaian yang juga sudah kosong dan itu membuatnya semakin marah. Dia menggebrak meja penuh emosi. "Jangan bilang dia kabur. Kenapa kau tidak memberitahu kami, huh?!"

Tubuh Eun Mi gemetar ketakutan. "Maaf, maaf Tuan. Tuan Jaejoong tidak pernah pulang. Mungkin sekarang dia sudah berada jauh dari sini." jawabnya. Dalam hati dia berdoa semoga tuannya itu tidak mencari Jaejoong. Tapi harapannya sepertinya sia-sia saja.

Tuan Kim kembali ke ruang depan dan mengambil ponselnya menelepon seseorang. "Cepat kau ke sini sekarang juga."

Beberapa saat kemudian asistennya datang dengan tergesa-gesa. "Ada apa, Tuan?"

"Jaejoong kabur. Aku minta kau mencarinya sekarang juga. Di manapun dia berada sekarang ini, kau harus bisa membawanya pulang." perintah Tuan Kim.

"Ne." Namja itu membungkuk ke arah Tuan Kim dan berjalan keluar.

"Yah! Rahasiakan ini dari orang-orang termasuk rekan kerjaku. Aku tidak mau mendapat malu kalau mereka sampai tahu hal ini. Anak sialan itu sudah banyak membuat aib keluarga selama ini. Arasseo?"

"Ne. Arasseo."

Tuan Kim menoleh ke arah Eun Mi. "Kenapa kau masih di sini?"

"Eh?" Eun Mi memandang Tuan Kim dengan kebingungan.

"Cepat kemasi barangmu dan pergi dari sini!" sahut Tuan Kim dingin.

Eun Mi membelalak tidak percaya. "Maaf, Tuan?"

"Kau tidak mendengar perkataanku?! Berani-beraninya kau menutupi ini dari kami. Kau pikir kau siapa, huh?!" bentak Tuan Kim.

Eun Mi menatap Nyonya Kim dengan matanya yang berkaca-kaca memohon belas kasihannya.

Nyonya Kim memutar bola matanya. "Kau sudah mendengar jelas perkataan Tuan Kim. Apa perlu kuulangi? Kuberi waktu setengah jam untuk berkemas. Kau tidak berharap aku menyeretmu keluar, kan?"

Eun Mi menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis. Dia sudah beberapa tahun melayani mereka. Dia masih tidak bisa percaya mereka mengusirnya seperti ini. "Saya akan mengemasi barang-barang sekarang. Terimakasih Tuan dan Nyonya Kim sudah mau menerima saya selama ini. Permisi." ujarnya lalu pergi ke kamarnya.

###

"Junsu-ah." Junsu menoleh ke asal suara.

"Kau ada waktu? Ayo kita makan siang sekarang." ajak Yunho.

Junsu ragu-ragu. "Tapi sebenarnya aku…"

"Ayolah, sebentar saja. Sudah lama aku ingin mengobrol denganmu tapi kau selalu tidak ada waktu. Akan kutraktir kau." Yunho langsung menarik tangan sahabatnya tanpa memberi kesempatan padanya untuk menolak.

Junsu POV

Kupandangi Yunho dan Jaejoong yang duduk di depanku. Sikap Yunho yang lembut dan perhatian terhadap Jaejoong, kini aku bisa merasakan perbedaannya dengan saat dia bersama Yoona. Belum pernah kulihat wajah Yunho yang sebahagia ini. Kuperhatikan sinar mata Jaejoong setiap kali dia menatap Yunho, sinar mata yang belum pernah kulihat darinya waktu menatap orang lain termasuk aku, itu membuatku sakit dan menghilangkan nafsu makanku.

Aku tidak tahu kenapa aku ingin selalu menghindari mereka. Sejak dulu aku memang sudah sering melihat mereka bersama. Aku sudah memperkirakan perasaan Yunho terhadap Jaejoong, dan ternyata itu benar. Tapi aku tidak pernah mengira hubungan mereka berlanjut seperti ini. Jaejoong yang sekarang tampak berbeda dengan Jaejoong yang kukenal selama ini. Sahabatku bersama dengan orang yang kucintai. Apa aku hanya tidak bisa menerima kenyataan ini? Aku mencintainya, dan seharusnya aku bahagia karena sahabatku bisa mengubahnya. Aku sangat mengenal Yunho. Aku yakin Yunho akan bisa menjaganya. Jadi aku seharusnya tidak perlu khawatir, kan?

End of POV

Yunho menyadari suasana canggung diantara Jaejoong dan Junsu. Dia menghela nafas panjang. Begitu besarnya rasa benci Junsu pada Jaejoong. Dia tidak tahu apakah dia bisa membuat Junsu memaafkan Jaejoong.

"Junsu-ah, wae?" Junsu tersadar dari lamunannya lalu memandang Yunho.

Yunho tertawa kecil. "Kau biasanya suka sekali cumi-cumi, kan? Jangan bilang kau sudah kenyang karena aku tahu kau tidak pernah sempat sarapan di rumah."

Junsu memaksakan dirinya tersenyum. "Ne. Aku baru mau makan. Omong-omong dalam rangka apa kau mentraktirku?"

Yunho mengetuk kepala Junsu. "Yah, seharusnya kau berterimakasih. Kau saja hampir tidak pernah memasak untukku." Yunho menoleh ke arah Jaejoong. "Jae-ah, apa kau tahu? Junsu ini jago memasak, walaupun hanya nasi goreng yang bisa dibuatnya."

"Yah!" Junsu memukul Yunho yang tertawa-tawa. Jaejoong hanya tersenyum memandangi mereka berdua.

"Kau bilang kau ingin belajar memasak, kan? Seharusnya kau berguru pada orang yang tepat." ujar Yunho sambil melirik Junsu. Dilihatnya ekspresi sahabatnya itu langsung berubah.

Jaejoong tersenyum. "Benarkah? Aku saja tidak tahu bahan-bahan nasi goreng. Yunho bilang kalau kau sedang sibuk dengan penelitianmu. Lain kali kalau kau sempat, kau tidak keberatan kan mengajariku?"

Mendadak Junsu menjadi salah tingkah. Dia tidak berani menatap Jaejoong. "N-ne. Tentu saja aku tidak keberatan."

Yunho menghela nafas lega melihat mereka mulai mengobrol walaupun masih kaku. Semoga hubungan mereka bisa membaik setelah ini. Dia bahagia karena Jaejoong benar-benar sudah berubah.

Jaejoong mengarahkan pandangannya ke sekeliling kafe. "Omong-omong sudah lama aku tidak melihat Yoochun. Ke mana dia?"

Junsu terkejut mendengar ucapan Jaejoong. Jadi mereka belum mendengar berita tentang Yoochun? "Umm… Yoochun sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Dia mengalami kecelakaan."

Mata Jaejoong terbelalak. "Mwo? Aku belum tahu berita itu."

"Ne. Aku yang kebetulan menemukannya waktu itu. Aku langsung membawanya ke rumah sakit."

"Apa sepulang sekolah nanti kau ada waktu? Aku ingin menjenguknya. Antarkan kami ke sana ne?" ujar Yunho.

"Tapi aku…"

"Tolong, Junsu-ah. Kami tidak tahu di ruang mana dia dirawat. Kau mau menemani kami sebentar, kan?"

Junsu menghela nafas panjang. "Kajja. Tapi sebentar saja ne? Karena aku ada janji dengan temanku."

Yunho mengangguk-angguk sambil tersenyum puas.

###

Sepulang sekolah Yunho, Jaejoong, dan Junsu berjalan ke pintu gerbang. Tiba-tiba Jaejoong berhenti, matanya terbelalak menatap dua namja yang berdiri di sana. Dengan cepat Jaejoong menarik tangan Yunho dan bersembunyi di balik tembok. Junsu terkejut, dengan segera mengikuti mereka. "Ada apa?"

"Itu pesuruh si marga Kim. Rupanya mereka sudah kembali. Mereka pasti mencariku sekarang."

Mereka memperhatikan kedua orang itu dengan tegang. Mereka berjalan bolak-balik di depan gerbang sambil terus menoleh ke dalam sekolah. Salah satu namja sibuk dengan ponselnya. Mungkin dia sedang menghubungi Tuan Kim. Entah berapa lama mereka menunggu, akhirnya kedua namja itu pergi juga.

Jaejoong menghela nafas lega. "Kita sudah aman sekarang."

Mereka keluar dari tempat persembunyian. Yunho menatap Jaejoong dengan tegang. Keluarga Kim sudah kembali. Tentu mereka tidak akan sebebas seperti sebelumnya. Sebelum mereka menemukan Jaejoong, mereka pasti tidak akan berhenti. Dia sudah nekad mencari masalah dengan keluarga Kim. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dialami mereka lain kali.

###

Yoochun menatap tiga namja di depannya tanpa ekspresi. Saat itu perasaannya benar-benar campur aduk. Dia tidak tahu apakah harus bahagia, sedih, atau marah.

"Umm… bagaimana keadaanmu, Yoochun?" tanya Junsu mengawali pembicaraan. Dia menyadari betapa canggungnya suasana diantara mereka.

"Aku sudah merasa lebih baik. Mungkin minggu depan aku sudah diperbolehkan pulang." jawab Yoochun. Pandangannya tidak pernah terlepas dari Jaejoong.

"Mianhae, kami baru mengunjungimu sekarang. Kami tidak tahu kau sakit." ujar Yunho. Dia gelisah, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Rasa bersalah karena dia memukuli Yoochun waktu itu memenuhi pikirannya.

Yoochun memaksakan dirinya tersenyum. "Gwenchana. Gomawo, kalian sudah meluangkan waktu datang ke sini."

Beberapa saat lamanya kesunyian memenuhi ruangan itu. Mereka tidak tahu bagaimana melanjutkan pembicaraan.

"Umm… Junsu-ah, tadi umma ku menelepon. Aku diminta menjenguk saudara yang kebetulan dirawat di sini juga. Kau mau menemaniku sekarang?" tanya Yunho.

Junsu memandang Yunho dengan heran. "Mwo?"

"Ayo kita harus cepat sebelum jam besuk habis. Jae, Yoochun, kami keluar sebentar ne?" ujar Yunho sambil menarik tangan Junsu pergi.

"Setahuku kau tidak punya saudara yang tinggal di Seoul, Yunho-ah. Apa maksudmu?" tanya Junsu kebingungan sesudah mereka keluar kamar.

"Sshh… Aku hanya ingin membiarkan mereka berdua. Pasti ada yang ingin mereka bicarakan. Kau mengertilah sedikit, Junsu-ah."

Junsu hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yunho. Yunho teringat kejadian mereka terakhir di pub saat Jaejoong membentak dan mengusir Yoochun lalu sesudah itu dia tidak pernah melihat mereka berkomunikasi. Jaejoong bahkan tidak tahu Yoochun dirawat di rumah sakit. Dia berpikir dia perlu memberikan waktu pada mereka untuk berbicara.

###

Jaejoong duduk di sebelah Yoochun. "Benarkah kau sudah tidak apa-apa? Kulihat kau masih lemah."

Yoochun tersenyum. "Aku sudah merasa kuat. Aku bosan terus-menerus tidur di sini. Apa kau khawatir padaku, Jae-ah?"

"Pabo. Pertanyaan macam apa itu?" Jaejoong mendesah. "Yoochun-ah, mianhae. Aku sudah membentakmu waktu itu. Aku tidak bermaksud melakukannya. Kau sahabatku yang paling baik. Mianhae ne?"

Yoochun merasakan hatinya sakit mendengar kata sahabat dari mulut Jaejoong. Jaejoong memang hanya menganggapnya sahabat. Tidak pernah lebih dari itu. Dia memaksakan diri tersenyum. "Gwenchana. Aku sudah melupakannya, Jaejoong-ah."

"Kudengar kau sempat tidak sadar dan tulangmu patah. Wae, Yoochun-ah? Kenapa kau tidak hati-hati sampai luka separah ini?"

Yoochun menatap wajah Jaejoong. "Itu… karena aku memikirkanmu."

"Eh?"

"Jaejoong-ah, kau tahu? Selama ini aku selalu mencintaimu."

Jaejoong terpaku mendengar pengakuan tiba-tiba dari Yoochun. Beberapa saat dia tidak bisa berkata apapun.

"Tapi aku hanya bisa terus memendam perasaan ini. Aku sudah cukup bahagia kalau kau ada di dekatku. Mungkin aku terlalu takut kalau kau marah dan meninggalkanku. Aku benar-benar pengecut."

"Yoochun-ah…"

"Sekarang kuberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Tapi kurasa ini sudah terlambat. Benar, kan?"

Jaejoong memandang Yoochun dengan ragu-ragu. "Yoochun-ah..."

"Tidak perlu menjawab apapun, Jae-ah. Aku sudah tahu apa yang akan kaukatakan. Sekarang aku hanya bisa menyesali kebodohanku. Seharusnya dari dulu kukatakan tentang perasaanku ini. Mungkin masih ada harapan bagiku. Aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidupku kalau kau tidak ada, Jae-ah."

Jaejoong mendesah. Dia menggenggam tangan Yoochun. "Yoochun-ah, aku yakin setiap orang mempunyai pasangannya di dunia ini. Kau hanya belum menemukan waktu yang tepat. Kau orang yang baik. Aku yakin kau akan mendapatkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan apa adanya."

Yoochun terdiam. Baru kali ini dia mendengar ucapan seperti itu terlontar dari mulut Jaejoong. Jaejoong yang sekarang memang sudah berubah, dan itu semua karena Yunho.

"Kau benar-benar mencintainya? Kalau seandainya aku memohon satu kesempatan padamu, apakah kau mau memberikannya Jae-ah?" tanya Yoochun dengan penuh harap. Walaupun dia tahu jawaban Jaejoong akan menyakiti hatinya, dia tetap ingin mendengarnya langsung dari Jaejoong.

Jaejoong memandang Yoochun dengan menyesal. "Mianhae. Aku bukan orang yang seharusnya mendampingimu. Aku yakin kau akan segera bertemu dengannya, Yoochun-ah. Orang yang bisa mengerti dirimu. Orang yang pantas untuk kaucintai dan kaulindungi. Kau akan menemukannya… seperti aku menemukan Yunho."

Yoochun memaksakan diri tersenyum berusaha menekan sakit di hatinya. 'Aku tahu… Sejak dulu aku tahu kalau kau mempunyai perasaan khusus padanya. Aku tahu walau apapun yang kulakukan tidak akan bisa membawamu kembali. Aku tahu sejak dulu aku memang tidak pernah memiliki hatimu.' batinnya pahit.

###

"Kami pulang dulu, Yoochun-ah. Istirahatlah yang cukup. Semoga kau bisa segera pulang." ujar Junsu.

Yoochun mengangguk sambil tersenyum.

"Jae-ah, Junsu-ah, kalian tunggu aku di luar sebentar ne?" ujar Yunho.

Jaejoong dan Junsu menoleh ke arah Yunho sekilas lalu mengangguk. Mereka berjalan keluar ruangan.

Yunho menarik nafas dalam-dalam. "Yoochun, waktu itu aku sudah memukulmu. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranku. Aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu. Mianhae. Tolong jangan membenciku ne?"

Yoochun terdiam sejenak. "Gwenchana. Aku mengerti waktu itu kau sedang banyak pikiran. Aku juga minta maaf karena sudah kasar padamu."

Yunho menggeleng. "Aku tidak marah padamu. Yoochun, kuharap kita bisa berteman."

"Semoga kau dan Jaejoong bahagia. Jagalah dia baik-baik. Jangan sampai kau membuatnya sedih atau terluka." ujar Yoochun sambil menatap Yunho dengan serius.

"Eh?"

"Kalau kau sampai berani melakukan itu, aku akan mencarimu dan mematahkan kedua kakimu. Arasseo?"

Yunho tersenyum. "Arasseo. Aku akan selalu di sampingnya dan melindunginya. Kau bisa mempercayaiku."

"Kajja. Kuharap kau selalu menepati kata-katamu." Yoochun mendesah. "Aku begitu emosi setiap membayangkan keluarga Kim itu berbuat kasar padanya. Aku ingin mereka mendapat hukuman seberat-beratnya."

"Ne. Aku akan memikirkan bagaimana cara menangkap mereka. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi sejujurnya aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan." ujar Yunho lemah.

"Jangan khawatir, Yunho. Aku akan berusaha membantu mencari jalan keluarnya."

Yunho tersenyum lega. "Ne. Yoochun, jeongmal gomawo. Untuk bantuan yang akan kauberikan pada kami dan juga karena kau sudah memberiku kesempatan untuk menjaganya."

"Pabo." Yoochun memaksakan dirinya tersenyum.

"Aku pergi dulu, Yoochun." ujar Yunho lalu keluar meninggalkan Yoochun.

'Junsu benar. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Jadi aku hanya menyia-nyiakan hidupku kalau aku masih mengharapkannya, kan. Jaejoong-ah, apakah aku bisa menemukan penggantimu? Karena sampai sekarangpun, perasaanku padamu belum berubah.' batinnya pahit.

###

Sepulang dari rumah sakit mereka kembali ke sekolah. "Tunggu sebentar ne?" ujar Yunho lalu berlari ke kelasnya untuk mengambil bukunya yang tertinggal.

"Aku juga mau pergi dulu, Jaejoong." ujar Junsu.

"Junsu." Panggilan Jaejoong menghentikan langkah Junsu. Junsu membalikkan tubuhnya ke namja cantik itu.

"Umm… bisa aku bicara denganmu sebentar?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

Junsu terdiam sebentar lalu mengangguk.

Jaejoong menundukkan kepalanya. "Umm… aku mau minta maaf atas perbuatanku dulu. Aku sudah menyakiti hatimu. Aku sama sekali tidak punya perasaan. Mianhae ne?"

Junsu teringat percakapannya dengan Yunho di rumah sakit tadi. Yunho memintanya untuk memaafkan Jaejoong dan mau berteman dengannya. "Kejadian yang mana? Aku sudah melupakannya, Jaejoong."

"Eh?" Jaejoong mendongakkan kepalanya memandang Junsu.

"Kejadian dulu itu hanyalah kesalahan. Aku sudah tidak pernah memikirkannya lagi." ujar Junsu berusaha menunjukkan kesungguhan dari wajahnya.

Jaejoong terdiam sejenak lalu menghela nafas lega. "Aku menyesali perbuatanku selama ini. Aku takut kau masih marah padaku. Tapi aku lega mendengar ucapanmu sekarang. Tolong jangan membenciku ne?"

Junsu tertawa kecil. "Pabo. Itu hanya masa lalu yang seharusnya sudah kau lupakan. Jaejoong, bolehkah kuminta satu hal padamu? Jangan pernah ceritakan pada Yunho tentang itu. Kau mau berjanji padaku, kan?"

Jaejoong menatap Junsu lalu mengangguk. "Ne. Aku mengerti. Aku tidak akan menceritakan padanya."

"Gomawo. Jangan ulangi lagi kebiasaanmu ne? Aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Semoga kalian bisa mengatasi masalah ini bersama."

Jaejoong tersenyum lalu mengangguk.

'Mianhae, Jaejoong. Aku tidak mau kau tahu perasaanku yang sama sekali belum berubah terhadapmu. Tidak pernah sedikitpun aku melupakan kejadian waktu itu. Ketika aku benar-benar mencintai seseorang sepenuh hatiku. Kau adalah cinta pertamaku. Walaupun kukatakan, kau juga tidak akan pernah menjadi milikku. Aku juga tidak mau membuat Yunho merasa tidak enak dan akan mempengaruhi hubungan kalian. Jadi kupikir inilah yang terbaik. Aku berharap suatu saat nanti aku pasti bisa melupakanmu, Jaejoong.'

###

Pagi itu Yunho dan Jaejoong sedang menikmati sarapan mereka.

"Umm… Jae-ah, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Wae?"

"Umm… keluarga Kim sudah begitu jahat padamu, kan. Apa kau tidak berniat melaporkan mereka ke polisi?"

Beberapa saat Jaejoong terdiam mendengar ucapan Yunho. "Aku sangat membenci mereka. Sudah jelas aku ingin mereka dihukum. Tapi kupikir itu tidak ada gunanya."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Kau tahu mereka adalah orang yang kaya raya. Mereka bisa melakukan apa saja untuk menyembunyikan perbuatan bejatnya."

"Umm… apa tidak ada bukti atau saksi yang melihat kejadian itu? Seperti pembantu atau mungkin satpam di rumahmu, apa mereka mengetahuinya?"

"Semua orang di rumah tahu bagaimana cara mereka memperlakukanku. Tapi mereka tidak berani melakukan apa-apa. Jadi mereka merahasiakan semua itu dari orang luar."

Yunho mendesah merasakan begitu rumitnya persoalan ini. Dia khawatir jika Tuan Kim tidak ditangkap, dia akan terus mengejar Jaejoong.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Mereka saling berpandangan. Siapa kira-kira yang datang sepagi itu? Yunho membuka pintu dan melihat beberapa namja.

"Selamat pagi. Ada yang bisa…"

"Di mana tuan muda Jaejoong?"

"Eh?"

"Tuan Jaejoong tinggal di sini, kan?" tanya salah satu namja dengan tatapan tajam.

Yunho mulai merasakan tubuhnya yang gemetar. Bagaimana bisa mereka menemukan apartemennya? Dia berusaha menenangkan diri. "Mianhae. Kenapa anda mencarinya di sini? Bukankah seharusnya dia ada di rumahnya sendiri?"

"Jangan berpura-pura tidak tahu! Kausembunyikan di mana tuan Jaejoong, huh?!"

"Mianhae, tapi anda salah. Jaejoong tidak tinggal di sini." ujar Yunho berusaha mempertahankan diri.

Tanpa bicara namja itu mendorong Yunho dan menerobos masuk. Yunho terbelalak melihat mereka membuka setiap pintu ruangan yang ada dan mengobrak-abrik segala isinya. Kamar, dapur, kamar mandi, tidak ada satupun yang terlewatkan oleh mereka.

"A-apa yang kalian lakukan?" teriak Yunho sambil berusaha menghentikan mereka. Tapi salah satu namja mendorong Yunho dengan kasar lalu melanjutkan pekerjaannya. Dia membuka lemari dapur Yunho dan membanting barang-barang yang ada di sana ke lantai hingga pecah berserakan.

"Su-sudah saya bilang dia tidak ada di sini." ujar Yunho gemetar. Dalam sekejap apartemennya porak-poranda. Dia khawatir mereka akan menemukan Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak ada di manapun. Ke mana dia?

Setengah jam mereka mencari tanpa hasil. Salah satu namja mendekati Yunho dan mencengkeram krahnya. "Kausembunyikan ke mana tuan Jaejoong, huh?!"

"Kalian sudah mengobrak-abrik apartemen saya dan tidak menemukannya, kan. Berarti dia memang tidak ada di sini."

Namja itu menatap Yunho dengan tajam. "Setahuku kau tinggal sendiri. Tapi barang-barang yang ada sepertinya bukan milikmu saja. Perabotan di sini terlalu banyak untuk kaugunakan sendiri."

"Sa-saya…" Yunho kebingungan tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Aku membawa perintah dari Tuan Kim. Ini baru peringatan. Kalau dalam waktu dua hari tuan Jaejoong tidak kembali, Tuan Kim tidak akan segan lagi. Jadi pikirkan baik-baik sebelum kalian menyesal." ujarnya dingin lalu pergi diikuti namja yang lain.

Yunho memandangi ruangannya yang berantakan. Dia meremas rambutnya dengan frustrasi. Baru kali ini dia merasa ketakutan dan tidak berdaya. Seketika itu juga dia teringat Jaejoong.

"Jae-ah, Jae-ah." panggilnya sambil berlari mencari ke setiap ruangan.

'Pergi ke mana dia?' batinnya yang mulai cemas sambil mengedarkan pandangannya di kamar mandi. Tiba-tiba dia melihat jendelanya yang sedikit terbuka. 'Jae-ah?' Dengan segera dia membuka jendela itu dan menemukan Jaejoong duduk meringkuk di sana.

"Jae-ah!" panggil Yunho. Jaejoong menoleh ke arah Yunho. Wajahnya terlihat sedikit pucat.

"Mereka sudah pergi." ujar Yunho. Jaejoong menghela nafas lega. Yunho membantu Jaejoong masuk melalui jendela kecil itu.

"Kau tidak apa-apa? Apa mereka menyakitimu?" tanya Jaejoong khawatir.

Yunho tersenyum menenangkan Jaejoong. "Aku tidak…"

Tiba-tiba Yunho terkejut ketika Jaejoong memeluknya erat-erat. "Mianhae, mianhae, Yunho-ah. Seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam masalah ini. Seharusnya kuselesaikan semuanya sendiri."

Yunho tersenyum sambil mengusap-usap punggung Jaejoong. "Kau tidak perlu minta maaf. Ini keinginanku sendiri untuk membantumu."

Jaejoong melepaskan pelukannya dari Yunho. "Gara-gara aku, kau jadi mendapat kesulitan. Aku hanya menjadi beban untukmu kalau terus tinggal di sini."

"Sshh… Kau tidak pernah menjadi bebanku, Jae-ah. Kau tahu aku mencintaimu, kan." ujar Yunho sambil menangkupkan kedua tangannya ke pipi Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho dengan terharu.

Saat mereka keluar dari kamar mandi, Jaejoong terbelalak menyaksikan kondisi ruangan yang seperti kapal pecah.

"Mereka… mereka benar-benar keterlaluan." Jaejoong mengepalkan kedua tangannya penuh emosi.

"Sudahlah. Aku akan membereskannya ne?" ujar Yunho.

Yunho dan Jaejoong mulai membereskan perabotan mereka dan membersihkan pecahan-pecahan yang berserakan. Yunho memegangi kepalanya yang pening. Hampir semua peralatan dapurnya tidak berbentuk lagi. Dia harus membeli beberapa perabotan lagi dengan uangnya yang terbatas.

Beberapa saat kemudian ruangan sudah bersih dan rapi kembali. Jaejoong duduk menunduk di sofa.

"Minumlah." ujar Yunho sambil menyodorkan segelas air dingin.

"Gomawo." Sesudah menghabiskan minumannya, Jaejoong menoleh ke arah Yunho. "Yunho-ah, mianhae ne?"

Yunho tertawa kecil. "Sampai kapan kau mau mengatakan itu, Jae-ah? Ini sama sekali bukan salahmu."

"Tentu saja ini salahku. Kalau aku tinggal di sini, hidupmu tidak akan pernah tenang. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan besok-besok. Seharusnya aku bisa memperkirakan ini sebelum memutuskan tinggal denganmu. Aku benar-benar tidak mau membebanimu."

Yunho menggenggam tangan Jaejoong. "Jaejoong-ah, dengar. Aku yang memintamu keluar dari sana. Aku sadar kalau aku pasti akan berurusan dengan keluargamu. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku. Jadi aku tidak pernah merasa berat melakukan apapun untukmu."

Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam. Berbagai macam perasaan tampak dari sorot matanya. Tanpa dia sadari kepalanya sudah menyandar di dada Yunho. Dia merasakan kedua lengan kuat Yunho yang melingkari tubuhnya. Beberapa menit lamanya mereka berada di posisi itu tanpa bergerak. Perlahan perasaan Jaejoong mulai tenang. Dia heran, begitu besarnya arti sentuhan Yunho hingga mampu menenangkan hatinya yang gelisah.

"Jae-ah, untuk beberapa hari ini tolong kau tetap di sini untuk sementara. Aku takut mereka akan mencari kesempatan kalau kau keluar."

Jaejoong membelalak tidak percaya. "Andwae! Yunho-ah, kau tidak bermaksud mengurungku kan?"

"Ani! Aku…"

"Yunho-ah, aku harus sekolah kan. Lagipula lusa Yoochun keluar dari rumah sakit. Aku sudah berjanji untuk ikut menjemputnya."

"Tapi…"

"Kumohon padamu, Yunho-ah. Sebisa mungkin akan kuhindari mereka. Kalaupun mereka memaksaku pulang, aku pasti akan menolak. Lagipula ada kau di sampingku."

Yunho mendesah. "Kajja. Aku hanya khawatir padamu."

Jaejoong tersenyum. Dia kembali menyandarkan kepalanya di dada Yunho. Dia sangat menyukai pelukan Yunho. Hanya itulah satu-satunya yang bisa membuatnya tenang saat ini.

Yunho memeluk Jaejoong erat-erat. Rasanya dia tidak bisa melepaskan Jaejoong sebentar saja. Dia tidak tahu apa arti dia bagi Jaejoong karena Jaejoong tidak pernah mengatakannya. Tapi melihat sikap Jaejoong akhir-akhir ini, muncul harapan di hatinya dan itu membuatnya bahagia lebih dari apapun.

###

Di kantor Tuan Kim sedang mendengarkan laporan salah satu asistennya.

"Tuan, barusan saya menemukan ada masalah di bagian keuangan."

"Mwo? Masalah apa?"

Namja itu menarik nafas panjang untuk mengatasi kegugupannya. "Saya menemukan bahwa… ada penarikan dana ilegal yang tidak diketahui sumbernya. Dan ternyata itu sudah terjadi dalam beberapa bulan ini."

Tuan Kim membelalak marah. "Mwo? Bagaimana bisa baru ketahuan sekarang? Apa saja kerjamu selama ini, huh?!"

"Ma-maaf, Tuan. Selama ini kami rutin melakukan pemeriksaan di setiap bagian, dan tidak ada masalah apapun. Saya tidak mengira akan terjadi seperti ini." jawab namja itu ketakutan.

"Aku tidak mau tahu. Sekarang juga kau telusuri bagaimana dana itu bisa hilang dan siapa yang berani menggunakannya tanpa laporan resmi!" bentak Tuan Kim.

"N-ne, arasseo." ujar si namja lalu keluar dari ruangan itu.

Tuan Kim mengepalkan tangannya dengan geram. Siapa orang yang sudah berani-berani mencari masalah dengannya? Tiba-tiba dia mendengar ponselnya berdering.

"Mwo?!" teriak Tuan Kim begitu mendapatkan laporan yang ternyata dari bawahannya. "Kalian tidak berhasil mendapatkan Jaejoong?! Mencari satu orang di tempat sekecil itu saja kalian tidak bisa. Kalian memang tidak becus melakukan pekerjaan apapun."

Tuan Kim menutup teleponnya dan menggebrak mejanya penuh emosi. "Kau benar-benar sudah berani melawanku? Nyalimu terlalu besar, Jaejoongie."

Dia lalu menekan nomor telepon seseorang. "Yah, ke ruanganku sekarang juga."

Seringai mulai muncul di bibirnya. "Kajja. Kita akan lihat sampai kapan kau bisa bertahan, anakku sayang."

###

Kajja. mohon doa & support chingudeul skalian ne biar bsk saya bs updet segera. adakah chingudeul yg brkenan me review? gomawo :).