CHAPTER 19

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong. ssdh merenung slama brp hr, jadilah chap aneh ini, hehe... smoga msh bs dinikmati ne :D. salam kenal bwt readers baru, kok ada yg ga nampilin nama? hihi... bwt readers baru & lama yg msh nemeni saya, gomawo ne. bwt chingudeul yg mnta yoosu disatuin, kita liat apa ada benang yg bkl menghubungkan mrk, qiqi... sok2an pk majas apa ya namanya :p. seringai pak Kim emg nyeremin, ky saya udh prnh ktemu aja, hehe... kl kyu yg menyeringai mah yeojya2 msti pd nempel, ya ga ^^. kl minnie jujur saya msh bingung, mau bkin karakter dia ky apa, protagonis? antagonis? hehe... mgkn chingudeul bs nolong bantuin saya :p? krn critanya msh, ehm... agak pjg, jd mgkn saya butuh wktu agak lama bwt bertapa ^^. oh ya, kl jaema nyamar jd ce, saya takut lama2 bkl jd GS LOL.

###

"Junsu-ah, kau ada acara siang ini?"

Junsu menoleh ke arah Yunho. "Ani. Wae, Yunho-ah?"

"Kalau begitu kau ikut kami ke rumah sakit ne? Yoochun pulang hari ini."

"Tapi…"

"Yah, aku tidak mau menerima protesmu. Bantuanmu dibutuhkan untuk membawa sebagian barang Yoochun." Yunho menyeringai sambil menarik tangan Junsu. Junsu yang tidak berdaya mengikuti Yunho. Dia menyesal kenapa tadi tidak mencari alasan untuk menghindari Yunho? Dia merasa tidak dekat dengan Yoochun lalu untuk apa dia ikut menjemputnya?

Beberapa menit kemudian mereka tiba di kamar Yoochun. Terlihat empat orang di sana termasuk Yoochun. Seorang namja dan yeojya setengah baya, dan seorang yeojya berusia dua puluhan tahun yang sedang mengemasi barang-barang. Yoochun tersenyum melihat mereka. "Kalian bertiga datang menjemputku? Aku hanya merepotkan saja."

Yunho tersenyum. "Kau tidak perlu sungkan. Sesama teman harus saling membantu, kan."

Jaejoong dan Junsu membungkuk di depan namja dan yeojya itu. "Annyeonghasaeyo, Ahjussi dan Ahjumma." sapa Jaejoong.

Sejenak mereka memandang Jaejoong dengan tatapan yang aneh. "Jaejoong, Junsu, bagaimana kabar kalian? Ahjumma senang bertemu kalian lagi." ujar yeojya itu sambil tersenyum.

"Appa, umma, ini Yunho. Yunho, ini orangtuaku." ujar Yoochun memperkenalkan mereka.

Yunho membungkuk di depan Tuan dan Nyonya Park. "Annyeonghasaeyo. Jung Yunho imnida."

Mereka tersenyum dan menjabat tangan Yunho. "Saya senang Yoochun mempunyai banyak teman yang baik seperti kalian." ujar Tuan Park.

"Yoochun-ah, biar Taeyeon duluan membawa tas besarmu. Akan kubawakan tasmu yang ini." ujar Jaejoong menunjuk tas kecil di dekatnya.

"Ne, gomawo." Yoochun menoleh ke pembantunya. "Taeyeon, kau duluan ke mobil. Sebentar lagi kami menyusul."

"Baik, tuan." Taeyeon membungkuk lalu mengerjakan apa yang disuruh Yoochun.

"Kalau begitu appa menyelesaikan administrasi dulu ne? Nanti kami tunggu di mobil." Tuan dan Nyonya Park keluar dari ruangan Yoochun.

"Semua sudah beres?" tanya Yunho beberapa saat kemudian.

"Ne."

"Ayo kita pulang ke rumahmu sekarang." ujar Jaejoong sambil memegangi lengan Yoochun.

"Gwenchana. Aku bisa sendiri, Jae-ah." sahut Yoochun sambil melirik Yunho dengan pandangan tidak enak.

Yunho tersenyum melihat sikap Yoochun. "Yoochun, tubuhmu pasti kaku karena terlalu lama berbaring di rumah sakit. Biarkan Jaejoong membantumu ne?"

Yoochun mengangguk dengan ragu-ragu. Mereka berempat keluar dari ruangan itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Jaejoong menarik tangan Yunho dan Yoochun masuk ke dalam suatu ruangan. Junsu mengikuti mereka dengan wajah bingung.

"Wae, Jae-ah?" tanya Yunho tidak kalah bingungnya dari Junsu.

"Ada suruhan marga Kim duduk di luar." ujar Jaejoong dengan tegang.

Yunho menepuk dahinya dengan gelisah. "Kenapa harus di saat seperti ini?"

Mereka menunggu dengan gelisah sambil sesekali mengintip keluar. Entah berapa lama mereka menunggu, tapi namja itu tidak pergi juga. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Yoochun.

"Yoboseyo?" Yoochun diam mendengarkan perkataan orang yang meneleponnya. "Ne. Aku keluar sekarang." Yoochun menutup teleponnya lalu memandang ketiga temannya dengan tegang. "Orangtuaku sudah menunggu di luar."

"Bagaimana ini? Kita tidak mungkin membiarkan mereka menunggu lama. Lagipula Yoochun harus secepatnya pulang supaya bisa istirahat, kan." ujar Yunho dengan khawatir.

Jaejoong menoleh ke arah Junsu. "Mianhae, Junsu. Bisakah aku meminta tolong padamu untuk mengantar Yoochun?"

"Eh?" Junsu terkejut mendengar ucapan Jaejoong.

"Aku tidak tahu sampai kapan dia di sana. Selama dia belum pergi, aku dan Yunho tidak bisa keluar. Kau mau membantu Yoochun, kan?"

Junsu terdiam sejenak sebelum menjawab. "Kajja."

"Aku tahu aku pasti bisa mengandalkanmu. Tolong jaga Yoochun ne?" ujar Jaejoong sambil tersenyum lega.

Junsu mengangguk lalu memegang lengan Yoochun untuk menuntunnya.

"Junsu, mianhae ne? Aku sudah merepotkanmu." ujar Yoochun.

Junsu tersenyum lalu menggeleng. Mereka keluar dari ruangan itu meninggalkan Yunho dan Jaejoong.

Yunho dan Jaejoong menunggu beberapa lama tapi tampaknya tidak ada tanda-tanda namja itu akan pergi. Sepertinya dia sedang menunggu antrian obat di apotek. Jaejoong gelisah sambil menoleh ke sekelilingnya. Seketika dia tersenyum lebar melihat jendela yang terbuka.

"Kita keluar lewat sana saja." Jaejoong berjalan cepat ke jendela dan bersiap-siap melompat.

Yunho segera mengikuti Jaejoong. "Tunggu, Jae-ah."

Begitu sampai di luar Jaejoong melihat seorang yeojya setengah baya yang seperti dikenalnya sedang menyapu lorong rumah sakit. Sesudah memperhatikan beberapa saat akhirnya dia sadar dan seketika itu juga terbelalak. "Eun Mi?"

###

"Tuan Jaejoong, bagaimana kabar tuan? Tuan tinggal di mana dan dengan siapa? Apa makan dan tidur tuan cukup? Tuan Kim tidak pernah menemukan tuan, kan?" tanya Eun Mi bertubi-tubi dengan mata berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak mengira bisa bertemu lagi dengan tuan mudanya itu.

"Yah, harus dari mana dulu kujawab pertanyaanmu Eun Mi? Aku baik-baik saja. Aku tinggal dengan Yunho di apartemennya. Syukurlah sampai sekarang kami tidak bertemu dengan si Kim itu. Lalu bagaimana denganmu? Dan kenapa kau bisa berada di sini?"

Eun Mi menatap Yunho dengan terharu. "Jeongmal kansahamnida, Yunho-shi. Anda sudah mau menjaga tuan Jaejoong."

Yunho tersenyum sambil mengangguk. "Gwenchana."

"Waktu Tuan Kim tahu tuan pergi, dia marah besar karena saya tidak memberitahunya. Lalu saya dipecat dan saya mencari pekerjaan ke mana-mana. Untunglah waktu itu di sini sedang membutuhkan cleaning service."

Jaejoong mengepalkan tangannya dengan geram. "Marga Kim itu benar-benar harus diberi pelajaran."

"Tenanglah, tuan. Waktu itu saya memang sakit hati dan tidak bisa percaya. Kenapa saya yang sudah bekerja bertahun-tahun dipecat begitu saja. Tapi kemudian saya justru lega sesudah keluar dari rumah itu. Selama tinggal di sana saya terus diliputi rasa bersalah. Saya selalu teringat setiap kali mereka menyiksa tuan."

"Eun Mi, sekarang ini kami sedang memikirkan bagaimana cara menangkap mereka. Memang aku sadar itu akan sulit sekali, tapi kami akan tetap berusaha. Dan mungkin kami akan membutuhkan bantuanmu." ujar Yunho.

"Ne. Saya pasti akan membantu semampu saya. Saya sudah tidak takut lagi pada apapun yang akan mereka lakukan. Yang terpenting tuan Jaejoong bisa hidup tenang dan tidak dikejar-kejar lagi."

"Gomawo, kau sudah banyak membantuku, Eun Mi." ujar Jaejoong sambil menggenggam tangan Eun Mi.

###

Keluarga Park dan Junsu akhirnya tiba di rumah Yoochun. Yoochun membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Tapi mendadak tubuhnya lemas dan kakinya tidak mampu menapak.

"Chunnie…!" jerit Nyonya Park. Secepat kilat Junsu keluar dan berhasil menangkap tubuh Yoochun sebelum dia terjatuh. Tapi dia tidak kuat menahan berat Yoochun sehingga tubuhnya terdorong. Beruntunglah ada mobil Yoochun yang menahannya dari belakang sehingga mereka tidak terjatuh.

"Kau tidak…" Junsu tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba saja dia meringis kesakitan.

Yoochun berpegangan pada Junsu berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Dia menoleh ke Junsu yang memegangi kedua lengannya. "Gomawo." Yoochun mengerutkan alisnya melihat perubahan pada raut wajah Junsu. "Wae, Junsu?"

"Itu… itu…" Junsu masih dengan wajah kesakitan menundukkan kepalanya.

"Wae?"

"Kau… kau menginjak kakiku…"

"Eh?" Yoochun membelalak. Dia semakin terkejut menyadari posisinya sekarang yang sedang menghimpit tubuh Junsu diantara mobil.

"Mi-mianhae…" ujar Yoochun terbata-bata dan cepat-cepat melepaskan tubuh Junsu.

"Ehm…" Tuan Park berdeham mengejutkan kedua namja yang saling berpandangan itu. Junsu mengalihkan wajahnya yang mendadak panas. Ommo… perasaan apa ini?

Tuan Park berpandangan dengan istrinya. Istrinya tersenyum-senyum penuh arti.

"Junsu-ah, apa kau sibuk sore ini?" tanya Nyonya Park.

Junsu tertegun sejenak mendengar panggilan akrab dari yeojya itu. "Oh, ani."

"Sopir kami mau mengantar barang sebentar. Kalau kau tidak keberatan, maukah kau menemani Yoochun dulu di sini? Nanti kau akan diantar lagi ke rumah sakit. Motormu masih di sana, kan?"

"Tapi…" Junsu memandang mereka dengan ragu-ragu.

"Ayolah, tidak perlu malu-malu. Masuklah dan anggap seperti rumahmu sendiri ne?" ujar Nyonya Park sambil menggandeng Junsu.

Yoochun memandang heran pada umma nya yang mendadak bersikap aneh. Dia berjalan mengikuti mereka. "Appo…" Tiba-tiba rasa pusing menyerangnya lagi.

Junsu segera mendekati Yoochun dan menopangnya. "Yah, kau kenapa lagi Yoochun?"

Yoochun memaksakan dirinya tersenyum. "Gwenchana. Mungkin aku terlalu lama berbaring jadi agak lemas."

Nyonya Park menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau masih harus banyak istirahat. Junsu-ah, tolong antarkan Yoochun ke kamar ne?"

"Eh, ah, n-ne, ne." jawab Junsu terbata-bata. Dia tidak mengerti. Dia hanya bermaksud membantu temannya tapi kenapa dia bisa tegang seperti ini? Dia menuntun Yoochun memasuki rumahnya.

###

"Aku memberitahu orangtuaku tentang Jaejoong."

"Eh?"

Yoochun menghela nafas panjang. "Sejak aku sadar, mereka terus bertanya bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Jaejoong. Mereka berpikir kami sedang ada masalah karena aku terus memanggil namanya selama tidak sadar. Mereka heran kenapa Jaejoong tidak segera menjengukku padahal kami bersahabat sangat dekat. Akhirnya aku jujur pada mereka. Kubilang bahwa aku mencintai Jaejoong, tapi dia… mencintai orang lain."

Junsu terdiam sejenak. "Lalu?"

"Mereka terkejut dengan pengakuanku dan simpati padaku. Tapi mereka sadar kalau tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantuku karena Jaejoong memang tidak mencintaiku, kan. Lagipula kalau mereka sampai melakukan sesuatu, itu bisa merusak persahabatanku dengan Jaejoong. Cinta memang tidak bisa dipaksakan."

Junsu menggenggam tangan Yoochun. "Aku mengerti perasaanmu. Kurasa kita senasib. Mencintai orang yang sama, dan cinta kita sama-sama tidak terbalas. Mungkin sudah saatnya kita mencari cinta yang lain. Aku yakin pasti ada seseorang yang menunggu kita di suatu tempat yang tidak akan pernah kita duga."

Yoochun menangkap sorot mata Junsu yang tulus padanya. Kata-kata Junsu mirip dengan kata-kata Jaejoong. Beberapa saat lamanya mereka bertatapan. Perlahan perasaan aneh mulai memasuki hatinya.

###

"Sial." maki Jaejoong.

Yunho yang mendengar umpatan Jaejoong langsung mendekat. "Wae, Jae-ah?"

"Kartu kreditku tidak bisa dipakai."

Yunho membolak-balikkan kartu kredit itu. "Aneh. Kemarin tidak ada masalah, kan."

Jaejoong mengeluarkan selembar kartu lagi. "Coba yang ini."

Yeojya di kasir yang melayani Jaejoong mengangguk lalu memproses kartunya. Lalu dia menggeleng dengan wajah menyesal. "Mianhae. Kartu ini juga tidak bisa digunakan."

"Mwo?" Jaejoong terbelalak. Emosi mulai memenuhi dadanya. Dia mengeluarkan semua kartu ATM dan kartu kredit yang ada di dompetnya. "Ini. Coba semuanya."

Yeojya itu melakukan apa yang diminta Jaejoong. Jaejoong mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tidak sabar. Yunho memandang Jaejoong dengan gelisah. Beberapa saat kemudian yeojya itu mengembalikan semua kartu Jaejoong. "Mianhae. Semua kartu anda tidak bisa digunakan lagi."

Jaejoong memandang yeojya itu dengan berapi-api. "Mwo? Kemarin aku baru saja berbelanja di sini dan tidak ada masalah. Sebenarnya kau bisa atau tidak menggunakan mesin ini, huh?!"

Yunho menarik tangan Jaejoong, mencegah namja cantik itu berbuat kasar.

"Mianhae. Saya sudah sering menggunakannya dan selalu berhasil. Coba anda cek dulu semua kartu anda valid atau tidak."

Jaejoong semakin marah mendengar ucapannya. "Maksudmu kau mau bilang kalau tidak ada uang di rekeningku, huh?!"

"Jaejoong-ah…" Genggaman tangan Yunho semakin kencang. Dia khawatir Jaejoong akan berbuat semakin jauh.

"Saya minta maaf tapi saya tidak bermaksud seperti itu. Silakan anda datang lagi lain kali."

"Andwae! Mesin itu pasti rusak! Cepat periksa sekarang juga!" teriak Jaejoong.

"Jae-ah, sudahlah…" bujuk Yunho.

Yeojya itu menatap Jaejoong dengan tajam. "Mianhae karena saya juga harus melayani pembeli yang lain. Saya harap anda pergi sekarang. Atau mau saya panggilkan satpam untuk membawa anda?"

"Jae-ah, tolong jangan buat keributan di sini. Ayo kita pulang." ujar Yunho dengan nada memohon.

Jaejoong mendengus. "Tsk, toko macam apa ini? Yang ada hanya barang rusak." sahutnya sambil berlalu.

Yunho memandang yeojya itu dengan wajah menyesal. "Tolong maafkan teman saya." Dia mengambil kartu Jaejoong yang masih ada di meja kasir lalu berlari menyusul Jaejoong.

###

Jaejoong melempar semua kartunya ke lantai. "Apa maksudnya semua ini? Kita sudah mencoba beberapa toko tapi kartuku tidak ada yang bisa dipakai." teriaknya penuh emosi.

Yunho memandang Jaejoong dengan ragu-ragu. "Jae-ah, apa mungkin… umm…"

"Kau mau bicara apa?"

"Jae-ah, mianhae kalau aku mengatakan ini. Mungkin… mungkin kartumu diblokir, Jae-ah."

"Mwo?"

"Umm… kau ingat kan apa yang kuceritakan waktu beberapa suruhan Tuan Kim datang? Mereka bilang, kalau kau tidak pulang dalam dua hari, Tuan Kim akan bertindak." ujar Yunho hati-hati.

Jaejoong terdiam sejenak. Dia benar-benar lupa, sejak dia pindah, di samping sebagian uang yang mereka punya, dia masih menggunakan uang dan semua fasilitas dari Tuan Kim. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Tuan Kim sudah menutup semua akses keuangannya. Dia ingin membuatnya menderita karena kekurangan sehingga nantinya dia akan kembali ke rumah itu.

"Aku sadar. Tidak seharusnya aku menggunakan uangnya lagi." sahutnya dengan wajah masam.

"Jae-ah, apa rencanamu sekarang?" tanya Yunho dengan khawatir.

"Apa maksudmu?"

"Apa… umm… kau berniat kembali?"

Jaejoong tertawa kecil. "Kau bicara apa, Yunho-ah? Sejak aku memutuskan pergi dari sana, aku tidak pernah berniat kembali lagi."

Yunho menghela nafas lega. "Aku takut kau berencana pulang, Jae-ah. Kalau itu yang terjadi, aku bingung bagaimana bisa menahanmu."

"Yunho-ah, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap di sini. Aku akan berusaha mencari jalan bagaimana mendapatkan uang." ujar Jaejoong dengan serius.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong. "Jae-ah, aku akan mencari pekerjaan tambahan. Aku akan mencari uang untuk kita."

Jaejoong menggeleng. "Ani. Aku sudah banyak merepotkanmu, Yunho-ah."

"Jae-ah, apa kau lupa? Aku sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindungimu. Aku ingin bisa menjadi orang yang bisa kauandalkan. Kau percaya padaku, kan?"

"Ne. Aku percaya padamu." ujar Jaejoong sambil menatap Yunho.

Yunho tersenyum dan memeluk Jaejoong. Dia merasa iba pada Jaejoong. Jaejoong yang selama ini hidup bergelimang harta, kini harus hidup sederhana bersamanya. Dia membayangkan bagaimana perasaan Jaejoong saat ini. Dia bertekad akan terus mendampingi Jaejoong di masa-masa sulit yang akan mereka lalui.

###

"Mianhae. Saya sudah merepotkan tuan Junsu." ujar seorang yeojya ketika dia dan Junsu pulang dari supermarket.

Junsu tersenyum. "Gwenchana, Seohyun. Kau pembantu baru kami. Wajar kalau pengetahuan memasakmu belum banyak. Hari ini aku akan mengajarimu memasak bulgogi."

"Tuan Junsu, saya jadi malu sendiri. Tuan jago memasak, ya."

Junsu tertawa mendengar ucapan pembantunya. "Ah, biasa saja. Aku memang hobi memasak, tapi kalau masalah rasa aku tidak tahu."

"Tuan jangan merendah begitu." ujar Seohyun sambil tertawa kecil.

Beberapa saat kemudian mobil yang dinaiki mereka tiba-tiba berhenti.

"Wae, So Man?" tanya Junsu pada sopirnya.

"Saya tidak tahu. Coba saya periksa dulu, tuan." So Man keluar dari mobil dan memeriksa mobilnya. "Tuan, ternyata ada ban yang bocor. Saya akan menggantinya sebentar." ujarnya lalu mulai bekerja.

Junsu menunggu sambil sesekali melihat jam tangannya dengan gelisah. Beberapa jam lagi akan diadakan acara dengan kolega-kolega appa nya di rumah. Mereka harus segera pulang untuk menyiapkan masakan dan segala sesuatunya.

"Cepat kalian keluar sekarang juga!" Junsu terkejut mendengar suara kasar itu lalu membuka jendela mobilnya. Seketika dia terbelalak melihat beberapa namja dengan wajah penuh ancaman.

"Ayo tunggu apa lagi?" hardik namja itu.

Junsu dan Seohyun keluar dari mobil. Seohyun dan So Man memandang para namja itu dengan ketakutan. Junsu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan tegang. Mereka berada di gang yang sepi. Pantas saja para namja yang sepertinya perampok itu berani menghadang mereka.

"Cepat serahkan uang dan barang kalian!" ancam si namja sambil mengeluarkan pisaunya, membuat Seohyun semakin ketakutan.

Junsu tertawa kecil. "Kalian salah sasaran. Coba lihat. Di dalam hanya ada daging dan sayur. Apa kalian membutuhkan barang-barang seperti itu?"

"Omong kosong! Orang kaya sepertimu pasti membawa uang banyak. Cepat serahkan tasmu sebelum kuambil paksa!" bentak perampok itu lalu mengacungkan pisaunya ke arah Junsu. Tapi Junsu hanya diam.

Si perampok memberi isyarat pada temannya. Temannya mengangguk dan sambil menyeringai dia masuk ke dalam mobil. Junsu menarik nafas dalam lalu menepis pisau yang mengancam lehernya sampai terlontar dan menarik perampok yang akan memasuki mobilnya dan melayangkan pukulan keras hingga dia terjatuh. Namja itu segera bangkit dan mengulurkan tangan bermaksud mencengkeram krah Junsu. Tapi gerakan Junsu lebih cepat. Dia menarik tangan si namja dan memutarnya kencang ke belakang.

"Aahh…" Namja itu mengaduh kesakitan merasakan tulangnya yang hampir patah. Namja lain bergerak menyerang Junsu.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik seorang perampok yang akan melayangkan tinjunya ke arah Junsu. Junsu terbelalak sekaligus menghela bernafas lega. "Yoochun!"

Yoochun mulai memukuli beberapa perampok yang mengelilingi Junsu. Junsu berkelahi dengan sisa perampok yang ada. Dalam waktu singkat mereka terkapar tak berdaya di tanah. Tanpa membuang waktu mereka pergi dari sana dengan tertatih-tatih.

Junsu mendekati Yoochun. "Gomawo, Yoochun. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasib kami."

"Gwenchana. Lain kali kau jangan lewat sini karena rawan perampok dan preman."

Junsu mengangguk sambil tersenyum.

"Kau habis berbelanja?"

"Ne." Seketika Junsu tersadar dan menoleh ke arah sopirnya. "So Man, bagaimana? Apa sudah selesai?"

"Oh, mianhae, akan segera saya selesaikan tuan." ujar So Man lalu cepat-cepat melanjutkan pekerjaannya mengganti ban.

"Aisshh…" Junsu melihat jam tangannya dengan gelisah.

"Kau terburu-buru, ya?" tanya Yoochun.

"Ne. Kami harus segera pulang karena nanti ada acara. Gara-gara ada perampok yang mengganggu tadi." keluh Junsu.

"Kuantarkan saja kalian."

"Eh?"

Yoochun tersenyum sambil menunjuk ke suatu arah. Junsu mengikuti arah telunjuk Yoochun dan melihat mobil yang diparkir di situ.

Beberapa saat kemudian Junsu dan Seohyun sudah berada di mobil Yoochun. "Motormu di mana?" tanya Junsu.

Yoochun tertawa kecil. "Sejak kecelakaan itu, orangtuaku tidak mempercayaiku membawa motor lagi."

Junsu hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yoochun.

###

Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Junsu. Nyonya Kim berlari keluar dengan tergesa-gesa. "Su-ie, kenapa lama sekali? Umma meneleponmu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif."

"Eh?" Junsu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Matanya membelalak melihat ponselnya mati. Ini pasti karena dia sempat jatuh waktu berkelahi dengan perampok tadi. "Mianhae, umma." ujarnya sambil tersenyum kecil.

"Annyeonghasaeyo, Kim Ahjumma." Yoochun membungkukkan tubuhnya.

Nyonya Kim memandang namja itu penuh perhatian. "Ini…"

"Nyonya, pacar tuan Junsu ini benar-benar hebat." ujar Seohyun dengan suka cita memotong ucapan Nyonya Kim.

"Hah?" Junsu dan Yoochun terkejut setengah mati mendengar ucapannya. Nyonya Kim terbelalak memandangi mereka berdua.

"Ne. Tadi kami dihadang beberapa perampok dan…"

Nyonya Kim semakin terkejut dan seketika itu juga mengguncang lengan Junsu. "Aigoo… Su-ie, benarkah? Kenapa kau tidak mengabari kami? Katakan, di mana yang terluka?" tanyanya cemas sambil membolak-balik tubuh Junsu.

"Umma, tenanglah. Aku tidak apa-apa, tidak ada yang terluka." sahut Junsu sambil melirik Yoochun yang tersenyum geli. Dia malu membayangkan apa yang dipikirkan Yoochun melihat umma nya yang bersikap berlebihan seperti itu.

Sesudah beberapa saat memeriksa tubuh Junsu, Nyonya Kim menghela nafas lega. "Syukurlah, sepertinya kau tidak apa-apa."

"Aku bilang juga apa, umma." sahut Junsu dengan cemberut.

"Kami baik-baik saja karena ada tuan Yoochun yang membela kami, Nyonya." ujar Seohyun sambil tersenyum lebar.

Nyonya Kim mengalihkan pandangannya kembali ke Yoochun. "Gomawo sudah menyelamatkan Junsu kami. Bagaimana kami bisa membalas kebaikanmu?"

"Tidak perlu sungkan, Ahjumma." jawab Yoochun ramah.

"Namamu Yoochun?"

"Ne. Park Yoochun imnida."

Nyonya Kim tersenyum. "Jadi kau pacar Junsu kami?"

Yoochun dan Junsu kembali membelalakkan mata. "Ani! Dia bukan pacarku, umma!" teriak Junsu tanpa menyadari wajahnya yang memerah. Yoochun melirik Junsu dengan wajah yang tidak jauh berbeda darinya.

"Apa benar begitu?" tanya Nyonya Kim sambil menatap Yoochun penuh selidik.

Yoochun mengusap-usap belakang kepalanya dengan salah tingkah. "Ne. Kami hanya berteman, Ahjumma."

"Lalu kenapa kaubilang mereka pacaran, Seohyun?" tegur Nyonya Kim pada pembantunya.

"Mianhae. Itu karena… karena saya melihat mereka begitu serasi."

"Mwo?" teriak Yoochun dan Junsu bersamaan.

"Dan tuan Yoochun tampaknya begitu perhatian pada tuan Junsu." sambung Seohyun sambil memandangi dua namja itu dengan tersenyum-senyum.

"Seohyun, hentikan semua omong kosongmu! Kau masih banyak pekerjaan, kan? Ayo kita harus segera memasak. Cepat bawa belanjaan kita ke dapur." perintah Junsu. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Yoochun.

"Umm, Yoochun. Sekali lagi terimakasih kau sudah menolong kami. Aku mau masuk dulu. Umm… kau mau pulang sekarang?" Junsu terkejut sendiri dengan nada ucapannya yang terdengar mengusir itu.

"Sikap macam itu, Su-ie? Tidak sopan bicara dengan penolongmu seperti itu." tegur Nyonya Kim. Dia memegang tangan Yoochun. "Yoochun, silakan masuk dulu. Kau pasti lelah, kan?" ujarnya ramah.

"Eh, n-ne." jawab Yoochun dan berjalan bersama Nyonya Kim. Junsu menggeleng-gelengkan kepala lalu mengikuti mereka. Dia berpikir sikap umma nya sangat berlebihan.

"Appo…" Yoochun mengaduh kesakitan begitu dia memasuki rumah Junsu. Bola yang entah berasal dari mana tiba-tiba mendarat di kepalanya.

"Bummie, sudah umma bilang berkali-kali jangan bermain bola di dalam rumah! Lihat, bolamu mengenai teman hyung mu." omel Nyonya Kim tanpa putus pada namja kecil berusia 8 tahunan yang sedang berlarian.

"Yah, kau tidak apa-apa?" tanya Junsu.

Yoochun menggeleng sambil tersenyum. Namja kecil itu memandangi Junsu dan Yoochun penuh perhatian.

"Yah, cepat kau minta maaf pada Yoochun." tegur Junsu.

Tiba-tiba si namja kecil menjulurkan lidahnya. "Tidak mau." Dia tertawa-tawa lalu berlari dari situ.

"Yah, ke sini kau!" teriak Junsu lalu mengejarnya.

Nyonya Kim memandang Yoochun dengan menyesal. "Dia dongsaeng Junsu, namanya Kibum. Tolong maafkan dia. Dia memang nakal."

"Gwenchana, Ahjumma." jawab Yoochun sambil tersenyum.

Nyonya Kim mempersilakan Yoochun duduk. "Junsu mau membantu Seohyun memasak dulu. Ahjumma akan membuatkanmu teh. Tunggu sebentar ne?"

###

Huff, sekian bwt chap yg pjg & lebar (?) ini. minta repiu nya ne chingudeul ~bow~. gomawo :D.