CHAPTER 20

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul. saya dtg lg dr semedi saya di tengah2 banjir. hihi... jeongmal kansahamnida bwt readers lama & baru atas repiu nya ne. waa... seneng bgt ^^. bwt chingu yg tny kok yunho ga gerak2, jujur itu krn dia msh bingung, sebingung yg nulis enaknya pak & bu kim diapain ya. huaa... dah pusing 7 kliling saya, emg susah urusan sm org kaya ~ngeles gara2 khabisan ide~, mian, hikz... kok mlh curcol :p. tp saya janji nantinya mrk bkl dihukum :). ttg minnie blm tau mau saya kluarin/ga dr kulkas saya ~plak~. mian chap kmrn yunjae moment nya kurang krn saya critain skilas ttg yoosu. apa kbanyakan :p? ini saya lanjutin dikit aja ne ^^.

###

Tak terasa sudah dua jam Yoochun berada di rumah Junsu. Selama itu dia mendengarkan Nyonya Kim yang terus saja bercerita tentang keluarganya dan masa kecil Junsu. Dia heran, bagaimana bisa Nyonya Kim begitu terbuka pada seseorang yang baru saja dia temui?

Nyonya Kim sedang ke dapur memberi beberapa instruksi pada pembantunya. Yoochun meluruskan otot-ototnya yang pegal. Sudah waktunya dia pulang. Dia mengelilingi ruang tamu yang besar itu sambil menunggu Nyonya Kim untuk berpamitan. Tiba-tiba dia melihat sosok namja kecil itu di sudut ruangan. Dia tersenyum lalu mendekatinya.

"Kau sedang apa?" tanyanya melihat Kibum yang sedang asyik menulis di bukunya.

Kibum memutar bola matanya. "Kau tidak lihat? Aku sedang mengerjakan PR."

Yoochun tersenyum sambil memperhatikan pekerjaan Kibum. "Yah, jawabanmu yang ini salah." sahutnya menunjuk salah satu soal.

"Andwae! Kau jangan sok tahu." tukas Kibum sambil membelalakkan matanya ke arah Yoochun.

"Kau memakai rumus yang salah. Begini kuajari caranya." ujar Yoochun lalu membetulkan jawaban Kibum. Kibum mendengarkan semua penjelasan Yoochun penuh perhatian.

Kibum menatap Yoochun dengan kagum. "Selama ini kukira aku orang paling jenius di dunia. Junsu hyung saja kalah. Ternyata kau sedikit lebih mahir dariku."

Yoochun tertawa mendengarnya. Dia mengetuk kepala Kibum. "Yah!"

Tiba-tiba Kibum memandangi Yoochun sambil menyeringai nakal. "Kau pacar Junsu hyung, ya?"

Ucapan Kibum sukses menghentikan tawa Yoochun. Dia tidak habis pikir kenapa semua orang di rumah ini mengira dia pacar Junsu?

"Tadi umma bilang kau temannya. Tapi aku terlalu cerdas untuk mengerti hubungan kalian." lanjut Kibum percaya diri.

"Jangan sembarangan!" teriak Yoochun.

Kali ini Kibum yang tertawa keras melihat wajah Yoochun yang menurutnya lucu sekali.

"Ada apa ribut-ribut? Bummie, kau berbuat ulah apa lagi?" Terdengar suara Nyonya Kim di belakang mereka.

Kibum hanya menyeringai lebar sedangkan Yoochun terdiam dengan wajah memerahnya.

"Ani. Tadi hyung ini…"

"Yoochun." Yoochun memotong ucapan Kibum.

"Ah, ne. Yoochun hyung mengajariku mengerjakan soal matematika, umma."

"Yoochun, mianhae kalau anak ini merepotkanmu."

"Oh, tidak sama sekali Ahjumma."

"Aku tidak mengganggu Yoochun hyung." protes Kibum dengan cemberut. Dia lalu menarik tangan Yoochun. "Hyung, besok kau datang lagi ne? Kau harus mengajariku soal-soal yang lain." ujarnya sambil tersenyum nakal.

"Eh?"

"Boleh kan, umma? Yoochun hyung ini satu-satunya yang bisa menandingi kecerdasanku." ujar Kibum bangga. Nyonya Kim memandang Yoochun yang kebingungan.

"Ada apa ini?" tanya Junsu mendekati mereka.

"Su-ie, dongsaeng mu meminta Yoochun datang lagi besok untuk mengajarinya mengerjakan PR."

"Mwo?"

"Bukan hanya besok, tapi juga untuk seterusnya." ujar Kibum tegas.

"Hah?" Junsu membelalakkan matanya pada Kibum.

Nyonya Kim memandang Yoochun dengan tidak enak. "Tapi Yoochun hyung juga sibuk dengan sekolahnya, Bummie." ujarnya mencoba membujuk Kibum.

"Bummie, besok aku yang akan mengajarimu ne?" bujuk Junsu.

Kibum menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ani! Aku hanya mau diajari Yoochun hyung! Kalau dia tidak mengajariku, aku tidak mau mengerjakan PR! Aku tidak mau sekolah juga!"

"Mwo?" Junsu dan umma nya membelalak tak percaya. Yoochun hanya memandangi mereka bertiga dengan gelisah.

"Bummie, sudahlah jangan keras kepala lagi. Apa kaupikir Yoochun tidak ada pekerjaan lain, huh?" Junsu mulai kehilangan kesabarannya.

"Umma…" Kibum merengek sambil menarik-narik tangan umma nya.

Yoochun menghela nafas panjang, berpikir kalau dia tidak bisa mengelak lagi. "Kajja. Besok aku akan datang."

Junsu dan umma nya mengalihkan pandangan pada Yoochun dengan terkejut. Kibum menatap Yoochun dengan mata bersinar gembira.

"Tapi sebelumnya aku minta maaf karena mungkin aku tidak bisa datang setiap hari. Karena aku juga ada ekskul di sekolah."

"Bagaimana kalau 4x seminggu?"

"Bummie…" tegur Nyonya Kim, berpikir kalau anaknya itu sudah benar-benar keterlaluan.

"Kalau 2x seminggu bagaimana?" tawar Yoochun.

Kibum berpikir sejenak lalu tersenyum lebar. "Kajja. Aku setuju." Junsu dan umma nya hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Yoochun, mianhae. Dongsaeng ku itu memang nakal dan sulit diatur. Kalau sudah meminta sesuatu pasti harus dituruti. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba dia memaksamu untuk mengajarinya. Jeongmal mianhae." ujar Junsu dengan sorot mata menyesal saat mengantar Yoochun keluar.

"Gwenchana. Justru itu bagus, kan?"

"Eh?"

Yoochun tersenyum-senyum. "Jadi aku ada alasan bertemu denganmu. Dengan begitu kita bisa sering menghabiskan waktu bersama."

"Mwo?" Junsu membelalakkan matanya ke arah Yoochun.

"Kau tahu? Semua orang di rumahmu mengira kita pacaran termasuk dongsaeng mu. Kurasa dia ingin mendekatkan kita."

"Hah?"

Yoochun tertawa. Dia senang sekali melihat wajah Junsu yang lucu. "Yah, aku hanya bercanda. Kenapa kaupikir kata-kataku serius?"

Junsu cemberut. "Ani! Hanya orang bodoh yang menganggap ucapanmu serius." Junsu mengalihkan pandangannya tidak berani menatap Yoochun.

"Kajja. Aku pulang dulu ne? Sampai bertemu besok." ujar Yoochun masih dengan senyuman menggodanya lalu berjalan mendekati mobilnya.

Junsu memperhatikan mobil Yoochun berlalu sampai hilang dari pandangan. Tanpa dia sadari sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Suatu perasaan yang aneh perlahan menyusup dan mengisi hatinya yang sudah lama terluka. Luka yang selama ini dia pikir tidak akan pernah bisa hilang.

Junsu baru saja akan memasuki rumah ketika sebuah suara memanggilnya. "Junsu-ah." Dia menoleh dan melihat Yunho di belakangnya.

###

"Mwo?" teriak Junsu terkejut.

"Ne. Saat ini aku benar-benar membutuhkan pekerjaan, Junsu-ah." ujar Yunho sambil menunduk.

"Jahat sekali marga Kim itu. Kenapa tidak dia lepaskan saja Jaejoong dan tidak usah mencari masalah lagi?" sahut Junsu dengan wajah bersungut-sungut.

Yunho menghela nafas panjang. "Selama kami belum mendapat bukti yang cukup untuk menangkapnya, masalah seperti ini akan terus ada. Apa appa atau umma mu sedang membutuhkan karyawan sekarang ini?"

"Appa ku sedang merintis bisnis kafe di dekat sini dan sepertinya masih memerlukan karyawan. Nanti kutanyakan dulu ne?"

"Ne. Gomawo, Junsu-ah." ucap Yunho penuh rasa syukur.

###

Tak terasa sudah tiga minggu Yunho bekerja di kafe milik Tuan Kim. Dia mendapat shift sore hingga jam 10 malam setiap hari, tidak seperti karyawan yang lain yang shift nya bergantian karena setiap pagi dia harus bersekolah. Dia terpaksa meninggalkan kegiatan ekskul basket yang selama ini diikutinya. Tapi dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Baginya sekarang kebahagiaan dan terpenuhinya semua kebutuhan Jaejoong adalah hal yang terpenting.

Fisik dan pikirannya benar-benar lelah. Tapi setiap kali Jaejoong muncul di pikirannya, itu membuat semangatnya bangkit kembali. Dia sudah jarang berada di rumah. Otomatis waktunya bersama dengan Jaejoong berkurang dan itu membuatnya merindukan namja cantik itu. Untunglah hari Minggu dia hanya bekerja setengah hari jadi waktu yang tersisa bisa dia manfaatkan sebaik-baiknya.

Malam itu Yunho menghitung sisa uang simpanannya. Dia memegangi kepalanya yang pening melihat keuangannya yang semakin menipis. Dia tidak yakin uang itu akan cukup memenuhi kebutuhan mereka selama dua minggu. Dia tidak mungkin meminta orangtuanya mengirimi uang karena itu hanya akan membebani mereka.

Jaejoong masuk ke kamar dan duduk di dekatnya. Melihat raut wajah Yunho, dia langsung tahu apa yang sedang Yunho pikirkan. Dia menggenggam tangan Yunho mencoba menenangkannya.

Yunho memandang Jaejoong dengan sorot mata menyesal. "Jae-ah, mianhae. Kita masih harus membatasi pengeluaran. Sebentar lagi aku digaji, aku berjanji aku akan membelikan apapun yang kau mau."

Jaejoong tersenyum tipis. "Gwenchana, Yunho-ah."

"Kalau saja aku punya banyak uang, tidak akan kubiarkan kau menderita seperti ini."

"Sudahlah, Yunho-ah. Kau lihat, aku sama sekali tidak menyesal dan menderita. Aku bahagia hidup bersamamu di sini."

Yunho mendesah. "Kehidupan ini bertolak belakang dengan yang selama ini kaujalani. Bagaimana kau bisa bahagia?"

Jaejoong tersenyum sambil menggeleng. Sejenak dia memandang Yunho dengan ragu-ragu sebelum berjalan ke lemari. Dia mengambil sejumlah uang dan menyodorkan pada Yunho.

Yunho mengerutkan alisnya. "Ini…"

"Waktu aku merapikan barang-barangku, aku sadar bahwa aku masih mempunyai uang ini. Ini bisa kita gunakan untuk membeli daging dan keperluan lain."

Yunho memandangi uang di tangannya. "Tapi kupikir lebih baik uang ini kausimpan saja kalau sewaktu-waktu ada keperluan mendadak."

"Kau jangan khawatir. Aku masih ada simpanan di lemari. Kurasa cukup banyak untuk beberapa minggu ini. Ditambah dengan gajimu, kurasa kita tidak akan kekurangan."

"Jinja? Bagaimana kau bisa lupa kalau kau masih menyimpan uang sebanyak itu?"

"Umm.." Jaejoong mengusap belakang kepalanya. "Aku baru menemukannya tadi sore. Dulu waktu kita ke rumah untuk mengambil pakaianku, aku sempat mengambil uang ini dan langsung kusimpan di saku koper. Tapi karena waktu itu terburu-buru, aku jadi lupa sama sekali."

"Oh…" Yunho masih memandang Jaejoong dengan heran. Tapi dia tidak bertanya lagi.

Sejak hari itu Jaejoong selalu memberikan uang pada Yunho setiap mereka akan membeli sesuatu. Walaupun tidak banyak, Yunho tetap heran dan bertanya-tanya berapa kira-kira uang simpanan Jaejoong itu.

###

Malam itu Yunho pulang ke apartemennya dengan gembira. Hari itu dia diperbolehkan pulang lebih awal sesudah beberapa hari sebelumnya dia sibuk menggantikan pekerjaan temannya yang sedang sakit. Bukan hanya itu. Majikannya juga berbaik hati memberikan bonus padahal belum waktunya dia mendapatkan gaji.

Dia berjalan melewati toko bunga. Dia melihat banyaknya pot bunga dengan bermacam-macam jenis dan terlihat segar. Dia ingat Jaejoong pernah bercerita bahwa dia sangat menyukai bunga mawar. Bagaimana kira-kira reaksi Jaejoong kalau tiba-tiba dia membelikannya bunga itu? Dia tersenyum sendiri dengan pikirannya itu.

Yunho bersiul pelan melihat apartemennya yang sudah tampak di depan mata. Mendadak siulannya berhenti melihat Jaejoong keluar dari apartemen dan pergi dengan motornya. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam. Mau ke mana Jaejoong pada jam seperti ini? Entah kenapa tiba-tiba perasaan Yunho menjadi tidak enak. Dengan segera Yunho mencari taksi dan mengikuti Jaejoong.

Beberapa menit kemudian Yunho melihat Jaejoong masuk ke sebuah hotel. Yunho mengerutkan alisnya. Apakah Jaejoong ada janji dengan seseorang? Dia keluar dari taksi lalu diam-diam mengikuti Jaejoong ke dalam. Yunho terkejut ketika dari jauh dia melihat Jaejoong berbicara dengan seorang namja yang tak dikenalnya. Mereka terlihat memesan kamar di bagian resepsionis. Seketika jantung Yunho berdebar kencang. Apa yang akan dilakukan Jaejoong?

Dengan tegang Yunho mendatangi bagian resepsionis begitu mereka pergi. Untunglah dia berhasil meyakinkan resepsionis itu bahwa dia adalah teman mereka dan mendapatkan nomor kamar mereka. Tanpa membuang waktu dia segera mencari kamar yang dimaksud. Setibanya di kamar itu Yunho terdiam sejenak mengumpulkan keberaniannya. Dia menahan nafas menyadari bahwa pintunya ternyata sedikit terbuka.

Seketika matanya terbelalak melihat Jaejoong sedang berciuman dengan namja itu di tempat tidur. Sebagian pakaiannya sudah terbuka, memperlihatkan kulit dadanya yang halus.

"Ja-Jaejoong…" Yunho tidak bisa menyembunyikan suaranya yang gemetar hebat. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang ada di depannya.

Kedua namja itu terkejut lalu menoleh ke pintu. Wajah Jaejoong memucat melihat Yunho berdiri di sana. "Yu-Yunho-ah…"

Akhirnya Yunho memperoleh kesadarannya kembali. Dengan penuh kemarahan dia mendekati mereka dan menarik Jaejoong keluar dari kamar itu.

"Yah, mau kaubawa ke mana dia?" Namja itu melayangkan tinjunya pada Yunho. Untunglah Yunho menyadari gerakannya sehingga dia bisa menghindar secepat mungkin. Dia langsung memukul wajah si namja hingga jatuh tersungkur.

"Yunho!" teriak Jaejoong.

Dengan marah si namja bangkit dan membalas pukulan Yunho. Tapi sebelum dia sempat bergerak, Jaejoong sudah keburu mencegahnya.

"Jae-ah, siapa dia berani-beraninya mengganggu acara kita?!" teriak namja itu.

"Tolong jangan membuat keributan di sini. Mianhae. A-aku…" Jaejoong belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Yunho sudah menyeretnya keluar.

Yunho menarik Jaejoong ke motornya di tempat parkir. "Naik." sahut Yunho dingin begitu duduk di motor. Jaejoong memandang Yunho ragu-ragu sebelum naik ke belakangnya.

Setibanya di apartemen, Yunho mendorong Jaejoong dengan kasar hingga namja cantik itu hampir terjatuh. "Apa maksudmu, huh?! Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi?!" bentaknya.

Jaejoong menatap Yunho dengan gelisah. Tubuhnya gemetar hebat. "Mi-mianhae. Aku hanya…"

"Hanya apa?!"

Jaejoong menggigit bibirnya. "Aku hanya… mau membantumu mendapatkan uang." ujarnya jujur, berpikir tidak mungkin lagi menyembunyikan semua ini dari Yunho.

"Mwo?!"

"Aku kasihan padamu yang harus bekerja keras sampai malam hanya untuk menghidupiku. Jadi kupikir…"

"Jadi kaupikir kau bisa menggunakan tubuhmu yang begitu indah itu untuk menggoda orang seperti dulu?!"

"Yu-Yunho-ah…"

"Selama ini aku heran bagaimana bisa kau mempunyai banyak uang tanpa kausadari sejak dulu. Jadi uang yang selama ini kita gunakan adalah hasil dari pekerjaanmu yang menyenangkan itu? Jaejoong-ah, ternyata hanya itu yang bisa kaupikirkan untuk mendapatkan uang? Sudah berapa kali kau melakukannya, huh? Pikiranmu benar-benar pendek dan sempit!"

"Yu-Yunho-ah…" Wajah Jaejoong memucat menelan kata-kata kasar itu.

"Kau tidak bisa menahan diri untuk tidak berdekatan dengan namja, huh? Sampai-sampai kalian lupa menutup pintu karena tidak sabar mau melakukannya! Dari dulu sampai sekarang kau tetap saja sama. Kau orang yang rendah!"

"Yunho!" Jaejoong menekan dadanya yang sesak. Belum pernah Yunho membentak sekeras dan sekasar ini sejak pertama kali mereka bertemu. Dulu dia pernah sakit hati ketika Yunho menyebutnya pelacur tapi rasanya tidak sesakit ini. Saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Begitu besarkah pengaruh kata-kata Yunho baginya?

"Kukira kau sudah berubah. Ternyata aku salah menilaimu. Kau tahu mereka tidak akan bisa menolak kalau kau menyodorkan tubuhmu! Berapa juta yang kaudapat setiap mereka menidurimu, huh?!"

PLAK!

Suara tamparan Jaejoong menggema di seluruh ruangan. "Ne! Yang kubisa hanya melakukan pekerjaan rendah! Aku memang tidak berharga! Apa kau puas?!" teriak Jaejoong tanpa bisa menahan sakit hatinya lagi.

Yunho tertegun mendengarnya. Dia menatap mata Jaejoong yang berapi-api. Sama sekali tidak ada kesedihan dari sorot mata itu. Yang ada hanyalah kemarahan dan kebencian yang menusuk hati Yunho.

"Jadi kau menyesal kan sudah mencintai orang rendah sepertiku?! Kau menyesal kan sudah mengajakku tinggal di sini? Kajja! Aku pergi sekarang dan kau tidak usah mempedulikanku lagi!" Dengan cepat Jaejoong mengambil tasnya dan keluar.

"Jae-ah…" Yunho belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Jaejoong sudah terlanjur pergi. "Argghh…" Dia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.

###

Yunho POV

Entah sudah berapa kali kucoba memejamkan mata tapi tetap tidak berhasil. Kulihat jam di dinding ruang tamuku yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku sengaja tidur di sofa supaya aku bisa tahu kalau dia datang. Tapi sampai sekarangpun dia belum kembali. Aku sudah berusaha menghubungi ponselnya tapi selalu tidak aktif. Aku mulai merasa tidak tenang. Tidak baik baginya di luar malam-malam begini.

Semakin lama aku tidak bisa menahan kekhawatiranku lagi. Dengan segera kuambil jaketku dan keluar. Kuedarkan pandanganku ke sekitar apartemen. Kuperhatikan setiap sudut kalau-kalau dia duduk di sana. Tapi tidak terlihat seorangpun. Tentu saja. Siapa orang yang nekad berada di luar pada malam yang dingin seperti ini? Aku berjalan mengelilingi kompleks apartemenku dan juga memeriksa taman. Dia tetap tidak ada di manapun.

Tak terasa sudah dua jam aku berkeliling tanpa hasil. Akhirnya aku menyerah dan kembali ke apartemenku. Aku duduk di sofa. Fisik dan pikiranku benar-benar lelah. Aku benci diriku sendiri. Bagaimana bisa aku berkata sekasar itu padanya? Bukankah kami sudah berjanji akan melalui semuanya bersama-sama? Bukankah aku sudah berjanji bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap di sampingnya? Tapi apa yang sudah kulakukan?

Jaejoong-ah, aku menyadari ucapanku yang salah. Kalau saja tadi aku segera menyusulmu, mungkin ini tidak akan terjadi. Di mana kau sekarang? Kumohon kembalilah padaku, Jaejoong-ah.

End of POV

###

"Mwo?" teriak Junsu terkejut.

Yunho menundukkan wajahnya. Untunglah tidak ada Yoochun di situ. Kalau tidak dia pasti sudah dihajar habis-habisan karena melanggar janjinya. Dia bukan hanya gagal menjaga Jaejoong. Dia juga sudah menyakiti perasaan sekaligus menghilangkan kepercayaan Jaejoong.

"Aku tidak tahu ke mana lagi harus mencarinya." ujar Yunho lesu. Wajahnya pucat karena semalaman tidak tidur.

"Apa sudah kaucari di rumahnya?"

"Andwae. Dia pernah bilang tidak mau kembali lagi ke sana."

"Mungkin saja dia putus asa lalu pulang. Kau sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak menemukannya, kan. Tidak ada salahnya kau mencoba ke sana, Yunho-ah."

"Kalau dia benar-benar di sana, aku tidak yakin akan bisa membawanya pulang." ujar Yunho dengan sedih.

Junsu menatap Yunho dengan iba. "Yunho-ah, yang terpenting kau menemukannya dulu dan minta maaf padanya. Jangan memarahinya lagi. Dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia hanya ingin membantumu mendapatkan uang dan tidak mau merepotkanmu. Dia tidak tahu pekerjaan apa yang cocok untuknya karena selama ini dia hidup di keluarga kaya yang tidak pernah kekurangan. Dia tidak pernah tahu sulitnya mencari uang. Jadi dia terpaksa melakukan itu."

"Ne. Aku tahu." ujar Yunho lemah.

"Kau harus segera menemuinya dan membujuknya. Kalau masalah kalian selesai, ada banyak cara untuk membawanya keluar. Tidak mungkin keluarganya akan menyekapnya 24 jam, kan." ujar Junsu sambil tersenyum mencoba menenangkan sahabatnya.

Yunho menghela nafas panjang. "Kajja. Akan kucoba."

###

Yunho menarik nafas dalam mengumpulkan keberaniannya sebelum mengetuk pintu rumah itu. Seorang yeojya membukakannya pintu. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia melihat Nyonya Kim di belakang yeojya itu. Seketika itu juga dia terdiam.

"Ommo… lihat siapa yang datang." Nyonya Kim memandangi Yunho dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil tersenyum sinis. "Sudah lama kau tidak pernah ke sini lagi, Yunho-shi. Silakan duduk."

"Saya ke sini mencari Jaejoong." sahut Yunho tanpa basa-basi.

Nyonya Kim tertawa kecil. "Kenapa kau mencarinya? Bukankah kalian sudah bahagia hidup bersama? Dua namja yang tidak ada hubungan sedarah tinggal bersama di satu atap. Tsk, kubayangkan apa saja yang kalian lakukan di sana. Maksudku, kau tentu tahu dia orang seperti apa."

Yunho mengepalkan kedua tangannya. Sekarang bukan saatnya terpancing emosi. Dia harus segera menemui Jaejoong. "Jaejoong pergi dari semalam dan belum kembali. Saya yakin dia ada di sini. Di mana dia?"

"Kalau dia di sini, memang apa yang akan kaulakukan?"

"Saya akan membawanya kembali karena tempat ini tidak aman baginya."

Tiba-tiba Nyonya Kim tertawa keras. "Membawanya kembali ke apartemen kumuhmu itu? Tapi sepertinya dia membencimu sekarang. Apa yang membuatmu berpikir dia mau kembali bersamamu?"

Yunho terdiam berusaha sekeras mungkin menekan emosinya.

"Kau tahu, satu-satunya tempat yang pantas baginya hanyalah di sini. Kau orang miskin yang tidak bisa memberinya apa-apa. Lebih baik lupakan saja niatmu itu dan pulanglah. Aku tidak akan mempermasalahkan kejadian kau menculiknya dan memaksanya tinggal di tempat kumuh itu."

"Jaejoong sama sekali tidak keberatan tinggal bersama saya. Justru di sini dia menderita karena kalian terus menyiksanya."

"Haha… Yunho-shi, bukankah sudah pernah kubilang, Jaejoong anakku…"

"Jangan mengaku-ngaku dia anak karena dia bukan anak anda." Ucapan Yunho yang dingin memotong kata-kata Nyonya Kim.

Nyonya Kim tertegun sejenak. Ternyata Yunho sudah tahu semuanya. Dia tertawa lagi. "Sejak dia berumur 5 tahun, kami sudah mengangkatnya anak. Dia sah menjadi anggota keluarga Kim. Jadi apapun yang kulakukan padanya adalah hakku."

Yunho sadar percuma saja berdebat dengan Nyonya Kim. Tanpa membuang waktu dia melangkah masuk.

"Yah! Kau mau ke mana? Kau dilarang masuk tanpa izinku!"

Yunho tidak mempedulikan kata-kata Nyonya Kim dan langsung menuju lantai atas. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencekal tangan Yunho sebelum dia sampai di atas. Dia terkejut dan mendapati seorang namja di belakangnya.

"Tolong anda pergi sekarang juga sebelum saya gunakan kekerasan!" bentak namja itu.

Yunho tidak mempedulikannya dan terus berusaha naik.

"Yunho-shi, kalau kau tidak mau pergi, jangan salahkan kalau orang-orangku menghajarmu dan menyeretmu keluar." ujar Nyonya Kim penuh ancaman.

Yunho terdiam mendengar perkataan Nyonya Kim. Jangan sampai dia bertindak konyol yang hanya akan membuatnya babak belur dan gagal membawa Jaejoong. Dia sadar kalau dia tidak mungkin bisa mengalahkan mereka sekaligus.

"Aku bisa berjalan sendiri." sahutnya ketus sambil menepis kasar tangan si namja.

Si namja mengikuti Yunho sampai keluar gerbang. "Yunho-shi, tolong jangan datang ke sini lagi."

Yunho berbalik dan terkejut melihat wajah si namja yang sama sekali berbeda dengan waktu di rumah tadi. Tidak ada lagi raut garang yang ditampakkannya, kini berubah menjadi raut penuh simpati.

"Saya peduli pada tuan Jaejoong, sama sepertimu. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan tuan Jaejoong. Ini hanya akan membahayakan tuan Jaejoong dan dirimu sendiri. Tolong menyerahlah sekarang." ujar namja itu lalu meninggalkan Yunho.

Yunho tertegun. Ternyata tidak semua yang ada di rumah keluarga Kim itu orang jahat. Mungkin saja hanya Tuan dan Nyonya Kim yang berperingai abnormal seperti itu. Perlahan dia tersenyum kecil. "Tsk, apa kaupikir aku akan berhenti?"

Yunho mengelilingi rumah besar dengan dinding yang tinggi itu. Dia menemukan pintu gerbang kecil di sudut belakang rumah. Dia menarik nafas panjang. Dia sudah sampai di sana, jadi dia akan berusaha mengeluarkan Jaejoong bagaimanapun caranya. Dia mulai memanjat pintu itu dan melompat ke dalam. Dia mengendap-endap tanpa suara sampai dia berada di bawah jendela yang dia tahu berasal dari kamar Jaejoong. Dia melihat sebatang pohon yang tinggi menjulang dan salah satu cabangnya menjorok ke jendela itu. Dia menarik nafas panjang lalu mulai memanjat pohon itu. Dia sadar bahwa perbuatannya itu salah. Tapi mau tak mau dia harus melakukannya.

Setibanya di atas, tanpa pikir panjang dia langsung memasuki jendela yang terbuka itu. Seketika dia terbelalak melihat Jaejoong yang duduk meringkuk di ranjangnya. Pakaiannya koyak memperlihatkan sebagian tubuhnya yang memar. Darah yang masih tampak segar mengotori sprei putih itu.

###

Huff... sekian dulu. mohon repiu dr chingudeul skalian. gomawo :D.