CHAPTER 22

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T, or M ya, ga ngerti dah, kekeke...

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong ^^. jeongmal kamsahamnida bwt readers lama & baru yg mau meluangkan waktu mampir ksni. saya terharu baca repiu2 & support dr chingudeul, hikz... saya pgn bgt ff saya yg br satu2nya ini bs menghibur chingudeul. mian kl crita yg hmpr tamat ini makin membosankan. hbs udh bingung, sih. hehe... changmin emg blm kluar smp skrg. bsk2 mau dikluarin/ga, itu trserah chingudeul aja :D. kl jaema dibikin menderita lg, jujur otak saya udh meleleh, mau diapain lg nih umma, kacian. qiqi... saya gtw kpn jadiannya yoosu. mrk blm ngabari saya soalnya, hehe...

###

Dengan tergesa-gesa Yunho membuka kancing atas baju Jaejoong, memperlihatkan dada halus namja cantik itu. Tanpa membuang waktu dia melanjutkan aktivitas bibirnya menyusuri kulit putih itu sedang sebelah tangannya bekerja membuka sisa kancing baju Jaejoong.

"Ehm…"

"Hum?"

"Ehm…" Akhirnya Yunho sadar bahwa suara itu bukan berasal dari namja cantik yang sedang diciuminya tapi dari arah belakangnya. Seketika itu juga mereka berdua menoleh.

"Yah, apa tidak ada ruangan khusus untuk melakukannya?" Junsu tertawa geli.

Yunho dan Jaejoong tersentak dan melepaskan pelukan mereka dan memalingkan wajah mereka yang memerah.

"Yah, kenapa kalian di sini? Dan apa kalian tidak tahu gunanya bel di depan sana, huh?" Yunho tidak menyadari suaranya yang berubah ketus. Mau tak mau dia mengakui bahwa dia terganggu dengan kedatangan mereka.

Yoochun tertawa. "Mianhae. Kami sudah mengebel beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Lalu kucoba saja membuka pintu. Dan ternyata kalian memang sedang sibuk."

Wajah kedua namja itu semakin memerah lalu cepat-cepat merapikan pakaian masing-masing.

"Bukankah seharusnya Yoochun mengajari dongsaeng mu sore ini, Junsu-ah?" tanya Yunho.

"Huh, Kibum itu benar-benar membuatku kesal. Tiba-tiba dia seenaknya saja membatalkan lesnya. Dia malah memberi kami tiket bioskop. Kalau saja aku tahu, aku kan bisa ke sini sejak tadi." dengus Junsu.

"Tiket bioskop?" Seketika itu juga Yunho dan Jaejoong tertawa terbahak-bahak. "Yah, aku tidak pernah mengira dongsaeng mu itu begitu cerdas."

Junsu mengerutkan alisnya sambil cemberut. "Yah, apa maksudmu?"

Yunho terus saja tertawa. "Ani, ani. Lalu kenapa kalian ke sini? Seharusnya kalian menikmati waktu kalian menonton film."

"Umm… sebenarnya kami tidak ada rencana menonton, tapi Kibum marah-marah dan bilang kalau dia sudah menyisihkan uang saku berminggu-minggu untuk membelinya, jadi… tadi kami terpaksa…"

"Oh, jadi kalian pulang dari bioskop?" tanya Jaejoong memotong ucapan Yoochun sambil tersenyum menggoda.

"Yah, sudah cukup. Tidak usah dibahas lagi." sahut Yoochun memasang wajah kesalnya. Yunho dan Jaejoong hanya tertawa-tawa melihat reaksi mereka.

Yunho segera menyiapkan makanan untuk mereka dibantu Junsu. Jaejoong yang menyadari tingkat kemampuan memasaknya hanya bisa menyiapkan piring dan gelas. Beberapa saat kemudian mereka duduk bersama di depan meja makan.

"Umm… apa kalian sudah menemukan bagaimana cara menangkap Tuan Kim?"

Seketika raut wajah Yunho dan Jaejoong berubah mendengar pertanyaan Junsu.

"Walau banyak saksi di rumahmu, tapi pasti akan sulit bagi kita membujuk mereka. Tapi mungkin ada bukti saat mereka melakukannya. Mungkin sprei atau baju yang berdarah atau…"

Seketika Junsu mengaduh kesakitan ketika jari Yoochun mengetuk kepalanya. Dia melotot kesal ke arah Yoochun.

"Pabo! Apa kaupikir mereka tidak tahu cara menghilangkan jejak?" sahut Yoochun.

"Tapi apa tidak ada sesuatu yang bisa membuktikannya?" ujar Yunho sambil meremas rambutnya dengan frustrasi.

Akhirnya Jaejoong angkat bicara sesudah beberapa lama terdiam. "Umm… sebenarnya hanya ada satu."

"Eh?" Ketiga namja itu memandangi Jaejoong penuh rasa ingin tahu.

###

"Tuan Cho memanggil saya?" Yunho membungkuk di depan majikannya.

Namja yang bermarga Cho itu menoleh ke arah Yunho. "Ne." Dia menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini padamu. Tapi biar bagaimanapun kau harus tahu."

Mendadak perasaan Yunho menjadi tidak enak. "Ada apa, Tuan?"

"Kemarin ada seseorang datang mengaku sebagai suruhan Tuan Kim Hyun-joong, pimpinan perusahaan Kim."

Yunho menahan nafasnya dengan tegang. Tuan Kim Hyun-joong, appa angkat Jaejoong. Jadi Tuan Kim sudah tahu kalau dia bekerja di situ?

Tuan Cho memandang Yunho ragu-ragu. "Dia bilang mendapat perintah dari Tuan Kim untuk memecatmu. Kalau tidak, Tuan Kim akan menutup kafe ini. Kau tahu, dia orang yang sangat berpengaruh yang bisa melakukan apa saja. Tapi aku juga tidak bisa seenaknya memecat pegawaiku tanpa alasan. Lagipula kau salah satu pegawaiku yang paling rajin dan kau sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi aku mendiskusikannya dengan Tuan Kim Hyesung, appa tuan Junsu."

Yunho mendengarkan setiap ucapan Tuan Cho dengan gelisah. Ya, dia sangat membutuhkannya. Dia tidak tahu harus ke mana kalau sampai kehilangan pekerjaan ini.

"Aku tidak akan memecatmu. Tapi aku akan mengganti posisi kerjamu. Mulai sekarang tempatmu ada di dapur, bukan melayani para tamu lagi. Jadi tempatmu tersembunyi dan tidak akan terlihat orang-orang. Dengan begitu Tuan Kim akan berpikir bahwa kau tidak bekerja di sini lagi."

Yunho menatap majikannya penuh rasa syukur. "Jeongmal kamsahamnida, Tuan Cho. Entah bagaimana saya harus membalas kebaikan Tuan."

"Aku tidak tahu apa sebenarnya masalah kalian. Tapi yang kutahu, kau orang yang baik dan jujur. Jadi aku akan berusaha sekuat mungkin membantumu. Kau akan belajar membuat kue dan mengolah kopi."

"Ne. Arasseo. Sekali lagi terimakasih banyak, Tuan Cho." ujar Yunho dengan mata berkaca-kaca. Dia bersyukur mempunyai majikan yang begitu pengertian seperti Tuan Cho.

###

Jaejoong membuka pintu apartemen dan seketika dikejutkan dengan seikat bunga mawar yang segar dan harum. Dia tersenyum melihat siapa namja yang memegangnya. "Ada apa ini, Yunho-ah?"

"Aku ingat kau sangat menyukai bunga mawar, kan. Tapi aku tidak pernah memberikannya untukmu. Aku merasa keterlaluan sekali." ujar Yunho sambil tersenyum.

"Gomawo." Jaejoong mencium bunga itu penuh suka cita lalu meletakkannya ke dalam vas. "Seharusnya kau tidak perlu membeli barang seperti ini."

"Gwenchana, Jaejoong-ah. Aku senang bisa melakukan ini untukmu."

Sesudah Yunho mandi, mereka duduk berdampingan di sofa. "Ada apa? Sepertinya ada yang kaupikirkan." tanya Jaejoong khawatir melihat wajah Yunho yang pucat.

Yunho memaksakan diri tersenyum. Dia berpikir sebentar. Dia tidak mau membuat Jaejoong cemas. Tapi dia sudah pernah berjanji walau seberat apapun masalahnya, dia akan jujur pada Jaejoong. Dia lalu menceritakan semuanya pada kekasihnya itu.

Jaejoong mengepalkan tangannya penuh emosi. "Dia benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, huh?"

"Aku sudah bersyukur sekali Tuan Cho tidak memecatku. Dia orang yang sangat baik."

Jaejoong menatap iba wajah kekasihnya yang penuh tekanan itu. Jika bukan karena dia, hidup Yunho pasti masih baik-baik saja sampai sekarang. Tanpa berkata apapun dia menarik tangan Yunho ke kamar.

Yunho terpaku saat Jaejoong menciumnya tiba-tiba. Bibir lembut Jaejoong yang menekan bibirnya itu tidak pernah bisa ditolaknya. Tanpa membuang waktu dia membalas ciuman Jaejoong. Dia membuka mulutnya menggigit bibir atas Jaejoong, sedang Jaejoong melumat bibir bawahnya.

"Umm…" Yunho mendesah pelan ketika merasakan lidah Jaejoong memasuki mulutnya dan membelai apapun yang dilaluinya. Tanpa melepaskan ciumannya Jaejoong merebahkan tubuh mereka ke ranjang menarik tubuh Yunho ke atasnya.

"J-Jae-ah…" ujar Yunho gemetar menyadari posisi mereka sekarang.

"Sshh…" Jaejoong kembali menutup bibir Yunho dengan ciumannya yang panas dan basah, yang kembali dibalas Yunho dengan ciumannya yang tidak kalah agresif.

"Yunho-ah, kau tidak perlu takut. Lepaskan semua bebanmu. Jangan bayangkan hal-hal yang belum terjadi. Dengan begitu kau akan lebih tenang." Bisikan Jaejoong menyapu lembut telinga Yunho dan itu sudah cukup membuat tubuhnya menegang. Yunho membuka matanya beradu pandang dengan mata indah Jaejoong. Jaejoong menatap lurus kedua mata Yunho. Dalam hati dia siap memberikan apapun yang dimilikinya malam itu untuk Yunho, namja yang begitu dicintainya. Ya, hanya untuk Yunho.

Yunho menatap wajah Jaejoong yang hanya beberapa centi darinya. Jaejoong benar. Apa gunanya dia mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi? Saat ini Jaejoong ada bersamanya dan itu sudah lebih dari cukup baginya. Malam ini dia tidak mau memikirkan apapun. Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk memiliki Jaejoong. Ya, Jaejoonglah satu-satunya yang dia inginkan sejak dulu.

"Jaejoong-ah, mianhae ne?" bisiknya lalu mencium kembali bibir lembut Jaejoong. Tangannya mulai bekerja membuka kancing baju Jaejoong. Dia tersenyum melihat bekas kemerahan yang dibuatnya beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang belum hilang. Dia kembali melumat bibir Jaejoong dan perlahan turun ke lehernya dan dadanya. Sedangkan tangan Jaejoong mulai bergerak menarik lepas kaus Yunho.

###

Yunho menatap wajah cantik di pelukannya. Dengan lembut dia sibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat. Jaejoong mengernyit oleh sentuhan yang tiba-tiba itu. Perlahan dia membuka matanya. Yunho terkejut karena tindakannya membangunkan Jaejoong. "Mianhae ne?"

Jaejoong tertawa kecil mendengar ucapan itu. Sejak semalam entah sudah berapa kali Yunho mengatakan itu padanya. Yunho yang begitu polos. Yunho yang sangat lucu di malam pertama mereka. Yunho yang selalu khawatir bila setiap gerakannya akan menyakiti Jaejoong. Tapi itulah yang membuat Yunho istimewa dari orang lain. Kepolosan, ketulusan, dan keteguhan hati Yunholah yang sudah meruntuhkan kekerasan hatinya.

"Permintaan maaf untuk apa lagi ini, Yunho-ah?" tanyanya lembut sambil mengusap keringat di dahi Yunho.

Yunho tersenyum. "Aku minta maaf karena sudah membangunkanmu."

Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Sudah lebih baik. Gomawo."

Jaejoong menatap wajah tampan kekasihnya. "Yunho-ah, kau tahu, di dunia ini aku hampir tidak pernah merasakan ketakutan."

Yunho memandang Jaejoong penuh perhatian.

"Ketakutanku yang sangat besar adalah ketika marga Kim itu pertama kali meniduriku. Aku masih ingat tawanya yang menjijikkan sesudah berhasil merusak tubuhku. Sejak itu aku seperti mati rasa. Aku tidak peduli lagi tentang apapun yang akan terjadi padaku. Aku tidak takut sakit atau apapun. Tapi sejak mengenalmu, ketakutan itu muncul lagi."

Jaejoong menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku takut… kau tertimpa masalah. Aku takut kau disakiti atau terluka. Aku takut… aku takut kehilangan kau."

Yunho menatap Jaejoong dengan terharu. Dia menggenggam tangan Jaejoong dan menempelkannya ke dadanya. "Jae-ah, kau tahu? Kurasa aku orang yang paling beruntung di dunia ini. Kebahagiaanku yang terbesar adalah ketika kau mau tinggal bersamaku dan ketika kaubilang kau mencintaiku. Dan juga saat ini, saat aku bisa memilikimu seutuhnya. Sungguh aku tidak mau meminta lebih. Aku hanya ingin terus bersamamu sampai kapanpun. Jadi jangan khawatir karena kita akan saling memiliki dan tidak mungkin terpisah. Jangan takut ne?"

"Kau janji?"

"Ne. Aku janji."

"Aku juga berjanji padamu. Mulai sekarang tubuh dan hatiku hanya milikmu. Tidak akan kubiarkan seorangpun menyentuhku lagi."

Yunho tersenyum. Dia masih tidak percaya bahwa sekarang dia bisa memiliki seorang Kim Jaejoong. Namja cantik yang menjadi dambaan setiap namja sekaligus yeojya di dunia kini ada di hadapannya, saling mengucapkan janji akan selalu bersama dan menjaga kesetiaan. Seandainya ini mimpi, sungguh Yunho tidak ingin bangun lagi.

Perlahan Yunho menggerakkan kepalanya ke atas mencium kening Jaejoong. Bibirnya menyusuri wajah Jaejoong tanpa melewatkan bagian sekecil apapun. Desahan pelan dan hembusan nafas hangat Jaejoong mampu membuat benda miliknya di bawah sana kembali mengeras. "Jaejoong-ah, mianhae ne?" bisiknya sambil tersenyum.

###

Yunho membuka matanya yang lelah. Pandangannya mencari-cari sosok cantik yang sudah tidak ada di pelukannya. Seketika rasa khawatir menyerangnya. Dengan cepat dia memakai pakaian seadanya dan berlari keluar kamar. Dia menghela nafas lega mengetahui kekasihnya sibuk di dapur. Bayangan kekasihnya itu meninggalkannya benar-benar membuatnya gelisah dan tidak bisa berpikir jernih.

Tanpa suara dia berjalan di belakang Jaejoong dan melingkarkan kedua lengan ke pinggangnya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat namja cantik itu terlonjak kaget. Telur mata sapi yang baru saja diangkatnya dari penggorengan jatuh ke lantai. "Yunho-ah…" rengeknya sambil menatap Yunho kesal.

Yunho terkejut lalu tertawa kecil. "Mianhae ne? Aku tidak bermaksud mengejutkanmu."

Jaejoong mengerucutkan bibirnya manja. "Aku sudah bersusah payah membuatnya dan berhasil. Lihat, ini telur ketiga yang kugoreng." ujarnya sambil menunjuk keranjang sampah.

Yunho mengikuti arah telunjuknya. Seketika itu juga tawanya meledak melihat telur mata sapi yang hangus di sana.. "Haha… aku belum pernah melihat telur yang lebih hitam dari itu."

Jaejoong membelalakkan matanya dengan kesal.

"Haha… mianhae, mianhae ne? Lagipula apa yang ada di pikiranmu berada di dapur sepagi ini?"

"Umm… aku hanya mau menyiapkan sarapan untuk kita." jawab Jaejoong malu. Sebenarnya dia berencana membuat kejutan istimewa untuk Yunho, tapi Yunho justru menggagalkannya.

Yunho menatapnya dengan mulut ternganga. Belum pernah sekalipun Jaejoong melakukan ini untuknya. "Sudahlah. Aku saja yang membuatkan sarapan ne?" ujarnya lalu membuka lemari es. Tapi belum sempat dia buka, Jaejoong sudah mencegahnya.

"Wae, Jae-ah?" tanya Yunho heran.

"Aku tidak mau kau memasak dengan penampilan berantakan seperti itu. Kau mandi dulu ne?"

Yunho tertawa. Dia memperhatikan Jaejoong dari atas sampai bawah, baru menyadari bahwa Jaejoong sudah berpakaian rapi di balik celemeknya. "Kajja. Aku mandi dulu. Sementara itu kaubuat dulu saja kopinya ne?"

Jaejoong mengangguk. Kalau hanya menyeduh kopi saja dia sudah sering mempraktekkannya.

###

Yunho memperhatikan Jaejoong yang sibuk ke sana kemari mengambil piring, sendok, dan cangkir lalu menatanya di meja makan. Dia tersenyum sendiri. Benar-benar mencerminkan seorang istri idaman. Dia bahagia Jaejoong sudah rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan untuknya. Hal yang belum pernah dilakukan Jaejoong sejak tinggal bersamanya. Sisi feminin yang belum pernah dilihatnya dari seorang Kim Jaejoong. Apa yang membuatnya berubah? Seandainya saja Jaejoong bisa memasak, dia pasti akan semakin bahagia. Dalam hati dia bertekad akan serius mengajari Jaejoong memasak.

"Wae, Yunho-ah?" Jaejoong tidak tahan juga melihat Yunho yang terus-menerus memperhatikannya.

"Ani. Aku hanya berpikir… aku beruntung mempunyai calon istri sepertimu."

Seketika wajah Jaejoong memerah. "Yunho-ah, jangan mengejekku lagi."

Yunho tertawa. "Yah, apa nada suaraku terdengar mengejek? Aku serius, Jae-ah. Aku belum pernah melihatmu seperti ini."

"Aku… aku hanya ingin membuatmu bahagia. Aku tidak mau kau menyesal karena sudah memilihku." ujar Jaejoong sambil menunduk.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong. "Apa aku pernah bilang kalau aku menyesal?" Jaejoong tersenyum malu dan menggeleng. "Aku bisa memilikimu, itu sudah lebih dari cukup."

Jaejoong terkejut ketika tiba-tiba Yunho menarik tubuhnya hingga jatuh ke pangkuannya. Sebelum Jaejoong sadar, Yunho sudah melingkarkan kedua lengan ke pinggangnya dengan erat. Dia berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan. Dia belum pernah melihat Yunho yang agresif seperti ini. Biasanya dia yang harus memancing Yunho dulu supaya Yunho bertindak.

"Aku akan lebih bahagia… kalau kau mengizinkanku menyuapimu."

Jaejoong merasakan wajahnya yang semakin memanas saat melihat Yunho menyendok nasi goreng dan mendekatkannya ke mulutnya. Jaejoong menarik nafas dalam menahan rasa malu sebelum membuka mulutnya.

"Eh?" Jaejoong terkejut ketika Yunho mengarahkan sendok itu ke mulutnya sendiri dan memakannya. "Yah, Jung Yunho!" teriaknya sambil memukul Yunho yang tertawa-tawa. Merasa kesal karena Yunho lagi-lagi berhasil menggodanya.

###

Junsu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumahnya dengan heran. Tidak biasanya rumahnya sepi seperti ini.

"Apa tidak ada orang di rumahmu, Junsu-ah?" tanya Yoochun.

"Aku tidak tahu. Kibum seharusnya sudah pulang satu jam yang lalu. Tapi kenapa aku tidak mendengar suaranya?" Junsu berjalan ke dapur dan memanggil-manggil pembantunya. Tapi tidak ada jawaban.

"Aneh sekali." ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara barang terjatuh dari sebuah kamar. Junsu segera mencari asal suara dan seketika terbelalak melihat sesosok berpakaian serba hitam sedang mengambil barang-barang di kamar orangtuanya. Dia segera menarik tangan Yoochun untuk bersembunyi di balik lemari.

"Junsu-ah…"

"Sshh…" bisik Junsu gelisah. Baru pertama kali ini rumahnya dimasuki pencuri dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Satpam dan pembantunya yang biasanya siap di tempat sekarang tidak terlihat di manapun. Seketika bayangan Kibum memenuhi pikirannya. Di mana dia sekarang? Wajahnya kini pucat pasi.

"Junsu-ah, kita harus menangkap pencuri itu." sahut Yoochun sambil beranjak keluar dari persembunyiannya. Tapi sebelum dia sempat bergerak, Junsu sudah menariknya lagi.

"Jangan! Kau tidak melihat dia membawa pisau di pinggangnya tadi?" bisik Junsu khawatir.

"Tapi kita harus segera melakukan sesuatu. Dan kita juga harus mencari Kibum dan pembantumu."

"Ne. Aku tahu. Tapi ini terlalu berbahaya. Bagaimana kalau temannya juga ada di rumah ini?"

Tiba-tiba Junsu terbelalak melihat pencuri itu berjalan keluar dari kamar. Sebentar lagi dia pasti mengetahui keberadaan mereka. Tempat terbuka itu tidak layak untuk bersembunyi. Tanpa pikir panjang dia menarik tangan Yoochun ke kamar di dekatnya. Mereka mengintip gerakan pencuri itu dari sela pintu. Mereka menahan nafas ketika pencuri bertopeng itu berjalan sambil menunduk mendekati kamar mereka.

"Dia pasti sempat melihat kita masuk ke sini tadi." bisik Junsu. Wajahnya semakin tegang dan jantungnya berdebar kencang. Dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa membuang waktu dia menarik Yoochun masuk ke lemari pakaian dan menutup pintunya.

"Kenapa kita harus…"

"Sshh…" Junsu menutup mulut Yoochun dengan tangannya saat mendengar pintu kamar dibuka. Yoochun melihat wajah Junsu yang pucat pasi. Mereka mendengar suara langkah kaki di luar lemari.

Mereka menunggu beberapa saat tapi sepertinya pencuri itu masih belum meninggalkan kamar. Apa yang membuat si pencuri lama sekali berada di situ? Yoochun benar-benar tidak tahan lagi. Dia beranjak keluar dari lemari. Junsu yang menyadari gerakan Yoochun dengan cepat menariknya lagi. Yoochun kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Junsu. Junsu terbelalak merasakan bibir Yoochun yang tiba-tiba mendarat ke bibirnya. Mendadak jantungnya seperti berhenti berdetak.

Yoochun tersentak dengan sensasi tiba-tiba yang melanda dirinya. Sejenak dia tidak bisa berpikir jernih. Untuk beberapa saat mereka berada di posisi itu tanpa ada yang bergerak. Akhirnya Junsu sadar dan dengan cepat mendorong Yoochun. Junsu menatap Yoochun dengan nafas terengah-engah, entah karena udara lemari yang pengap atau karena terdorong oleh perasaannya sendiri yang saat ini bercampur aduk. Dia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Yoochun tapi sayang tidak bisa karena sempitnya lemari itu. Yoochun pun mengalihkan wajahnya tidak berani memandang Junsu.

Mereka menunggu beberapa menit. Akhirnya si pencuri sepertinya keluar juga. Mereka mengendap-endap keluar dari lemari. Sekarang Yoochun bisa melihat dengan jelas wajah Junsu yang begitu merah. Diapun merasakan pipinya yang masih panas, mungkin tidak jauh berbeda dengan Junsu. Perlahan mereka membuka sedikit pintu kamar dan mengintai.

"Kau mau ke mana?" tanya Junsu mencegah Yoochun yang sepertinya akan berlari keluar.

"Sampai kapan kita mau bersembunyi terus?" sahut Yoochun tidak sabar.

"Sudah kubilang itu terlalu berbahaya. Bagaimana kalau kau terluka nanti?"

"Aku tidak takut."

Junsu berpikir sejenak. "Kita telepon polisi saja."

Yoochun memutar bola matanya. "Mungkin waktu polisi datang nanti dia sudah terlanjur pergi dan semuanya terlambat."

"Yah, apa maksudmu?"

"Kalau bukan gara-gara kau yang terus menghalangiku, pencuri itu sudah kuringkus dari tadi." sahut Yoochun sambil membelalakkan matanya ke arah Junsu.

"Yah, apa kau tidak tahu aku khawatir padamu?" balas Junsu sengit.

Yoochun terdiam sejenak mendengar keterusterangan Junsu. "Aku heran padamu. Kau pernah berhadapan dengan banyak perampok bersenjata dan kau tidak takut. Kita berdua sedangkan dia sendirian. Kita pasti bisa mengalahkannya. Lalu kau takut apa?"

"Kaukira aku takut menghadapinya? Tapi kau tidak tahu, kan. Mungkin saja dia membawa beberapa temannya. Kita tidak tahu apakah mereka ada niat lain selain mencuri. Sekarang aku tidak hanya mengkhawatirkan kita. Aku juga khawatir dengan nasib Kibum. Di mana dia, apa dia baik-baik saja, aku tidak tahu sama sekali ."

Yoochun tertegun menatap mata Junsu yang berkaca-kaca. Mendadak kemarahannya lenyap, sebaliknya dia merasa simpati pada Junsu.

"Appo…" Suara itu mengejutkan kedua namja yang sedang berdebat. Dengan segera mereka mengalihkan pandangan ke arah pencuri itu. Junsu terbelalak melihat si pencuri tersungkur di lantai. Sepertinya dia tersandung mainan Kibum yang ada di dekatnya.

"Yah!" teriak Yoochun. Refleks si pencuri menoleh ke arahnya. Seketika Junsu terbelalak menatap kedua mata familiar di wajah yang nyaris tertutup seluruhnya itu. Si pencuri terkejut dan langsung melarikan diri.

"Yah! Yoochun-ah, cepat kejar dia." teriak Junsu lalu berlari mengejar pencuri itu. Yoochun terkejut dan segera menyusul Junsu.

Dalam waktu singkat Yoochun berhasil menangkapnya. Dengan cepat dia membuka penutup muka pencuri itu.

"Taemin-ah!" Junsu membelalakkan matanya tidak percaya. Sang namja yang disebut namanya hanya meringis.

"Apa yang kaulakukan di sini? Dan apa maksudmu berpakaian seperti itu?!" teriak Junsu.

Namja itu mengusap-usap belakang kepalanya dengan salah tingkah. Yoochun keheranan memperhatikan si namja. "Kau mengenalnya?"

"Bukan kenal lagi. Dia Taemin, saudara sepupuku." Junsu mengalihkan pandangannya lagi. "Yah, apa kau sudah gila? Apa yang ada di pikiranmu mau mencuri di rumahku, huh? Otakmu sudah rusak?" omelnya tanpa henti.

"Umm… aku…" Taemin memandangi mereka dengan gelisah. "Mi-mianhae, hyung."

"Aku harus melaporkan ke orangtuamu tentang ini."

Taemin terbelalak ketakutan mendengar ancaman Junsu. "Jangan, hyung! Bagaimana aku menghadapi mereka nanti? Bisa-bisa aku dikurung selama seminggu."

"Lalu apa maksudmu melakukan ini semua, huh?! Kau membuatku hampir mati ketakutan. Di mana Kibum dan Seohyun? Mana barang-barang yang tadi kauambil? Cepat kembalikan!"

"Yah, hyung! Apa kau benar-benar berpikir aku sejahat itu? Justru Kibum yang menyuruhku melakukan ini!"

"Eh?"

Refleks Taemin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Junsu menatapnya penuh selidik, menyadari ada sesuatu yang dia sembunyikan.

"Di mana Kibum?"

Tanpa menjawab Taemin menunjuk ke arah mesin cuci. Junsu berjalan ke arah yang ditunjuk lalu membuka penutupnya. Junsu terbelalak melihat Kibum berjongkok di dalam dengan tersenyum gelisah.

###

Beberapa saat kemudian keempat namja itu duduk di ruang tamu. Junsu menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mendengarkan penjelasan kedua dongsaeng nya.

"Begitu ceritanya. Kibum menyuruhku untuk menakut-nakuti kalian. Dia juga meminjamiku pisau untuk mengancam kalian." Taemin mengeluarkan pisau di pinggangnya yang ternyata hanya mainan.

"Sebenarnya aku bingung. Kau tahu kan sejak kecil aku tidak pernah bermain perang-perangan. Tadi aku mendengar suaramu memanggil-manggil Seohyun, jadi aku tahu kalian sudah pulang jadi aku memulai aksiku. Tadi sempat kulihat diriku di cermin, ternyata aku keren juga." Senyum lebar Taemin mendadak lenyap melihat Junsu yang melotot marah ke arahnya.

"Kutunggu kalian memergokiku tapi kalian tidak datang juga. Lalu aku mencari kalian. Kibum memberi tahu kalau kalian ada di kamar itu dan dia menyuruhku untuk berlama-lama di sana. Aku bingung sebenarnya kalian bersembunyi di mana, hyung?"

"Yah, Min hyung. Apa kau tidak pernah menonton film-film laga dan detektif? Tempat apapun bisa dijadikan tempat persembunyian termasuk lemari." sahut Kibum sambil tertawa terbahak-bahak.

Taemin terbelalak mendengarnya. "Maksudmu? Hyung, jangan bilang kalian bersembunyi di lemari yang sempit itu. Ommo… aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana."

Kibum menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ommo… jangan-jangan selama ini kau hanya menonton film romantis, hyung." Dia mengalihkan pandangannya ke Junsu. "Tapi aku heran kenapa kalian tidak keluar-keluar, hyung. Aku curiga apa saja yang kalian lakukan di dalam sana." ujarnya sambil menyeringai nakal.

Seketika wajah Yoochun dan Junsu memanas teringat kejadian memalukan itu. Sejenak mereka tidak bisa berkata apa-apa.

Junsu membelalakkan matanya ke arah Kibum, masih tidak percaya dengan semua yang didengarnya. "Kaupikir ini lelucon, huh?! Apa maksudmu menyuruh Taemin melakukan ini?"

Kibum tertawa lebar. "Di film-film, seorang namja pasti akan melindungi pacarnya kalau pacarnya sedang dalam bahaya."

Junsu mengerutkan alisnya, semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Kibum.

"Kupikir…" Kembali muncul seringaian dari bibir Kibum. "Yoochun hyung pasti akan melindungimu kalau seandainya kau sedang diancam. Aku hanya mau membuktikannya."

"Kim Kibum, kaupikir ini film drama, huh?!" Junsu mengacak-acak rambutnya frustrasi, bingung dengan apa yang harus dia lakukan pada Kibum. Dia tidak habis pikir film-film seperti apa yang sudah ditonton dongsaeng nya itu sampai dia menjadi dewasa sebelum waktunya. Yoochun hanya memandangi mereka bertiga dengan raut wajah bingung. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Bagaimana seorang namja kecil seperti Kibum bisa mempunyai ide seperti itu?

"Kajja. Mulai sekarang kau tidak boleh lagi bermain game di kamarku."

Kibum terbelalak mendengar ucapan Junsu.

"Kau benar-benar membuatku kesal sekarang. Kau sudah membuatku takut setengah mati. Aku juga akan melaporkanmu pada appa dan umma supaya mereka menghukummu dan tidak memberimu uang saku lagi." ujar Junsu tegas.

"Hyung, apa kau tega melakukan itu?" rengek Kibum. "Bukankah aku satu-satunya dongsaeng mu?"

Junsu tetap tidak bergeming dengan rengekan Kibum. Taemin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Kibum yang tampak menderita.

"Yah! Apa yang membuatmu bebas tertawa seperti itu? Aku juga akan melaporkanmu ke Ahjussi dan Ahjumma."

Kini giliran wajah Taemin yang pucat pasi. "Hyung, kau tidak serius kan? Aku sudah bilang kalau aku hanya disuruh Kibum…"

"Aku tidak peduli!"

Segera saja terjadi kegaduhan di ruang tamu yang besar itu. Kedua dongsaeng merengek memohon belas kasihan pada hyung mereka. Yoochun hanya tertawa pelan menyaksikan tiga bersaudara itu. Dia berpikir seharusnya dia ikut memarahi muridnya itu, tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukannya. Dalam hatinya tanpa sadar dia memaklumi semua perbuatan Kibum. Kibum benar-benar berharap dia dan hyung nya bisa menjadi sepasang kekasih.

###

Seorang namja terlihat berbicara dengan serius di telepon. "Bagaimana hasil kerjamu? Hmm… tinggal 30 persen lagi yang akan masuk ke rekening? Kajja. Ingat jangan sampai seorangpun mencium perbuatanmu. Ne. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."

Namja itu menutup teleponnya. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya kalau kekayaanmu digerogoti pelan-pelan, seperti yang sudah kaulakukan dulu. Sebentar lagi tidak akan ada Tuan Kim Hyun-joong yang terhormat. Yang ada hanyalah Kim Hyun-joong si pengemis. Haha…"

###

Waa... miaaaannn... yunjae nya pas mau NCan masang kelambu dulu, jdnya saya ga bs ngintip XD. jeongmal mianhae, saya emg bnrn ga bs bkin NC, suer pangkat 10000... saya takut kl nekad bkin malah jd ancur2an & bkin readers kapok bacanya, haha... jdnya saya kembalikan ke imajinasi readers masing2 & saya sndr LOL. nulis bag pemanasannya aja saya smp kringet dingin, maafkan saya yg ga brguna, qiqiqi... ini saya critain sekilas ttg first kiss nya yoosu ^^. mian kl smakin aneh aja, hehe... mohon repiunya ne chingudeul. gomawo :D.