CHAPTER 23

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul. saya dtg lg. hehe... mian updet nya agak lama. hrs ngarang dulu soalnya :p. bwt readers lama & baru, gomawo udh ninggalin repiunya yg sangat brharga bwt saya :). jeongmal mianhae krn saya bnrn ga bs bkin NC di chap lalu. saya suka baca & mgkn bs nulis yg nyerempet2 kstu, tp kl nyeritain prosesnya dr awal-akhir, jujur saya ga kuat :). krn itu rating ff tetep saya pertahanin T, krn saya ga bs janji bkl bkin NC. maklum saya cm manusia yg pny byk keterbatasan, mian krn udh ngecewain sbagian chingudeul :). jd bwt chingu yg berencana nggolok saya, tolong disimpen lg ne ^^. bwt chingu yg udh brkenan ngoreksi bhs Kore saya, jeongmal kamsahamnida ne. slama ini ngirain 'kajja' itu 'baiklah', trnyata salah ya. hihi... dsni yunpa emg polos & bs masak, jd bukan jaema. krn jaema slama di rmhnya kan mengisolir dirinya sndr, ga kpikiran deh bwt bljr masak. hehe... o, ya. dongsaengnya junsu itu kibum nya suju yg imut ^^.

###

Tuan Kim mendengarkan laporan asistennya di kantor sambil memijat-mijat keningnya. "Tidak ada jalan lain. Kita harus menyusun proposal kerjasama ke beberapa perusahaan besar lain sesegera mungkin. Tekan biaya produksi barang-barang elektronik kita, naikkan sedikit harga penjualannya. Lakukan hal yang serupa pada restoran-restoran yang kita punya. Perluas juga publikasinya. Untuk sementara turunkan gaji semua pegawai dan keluarkan beberapa dari mereka yang kinerjanya buruk."

"Tapi dengan begitu para karyawan akan berpikir ada masalah di perusahaan, Tuan."

"Apa kau sebodoh itu? Lakukan semua itu satu demi satu, jangan sekaligus supaya mereka tidak curiga. Aku tidak mau mereka sampai tahu kalau keuangan kita sedang krisis. Ingat, jangan sampai orang luar tahu tentang berita ini. Arasseo?"

"Ne, arasseo. Saya permisi dulu, Tuan Kim." Namja itu membungkuk lalu keluar dari ruangan.

Tuan Kim menggebrak mejanya dengan geram. "Siapapun kau dan di manapun kau berada sekarang, kau tidak tahu kau berhadapan dengan siapa. Tunggu saja, aku akan mencarimu sampai dapat dan kau akan merasakan berkali-kali lipat dari ini."

###

"Yunho-ah, coba kauhias kopi ini seperti yang kuajarkan tadi."

"Baik." Yunho mengambil krim dan mulai membentuk pola bunga di atas kopi.

Namja yang mengajarinya memperhatikan cara kerjanya dan mengangguk-angguk puas. "Bagus. Dua minggu ini kau sudah mempelajari berbagai macam pola. Kulihat gemetarmu sudah banyak berkurang. Kau harus banyak berlatih ne?"

Yunho mengangguk sambil tersenyum. "Ne. Gomawo, songsaengnim."

Namja itu tertawa. "Yah, jangan panggil aku seperti itu."

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara gaduh di depan. Mereka memeriksanya dan terbelalak melihat beberapa namja menyerang kafe itu. Mereka membanting meja, kursi, dan melemparkan makanan para pembeli. Mereka memecahkan jendela dan merusak dekorasi kafe. Dalam sekejap kafe itu porak poranda. Para pembeli menjerit ketakutan dan cepat-cepat berlari keluar menyelamatkan diri.

Tuan Cho berlari keluar begitu mendengar kegaduhan itu. Seketika wajahnya pucat pasi melihat keadaan kafenya yang hancur berantakan. Dia segera memasuki ruangan lagi mendengar suara dering telepon.

"Yo-yoboseyo?" ujarnya dengan suara gemetar, masih tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.

"Apa kau sudah menerima kejutanmu sore ini?" ujar seseorang di seberang sana.

Tuan Cho terbelalak. "Anda… anda siapa? Anda yang sudah merusak kafe saya? Kenapa?"

Terdengar orang itu tertawa kecil. "Hmm… aku ingat dua minggu yang lalu kau bilang akan memecat Jung Yunho. Kenapa kau mengingkari janjimu sendiri, huh?"

Wajah Tuan Cho semakin pucat lalu memandang ke arah Yunho yang sedang sibuk menghentikan aksi para namja itu di luar.

"Sa-saya tidak mengerti. Dia pegawai yang rajin dan jujur. Kenapa saya harus memecatnya?"

"Tsk. Kau tidak tahu apa-apa. Ini yang kaudapat karena sudah berani membuat masalah dengan Tuan Kim. Lebih baik kaupertimbangkan baik-baik sebelum keadaan bertambah parah. Ingat. Tuan Kim mampu berbuat apa saja yang diinginkannya."

Tuan Cho terdiam. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa.

###

Jaejoong terbelalak melihat kekasihnya yang pulang dalam keadaan lemah lunglai. "Yunho-ah, wae? Kenapa kau seperti ini? Kau sakit?" ujarnya khawatir sambil menuntun Yunho duduk di sofa. Segera dia mengambilkan minuman dingin untuk Yunho.

"Gomawo." ujar Yunho lirih.

"Apa ada masalah?"

Yunho menundukkan wajahnya. "Aku… aku dipecat."

Jaejoong terkejut sekali mendengarnya. "Wae? Setahuku Tuan Cho sangat menyukaimu. Dia senang mempunyai pegawai sepertimu."

Yunho mendesah. "Aku juga tidak tahu. Tadi ada orang-orang yang menghancurkan kafe. Lalu tiba-tiba saja dia memecatku."

Jaejoong terdiam sejenak. Dia masih tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Mendadak dia berdiri dan mengambil jaketnya bersiap keluar.

"Yah, kau mau ke mana?" Yunho memegang lengan Jaejoong.

"Aku tahu ini pasti ulah marga Kim itu. Aku mau ke sana, bisa-bisanya dia berbuat seenaknya seperti itu."

"Jangan. Itu berbahaya, Jae-ah. Ayo, duduklah lagi." ujar Yunho gelisah sambil menarik tangan Jaejoong.

"Ani! Aku tidak bisa membiarkannya berbuat begitu. Dia sudah melewati batas."

"Jae-ah, kalau kau ke sana, kau tidak akan bisa keluar lagi. Kumohon, Jae-ah. Aku tidak mau kehilangan kau lagi."

Jaejoong menatap mata Yunho yang penuh permohonan. Dia mendesah lalu duduk lagi. "Aku membencinya. Seharusnya orang sepertinya lenyap dari muka bumi."

"Sudahlah. Aku… aku akan mencari jalan lain. Aku akan mencari pekerjaan lagi." ujar Yunho bimbang. Dia tidak yakin akan mudah mendapatkan pekerjaan sesudah apa yang terjadi.

"Daripada kau berputar-putar mencari pekerjaan, lebih baik kita fokus dengan apa yang kita kerjakan besok."

"Sejujurnya aku tidak yakin akan berhasil, Jae-ah." ujar Yunho dengan ragu-ragu.

"Kalau kita belum mencoba, kita tidak akan pernah tahu, Yunho-ah."

"Tapi… aku takut masalah kita akan semakin berat…"

"Sshh… sejak kapan Yunho ku menjadi begitu pesimis?"

Sejenak Yunho terdiam. Jaejoong benar. Biasanya selama ini dia yang selalu memberi semangat dan dukungan pada Jaejoong. Kenapa mendadak dia berubah lemah seperti ini? Sejak kehilangan pekerjaannya, pikirannya seperti buntu dan keyakinannya mulai hilang.

Jaejoong menggenggam tangan Yunho. "Yunho-ah, aku membutuhkanmu. Jadi kau harus kuat ne?"

Yunho memeluk Jaejoong erat-erat. "Ne. Mianhae, aku tidak tahu kenapa menjadi selemah ini? Sekarang ini banyak ketakutan di hatiku. Aku tidak tahu apa kita bisa melewati semuanya."

"Yunho-ah, apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama. Jangan khawatir ne?"

Pelukan Yunho semakin erat, seakan dia takut Jaejoong akan menghilang dari hadapannya. Mereka berpelukan beberapa saat. Yunho menangkupkan kedua tangannya ke pipi Jaejoong dan mencium bibir namja cantik itu. Jaejoong dengan senang hati membalas ciumannya. Perlahan Yunho melepaskan ciumannya dan tiba-tiba mengalungkan sesuatu di leher Jaejoong.

"Eh?" Jaejoong terkejut, refleks dia memegangi benda itu. Yunho hanya memandanginya sambil tersenyum.

Jaejoong berlari ke cermin kecil yang ada di ruang tamu itu. Seketika dia terpesona melihat seuntai kalung yang kini menempel di lehernya. Kalung dengan liontin berbentuk huruf YJ dengan borgol hitam yang mengelilinginya. "YJ... Yunho Jaejoong?" bisiknya sambil tersenyum sendiri.

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan sepasang tangan yang melingkari kedua lengannya dari belakang. "Kuharap kau menyukainya. Sebenarnya kalung ini sudah kubeli beberapa hari yang lalu. Aku mencari waktu yang tepat untuk memberikannya tapi tidak pernah sempat. Mianhae."

Jaejoong mengusap-usap kalung itu sambil terus mengaguminya. "Yunho-ah, ini indah sekali." Seketika dia sadar dan membalikkan tubuh menghadapi Yunho. "Berapa harganya, Yunho-ah? Bukankah sudah berkali-kali kubilang padamu untuk membatasi pengeluaran?"

Yunho mengusap belakang kepalanya dengan gelisah. "Umm... Jae-ah, jangan salah sangka. Kalung ini murah. Penjualnya adalah pelanggan kafe sekaligus sahabat Tuan Cho. Jadi aku mendapat diskon lumayan darinya. Mianhae. Sekarang aku hanya mampu membelikan barang murah ini untukmu." ujar Yunho penuh penyesalan.

"Yah, apa aku pernah mempermasalahkan berapa harga barang yang kauberikan untukku? Justru aku tidak mau kalau kau membeli barang mahal. Jeongmal gomawo, Yunho-ah. Aku sangat menyukainya."

"Syukurlah kalau begitu. Aku juga membeli satu untukku sendiri." Yunho mengeluarkan kotak kalung dari sakunya. Tapi sebelum dia sempat memakainya, Jaejoong sudah merebutnya.

"Aku yang memakaikannya untukmu ne?" ujar Jaejoong sambil tersenyum lalu memasangkan kalung itu di leher Yunho. Beberapa saat berlalu tapi tangan Jaejoong tidak juga berpindah dari leher Yunho. Dia menatap Yunho dalam-dalam. "Kenapa kau membeli kalung ini, Yunho-ah?"

Yunho menatap Jaejong dengan lembut."Borgol ini... menunjukkan kita terikat satu sama lain. Selama kita tidak melepaskan kalung ini, itu berarti kita masih saling memiliki dan mencintai."

Hati Jaejoong menghangat mendengar ucapan Yunho yang menyentuh. Perlahan dieratkannya pelukannya pada leher Yunho dan didekatinya bibir berbentuk hati itu. Bibir mereka bertemu, berawal dari lumatan pelan yang lama-kelamaan berubah agresif. Yunho mulai menggerakkan bibirnya menelusuri leher jenjang Jaejoong. Saat ini dia merasa ketegangannya berkurang, dan semua itu karena sentuhan Jaejoong.

"Umm… Yunho…" desah Jaejoong ketika merasakan tangan Yunho mulai menarik-narik kausnya.

"Wae?" gumam Yunho tanpa menghentikan aktivitasnya.

Jaejoong menunjuk ke arah kamar. "Umm… kamar kita ada di sana."

"Oh, ne. Aku lupa." Yunho menyeringai dan tanpa membuang waktu dia menggendong Jaejoong ala bridal style ke kamar. Jaejoong menahan nafas, merasa heran dengan perilaku Yunho yang aneh akhir-akhir ini. Apa dia sudah membuat Yunho yang polos berubah begitu drastis? Dia tersenyum simpul lalu mengunci kembali bibirnya dengan bibir Yunho.

###

"Mwo?! Kau dipecat, Yunho-ah?!" teriak Junsu.

Yunho menjauhkan telinganya dari ponsel. "Yah, pelankan suaramu. Aku belum tuli."

"Marga Kim itu benar-benar keterlaluan. Dia harus diberi pelajaran."

Yunho tersenyum geli mendengar nada bicara Junsu yang mirip dengan Jaejoong. "Sudahlah. Kalau jalannya harus seperti ini mau bagaimana lagi."

"Aku tidak habis pikir. Betapa beraninya Cho Ahjussi memecatmu."

"Yah, jangan salahkan Tuan Cho. Dia sudah begitu baik padaku."

Junsu menarik nafas panjang. Dia merasa kasihan pada Yunho. Dia tidak membayangkan kehidupannya akan berubah sesulit ini. "Besok rencana kita jadi, kan?"

Yunho terdiam sejenak lalu mengangguk. "Ne."

###

"Annyeonghasaeyo, Lee Ahjussi."

Namja itu menoleh dan seketika terbelalak melihat namja bermata sipit itu di depannya. "Kau Jung Yunho, kan. Kenapa kau ke sini? Kau bersama tuan Jaejoong? Di sini berbahaya sekali."

Yunho menatap namja itu dengan pandangan memohon. "Ahjussi, saya membutuhkan bantuan Ahjussi."

Beberapa saat kemudian mereka duduk di pos satpam kecil di depan rumah Jaejoong. Menurut cerita Jaejoong, pada jam-jam sore setiap Sabtu seperti hari itu Nyonya Kim pergi dengan teman-temannya sedangkan Tuan Kim belum pulang. Jadi mereka menggunakan kesempatan ini untuk mendatangi rumahnya.

"Ahjussi, sekarang ini kami sedang mencari saksi dan bukti kejahatan Tuan Kim pada Jaejoong. Kami sudah putus asa mencari jalan keluar. Jaejoong bilang bahwa Ahjussi adalah orang yang baik. Saya harap Ahjussi mau membantu kami."

Satpam Lee menghela nafas panjang. "Kami di sini sebenarnya juga membenci perbuatan Tuan Kim. Kasihan tuan Jaejoong. Selama di rumah ini hidupnya selalu menderita. Tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami hanya bawahan Tuan Kim yang sangat bergantung padanya."

"Kami bertemu Eun Mi dan dia bilang kalau dia akan membantu kami. Kalau ditambah Ahjussi dan semua orang di sini, tentu Tuan Kim tidak bisa mengelak lagi. Anda semua membenci Tuan Kim, kan?"

"Ne. Tapi walaupun Tuan Kim ditahan, dia akan dengan mudah mencari pengacara dan segera bebas. Lalu dia pasti memecat kami. Padahal kami sangat membutuhkan pekerjaan ini, Yunho-shi."

"Selama Tuan Kim belum ditangkap, hidup Jaejoong tidak akan tenang. Dia akan terus dikejar-kejar. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ahjussi tidak setega itu kan melihatnya menderita?"

"Ne. Saya juga ingin membantu tuan Jaejoong tapi tidak tahu dengan cara apa. Jeongmal mianhae, Yunho-shi." ujar satpam Lee dengan sorot mata penuh penyesalan.

Yunho mendesah. "Arasseo. Tapi saya tetap berharap suatu hari nanti Ahjussi berubah pikiran."

###

Setengah jam sudah Jaejoong, Yoochun, dan Junsu membongkar kamar Tuan Kim. Selagi Yunho mengajak satpam Lee berbicara, mereka menggunakan kesempatan itu untuk memasuki rumah.

"Apa kalian menemukannya?" tanya Junsu sesudah mencari seluruh isi lemari tanpa hasil.

"Belum. Jae-ah, apa kau yakin dia menyembunyikannya di sini? Apa dia punya tempat penyimpanan lain?" tanya Yoochun.

"Kurasa tidak. Aku ingat aku pernah melihatnya menaruhnya di sini."

Junsu terduduk kelelahan di lantai di dekat tempat tidur. Apa kamar Tuan Kim ini begitu besarnya sampai-sampai tiga namja sekalipun tidak berhasil menemukan barang yang mereka cari? Dia mulai putus asa. Tidak sengaja dia menyentuh sesuatu di bawah tempat tidur. Dia segera menyingkap sprei yang menutupinya. Seketika dia terbelalak dan mengeluarkan beberapa DVD yang ada di sana.

"Apa ini yang kita cari?"

Kedua namja itu mendekati Junsu. Jaejoong memperhatikan DVD-DVD tanpa label itu. Dia menghela nafas panjang lalu mengangguk.

###

Akhirnya keempat namja itu kembali ke apartemen Yunho. Yunho membolak-balik DVD itu dengan bimbang.

Yoochun memandang Yunho dan Jaejoong. "Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang?"

"Molla. Jae-ah, bagaimana menurutmu?"

"Kalau hanya ini satu-satunya bukti, mau bagaimana lagi?" sahut Jaejoong dengan nada datar.

"Tapi kalau kita menyerahkannya, itu sama saja mempermalukanmu Jae-ah."

"Tapi kita ingin marga Kim itu ditangkap dan dihukum, kan. Hanya ini satu-satunya cara."

Ketiga namja itu terdiam sambil menatap Jaejoong.

"Aku benar-benar capek sekarang. Aku mau tidur dulu ne?" ujar Jaejoong lalu masuk ke kamar.

Ketiga namja itu saling berpandangan, bingung dengan keputusan apa yang harus mereka ambil.

###

Perlahan Yunho membuka pintu kamar dan melihat Jaejoong yang tertidur. Diam-diam dia mengambil laptopnya lalu keluar lagi.

Yunho menarik nafas panjang sebelum memasukkan DVD itu ke room nya. Dia menahan nafas melihat pemandangan Jaejoong yang bertubuh polos muncul di monitornya.

"Joongie, kulitmu benar-benar halus. Bahkan jauh lebih mulus dibandingkan yeojya-yeojya. Kau satu-satunya yang bisa membuatku puas. Betapa beruntungnya aku bisa merasakan tubuhmu, haha…"

Sebuah tangan muncul dan mulai meraba-raba dada Jaejoong. Perlahan tangan itu semakin turun menyentuh bagian bawah namja cantik itu.

Seketika Yunho mematikan video itu. Dadanya terasa sesak, dia benar-benar tidak sanggup menontonnya lagi. Orang macam apa Tuan Kim itu? Kenapa orang tidak waras sepertinya bisa ada di dunia ini?

Yunho kembali ke kamar dan berbaring di ranjang. "Jae-ah, kau belum tidur kan?"

Perlahan Jaejoong membuka matanya. Sorot matanya yang tanpa ekspresi itu menatap Yunho.

Yunho mendesah. "Aku tahu kau pasti memikirkan video itu, kan. Marga Kim itu… ah, aku benar-benar membencinya."

Jaejoong masih saja terdiam.

"Selama ini kau tidak pernah menceritakannya, apa karena kau takut aku akan menyerahkannya ke polisi?"

"Sekarang aku sudah tidak peduli lagi asalkan kita bisa menjebloskan marga Kim itu." sahut Jaejoong.

"Tapi… tapi… tubuhmu akan dipertontonkan di muka umum, Jae-ah."

"Tubuhku juga sudah banyak dilihat orang. Aku sudah tidak peduli lagi."

"Tolong jangan bilang begitu, Jae."

"Yunho-ah, jangan ragu-ragu lagi. Besok kauberikan itu ke kantor polisi ne?"

Yunho menggeleng. "Ani. Aku yakin pasti ada cara selain ini. Kapan-kapan aku akan mencoba membujuk satpam Lee lagi."

"Kau hanya membuang-buang waktu saja, Yunho."

"Tapi aku tidak mau tubuhmu terekspos di sana. Aku akan memikirkan jalan keluar lain."

Jaejoong mendesah dan tidak berkata apa-apa lagi.

###

"Yunho-ah, kau dipanggil Choi songsaengnim."

"Ada apa?" tanya Yunho pada teman sekelasnya yang memanggilnya itu.

"Molla. Kau diminta ke sana sekarang."

"Ne. Gomawo." Yunho segera keluar dari kelasnya.

"Choi songsaengnim memanggil saya?" tanya Yunho sambil membungkuk ke kepala sekolahnya.

"Ne." Sejenak namja itu memandang Yunho dengan bimbang. "Yunho, saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini padamu, tapi…"

Yunho memandangi kepala sekolahnya dengan gelisah. "Ada apa, songsaengnim?"

Choi songsaengnim menarik nafas panjang berusaha mengendalikan rasa tegangnya. "Saya minta maaf sebelumnya. Karena dengan terpaksa saya harus mengembalikanmu ke sekolahmu di Gwangju."

"Mwo?" Yunho terbelalak menatap namja itu. Ada apa lagi ini? Masalah pertama belum selesai, sekarang sudah muncul masalah yang lain. Wajahnya berubah pucat pasi. "A-apa saya melakukan kesalahan, songsaengnim?"

"Mianhae. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Beberapa hari yang lalu ada orang suruhan Tuan Kim Hyun-joong pemilik perusahaan Kim datang. Dia bilang saya harus menghentikan pertukaran pelajar ini dengan sekolahmu."

Yunho terdiam. Dalam hati dia sudah menduga pasti Tuan Kim ada di balik ini.

"Kau tahu dia adalah salah satu donatur terbesar di sekolah ini. Kalau saya tidak melepasmu, dia akan menghentikan donasinya. Padahal sekolah ini membutuhkan banyak dana untuk perkembangannya ke depan. Saya tidak tahu ada masalah apa diantara kalian, tapi…"

"Ne. Arasseo, songsaengnim." ujar Yunho lirih. Tuan Kim yang begitu kejam. Dia tega berbuat sejauh ini hanya supaya Jaejoong mau kembali.

###

"Yu-Yunho-ah, benarkah?" tanya Jaejoong dengan suara gemetar.

Yunho terdiam tanpa ekspresi. Tujuan awalnya datang ke sekolah itu adalah untuk belajar sebaik-baiknya supaya dia bisa membuat orangtuanya bangga. Tapi siapa sangka semua menjadi seperti ini. Semua mimpi dan harapannya hancur berantakan.

"Aku capek, Jae-ah. Aku mau tidur dulu ne?" ujar Yunho lalu memasuki kamarnya.

Jaejoong ragu-ragu sejenak sebelum mengikuti Yunho. Dia berbaring di sebelah Yunho. Yunho menutup matanya tanpa berkata sepatah katapun. Jaejoong memandangi wajah Yunho yang pucat. Dia mengerti betapa hancurnya perasaan Yunho saat ini. Yunho satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Tentu saja orangtuanya selalu menaruh harapan besar pada Yunho. Tapi sekarang apa yang sudah dia lakukan? Dia sudah merampas seluruh harapan dan kebahagiaan Yunho.

Perlahan setetes air mata mengalir ke pipinya. Dia memeluk tubuh Yunho erat-erat. Pengorbanan Yunho baginya sudah terlalu besar. Kini gilirannya berkorban untuk Yunho. Demi orang yang dicintainya, dia rela melakukan apapun.

###

Huff... sekian bwt chap ini. mian kl smakin gaje aja. hehe... krn saya pikir yunpa jg prlu disiksa sdkt ~evil smirk~ mgkn 2-4 chap lg the end. mohon review chingudeul skalian. one word doesn't hurt :). gomawo :D.