CHAPTER 24

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong :D. jeongmal kamsahamnida bwt chingudeul yg akan mulai & msh ngikutin ff saya yg pastinya smakin lama akan smakin membosankan, hehe... & jg bwt repiu2 chingudeul yg sgt berharga. bwt silent readers, tolong jgn segan2 memberi kritik & kripik, 1 kata support yg chingu tulis adalah penyemangat bwt saya :). Tuan Kim bkl kena batunya kl dah the end nanti, hihi... harap brsabar smp 1 or 3 chap lg ne :D. o, iya. minnie prlu dikluarin apa ga, ya ^^?

###

Jaejoong membongkar lemari dan mengeluarkan semua isinya. "Di mana barang itu?" gumamnya gelisah. Merasa pencariannya tidak berhasil, dia mulai memeriksa tas Yunho.

"Kau sedang apa, Jae-ah?" Suara Yunho mengejutkan Jaejoong yang baru akan membuka tas.

"Aku… umm… aku…"

Yunho menatap Jaejoong tajam. "Kau mencari video itu? Apa yang akan kaulakukan?"

Jaejoong menggigit bibirnya. "Aku akan membawanya ke polisi."

Seketika Yunho terbelalak. "Andwae!" teriaknya.

"Wae? Sampai kapan kau akan terus menyembunyikannya, Yunho-ah?!" Jaejoong balas berteriak.

Yunho memandangi Jaejoong dengan ragu-ragu. "Aku… aku hanya perlu sedikit waktu."

"Apa belum cukup tekanan yang diberikan marga Kim itu untukmu?! Aku heran dengan jalan pikiranmu, Yunho!"

"Kau selalu saja menyuruhku melakukan itu! Kau tidak mengerti perasaanku. Kau tidak tahu betapa beratnya aku kalau mereka sampai melihat tubuhmu di video itu!"

"Kaupikir aku rela memperlihatkan tubuhku sendiri di depan mereka?! Seandainya ada bukti lain, aku tidak akan menggunakannya. Tapi hanya ini yang bisa kita lakukan. Berpikirlah rasional, Yunho."

"Aku akan memikirkannya, Jae-ah. Kau tenang saja ne?"

Jaejoong mendesah. "Ne. Terserah kau saja." sahutnya lalu meninggalkan Yunho.

###

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki rumah besar Tuan Kim. Satpam yang berjaga di halaman rumahnya terbelalak tak percaya. "Tuan muda Jaejoong kenapa ke sini?"

Jaejoong tidak menghiraukan namja itu. Dia terus saja melangkah masuk ke rumah itu.

"Ommo… siapa yang datang?" Tuan Kim menyeringai dan memandangi Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Akhirnya kau mau pulang juga tanpa harus dipaksa. Lebih cepat dari yang kuperkirakan. Kenapa dulu kau tidak minta izin padaku sebelum kau pergi? Tidak tahukah kau aku begitu khawatir padamu?"

Jaejoong hanya diam tanpa ekspresi sambil menghampiri Tuan Kim. "Aku heran dengan pikiranmu yang hanya berisi rencana-rencana busuk. Sekarang aku sudah pulang. Ini kan yang kau mau? Sekarang kuminta kau mencabut tuntutanmu ke kepala sekolah. Biarkan Yunho menyelesaikan studinya di sana."

"Ommo... manis sekali kata-kata Joongie ku ini. Jadi kau ke sini hanya demi kepentingannya, hum? Begitu pentingkah dia bagimu? Lebih penting daripada appa mu ini?" Masih dengan seringaiannya Tuan Kim membelai wajah Jaejoong.

Dengan kasar Jaejoong menepis tangan Tuan Kim. Tuan Kim tertawa kecil. "Kau belum berubah, masih suka melawan. Tapi pada akhirnya kau tetap bertekuk lutut di depanku. Kalau aku membiarkan dia menyelesaikan sekolahnya, apa yang bisa kauberikan padaku, hum?"

"Aku akan tinggal di sini dan tidak akan pernah mencoba kabur lagi."

"Jinja? Tapi anak yang tidak patuh dan kasar sepertimu hanya akan membuatku dan umma mu marah."

"Aku berjanji akan mematuhi apapun kemauan kalian. Kalian bebas melakukan apapun terhadapku. Tapi dengan satu syarat."

"Oh, kau sudah berani mengajukan syarat padaku? Katakan. Coba kulihat apa aku bisa mengabulkannya."

"Kau tidak boleh menciumku atau menyentuhku lagi. Selain itu kalian boleh memukul dan menyiksaku sebanyak yang kalian mau, seperti yang sudah sering kalian lakukan."

"Mwo? Selama ini kau tidak ada masalah melakukannya denganku. Kau justru menyukainya, kan."

"Tubuhku milik Yunho. Jadi hanya dia yang berhak menyentuhku."

"Mwo?" Tuan Kim tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan yang menurutnya sangat lucu. "Sepanjang yang kutahu, tubuhmu milik banyak orang. Kau senang kalau bisa tidur dengan banyak orang. Kau senang kalau bisa mencium dan menyentuh banyak namja."

Jaejoong mengepalkan tangan berusaha menahan emosinya. "Kau tahu, aku sudah berubah sekarang. Aku mencintai Yunho, jadi hanya dengan dialah aku mau melakukannya."

"Mwo? Cinta?" Tuan Kim terus saja tertawa keras, merasa aneh dengan ucapan Jaejoong itu. "Apa yang kautahu tentang cinta? Yang kautahu hanyalah bagaimana cara memuaskan namja di tempat tidur. Ya, kurasa kau benar-benar mahir di bidang itu dan hanya itu keahlianmu."

"Aku tidak peduli dengan apapun yang kaukatakan. Bagaimana, kau setuju dengan syaratku?"

Tuan Kim memandangi Jaejoong dari atas sampai bawah. "Apa kaupikir aku bisa mengabaikan tubuhmu yang indah ini, hum?"

"Jaejoong-ah!"

Seketika Jaejoong menoleh mendengar suara yang familiar itu. Dia terbelalak menatap namja yang berdiri di depan pintu. "Yu-Yunho-ah…"

Tuan Kim tertawa. "Ommo… kita kedatangan tamu istimewa lagi."

"Saya ke sini menjemput Jaejoong." sahut Yunho dingin.

Belum sempat Yunho bergerak, Tuan Kim bertepuk tangan dua kali. Segera beberapa namja bermunculan mengepungnya dari berbagai arah. Ternyata dia sudah menyiapkan banyak bawahannya untuk menghadapi situasi ini. Jaejoong terbelalak melihat mereka yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit itu. Dia mulai khawatir dengan keselamatan Yunho.

Yunho memandangi mereka sekilas. Tujuannya datang adalah membawa Jaejoong pergi dan bukan berkelahi. Tapi kalau dia harus berhadapan dengan mereka dulu, dia tidak takut. Dia sadar bahwa dia sama sekali bukan tandingan mereka. Tapi saat ini hanya Jaejoong yang ada di pikirannya. Dia tidak sempat lagi berpikir bagaimana cara menyelamatkan nyawanya sendiri.

"Kalau kau maju selangkah lagi, kau akan menyesal." ancam Tuan Kim.

Yunho hanya tertawa kecil lalu bergerak maju. Salah satu namja mendekat dan memukul kepalanya. Yunho segera menghindar tapi dari arah lain seorang namja memukul tubuhnya dengan tongkat. Dia sempat melihat gerakan namja itu dan dengan cepat melompat mundur. Tapi sebuah pukulan keras menghantam punggungnya membuatnya tidak bisa mempertahankan dirinya lagi.

"Yunho-ah!" Jaejoong terbelalak melihat Yunho yang jatuh tersungkur. Dia maju hendak menolong Yunho tapi dengan cepat Tuan Kim memegangi kedua lengannya. Sekuat tenaga dia meronta tapi sayang tenaga Tuan Kim lebih kuat sampai-sampai dia tidak mampu bergerak.

"Lepaskan aku." sahut Jaejoong dingin. Tapi Tuan Kim sama sekali tidak menghiraukan kata-katanya.

Yunho segera bangkit. Tanpa merasakan nyeri di tubuhnya dia maju lagi. Namja lain kembali memukul Yunho dengan keras tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar membuatnya terjatuh lagi.

"Yunho!" teriak Jaejoong ketakutan melihat Yunho yang tidak berdaya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Sekuat tenaga Yunho berusaha bangkit lagi. Dia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya tapi dia tidak mau menyerah. Sudah cukup baginya melihat Jaejoong tersiksa beberapa minggu yang lalu waktu dia mendatangi rumah itu. Apapun yang terjadi kali ini dia harus bisa membawa Jaejoong kabur.

Tuan Kim tertawa. "Sudahlah jangan buang-buang tenagamu. Sebaiknya kau segera pulang."

"Saya tidak akan pergi tanpa Jaejoong." sahut Yunho keras kepala.

"Mwo?" Tuan Kim tertawa terbahak-bahak. "Begitu istimewakah orang sepertinya bagimu? Aku benar-benar terharu melihat cinta kalian. Aku ingin tahu apa yang bisa kaulakukan dengan tenagamu yang lemah itu. Melawan satu orangku saja kau tidak mampu."

Jaejoong memandang Tuan Kim dengan air mata mengalir. "Tolong jangan sakiti Yunho lagi. Kumohon padamu."

Tuan Kim menoleh dan sejenak menatap Jaejoong dengan heran. "Ommo… seingatku Kim Jaejoong adalah namja yang keras. Kapan terakhir kali aku melihat air mata di wajahmu ini, hum?" Dia menyeringai sambil mengusap air mata di pipi Jaejoong.

"Yah, jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!" bentak Yunho lalu kembali maju.

Seorang namja memukul Yunho sampai dia terjatuh lagi. Dengan segera namja-namja lain bergerak mengeroyok Yunho. Yunho menahan sakit di tubuhnya berusaha mempertahankan diri dari serangan mereka. Seseorang melayangkan tongkatnya ke kepala Yunho.

"Yunho!"

"Aahh… appo..."

DUAGGHH!

Yunho terbelalak menatap kekasihnya terjatuh di depannya. "Ja-Jae-ah…" ujarnya gemetar. Jaejoong mengusap-usap pundaknya yang nyeri terkena tongkat itu.

Seketika wajah namja itu memucat ketika menyadari pukulan tongkatnya menghantam tubuh Jaejoong. "Tu-Tuan Jaejoong…"

Para namja yang lain terkejut setengah mati lalu mundur satu-persatu. Tanpa membuang waktu Jaejoong mengerahkan seluruh tenaganya bangkit dan menarik Yunho pergi.

"Cepat kejar mereka!" teriak Tuan Kim sambil memegangi tangannya yang berdarah terkena gigitan Jaejoong tadi.

Para namja itu memandangi Tuan Kim dengan ragu-ragu.

"Cepat pergi! Kalian tidak dengar? Cepat pergi kalian!" bentak Tuan Kim semakin marah.

"Baik, baik…" sahut mereka ketakutan lalu berlari mengejar Yunho dan Jaejoong.

###

"Kita lewat pintu itu." teriak Jaejoong sambil terus menarik Yunho ke pintu gerbang kecil tempat mereka melarikan diri pertama kali.

Begitu mereka keluar, mereka melihat suruhan Tuan Kim mengejar mereka. Dengan sisa tenaga yang dimiliki mereka berlari menjauhi rumah itu. Jaejoong menoleh ke belakang dengan cemas melihat mereka yang semakin dekat ke arah mereka. Mereka berlari memasuki suatu gang.

"Ayo cepat masuk."

Mereka menoleh mendengar suara familiar itu dan melihat mobil Yoochun. Seketika mereka menghela nafas lega dan segera masuk ke mobil itu. Tanpa membuang waktu Yoochun segera menginjak gasnya kencang meninggalkan tempat itu.

"Yoochun-ah, kau seperti dewa penolong kami saja, selalu muncul setiap kami mendapat masalah."

"Untunglah tadi aku melihat kalian berlari dari rumah itu. Kenapa kalian bisa ke sana lagi? Dan bagaimana Yunho bisa luka-luka begitu?"

Jaejoong mengguncang-guncang lengan Yunho dengan kesal. "Kenapa kau bodoh sekali, Yunho-ah? Lihat, lukamu parah sekali. Kau harus dibawa ke rumah sakit."

"Jae-ah, apa kau gila? Di tempat umum seperti itu mereka akan dengan mudah menemukan kita. Sekarang ini yang terpenting kita mencari tempat bersembunyi."

"Kalian menginap saja di rumahku."

"Eh?" Kedua namja itu terbelalak menatap Yoochun.

###

Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Yoochun. Sudah berkali-kali Yunho dan Jaejoong menolak tawaran itu. Mereka khawatir sahabatnya itu nantinya akan mendapat masalah juga. Tapi Yoochun tetap bersikeras membantu mereka. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lagipula mereka berpikir tidak mungkin mereka kembali ke apartemen sekarang karena suruhan Tuan Kim pasti mengejar sampai ke sana. Akhirnya mereka mengambil keputusan menginap di rumah Yoochun malam ini.

"Apa yang kaulakukan?" omel Jaejoong sambil mengobati luka-luka Yunho di kamar.

Dengan khawatir Yunho memeriksa tubuh Jaejoong. "Tadi kau juga dipukul. Katakan padaku, di mana yang sakit? Kau juga harus diobati."

Jaejoong membelalakkan matanya dengan kesal. "Aku tidak apa-apa. Kau belum menjawab pertanyaanku."

Yunho mendesah. "Kenapa kau senekad itu? Kenapa kau malah menerima pukulan mereka? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku?"

"Pabo! Kaupikir aku bisa tahan melihatmu dipukuli seperti itu?"

Yunho tertegun melihat air mata di pipi Jaejoong. Dengan segera dia mengusapnya. "Mianhae, mianhae, Jae-ah." ujarnya dengan menyesal.

"Kenapa kau bisa ke sana?"

"Tadi aku melihatmu pergi diam-diam. Aku penasaran jadi aku mengikutimu. Ternyata kau ke rumah itu. Wae?"

"Aku sudah tidak tahan lagi melihatnya terus menekanmu seperti ini. Kalau aku kembali, dia pasti akan melepaskanmu."

"Pikiran bodoh macam apa itu? Dengan begitu nasibmu akan kembali seperti dulu. Aku tidak bisa membiarkannya. Lagipula kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi, Jae-ah."

"Tapi… tapi…" Air mata Jaejoong mulai membanjiri pipinya.

Yunho memeluk Jaejoong erat-erat. "Aku memang sedih dan hampir putus asa. Aku marah karena dia sudah menghancurkan sekolah dan pekerjaanku. Tapi aku masih bisa bertahan karena ada kau. Jadi jangan pernah berpikiran kembali ke sana ne."

Tangisan Jaejoong semakin menjadi-jadi di pelukan Yunho.

"Kalau seandainya aku pulang ke Gwangju, kau mau ikut denganku kan?"

Jaejoong melepaskan pelukannya dan menatap Yunho.

"Kita akan memulai hidup baru di sana. Kita tidak akan pernah terpisah. Kau tidak keberatan, kan?"

Jaejoong menatap Yunho dengan terharu. "Ne. Tentu saja aku mau. Tapi apa yang akan kaukatakan pada orangtuamu tentang masalah ini? Mereka pasti akan kecewa."

Yunho mendesah. "Aku akan memikirkannya besok."

"Kau tidak boleh pergi. Aku membutuhkanmu di sini." ujar Jaejoong sambil memegang pergelangan tangan Yunho saat Yunho akan mengembalikan kotak obat.

Yunho lalu berbaring di sebelah Jaejoong.

"Kapan kau akan menyerahkan video itu?"

Yunho menghela nafas panjang. "Molla."

"Kau keras kepala sekali, Yunho-ah. Kalau seandainya kaulakukan itu dari dulu, masalah seperti ini tidak akan terjadi."

"Tapi aku tidak terima kau dipermalukan."

"Justru kalau polisi melihat video itu mereka akan sadar kalau marga Kim yang selama ini mereka pikir baik tanpa cela ternyata berkelakuan busuk. Mereka pasti akan melindungi kita. Dan hanya itu satu-satunya bukti terkuat. Kau mau kita dikejar-kejar terus seumur hidup?"

"Aisshh… Arasseo. Besok aku akan mengurusnya."

"Jinja?"

Yunho tersenyum. "Ne. Kau sudah tenang, kan?" Dia menatap wajah Jaejoong yang basah oleh air mata. "Ommo… sejak kapan Jaejoong ku gampang sekali menangis?" ujarnya mengusap pipi Jaejoong.

Air mata Jaejoong kembali mengalir mendengar ucapan ini. "Sudah, sudahlah. Jangan menangis lagi ne?" bisik Yunho lalu memeluk namja cantik itu. Dia bisa merasakan tubuh Jaejoong yang gemetar di pelukannya. Dia tahu Jaejoong begitu ketakutan saat ini. Dia mengusap-usap punggung Jaejoong dan mencium keningnya mencoba menenangkannya. Jaejoong membenamkan wajahnya di dada Yunho. Dia benar-benar lelah dan putus asa memikirkan masalah mereka. Entah kapan semua ini akan berakhir.

###

"Mwo?" Tuan Kim membelalak terkejut.

"Ne. Sekarang para pekerja sedang berdemo di depan kantor. Mereka tidak bisa menerima keputusan Tuan beberapa minggu yang lalu tentang penurunan gaji. Banyak pekerja yang di PHK juga berkumpul menuntut keadilan bagi mereka." ujar seorang asistennya yang mendatanginya ke rumah.

"Aisshh…" Tuan Kim mengacak rambutnya frustrasi. "Apa kau sudah menemukan oknum pencari gara-gara itu?"

"Mianhae. Sampai sekarang kami belum bisa melacaknya. Setiap kami memeriksa rekening penerima yang dicurigai itu, rekening itu tidak aktif lagi. Orang itu benar-benar licik dan pandai menghilangkan jejaknya."

Tuan Kim mengepalkan kedua tangannya. "Siapapun orang itu, aku pasti akan menangkapnya. Akan kubuat dia menyesal karena sudah berani macam-macam denganku."

"Tuan, dana yang kita punya tidak cukup lagi untuk menggaji seluruh karyawan. Dengan terpaksa kami akan mem PHK beberapa karyawan lagi." ujar namja itu dengan gelisah.

"Mwo? Lalu bagaimana dengan penawaran kerjasama ke perusahaan-perusahaan itu? Kaubilang sudah ada dari mereka yang menanamkan sahamnya."

"Ne. Tapi mereka mulai mengetahui kondisi keuangan kita yang tidak beres. Mereka tidak berani mengambil resiko jadi langsung menarik lagi sahamnya. Maafkan saya kalau saya berani mengatakan ini. Perusahaan kita berada di ujung tanduk, Tuan."

"M-mwo?" Seketika Tuan Kim merasakan lututnya melemas.

Tanpa mereka sadari, seorang namja mencuri dengar pembicaraan mereka. "Jadi perusahaan marga Kim hampir bangkrut, huh? Berarti dalam waktu dekat dia akan jatuh miskin. Jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk mengikutinya. Aku bebas melakukan apapun yang kumau. Haha… Rasakan hasil dari perbuatanmu selama ini, Tuan Kim yang terhormat."

###

"Ini sudah cukup. Kau mau membuatku mabuk, huh?" ujar Yunho menolak gelas soju keempat yang ditawarkan temannya.

"Ayolah, Yunho. Kau mau mengecewakan temanmu ini?"

Yunho menghela nafas panjang lalu meneguk soju nya. Malam ini dia berada di pesta kelulusan mantan teman sekerjanya. Walaupun dia sudah tidak bekerja di kafe Tuan Cho, tapi dia tetap berhubungan baik dengan rekan-rekannya. Dia sudah pernah berjanji pada Jaejoong kalau dia tidak akan mabuk lagi. Tapi dia merasa tidak enak pada temannya yang sudah bersusah payah menggelar pesta itu dan mengundangnya.

"Yunho-ah, ayo kuantar pulang." ajak salah satu temannya melihat Yunho yang tampak mabuk berat sedang menyandarkan kepalanya ke meja.

"Gwenchana... Aku mau istirahat... sebentar lalu pulang... Kau duluan saja."

"Arasseo. Aku pulang dulu ne." ujar namja itu lalu meninggalkan Yunho.

Beberapa saat kemudian Yunho mengerahkan seluruh tenaganya keluar dari restoran. Dia berjalan terhuyung-huyung, sepertinya soju yang diminumnya terlalu banyak. Dia menoleh ke segala arah. Semua jalan dan bangunan terlihat sama baginya. Dia berjalan dengan mata setengah terpejam hingga tidak menyadari ada kursi kayu di depannya.

"Ommo…" Yunho terjatuh tapi sebelum tubuhnya mendarat di tanah sepasang tangan menangkapnya. Dia menengadahkan kepala dan melihat sosok cantik di depannya. Sosok yang selalu mengisi hatinya dari hari ke hari. Dia tersenyum. "Aku merindukanmu, chagi…" Tanpa ragu-ragu dia mendekatkan wajah mereka dan mencium bibir yang indah itu.

Yoona terpaku melihat Yunho yang tiba-tiba saja menciumnya. Sebelum dia sempat bergerak, sebelah tangan Yunho sudah menarik pinggangnya mendekat memperdalam ciuman mereka.

###

Yupz, cukup sekian dulu #diamuk massa, hihi... mian kl chap ini agak kependekan, hehe... mind to review? gomawo ne chingudeul :D.