CHAPTER 25
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, saya dtg lg membawa the last chap, tp apa chingudeul bs menerimanya sbg ending :)? mian, adegan yoosu udh ga muncul lg. dsni saya fokus ke 2 pemeran utama kita. chap kmrn kurang greget, ya :p. adegan pak kim & asistennya itu di rmh, namja yg nguping itu salah 1 pembantunya pak kim aja. hehe... sbelumnya perhatian kl dsni mgkn ada bbrp adegan/ucapan yg ekstrim & kasar bagi saeng2 di bwh 16 th. & tolong chingudeul membaca dulu tulisan saya yg paling bwh sbelum memutuskan akan melanjutkan membaca chap ini/tdk. gomawo :).
###
Jantung Yoona berdebar kencang merasakan bibir Yunho yang menciumnya dengan agresif.
"Jae-ah... Jae-ah..."
Perlahan mata Yoona mulai berkaca-kaca. Dia begitu merindukan sentuhan Yunho. Tapi hatinya juga sakit mendengar Yunho terus menggumamkan nama Jaejoong diantara ciumannya. Berapa banyak yang sudah Yunho minum sampai-sampai dia tidak bisa mengenalinya?
Tiba-tiba tubuh Yunho melemas dan terkulai di depan Yoona. Yoona terkejut dan mengguncang-guncang tubuh Yunho tapi dia tetap tidak bergerak. Dia menarik tubuh Yunho bangkit dan sekuat tenaga berusaha menuntunnya. Mereka berjalan terhuyung-huyung karena dia tidak kuat menahan berat tubuh Yunho. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam, semakin gelisah karena tidak ada taksi yang lewat. Dengan terpaksa dia membawa Yunho ke penginapan terdekat.
Begitu tiba, Yoona langsung memesan kamar dan ternyata kamar yang tersisa hanya ada satu. Tidak ada waktu lagi bagi Yoona untuk mencari penginapan lain, jadi dia segera membawa Yunho ke kamar itu. Dia menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dia merasa tidak enak berdua saja dengan Yunho seperti ini. Tapi dia mengkhawatirkan Yunho dan ingin menjaganya.
Dia membaringkan tubuh Yunho di ranjang dan melepaskan jaketnya. Dia mengambil air lalu membersihkan wajah Yunho yang dipenuhi keringat.
###
Yunho membuka matanya yang lelah. Dia bangkit duduk dan seketika memegangi kepalanya yang pusing sekali.
"Sebaiknya kau berbaring dulu. Kau mabuk berat semalam."
Yunho terkejut mendengar suara familiar itu. Dia menoleh dan mendapati Yoona duduk di kursi di sebelahnya. "Yoona-ah, bagaimana bisa... Apa yang terjadi?"
"Kau tidak ingat, ya? Semalam kau mabuk dan hampir jatuh di Purple Line Resto. Kebetulan aku lewat dan menolongmu. Lalu… lalu…" Yoona tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Mendadak dia teringat ciuman Yunho yang agresif dan itu membuatnya wajahnya memanas.
Yunho memandangi Yoona dengan heran sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Seketika matanya terbelalak menatap yeojya manis itu. "Ommo… apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kulakukan padamu?" teriak Yunho panik.
"Kau tenanglah. Kau tidak melakukan apa-apa." ujar Yoona berusaha menenangkan Yunho.
"Jinja? Tidak ada yang terjadi semalam?"
Yoona tersenyum tipis lalu menggeleng. Yunho menghela nafas lega. "Syukurlah. Aku takut kalau aku…"
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Yoona mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah merasa baikan. Apa kau ada di sini semalaman? Lalu kau tidur di mana?"
"Aku tidur di kamar sebelah." jawab Yoona berbohong. Dia berpikir Yunho pasti khawatir kalau tahu dia hanya tidur sebentar di samping tempat tidurnya.
"Kau sudah menolong dan menjagaku. Gomawo, Yoona-ah."
"Gwenchana. Yunho-ah, apa yang terjadi?"
Yunho tertawa kecil. "Semalam aku datang ke pesta temanku dan minum soju terlalu banyak."
Yoona hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yunho.
"Gomawo, Yoona-ah. Umm… mianhae."
"Untuk apa?"
"Aku sudah menyakitimu. Sampai sekarang aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
"Sudahlah. Itu semua sudah berlalu. Ini bukan salahmu. Waktu itu kau bingung dengan perasaanmu. Lagipula tidak mungkin aku memaksamu untuk mencintaiku, kan."
"Mianhae. Jeongmal mianhae." ujar Yunho penuh penyesalan.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Kalau kau sudah merasa kuat, sebaiknya kau kembali ke apartemenmu."
"Ne."
Beberapa saat kemudian Yunho pulang ke apartemennya. Yoona khawatir Jaejoong akan curiga kalau melihat mereka bersama, jadi dia tidak ikut mengantar Yunho.
Yunho menghirup nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu apartemen. Dia khawatir Jaejoong akan marah karena tidak mengabari kalau dia tidak pulang. Begitu membuka pintu seketika dia terbelalak melihat dua orang namja yang sedang berciuman di depannya.
"Ja-Jae-ah…"
Jaejoong memandang Yunho dengan wajah memerah dan nafas yang terengah-engah.
Yunho segera mendapatkan kesadarannya kembali. Dengan emosi dia mendekati mereka dan memisahkan kedua namja itu. "Kau siapa?! Berani-beraninya kau melakukan perbuatan tidak senonoh di apartemenku, huh?!"
"Eh? Ini apartemenmu? Kukira…"
"Cepat pergi sebelum kau kuusir paksa!" ancam Yunho memotong ucapan namja itu.
Namja itu ketakutan dan cepat-cepat keluar dari apartemen itu.
"Apa maksudmu melakukan ini lagi, huh?!" bentak Yunho. Kenapa dia harus selalu mendapati Jaejoong dalam keadaan seperti itu?
Jaejoong menatap Yunho dengan tajam. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu? Ke mana saja kau semalam, huh?"
"Kau sudah tahu kalau aku pergi ke pesta temanku, kan?"
"Ne. Apa acara itu semalam suntuk sampai-sampai kau tidak pulang?"
"Aku…umm… aku… Mianhae. Aku mabuk semalam." jawab Yunho jujur.
"Yunho-ah, aku tahu kau tidak pandai berbohong."
"Eh?"
"Bagaimana malammu bersama Yoona? Sepertinya sangat menyenangkan, ya?"
Yunho tersentak. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya terlebih mendengar nada suara Jaejoong itu. "A-apa maksudmu?"
"Sudahlah, Yunho-ah. Untunglah semalam aku tidak sengaja melewati Purple Line Resto. Kalau tidak, aku tidak akan tahu semua perbuatan busukmu."
"Ani! Kau salah paham, Jae-ah…"
"Oh, ya? Agresif sekali ciumanmu semalam! Kau mau bilang kalau mataku bermasalah jadi tidak bisa mengenalimu?!" bentak Jaejoong.
"Ani!" Yunho memandangi Jaejoong dengan gelisah. Perasaan bersalah mulai merasuki hatinya. Tapi waktu itu dia sama sekali tidak sadar. Dia mengira Yoona adalah Jaejoong, karena itu dia melakukannya. Dia tidak pernah bermaksud mengkhianati Jaejoong. "Semalam aku benar-benar mabuk, jadi…"
"Kau mabuk, jadi kau bebas melakukan apa saja yang kaumau, huh?!"
Yunho meremas rambutnya dengan frustrasi. "Jae-ah, dengar dulu penjelasanku."
"Sudah berapa kali kalian tidur bersama, huh?!"
"Andwae! Tidak mungkin kami berbuat seperti itu, Jae!" Yunho mulai kehilangan kesabarannya melihat Jaejoong sama sekali tidak mau mendengarkannya. "Kaupikir aku mengkhianatimu, karena itu kau melakukan semua ini? Kau mau membalasku, kan?"
"Kaupikir aku percaya padamu? Kau masih mencintainya, kan. Kaupikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama, huh?! Kau sudah tahu semua orang menyukaiku dan tidak bisa menolakku. Jadi mudah saja aku mengambil satu diantara mereka."
"Ne! Kau benar! Karena hanya itu yang kau bisa!"
Jaejoong menatap Yunho dengan sorot mata berapi-api. Emosi memenuhi dadanya sampai-sampai dia tidak bisa berkata apapun.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Semua ucapanmu memang tidak bisa dipercaya. Semua kata-kata manismu menipuku. Mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing. Aku menyesal sudah bertemu denganmu. Itu satu-satunya kesalahan terbesar dalam hidupku."
Beberapa saat Jaejoong hanya diam mematung. Matanya terbelalak tak percaya. Yunho… Yunho memutuskannya? Apa dia tidak salah dengar? Andwae! Ini pasti mimpi buruk!
Tanpa mempedulikan Jaejoong, Yunho beranjak dan mulai mengemasi barang-barangnya. Jaejoong masih terdiam di tempatnya berdiri. Seringkali Yunho membuatnya sedih, tapi ucapan Yunho barusan benar-benar membuatnya hancur. Seharusnya dia menarik tangan Yunho yang sedang bersiap pergi meninggalkannya. Tapi egonya yang terlalu tinggi mencegahnya melakukan hal itu.
"Ne! Kau pergi saja jauh-jauh! Aku juga menyesal pernah mengenalmu! Kau memang orang terbodoh di dunia karena mencintai orang rendah sepertiku! Kuharap kita tidak usah bertemu lagi!"
Dada Yunho seperti terbakar mendengar kata-kata Jaejoong yang menyakitkan. Ya, keputusannya meninggalkan apartemen ini semakin kuat. Untuk apa dia mempertahankan hubungan ini kalau Jaejoong tidak mau mempercayainya dan terus saja mengulangi perbuatan bejatnya itu? Begitu selesai membereskan barang-barangnya, dia berjalan keluar apartemen tanpa menoleh lagi.
Seketika Jaejoong merasakan lututnya melemas. Tanpa bisa ditahan lagi tubuhnya jatuh di lantai. Dadanya terasa begitu sesak yang mungkin bisa meledak setiap saat. Suara jantungnya terdengar bergemuruh di dalam dadanya. "Yunho… Yunho-ah… wae?" Perlahan setitik air mata menetes ke pipinya.
###
"Aku berangkat dulu. Masalah kantor benar-benar menyita waktuku. Jangan lupa terus cari tahu tentang Jaejoong. Aku tidak mau dia sampai lolos." ujar Tuan Kim pada istrinya sebelum berangkat ke kantor.
"Ne, chagi."
"Annyeong."
Tuan dan Nyonya Kim memandangi dua polisi di depan mereka.
"Anda Tuan dan Nyonya Kim Hyun-joong?" tanya salah satu namja.
"N-ne."
Namja itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Kami datang membawa surat penangkapan anda berdua atas tuduhan perkosaan, penganiayaan, dan penyerangan berencana ke sebuah apartemen beberapa waktu yang lalu."
Seketika wajah Tuan dan Nyonya Kim memucat mendengar pernyataan itu.
###
Beberapa minggu ini Yunho menginap di rumah Junsu. Dia sudah tidak berhubungan dengan Jaejoong lagi tapi dia ingat janjinya untuk membeberkan semua kejahatan keluarga Kim. Jadi walau dengan berat hati dia membawa DVD itu dan mengajak Eun Mi juga beberapa teman dari apartemen lamanya ke kantor polisi untuk membuat kesaksian. Di luar dugaannya, ternyata orang-orang suruhan Tuan Kim yang tinggal di rumah itu bersedia ikut serta menjadi saksi. Dia merasa heran kenapa mereka berani menentang Tuan Kim? Sepanjang penyelidikan tidak pernah sekalipun dia bertemu dengan Jaejoong.
Dan satu hal yang cukup membuat hatinya terguncang. Ada seorang dokter yang mengaku pernah beberapa kali melakukan operasi plastik terhadap Jaejoong ketika namja cantik itu mengalami trauma. Selama ini dia menerima suap dari Tuan Kim, jadi dia tidak pernah bercerita pada siapapun. Jaejoong pun tidak pernah menceritakannya. Sepertinya hal itu begitu menyakitkan baginya untuk diceritakan pada seseorang. Ternyata sebagian tubuh Jaejoong yang tanpa cacat walaupun sudah sering menerima siksaan itu adalah hasil operasi plastik.
Sesudah Tuan dan Nyonya Kim ditangkap, kepala sekolah Choi memintanya untuk kembali ke Dong Bang High School. Dia merasa lega karena akhirnya dia bisa menyelesaikan pendidikannya yang tinggal beberapa minggu di sana. Dia menyesal, kalau saja dia membuang keraguannya dari dulu mungkin dia dan Jaejoong tidak akan mengalami masalah seperti ini. Dia tidak mengira bahwa pada akhirnya mereka akan mendapatkan banyak saksi.
Sesudah mengikuti ujian akhir, dia mengurus kepindahannya kembali ke Gwangju. Dia tidak pernah bertemu Jaejoong lagi saat mengurus administrasi di sekolah. Dia tidak tahu apakah Jaejoong masih tinggal di apartemen mereka atau pulang ke rumahnya.
"Yunho-ah, kau sudah mau pergi sekarang?" tanya Junsu pada Yunho yang sudah siap berangkat ke bandara.
"Ne."
"Ta-tapi kita baru sebentar menghabiskan waktu bersama. Aku tidak mau kehilangan sahabat sepertimu."
Yunho tertawa melihat mata Junsu yang mendadak berkaca-kaca. "Aisshh… kenapa kau menangis? Kaupikir aku pergi keluar negeri? Kita masih bisa saling menelepon, kan. Kapan-kapan aku bisa ke sini atau sebaliknya. Jadi jangan sedih, Junsu-ah."
"Umm…"
"Wae?"
"Kau… kau tidak mau berpamitan pada Jaejoong?"
Air muka Yunho langsung berubah mendengarnya. "Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya."
"Tapi… tapi bagaimana kalau suatu saat dia menanyakanmu?"
"Dia tidak mungkin menanyakanku. Dia pasti sudah bersenang-senang dengan orang lain sekarang." sahut Yunho dengan wajah masam.
"Yunho-ah, sejujurnya… aku tidak pernah melihat Jaejoong seserius ini selain denganmu."
"Junsu-ah, tolong jangan bicarakan dia lagi. Aku ingin melupakan semua tentang dia. Jadi kumohon padamu ne?"
Junsu menghela nafas panjang. "Ne, arasseo."
###
Yunho menatap pemandangan di jendela menunggu pesawatnya take off. Dia akan meninggalkan Seoul, kota yang memberikan kenangan manis sekaligus pahit baginya. Perlahan bayangan Jaejoong memasuki pikirannya. Jaejoong yang dia cintai. Apapun yang Jaejoong lakukan tidak pernah mengurangi perasaannya yang sudah begitu dalam. Tapi saat ini yang dia butuhkan adalah menenangkan diri untuk sementara. Dan itu hanya bisa dilakukan bila dia jauh dari namja cantik itu.
Kalau tidak ada masalah ini, dia pasti masih bersama Jaejoong. Tapi bagaimana mungkin dia menyalahkan Jaejoong sepenuhnya bila akar masalah terletak pada dirinya sendiri? Kalau saja dia tidak mabuk dan mengira Yoona adalah Jaejoong, Jaejoong tidak akan berbuat senekad itu. Sejenak dia memejamkan mata dan membelai kalung yang tidak pernah sekalipun terlepas dari lehernya. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan satu sama lain.
Walaupun dia belum bisa memaafkan Jaejoong, tapi dia sudah membantu Jaejoong dalam beberapa minggu ini. Dia yakin keluarga Kim akan dipenjara dalam waktu lama. Dia lega karena akhirnya sekarang Jaejoong bisa bebas dan tidak perlu khawatir lagi dikejar-kejar mereka. Dia bersyukur karena setidaknya dia bisa melakukan sesuatu untuk menolong orang yang dicintainya.
"Perhatian kepada para penumpang yang terhormat. Sebentar lagi pesawat menuju Gwangju akan berangkat. Harap kencangkan sabuk pengaman demi keselamatan anda. Selamat menikmati perjalanan." Suara instruksi dari pramugari membuyarkan lamunan Yunho.
###
Jaejoong berjalan terhuyung-huyung di gang yang sepi. Sejak berpisah dengan Yunho, hidupnya kacau berantakan. Beberapa kali dia mendapat surat panggilan ke kepolisian tapi dia mengabaikannya. Dia hanya menghabiskan waktunya di apartemen dan Mirotic Cub, seperti yang baru saja dia lakukan.
"Lama tidak bertemu denganmu, cantik."
Jaejoong menengadah melihat seorang namja yang menghalangi jalan dan menyeringai ke arahnya. Dia tersenyum sinis dan berlalu tanpa menghiraukan namja itu. Tiba-tiba namja itu menarik tangannya.
"Yah, aku sedang bicara. Di mana sopan santunmu, huh?"
"Lepaskan aku."
"Bagaimana kalau aku tidak mau, hum? Sudah lama sekali aku tidak merasakan tubuhmu sejak kau bersama dengan namja itu, tunggu, siapa namanya? Ne, Jung Yunho. Kudengar sejak itu kau tidak mau melayani orang lagi. Aku ingin membuktikan apakah berita itu benar. Tapi melihatmu sekacau ini, tampaknya kalian sedang ada masalah."
Jaejoong menatap tajam wajah si namja lalu menepis tangannya dengan kasar. "Bukan urusanmu."
Dengan cepat namja itu mencengkeram kedua lengan Jaejoong. "Apa kau tidak bisa lebih lembut sedikit, cantik?" ujarnya sambil menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong.
"Aahh…" Si namja berteriak kesakitan ketika Jaejoong menggigit tangannya sampai berdarah. Dengan penuh kemarahan dia mendorong Jaejoong sampai kepala dan tubuhnya membentur dinding. "Berani-beraninya kau melawanku, huh?!" bentaknya lalu mulai mendekat dan menciumi wajah Jaejoong.
Sekuat tenaga Jaejoong melindungi wajahnya dan mendorong namja itu. "Yah, hentikan! Kau tidak berhak melakukan ini padaku!"
"Wae? Dulu kita melakukannya hampir setiap hari. Bahkan kau sendiri yang datang dan menggodaku. Jadi apa masalahmu sekarang?"
"Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai."
Namja itu terkejut tapi beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak. "Ommo… benarkah ucapan ini keluar dari mulut seorang Kim Jaejoong, pelacur nomor satu di Mirotic Club? Apa aku tidak salah dengar?"
"Terserah kau mau memukul atau membunuhku. Asalkan kau tidak meniduriku lagi."
Masih dengan tawanya namja itu memegang dagu Jaejoong. "Haha… belum pernah aku mendengar kata-katamu selucu ini, Jaejoong-ah. Jadi siapa yang kaucintai? Jung Yunho? Dia benar-benar beruntung bisa memiliki tubuhmu ini. Tubuh dambaan tiap namja di Seoul. Haha…"
"Lepaskan aku!"
"Kau jangan takut, chagi. Kekasihmu tidak ada di sini, jadi dia tidak akan tahu perbuatan kita." Si namja mencengkeram krah Jaejoong siap merobek pakaian namja cantik itu.
Jaejoong berusaha mati-matian mempertahankan pakaiannya dan melindungi kalung pemberian Yunho yang menempel di lehernya. Sebelah tangannya merenggut kasar tangan namja itu sedangkan tangan yang lain dengan cepat melayangkan tinju ke arahnya.
"Appo…" Si namja yang tidak mengira gerakan Jaejoong terdorong mundur sambil memegangi wajahnya yang memar. Jaejoong menggunakan kesempatan itu untuk menendang selangkangan si namja. Dia berteriak keras sambil mengusap-usap juniornya yang bukan main nyerinya.
Jaejoong segera berlari meninggalkan namja itu. Tapi belum sempat dia keluar dari gang, si namja sudah menubruknya dari belakang. Dia langsung menindih punggung Jaejoong lalu menarik tangan Jaejoong sekeras-kerasnya membuat namja cantik itu mengaduh kesakitan.
"Kau mau main kasar, huh?! Arasseo. Akan kukabulkan!" Dengan kasar dia membalik tubuh Jaejoong.
Jaejoong terbelalak melihat sebuah pisau di tangan namja itu. Dia mencoba menggerakkan tangannya, tapi terhenti ketika merasakan ujung pisau itu menempel di lehernya.
"Kalau kau bergerak sedikit saja, pisau ini akan menggorok lehermu."
Nyeri mulai terasa saat pisau yang runcing dan dingin itu menekan lehernya. Tak lama kemudian terasa cairan mengalir dari sana. Dia menatap si namja tanpa berkedip. Sama sekali tidak ada perasaan khawatir atau apapun di hatinya. Satu-satunya ketakutannya yang terbesar adalah ketika Yunho meninggalkannya. Sekarang Yunho sudah tidak ada di sampingnya lagi. Dia tidak peduli lagi bila sekarang dia harus mati.
Si namja kembali merenggut paksa pakaian Jaejoong. Tapi sangat sulit baginya karena Jaejoong mencengkeram pakaiannya dengan kuat. Jaejoong tidak takut sedikitpun pada ancamannya. Kenapa Jaejoong senekad itu? Jaejoong menggerakkan tangannya yang satu lagi menangkap tangan si namja yang memegang pisau. Sekuat tenaga namja itu berusaha melepaskan tangan Jaejoong. Beberapa saat lamanya mereka mengerahkan seluruh kekuatan saling menarik dan mendorong.
JLEB!
Mata Jaejoong terbelalak. Perlahan dia menunduk dan melihat pisau itu tertancap di dada kirinya. Darah segar tampak mengalir keluar dari sana. Wajahnya yang merah perlahan memucat seperti kertas.
Namja itu tersentak dan berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan. Sebenarnya dia hanya berencana mengancam Jaejoong tapi apa yang terjadi sekarang? Dengan cepat dia mencabut pisau di dada Jaejoong. Dia tidak mau meninggalkan pisau yang terdapat sidik jarinya itu. Dalam sekejap darah muncrat ke mana-mana membasahi tubuh Jaejoong dan tangannya yang memegang pisau berlumuran darah. Tanpa membuang waktu dia berlari meninggalkan namja cantik yang meregang nyawa itu.
###
Tiba-tiba suara benturan keras yang memekakkan telinga mengejutkan Yunho dan para penumpang pesawat.
"Ada apa ini? Ada apa ini?" Terdengar suara-suara khawatir di sana-sini. Tampak raut kegelisahan di wajah mereka.
Pramugari segera angkat bicara. "Para penumpang dimohon tenang. Kami mengalami sedikit masalah tapi akan segera kami atasi. Harap anda semua tetap duduk di tempat masing-masing."
Dengan tegang Yunho memperhatikan sekelilingnya. Penumpang lain masih duduk tapi raut wajah mereka belum berubah. Perlahan Yunho mencium sesuatu yang aneh. Dia segera melihat keluar melalui jendelanya yang tertutup. Seketika dia terbelalak melihat asap keluar dari ekor pesawat. Belum sempat dia mengumpulkan kesadarannya kembali, pesawat mulai oleng dan bergerak-gerak tidak terkendali.
"Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Apa yang terjadi?" Terdengar lagi suara teriakan orang-orang, kini semakin keras dan nyata. Yunho dengan wajahnya yang memucat memandangi mereka yang menjerit-jerit histeris. Terdengar tangisan ketakutan di mana-mana.
"Perhatian pada para penumpang. Dengan terpaksa kami beritahukan akan melakukan pendaratan darurat. Diharap anda semua mempersiapkan diri."
Asap semakin membumbung tebal. Semua orang kini bisa melihatnya dengan jelas. Beberapa orang masih menjerit dan menangis, tapi tidak sedikit yang diam terpaku di kursinya dan berdoa dengan raut wajah putus asa. Sepertinya mereka sudah kehilangan tenaganya untuk bergerak bahkan berbicara. Getaran di dalam pesawat semakin kuat dan terasa pesawat semakin kencang menukik ke bawah. Sepertinya pilot gagal melakukan pendaratan darurat. Yunho memejamkan matanya, bersiap menghadapi kemungkinan yang terburuk. 'Appa, umma, Jaejoong-ah, mianhae ne?' batinnya.
Dalam sekejap pesawat terhempas ke sebuah tebing yang curam dengan suara yang memekakkan telinga. Sebagian besar badan pesawat hancur tak berbentuk lagi. Perlahan Yunho membuka matanya. Dia tidak mengira ternyata dia masih hidup sesudah hempasan dahsyat itu. Dia dan beberapa penumpang dengan sisa-sisa kesadaran mereka berusaha keluar melewati apapun yang masih bisa mereka lalui, berusaha sejauh mungkin dari pesawat yang setiap saat bisa meledak.
Dengan tenaganya yang masih tersisa Yunho menyeret tubuhnya menjauhi puing-puing pesawat. Kakinya tidak bisa digerakkan, jadi hanya kedua tangannya yang bisa dia andalkan saat ini. Dia terus bergerak hingga dia merasakan tenaganya habis. Dia menggerakkan kepalanya yang berat ke sekelilingnya. Tidak ada lagi suara jeritan dan tangisan. Yang ada hanyalah rintihan-rintihan lirih dan tubuh-tubuh bergelimpangan. Susah payah dia berusaha menarik tubuhnya ke posisi terlentang. Dia menunduk dan melihat sekujur tubuhnya yang berlumuran darah. Suasana begitu sunyi, bau asap masih terhirup dan semakin banyak memasuki saluran pernafasannya.
BUUM!
Suara dentuman yang begitu keras kembali terdengar.
###
Sekuat tenaga kuseret tubuhku keluar dari gang. Kutekan kuat-kuat luka di dada kiriku untuk menghentikan perdarahan, tapi itu justru membuat darahku keluar semakin deras. Kurasakan tenagaku semakin melemah dan akhirnya aku tidak kuat lagi bergerak. Samar-samar kulihat bayangan seseorang. Semakin lama tampak semakin jelas. Ya, dia namja yang sangat kucintai. Yunho-ah, akhirnya kau datang menolongku. Aku sadar aku yang bersalah. Aku sudah menyesalinya. Kau mau memaafkanku, kan? Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Akan kuikuti apapun kemauanmu. Yunho-ah, terimakasih karena kau sudah menunjukkan padaku apa itu cinta. Terimakasih karena kau sudah memberiku kebahagiaan. Yunho-ah, kau tahu? Di tengah pandanganku yang kabur saat ini, wajahmu masih terlihat jelas. Sekarang aku lelah sekali. Biarkan aku tidur sebentar. Tolong temani aku di sini ne?
###
Perlahan kupejamkan kedua mataku. Rasa sakit luar biasa yang mendera tubuhku kini tidak ada lagi. Kepalaku terasa begitu ringan. Apakah aku sudah mati? Ataukah masih menunggu kematian? Samar-samar kulihat bayangan seseorang di dekatku. Dia berlutut dan memeluk tubuhku. Pelukan dan aroma tubuhnya membuatku merasa sangat nyaman. Perasaan hangat yang begitu familiar dan selalu kuimpikan. Jaejoong-ah. Di saat-saat seperti ini aku masih bisa merasakanmu. Kurasa karena aku begitu merindukanmu, atau kau memang ke sini untuk menjemputku? Mianhae. Ini bukan salahmu. Akulah penyebab semua masalah ini. Aku tidak pernah bisa membahagiakanmu. Jeongmal mianhae. Tapi aku tetap bersyukur karena di kehidupan ini aku bisa bertemu denganmu. Aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.
###
End or tbc?
Huaa... kl smisal ada yg mau nge bash saya, silakan, saya bkl trima, tp jln critanya emg ky gini. jeongmal mianhae ne, chap ini udh saya tulis dr bbrp minggu yg lalu, & smp skrg saya mikir2 apa ini bs dijadikan ending. krn saya ga tau apa ada readers yg suka sad ending seperti saya? hehe... jd smua saya kembalikan ke readers. kl readers pengen happy ending, ini saya br berusaha nulis 2 chap lg & menceritakan sdikit yg blm smpet dijelaskan di chap ini. tp kl mnrt readers ff ini udh kepanjangan & ga menarik, saya cukupkan sekian aja gmn? krn terus terang saya takut kl byk readers yg menilai crita saya udh ky sinetron, trlalu didramatisir, dsb. jd kl dipanjangin lg takutnya malah smakin berantakan. bagi chingudeul skalian yg membaca chap ini, mohon sarannya ne. gomawo :).
