CHAPTER 26

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, and others

Genre : Romance, angst

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong. ssdh kebingungan & pusing 7 keliling akhirnya saya coba nge post lanjutan ff yg puanjang & lebar ini, & membawa 1 karakter baru, hehe... jeongmal kamsahamnida bwt chingudeul yg msh brkenan repiu :). mian ne krn saya butuh wktu lama bwt cari wangsit :p. mian jg krn saya kepaksa ga bs nyelesein ini dlm 1-2 chap sprti yg saya janjikan :(. udh nyoba nyingkat2 & ngilangin bbrp adegan, tp tetep aja jadinya 3 chap. yah, mgkn tangan saya jg yg ga bs diajak kompromi ^^.

Sblmnya saya mau curcol bntr ne. saya pribadi sbnrnya cukup sreg sama ending yg kmrn. yunjae brpisah tp msh saling mencintai. mereka meninggal di wktu yg sama tp di t4 yg brbeda, & jiwa mereka brtemu & saling menemani walau cm dlm ilusi mereka, hehe... mnrt saya itu manis, walau, ehm... rada mendramatisir? hehe... nasib yunjae dsni emg agak tragis. tp ga semua adegan mereka saya bikin menderita. saya jg nulis bbrp happy moment mereka. lagipula mereka menanggung masalah ini b2, jd ga trlalu tragis jg kan. hehe... ini cm pndapat saya jg, lho.

Menanggapi bbrp repiu chingudeul, saya ga bs nulis yunjae ada di RS yg sama, krn posisinya yunpa kan udh dlm prjalanan ke luar kota, jd pastinya yunpa dibawa ke RS trdekat dr sana. dgn kondisi yunpa yg ky gt susah kl mau bikin yunpa cepat sadar & nyelesein salah pahamnya sm jaema. sebaik2nya yunpa, dia tetep pny perasaan & batas kesabaran. dia ga bs maafin jaema secepet itu, walo sbnrnya dia yg bikin masalah. saya s4 stuck lama, gmn caranya ngubah jd happy dari ending yg sprti kmrn, jd akhirnya saya ubah settingnya jd 2 th kmd, & dlm 2 th ini ada yg sdkt berubah. inilah yg bs saya buat, saya ga jamin kl jd tambah amburadul. hehe... harap maklum ne.

Kdg2 ada tulisan "kaumau", itu typos aja. saya ga ngira ada chingu yg memperhatikan itu, hehe... byk ya typos nya? saya br ngeh. gomawo ne.

Ini skedar chap2 tambahan. jd kl chingu ga keberatan sm ending kmrn, gpp kl gak baca chap2 ini. lanjut skrg aja ne sblm curcolnya lbh panjang drpd ff nya LOL.

###

"Oppa…"

Seketika Yunho tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah yeojya yang duduk di sebelahnya. "Wae, Yuri-ah?"

"Aku memanggilmu beberapa kali tapi kau tidak mendengarnya." ujar yeojya itu cemberut.

Yunho tersenyum tipis. "Mianhae."

"Dari tadi kuperhatikan kau hanya melamun dan tidak menonton film. Apa kau memikirkan Jaejoong lagi?"

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Oppa, kau tidak bisa membohongiku. Walau kadang kau terlihat marah waktu menceritakannya, aku tahu kau masih sangat mencintainya."

Yunho menghela nafas panjang. Ditatapnya rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Sudah satu tahun dia bekerja menjadi barista di sebuah kafe besar di Gwangju. Beruntung dia sempat belajar mengolah kopi waktu di Seoul dulu, jadi dia tidak mengalami kesulitan yang berarti. Dia tidak pernah mengira dia bisa selamat dari kecelakaan maut dua tahun yang lalu. Walaupun dia sempat koma selama beberapa bulan, tapi dia bersyukur Tuhan masih menyelamatkan nyawanya. Sejak memasuki tahun terakhirnya di sekolah dia bekerja part time untuk persiapan biaya kuliahnya besok karena dia tidak mau terlalu membebani orangtuanya. Ya, akibat kecelakaan itu dia membutuhkan waktu lama untuk istirahat dan memulihkan kondisinya sehingga dia tertinggal setahun dari teman-temannya. Saat ini dia baru saja merayakan kelulusannya.

"Oppa, besok kau berangkat ke Seoul kan. Apa kau berencana menemuinya?"

Yunho mengangkat bahunya. "Molla."

"Lakukanlah apa yang menjadi kata hatimu, oppa. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu. Hati-hati ne?"

"Ne. Gomawo, Yuri-ah."

###

Beberapa menit lamanya Yunho melamun di pesawat dalam perjalanannya menuju Seoul. Kafenya baru saja membuka cabang di ibukota Korea Selatan itu. Dia diminta majikannya untuk meninjau kafe baru itu. Dia tidak mengira dia akan kembali ke Seoul. Mau tak mau kenangan tentang namja yang dicintainya itu terlintas lagi di pikirannya. Dia mengusap kalung di lehernya, satu-satunya barang kenangannya dengan Jaejoong, satu-satunya barang yang terus digenggamnya ketika kecelakaan pesawat sampai dia pingsan.

Begitu tiba di Seoul, Yunho segera menuju hotel yang sudah di booking majikannya untuknya. Walaupun sudah dua tahun, dia masih mengingat jalan-jalan besar di sana. Sesudah meletakkan kopernya dan beristirahat sejenak, dia langsung menuju kafe itu.

"Yunho hyung, apa kabar? Kapan kau sampai?" sapa seorang namja begitu Yunho tiba di sana.

Yunho tersenyum. "Yesung-ah, sudah lama kita tidak bertemu. Aku baru saja sampai dua jam yang lalu. Bagaimana grand opening kemarin? Sukses, kan?"

"Syukurlah, semuanya lancar. Ini berkat bantuan dan doa dari kalian juga. Ayo masuk, hyung."

Yesung mengajak Yunho berkeliling di dalam bangunan dua lantai itu. Kafe itu tampak sudah dipadati pengunjung walaupun baru saja dibuka. Di luar kafe juga ditata rapi beberapa meja kursi. Terlihat karyawan dengan sabar menunggu order dari pengunjungnya dan beberapa lagi lalu lalang membawakan makanan. Sesudah itu Yunho dan Yesung duduk di lantai dua sambil membicarakan tentang pengembangan kafe baru itu.

Beberapa jam kemudian sesudah pekerjaannya selesai, Yunho menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan. Beruntunglah majikannya berbaik hati memberinya beberapa hari untuk berlibur, sebagai penghargaan atas kerja kerasnya selama setahun ini. Kebetulan tempat itu dekat dengan rumah Jaejoong. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke sana. Ketika berdiri di depan rumah itu, beberapa saat dia termenung. Bagaimana kabar Jaejoong sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia kembali ke sana?

Yunho mengerutkan alisnya saat memperhatikan gerbang besar itu digembok dari luar dan disegel. Dia kembali berpikir. Itu pasti karena Tuan dan Nyonya Kim masih dipenjara. Dia meninggalkan rumah itu dan segera pergi ke apartemennya. Ya, mungkin Jaejoong masih tinggal di sana. Saat ini di dalam hatinya dia ingin sekali bertemu namja yang sangat dia cintai itu.

Beberapa saat kemudian dia melewati suatu perkampungan kecil. Dia melirik sekilas. Perkampungan itu dipenuhi rumah-rumah kecil dan kumuh yang benar-benar tidak bisa dijadikan tempat tinggal. Beberapa atap dan dindingnya bahkan sudah rusak dan tidak layak untuk dihuni. Tiba-tiba di sudut matanya dia melihat sosok yang familiar. Dia menajamkan matanya, seketika itu juga terbelalak melihat sosok berpakaian kumal itu. "Tu-tuan Kim?"

Namja itu menoleh mencari asal suara. Raut wajahnya berubah, setengah berlari dia mendekati Yunho dan mencengkeram krahnya. Wajah kurusnya dipenuhi kemarahan dan kebencian yang tak terbendung. "Kau! Mau apa kau ke sini, huh?!"

Belum habis rasa terkejut Yunho, namja itu memukulnya dengan keras sampai terjatuh. "Kau senang melihatku seperti ini? Kau sudah puas sekarang?!"

Dengan kasar Tuan Kim menarik Yunho bangun dan kembali mencengkeram krahnya. "Dengar baik-baik, anak pembawa sial! Kau yang menyebabkan semua masalah ini! Aku tidak akan tinggal diam dan akan menyiksamu dan juga keluargamu sampai tidak bersisa lagi. Arasseo?!" bentaknya membabi buta.

Tuan Kim kembali melayangkan tinjunya ke wajah Yunho. Tapi sebelum sempat menyentuh wajah Yunho, Yunho sudah menahan tangannya. "Aku tidak ada waktu berurusan denganmu. Sekarang katakan di mana Jaejoong! Apa kau masih bertemu dengannya?"

Sejenak Tuan Kim tertegun lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau ke sini mencari Jaejoong? Sayang sekali anak itu sudah mati!"

Seketika Yunho berdiri terpaku. Matanya terbelalak, seakan tidak yakin dengan apa yang barusan didengarnya. "A-apa maksudmu?" Akhirnya dia berhasil mengeluarkan suaranya yang gemetar.

"Dia sudah mati ditusuk preman! Kalau kau memang ingin menemuinya, temui saja di akhirat!"

Wajah Yunho memucat. Apa pendengarannya tidak salah? Jaejoong… Jaejoong meninggal? Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri saat Tuan Kim kembali melayangkan pukulan ke arahnya. Tapi beberapa namja datang dan dengan cepat memegangi kedua tangannya.

"Kau mau berbuat ulah apa lagi, huh?!" hardik seorang namja.

"Kalian tidak usah ikut campur! Aku mau memberi pelajaran pada anak ini! Dia yang membuatku menjadi seperti ini! Dia yang membuatku harus tinggal dengan orang-orang seperti kalian!"

"Oh, ya? Memang kami orang seperti apa? Kami memang miskin. Tapi kami tidak pernah memanfaatkan tubuh keluarga sendiri untuk memuaskan nafsu!"

Tuan Kim melotot penuh kemarahan pada para namja itu. "Apapun yang kulakukan itu urusanku!" Tanpa membuang waktu Tuan Kim menarik krah Yunho bermaksud memukulnya lagi. Tapi sebelum dia sempat bergerak, salah satu namja menariknya dengan kasar.

"Kau tidak bisa mendengar perkataan orang lain, huh?!" teriaknya sambil meninju wajah Tuan Kim, diikuti teman-temannya yang juga sudah kehilangan kesabaran mengerubuti namja setengah baya itu dan mulai memukulinya.

"Kalian tidak tahu kalian berhadapan dengan siapa, huh?! Akan kuingat wajah kalian satu-persatu. Kalian akan menyesal bahkan sampai di akhir hidup kalian!" Tuan Kim berteriak-teriak kesetanan sambil berusaha melindungi wajah dan tubuhnya.

"Jangan banyak bicara lagi, tua bangka!" bentak seorang namja penuh emosi sambil memukul wajah Tuan Kim yang sudah tampak memar di sana-sini.

Yunho POV

Kugerakkan kedua kakiku yang lemas meninggalkan perkampungan itu. Tidak kupedulikan lagi teriakan kesakitan dari Tuan Kim yang sedang menjadi sasaran keberingasan para namja itu. Apa yang kudengar tidak salah? Jaejoong meninggal? Aku berjalan tak tentu arah. Pikiranku kosong, yang ada saat ini hanyalah Jaejoong seorang.

Aku berdiri di depan taman tempatku dan Jaejoong sering bersama dulu, yang sekarang sudah menjadi sebuah taman bermain yang ramai. Kutatap nanar pemandangan indah di depanku. Kenangan-kenangan kami ketika masih bersama silih berganti terlintas di pikiranku. Jaejoong-ah, bogoshipo.

Kulewati jembatan kecil yang terdapat kolam yang jernih di bawahnya. Kolam tempat kami dulu bermain berdua. Tiba-tiba kurasakan kakiku tidak sanggup berjalan lagi. Lututku lemas, sepertinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhku. Aku berjongkok sambil berpegangan pada sisi jembatan. Andwae! Aku tidak boleh percaya sepenuhnya pada ucapannya. Ingat, dia sangat membenciku. Dia pasti tidak mau aku sampai bertemu Jaejoong. Ya, kalau berita itu memang benar, Junsu pasti sudah mengabariku. Sesudah pikiranku kembali normal, kurogoh ponsel di sakuku.

"Yah, kau tidak apa-apa?" Aku sontak menengadahkan kepala mendengar suara lembut dan familiar itu. Perlahan aku berdiri dan terpaku menatap namja cantik yang berdiri di depanku.

End of POV

Yunho tertegun memandangi namja cantik itu yang juga tidak kalah terkejutnya saat menatapnya. Beberapa saat mereka hanya bertatapan dan melupakan keadaan di sekeliling mereka. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya sinar mata mereka yang saling mengungkapkan isi hati masing-masing.

"Jaejoong-ah!" Sebuah suara membuyarkan suasana kedua namja yang bertatapan itu. Yunho melihat seorang namja jangkung yang tadi memanggil sekarang sudah berdiri di sampingnya.

Namja jangkung itu memandang Yunho penuh perhatian. "Jae-ah, kau mengenalnya?"

Jaejoong terkejut lalu mengalihkan pandangannya dari Yunho. "Ah, n-ne. Dia… umm… dia temanku waktu SMA dulu."

Namja itu tersenyum ramah pada Yunho. "Jinja? Annyeonghasaeyo. Shim Changmin imnida. Aku senang sekali bisa bertemu dengan teman sekolah istriku."

###

Huaaa... segini dulu ne. takut kena protes chingudeul ^^. mian, inilah yg bs saya buat. hehe... enaknya lanjut or brenti dsni? apa ada chingudeul yg brkenan me repiu? kl chap tambahan saya msh bs dinikmati, bkl saya lanjutin. gomawo ne :).