CHAPTER 27
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, and others
Genre : Romance, angst (sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong. saya seneng bgt baca repiu2 chingudeul yg msh mau nemeni saya di sekuel ff yg ga ada juntrungannya ini ^^. jeongmal gomawo ne. bwt chingu yg nulis saya updet nya lama, mian cari wangsitnya susyah, hikz... chap lalu kpendekan, ya? krn saya hrs buru2 kabur sbelum digebukin chingudeul ramai2 ky pak kim, qiqiqi... dr repiu2 chingudeul byk yg heran sm meridnya jaema. sama, saya jg kaget, ga dpt undangannya. lho? haha... ttg alasannya saya critain sekilas dsni ne. byk yg ga rela jaema jatuh ke tangan minnie trnyata. hehe... tp kynya kok saya blm tega bikin salah 1 member DB5K jd tokoh antagonis LOL.
Dsni saya critain sekilas knp pak kim cepet bgt lepasnya. jg ada konflik tp dikit aja ne, smoga msh bs dinikmati. bwt chingudeul yg usul supaya ada NC an minjae, gomawo ne, tp mian, kl saya bikin itu crita bs tambah rumit, saya ga bs manjangin lg, hrs wira wiri cari wangsit lg, takutnya bsk taon dpn br selese, wakaka...
###
Yunho memandangi sepasang namja yang duduk di depannya. Saat ini mereka sedang memesan makanan di restoran. Dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya beberapa waktu yang lalu. Dia bersyukur karena ternyata Jaejoong tidak meninggal seperti yang dikatakan Tuan Kim. Tapi… Jaejoong menikah? Ini adalah hal yang tidak pernah disangka-sangkanya.
"Jadi dulu kau sahabat Jaejoong?" tanya Changmin.
"N-ne." jawab Yunho ragu-ragu.
"Berarti kau juga sahabat Yoochun dan Junsu, ya. Aku pernah bertemu mereka beberapa kali. Aku senang Jaejoong mempunyai banyak sahabat yang menemani di tengah-tengah masa sulitnya."
Yunho menatap Changmin. Changmin sudah tahu masa lalu Jaejoong. Ya, Changmin adalah suami Jaejoong. Mana mungkin dia tidak tahu tentang masalah Jaejoong. Dia memaksakan diri tersenyum. "Umm… mianhae, baru sekarang aku tahu tentang pernikahan kalian. Selamat, ya. Semoga kalian berbahagia."
"Kamsahamnida, Yunho-shi." ujar Changmin sambil tersenyum. Sedangkan Jaejoong sedari tadi tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Umm… sudah sejak kapan kalian menikah?"
"Kira-kira sudah hampir dua tahun. Waktu itu aku menolongnya yang terluka ditusuk orang. Aku yang menemaninya di rumah sakit karena orangtuanya sedang berurusan dengan polisi dan akhirnya ditahan. Lalu sesudah dia sembuh total, aku menikahinya."
Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat. Ternyata memang benar Jaejoong ditusuk, tapi itu terjadi dua tahun yang lalu. Berbagai perasaan memenuhi hatinya. Rasa sedih, lega, dan juga menyesal bercampur menjadi satu. Kenapa dia tidak ada di sana ketika Jaejoong membutuhkan pertolongan? Dia juga sangat membenci Tuan Kim yang sudah tega membohonginya.
"Umm… tadi aku bertemu Tuan Kim."
Yunho sedikit heran melihat respon kedua namja yang tanpa ekspresi itu. "Di mana kalian bertemu?" tanya Changmin datar.
"Umm… tadi kebetulan aku melewati rumah Jaejoong dan bermaksud mampir. Tapi kulihat rumah itu sudah disegel." Yunho lalu menceritakan pertemuannya dengan Tuan Kim. Dia tidak mengatakan bahwa sebenarnya dia memang ingin mencari Jaejoong, juga tentang Tuan Kim yang menipunya tentang kematian Jaejoong. Dia tidak mau kebencian Jaejoong pada appa angkatnya semakin dalam.
"Dua tahun yang lalu mereka ditangkap sesudah ditemukan bukti bahwa mereka menganiaya Jaejoong. Mereka terpaksa menggunakan sebagian uang perusahaan menyewa pengacara untuk mengeluarkan mereka. Ternyata itu membuat kondisi keuangan mereka yang sudah bermasalah menjadi semakin parah dan akhirnya bangkrut. Dia meminjam uang ke bank dan mencoba memulihkan perusahaannya tapi gagal. Dia tidak bisa mengembalikan hutangnya tepat waktu, jadi rumah yang tadinya dijadikan jaminan akhirnya disita."
Yunho terdiam mendengar penjelasan Changmin. Hidup Tuan Kim yang selama ini bergelimang harta sudah berubah drastis. Ternyata nasib baik tidak selalu berpihak padanya. Sekarang dia harus menerima balasan dari semua perbuatan jahatnya.
"Mianhae. Aku mau ke toilet sebentar. Kalian mengobrol saja dulu. Sudah lama kan kalian tidak bertemu." ujar Changmin lalu beranjak pergi.
Kesunyian kembali menyelimuti kedua namja itu.
"Umm… Jaejoong-ah, bagaimana keadaanmu?" tanya Yunho mencoba membuka pembicaraan.
Jaejoong hanya diam tidak merespon.
"Mianhae. Aku sama sekali tidak tahu kau terluka waktu itu. Kalau seandainya aku tahu, aku pasti…" Yunho tidak tahu bagaimana harus melanjutkan ucapannya.
Masih tidak ada suara dari bibir namja cantik itu. Yunho menatapnya dengan gelisah. "Umm… mianhae. Dua tahun yang lalu aku…"
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku juga minta maaf. Sebaiknya kita lupakan saja masa lalu itu."
Yunho merasakan sakit di hatinya mendengar kata-kata Jaejoong. Ya, sekarang Jaejoong milik Changmin. Tidak seharusnya dia masih mengharapkan Jaejoong. "Kau mencintai Changmin?" Dia terkejut sendiri mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulutnya.
"Apa kau sadar dengan pertanyaanmu, Yunho? Dia suamiku. Tentu saja aku mencintainya."
Yunho tersenyum pahit. "Ne. Kulihat kau bahagia bersamanya. Aku ikut bahagia untukmu, Jae-ah."
###
Changmin dan Jaejoong memasuki rumah mewah mereka. Di usianya yang masih terbilang begitu muda, 27 tahun, Changmin berhasil membangun perusahaan keluarganya sesudah menjalani pendidikannya di Amerika. Otaknya yang jenius membuatnya lulus lebih cepat dari teman-teman seusianya sejak masih duduk di bangku SD. Perusahaan besar milik appa nya yang sempat bangkrut akhirnya berhasil dia pulihkan walaupun harus jatuh bangun dulu pada awalnya. Walaupun belum sebanding dengan perusahaan Tuan Kim ketika masih berdiri dulu, perusahaan Shim mempunyai pegawai-pegawai yang potensial dan prospek yang menjanjikan.
"Joongie."
Jaejoong menoleh ketika mendengar suara itu. Seketika wajahnya berubah menjadi keruh. "Kau lagi. Sudah berapa kali kubilang jangan injakkan kakimu lagi di sini. Apa kata-kataku kurang jelas?"
Nyonya Kim berjalan mendekati Jaejoong. "Joongie, tolong beri umma uang. Umma dan appa lapar sekali karena tiga hari ini belum makan." ujarnya memelas sambil menggenggam tangan Jaejoong.
Jaejoong menepis tangan Nyonya Kim sambil tersenyum sinis. "Dua tahun yang lalu kalian orang yang kaya raya. Siapa yang menyangka nasib kalian berubah seperti ini. Jangan menyebut umma di depanku karena kau bukan umma ku."
"Joongie…" Nyonya Kim terbelalak tak percaya. "Beginikah sikapmu pada orang yang sudah menghidupimu sampai seperti ini?"
"Kalau saja aku tidak ingat dengan nasib sialku tinggal bertahun-tahun bersama kalian, sudah sejak dulu kalian kuhabisi. Seharusnya kau bersyukur karena aku hanya mengusirmu." sahut Jaejoong. Nada penuh kebencian dan dendam terdengar jelas dari suaranya.
Air mata mulai menggenang di kedua mata Nyonya Kim. "Umma mohon, Joongie…"
"Jae-ah, apa kau mau aku memberinya uang?" tanya Changmin sambil mendekati mereka.
"Tidak usah, Changmin-ah. Usir saja dia." sahut Jaejoong dingin lalu melangkah masuk.
Changmin tersenyum sinis. "Ahjumma, kau sudah dengar perkataan Jaejoong kan. Sekarang kau bisa pergi."
"Changmin-ah, kenapa kau setega ini?" ratap Nyonya Kim sambil terisak.
"Aku hanya melakukan apa yang diminta istriku. Aku masuk dulu ne. Kalau sudah tidak ada keperluan di sini lebih baik kau pergi." ujar Changmin lalu masuk rumah meninggalkan Nyonya Kim.
Nyonya Kim memandangi punggung Changmin sampai hilang dari pandangan. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan geram. "Dulu aku mengizinkan mereka menikah agar hidup kami terjamin. Tapi kenapa malah jadi seperti ini? Kalian ingat baik-baik ne. Aku tidak akan berhenti. Suatu saat nanti kalian akan berlutut di depanku dan menyesali apa yang sudah kalian lakukan padaku."
###
"Yunho-ah, kapan kau sampai…"
Ucapan Junsu terpotong ketika tiba-tiba saja Yunho memeluknya erat-erat. "Bogoshippo, Junsu-ah."
Junsu terkejut dengan pelukan Yunho yang tiba-tiba. Dia tertawa kecil lalu membalas pelukan Yunho. "Nado bogoshippo, Yunho-ah."
Yunho hendak melepaskan lengannya, tapi Junsu justru mempererat pelukannya. "Sebentar ne. Aku masih belum puas memelukmu."
Yunho tertawa. "Yah, bagaimana kalau pacarmu yang tersayang itu melihat kita? Bisa-bisa dia salah paham."
Kali ini giliran Junsu yang tertawa terbahak-bahak. "Yah, kau seperti tidak mengenal Yoochun saja. Dia tidak pernah cemburu melihatku dekat dengan namja atau yeojya manapun. Aku heran sebenarnya dia serius atau tidak denganku."
Tiba-tiba sebuah tangan entah dari mana mengacak-acak rambut Junsu. "Yah, kalau kau meragukanku kenapa dulu kau mau pacaran denganku?" Junsu melotot kesal ke arah namja pemilik tangan itu.
"Yoochun-ah." teriak Yunho terkejut sekaligus gembira. "Kalian sama sekali tidak berubah, ya. Aku merindukan kalian."
Beberapa saat kemudian ketiga namja itu duduk di ruang tamu. Yoochun dan Junsu sudah menjadi sepasang kekasih sejak setahun yang lalu dan akan menikah begitu lulus kuliah nanti. Yunho bahagia sekaligus iri pada mereka. Hubungan mereka begitu lancar dan langsung direstui oleh keluarga mereka. Belum lagi Kibum yang dengan semangat membara menyuruh mereka buru-buru menikah. Mereka mulai bercakap-cakap menceritakan kabar masing-masing.
"Mwo? Kau bertemu Jaejoong? Bagaimana ceritanya?" tanya Junsu terkejut.
Yunho menghela nafas panjang dan menceritakan semua yang baru saja terjadi.
"Yunho-ah, mianhae. Aku tidak bercerita padamu karena kupikir kau tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang dia." ujar Junsu dengan nada menyesal.
Yunho tersenyum tipis. "Gwenchana. Walaupun waktu itu aku tahu, aku juga tidak bisa mencegahnya kan. Umm… aku juga sudah bertemu Changmin."
Sejenak Junsu terdiam menatap sahabatnya itu. Perlahan dia mengulurkan tangan menggenggam tangan Yunho mencoba menghiburnya.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Yoochun.
"Dua minggu lagi aku pulang. Pekerjaanku menunggu di sana. Aku juga harus segera mempersiapkan ujian masukku ke universitas." ujar Yunho sambil memaksakan diri tertawa.
"Mwo? Hanya dua minggu? Padahal kuharap kau bisa lebih lama di sini. Sudah lama sekali kita tidak bersama seperti ini."
"Oh, iya. Aku kaget juga mendengar perusahaan Tuan Kim bangkrut. Bagaimana ceritanya?"
Yoochun menghela nafas panjang. "Dulu appa ku adalah salah satu koleganya. Perusahaan appa maju pesat karena didukung oleh perusahaan itu. Tapi dua tahun yang lalu mereka mengalami krisis keuangan. Appa mendengar berita kalau selama itu ada yang sedikit demi sedikit mencuri uang Tuan Kim, tapi sampai sekarangpun belum ditemukan bukti siapa yang melakukannya."
Yunho hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yoochun. Ketiga namja itu lalu menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol.
###
"Jae-ah, kulihat kau pendiam sekali hari ini. Apa kau sakit?"
Jaejoong menoleh ke arah Changmin sambil tersenyum. "Gwenchana, Changmin-ah."
Changmin mengusap-usap kepala Jaejoong penuh kasih sayang. "Kau pasti banyak pikiran karena kedatangan Nyonya Kim itu. Lebih baik kau istirahat sekarang ne. Aku tidak mau kau sakit." ujarnya lalu berjalan meninggalkan kamar.
"Changmin-ah."
Changmin menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kenapa kau sebaik ini padaku? Aku benar-benar tidak pantas menerimanya."
Changmin kembali mendekati Jaejoong. Ditatapnya wajah namja cantik itu, digenggamnya kedua tangannya. "Apa kau harus menanyakan itu? Itu karena aku mencintaimu." ujarnya lembut.
Jaejoong mendesah. "Kau mencintaiku tapi apa balasanku? Sampai sekarang aku tidak pernah membuatmu bahagia."
Changmin tersenyum. "Melihatmu di sini saja aku sudah cukup bahagia. Aku akan menunggu sampai kau mau membuka hatimu untukku, Jae-ah. Sampai kau mengizinkanku menyentuhmu. Karena aku tidak akan melakukan itu tanpa persetujuanmu."
Jaejoong menatap Changmin dengan berkaca-kaca. Ucapan Yunho dua tahun yang lalu terngiang kembali di pikirannya. Ucapan yang sama. Ucapan yang membuatnya merasa dihargai sebagai manusia. "Gomawo, Changmin-ah."
"Besok Sabtu aku mengundang Yunho makan siang. Jadi bersiap-siaplah ne."
"Eh?"
"Wae? Tidak ada masalah, kan."
"A-ani. Gwenchana." ujar Jaejoong tersenyum berusaha menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.
"Kau tidurlah yang nyenyak ne." Changmin mencium kening Jaejoong sebelum keluar dari kamar.
Jaejoong POV
Aku berbaring memandangi langit-langit kamar. Takdir kembali mempertemukanku dengan namja yang masih sangat kucintai. Entah apa yang akan terjadi besok. Apakah kami akan kembali dekat atau justru semakin menjauh? Perlahan kubelai kalung pemberiannya yang masih melekat di leherku. Sejak dia memakaikannya waktu itu, tidak pernah sekalipun aku melepaskannya. Ya, perasaanku padanya belum berkurang sedikitpun, malahan tadi terasa semakin kuat. Dua tahun tidak bertemu, kulihat dia semakin tampan. Tapi Changmin? Bagaimana dengannya?
End of POV
Changmin POV
Sudah beberapa kali kucoba untuk tidur tapi tetap tidak bisa. Entah kenapa aku gelisah. Ingatanku kembali pada peristiwa dua tahun yang lalu, waktu pertama kali aku bertemu dengannya. Sebenarnya aku pernah melihatnya beberapa kali. Kuakui dulu aku begitu membencinya sebesar aku membenci appa nya. Aku belum puas kalau belum melihat keluarga itu hancur tak bersisa.
Waktu aku mendengar berita penangkapan mereka, aku baru tahu tentang nasibnya yang tragis. Tapi kurasa itu bukan sesuatu yang pantas untuk kupikirkan. Ya, dendamku pada keluarga itu membuatku tidak peduli dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan mereka. Tapi melihat tubuhnya yang berlumuran darah dan tak berdaya di jalan waktu itu, entah kenapa perasaanku melunak dan timbul rasa kasihan padanya. Aku merasa akan menyesal seumur hidup kalau aku tidak menolongnya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai membiarkannya meninggal.
Selama menjaganya di rumah sakit, aku mencoba mencari tahu tentang dia. Hal-hal yang dulu tidak pernah kuanggap ada mendadak menjadi sesuatu yang sangat penting bagiku. Seolah-olah akupun ikut merasakan sakit yang sama dengannya. Lalu entah bagaimana perasaan ini mulai muncul. Aku ingin menolongnya keluar dari masalah ini. Walaupun dengan susah payah, aku berhasil meyakinkannya untuk menikah denganku. Selama hampir dua tahun ini aku sudah memberikan cintaku yang begitu besar, tapi ternyata sampai sekarangpun aku tidak bisa mendapatkan hatinya.
End of POV
###
"Yunho-shi. Selamat datang. Tadinya aku khawatir kau akan kesulitan menemukan rumah ini." sambut Changmin sambil tersenyum ramah.
"Ah, ani. Alamat yang kautuliskan cukup jelas. Lagipula aku masih ingat sebagian besar jalan di sini."
Mereka bercakap-cakap sebentar sebelum Changmin mempersilakan Yunho ke meja makan.
"Kajja. Jaejoong sudah menyiapkan masakan istimewa untuk menyambut kedatanganmu."
"Eh?"
Yunho tertegun melihat Jaejoong dan pembantunya yang sedang sibuk menata meja makan. Dia memandangi berbagai macam makanan yang tersusun rapi di depannya. Jadi Jaejoong yang memasak semua ini?
Tanpa sengaja Jaejoong menjatuhkan sendok di dekat Yunho. Dia membungkuk hendak mengambil sendok itu.
"Gwenchana, biar aku…" Ucapan Yunho tiba-tiba saja terputus, matanya terbelalak menatap kalung yang melingkar di leher Jaejoong yang tampak saat dia membungkuk. Liontin berbentuk borgol dengan huruf YJ di tengah-tengah, itu kalung pemberiannya. Jaejoong yang tidak menyadari tatapan Yunho terus saja berjalan ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian ketiga namja itu duduk di depan meja makan.
"Umm… masakanmu enak, Jae." ujar Yunho sesudah mencicipi bulgogi.
Jaejoong tersenyum mendengar pujian ini. Tanpa disadari wajahnya mulai memerah. "Gomawo."
"Jaejoong memang istri yang istimewa. Dua tahun ini dia giat belajar memasak demi membahagiakan suaminya." ujar Changmin.
Yunho menangkap tatapan sayang Changmin pada Jaejoong. Hatinya mulai terasa sakit. Jaejoong yang sekarang berbeda dengan Jaejoong yang dikenalnya dulu. Dia rela belajar memasak untuk Changmin. Dia benar-benar menjalankan perannya sebagai istri dengan baik.
Mereka menikmati makanan sambil melanjutkan percakapan. Changmin banyak bertanya tentang pendidikan dan pekerjaan Yunho.
Sesudah makan siang selesai, Jaejoong dan pembantunya membereskan meja.
"Umm… Changmin-shi, mianhae aku mau ke toilet sebentar."
"Oh, ne. Toiletnya ada di bawah tangga itu."
Yunho membungkuk lalu berjalan ke arah yang ditunjuk Changmin. Saat akan kembali ke ruang tamu, dia menoleh ke dapur yang dilewatinya. Dari sela pintu dilihatnya Jaejoong sedang sibuk di dalam. Dia berpikir sejenak sebelum membuka pintu itu. Dia tidak melihat yeojya yang tadi membantu Jaejoong. Ya, sekarang Jaejoong sedang sendirian mencuci piring.
"Umm…"
Jaejoong terkejut mendengar suara di belakangnya, seketika itu juga dia menoleh. "Yunho-ah, apa kau perlu sesuatu?"
Dengan ragu-ragu Yunho mendekati Jaejoong. "Umm… boleh aku membantumu?"
Jaejoong melihat Yunho dengan tatapan aneh. "Mwo? Kau tamu di sini. Mana mungkin aku membiarkanmu mencuci piring. Lagipula ini sudah pekerjaanku."
"Umm… apa kita bisa bicara sebentar?"
"Kau lihat, aku sedang sibuk. Kalau kau tidak butuh apa-apa, sebaiknya kau kembali ke ruang tamu."
Yunho mendesah. Dia sadar apa yang dia lakukan ini tidak sopan. Tapi dia tidak mau kehilangan kesempatan berbicara dengan namja cantik itu. Dia mendekati Jaejoong, tanpa ragu-ragu dikeluarkannya kalung yang tersembunyi di balik krah Jaejoong. Jaejoong terkesiap dengan tindakan Yunho yang tiba-tiba itu.
"Apa yang kau…"
"Kau bilang… kau mencintai Changmin, kan?"
"Yunho-ah…"
Yunho menggenggam kalung itu di depan wajah Jaejoong. "Selama kita tidak melepaskan kalung ini, itu berarti kita masih terikat satu sama lain. Kenapa kau masih memakainya?"
Jaejoong menarik nafas dalam sebelum merenggut kembali kalungnya. Tanpa menjawab dia kembali meneruskan pekerjaannya.
Yunho merasakan emosinya mulai naik melihat Jaejoong mengacuhkannya. Dia membalik tubuh Jaejoong dan mengguncang-guncang pundaknya. "Jae-ah, kau masih mencintaiku kan. Katakan, perasaanmu padaku belum berubah kan." Dia berteriak-teriak frustrasi.
"Yunho-ah, kau menyakitiku…"
Pelukan Yunho yang tiba-tiba memotong ucapan Jaejoong. Dia hanya terpaku, merasakan pelukan hangat yang begitu dirindukannya. Kedua matanya mulai basah, tapi dia segera menyadari bahwa ini salah. Sekuat tenaga dia mendorong Yunho, tapi Yunho tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
"Lepaskan aku, Yunho-ah."
Tidak menerima penolakan Jaejoong, Yunho justru mengeratkan pelukannya. "Jae-ah, aku tahu cintamu masih ada untukku, sama sepertiku juga. Kau lihat, aku juga masih memakai kalung kita. Jangan bohongi perasaanmu sendiri."
"Yu-Yunho-ah, aku sudah menikah! Sadarlah! Aku… aku milik Changmin sekarang!"
Seketika Yunho tersadar oleh perbuatannya sendiri. Perlahan dia melepaskan pelukannya. Rasa sakit di dalam hatinya muncul saat menatap kedua mata Jaejoong yang berkaca-kaca. Dia mundur beberapa langkah. Ya, semuanya sudah berbeda, tidak seperti dulu lagi. Dia tidak berhak lagi menyentuh Jaejoong.
"Mi-mianhae…" ujar Yunho gemetar berusaha menekan rasa sakitnya lalu keluar dari dapur.
###
Yunho POV
Aku tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepalaku waktu itu. Kupikir dia sudah tidak mencintaiku. Tapi kenapa dia masih memakai kalung kami? Berarti dia bohong waktu dia bilang dia mencintai Changmin. Waktu itu aku hanya ingin memeluknya dan mencurahkan semua isi hatiku. Tapi aku justru membuatnya menangis lagi. Selama ini yang bisa kulakukan hanyalah menyakitinya. Aisshh… Yunho, sadarlah. Jaejoong bukan milikmu lagi. Bagaimanapun perasaan Jaejoong padamu, sekarang dia sudah menikah dengan Changmin. Dan ini semua kebodohanmu karena dulu kau meninggalkannya.
End of POV
"Eh? Mi-mianhae…" Lamunan Yunho buyar ketika dia tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya. Orang bertopi itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan Yunho.
"Huff… lama sekali." keluhnya. Siang itu dia sedang mengantri di toko burger. Sesekali diusapnya keringatnya yang bercucuran.
Sesudah mendapatkan burgernya, Yunho pergi ke kafe. Dua hari ini dia menghabiskan waktunya untuk membantu Yesung dan yang lainnya, dan juga berjalan-jalan dengan Yoochun dan Junsu. Dia juga menyempatkan diri ke kafe tempatnya bekerja dulu. Dia tidak bertemu dengan Jaejoong lagi sejak hari itu. Ya, Jaejoong sudah mempunyai kehidupannya sendiri. Dia tidak berhak lagi mengusik kebahagiaannya.
Dia berada di kafe sampai jam 7 malam lalu kembali ke hotelnya. Setibanya di kamar, dia melepas jaketnya. Dia mengerutkan alis ketika tangannya menyentuh secarik kertas di saku. Dia mengeluarkan kertas itu dan membuka lipatannya. Seketika matanya terbelalak membaca tulisan yang tertera di sana.
Kalau mau Jaejoong selamat, datanglah ke alamat yang tertera di sini. Ingat, jangan beritahu siapapun kalau tidak mau melihatnya celaka.
Yunho memegang surat itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Tuan Kim. Ya, siapa lagi kalau bukan dia? Rencana busuk apa lagi yang dibuatnya? Apa yang akan dia lakukan terhadap Jaejoong?
Tanpa membuang waktu dia mendatangi tempat yang dimaksud, sebuah daerah kecil yang jauh dari pemukiman penduduk. Dengan gelisah dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Jaejoong.
"Yunho-ah!"
Yunho menoleh ke asal suara, seketika matanya terbelalak melihat Jaejoong terikat di salah satu sudut jalan. "Jae-ah!" teriaknya sambil berlari menghampiri Jaejoong.
"Ke-kenapa kau ke sini? Cepat pergilah!" ujar Jaejoong khawatir begitu Yunho sampai di depannya. Tanpa menjawab Yunho segera membuka ikatan Jaejoong.
"Yunho, awas!"
Belum sempat Yunho menoleh, sebuah tongkat dipukulkan ke kepalanya sampai dia pingsan.
###
Hoahmm... mbosenin & alurnya kecepetan, ya. udh mentok ide, sih :p. end or tbc, nih?
Lanjut aja ne ~maksa~ LOL. bsk bnrn the last chap ne. minnie baek, kan. hehe... mndingan jaema balik ke yunpa or tetep sm minnie aja, ya? saran chingudeul msh sangat saya tggu ^^. gomawo.
