CHAPTER 28
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, and others
Genre : Romance, angst
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong. jeongmal kamsahamnida atas repiu & support2 chingudeul yg sangat brharga, terharu, hikz... chingudeul sekalian, baik readers lama & baru adalah pemacu semangat saya. mian krn 1 & lain hal, kepaksa saya perpanjang ff ini smp 10 chap lg ~digebukin readers~, haha... ga ding.
Sblmnya saya mau menanggapi bbrp repiu chingudeul. trnyata chingudeul msh ga rela kl jaema sm minnie. pdhl minnie baek, setia, kaya, rajin menabung, hihi... ya iyalah. minnie kan udh sama victoria, mnrt gosip yg b'edar, smoga aja bnr ^^. masa jaema jd istri k2, ya :p? gmn & siapa yg nangkap yunjae ada dsni. ne, yg masukin surat org yg pk topi :). cinta yunjae susah bersatu, itu krn critanya blm tamat LOL. bwt chingu yg usul supaya yunpa meninggal, haduh, saya ga tega lagi bikin meninggal bias saya, saya jg takut dibantai para YJs dsni, haha...
Sejujurnya saya bikin chap tambahan ini krn selain mau nambahin saingannya yunpa :p, misteri (?) di balik ilangnya uang pak kim. halah, sok2an bgt, hehe... jg krn saya mau bales nyiksa pak & bu kim. mnrt saya ga adil kl cm yunjae aja yg kesiksa. tp rasanya kok susah bgt, ya. kayanya msh lbh gampang nyiksa pemeran utama ~plak~ haha... kok prolognya puanjang bgt :p.
###
"Sooyoung, di mana Jaejoong?" tanya Changmin sambil melepas jasnya. Dia duduk letih di kursinya karena pekerjaan di kantornya yang menumpuk sejak pagi tadi.
"Tuan Jaejoong belum pulang, Tuan. Sesudah ke supermarket tadi siang, tuan bilang mau ke rumah tuan Yoochun." jawab pembantunya.
"Kenapa dia tidak diantar?"
"Karena rumah tuan Yoochun dekat, tuan Jaejoong bilang ingin berjalan kaki saja."
Changmin mengangguk-angguk. Dia melihat arlojinya. Hari sudah malam, dia memutuskan untuk menjemput Jaejoong. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon istrinya itu. Dia mengerutkan alisnya ketika panggilannya masuk mailbox.
Changmin segera menelepon Yoochun.
"Yoboseyo." Terdengar suara Yoochun dari seberang sana.
"Yoboseyo. Yoochun-ah, apa Jaejoong masih di sana?"
"Eh?"
"Pembantuku bilang Jaejoong ke rumahmu tadi siang."
"Hah? Dia tidak ke sini sejak tadi, Changmin-ah."
"Mwo?" Changmin tersentak. Firasat buruk mulai memenuhi pikirannya.
"Changmin-ah, apa yang terjadi?" Terdengar suara Yoochun yang mulai khawatir pula.
Changmin berusaha menenangkan hatinya. "Dia belum pulang sejak tadi. Aku sudah menelepon ponselnya tapi tidak aktif. Ne, aku akan mencarinya sekarang."
"Aku akan membantumu."
"Ne. Gomawo, Yoochun-ah."
Tanpa membuang waktu Changmin mengendarai mobilnya menyusuri jalan-jalan di sekitar supermarket yang mungkin dilewati Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak terlihat di manapun. 'Jae-ah, di mana kau?' batinnya khawatir.
Tiba-tiba suara dering telepon mengejutkannya. Berharap dari Jaejoong, diraihnya ponselnya dengan segera.
"Yoboseyo?"
"Tuan Shim Changmin? Kami dari kepolisian."
###
Yunho mengernyit ketika merasakan wajahnya disiram air. Dia membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya terikat di sebuah tiang. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri tapi ikatan itu terlalu kuat.
"Apa yang kaulakukan percuma saja."
Yunho mengalihkan pandangannya dan menatap namja di depannya dengan berapi-api. "Kim Hyun-joong, sudah kuduga kau yang merencanakan semua ini! Apa maksudmu, huh?!"
Tuan Kim tertawa sinis. "Haha… kalau itu menyangkut Jaejoong, aku yakin kau akan datang dengan cepat. Ternyata cintamu pada anakku begitu besar, Yunho."
Yunho menoleh ke arah Jaejoong yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Di sebelahnya berdiri Nyonya Kim dengan senyumnya yang kejam. "Jangan banyak bicara. Katakan apa yang kau mau, huh?!" bentaknya.
"Apa yang kumau? Hmm… tentu saja melakukan ini." Tuan Kim menyeringai, dengan keras melayangkan tongkatnya ke tubuh Yunho.
"Yunho-ah!" teriak Jaejoong ketakutan.
Yunho menggigit bibirnya menahan sakit yang mendera tubuhnya. Dia tertawa kecil. "Ini saja yang bisa kaulakukan, huh? Tidak kusangka kau melakukan cara pengecut seperti ini. Kalau berani lepaskan aku sekarang dan kita berkelahi secara jantan."
Tentu saja Tuan Kim tidak dengan mudahnya terpancing oleh ucapan Yunho. Dia sadar dia tidak mungkin bisa menghadapi Yunho yang jauh lebih muda dan lebih bertenaga darinya. Dulu dia masih bisa menyuruh orang-orangnya. Sekarang dia tidak memiliki apapun, dan hanya namja ini yang dia tahu sudah berani membuat masalah dengannya. Dia tidak peduli kalau dirinya dikatakan pengecut. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana bisa melenyapkan pasangan ini untuk selama-lamanya.
"Tsk, nyawamu sudah di ujung tanduk, jadi sebaiknya kau jangan banyak bicara."
Diam-diam Yunho berusaha merogoh pisau di saku belakangnya yang tadi sempat dia ambil sebelum pergi.
"To-tolong lepaskan Yunho." ujar Jaejoong dengan suara gemetar.
Tuan Kim menoleh ke arah namja cantik itu. "Joongie, kau sudah tahu kalau aku tidak akan mengabulkan permintaanmu. Jadi untuk apa kau terus memboroskan nafasmu, hum?"
"Jebbal. Hanya aku yang kalian inginkan. Kau boleh melakukan apa saja terhadapku. Tapi tolong lepaskan dia."
"Haha… Joongie, ucapanmu ini benar-benar manis dan mengharukan." Nyonya Kim membelai rambut anaknya itu. Tangannya menyusuri rambut yang halus itu sampai ke tengkuk. Dengan kasar dia menarik rambut itu membuat Jaejoong mengaduh kesakitan.
"Yah, jangan sakiti dia!" bentak Yunho. Dengan susah payah dia berhasil mengeluarkan pisaunya dan mengarahkannya ke tali di tangannya. Sangat sulit dilakukannya mengingat kedua tangannya yang masih terikat kuat. Tangan kirinya memegangi tali itu sedangkan tangan kanannya bergerak-gerak mengirisnya dari atas ke bawah, berusaha keras agar Tuan Kim tidak curiga.
"Haha… Yunho, Yunho. Apa yang bisa kaulakukan sekarang, hum? Mau membawanya kabur lagi? Haha… Dan Jaejoongie, kau tenang saja ne. Akan kukabulkan permintaanmu segera. Tapi sebelum giliranmu tiba, akan kuberikan pertunjukan menarik." Dengan cepat Tuan Kim kembali memukulkan tongkatnya ke kaki Yunho.
"Yunho-ah!" teriak Jaejoong. Air mata mulai mengalir ke pipinya.
"Lepaskan Jaejoong! Belum cukupkah kalian menyakitinya selama ini, huh?! Kau benar-benar pengecut! Kau hanya bisa memukuli orang yang tidak bisa membalas. Kau hanyalah seorang pecundang, orang tua yang tidak bisa apa-apa!"
Kata-kata Yunho membuat Tuan Kim semakin kalap dan melayangkan tongkatnya dengan membabi buta. Jaejoong hanya bisa berteriak-teriak putus asa memohon namja itu menghentikan perbuatannya. Air matanya mengalir deras menatap tubuh Yunho yang mulai terluka. Yunho mencengkeram pisaunya dengan kuat agar tidak terjatuh.
Tuan Kim memandangi korbannya sambil tertawa puas. Seketika Jaejoong terbelalak ketika melihatnya mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.
"A-apa yang akan kaulakukan?"
Tuan Kim hanya menyeringai. Yunho menahan nafas ketika merasakan ujung pisau itu menelusuri wajah dan rahangnya. Dia merasakan tubuhnya melemah akibat pukulan-pukulan barusan. Tapi apa dia harus menyerah dengan keadaan ini? Dengan sisa-sisa tenaganya dia terus berusaha menggerakkan tangannya memotong pisau yang mulai terasa sedikit longgar.
"Kau tahu? Kalau saja kau tidak nekad mencari masalah denganku, hidupmu tidak akan menderita dan tidak akan berakhir secepat ini. Hmm… sayang sekali."
Yunho menarik nafas dalam-dalam. "Apa kalian sadar? Dengan melakukan ini kalian akan dipenjara lagi dan kali ini pasti tidak akan lolos dengan mudah."
"Haha… kaukira aku masih peduli dengan semua itu, Yunho? Sudah dua tahun aku menunggu dan akhirnya hari ini tiba juga. Hari di mana kalian akan lenyap selama-lamanya. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Kalau saja kalian mau menyadari kesalahan kalian, itu semua belum terlambat. Kalian bisa memulai hidup baru dan mendapatkan kembali kepercayaan orang-orang. Itu bisa memperbaiki reputasimu." ujar Yunho lagi, dalam hati berusaha mengulur waktu sampai dia bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Oh, Yunho. Aku suka sekali ucapanmu. Apa masih ada yang ingin kaukatakan, umm… mungkin pesan terakhir untuk Jaejoong mu sebelum kau mati?" Masih dengan seringaiannya Tuan Kim memain-mainkan ujung pisaunya di dada dan turun ke perut Yunho.
"To-tolong lepaskan Yunho. Bunuh saja aku tapi kaulepaskan dia." Nada suara Jaejoong semakin lemah menatap pisau yang setiap saat bisa menembus kulit namja yang dicintainya itu.
"Haha… Joongie, kenapa kau tidak sabar sekali? Ne, sesuai keinginanmu aku akan membereskannya sekarang, baru sesudah itu giliranmu. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan memisahkan kalian." Pisau itu mulai mengarah kembali ke dada Yunho.
Secepat kilat tangan Yunho menangkis tangan Tuan Kim sesaat sebelum ujung pisau itu menyentuh dadanya. Tuan Kim terbelalak menatap tangan Yunho yang memegang pisau. Belum habis rasa terkejutnya, Yunho meninju wajahnya sampai dia jatuh terjengkang. Tanpa membuang waktu Yunho segera menghampiri Jaejoong.
"Kau mau ke mana, huh?!"
Belum sampai tiga langkah tubuh Yunho sudah ditarik ke belakang, sebuah tongkat melayang telak ke arahnya.
"Yunho-ah!"
Tanpa bisa menahan kemarahannya lagi, Yunho mencengkeram baju Tuan Kim dan memukulnya. Sekuat tenaga dia menggunakan tangan dan kakinya menyerang Tuan Kim. Hanya beberapa pukulan saja sudah mampu membuat tubuh namja itu babak belur.
"Berhenti!"
Yunho menghentikan gerakannya, dengan terbelalak dia menatap pisau yang diarahkan Nyonya Kim ke leher Jaejoong.
"Atau kau ingin aku membunuhnya sekarang juga di depan matamu?" ancam Nyonya Kim.
"Yunho, tidak usah pedulikan aku. Bunuh saja orang itu."
Yunho memandangi Jaejoong dengan tegang. Tuan Kim menggunakan kesempatan itu untuk menendang Yunho sampai jatuh. Dia mengambil pisaunya di tanah dan bersiap menyerang Yunho.
"Jangan bergerak!"
Tuan Kim terkejut bukan main mendengar suara itu. Dia berbalik dan melihat dua orang polisi mengacungkan pistol ke arahnya dan istrinya. Sejenak dia terdiam. Dia tidak peduli dia akan dipenjara lagi, yang terpenting dia bisa menghabisi Yunho dengan tangannya sendiri. Tanpa membuang waktu dia melayangkan pisaunya ke dada Yunho.
"Yunho!"
DOR!
Tuan Kim mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya yang tertembus peluru.
DOR!
Sebuah peluru kembali meluncur mengenai tangannya yang memegang pisau sampai pisau itu terlontar. Melihat Tuan dan Nyonya Kim sudah tidak berdaya, kedua polisi itu segera bergerak meringkus mereka dan melepaskan Jaejoong.
"Yunho-ah…"
"Jaejoong-ah…" Suara Changmin terpotong ketika dia melihat Jaejoong berlari ke arah Yunho dan memeluknya sambil menangis. Seketika dia mengurungkan niatnya mendekati mereka. Dengan tangan gemetar dia mengeluarkan ponselnya. "Yo-yoboseyo. Tolong kirimkan ambulans."
###
"Berdasarkan pemeriksaan tidak ada kerusakan di organ bagian dalam. Walaupun ini hanya luka luar tapi tetap harus diperhatikan."
"Jeongmal kamsahamnida." ujar Yunho sebelum dokter itu meninggalkan mereka.
"Yunho-ah, kau selalu membuatku khawatir." omel Junsu.
Yunho memaksakan dirinya tersenyum. "Mianhae ne. Aku sudah membuat kalian khawatir."
"Ayo kuantar pulang, Yunho." ajak Changmin.
Yunho tersenyum lalu mengangguk. "Gomawo, Changmin. Mianhae sudah merepotkanmu."
"Kalau begitu aku dan Junsu pulang dulu ne. Besok kami akan menjengukmu." ujar Yoochun.
"Gomawo ne." ujar Yunho.
Sesudah mengurus administrasi, Changmin dan Jaejoong mengantarkan Yunho pulang ke hotel.
"Ingat nasihat dokter tadi ne. Istirahatlah." ujar Changmin.
"Ne. Arasseo."
Changmin menatap Jaejoong sejenak. "Jae-ah, rawatlah Yunho baik-baik ne."
"Eh?"
"Ne, mulai sekarang kau yang menjaganya."
Jaejoong terbelalak. "A-apa maksudmu?"
"Jae-ah, walaupun kau tidak pernah menceritakannya, aku tahu benar perasaanmu pada Yunho. Dia membutuhkanmu sekarang."
Jaejoong menatap Changmin dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Yunho hanya tertegun memandangi mereka. Changmin tersenyum tipis lalu meraih sebelah tangan Jaejoong dan menyatukannya dengan tangan Yunho.
"Cha-Changmin-ah…"
"Aku pulang dulu ne." ujar Changmin lalu berjalan meninggalkan mereka.
Jaejoong segera berlari mengejar Changmin. "Tu-tunggu. Changmin-ah, bagaimana mungkin kau menyuruhku meninggalkanmu?"
"Jae-ah, aku tidak mau kau menderita kalau terus-menerus bersama orang yang tidak kaucintai."
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ani! Siapa bilang aku menderita? Kau yang sudah menolongku sehingga aku bisa ada di sini sekarang. Sejak menikah denganmu aku sudah bertekad untuk terus bersamamu. Dengan begini aku bisa membayar hutang budiku padamu."
Changmin menghela nafas panjang. "Jae-ah, kalau kau memang mau membalas kebaikanku, kau harus terus bersama Yunho."
"Eh?" Jaejoong memandangi Changmin dengan bingung.
"Aku akan sangat bahagia kalau bisa melihatmu bersama orang yang kaucintai. Dengan begitu semua hutangmu kuanggap lunas."
"Tapi…" ujar Jaejoong ragu-ragu.
"Itu satu-satunya cara kalau kau mau membalas semua yang sudah kuberikan."
"Andwae!"
Kedua namja itu terkejut dan menoleh ke arah Yunho di belakang mereka.
"Changmin, Jaejoong istrimu kan. Bagaimana mungkin kau menyerahkan istrimu begitu saja ke orang lain? Aku tidak bisa terima keputusanmu yang sepihak seperti ini."
Changmin terdiam sejenak. "Yunho, bisa kita bicara sebentar?"
###
"Jae-ah, siap-siaplah sekarang ne. Sesudah itu aku akan mengantarkanmu ke hotel." ujar Changmin.
Jaejoong memandangi Changmin dengan ragu-ragu. "Umm… Changmin-ah."
"Wae?"
"Aku ingin… membereskan kamarmu untuk yang terakhir kalinya."
"Eh?"
"Changmin-ah, jebbal. Tolong penuhi permintaanku sekali ini ne. Karena sesudah ini aku tidak bisa melayanimu lagi."
Changmin menghela nafas melihat tatapan mata Jaejoong yang penuh permohonan. "Ne, arasseo."
Jaejoong tersenyum lega mendengar persetujuan Changmin. Dia lalu masuk ke kamar Changmin. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar sebelum mulai bekerja. Dia mengganti sprei dan sarung bantal lalu menatanya. Dia merapikan meja kerja Changmin, mengganti korden kamar itu dengan yang baru.
Dia membuka lemari Changmin dan mengatur pakaiannya. Dia tahu suaminya yang rapi itu suka jika pakaiannya tersusun rapi berdasarkan warnanya. Tapi seringkali pembantu mereka mencampur-adukkannya sehingga dia harus menatanya ulang.
Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu yang tersembul dari dasar lemari. Dia membungkuk mengambil barang itu. Sebuah album. Album yang belum pernah dia lihat. Tidak bisa menahan rasa penasarannya, perlahan dia membuka album itu. Di dalamnya berisi potongan-potongan koran, ternyata itu adalah sebuah kliping. Hatinya mulai bergetar ketika membaca judul-judul artikel itu.
Kim Hyun-joong, Mantan Karyawan Perusahaan Shim Membentuk Perusahaan Baru
Perusahaan Shim di Ambang Kehancuran
Shim Donghee, Mantan Presdir Perusahaan Besar di Seoul, Meninggal
Shim Changmin, Seorang Pengusaha Muda Berbakat
Perusahaan Kim Dilanda Krisis, Dilakukan PHK Besar-besaran
"Apa yang kaulakukan?"
Jaejoong tersentak lalu menoleh. "Cha-Changmin-ah… a-apa maksudnya ini?" tanyanya gemetar.
Changmin tersenyum pahit lalu berjalan mendekati Jaejoong. Dia mengambil kliping yang ada di tangan namja cantik itu. "Aku tidak mengira kau akan menemukan ini."
"Changmin-ah, a-aku tidak mengerti."
"Akulah… yang sudah membuat Kim Hyun-joong bangkrut."
"Eh?" Jaejoong terbelalak.
Changmin menghela nafas panjang. "Dulu dia keluar ketika perusahaan appa mulai tertimpa krisis keuangan dan membentuk perusahaan baru. Sangat disayangkan karena dia sebenarnya adalah karyawan kepercayaan appa. Tapi appa juga tidak berhak memaksanya tetap tinggal di perusahaan yang nyaris hancur itu. Waktu perusahaan appa bangkrut, aku pulang dari Amerika dan mendampinginya. Dia begitu terpukul sampai akhirnya sakit-sakitan dan meninggal. Aku merasa ada yang tidak beres pada perusahaan appa. Aku ke Amerika lagi membawa umma yang kondisi kesehatannya juga lemah sepeninggal appa dan melanjutkan sekolahku dengan sisa uang yang ada, tapi aku tetap menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Beruntunglah appa masih memiliki beberapa karyawan yang setia walaupun dia sudah meninggal. Merekalah yang membantuku sampai akhirnya aku menemukan kebusukan Kim Hyun-joong. Ternyata dia yang sudah tega menusuk appa dari belakang. Dia memanfaatkan kepercayaan appa dengan diam-diam menggerogoti uang perusahaan. Dia yang sudah membuat hidup kami menderita, menyiksa appa hingga di akhir hidupnya. Sejak itu aku bertekad memulihkan perusahaan appa dan membalas dendam. Aku tidak peduli apapun rintangan yang akan kuhadapi."
"Kau sudah menemukan bukti-bukti kejahatannya, tapi kenapa tidak sejak dulu kaulaporkan ke polisi? Kalau kau datang waktu mereka dipenjara, tentu mereka tidak bisa melepaskan diri semudah itu. Tapi kenapa kaubiarkan mereka bebas?"
"Alasannya sederhana. Aku mau melakukan hal yang sama dengan yang sudah mereka lakukan. Aku mau mereka merasakan sakit yang lebih dalam dari yang kami alami dulu. Menurutku nasib mereka masih terlalu bagus kalau hanya dipenjara saja. Aku mau mereka merasakan lebih dari itu. Aku belum puas kalau belum melihat mereka hancur."
Jaejoong terdiam menatap raut wajah Changmin yang tanpa ekspresi. Changmin yang begitu misterius. Changmin yang hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya di usia pernikahan mereka yang hampir dua tahun. Ternyata Changmin menyimpan dendam sebesar itu pada Tuan Kim. Ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang suaminya itu. "Kenapa… kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?"
Changmin tertawa kecil. "Wae? Untuk apa aku memberitahumu di saat kebencianmu padanya sudah demikian dalam? Lagipula dengan menceritakannya membuatku teringat lagi kejadian itu. Tapi karena kau sudah melihat ini, apa boleh buat." Dia terdiam sejenak. "Mianhae, Jae-ah."
"Wae?"
"Kalau bukan karena keegoisanku, kau tidak akan terlalu lama menderita. Kalau bukan karena aku, kau dan Yunho pasti sudah bersama. Kalau bukan karena aku, kalian tidak akan ditangkap waktu itu dan Yunho tidak akan terluka." ujar Changmin pahit.
"Sudahlah. Ini semua sudah takdir. Aku tidak menyalahkanmu. Nasib kita sama. Kita adalah korban kejahatan mereka. Yang penting ini sudah berakhir."
"Kau masih mau berteman denganku, kan?"
Jaejoong tersenyum. Tanpa berkata apapun dia memeluk Changmin erat-erat.
###
"Saudara Jung Yunho, apa anda bersedia menerima Kim Jaejoong sebagai istri, selalu mencintai, menghormati, dan setia sampai maut memisahkan kalian?"
Yunho mengangguk mantap. "Ne. Saya bersedia."
"Saudara Kim Jaejoong, apa anda bersedia menerima Jung Yunho sebagai suami, selalu mencintai, menghormati, dan setia sampai maut memisahkan kalian?"
Jaejoong mengangguk tanpa ragu-ragu. "Ne. Saya bersedia."
"Sekarang kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Saudara Jung Yunho, anda bisa mencium istri anda."
Yunho dan Jaejoong berdiri berhadapan. Yunho menatap tegang wajah istrinya. Walaupun dia sudah sering mencium bibir yang indah itu, tetap saja dia merasa gelisah dan wajahnya memerah. Apalagi dia harus mencium Jaejoong di depan umum seperti ini. Dilihatnya wajah Jaejoong juga mulai bersemu merah.
Yunho menggenggam kedua tangan Jaejoong. Dengan tegang didekatinya bibir yang selalu dikaguminya itu.
"Yunho-ah…"
"Umm…?"
"Yunho…"
"Umm… nae sarang… saranghae."
"Jung Yunho, cepat bangun sekarang juga!"
"Eh?" Seketika Yunho membuka matanya dan bangkit duduk. Dia menoleh ke sekelilingnya. Dia tidak sedang berada di gereja. Tidak ada orang-orang berpakaian rapi yang menjadi saksi pernikahannya. Yang ada hanyalah Jaejoong yang sedang melotot kesal ke arahnya. Ternyata mereka sedang berada di taman favorit mereka. Mereka duduk di salah satu pojok taman yang posisi tanahnya sedikit lebih tinggi sehingga mereka bisa melihat orang-orang yang asyik bermain-main di bawah mereka.
"Dari tadi aku mengajakmu bicara, ternyata kau tidur. Bisa-bisanya kau tidur di tempat seperti ini, huh? Kau juga mengigau apa?" tanya Jaejoong sambil cemberut.
"E-eh?" Yunho mendadak mengusap kepalanya dengan salah tingkah. Ternyata peristiwa bahagia tadi hanya mimpi. Teringat dia dan Jaejoong di depan altar tadi membuatnya merasa malu sendiri.
"Kenapa wajahmu memerah? Kau pasti bermimpi aneh tadi." ujar Jaejoong sambil menatapnya penuh selidik.
Yunho tertawa kecil berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ani."
"Kenapa kau tidak mau bercerita? Pasti kau bermimpi yang tidak-tidak, kan."
"A-ani, ani." Tiba-tiba Yunho menunjuk ke bawah. "Lihat, Jae-ah. Anak itu lucu sekali."
Jaejoong mengikuti arah telunjuk Yunho. "Ommo…" Dia terkejut bukan main ketika Yunho mencium pipinya dengan tiba-tiba. Dia menoleh ke arah namja yang sedang tertawa puas itu.
"Yunho-ah, awas kau." teriaknya kesal lalu mendorong Yunho. Yunho yang tidak mengira gerakan Jaejoong jatuh terlentang di tanah berumput itu. Jaejoong tidak menyadari posisinya yang kini sudah menindih Yunho. Wajah mereka begitu dekat dan mereka bertatapan selama beberapa saat. Yunho teringat kata-kata Changmin waktu itu.
Flashback
"Pernikahanku dengan Jaejoong hanya pura-pura."
"Eh?" Yunho terbelalak.
Changmin tersenyum pahit. "Ne. Waktu itu aku hanya ingin menolongnya agar terlepas dari keluarga itu. Butuh waktu cukup lama untuk membujuknya. Kau tahu dia orang yang keras. Tapi untunglah akhirnya dia setuju." Dia menarik nafas panjang. "Aku tidak pernah menyentuhnya karena aku tahu dia sebenarnya tidak mencintaiku. Aku sudah tahu hubungan kalian sejak dua tahun yang lalu. Aku tahu hanya kau yang dia cintai. Waktu kau datang, aku bertekad untuk menyatukan kalian lagi."
"Changmin, ah... aku bingung."
"Sudahlah. Tidak usah merasa tidak enak padaku. Selama dua tahun ini aku sudah berusaha keras tapi tetap tidak bisa membuatnya mencintaiku. Jadi untuk apa aku terus bersamanya? Sejak dulu dan sampai kapanpun dia adalah milikmu, tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya."
Yunho menghela nafas panjang. "… Gomawo, Changmin."
"Jangan berterimakasih padaku. Sudah seharusnya kalian bersama. Jagalah dia baik-baik ne. Jangan sampai masalah apapun memisahkan kalian lagi."
Yunho tersenyum lalu mengangguk. "Ne."
End of Flashback
Yunho mengangkat tangannya membelai pipi Jaejoong. Jaejoong memejamkan mata merasakan lembutnya belaian Yunho.
"Jae-ah, ini bukan mimpi kan. Sekarang kau benar-benar ada di depanku, kan."
Jaejoong membuka matanya dan tersenyum. "Aku juga berpikir sama sepertimu. Waktu kau meninggalkanku dulu, aku tidak tahu lagi apa tujuanku hidup. Aku masih tidak percaya sekarang kita bisa bersama lagi."
"Entah sudah berapa banyak rintangan yang kita lalui. Jebbal, aku tidak sanggup berpisah denganmu lagi."
Jaejoong menatap Yunho dengan lembut.
'Karena kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku menjalani hidup dengan baik di dunia ini. Karena kau selalu ada untukku berapapun banyaknya kesalahan yang sudah kulakukan. Karena hutangku yang begitu besar dan tidak akan pernah bisa kubayar. Jadi biarkanlah aku menatap masa depan bersamamu di sisa hidupku.'
Dia menarik tubuhnya dari Yunho. "Apa kau sudah lupa siapa yang pertama kali pergi, huh?"
"Mianhae." ujar Yunho penuh penyesalan. "Oh, ya. Aku belum sempat bertanya padamu. Kenapa waktu itu kau bisa disekap Tuan Kim?"
"Hari itu aku berencana ke rumah Yoochun. Waktu lewat gang, tiba-tiba ada yang memukul kepalaku sampai pingsan."
Yunho terdiam. Tanpa sadar dia mengusap-usap kepala Jaejoong.
Jaejoong memasang wajah cemberut. "Kau memang tidak punya perasaan. Teganya kau meninggalkanku dulu. Kalau saja tidak ada Changmin, pasti aku sudah…"
"Jae-ah."
"Wae?"
"Aku tidak mau mendengarmu membicarakan Changmin. Sekarang aku hanya mau membicarakan tentang kita." Yunho menunjukkan wajah kesalnya.
Jaejoong terdiam sejenak lalu tertawa. "Yah, sudah lama aku tidak melihatmu cemburu. Tapi aku senang melihatmu seperti ini." ujarnya dengan tatapan menggoda.
Yunho mendengus. "Kau bahkan rela belajar memasak demi dia. Padahal dulu kau tidak pernah melakukannya untukku."
Tawa Jaejoong semakin keras. "Yah, kaupikir belajar memasak semudah membalikkan telapak tangan? Semua itu butuh proses, Yunho-ah. Umm… tapi aku janji mulai sekarang aku akan memasak hanya untukmu. Hari ini kau mau makan apa?"
Yunho mengerutkan alisnya sambil berpikir keras. "Hmm… aku mau bulgogi dan bibimbab. Tapi sudah lama juga aku tidak makan sup kimchi, tteokbokki, lalu…"
"Haha… aku tidak yakin perutmu bisa menerima semua makanan itu, Yunho-ah. Lagipula aku tidak rela perut seksimu ini menjadi besar." ujar Jaejoong sambil mengusap-usap perut Yunho.
Yunho menahan nafas merasakan sentuhan Jaejoong yang dengan mudah membuat benda miliknya itu menegang. "Kau menggodaku lagi."
Dengan cepat dia meraih tubuh Jaejoong dan menyambar bibirnya yang dengan senang hati dibalas oleh namja cantik itu. Ciuman yang ringan itu semakin lama semakin agresif. Jaejoong mendorong Yunho hingga tubuh mereka berdua terjatuh di rumput. Jaejoong menindih tubuh Yunho tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"Jae-ah."
"Umm…?"
"Posisi kita salah."
"Eh?"
Yunho tersenyum lebar lalu mendorong Jaejoong ke samping. Kini dia yang menindih namja cantik itu. "Seharusnya aku yang ada di atasmu."
Dengan cepat Jaejoong membalik posisi mereka dan menindih lagi tubuh Yunho. "Ani! Sekarang aku yang di atasmu, Yunho-ah."
"Mwo?"
Jaejoong tertawa kecil. "Ne. Sekali-kali kau harus tahu apa yang kurasakan selama ini."
"Hah? Maksudmu kau yang masuk?" Yunho terbelalak dan sekuat tenaga kembali mengubah posisi mereka sampai dia di atas Jaejoong lagi. "Andwae!"
"Wae? Ada masalah?"
Yunho tertawa gelisah. "Jae-ah, aku takut sakit."
"Mwo? Alasan macam apa itu? Jadi kau mau aku yang terus-menerus kesakitan setiap kau memasukkan benda milikmu itu, huh? Kau curang! Perasaanmu di mana, Yunho-ah?"
"Tapi kau suka, kan? Haha…"
Jaejoong melotot marah lalu mendorong Yunho lagi. "Yunho-ah! Aku tidak mau tahu. Kau yang di bawahku sekarang."
"Umm… menurutku ini baik juga. Tapi kita tetap melakukannya seperti biasa. Kau tahu? Sebenarnya aku sudah agak bosan dengan posisi kita selama ini."
Seketika Jaejoong terbelalak dengan wajah memerah. "Mwo? Ani!"
"Haha… terimalah takdirmu untuk selalu menjadi penerima, Kim Jaejoong!"
"Ani! Shireo!"
"Haha…"
END
###
Yak, finally... 1 lg bntuk keyadongan saya, dikit aja ne. haha... saya ga tau nama appa nya minnie, jd saya pnjem nama aslinya shindong, hrsnya shin donghee kayanya :p. chingudeul jgn kuatir ne, saya ga bkl mbiarin minnie sendirian, krn saya siap nggantikan posisi jaema ~digantung readers~ LOL.
Sekali lg kamsahamnida bwt chingudeul yg nyempetin baca crita ini & ngasih repiu, debut (?) perdana saya di dunia per ff an yg panjangnya nga'udzubillah, kaya pelajaran mengarang, haha... yah, saya jg ga tau kok tangan saya ga bs distop wktu nulis ini, tau2 udh segini aja, hehe... percobaan saya bikin ff angst, or hurt/comfort ya, saya kagak ngerti ukuran apa yg dipake bwt nentuin itu, keke... yah, hslnya ya kaya gini ini. smoga chingudeul sekalian bs menerima & puas dgn endingnya. kl smisal kurang greget or kurang romantis, mian ne ~bow 180 derajat ala uri oppadeul~. br pengen sok muda, nih. haha... seneng bgt rasanya krn dsni saya bs kenalan sm tmn2 yg sehobi dgn saya, YunJae shippers. AKTF ^^.
