Pukul tujuh malam, Jimin bergegas menghubungi Taehyung. Lima menit kemudian panggilan itu baru terjawab. Suara di seberang sana terdengar bosan, sedangkan Jimin sudah sedingin stalaktit.

"Hari ini aku ke toko itu, lagi," ujarnya.

"Lalu,"

"Aku memukulnya,"

"Eh?"

"Mejanya."

Taehyung diam, lalu bertanya, "ada apa?"

"Jeon Jungkook tidak ada, pegawai baru." Tanpa mendengar balasan apapun dari Taehyung, Jimin langsung memutuskan panggilan itu.

Park Jimin dan Kim Taehyung. Dalam waktu dua hari, dua orang patah hati.


Antitesis: pertentangan secara menyeluruh; kontradiksi.

Park Jimin x Min Yoongi

Kim Taehyung x Jeon Jungkook


Jimin tak bisa tidur, menurutnya ia sedang patah hati. Ibunya seringkali menyaksikan telenovela di waktu petang hingga malam hari, kisah - kisah melankolis monoton berlabel remaja. Berdasarkan hal itu ia mulai berpikir jika saja patah hati akan benar - benar menyakitkan, ditemani berlembar - lembar tisu berlendir atau tangisan bercakar di wajahnya. Tapi tidak, Jimin hanya berdiam di kamarnya merapikan rak buku dan tumpukan album - album kasetnya tanpa benar - benar meyakini apa yang ia lakukan, ditemani musik - musik beraliran alternative yang bergema sampai sudut ruangan. Berpikir bagaimana rasanya jika hidupnya dipenuhi kamera berlensa yang merekam gerak - geriknya.

Saat ini pukul setengah dua dini hari dan ia mulai merasa lapar. Park Jimin adalah tipikal pribadi modernisasi, ia lebih memilih menggunakan layanan pesan-antar di restoran dua puluh empat jam daripada harus bergelut di ujung dapur malam hari.

Ia menunggu seseorang datang dan mengantarkan makanannya dan pandangannya jatuh pada dinding kamarnya. Membayangkan wajah Jeon Jungkook, ketika marah, kesal, tertawa atau sekedar diam. Lintasan imaji berjalan, Jimin ikut tertawa. Wajah diam dalam pikirannya mengerut, semakin diam dan menjadi dingin. Terlihat seperti residivis. Tawa - tawa Jeon Jungkook hilang dan lenyap termakan kurva yang memudar, berdeklinasi seperti jarum magnet. Terbentuk wajah lain, si pegawai baru.

Jimin marah, lagi. Ia membanting bantal kapuk di sampingnya, dan suara bel berbunyi.


"Layanan pesan-antar,"

Jimin berlari melewati ruang tamu dan kamar orang tuanya, meraih beberapa lembar uang dan berjalan cepat menuju pintu depan.

"Layanan pesan-antar,"

Kalimat itu terulang tujuh kali. Sabar, gumamnya dalam hati. Sampai ia di depan pintu dan membukanya tegas, kalimat itu tetap terlontar. Suara malas dan berat yang membuatnya kesal.

"Berisik," Jimin berkata dan menatap sosok di hadapannya. "Pendek."

Sosok itu mendongak, Jimin berteriak. Si pegawai baru. Terlihat rambut - rambut halus berwarna hijau cerah di dahinya yang sedikit tertutup pelindung kepala berlogo menyala, ia tidak salah lihat. Dua hari, satu orang yang sama.

Sosok di hadapannya terlihat kesal dan meninju dada Jimin dengan kotak pesanannya. "Mana uangnya, pendek."


Hari - hari berikutnya Jimin semakin terlihat kesal, sepanjang waktu. Taehyung juga tak pernah berpikir untuk bertanya, di saat tertentu ia merindukan lelaki Jeon itu.

Jimin itu seharusnya sangat berisik, dan beberapa waktu terakhir ini ia terlihat menyeramkan. Rentetan silabel sampah yang biasanya ia lontarkan kini termakan lengang, Park Jimin menjadi lebih pendiam dan suka marah - marah.

Sejujurnya Taehyung tidak takut dengan perubahan drastis sahabatnya ini, hanya saja teman - teman sekelasnya tak henti bertanya mengenai Jimin kepadanya. Merepotkan.

Ini tahun kedua mereka di sekolah menengah, dan tahun ketujuhnya bersama Jimin. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade itu Taehyung tentu sudah mengerti betul bagaimana gelagat sahabatnya itu, tentu itu bukan tingkah orang yang bersedih.

Pernah satu kali ia membahas tentang Jungkook bersama Jimin, dan justru berujung Taehyung yang lagi - lagi patah hati.

Karena itu Taehyung juga ikut kesal, untuk masalah yang berbeda. Ia bertanya dalam hati, dimana ia bisa bertemu lelaki itu. Ia sama sekali bukan siswa intelek di sekolah, otaknya minim opsi maka dari itu ia tidak tahu menahu dimana sekiranya Jungkook sekarang. Ia bahkan belum pernah berbincang secara langsung selain menimpali Jimin menggoda lelaki itu, apalagi bertukar nomor ponsel untuk bertanya kabar. Kenapa Jungkook tidak bekerja di tempat itu lagi, Taehyung penasaran. Apa ia dipecat? Atau justru ia pekerja nomaden? Atau karena Jimin?

Taehyung selalu bersedih ketika melihat anak seusianya yang bekerja mengantar susu di pagi ia berangkat sekolah, atau anak lainnya yang membersihkan kaca - kaca toko suvenir, miniatur - miniatur patung di bangunan metropolit, atau tubuh - tubuh kecil di bengkel dekat halte bus. Bukan empati, ia hanya berpikir kenapa orang - orang itu bukan Jeon Jungkook, dengan begitu ia akan mudah bertemu dengan lelaki itu setiap saat kapanpun ia mau.

Di waktu yang lain ia juga menanyakan perihal pegawai baru itu, dan seketika garis wajah Jimin menegang dan matanya menyalak. Ia berteriak tak karuan, sesekali liurnya mendarat di ujung hidung Taehyung. Dasar amoral.

Kalau sudah seperti ini ia akan meninggalkan Jimin sendirian dan sahabatnya itu tetap berceloteh asal. Kalimatnya tak jauh dari pendek, tak tahu sopan santun, bodoh, dan beberapa kata - kata kasar yang sudah sangat sering ia dengar.


Hari ini Taehyung bermain kerumahnya, ia sedikit tak rela. Ia sedang dalam masa berduka dan ingin sendiri agar terlihat lebih menjanjikan dan justru Taehyung melihatnya tanpa simpatik.

Jimin berjalan ke rak album - album kasetnya dan mengambilnya asal. Ia belum memasukkan kepingan bertuliskan Mogwai bergambar kepala wanita di dalam akuarium bersama ikan berlatar hijau gelap itu sesaat Taehyung mengajukan satu pertanyaan kepadanya.

"Kenapa kau marah dengan pegawai baru itu,"

"Mana kutahu!" itu bentakan, namun Taehyung sudah terlampau tahan.

"Bukan salahnya 'kan,"

"Salahnya!"

"Bagaimana jika Jungkook pergi karena kau terus menganggunya?"

"Idiot!"

"Kau terlihat kesal terus menerus. Biar kutebak, itu bukan karena Jungkook. Tapi pegawai baru itu 'kan?"

"Mana mungkin!"

Taehyung baru saja ingin menimpali kalau bukan karena suara patahan yang terdengar jelas di ruangan itu. Dilihatnya, kaset di genggaman Jimin terbelah dua.


Park Jimin bodoh, itu yang terlintas di otaknya sendiri.

Ini minggu keempat berdasarkan hari terakhir kunjungannya ke toko itu. Dan ia menghitung tiap langkah kakinya sampai ke depan mulut toko tanpa berani masuk dalam lima menit terakhir.

Kemarin, ia dan Taehyung berdebat hebar. Tentang salah siapa salah satu kaset miliknya itu bisa patah. Tentang siapa yang harus menggantinya. Tentang siapa yang harus datang dan membelinya di toko ini.

Taehyung bersikeras ia tidak salah dan bahkan ia belum menyentuh kaset itu. Jimin juga bersikeras jika ia tidak mungkin mematahkan kaset itu kalau bukan Taehyung yang menyulut emosinya. Dan banyak pembelaan diri Jimin lainnya yang tidak bermutu. Taehyung tak mau tahu menahu.

Sekali lagi, Park Jimin itu bodoh.

Ketika kakinya akhirnya menapak di dalam ruangan itu ia baru tersadar, untuk apa membeli kaset baru.

Dan orang itu tetap duduk di sana, tanpa sadar Jimin yang berdiri di ambang pintu. Gamang dan terlihat tolol.

Pikirannya terdistorsi untuk menyadari sosok pegawai baru itu yang sangat kontras dengan Jeon Jungkook. Matanya selalu terlihat malas dan lelah, kantung matanya cukup terlihat jelas berbeda dengan Jungkook yang idealis menurutnya.

Ada satu hal yang berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya berubah warna, mungkin ia mengecatnya lagi. Dasar pemboros. Warna yang bagus dan sangat cocok dengannya, merah muda yang gelap. Jimin terpukau, lalu segera tersadar ketika memorinya memutar ulang kejadian dini hari waktu itu.

Pendek.

Ia mengambil asal salah satu kaset di dereran rak bertuliskan 'stok baru' tanpa benar - benar memperhatikan kepingan rekamam artifisial tersebut.

Langkahnya besar - besar menuju meja kasir dan membuat sosok itu menyadari keberadaannya. Ia melempar kasar kaset itu dan berteriak tepat di depan wajahnya sesaat orang itu meraih kaset yang ia lempar.

"Dasar pemboros! Membuang - buang uang! Kau pikir mengecat rambut seperti itu keren? Tidak!" Pendusta.

Mata mereka sama - sama beradu, sama - sama kesal dan tak terima. Jimin kembali berteriak, membentak lawan bicaranya yang hanya diam dengan alis menukik. Baru saja ia akan kembali membentaknya tetapi orang itu sudah lebih dulu memotongnya.

"Berisik."

Jimin merogoh tasnya untuk mencari uang di dalam sekat kecil di sana dan sosok di hadapannya menghitung total harga kaset yang dilemparnya.

"Semuanya jadi-

"Ambil kembaliannya!" Jimin melempar dua lembar uang itu ke atas meja kasir dan menarik bungkusan kaset miliknya. Ia berlari dan kembali berteriak sebelum akhirnya sosoknya timbul tenggelam di antara pedestrian di luar sana.

"Pendek!"

Sosok itu mendengus, "ini kurang, bodoh," dan menambahkan beberapa koin.

Ia mengedarkan pandangan ke arah jalanan di luar sana, menggenggam rambutnya pelan.

...

TBC


A/N : Oke sebelumnya saya ingin minta maaf kalau chapter ini justru mengecewakan untuk kalian dan terima kasih untuk yang sudah review. untuk yang bertanya apa ini ada vkook atau ga, sudah pasti ada dantenang aja nanti jungkook juga pasti akan saya munculkan. untuk ch awal itu ada beberapa kesalahan dari saya yang lupa menjelaskan kalau itu masih berupa prologue sampai lupa menyertakan garis pembatas utk tiap paragraf, jadi mohon dimaafkan. dan terakhir, jangan bosan untuk review ya terima kasih.