Pertemuan pertama Taehyung dengan Jimin adalah ketika usianya sebelas tahun. Ibunya seorang guru menengah pertama, saat itu mengalami pertukaran dari sekolah lamanya ke sekolah baru di Seoul. Sebelumnya ia bertempat tinggal di Daegu, dan di tahun kelimanya di sekolah dasar ia harus pindah.

Awalnya ia merasa sedih, karena alasan klise seperti sudah terlalu nyaman dengan teman lama atau akan sangat merepotkan jika nantinya harus memulai relasi baru. Itu awalnya, nyatanya Taehyung adalah pribadi yang mudah bergaul. Di pekan kedua kepindahannya, ia telah memiliki sahabat karib, namanya Park Jimin. Enam bulan saling mengenal, titel sahabat karib mengganda menjadi teman maksiat.

Orang tuanya dan orang tua Jimin juga mengapresiasi pertemanannya dengan Jimin, terutama ibunya. Dua wanita itu memiliki afiliasi tak jauh berbeda dengannya dan Jimin. Jadi, di tahun pertamanya di sekolah menengah, ibunya menempatkannya di sekolah yang sama dengan Jimin. Di kelas yang sama, bahkan. Di sekolah tempat ibunya mengajar.

Jimin dan Taehyung sama – sama bersyukur, orang tua mereka telah mengatur hal ini selama dua tahun. Di tahun keduanya, ibunya kembali menempatkannya di kelas yang sama dengan Jimin. Ini bentuk prodeo yang paling dikaguminya selama tiga belas tahun.

Taehyung dan Jimin selalu berpikir ibu mereka memang licik, tapi mereka sama sekali tidak keberatan. Maka di tahun terakhirnya, pihak pengajar dan pelajar curiga. Akhirnya ibunya menempatkan Taehyung dan Jimin di kelas yang berbeda, berseberangan dan sangat jauh. Taehyung kembali berpikir, ibunya berlebihan.

Hingga lulus, lagi – lagi ia satu sekolah dengan Jimin. Di tahun kedua, Jimin kembali sekelas dengannya. Kali ini tak ada ibunya yang mengatur struktur kelas. Murni takdir, kata Jimin.

Karena itu, terhitung tujuh tahun usia pertemananannya dengan Jimin. Dengan kurun waktu seperti itu, tak ada lagi masalah personal atau berdebat dengan rasa canggung soal periferi. Karena itu pula, hari ini Taehyung tak terkejut akibat kedatangan Jimin yang tiba – tiba di rumahnya dengan napas yang putus – putus dan kantung plastik berlabel di genggaman tangannya.

Kembali Jimin menyulut temperamen dirinya sendiri, marah – marah dan menggerutu tentang si pegawai baru. Setelah Jimin diam, ia bertanya.

"Jadi sebenarnya, kau ini marah karena apa?"

Jimin diam, Taehyung tertawa puas dalam hati.

.

.

Park Jimin x Min Yoongi

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

.

.

Hari ini sekolahnya diliburkan, Taehyung merasa bersyukur. Setidaknya satu hari ini ia tak perlu berhadapan dengan Jimin yang sedang kalut tanpa alasan.

Pukul sembilan, nomor tak diketahui menghubunginya. Itu ibunya, berteriak dan kesetanan berkata kalau ia meninggalkan ponselnya di rumah dan meminjam ponsel rekannya. Di saat seperti ini, ibunya mengingatkannya dengan Jimin.

Di kalimatnya yang terakhir, ibunya menyuruhnya mengantarkan ponselnya ke sekolahnya. Penuh otoritas dan paksaan.

Mungkin setelah ini Taehyung akan menuntut satu hari libur lagi, setidaknya ia perlu satu hari untuk terhindar dari Jimin atau orang lain yang berada di siklus yang sama dengan Jimin.

.

.

Taehyung lupa kalau saat ini jam istirahat. Ibunya benar – benar merepotkan, akan susah mencarinya di keadaan seperti ini.

Sejak dua tahun yang lalu, ada banyak perbedaan dari masa kejayaannya di sekolah ini. Beberapa pelajar yang diperkirakannya berada di tahun ketiga mereka menyapanya dan Taehyung membalas sekiranya. Ia memperhatikan pergerakan wanita – wanita di sekitarnya, rambut tergerai dengan mode usia dua puluhan. Hampir seluruh siswa atau siswi di sekolah lamanya ini memilik ponsel sesuai perkembangan jaman. Taehyung sedikit kecewa, sekolahnya bertransformasi menjadi sekolah dengan anak – anak sosialis.

Melewati kafetaria, ia merasa haus. Berniat untuk membeli minuman isotonik, langkahnya terhenti.

Ia pernah membaca sesuatu mengenai penggencetan di salah satu kolom rubrik di surat kabar, dan ini pertama kalinya ia melihat secara langsung. Sesuatu seperti beberapa anak menumpahkan minuman atau menabrak anak lainnya kini ada di hadapannya. Taehyung sedikit terhibur melihatnya dan simpatik di saat yang bersamaan, tidak sampai ia menyadari siapa korbannya.

Itu Jeon Jungkook.

.

.

Taehyung mengikutinya dari belakang, lelaki Jeon itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Dari sini Taehyung mampu melihat setengah dari rambut Jungkook dipenuhi noda jus. Lelaki itu berjalan menuju toilet di lantai dasar, Taehyung tetap mengikutinya hingga masuk ke dalam. Baru saat itu Jungkook menyadari keberadaannya dan terkejut.

"Kau ingat denganku?" Taehyung bertanya dan Jungkook mengangguk begitu saja.

Lelaki itu berbalik dan membasuh wajahnya.

"Kenapa tidak melapor?" Taehyung kembali bertanya.

"Ini tahun terakhirku, percuma."

"Eh? Dua tahun lalu aku masih sekolah di sini,"

Dua tahun lalu juga tahun terakhirnya dan Jimin, di tahun itu mungkin saja Jungkook ada di tahun pertamanya. Tapi Taehyung belum pernah mengingat wajah Jungkook sebelum kedatangannya dengan Jimin ke toko itu.

"Eh?" Jungkook tampak terkejut dan setelahnya ia menunduk, "maaf, sunbaenim."

"Selain datang ke toko untuk menemani Jimin, aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

"Aku pindah kesini setahun lalu."

"Sebelumnya dari mana?"

"Daegu."

"Wah! Aku juga pindahan dari Daegu! Saat usiaku sebelas tahun." Taehyung tertawa dan saat melihat wajah Jungkook merekah, ia ikut merekah. "Jadi, sudah berapa lama kau jadi korban? Di masaku dulu, tidak ada pembullyan."

"Kalau begitu bersyukurlah, sunbaenim–

"Hyung," timpalnya. "Nah, kenapa tidak melapor? Jangan bilang karena ini tahun terakhirmu."

"Akan merepotkan nantinya."

"Siapa yang direpotkan?"

"Kakakku–

"Kau punya kakak?"

"Sepupu. Kakak sepupu."

"Dimana orang tuamu? Kenapa tidak melapor–

"Mereka tetap di Daegu."

"Setidaknya beri–

Kalimatnya terputus dengan bunyi bel dari luar sana, Jungkook membungkuk dan berlalu begitu saja. Menyadari Jungkook yang telah pergi, ia merasa kecewa dan bangga di saat yang bersamaan. Ini kali pertamanya berbincang secara langsung dengan Jungkook dan Jimin tidak akan percaya ia bertemu Jungkook begitu saja. Mungkin setelah ini ia akan menuntut lagi satu hari libur, untuk berkunjung ke sekolah lamanya dan menemui lelaki Jeon itu.

Di perjalanan pulang hingga ia sampai ke rumahnya, ia tak berhenti memutar ulang perbincangannya dengan Jungkook. Berulang – ulang lalu tersenyum dan tertawa dan mengingatnya lagi. Ini rasanya jatuh cinta, pikirnya.

Ponselnya berdering, menampilkan nomor ponsel rekan ibunya. Bayangan wajah ibunya yang berteriak di seberang sana mengurungkan niatnya mengangkat panggilan itu, seketika wajah Jimin yang tak henti berkeluh di hadapannya tentang si pegawai baru ikut menghantui.

Ketika dirinya didera romansa usia muda, ia ikut melupakan dua hal paling penting. Mengantarkan ponsel ibunya dan bertanya satu hal kepada Jungkook, kenapa ia berhenti bekerja di toko itu.

.

.

Hari ini hari Minggu, dan Taehyung selalu bersyukur adanya akhir pekan. Sejak kepindahan Jungkook, Jimin tak lagi mengajaknya ke toko itu. Maka dari itu, untuk satu kali saja Taehyung ingin melihat siapa yang selalu menyulut amarah sahabatnya itu tanpa sebab.

Pukul setengah sebelas malam lalu Jimin menghubunginya, berkata jika dirinya sangat merindukan Taehyung. Sebelum Jimin melanjutkan berbicara, ia sudah lebih dulu mematikan panggilan Jimin sebelum sahabatnya itu merajuk lebih lanjut. Mendengar nada suara Jimin yang seperti proletar, Taehyung merasa iba dan memutuskan untuk berkunjung ke toko itu esok harinya.

Di hadapannya kini berdiri lelaki dengan tinggi yang jauh lebih pendek darinya. Selain ibunya, lelaki ini juga mengingatkannya dengan Jimin. Rambutnya berwarna merah muda kusam, sepaham dengan kulitnya yang putih pucat.

Beberapa menit yang lalu ketika Taehyung memasuki toko ini, lelaki itu tengah merapikan beberapa rak kaset. Menyadari kehadiran Taehyung ia membungkuk dan berkata kalimat sapaan, kebijakan toko sepertinya.

Melihat gerak – geriknya seharusnya tak ada hal yang perlu dikeluhkan dari lelaki itu, selain ia terlalu jarang tersenyum. Kecuali jika Jimin itu berlebihan.

"Sebenarnya, aku tidak ingin membeli sesuatu," Taehyung berujar dan lelaki di hadapannya mengerutkan keningnya. Pandangannya bertanya – tanya. Taehyung berpikir, seharusnya Jimin merasa gemas dengan lelaki ini. "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu."

"Baiklah."

"Apa kau mengenal seorang lelaki pendek dan ia pernah beberapa kali berkunjung kesini, ehm– orang itu sering marah – marah," lelaki di hadapannya mengangguk dan bergumam, 'oh, orang aneh itu'. Mendengarnya Taehyung merasa puas. "Ya, dia memang orang aneh. Tapi sayangnya, dia temanku."

Lelaki itu kembali bergumam, 'ah, maaf.'

"Nah, jadi, siapa namamu?"

"Eh?"

Lelaki di hadapannya kini mungkin saja kebingungan, namun Taehyung bangga. Jimin berada jauh di bawahnya sedangkan dirinya akan mengetahui nama si pegawai baru. Matanya mencoba mencari tanda pengenal di baju lelaki itu. Tidak ada tanda pengenal.

"Siapa namamu?" Taehyung mengulanginya.

"Untuk apa? Apa temanmu itu akan menerorku setelah mengetahui namaku," kalimatnya ofensif, kini Taehyung tahu sekiranya apa yang membuat Jimin kalut.

"Bu– bukan begitu. Dan namanya Park Jimin," Taehyung tergagap. "Ah! Karena kau sudah mengetahui namanya–

Suara pintu toko yang terbuka dan bel yang berdering menginterupsi kalimat Taehyung, dirinya dan lelaki di hadapannya sama – sama menoleh.

"Yoongi-hyung, eh– hyung?"

Itu Jeon Jungkook.

Lalu pintu kembali terbuka, "Taehyung? Eh– Jungkook?"

Itu Park Jimin.

Ah, seperti reuni, pikirnya.

.

.

A/N :

Dan akhirnya bisa update juga! Oke dan jujur saya cukup nyaman pas bikin chapter ini tapi jujur juga saya sedikit kecewa haha. Ada banyak part yang saya potong, yang padahal sebelumnya selalu kepikiran untuk ditampilin di chapter ini.

Dan, saya mau jawab review – review.

siscaMinstalove : yuhu! Saya kaget dan seneng sekaligus sama review kamu, setelah baca review kamu saya kepikiran 'wah, jangan – jangan cenayang ni' haha oke saya receh.

hiluph166 : makasih yaa! Dan tiap baca review kamu saya ngerasa seneng, terutama untuk di ch2 saya ngerasa dimengerti wahaha drama banget.

scsehun21 : makasih makasih kalau suka, dan oke saya bakal usahain fast update!

Hanami96 : makasih bangeet, ehehe Jimin emang bikin gemes ya. Sekali lagi makasih!

potato (Guest) : makasiih hehe, oke diusahain fast updatee

syub0393 : hehe makasih banget reviewnya! Iyaa minyoon bikin gemes ya emang haha

GithaCallie : ahaha iiya iya ini yoongi wkwk, makasih riviewnya!

Jimsnoona : makasih banget reviewnya authornim, mereka emang lucu yaa. Makasiih semoga selalu betah nunggu kelanjutannya hehe.

crownacre : makasih banget reviewnya sumpah saya seneng banget bacanyaa, makasih makasihh

Maaf karena gabisa balesin satu – satu, tapi jangan bosen review yaa. Baca review dari kalian bener bener nambah semangat untuk ngelanjutinnya. Dan saya minta maaf karena saya ngerasa saya harus ngurangin penggunaan majas kata, dan nulis tanpa majas sebenernya ngebebanin saya hehe tapi kalau soal kenyamanan itu tetep jadi hak pembaca sekalian. Jadi intinya kira kira saya harus ngurangin penggunaan majas atau engga?

Ah saya terlalu banyak ngomong, oke kalau gitu makasih yang udah mau baca dan review!