Kisah tentang seorang selebriti papan atas yang dikenal cantik,anggun,dermawan,berbakat,dan etikanya yang patut diacungi jempol. Tapi dibalik semua itu...
NATION'S GODDESS
(Disclaimer: Masashi Kishimoto)
Sasori yang hendak bersembunyi dari kejaran Orochimaru malah terjebak dengan gadis menyebalkan yang ikut bersembunyi di tempat persembunyiannya. Salah Sasori karena ia benar-benar lambat mengunci ruang OB itu. Sebalnya, sang gadis yang sedang ia dekap dan bekap ini tidak berhenti meronta. Apa jadinya jika Orochimaru yang tengah berkeliaran mencarinya curiga dan menemukan dirinya disini karena sang gadis berteriak histeris? Terlintas di benak Sasori untuk membuat gadis itu pingsan tapi dia tidak jadi melakukannya. Bagaimana kalau dia dikira melakukan pelecehan atau apapun itu?
Ruangan gelap itu hanya disinari cahaya sunset dari celah-celah pepohonan yang semakin meredup berasal dari jendela minimalis di ujung ruangan yang hanya menyinari seperempat ruangan itu. Hari yang makin gelap menambah suasana mencekam di ruangan yang berisi perabotan bersih-bersih, galon, dan beberapa kursi lipat.
Sasori tak bergeming sedikitpun walau sang gadis berusaha membanting tubuhnya. Sasori tak habis pikir apa gadis ini begitu bodoh atau apa? Harusnya gadis itu tahu bahwa tenaganya sama seperti semut. Tapi anehnya gadis itu terus-terusan mencoba mendorongnya. Tapi kemudian Sasori dikagetkan dengan hentakan di kakinya. Sakit. Berusaha menahan sakitnya tapi Sasori dikagetkan lagi dengan hentakan yang susul-menyusul itu.
"Ergg...berhenti atau aku akan..arghh!" Belum sempat Sasori menyelesaikan ancamannya, sang gadis yang ternyata berkekuatan gajah itu menendang tulang kering dan tumit kakinya membuat Sasori setengah jatuh terduduk dan bekapannya lepas.
"R-Rasakannn dasar hidung belang!" Sang gadis yang sudah terbebas dari bekapan Sasori berusaha menyusuri ruangan gelap itu mencari benda-benda yang dapat ia pakai untuk membela diri. Ia mengambil sebuah sapu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang kemoceng yang langsung ia kerahkan pada si rambut merah. Terjadilah aksi serang-menyerang di ruangan sempit itu. Sasori yang tidak mau kalah dan tentu saja tidak terima berusaha menghindar sekaligus menyerang dengan kain serbet ditangannya berusaha mengikat sang gadis. Tidak mungkin Sasori harus melakukan kekerasan menggunakan alat berat 'kan?
"Diamlah!" Sasori masih berusaha menghindar dan menyerang di waktu bersamaan. "Suaramu itu bisa kedengaran ke luar, bodoh!"
"Grrrrr berani sekali kau menyebutku 'bodoh'! Dasar hidung belang! Akan kuadukan kau ke komnas perlindungan artis dibawah umur!" Sang gadis makin gencar menyerang Sasori dengan kedua benda di tangannya. Tapi sang gadis heran karena Sasori masih dapat menghindar dan kini malah dia yang terpojok.
"Artis? Kau? Mana mungkin ada artis yang sepertimu!"Sasori menunjuk-nunjuk sang gadis. "Lagipula kau yang salah berani masuk ke tempat persembunyianku!" Sasori dengan nada tajamnya kembali menunjuk sang gadis.
"Hei berhenti menunjuk-nunjukku! Dasar tidak sopan!"Sang gadis menggerutu kesal. "Aku ini artis terkenal asal kau tahu saja! Dan mana aku tahu kau sedang sembunyi disini!" Sang gadis tiba-tiba terdiam dan berhenti menyerang membuat Sasori menghentikan serangannya juga. "Tunggu, apa kau artis juga? Tadi kau bilang kau sedang sembunyi 'kan? Kalau begitu kita senasib! Padahal aku sudah menyamar tapi gara-gara pria berisik tadi penyamaranku terbongkar.." Sang gadis pirang yang kini malah berceloteh tidak jelas membuat Sasori geram.
"Kau ini cerewet sekali ya! Kalau begitu keluarlah dari sini!" Sasori berusaha mendorong paksa sang gadis keluar namun sang gadis menahan bobot tubuhnya, enggan keluar dari ruangan itu.
"Eittt tak bisakah kita berbagi tempat persembunyian? Ini 'kan tempat umum! Ya, ya..?" Sang gadis membujuk Sasori namun tak digubris sama-sekali.
"Pergilah! Kurasa tidak ada orang diluar. Cepat sana!"
"Idihhh kau saja yang keluar sana! Artis dari agensi mana kau? Akan kubuat kau menyesal kalau berani mengeluarkanku dari sini!" Sang gadis pirang berkata dengan nada keras membuat Sasori kembali geram.
"Silahkan saja toh aku bukan artis! Dan berhentilah berteriak tidak jelas, dasar cerewet!"
"Jadi kau bukan artis?! Lalu kenapa kau sembunyi? " Sang gadis yang bingung tak bisa melihat wajah pria di depannya karena gelap. "Dan tadi kau bilang apa!? Aku cerewet? Kau lebih cerewet daripada aku!" Sang gadis kembali melayangkan benda-benda ditangannya kearah Sasori asal.
"Berhentilah, dasar artis tidak jelas! Kau mau aku mengerahkan tenaga agar kau bungkam, hah?!" Sasori kembali menghindari serangan bertubi-tubi dari gadis itu. Walau gelap ia masih bisa melihat samar gerak-gerik lawannya berkat bantuan lampu taman dekat jendela.
"Silahkan saja! Aku tidak takut! Harusnya kau yang keluar! Kau tidak punya alasan untuk bersembunyi disini!"
"Cih! Kau saja sana! Aku duluan yang ada disini!"
Tokkk...Tokkk...Tokkk
Ketukan pelan berhasil membuat kedua penghuni ruangan itu berhenti saling menyerang. Bernafas pun terasa begitu menyesakkan. Berbeda dengan sang gadis yang takut jika orang diluar adalah fans-nya, Sasori takut kalau-kalau orang itu adalah dosen psikopat itu. Masih tidak ada suara dari luar malah membuat kedua penghuni tersebut jantungan.
"Keluarlah, sayang~! Atau akan kudobrak pintu ini dan menghukummu~!" Sasori mati rasa. Suara ini tak salah lagi milik pria psikopat itu. Sang gadis yang tidak mengerti tetap terdiam walau keringat dingin berhasil jatuh deras. "Ayolah...aku tahu kau di dalam, sayang~~" Sasori berpikir keras mencari jalan keluar untuk kabur. Pandangannya lurus ke arah jendela. Dalam diam dia melangkah menuju jendela untuk kabur tapi gadis di belakangnya malah ikut-ikutan dan memegangi kemejanya erat.
GUBRAKKK
Perabotan yang tersenggol sang gadis berjatuhan dan menimbulkan suara cukup keras.
"Kau..." Sasori memberikan pandangan mautnya, walaupun pasti tidak akan terlihat karena gelap, kearah sang gadis di belakangnya.
"Oppss sorry..." Sang gadis pirang sepelan mungkin meminta maaf dengan wajah tak bersalah.
"Berhentilah mengikuti!" Teriak pelan Sasori yang hanya bisa didengar gadis pirang itu.
"Biarkan aku ikut! Please~" Berusaha meyakinkan Sasori agar dirinya dapat kabur bersama. Sasori hanya mendengus melanjutkan aksi kaburnya. Sang gadis yang mendapat ijinpun tersenyum senang.
"Ahhahaha sudah kuduga kau di dalam, Sas... Cepat keluar! Akan kuberi kau hukuman yang pasti kau suka tentunya!" Orochimaru yang tidak mendapat balasan mulai tidak sabaran. "Ayolah, Sas, kau tidak perlu takut, sayang~ kau pasti akan senang dengan hukuman yang kuberi!" Masih tidak ada balasan dari dalam, Orochimaru malah tertawa gila. "Kau benar-benar membuatku bersemangat, sayang~! Baiklah akan kuhitung sampai satu. " Orochimaru makin tertawa keras karena tak ada sahutan dari dalam. "Tiga..." Sasori sepelan mungkin membuka jendela dan mengesernya ke samping. "Dua..." Sasori melompat turun dari jendela yang tidak begitu tinggi. "Satu...!"
BRAKKK
Orochimaru berhasil membuat pintu itu terbuka dan hampir roboh dengan kekuatan 'ular'nya. Namun ketika memencet saklar lampu betapa murkanya dia karena tak ada sosok yang ia cari disana dan jendela yang terbuka. "Sasori! Akan kubuat kau menyesal!"
"Cempreng sekali suaranya! Siapa sih dia?!" Gadis pirang yang mendengar tak jelas teriakan Orochimaru terheran-heran. Kini ia berhasil menyelamatkan diri bersama Sasori dan tengah berlari mengitari taman gedung itu.
"Kau...harusnya kau itu minta maaf! Beraninya kau lompat kearahku!" Sasori menatap sebal gadis pirang berkepang di sampingnya. Bagaimana tidak kesal, dirinya serasa dihantam badak bercula satu. Gara-gara gadis itu yang ketakutan karena harus melompat dari jendela yang tingginya cuman 2 meter, ia harus rela merintih sakit karena ngilu di pinggulnya. Gadis cerewet itu melompat ke arahnya tanpa ijin dan berhasil menindihnya dengan sikut sang gadis yang berhasil menghantam tepat di pinggul kanannya.
"Cuman begitu saja kau sudah kesakitan? Kau 'kan pria! Sebagai pria kau harusnya kuat dan harusnya kau bangga karena ditindih olehku!" Gadis pirang itu sama-sekali tak merasa bersalah.
"Kau...!" Darah Sasori mulai mendidih. Harusnya ia biarkan saja gadis itu dan kabur sendiri. Untuk kesekiankalinya ia merutuki kebaikannya. Untung setelan kantor yang baru ia beli tidak lecet sedikitpun.
"Iya...iya maaf..! Habis mau bagaimana lagi, aku 'kan takut ketinggian."
"Tinggi? Kau berani bilang itu tinggi?" Sasori tercengang sesaat lalu kembali melanjutkan larinya. Malas harus berdebat dengan gadis tak tahu terimakasih itu.
"Hei kau mau kemana? Aku ikut!" Sang gadis menyusul Sasori tepat di belakang. "Setidaknya tolong biarkan aku ikut. Kurasa fans-ku masih berkeliaran." Pinta sang gadis sambil berlari. Sasori makin kesal.
"Pergilah aku malas berurusan denganmu!" Sesekali Sasori merintih ngilu. Pinggulnya panas dan ngilu tiap kali ia bergerak.
"Ayolah, biasanya pria tampan itu baik-baik dan suka menolong, lho!" Gadis itu akui dan tidak menyangka bahwa pria yang ia temui itu ternyata sangat tampan. Wajahnya yang berkarakter dengan rahang tegas, mata coklatnya yang tajam, serta hidung mancung milik pemuda itu mampu membuat jantungnya melompat-lompat. Kharisma pemuda itu sempat membuatnya iri. Rambut merah cukup panjang model mop-top yang sedikit berantakan dan menutupi sebagian matanya pun menambah kesan dewasa si pemilik.
"Gak sudi!" Jawaban singkat Sasori membuat pikiran gadis itu runtuh seketika. Padahal ia sudah memujinya, yah walaupun sekedar memuji dalam hati.
"Aku lapar dan tidak tahu letak kantin. Tolonglah sekali ini saja ya.." Perut gadis itu benar-benar sudah menjerit. Tenaganya bahkan hampir terkuras habis untuk aktifitas hari ini.
"Cari sendiri!"
"Dasar jahat! Kudoakan kau tersandung!"
JDUGGG
Hanya dengan doa sang gadis, Sasori jatuh tersandung batu ukuran sedang dan kini tergeletak masih bernyawa. Gadis itu sempat kaget namun segera tertawa penuh kemenangan. "Tuh 'kan apa kubilang!"
"Kau!" Berusaha berdiri, Sasori mendecih tak suka kearah gadis dibelakangnya.
Drttt drttt
Gadis pirang itu mengambil HP dari saku roknya. Memperhatikan sederet tulisan di inbox HP flip-nya itu lalu menutupnya kembali. "Hehe sepertinya aku tidak jadi ke kantin. Ehmm.. apa kau tahu dimana parkiran Fakultas Hukum? Anterin boleh?" Dengan nada lembut tapi ekspresi memaksa gadis itu tersenyum penuh arti pada pria dengan kemeja kotak-kotak dan jeans abu-abu di depannya.
Sasori mau menolak namun dia tidak mau terjadi apa-apa lagi pada dirinya. Cukup ia tersandung sekali. Bagaimana kalau gadis menyebalkan itu malah mendoakan yang tidak-tidak? "Ya." Jawaban pasrah dari Sasori langsung membuat gadis pirang itu membulatkan mata birunya. "Cepat ikuti aku!" Ia mulai berjalan dengan langkah pelan menahan perih di pinggul serta kakinya.
"Harusnya kau bersikap baik sejak awal. Padahal kau tampan tapi sikapmu benar-benar parah..." Mulai melangkah mengikuti Sasori, gadis itu mulai berceloteh dan membuat Sasori harus menahan sabar, lagi.
"Kau... aku yakin kau masih berumur belasan jadi bersikaplah sopan pada orang yang lebih tua! Sayang sekali jika benar kau artis pasti kau artis tidak laku!"
"Enak saja...Aku ini artis terkenal bahkan sudah go-internasional! Film-film dan dramaku juga sangat laku!" Gadis yang masih memakai kacamata kotak itu mendengus kesal. "Kau tidak pernah nonton TV apa?!"
"Khe~ palingan kau itu stuntman atau kalau tidak cuma pemain pendukung. Lihat saja cara bicara dan sikapmu yang menyebalkan itu!" Sasori masih berjalan santai tak mengindahkan gadis pirang yang cemberut dikata-katai oleh Sasori.
"Biarin! Kau sendiri yang mulai!"
"Hah...hari ini adalah hari sial terpanjang yang pernah kualami." Sasori menatap lelah rembulan di langit pekat. "Apalagi harus berurusan dengan bocah tengik ini yang ngaku-ngaku artis..." Sambungnya lagi sembari menatap malas gadis pirang dengan baju sailor moon di sampingnya.
"Apa? Hei kau kira aku tidak menyesal apa berurusan denganmu?!" Bohong gadis itu, karena dalam hati kecilnya ia begitu senang bisa 'berkenalan' dengan pemuda yang membuat detak jantungnya terganggu.
"Sudah sampai..." Jelas pemuda dengan tinggi 175 cm itu.
"Cepat juga." Mereka telah tiba di pelataran parkir Fakultas Hukum yang tidak begitu jauh dari gerbang utama Universitas Konoha. Gadis bermata biru indah itu mencari seseorang yang menunggunya. Pandangannya menyusuri hamparan tanah luas dengan sedikit mobil-mobil yang masih terparkir. "Ah itu bibi Shizune!" Sahutnya girang mendapati wanita yang masih berbalut setelan kantor rapi. "Ah terima...kasih ya" Padahal gadis itu ingin mengucapkan terimakasih pada Sasori, tapi pemuda itu sudah menghilang tanpa jejak. Gadis itu cemberut. Tahu namanya saja tidak. "Dasar pria tidak bertanggungjawab! Beraninya kabur!" Tambah gadis itu kesal sembari berjalan menuju tempat Shizune berdiri. "Awas saja kalau ketemu lagi! Harusnya dia menungguku pergi! Kalau aku tiba-tiba diculik bagaimana? Huh~ tidak berperasaan!"
"Naru kau darimana saja? Kau tidak apa-apa 'kan?" Shizune yang berdiri disamping sedan Vios hitam kesayangannya langsung berlari menghampiri gadis pirang itu. "Kau tahu tadi bibi melihat pengemar-penggemarmu kesana-kemari. Kau tidak diapa-apain 'kan?"
"Tenang, bi, Naru berhasil lolos kok hehehe~" Bangganya. "Mana nenek?" Mencari sekitarnya dan gadis itu masih tidak menemukan wanita gagah itu.
"Tadi Tsunade-sama pulang duluan karena harus mengurus Jiraiya-sama yang babak belur. Beliau menitipkan salam untuk Naru sekaligus minta maaf karena makan siangnya harus ditunda." Jelas Shizune.
"Hah ini sih bukan ditunda lagi. Bahkan Naru belum sempat makan apa-apa tadi. Kakek itu awas saja kalau ketemu! Akan Naru tambah lebam di wajahnya!" Pernyataan dari bibir tipisnya membuat Shizune bergidik ngeri. Luka dari Tsunade saja amat banyak dan Naruto, gadis itu, mau menambahnya lagi?
"Tapi bukannya Naru sudah makan tadi?"
"Bagaimana Naru bisa makan, bi, Naru nyasar dan harus dikejar fans." Naruto masuk ke dalam sedan tanpa permisi, disusul Shizune di bangku kemudi. "Jangan lupakan dengan si merah menyebalkan itu!" Naruto mulai berteriak kesal mengingat Sasori.
"Naru, kau tidak apa 'kan?" Melihat kilatan membara di mata biru itu, Shizune tahu bahwa gadis belia itu tengah kesal tidak mati. "Ah b-bagaimana jika kita makan ramen?" Ide cemerlang muncul di otak Shizune.
"Beneran, bi? Asikkk!" Kilatan api itu kini bermetamorfosis menjadi cahaya cemerlang. Shizune bernafas lega melihat Naruto sudah 'mendingin'.
Sedan itu melaju pelan menyusuri jalan raya yang masih padat dengan berbagai cahaya warna-warni berasal dari bangunan tinggi di sekitarnya.
l
l
l
l
"Pagi, nek!" Pemuda berkemeja putih dan bercelana bahan hitam itu mencium lembut pipi Nenek Chiyo yang sedang menata menu makan pagi di meja lipat seperti biasanya.
"Pagi, Sasori." Nenek Chiyo membalas sapaan cucu satu-satunya itu, ia menatap kagum kearah Sasori. Penampilannya benar-benar berbeda, setelan kantor membuat dirinya tampak elegan. "Tadi malam kau pulang larut, Sasori. Maaf nenek langsung tidur dan tidak menunggumu pulang."
"Tidak apa, nek." Sasori justru sangat bersyukur ketika ia pulang ke rumah jam 11 malam dan neneknya sudah tertidur. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan neneknya yang pasti seputar dosen psikopat gila itu. Tadi malam dia memang sempat ke klinik dahulu memeriksakan lebam di pinggulnya yang sampai saat ini masih terasa. Untung hanya lebam biasa dan hanya perlu mengoleskan salep seminggu ini. Kalau terjadi retak tulang dia tidak akan segan meminta pertanggungjawaban artis gadungan itu.
"Makannya pelan-pelan saja, Sasori." Sahut Nenek Chiyo yang melihat Sasori makan tanpa henti sambil memakaikan dasi biru tua itu rapi.
"Aku buru-buru, nek. Wawancaranya pagi dan aku tidak mau telat, nek." Sasori mengunyah tempura sambil memakaikan kaos kaki hitamnya. Sebenarnya ia sengaja berangkat lebih pagi dari jam seharusnya. Ia tidak mau mood pagi harinya terganggu jika neneknya mengucapkan nama dosen psikopat itu. Sudah cukup kemarin menjadi hari tersuram di hidupnya. Dosen psikopat dan artis gadungan. Apalagi yang kurang? Mereka berdua yang membuat tidur Sasori tidak nyenyak. Dosen psikopat yang membuatnya ingin muntah dan artis gadungan cerewet yang membuat dirinya luka-luka. Takjub Sasori masih bernafas normal sampai saat ini.
"Oh iya, Sas, apa kau sudah bertemu Prof –" Belum sempat Nenek Chiyo menyebutkan nama dosen psikopat itu, Sasori sudah meneguk minum dan berdiri mengambil jas hitamnya seraya mencium kening Nenek Chiyo.
"Aku pergi dulu, nek." Sasori mengambil tas kantor hitam berbentuk persegi panjang di dekat meja lipat lalu memakaikan sepatu pantofel hitam di balkon dekat pintu. "Doakan aku, nek." Terakhir ia tersenyum simpul pada neneknya dan hanya dibalas anggukan oleh Nenek Chiyo.
"Kenapa dia?" Nenek Chiyo menatap bingung cucunya yang sudah berlalu pergi.
l
l
l
l
M.E.
Lambang emas yang terdiri dari dua huruf itu seolah menyapa tiap penduduk yang berlalu-lalang di jalanan yang hanya terdiri dari gedung-gedung pencakar langit di sekelilingnya. Logo Maroon Entertainment yang terukir indah di batu taman cukup besar berbentuk persegi panjang yang membelah jalan masuk dan jalan keluar kantor agensi hiburan terbesar di Jepang itu.
Kantor agensi itu memiliki bangunan yang berpuluh hektar luasnya. Halaman depan yang terdiri dari pepohonan yang mengitarinya bahkan menandingi luas lapangan bola, mungkin. Maroon Entertainment atau yang biasa disingkat M.E. terdiri dari dua bangunan utama depan-belakang yang diselingi oleh taman dan kolam ikan cukup luas. Sedangkan tempat parkir yang berisi beragam jenis mobil terhampar rapi di sayap kiri-kanan bangunan depan.
Tentunya karyawan disana harus memiliki fisik yang kuat untuk dapat bertahan bertahun-tahun. Tak ayal mereka yang bekerja disana memiliki bentuk tubuh ideal dan betis yang kencang. Untuk mengelilingi salah-satu gedung saja sehari mereka dapat membakar 400 kalori tubuh.
Untungnya perusahaan yang baru berdiri 15 tahun silam itu menyediakan jasa transportasi berupa custom karts, sejenis tranportasi seperti di lapangan golf, agar tiap karyawan teringani beban kerjanya ketika beralih gedung. Bayangkan jika mereka harus mengitari perusahaan itu, mungkin baru sore hari mereka sampai tujuan. Bisa saja para pegawai memakai mobil kesayangan mereka, tapi mereka harus siap-siap didepak jika melakukannya. Karyawan menengah yang membawa mobil disana bahkan mencapai ratusan. Masa iya kantor agensi tersebut jadi jalan raya dadakan gara-gara ratusan mobil berlalu-lalang? Macet yang ada.
Kedua penjaga yang berdiri di depan halaman pintu masuk tak bergerbang itu memerhatikan sosok pemuda dengan setelan kantor yang tampak pas membuat tubuhnya yang memang ideal itu semakin gagah. Bukan pakaian pemuda yang dua pria tegap dengan seragam hitam itu tercengang melihatnya. Mereka sudah biasa jika para pegawai kelas menengah dengan setelan kantor membawa mobil untuk bekerja, nah yang satu ini berbeda, jalan kaki.
"Mungkin pegawai baru." Pikir mereka serempak.
"Selamat pagi, pak, apa Anda pegawai baru disini?" Tanya salah-satu penjaga yang lebih tinggi. Pemuda bermarga Akasuna itu memberikan sapaan hormat pada kedua penjaga yang tepat berdiri tak jauh darinya.
"Selamat pagi, pak. Saya ada wawancara kerja dengan Direktur SDM disini." Ucap tenang pemuda Akasuna itu. Kedua penjaga hanya menggangguk beriringan.
"Kalau begitu tunggu sebentar, pak." Penjaga yang lebih pendek segera menghubungi –entah siapa– melalui walkie-talkie. Pemuda Akasuna itu menatap bingung. Biasanya setelah diinterogasi satpam saja ia langsung diperbolehkan masuk. Apa mereka mengira dia itu penjahat, ya? "Maaf, membuat Anda menunggu. Silahkan masuk." Lanjut penjaga tadi menuntun pemuda Akasuna bernama Sasori itu melewati jalan khusus disamping barrier gate cukup besar berwana keemasan. Sasori kembali bingung karena penjaga di depannya terdiam menunggu 'sesuatu'.
"Maaf, pak. Saya bisa cari ruangannya sendiri." Ungkap Sasori yang mulai cemas melihat diamnya penjaga itu.
"Oh, tentu Anda dapat menanyakannya langsung pada resepsionis di dalam. Tenang saja, pak." Senyum penjaga itu bahkan tidak membuat Sasori tenang. Lalu kenapa dia harus berdiri disini? Aneh.
Menunggu sesuatu yang entah apa itu, Sasori melirik jam di tangan kirinya masih ada waktu 30 menit sebelum wawancara dimulai. Saat ia kembali menatap lurus kedepan sebuah custom karts berwarna biru tua terparkir tak jauh dari posisinya berdiri. Masih aneh, Sasori tetap diam di tempat.
"Silahkan, pak. Anda akan diantar ke Gedung 2 tempat Direktur SDM." Sasori yang masih bingung hanya menggangguk dan berterimakasih kepada penjaga itu. Ia menaiki kendaraan itu yang melaju dengan kecepatan sedang.
Sasori melihat sekelilingnya yang tampak asri ditumbuhi pohon cemara juga terdapat pancuran besar di tengah halaman luas itu yang sangat megah dengan kolam ikan koi yang dihiasi bunga teratai di permukaannya. Dari sana mereka memakai jalur kanan untuk memasuki kawasan gedung.
Tak jauh dari kolam pancuran, Sasori sudah disuguhi sebuah gedung kaca one-way yang menjulang tinggi, mungkin lebih dari 50 lantai. Gedung itu berbentuk kubik dengan sisi-sinya yang sedikit lonjong. Sasori yag mengira ia akan turun disana langsung menghentikan aksinya karena sopir itu masih mengemudikan custom karts ke sisi kanan gedung.
Sasori terheran begitu melihat jalan cukup besar serupa dengan jalan raya satu arah yang kini sedang ia lewati. Dapat ia bayangkan lebar gedung itu karena baru 5 menit ia sampai di ujungnya.
Belum sempat terkagum dengan megahnya gedung pertama, ia terfokus pada sebuah taman besar yang luasnya saja mencapai 300 meter persegi. Pohon maple kekuningan tertanam kokoh disana. Ditengah-tengah taman itu ada kolam ikan cukup besar dan beberapa jalan setapak. Keren, Sasori bahkan mengira kalau itu hanya ilusi.
Begitu melihat beberapa karyawan yang memakai custom karts, pikiran Sasori runtuh. Sempat ia berbangga diri karena diperlakukan istimewa, padahal custom karts yang ia naiki ini pasti sengaja disediakan mengingat betapa luasnya perusahaan itu. Ia merutuki dirinya yang terlalu percay diri.
Sasori nampaknya tak akan menyiakan kesempatan bekerja di perusahaan itu. Apalagi saat melihat Gedung 2 yang berbentuk oval dan lebih megah dari gedung yang pertama ia jumpai. Eksteriornya hampir sama dengan gedung pertama, hanya bentuk dan ukuran serta keramik berwarna putih bercorak keemasan yang membedakannya.
Custom karts itu berhenti di depan gedung. Sasori segera turun dan menaiki tangga keramik yang berjumlah belasan. Kembali ia tercengang ketika melewati pintu masuk otomatis dengan sinar infra merah. Bahkan dalamnya pun tidak kalah menarik. Megah seperti katedral.
Setelah ia menyatakan tujuannya pada seorang resepsionis ia segera diijinkan menuju lantai 30 menggunakan lift. Ia menekan dua digit nomor lantai yang akan ia tuju di layar touchscreen. Tentu dia sudah menduganya. Mana mungkin lift itu sanggup memuat lebih dari 50 tombol karena gedung itu terdiri dari puluhan lantai.
Sasori berdoa sebelum sampai ke tujuannya. Ia yang sendirian di dalam lift berdoa agar ia diterima di agensi ternama itu. Semoga saja.
Sasori keluar dari lift dan langsung melihat meja sekretaris di depannya. Hanya ada satu ruangan yang sudah pasti ruang Direkrtur SDM, WC, dan satu set sofa disisi jendela sebelah kiri. Pemandangan yang indah.
"Anda Akasuna Sasori?" Tanya sekretaris itu tanpa basa-basi.
"Selamat pagi, bu. Betul, saya Akasuna Sasori."
"Silahkan, Hatake-sama sudah menunggu." Sasori mengikuti sekretaris itu menuju ke dalam ruangan luas bernuansa serba putih. Kaca one-way yang mengelilingi ruangan itu menambah kesegaran tersendiri, Sasori seperti berada di atas awan. Hanya meja kerja, sofa, dan rak-rak dokumen yang ada di ruangan itu dan terkesan elit.
"Pagi, Akasuna Sasori. Saya Hatake Kakashi." Pria yang memakai kemeja hitam, dasi hitam, celana hitam, sabuk dan sepatu hitam malah membuat suasana ruangan yang tadinya sejuk menjadi suram. Bagaimana bisa seorang direktur berpakaian 'berbeda' seperti itu? Tak ketinggalan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya yang makin menambah kesuraman di ruangan itu.
"Selamat pagi, Hatake-sama." Sasori menjabat tangan Kakashi dan segera duduk ketika diperintah.
"Hana, kau bisa keluar sekarang." Sekretaris bernama Inuzuka Hana segera menunduk hormat dan berlalu keluar ruangan. Tinggalah Kakashi dan Sasori di ruangan luas itu. "Nah, Akasuna, kau tidak usah terlalu formal disini. Sejujurnya aku tidak suka karyawanku terlalu kaku."
"Baik, Hatake-sama."
"Baiklah, coba kulihat CV-mu."
Sasori mengambil map biru dari dalam koper kantornya lalu menyerahkan map itu pada Kakashi.
"Nah, Akasuna Sasori, apa ada yang ingin Anda tanyakan?" Pertanyaan dari Kakashi membuat Sasori terlonjak. Seharusnya ia yang ditnyai bukan malah ia yang bertanya.
"Maaf, hatake-sama, tapi bukankah Anda yang menanyai saya?" Tanya Sasori sedikit gugup. Takut kalau lelaki di depannya tersinggung.
"Dosen yang merekomendasikanmu datang langsung kesini dan menjawab pertanyaan yang seharusnya ditanyakan saat sesi wawancara." Jawab Kakashi tanpa ada ganjalan atau nada ketidaksukaan. "Nampaknya kau sangat disenagi oleh dosen itu ya?"
GLEK
Rasanya Sasori ingin muntah. Kenapa juga dosen psikopat itu mengambil jatah wawancaranya? Tidak ada kerjaan lain apa?
"Tidak juga, Hatake-sama." Bohong Sasori. Masa dia harus cerita kalau dosen psikopat itu bahkan mencintainya? Gila aja... "Tapi kenapa tidak manajer saja yang mewawancarai pelamar kerja, pak?"
"Oh, biasanya orang-orang yang direkomendasikan akan langsung diwawancarai oleh saya. Kami juga mempunya hubungan baik dengan Universitas Konoha. Banyak lulusan kampusmu yang bekerja disini, Akasuna. Saya yakin tanpa mewawancaraimu langsung pun saya tahu bahwa kau berpotensi dan kompeten. Apalagi hanya kau satu-satunya mahasiswa Universitas Konoha yang direkomendasikan Profesor Orochimaru."
"Dariman Anda tahu bahwa saya mahasiswa pertama yang mendapat rekomendasi dari Profesor Orochimaru, pak?" Tanya Sasori heran.
"Tentu saja karena saya pun lulusan sana dan kenal betul dengan dosen teraneh itu hahaha~" Sasori nampak setuju dengan pernyataan terakhir Kakashi. Ternyata benar, dosen psikopat itu bahkan dikenal alumni sebagai dosen yang aneh. "Nah, apa ada yang ingin kau tanyakan?"
"Sepertinya tidak, pak." Jawab Sasori tanpa pikir panjang.
Kakashi mengambil kertas kontrak kerja yang sudah ia persiapkan dalam salah-satu arsip dimejanya lalu menyerahkannya pada Sasori. " Silahkan kau baca. Jika kau setuju kau bisa langsung menandatanganinya."
Sasori membaca tiap baris dalam lembaran itu dan ia kaget saat melihat nominal gajinya sebulan. Bayangkan 400000 yen setiap bulan! Sasori yakin ia bisa cepat kaya jika bekerja beberapa tahun dengan gaji sebesar itu. Tanpa pikir ulang, Sasori yang sudah dibutakan oleh uang langsung menggerakkan tangannya memberi tanda tangan diatas materai lalu menyerahkan pada Kakashi. "Ini, pak, sudah saya tandatangani."
"Wah, kau tidak memikirkannya dulu, Akasuna?"
"Tidak, Hatake-sama. Saya sudah yakin." Jawab Sasori semangat.
"Baiklah kau mulai bekerja besok. Gajimu akan saya transfer di awal bulan. Berhubung kau masih baru, untuk gaji pertamamu akan saya transfer 50% di awal bulan dan sisanya di akhir bulan." Kakashi mengecek ulang data-data Sasori di komputernya. "Untuk salinan kontrak kerja akan saya berikan besok. Apa ada yang ingin kau tanyakan, Akasuna?"
"Saya masih bingung tentang divisi mana yang saya tempati, Hatake-sama."
Kakashi mengernyitkan dahi berpikir.
"Sepertinya kau harus membaca ulang kontrak kerjanya." Kakashi menyerahkan kembali lembaran kontrak kerja yang sudah tersusun rapi di dalam map arsip khusus.
Sasori yang masih tidak mengerti menuruti perintah Kakashi untuk membaca ulang lembaran dokumen itu. Ia sendiri masih bingung dan tak tahu bagian mana yang seharusnya ia baca. Namun, belum sampai pertengahan dokumen, ia terkejut mendapati pernyataan yang tadi sempat ia lewati begitu saja.
"Maaf, Hatake-sama, apa saya boleh membatalkan kontrak ini?" Tanya Sasori gugup.
"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan kontraknya? Menurutku, kontrak itu sangat bagus."
"Saya bertindak ceroboh, pak. Saya tidak tahu kalau Anda sedang mencari manajer artis."
"Lho, apa Profesor aneh itu tidak memberitahumu? Padahal saya sudah bilang bahwa hanya itu jabatan yang ada saat ini." Sasori tertohok. Sial, harusnya ia lebih teliti. Sasori menyalahkan dosen psikopat yang suka ikut campur urusannya.
"Tidak, pak. Saya ingin melamar kerja menjadi manajer divisi bukan manajer artis, Hatake-sama. Jadi, apa boleh kontrak itu dibatalkan, pak?" Sasori berdoa agar Kakashi setuju dengan usulnya. Ia kuliah di jurusan manajemen bukan ingin menjadi manajer artis tapi manajer keuangan atau semacamnya!
"Tentu boleh." Pernyataan dari Kakashi membuat Sasori senang. Walau ia sangat menyesal karena ia tidak mendapat pekerjaan lagi, tapi itu lebih baik daripada bekerja tidak dibidangnya. "Tapi kau harus membayar dispensasi kerugiannya, Akasuna." Sasori terlonjak mendengar penuturan Kakashi.
Dispensasi? Yang benar saja!
"T-Tapi pak..."
"Jangan-jangan kau juga tidak membacanya?"
Ya, Sasori memang melewatkan beberapa baris karena tidak konsentrasi sesudah melihat nominal gajinya. Ceroboh! Sasori ingin memukulkan kepalanya ke tembok segera. Baru pertamakali ia seceroboh ini.
"Sepertinya saya akan menerima kontrak ini, pak." Sasori pasrah, tidak mungkin ia bisa membayar dispensasi kerugian yang jumlahnya tak bisa ia tanggung.
"Bukan sepertinya lagi, Akasuna, tapi kau memang terikat dengan kontrak ini." Jelas Kakashi, Sasori merutuki kecerobohannya. "Baiklah, kau harus tahu bahwa kontrakmu setahun. Anggaplah kau sedang dalam pelatihan dan bekerja keraslah agar kau mendapat promosi." Sasori kembali bersemangat, setidaknya dia bisa mendapat pengalaman, ya menjadi manajer artis pun tak apa. "Besok datanglah kemari jam 9 pagi. Kau akan mendapat latihan dasar dan bertemu dengan artis yang akan bersamamu setahun kedepan."
"Baik, pak. Tapi siapa artis itu?" Sasori yang semangatnya sudah kembali menanyakan perihal artis yang akan ia asuh.
"Oh, aku sampai lupa."Kakashi menepuk jidatnya." Tentu kau pasti tahu Nami, 'kan?" Kakashi menyeringai penuh arti dibalik masker ketatnya. Siapapun pasti tahu dan akan bersyukur bisa menjadi manajer Nami, pikirnya.
"Maaf, pak, saya tidak tahu. Apa dia laki-laki?"
BRUK
Dalam imajinasinya, Kakashi terjatuh dari duduk nyamannya.
Kakashi serasa mati kutu. Pria macam apa Sasori itu sampai-sampai seorang Nami pun ia tak tahu?
"Kalau begitu lihat besok saja." Kakashi pusing dibuat Sasori. Sepertinya ia harus mengadakan rapat sesegera mungkin untuk membuat strategi agar Nami sampai terkenal ke desa-desa sekalian. Jangan sampai Nami yang sangat populer itu ada yang tak tahu!
"Baik, pak." Sasori dan Kakashi berjabat tangan.
"Ah, Akasuna, kau tidak perlu memakai setelan formal seperti itu lagi. Cukup kemeja, celana bahan, dan pantofel." Ucap Kakashi.
"Baik, pak, saya permisi." Kakashi mengantarkan Sasori keluar ruangan. Segera Sasori menunduk hormat dan menaiki lift.
"Akhirnya..." Kakashi memandang Sasori yang sudah terhalangi pintu lift, "aku bisa bersama dengan pujaan hatiku lagi~" Kakashi memasang seringai andalannya.
l
l
l
l
Hari berganti. Pagi hari di Konoha yang dikenal sebagai kota tropis itu begitu sejuk. Pepohonan rimbun yang menghiasi tiap sudut kota menambah keasrian. Burung-burung saling berkicau, entah apa yang sedang mereka katakan.
Waktu masih menunjukkan jam 7 pagi tetapi jalan raya sudah dipenuhi jejeran mobil dengan tujuan masing-masing. Beberapa pelajar sedang menyebrangi zebra cross untuk sampai ke sekolah. Para penduduk dengan berbagai profesi sudah siap bekerja di bidang masing-masing.
"Halo, Direktur Senju?" Iruka yang menelepon Senju Tobirama sesekali melihat ke kamar Naruto, gadis pirang itu tengah berdandan. Terdengar jawaban dari Senju Tobirama. Iruka segera menjelaskan alasannya menelepon pada sang bungsu Senju.
"Maaf, direktur, saya mengganggu pagi Anda."
"Ada apa, Iruka?"
"Begini, direktur, sejak dua hari lalu Namikaze mulai berkelakuan aneh." Iruka berenti sejenak, ia melanjutkan lagi perkaataannya saat orang yang ia hubungi masih terdiam. "Saya pikir ada baiknya Namikaze dibawa ke psikiater."
"Memangnya apa yang dia lakukan? Bukannya dia sering berlaku yang aneh-aneh? Kalau hanya hal biasa jangan bawa dia ke psikiater. Dia baru terkena kontroversi beberapa bulan lalu."
"T-Tapi direktur Namikaze mulai kelihatan tidak waras. Semenjak pulang jalan-jalan dengan Tsunade-sama, Namikaze sering uring-uringan sambil menjerit sesekali. Kadang dia murung tanpa sebab lalu tiba-tiba berteriak tidak jelas." Iruka memperkecil suaranya, takut Naruto mendengar.
"Itu hal biasa, Iruka –"
"Direktur.. Namikaze jadi sering bertindak brutal! Dia pernah menari-nari lalu loncat kesana-kemari dan berteriak sambil menciumi wajan yang masih panas, bahkan ujung mata pisau pun pernah ia ciumi!" Iruka mulai panas-dingin mengingat kejadian itu.
"Apa Namikaze pernah tersipu lalu tiba-tiba marah-marah lalu memukuli kepalanya sendiri?"
Iruka terdiam sejenak, mengingat kembali. "Iya, direktur! Semenjak hari itu sampai sekarang, Namikaze selalu tersipu tapi baru semenit Namikaze malah membenturkan kepalanya. Saya benar-benar takut, direktur!"
"Tenanglah, Iruka. Itu wajar karena –"
"PAMAN IRUKA!"
"Maaf, direktur, nanti saya hubungi lagi." Iruka segera memutuskan sambungan HP-nya lalu masuk pelan ke dalam kamar Naruto. Senju Tobirama yang berada di apartemennya yang hanya berbeda lantai itu hanya mendengus kasar. Setidaknya Iruka harus membiarkan bosnya itu menyelesaikan perkataannya!
"Paman lama sekali!" Naruto cemberut.
"Hehe maaf Naru..." Iruka menyodorkan segelas susu coklat hangat yang langsung dihabiskan Naruto dalam sekejap mata.
"Ah~ enaknya..." Tanpa mengucapkan terimakasih, Naruto memberikan gelas kosong itu pada Iruka.
Iruka yang sudah biasa dijadikan layaknya pelayan oleh si pirang itu tidak terlalu mempermasalahkan kelakuannya. Hanya saja Iruka tidak suka jika Naruto atau siapapun tiak tahu berterimakasih atas apa yang telah dilakukannya. Hal sepele sih, tapi tidak susah 'kan mengucapkan kata manis berupa 'terimakasih'?
Terkadang ia memang kesal karena Naruto yang berumur lebih muda darinya harusnya bersikap lebih sopan padanya. Jangan saat kamera me-shoot-nya saja baru Naruto bersikap layaknya seorang lady. Pantas saja manajer-manajer Naruto yang dulu langsung mengundurkan diri dan tidak melanjutkan kontrak. Tapi entah kenapa, Iruka yang sudah mengenal Naruto sejak balita tetap menyayangi si pirang walau ia diperlakukan seperti pembantu sekalipun.
"Naru kita harus berangkat sekarang. Direktur Hatake sudah menunggu di M.E." Iruka berlalu dari kamar Naruto.
"Iya, paman... Sebentar lagi!" Naruto menyisir rambutnya yang sudah ia buat sedikit bergelombang. Rambutnya merupakan aset berharga. Panjang, tebal, dan terawat membuat Naruto menjadi model iklan shampo saat usianya 10 tahun.
"Paman tunggu di basement ya..." Iruka segera membereskan keperluan Naruto. Ia mengangkat beberapa tote bag yang entah apa isinya. Padahal tadi malam Iruka sudah bilang pada Naruto kalau mereka hanya berkunjung ke kantor Kakashi dan siangnya rapat dengan manajer promosi Beste Germany, bukannya mau bepergian atau jalan-jalan.
"Iya paman! Duluan saja!"
Iruka yang sempat menengok ke dalam kamar Naruto kembali meringis ngeri melihat gadis pirang itu dengan centilnya mengecup boneka rubah kuning kesayangannya. Gadis itu memberikan kiss-bye kearah sang rubah berekor sembilan itu namun tiba-tiba ia mendadak kesal dan menampar-nampar boneka itu.
Benar, Iruka harus membawa Naruto segera ke psikiater kepercayaan keluarga Senju, secara paksa pun jadi. Dia tidak boleh membiarkan Naruto mengidap gila berkepanjangan! Apapun alasan kegilaan Naruto, ia harus segera menyembuhkannya!
l
l
l
l
Hari yang dinantikan namun tidak diharapkan Sasori tiba. Ia yang mengenakan pakaian yang disarankan Direktur SDM itu tetap terlihat gagah dan rupawan. Ia harus berbangga diri karena bekerja di agensi besar, neneknya pun sangat senang mendengarnya diterima dengan gaji yang besar untuk seorang pemula. Hanya saja Sasori belum memberitahukan pekerjaannya sebagai manajer artis saat ia mentraktir makan malam neneknya dengan gaji pertamanya.
M.E. memang berada di distrik yang berbeda dengan apartemen Sasori. Ia harus menaiki bus dua kali dan berjalan belasan menit agar sampai di perusahaan hiburan itu.
Seperti kemarin, ia diantar masuk menggunakan custom karts berakomodasi 7 penumpang. Ya, hanya dirinyalah karyawan kelas menengah yang tidak membawa kendaraan pribadi. Sasori melihat sendiri dirinya dan beberapa karyawan OB yang memakai custom karts dari gerbang. Sasori sempat iri dan patah semangat tapi segera ia menepis pikiran negatifnya. Ia juga bisa membeli mobil pribadi, tentunya beberapa tahun kedepan.
Sasori mengenakan kacamata dan rambutnya yang biasanya sedikit berantakan kini tertata rapi kepinggir layaknya pelajar jenius. Ia ingin memberikan kesan baik di hari pertama ia bekerja. Walau dirinya sendiri mengakui bahwa dirinya terlihat tua dengan gaya rambut seperti itu tapi ia cukup senang karena ketampanannya masih terlihat jelas.
Sesampainya di Gedung 2 ia segera menuju lift dan menekan nomor lantai rungan Kakashi. Ia melihat ulang penampilannya di pantulan lift keemasan itu. Merasa dirinya sudah rapi Sasori tersenyum tipis. Ia mengeratkan pegangannya di tas kantor yang ia beli saat magang untuk skripsinya itu.
TRING
Lift terbuka. Sasori segera keluar dan menghampiri sekretaris bernama Inuzuka Hana.
"Selamat pagi, Akasuna." Sekretaris itu segera memberi sapaan ketika melihat Sasori di depannya.
Sasori begitu senang. Bukan karena ia menyukai sekretaris itu. Tapi karena sapaan yang tidak ia dapatkan kemarin. "Selamat pagi. Saya ada janji dengan Hatake-sama jam 9 ini."
Sekretaris berambut coklat itu segera menghubungi Kakashi lewat telepon di mejanya.
"Silahkan masuk!" Hana, sekretaris itu, segera membukakan pintu dan membiarkan Sasori masuk sedangkan dirinya kembali ke meja sekretaris.
"Selamat pagi, Hatake-sama!" sebisa mungkin Sasori tersenyum walau enggan. Mood paginya hampir hancur melihat setelan bosnya itu yang memakai pakaian serba hitam seperti kemarin. Sasori yakin, gaji seorang direktur pastilah besar, tapi kenapa bosnya itu tidak memakai pakaian lain yang lebih elegan? Apa hanya kemeja hitam itu yang ia punya?
"Ah, pagi, Akasuna!" Masih disibukkan dengan beberapa lembar dokumen, Kakashi mempersilahkan Sasori duduk dengan gerak tangannya. "Wah penampilanmu berbeda dengan kemarin. Aku sempat tidak mengenalimu..." Kakashi yang sudah selesai memberikan stempel diatas dokumen-dokumen tadi segera mengalihkan perhatiannya pada Sasori.
"Apa saya terlihat berbeda, Hatake-sama?" Sasori bingung, padahal dia hanya mengubah gaya rambutnya. Apa ia terlihat lebih tampan atau lebih jelek?
"Ya, kemarin kau terlihat layaknya pengusaha, sekarang... coba kau memakai seragam SMA, pasti kau akan segera dikenal sebagai pelajar kutu buku hahaha~" Kakashi tertawa tanpa mempedulikan tatapan sangar Sasori. Beraninya dia mengejek pemuda Akasuna itu. Hampir saja Sasori menjambak rambut jabrik bosnya itu kalau dirinya tidak terkontrol.
"Maaf, Akasuna..." Kakashi sudah kembali seius walau dirinya masih tertawa pelan, "kau hanya terlalu rapi saja." Kakashi beralasan. "Tapi tetap ketampananmu masih terlihat." Sasori kembali segar mendengar penuturan Kakashi.
"Terimakasih, Hatake-sama."
"Ini salinan kontrak kerjamu." Kakashi memberikan map plastik hijau pada Sasori. "Dan ini kartu pengenalmu." Kembali Kakashi menyerahkan name tag dengan bagian foto yang masih kosong. Dibawah kolom foto itu tercetak nama jelas Sasori. Lambang M.E. memperindah name tag itu. "Kau hanya perlu menempelkan fotomu. Pakailah setiap kau bekerja dan selipkan di sakumu jika kau berada diluar." Sasori mengernyit bingung. "Kau tidak mau 'kan dikejar-kejar wartawan karena bekerja disini?"
Seolah mengerti akan jawaban Kakashi berupa tanda tanya, Sasori mengangguk paham. "Baik, Hatake-sama, saya mengerti."
KRING KRING
Kakashi segera mengangkat telepon cordless model JD-4C1CL berwarna putih itu. "Ya?" Kakashi terdiam sejenak mendengar penjelasan sekretarisnya diluar. "Hmm..."
Kakashi segera meletakkan kembali telepon nirkabel itu ketempat semula. "Akasuna, apapun yang terjadi nanti jangan terlalu kau pikirkan, ya..."
Sasori teramat bingung. Ia mengengangguk saja walau tak paham.
Belum semenit, pintu bahan jati itu terbuka lebar. Muncullah pemuda dengan goresan di hidung dan gadis jelita berambut pirang. Kakashi mendengus kasar, ia sudah biasa melihat kelakuan sang tamu berjenis kelamin perempuan itu yang selalu seenaknya duduk tanpa memberikan sapaan terlebih dahulu.
"Sttt Naru..." Iruka yang masih berdiri berbisik pada Naruto yang tengah menyamankan diri di sofa sebelah kiri pintu, bermaksud menyuruh gadis itu untuk berdiri dan memberikan salam, tapi Iruka diacuhkan.
Sasori yang melihatnya tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia hanya mendengus memperhatikan gadis berkacamata hitam itu yang duduk membelakanginya di sofa yang tak jauh dari meja kerja Kakashi.
"Sudahlah, Iruka... Biarkan gadis tak tahu image itu berbuat sesukanya." Kakashi segera menghampiri pria dengan pakaian kasual itu, Sasori mengikuti dari belakang.
"Selamat pagi, Hatake-sama!" Sapa Iruka sambil menjabat tangan Kakashi.
"Pagi!" Kakashi menjabat Iruka lama. Iruka merajuk, mencoba melepaskan genggaman Kakashi namun gagal.
"Huh!" Gadis pirang mendengus keras. "Sudah Naru duga alasan paman memanggil kami!"
"Hehehe~" Kakashi terkekeh nista. "Jangan ikut campur, Naru..." Jawab Kakashi dengan nada setengah bercanda. Sasori mencoba berpikir atas kelakuan atasannya. Kakashi melepaskan genggamannya tak rela. "Perkenalkan, Akasuna Sasori, pegawai baru disini." Tunjuk Kakashi pada pemuda di sampingnya.
"Halo, Akasuna. Saya Umino Iruka, senang bertemu dengan Anda." Iruka menjabat tangan Sasori.
"Senang berkenalan dengan Anda, Umino-sama."
"Panggil Iruka saja, jangan terlau formal."
Kakashi yang melihat senyuman Iruka cemburu. Apalagi genggaman tangan mereka belum terlepas. "Ayo, duduk!" Kakashi melangkah di depan dan memilih duduk di sofa single yang memang sudah seharusnya ia sebagai atasan duduk disana.
"Jadi ada apa paman memanggil Naru? Kalau tidak penting Naru per –" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Iruka yang duduk di sebelah kirinya menutup mulut Naruto dengan kedua tangan. Sasori yang duduk di sofa panjang di depan mereka bersikap tenang.
"Hahaha~ jangan terlalu dipedulikan." Iruka tertawa garing, masih membekap Naruto. "Silahkan Hatake-sama jika ada yang ingin dibicara..awww!" Iruka terlonjak kaget menyadari aksi Naruto menggigit jarinya. Walau tidak berbekas tapi gigitan pelan Naruto cukup sakit.
"Iruka kau tidak apa-apa?" Kakashi langsung berdiri menghampiri Iruka yang masih terduduk merintih sakit. Dengan cekatan, Kakashi mengusap lembut kelingking kiri Iruka yang terkena gigitan Naruto. Gerakan sensual Kakashi membuat Sasori yang tadinya panik langsung tertunduk lemas. Rupanya masih ada Orochimaru yang lainnya di kota ini!
"Sudah kuduga maksud terselubung paman!" Naruto berdecak tidak suka.
"Naruto, seharusnya kau minta maaf dulu pada Iruka!"
"Iya, maaf! Naru kesel sih dibekap-bekap gitu!"
"Tidak apa. Hatake-sama, jari saya sudah mendingan." Secara tak langsung Iruka menyuruh Kakashi untuk berhenti mengusap kelingkingnya, malu.
"Hah...kau ini Naruto!" Kakashi mimijit kepalanya kasar, pusing kenapa gadis yang waktu kecil sangat manis kini berubah menjadi liar.
"Apa?!" Naruto kesal disalahkan terus. "Paman ada apa sih manggil Naru kemari?"
"Apa masalah kontrak kerja?" Iruka menambahkan.
Kakashi yang kembali duduk di sofa single menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya ingin memperkenalkan manajer barumu, Naruto."
Pernyataan Kakashi membuat ketiga makhluk hidup selain dirinya bergumul dalam pikiran masing-masing.
"Jangan bilang artis yang dimaksud itu adalah gadis pirang tidak sopan ini!" Batin Sasori menjerit frustasi, berharap telinganya sedang bermasalah.
To be continued...
Balasan Review
Arafim123
hehehe makasih arafim udah dilanjut nih...reviewnya jangan lupa ya...
Askasufa
hahaha emang Orochimaru ini geernya minta ampun wkwk
bener sasori yang bekap si naru hehe ketebak banget ya?!
makasih banget udah nyemangatin author ^^ author seneng banget jadi tambah semangat nulisnya :)
Uzumaki megami
tenang...udah dilanjut kok :)
Namikaze minto
wkwk orochimaru kyknya pantesan dapet peran antagonis atau yang aneh" gitu ya cocok dgn imagenya...sippp udah dilanjut dan agak lama dari harapan author :( sempet hilang datanya&harus ngetik ulang nih
Yunata
okay udah dilanjut ^^
Lami
sippp selamat membaca...:)
Thanks a lot to:
yukiko senju l uzumaki megami l seizawa yulianto l askasufa l arafim123 l UzuNami Fuujin l AndryanSL l Namikaze Minto l Namikaze Otorie l Yunata l Lami
Makasih banyak buat yang udah review, follow, dan favorite story author :)
Love you all *love sign*
