Kisah tentang seorang selebriti papan atas yang dikenal cantik,anggun,dermawan,berbakat,dan etikanya yang patut diacungi jempol. Tapi dibalik semua itu...
NATION'S GODDESS
(Disclaimer: Masashi Kishimoto)
"Shit!"
"Prof, tenanglah."
"Sial! Beraninya anak itu mencampakkanku!"
"Prof –"
"Kabuto, cari keberadaannya sekarang juga! Kalau perlu buntuti dia dan laporkan malam ini juga!"
"Baik, Prof!" Patuh, Kabuto segera menunduk memberi hormat dan pergi dari hadapan Orochimaru.
Gundah dan merasa dikhianati, Orochimaru meneguk habis minuman keras yang ada di meja ruang tamunya. Keadaannya sangat buruk dengan mata yang kian memerah, ia menangis dalam diam semalaman.
"Sasori khekhekhe.." Raut wajahnya berubah menampilkan seringai licik. Orochimaru berjalan gontai menuju jendela lebar dengan pemandangan kota yang ramai. " Akan kupastikan kau tunduk padaku. Pasti!" Raut wajahnya kembali serius, matanya memandang tajam sudut kota.
I
I
I
I
"Huahhh kapan hari ini cepat berganti?!"
Iruka berjalan mondar-mandir di depan ruangan Kakashi. Hana yang melihatnya tak tahan, maklum ia wanita yang menjunjung tinggi tata krama. Inginnya memarahi Iruka tapi tak jadi, bisa saja malah ia yang disudutkan oleh Kakashi.
"Kenapa lama sekali, sih!" Iruka tak bisa tenang. Dua makhluk berbeda gender yang masih betah di dalam ruangan menjadi penyebabnya.
Sasori yang tadinya memilih duduk di pojokan menghampiri Iruka. Ia juga tak tenang. Apalagi mengetahui bahwa artis tak punya sopan santun itu yang akan ia asuh.
"Maaf, Iruka-san, apa akan terjadi sesuatu yang tidak baik di dalam? Kelihatannya Iruka-san begitu takut."
Iruka menunjukkan wajah tegangnya. Ia berhenti dengan aktivitas mondar-mandirnya. Sasori kaget saat mendapati kedua tangan Iruka menggenggam erat kedua sisi pundaknya.
"Ya. Ini sangat gawat!" Iruka menggelengkan kepalanya. Ia frustasi karena sudah puluhan menit mereka menunggu diluar dan dua makhluk keras kepala itu belum menampakkan wajah.
"Apa sebaiknya kita masuk saja, Iruka-san?" Sasori mendadak khawatir. Pikirannya parno, takut terjadi kasus kriminalitas di dalam ruangan Kakashi.
Iruka seolah mendapat pencerahan melepaskan genggamannya dan segera mendekat ke depan pintu. "Sasori-san, kau tunggu saja disini. Aku yang akan masuk."
Belum sempat Sasori mencegah, Iruka sudah membuka pintu besar itu. Sasori mendekati Iruka yang berdiri kaku. Hana seolah asik dengan kesibukannya di meja sekretaris, tahu situasi apa yang sedang dihadapi, Hana tidak ingin terlibat.
Nampaklah dua manusia berbeda gender yang tengah menatap tajam satu sama lain. Sasori dan Iruka yang berdiri di ambang pintu begitu waspada. Mereka sudah masuk ke area adu banteng rupanya.
"Pokoknya Naru tidak sudi ganti manajer! TITIK!"
"Aku bosmu, jadi menurutlah!"
Kembali kedua 'banteng' itu menatap tajam sembari menunjukkan keangkuhan mereka. Iruka tak bisa tinggal diam rupanya. Iruka hendak menghampiri mereka yang saling berhadapan dekat meja kerja Kakashi namun Sasori menahannya. Sasori tak tega rekan seniornya harus menghadapi amukan dua manusia kepala batu.
"Naru hanya mau paman Iruka yang menjadi manajer Naru. Kalau paman bersikeras menggantinya, Naru akan adukan pada nenek!"
"Khe..kau itu sudah besar masih saja cari perlindungan. Pantas saja kau tidak pernah dewasa!"
Naruto terdiam. Ingin membantah tuduhan Kakashi, ia berpikir bahwa perkataan pamannya ada benarnya juga. Tapi ia gengsi kalau harus setuju dengan pernyataan Kakashi.
Kakashi tersenyum kecil merasa kemenangan ada dalam genggamannya. Mengetahui Iruka dan Sasori berada dalam ruangan segera ia mengalihkan perhatiannya.
"Baiklah, Sasori, mulai saat ini kau resmi menjadi manajer gadis pirang ini." Kakashi tampak bahagia sedang Sasori tersenyum palsu.
"Cih!" Naruto memasang wajah masam.
"Iruka, mulai besok kau sudah bisa kembali ke posisi semula. Untuk hari ini, tolong berikan Sasori pelatihan langsung. Mengerti?"
"Baik, Hatake-sama!" Iruka memandang kearah Naruto yang masih memalingkan wajah. Sedih, Iruka yakin Naruto enggan berpisah darinya.
"Nah, rubah liar, bersikaplah penurut mulai sekarang dan berhenti bersikap manja." Kakashi mengelus lembut surai indah Naruto. Namun baru sebentar, Naruto menyingkirkan tangan besar Kakashi dan berjalan angkuh menahan amarah.
"Apa tak apa, Hatake-sama?" Iruka khawatir. Kakashi tersenyum di balik masker.
"Sasori, selamat bekerja! Aku percayakan Naruto padamu."
"Tentu, pak!" Diiringi Iruka, Sasori segera menunduk hormat dan keluar dari ruangan megah milik Kakashi.
"Naru..kuharap kau kembali seperti dulu." Kakashi bermonolog sembari bersandar di meja kerja.
I
I
I
I
"Ambilkan Naru minum!"
.
"Mana tasnya?!"
.
"Sudah Naru bilang mantel hijau ya mantel hijau!"
.
"Arghhh makanan ini terlalu pedas!"
.
"Bisa tidak sih lebih cepat?!"
.
"Jalan di depan, bukan di belakang Naru, kau penguntit ya?!"
.
"Astaga kenapa malah ini yang kau bawa?!"
.
"Sana! Jangan ikuti Naru!"
.
"Grrrr dasar menyebalkan!"
Klontang
"Haha sepertinya kau sedang marah besar ya, Sasori-san?" Iruka duduk di sebelah Sasori.
"Anda hebat, Iruka-san, menghadapinya selama berbulan-bulan."
"Kau terlalu memuji." Iruka membuka sebotol soda lalu meneguknya cepat. "Sama sepertimu, aku sangat marah saat dia memperlakukanku seenaknya, tapi lama-kelamaan kau akan tahu sifat lembutnya. Tinggal tunggu saja."
"Oh, pasti aku salah dengar." Sasori tak mau percaya apa yang dikatakan Iruka, buktinya saja belum ada. Ya, belum ada. Dan Sasori berharap tidak ada.
"Hah.." Iruka menghela nafas. "Naru itu baik kok."
Klontang
Iruka meniru Sasori. Botol minum yang sudah tandas isinya Iruka lemparkan tepat sasaran ke dalam kotak sampah di sebelah vending machine di depannya.
"Iruka-san, sebaiknya kita segera kembali ke mobil."
"Ya, ayo!"
Kedua pria itu melangkah santai menuju parkiran yang tidak jauh dari tempat vending machine berada. Keduanya tersenyum penuh arti melihat seorang gadis yang cemberut di luar mobil van hitam mengkilat.
"Siap-siaplah sakit telinga, Sasori-san."
"Anda juga, Iruka-san."
Gadis yang bersandar di pintu mobil mengalihkan perhatiannya kepada orang-oang yang ia tunggui sejak tadi. Kelingking kanannya membenarkan posisi kacamata hitam yang ia pakai.
"Wah-wah sepertinya kalian sudah sangat akrab ya~" Naruto tersenyum kecut. " Bahkan paman meninggalkan Naru disini."
"Benarkah?" Iruka menepuk pundak Sasori cukup keras menandakan akrabnya mereka.
"Ishhh paman!" Naruto merengut, ia hentakkan sepatu haknya kesal. Tadinya Naruto ingin membuat Iruka merasa bersalah membuatnya menunggu di parkiran tapi Iruka malah tak menggubris.
"Sudahlah, cepat masuk Naru! Kita kembali ke apartemen. Sudah larut malam." Iruka menggeser pintu penumpang.
"Iruka-san, Namikaze, saya naik taksi saja."
"Hah? Tapi Sasori-san, sebagai manajer Naru bukankah sudah seharusnya tinggal di apartemen Naru?"
Pria bersurai merah itu membelakkan mata, terkejut pastinya. "Ah, sepertinya saya belum tahu itu."
"Hei, kau ini gimana sih, masa itu saja gak tau! Atau pura-pura gak tahu? Naru yakin kau senang bisa tingggal bareng Naru."
"Naru, sopanlah!" Iruka memarahi Naruto yang sudah dalam posisi duduk nyamannya.
"Terserahlah, paman urus saja manajer baru itu!"
SREG
Pintu van hitam digeser keras oleh Naruto. Sasori tak habis pikir kenapa ada gadis seperti Naruto, bahkan harus menjadi manajernya. Dalam hidupnya, sudah ada dua gadis super menyebalkan yang ia temui. Semoga saja ia tidak bertemu dengan gadis menyebalkan lainnya.
"Maafkan Naruto, Sasori-san. Kadang Naru memang begitu."
"Sepertinya 'selalu', Iruka-san."
Iruka menggaruk rambutnya tak nyaman. "Kalau begitu biar saya saja yang menghubungi Hatake-sama. Besok Sasori-san sudah bisa tinggal di apartemen Namikaze."
"Apa harus begitu, Iruka-san?"
"Mau bagaimana lagi, sudah begitu peraturannya."
"Hah~ baiklah."
"Nah, Sasori-san, biar saya antar sampai depan."
"Tidak apa, Iruka-san. Saya sudah memesan taksi. Silahkan duluan saja."
"Baiklah. Hati-hati, Sasori-san!" Iruka memasuki pintu kemudi. Sebelum van hitam itu meninggalkan parkiran indoor studio Beste Germany, Sasori membungkuk hormat sembari tersenyum. Untunglah dia mendapat teman kerja seperti Iruka yang baik hati.
I
I
I
I
"Jadi anak itu sudah diterima di Maroon?"
"Betul, Prof."
"Apa posisinya?"
"Sejauh penyelidikan saya, ia bekerja sebagai manajer Nami, artis asuhan M.E., Prof."
Orochimaru melihat kembali foto-foto dengan fokus seorang remaja pria berambut merah. Jemarinya mengusap lembut wajah pemuda di foto itu.
"Tetap ikuti dia, Kabuto."
"Baik, Prof."
"Jangan lupa cari tahu dimana anak itu tinggal."
"Tentu, Prof, saya permisi."
Sepeninggal Kabuto, Orochimaru menagabadikan puluhan foto dengan berbagai sudut di dinding kaca sebelah tempat tidurnya. Ia pun tersenyum misterius.
"Lusa kita akan bertemu lagi. Jadi bersabarlah." Orochimaru memandang lekat salah-satu foto yang memperlihatkan dengan jelas wajah sang pemuda di depan studio Beste Germany.
I
I
I
I
Sasori membawa masuk barang-barangnya. Lebih tepatnya beberapa kardus cukup besar dan sebuah koper sedang ke dalam apartemen Naruto. Iruka berusaha membantu membawa masuk barang Sasori ke lantai atas, dimana kamar Sasori berada.
"Jangan sampai Naru terbangun." Iruka memberi instruksi pada Sasori untuk melangkah perlahan.
"Maaf, Iruka-san, aku merepotkanmu lagi."
"Haha tak apa. Ini barang terakhir, 'kan?" Iruka memimpin jalan di depan diiringi Sasori di belakangnya. Mereka berdua menaiki tangga keramik perlahan.
"Iya, Iruka-san."
"Jadi ini yang paman lakukan di pagi buta!" Naruto tiba-tiba muncul di depan kamar Sasori sembari melipat kedua tanganya. Naruto menguap lebar, tanda kantuknya belum hilang.
"Maaf, Naru, paman pikir kau tidak akan terbangun."
"Paman gak berisik. Tapi Naru bangun gara-gara bau kardus-kardus itu!" Naruto menunjuk kotak kardus dengan ukuran sama di kamar Sasori. Pemiliknya, Sasori, menahan kesal bukan main. Iruka saja tidak komentar apa-apa dan memang Sasori sengaja membeli kotak kardus di minimarket. Bau pun tidak tercium.
"Ayolah, Naru, ini masih pagi." Iruka yang sudah menaruh kardus di kamar Sasori berusaha menetralisir hawa permusuhan yang dikeluarkan Naruto.
"Biarin! Ini apartemen Naru. Jadi terserah Naru mau ngapain aja!"
"Maaf, saya akan segera membuang kardus-kardus itu." Penuh kesabaran, Sasori yang berpakaian rapi tersenyum pada Naruto. Sasori mencoba bersabar menghadapi sikap tak sopan Naruto.
"Huh!" Naruto berjalan kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Sasori. "Tuh, 'kan, detak jantung Naru jadi cepat. Ini pasti gara-gara kardus-kardus itu! Pasti banyak bakteri betebaran!"
"Sasori-san, tolong maafkan ketidaksopanan Naru."
"Tak apa, Iruka-san." Sasori mencoba bersikap tenang.
"Nah, ini jadwal Naruto. Aku harap Sasori-san dapat mengikutinya dengan baik. Jika ada perubahan atau hal lainnya, silahkan hubungi saja aku atau diskusikan dengan Hatake-sama." Iruka menyerahkan jurnal tebal berisi semua kegiatan keartisan Nami yang sudah disusun rapi.
"Terimakasih, Iruka-san." Sasori menunduk hormat.
"Kau ini.." Iruka tersenyum malu-malu, senang juga mendapat junior sebaik Sasori. "Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan, aku akan pergi ke M.E. dulu, Sasori-san. Semua keperluan sudah aku siapkan di bawah."
"Baik, Iruka-san. Sekali lagi terimakasih."
"Ya, jaga Naru baik-baik ya." Iruka menepuk sebelah pundak Sasori. "Aku berharap padamu."
Walau enggan, Sasori tersenyum pada Iruka. Menjaga Naruto? Sasori tak tahu harus bilang apa.
Sasori masuk ke kamar barunya setelah Iruka pergi. Mumpung masih pagi dan Naruto tidak ada jadwal pagi ini, Sasori berniat membereskan barang-barangnya.
"Ini terlalu luas..." Sasori mengambil posisi di lantai kamar. Kamarnya saja sudah semewah ini apalagi kamar Naruto. Sasori mulai berandai jika ia sudah memiliki cukup uang, akan ia beli apartemen yang lebih bagus daripada apartemen yang ia tinggali bersama sang nenek. "Aku harus menghubungi nenek nanti."
"Hai, manajer!" Naruto yang masuk tanpa bersuara membuat Sasori kaget. Tadi Sasori memang membuka pintunya, tapi harusnya Naruto mengetuk dahulu jika memang Naruto masih mempunyai kesopanan.
"Ada apa, Namikaze?" Sasori berdiri, cukup jauh jaraknya dari pintu.
"Bagaimana kamarnya, manajer? Bagus?" Naruto bertanya sedikit mengejek.
"Ya, begitulah, Namikaze." Jawab Sasori tak kalah ketus.
"Cih! Terserahlah. Naru kemari untuk menjelaskan beberapa hal yang pastinya sangat penting!" Naruto antusias. Sasori yang mendengarnya malas menanggapi. "Jadi yang paling penting jangan pernah berani melakukan hal-hal tidak senonoh sama Naru. Ingat itu!"
"Hahaha.." Sasori tertawa tertahan.
"Apanya yang lucu?!"
"Tidak, silahkan lanjutkan Namikaze."
"Lalu jangan berani-berani menyentuh barang-barang pribadi Naru, kecuali Naru suruh. Lalu..apalagi ya?" Naruto berpikir sejenak. Sebenarnya Naruto pun tak tahu kenapa tiba-tiba ia ingin ke kamar Sasori namun karena sudah keburu masuk jadi Naruto beralasan untuk memberitahu peraturan-peraturan di apartemennya. Naruto sendiri belum menyiapkannya, alhasil ia harus mengarang bebas dan malah menemui jalan buntu.
"Lalu apalagi, Namikaze?"
"Yah, intinya jangan berani seenaknya di apartemen Naru! Peraturan yang lainnya akan Naru pikirkan dulu! Ingat, ada CCTV 24 jam disini!" Naruto bergegas keluar.
"Apa dia pikir aku sedang numpang tinggal?!" Sasori heran sendiri.
I
I
I
I
"Kau hebat juga, Kakashi, aku saja tak bisa melawan gadis itu."
"Hmm sudah kubilang Naru itu sebenarnya penurut. Kau saja yang tak bisa mengatasinya haha~"
"Sialan kau!"
"Bilang saja kau iri padaku!"
"Mana mungkin!" Tobirama melemparkan koran yang sedang ia baca tepat mengenai kepala Kakashi yang duduk berhadapan di sofa kantornya.
"Galak sekali!" Kakashi malah sengaja membaca koran yang Tobirama lemparkan. "Mirip dengan Naru."
"Huh memangnya kenapa? Urus saja pacarmu sana!"
"Hah~ justru aku menemuimu karena Iruka sibuk dengan kerjaannya. Kau sendiri bagaimana hubungan dengan sekretaris kesayanganmu, hah?" Kakashi berkedip genit, menggoda Tobirama.
"Pelankan suaramu, Kakashi!" Tobirama mendadak salah tingkah. Mau ditaruh dimana mukanya yang kaku itu kalau Mei sampai tahu ia memendam perasaan padanya. Tsundere.
"Dasar payah!" Kakashi melempar balik koran tadi kepada sang pemilik. Tobirama refleks menangkapnya.
"Jadi siapa manajer baru Naru? Dia wanita yang baik, 'kan?"
"Wanita?" Kakashi terdiam sejenak membuat Tobirama penasaran. "Yah sepertinya pemuda itu akan sangat cantik jika didandani."
"KAU GILA!"
I
I
I
I
Seorang gadis melangkah cepat menyusuri koridor gedung kaca yang luas. Dalam genggamannya terdapat beberapa majalah dari penerbit yang berbeda. Rambut uniknya yang merah muda tergerai lurus sedikit bergelombang di ujung. Wajahnya yang sebenarnya cantik tersamarkan sebab gadis tinggi semampai itu sedang kesal.
Tiba di sebuah ruangan, gadis itu segera membuka pintu dengan tangan kirinya. Terlihatlah beberapa gadis lain tengah asik latihan menari di studio dance itu.
"Guys..lihat ini!" Gadis berambut pink melemparkan majalah-majalah yang ia bawa tadi penuh amarah keatas sofa di pojok ruangan. Teman-temannya segera mengerubuni.
"Kenapa, sih, datang malah marah-marah..."
"Kau baca sendiri, Shion! Si menyebalkan itu beraninya merebut hot topic yang harusnya kita tempati!"
"Maksudnya siapa, Sakura?" Gadis dengan poni pirang panjang bertanya pada rekannya yang datang dengan wajah masam.
"Oh, aku tahu! Pasti si pirang itu, 'kan?!" Sosok berambut merah yakin dengan tebakannya.
"Hei!" Kedua temannya yang berambut pirang merasa kesal.
"Maaf, maaf, maksudku bukan kalian, tapi si Nami! Benar, Sakura?"
"Yup.."
Majalah-majalah ternama yang tadi dibawa dipenuhi dengan wajah cantik Naruto yang mengiklankan produk Beste Germany. Keempat gadis itu memandang kesal artikel-artikel yang menjadikan Naruto sebagai hot topic.
"Sebal! Kenapa sih dia muncul lagi!"
"Setuju, Ino!" Sakura memandang geram salah-satu majalah yang menjadikan Naruto model di cover -nya.
I
I
I
I
"Namikaze, jam 15.00 nanti akan ada interview singkat dengan Bold Magazines. Lalu jam 16.30 rapat dengan Senju Tobirama. Jadwal hari ini hanya itu saja. Apa Namikaze ingin bertanya?"
Naruto berbaring tenang di ruang tamu apartemennya. Sasori yang merasa diacuhkan berniat mengulang kembali perkataannya. "Namikaze –"
"Iya-iya Naru ngerti kok." Sasori tersenyum senang merasa menang. "Sekarang tolong pesankan fried chicken sama bubble soda!"
"Maaf, Namikaze, tapi pagi tadi Anda sudah memesan junk food. Apa tidak ada makanan lain yang lebih sehat yang Namikaze mau?"
"Aduhhh cerewet sekali! Naru yang makan ini!"
"Tidak bisa, Namikaze."
"Bisa!"
"Maaf, tapi tetap tidak bisa."
"Naru bilang pesan ya pesan! Susah sekali!" Naruto berdiri dari duduk santainya, ia merebut HP Sasori. "Sini! Biar Naru yang telpon!"
Sasori tak kalah cepat merebut kembali HP miliknya. "Sopanlah, Namikaze!" Sasori mulai emosi.
"Hei, kau itu hanya manajer! Beraninya membentak Naru!"
"Dan saya bekerja sebagai manajer, bukan perantara pesan-antar."
"Manajer tidak tahu malu!"
"Artis tidak sopan!"
"Apa? Kau bilang apa?!"
"Artis tidak sopan."
Naruto menatap nyalang manajer barunya. Baru hari kedua bekerja sudah membuat Naruto –yang seharusnya tidak mudah dibantah– naik pitam.
"Beraninya kau!"
"Saya akan pesankan makanan lain, Namikaze!" Sasori berlalu meninggalkan Naruto yang gemetar karena kesal.
"Woy manajer gak tahu malu!" Mencoba memanggil Sasori tapi sosoknya tak kunjung datang. "Awas kau!"
I
I
I
I
"Sui, lo yakin itu Nami?" Juugo duduk tepat di bangku kosong sebelah Suigetsu.
"Nanya terus! Ia gue yakin dia Nami-chan!" Suigetsu kembali membayangkan pertemuan tak terduga dengan idola paling hot di negaranya. "Aslinya cute banget!"
"Aishhh beruntung banget lo!" Shino kecewa.
"Trus ngapain Nami-chan ada di kampus kita? Gue penasaran." Hidan berpikir keras begitu pula dengan ketiga temannya, menduga-duga alasan kehadiran Naruto di kampus tercinta.
"Jangan-jangan Nami-chan bakal kuliah disini? Temen-temen lain pada ngomongin gitu."
"Masa iya, Shin? Artis biasanya home schooling kali!" Jawab Juugo tak setuju.
"Mungkin aja, sih." Hidan menanggapi.
"Kalau tebakan gue bener, pasti Nami-chan bakal ke kampus lagi nemuin gue!" Suigetsu terlalu percaya diri.
"Najis lo!" Serempak ketiga temannya.
Mereka mulai berandai-andai lagi di bangku taman, memikirkan sosok gadis pujaan hati mereka. Suigetsu senyum-senyum sendiri mengingat betapa lucu pertemuannya dengan Naruto. Sayang, Suigetsu kehilangan jejak saat Naruto kabur.
I
I
I
I
"Namikaze! Buka pintunya!"
"Gak! Buka aja sendiri!"
Luar biasa. Sasori dibuat jengkel oleh Naruto si pembangkang.
"Cepat keluar, Namikaze!"
"Makanya kalau Naru bilang apa tuh turutin, manajer!"
Sasori mencoba sekali lagi membuka pintu salah-satu bilik toilet namun nihil, Naruto sudah menguncinya. Sasori melihat arloji hitam di pergelangannya.
"Namikaze, tinggal 10 menit lagi sebelum interview dimulai. Tolong keluarlah!"
"Rasakan!" Naruto tertawa pelan, ia berhasil mengerjai manajer barunya.
"Aneh. Harusnya semua orang tahu kelakuanmu yang sebenarnya. Artis macam apa yang tidak konsisten dan bermuka dua."
CKLEK
"Dasar gak sopan!" Naruto yang kesal dikatai Sasori langsung keluar dan berhadapan langsung dengan manajer barunya. "Panggil aku 'Namikaze'! Manajer gak profesional!"
"Kau sendiri yang mulai." Sasori kelepasan sudah. Tidak sanggup bersikap sopan lagi pada gadis menyebalkan di depannya. Toh, gadis itu yang mulai duluan.
"Namikaze! Panggil aku begitu! Bukan 'kau', manajer!"
"Baik, asal kamu bersikap sopan juga!"
"What? Naru gak sudi!"
"Kau memang bermuka dua!"
"Atas dasar apa kau bilang begitu?!" Naruto menunjuk-nunjuk Sasori yang masih bersikap tenang.
"Image-mu dengan kenyataan aslinya, berbeda jauh. Kasihan sekali mereka sudah tertipu. Gadis anggun apanya.."
"KAU KUPECAT!" Naruto hilang kendali.
"Maaf, tapi kau tidak berhak memecatku."
"Manajer gak tahu malu! Pergi!" Naruto mendorong Sasori keluar dari toilet perempuan.
"Aku tunggu di R5. Terserah kau datang atau tidak, karirmu ada ditanganmu sendiri!"
BRAK
Naruto membanting pintu sekeras-kerasnya. Ia hentakkan kakinya. Ia marah sekali karena perkataan manajernya.
"Semua artis juga seperti Naru! Dasar manajer gak tahu apa-apa! Gak sopan!" Naruto melampiaskan kekesalannya di toilet yang untungnya sedang kosong. "Naru juga –" Naruto meneteskan air mata, " –tidak ingin seperti ini!"
I
I
I
I
Sasori merapikan rambutnya yang acak. Ia masih menunggu Naruto di luar ruangan tempat interview diadakan. Kru dari Bold Magazines, majalah ternama di Jepang, sudah berada di dalam. Sasori panik karena Naruto belum datang, atau mungkin tidak akan datang.
"Sasori-san, wawancaranya akan dimulai tiga menit lagi." Seorang asisten mengingatkan Sasori.
"Ah, ya."
Asisten itu pun pergi, masuk kembali ke dalam ruangan bertuliskan R5.
"Apa aku keterlaluan, ya?" Sasori menanyai dirinya sendiri. Saat di toilet tadi Sasori sangat marah karena kelakuan Naruto. Ia tahu sedang dikerjai, tapi nasi telah menjadi bubur. Sasori tak bermaksud melukai hati Naruto apalagi menjelekkannya. Dasar saja Naruto begitu keterlaluan sehingga Sasori mengeluarkan uneg-unegnya. "Argh masa baru dua hari bekerja aku dipecat?"
"Sasori-san, Nami-chan, eh, maksud saya Namikaze sudah berada di dalam." Seorang asisten perempuan mengabari Sasori. Sasori terbangun dari lamunannya dan tersenyum.
"Kapan dia masuk?" Sasori bertanya dalam hati. Segera ia masuk ke dalam ruangan yang hanya berisi jajaran sofa melingkar dengan dekorasi klasik.
"Ehm Namikaze –" Sasori salah tingkah, ia menghampiri Naruto yang sedang bersiap-siap.
"Ya?" Sasori kaget, Naruto tersenyum begitu manis.
"Oh, itu –" Sasori takjub dengan perubahan mimik Naruto. Pasti untuk menjaga image-nya, Naruto tidak mengeluarkan taringnya. "Ah, Namikaze, jika ada pertanyaan seputar kehidupan pribadi –"
"Naru tahu, kok, manajer." Potong Naruto dengan suara merdunya. "Oh iya, manajer..."
"Ya?"
"Tumben memanggil dengan 'Namikaze'~" Naruto masih tersenyum walau matanya menunjukkan permusuhan.
"Ha..haha.." Sasori tertawa kaku sembari menggaruk lehernya. "Benar dugaanku."
"Oke, Nami-chan, silahkan duduk dimanapun kau suka." Wartawan dari Bold Magazines duduk bersebrangan dengan Naruto. Sesekali kameramen mengambil gambar.
"Perkenalkan, saya Anko, ah Nami-chan masih ingat, 'kan?" Sang wartawan wanita tersenyum simpul.
"Tentu. Anda pernah mewawancarai saya juga ketika debut film pertama saya."
"Ternyata Nami-chan masih ingat, saya sangat senang." Anko dan Naruto saling tersenyum. "Tak apa, 'kan jika saya memanggil Nami-chan saja?"
"Anko-san, silahkan saja."
"Nah, Nami-chan, baru-baru ini Anda menjadi model iklan Beste Germany. Bagaimana perasaan Nami-chan mengetahui menjadi ikon produk bergengsi dari negara luar?"
"Tentu sangat senang. Dipercayakan menjadi bintang iklan saja saya benar-benar terkejut. Untungnya produk yang saya iklankan itu laris, kalau tidak –" Naruto memberi jeda.
"Haha~ Nami-chan terlalu khawatir. Saya rasa produk apapun yang Nami-chan iklankan itu pasti akan laku."
"Terimakasih, Anko-san." Naruto tersenyum malu-malu.
"Hebat sekali dia. Coba senyumnya itu bukan senyum palsu." Sasori yang menyimak wawancara off-air dari sudut mendengus tak percaya Naruto bersikap sebaik itu. Walau enggan, Sasori mendengar semua isi wawancara itu dengan seksama.
Wawancara sudah berlangsung 20 menit yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar karir Naruto. Dari mulai iklan pertamanya semenjak hengkang sebulan sampai rencana karirnya ke depan. Sasori yang masih berdiri mulai bosan.
"Nami-chan, baru-baru ini saya dengar Anda pernah mengunjungi Universitas Konoha. Apa Nami-chan ada kegiatan disana?"
Naruto terdiam, bingung harus menjawab apa. Sasori yang melihatnya bingung juga. Apa itu menyangkut kehidupan pribadi Naruto? Sasori yang masih pemula tak tahu harus berbuat apa.
"Itu –" Naruto memandang Sasori. Entah kenapa Naruto merasa pernah melihat wajah Sasori.
"Ah, maaf, apa pertanyaan barusan terlalu pribadi?" Anko tersenyum penuh arti. Jika Naruto tak menjawab, itu akan menjadi tanda bahwa ada 'sesuatu' yang disembunyikan Naruto.
"Saya hanya mengunjungi seorang kerabat disana."
"Benarkah? Apa dia pekerja disana atau..mahasiswa disana?" Anko bertanya penuh selidik.
Sasori yang mulai merasa kehidupan sang artis diungkit menghampiri Anko. "Anko-san, terimakasih sudah berkunjung kemari. Sepertinya wawancara ini hampir melewati batas." Sasori melirik arlojinya beralasan bahwa waktu wawancaranya sudah habis.
"Oh, maafkan saya, Nami-chan." Anko tersenyum penuh arti. "Terimakasih telah bersedia untuk diwawancarai."
"Sama-sama, Anko-san." Naruto dan Anko tersenyum berbalasan sembari berjabat tangan.
Para kru Bold Magazines membereskan peralatannya bersiap meninggalkan salah-satu ruang pertemuan di gedung M.E. itu.
Anko sang wartawan berusaha mengorek informasi dari Naruto di luar ruangan. Naruto tampak gusar karena Sasori, selaku manajernya, malah berada di dalam ruangan dan entah sedang melakukan apa.
"Nami-chan, senangnya bisa bertemu langsung denganmu lagi."
"Benarkah?" Tanya Naruto yang malas menanggapi. Ia masih melirik sekeliling mencari sang manajer.
"Tentu saja." Anko yang merasa diacuhkan Naruto kembali bertanya. "Nami-chan sedang menunggu manajer ya?"
Naruto pusing dibuat Anko. Bisa saja Naruto segera pergi dari situ. Tapi image-nya akan hancur jika pergi tanpa alasan yang jelas. Beralasan ke toilet pun tak bisa. Anko mungkin akan mengikutinya dan malah bebas bertanya ini-itu.
"Ah, manajer!" Naruto senang Sasori akhirnya datang.
"Maaf, Namikaze, tadi saya membereskan barang-barang dulu."
"Tak apa." Naruto berkedip mengisyaratkan agar segera pergi dari sana.
Sasori yang mengerti bahwa ada Anko segera menunduk. "Kami permisi, Anko-san."
"Ah, baiklah. Sampai jumpa!"
Naruto tersenyum, senang berpisah dari Anko.
.
"Apa wartawan tadi menanyakan sesuatu?" Tanya Sasori sembari berjalan di koridor panjang menuju lift.
Menyadari keberadaan Sasori disampingnya, Naruto memberi jarak. "Kau lama sekali!" Naruto membentak pelan Sasori, tak mau orang lain mendengar.
"Hah..kembali ke jati diri sebenarnya." Ejek Sasori.
"Awas saja, Naru akan buat perhitungan!"
Kesal karena Sasori mengacuhkannya, Naruto mencubit gemas pipi Sasori kiri-kanan bergantian.
"AWWW!"
"Manajer imut deh, Naru kagum~" Naruto segera berlari menuju lift, takut Sasori akan membalasnya.
"Namikaze." Suara berat Sasori bergema sepanjang koridor. Naruto sukses membuat kedua belah pipi Sasori memerah.
"Wekkk!" Naruto menjulurkan lidah mengejek Sasori. Naruto dengan sigap masuk ke dalam lift lalu memencet tombol close namun Sasori keburu menahannya.
"Kumaafkan kali ini saja." Sasori menyusul Naruto yang sudah berada dalam lift tanpa membalas. Segera ia memencet lift menuju lantai satu.
"Eh?" Naruto heran.
"Ngomong-ngomong kau ngapain ke Universitas Konoha?"
"Untuk apa nanya-nanya?" Tanya Naruto ketus.
"Kalau gak jawab juga gak masalah."
"Ya sudah."
Hening. Keduanya yang biasanya bertengkar sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Maaf."
"Ya?"
"Tak akan kuulangi."
"Tapi Naru gak denger!" Penasaran, Naruto menggoyangkan lengan kanan Sasori berniat membujuknya.
"Untuk kata-kataku di toilet tadi aku minta maaf." Sasori membuang muka, tak percaya dirinya meminta maaf duluan.
Bola mata Naruto yang berwarna biru melebar. Benarkah manajernya mengucapkan kata yang bahkan Naruto jarang ucapkan?
"Berhenti melihatku seperti itu!" Sasori risih menyadari Naruto terus memandanginya.
"Buahahahahha~~"
Sasori menutup kedua telinganya. "Hentikan ketawamu!"
"Jadi karena merasa bersalah paman gak membalas cubitan Naru? Hahaha~"
"Aku belum tua, jangan memanggilku paman!"
Masih tertawa, Naruto berusaha mencubit pipi Sasori namun dengan sigap Sasori menggagalkannya. Tak mau kalah, Naruto mencoba lagi dan lagi namun tetap gagal.
"Berhenti!" Sasori sudah malas meladeni Naruto.
"Baiklah~" Naruto menghentikan keusilannya namun masih tertawa tertahan.
"Bukankah kau juga harus minta maaf, Namikaze."
"Untuk apa?"
Sasori mendekatkan wajahnya kearah Naruto yang lebih pendek darinya. "Untuk bersikap tidak sopan dan suka seenaknya!"
"Uhuk!" Tiba-tiba Naruto terbatuk. Dadanya sakit tak tahu karena apa.
"Jangan mencoba menghindar!" Sasori mendekatkan lagi wajahnya, memandang intens Naruto.
"Sesak!" Naruto memukul dada bidang Sasori yang ada di depannya.
"Hei, kau ini sedang bercanda?!" Sasori tetap tidak percaya perkataan gadis ingusan itu.
"Sakit!" Naruto memegang dadanya tepat dimana letak jantungnya berada. "Tolong, Naru ingin keluar!"
Mendadak Sasori panik. Ia menekan tombol open, lift terbuka di lantai lima. Naruto berlari keluar disusul Sasori.
"Kau tak apa?" Sasori menepuk pundak Naruto yang berbalut mini dress peach bercorak bunga aster.
"Hosh hosh..jantung Naru cepat sekali!"
"Kau punya penyakit jantung?" Sasori semakin khawatir.
Naruto memandang kesal Sasori. "Seenaknya!" Bantah Naruto yang mulai bernafas teratur. "Pasti lift itu banyak bakterinya!"
"Bakteri?" Ulang Sasori.
"Iya! Buktinya Naru jadi sesak begini!" Naruto bersandar di samping lift.
"Kalau iya pasti aku juga kena, dong?"
"Mana Naru tahu! Naru itu sensitif tahu tidak sepertimu!"
"Kau mulai tidak sopan lagi, Namikaze!"
Sadar dimana mereka berada, Naruto tidak membalas perkataan Sasori. Gawat jika ada yang mengetahui Naruto sang primadona marah-marah dan bertengkar dengan manajernya sendiri.
"Naru mau pakai tangga saja!"
"Kau yakin?"
"Sana! Pakai lift!" Naruto berjalan meninggalkan Sasori yang menganga tak percaya.
"Aku manajermu, jadi aku akan ikut." Sasori berjalan di belakang mengikuti Naruto yang mencari pintu darurat. "Tidak lewat tangga biasa saja?"
"Lalu orang-orang melihat Nami yang berkeringat dan pucat-pasi, begitu?"
"Ah, benar juga."
"Huh!" Naruto melanjutkan jalannya. Sasori mengikuti dari belakang, agak kasihan melihat sang artis yang mulai kecapaian menuruni tangga.
"Kalau capek istirahat dulu."
"Bilang saja kau yang lelah!" Naruto baru sampai di lantai tiga sudah tak kuat lagi. Dressnya basah oleh keringat. Peluh di wajah cantiknya membuat Sasori khawatir.
"Naiklah!" Sasori berjongkok di depan Naruto.
"Gak usah!"
"Cepatlah!"
"Kau yakin?"
"Iya."
Naruto yang memang sudah sangat lelah lantas mengambil posisi di belakang punggung Sasori. "Awas kalau kau berani menjatuhkan Naru!"
"Asal kau bisa diam saja." Sasori melingkarkan tangannya di betis Naruto. Naruto agak risih karena pertama kali di gendong dalam posisi seperti itu. Oleh pria yang baru dikenalnya pula.
"Hati-hati!"
"Hmm.." Sasori mulai menuruni anak tangga. Naruto gelisah takut terjatuh, ia melingkarkan tangannya di leher Sasori.
"Hei kau mau membuatku pingsan?!" Tuduh Sasori melihat gadis pirang itu seenaknya melingkarkan erat tangannya.
"Maaf-maaf~" Naruto sedikit meregangkan tangannya.
"Ternyata kau bisa bilang 'maaf' juga, ya." Sasori tersenyum.
"Ishhh.." Karena takut terjatuh, Naruto hanya merengek, tak jadi menendang Sasori yang mengatainya.
"Khe~ lucu juga."
"Apanya yang lucu?"
"Bukan apa-apa."
Jantung Naruto mulai berdetak cepat, lagi. "Uh!"
"Kenapa lagi?"
"Sesak!" Salah-satu tangan Naruto memegang dadanya.
"Jangan dilepas! Kau bisa jatuh!" Larang Sasori.
"Cepat turunkan Naru!"
"Sebentar." Sasori berusaha secepat mungkin sampai di anak tangga terakhir, namun Naruto yang tak bisa diam membuat Sasori kehilangan keseimbangan.
"KYAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
.
To be continued...
Thanks a lot to:
yukiko senju l uzumaki megami l seizawa yulianto l askasufa l arafim123 l UzuNami Fuujin l AndryanSL l Namikaze Minto l Namikaze Otorie l Yunata l Lami l Makaron126 l Uzumaki Hana l InmaGination l novizuliana27 l filia l Yagami Luvy l Uchiha Lovers l paruru l yamasaki sasuke l Mimi Auziri l Dianfusiotsnakoh l Sabaku No Dili l arrasya l yan92is1 l zia huang
.
.
Untuk readers yang udah review, follow, dan favorite story author makasih banyak :)
Balasan review ditunggu ya di chapter selanjutnya..
Maaf karena author lama update hehe semoga gak bosen deh nunggu chapter 4 ^^
Love you all 3
