Sebuah Remake dari novel karya Shanti Agatha dengan judul From The Darkest Side

.

Disclaimer

Ide cerita dan sebagian besar cerita diambil dari novel aslinya dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.

.

Title :

From The Darkest Side

Cast :

Cho Kyuhyun as Namja

Lee Sungmin as Yeoja

Marcus Cho as Namja

And other cast

Warning :

GS, Typos, de el el

.

.

Chapter 3

Sungmin bermimpi. Dia ada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orang tua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara music dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh rendah di telinganya.

"Sungmin, jangan kesitu," suara neneknya terdengar memperingatkan.

Sungmin mengernyit. Neneknya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati neneknya berdiri dibelakangnya, neneknya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak lebih muda.

Dengan bingung Sungmin mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil neneknya. Disana berdiri seorang anak, mungkin delapan tahun, kurus dan agak canggung, itu adalah dirinya yang masih berumur delapan tahun!

"Jangan bermain terlalu jauh Sungmin, halmoni tidak mau kamu tersesat, disini sangat ramai," sang nenek menggandeng tangan Sungmin kecil, lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak dipinggir taman.

"Duduk di sini dulu, halmoni akan membelikanmu es krim," kata sang nenek sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka. "Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing, kalau ada apa-apa teriak saja, halmoni pasti akan mendengarnya."

Sungmin kecil mengangguk tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat.

Sungmin tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar dibenaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan.

Tiba-tiba Sungmin kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh.

Sungmin langsung panic.

Hey.. kembalilah, kau bisa tersesat!

Dengan gugup Sungmin menoleh kearah sang nenek yang sedang antri di stan es krim. Dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar, setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, akhirnya Sungmin memutuskan untuk mengikuti Sungmin kecil.

Sungmin kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah Sungmin berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggir taman, berlokasi di bagian belakang stan yang sepi.

Sungmin pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan. Disana ada sosok lelaki tinggi dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan karena baru saja berkelahi, rambutnya yang sedikit lebih panjang daripada seharusnya menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya. Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah… dan di depannya tergeletak sosok lelaki lain besar dan berpakaian kusam, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau, sosok itu tidak bergerak. Mati.

Lelaki tampan itu menoleh dan melihat Sungmin kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti neneknya tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Sungmin, dan entah bagaimana Sungmin seolah-olah terpaku, hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Halo nak," sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona. "Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku.

Sungmin kecil mengerutkan keningnya, "Aku bersama halmoni tadi… Apakah kau membunuhnya?" tanyanya dengan suara kekanak-kanakan.

Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli. "Dia pantas mati, dia tadi berusaha merampokku dengan pisau, jadi aku membunuhnya dengan pisaunya sendiri, manusia seperti itu tidak pantas hidup."

Sungmin kecil menatap lelaki itu tanpa takut. "Kau tidak lapor polisi?" tanyanya polos.

Lelaki itu langsung tertawa. "Polisi? Apa yang bisa dilakukan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang," ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Sungmin kecil.

Lari! Ayo lari!

Sungmin berusah berteriak, memperingatkan Sungmin kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku.

Lelaki itu lalu berjongkok di depan Sungmin kecil. "Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga."

Sungmin kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu, tatapannya terarah pada darah dibahunya. "Kau terluka," gumam Sungmin kecil.

"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah,"Oh… Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket," sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.

Tanpa di duga Sungmin kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari sakunya.

"Bisa di obati dengan ini? Halmoni selalu menutup lukaku yang berdarah dengan ini."

Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja bisa, terima kasih." Sambil masih tersenyum dia mengambil plaster itu dari tangan Sungmin dan memasukannya ke saku, "Siapa namamu nak?"

"Lee Sungmin." Jawab Sungmin polos.

Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Sungmin kecil.

"Lee Sungmin… dan kau bilang sedang bersama halmonimu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari untuk melihatmu," lelaki itu mengamati Sungmin dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya, "hmm… sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya halmonimu bisa menemukanmu."

Sungmin menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Sungmin kecil seperti yang dikatakannya tadi.

Tangan Sungmin kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru-buru Sungmin mengikuti mereka berdua.

Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Sungmin kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan sungmin kecil. "Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum.

Sungmin kecil menganggukkan kepalanya.

Lelaki itu memejukan kelingkingnya, "Janji?"

Sungmin kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu. "Janji."

Dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan. "Kalau begitu selamat tinggal Sungmin. Tapi aku janji kita akan bertemu lagi, dan saat kita bertemu, kau akan menjadi milikku, jangan lupakan itu." Gumamnya sambil melangkah menjauh.

Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Sungmin.

Sungmin langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung kearahnya! Apakah dia menyadari kehadiranku?

Tatapan mata Sungmin menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut cokelat bergelombang itu… mata cokelat itu… semuanya tampak lebih muda, tetapi Sungmin mengenalinya.

"Kyuhyun…?" gumamnya ragu.

Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Kyuhyun yang begitu dingin. "Bukan sayang, panggil aku Marcus."

.

.

Sungmin tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini.

Tapi lalu dia sadar, ini di kamar tamu rumah Kyuhyun, calon ayah tirinya.

Dengan gugup Sungmin mengusap keringat didahinya, mimpi itu… mimpi itu terasa begitu nyata sekaligus aneh, tapi Sungmin tidak tahu apakah itu kenangan masa kecilnya atau Cuma mimpi…

Sungmin duduk ditepi ranjang lalu menuang air kegelas dari teko yang terletak disamping ranjang. Setelahmeminum seteguk air dia memejamkan mata.

Perasaannya tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menungggu sesuatu terjadi. Tetapi sesuatu apa?

Dengan putus asa Sungmin mengernyit, mengingat mimpi anehnya tadi. Benar-benar mimpi yang aneh…

Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Sungmin membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.

Itu pasti cuma mimpi aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya sendiri. Itu cuma mimpi.

Tapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang dibenaknya.

"Kau milikku Sungmin, jangan lupakan itu.."

.

.

Sungmin terbangun di dini hari yang temaram.

Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.

"Masuk," Sungmin mengernyitkan kening, siapa yang mengetuk pintu sepagi ini?

Ternyata yang masuk adalah seorang pelayan, masih muda seumurnya dan kelihatan agak gugup.

"Nona Sungmin, saya di perintahkan untuk melayani anda,"

Sungmin mengernyit, melayaninya? Seumur-umur dia tidak pernah dilayani oleh siapapun, apalagi oleh pelayan.

"Tidak usah… saya bisa semuanya sendiri," Sungmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari tasnya. Untung saja dia membawa pakaian ganti, Soonkyu sudah mengingatkannya akan kemungkinan mereka menginap di akhir pecan ini.

Tapi di mana tasnya itu?

Pelayan wanita itu seolah tidak peduli dengan perkataan Sungmin, dia melangkah menuju lemari pakaian indah yang berwarna putih.

"Saya akan menyiapakan perlengkapan mandi nona, dan ini… semua pakaian nona sudah di siapkan disini," dia lalu membuka lemari itu.

Sungmin ternganga.

Di dalam lemari itu terdapat banyak gaun dan pakaian, mungkin puluhan dan semuanya di gantung dengan rapi dibalik plastic pembungkus yang masih baru. Tidak mungkin kan semua pakaian itu untuknya? Pelayan itu pasti salah.

"Ti… tidak mungkin pakaian-pakaian ini untukku. Kau pasti salah." Sungmin berusaha mengatasi rasa gugupnya. "Mungkin… mungkin ini untuk ibuku?"

Dengan tegas pelayan itu menggeleng. "Saya mendapat instruksi langsung oleh kepala pelayan. Mari, saya akan menyiapkan air dan peralatan mandi anda."

Sungmin sebenarnya ingin membantah. Tidak mungkin kan Kyuhyun menyiapakan pakaian baru sebegitu banyak untuknya? Dia kan hanya tinggal disini selama akhir pekan, apakah Kyuhyun tetap berpendapat Sungmin akan tinggal bersama mereka setelah pernikahannya dengan Soonkyu? Tapi, meskipun Kyuhyun berpendapat begitu, lelaki itu kan tetap saja tidak perlu menyiapkan baju sebanyak itu.

Pelayan itu pasti salah, Sungmin memutuskan. Semua baju itu pasti untuk Soonkyu. Sungmin mengernyit ketika membayangkan kemarahan Soonkyu atas kesalahan ini. Ibunya itu sangat posesif. Egois dan posesif, dan Soonkyu pasti tidak akan suka kalau Sungmin memakai salah satu baju yang disiapkan untuknya.

"Aku… aku ingin memakai bajuku sendiri, kau tahu tidak dimana tasku? Sepertinya kemarin aku meletakkannya di atas meja.

Pelayan itu menggeleng.

"Tidak ada tas disini." Jawabnya datar lalu meninggalkan Sungmin untuk masuk ke kamar mandi daan menyiapkan air mandi untuknya.

Sungmin termangu, matanya masih mencari-cari dan dia masih belum putus asa mencarii sampai pelayan itu muncul lagi dari kamar mandi.

"Mari, airnya sudah siap, saya akan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian nona."

Mau tak mau , meski dengan dahi berkerut Sungmin melangkahmasuk kamar mandi. Dia tidak biasa dilayani, dan tidak suka dilayani.

Kamar mandi itu di penuhi kaca, kaca itu beruap karena air panas dari bath-tub yang penuh busa dan menguarkan aroma wangi campuran mawar dengan susu.

Tiba-tiba saja mandi terasa sangat menggoda bagi Sungmin.

Pelan dia mencelupkan tangannya ke air hangat dalam bath-tub itu, hangatnya pas, pelayan tadi benar-benar mempersiapkannya dengan baik.

Sungmin lalu berendam dan memejamkan matanya. Rasanya nikmat sekali, seperti otot-ototnya yang kaku dilemaskan pelan-pelan.

"Jangan tertidur disini, dari yang kudengar, banyak orang mati tenggelam karena tertidur di bath-tub."

Suara itu begitu mengejutkan Sungmin dari tidur ayam-ayamnya, dia terlonjak kaget dan begitu menyadari siapa yang berdiri sambil bersandar santai di kusen pintu wajahnya langsung memerah.

Secepat kilat Sungmin menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher, menyembunyikannya di balik busa.

Kyuhyun yang besandar di pintu tampak tidak terpengaruh dengan rasa malu Sungmin, lelaki itu malah menyeringai dalam senyuman sedikit mengejek.

"Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak segera keluar dan sarapan, pelayan itu bilang kau sedang mandi dan tidak berani mengganggumu."

Rona merah di wajah Sungmin mulai menyebar keseluruh tubuhnya, dia malu sekali! Tapi kenapa lelaki ini seolah-olah tidak peduli? Tidak sopan bukan masuk kekamar mandi dimana ada perempuan sedang mandi?

Tapi sepertinya Kyuhyun tidak peduli dengan etika ataupun kesopanan, mata tajam Kyuhyun menelusuri wajah dan leher Sungmin yang merona, ada api memancar disana, dan ekspresinya berubah, sedikit liar tapi menakutkan. Bukan ekspresi yang akan muncul di wajah lelaki sedingin Kyuhyun, pikir Sungmin tiba-tiba.

"Aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi, kalau terlambat kau mungkin sudah mati tenggelam dikamar mandi, tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasiih?"

Suara itu setengah berbisik, diucapkan dengan nada malas, tapi bulu kuduk Sungmin langsung berdiri.

Dia menatap Kyuhyun dan menyadari laki-laki itu masih berdiri disana, menunggu.

"Te… terima kasih," gumamnya pelan entah kenapa meskippun tidak yakin kenapa harus berterima kasih dia merasa terdorong untuk melakukannya. Lelaki itu begitu mengintimidasi dan sepertinya kalau keinginannya tidak dituruti dia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.

Senyum yang muncul pelan-pelan di bibir lelaki itu malah membuat Sungmin sedikit takut dan gelisah. Hey… apakah orang ini sama dengan calon ayah tirinya yang berkenalan dengannya kemarin? Kenapa auranya berbeda?

"Bagus," gumam Kyuhyun lambat-lambat, lalu melangkah mundur, "Cepat selesaikan mandimu, aku menunggu di ruang makan. Oh ya, bajumu sudah kusiapkan di ranjang. Kupilihkan sendiri dari lemari."

Kyuhyun menyiapkan bajunya?

Sungmin mengernyit dan bertanya-tanya. Jadi memang pakaian itu disiapkan untuknya? Tapi kenapa? Dan kenapa Kyuhyun menyiapkan bajunya?

Dia menoleh untuk bertanya tapi sosok Kyuhyun sudah lenyap.

Dengan gugup Sungmin menyelesaikan mandinya dan melangkah keluar dari kamar mandi.

Pelayan wanita itu masih disana, tapi tampak lebih pucat, "Kau tidak apa-apa?" sungmin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Pelayan itu mengangguk sedikit gemetar.

"Sajangnim memarahi keteledoran saya karena tidak menengok anda di kamar mandi, Sajangnim sangat menakutkan kalau marah." Suara wanita pelayan itu berbisik ketakutan.

Sekali lagi Sungmin mengernyit. Menakutkan kalau marah? Dalam majalah-majalah bisnis yang di bacanya karena ingin tahu, calon ayah tirinya itu dikenal pandai mengendalikan emosi, malah ada yang menyebutnya tak punya emosi. Apakah selama ini Kyuhyun menyembunyikan sifat aslinya?

"baju anda sudah disiapkan, nona"

Sungmin menoleh keranjang, tempat bajunya di hamparkan dan sekali lagi terperangah.

Indah sekali…

Itulah yang terpikirkan pertama kali olehnya ketika melihat gaun itu. Gaun panjang dibawah lutut, berpotongan sederhana tapi sangat indah. Warnanya ungu muda, dan bahannya dari sutera yang sangat halus.

Masih termangu, Sungmin membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan pakaiannya, lalu membimbing dirinya untuk duduk di depan meja rias.

Seperti sudah biasa melakukannya, pelayan itu langsung menyisir rambut panjang Sungmin yang terurai.

Sementara Sungmin menatap bayangan dirinya di cermin.

Betapa sebuah gaun bisa mengubah penampilan seseorang! Yang terpantul disana bukanlah Sungmin yang kuno dan berpenampilan seperti kutu buku. Bayangan yang muncul di depannya itu adalah bayangan perempuan muda yang cantik, dengan pipi merona dan rambut panjang tergerai sampai bahu.

"Rambut anda indah sekali," gumam pelayan itu sambil menyisir.

Sungmin tergagap. Menyadari bahwa dari tadi dia melamun sambil menatap bayangan sendriri.

"Oh ya, aku harus mengikat rambutku," matanya mencari-cari, akhirnya menyadari bahwa ikat rambutnya sama raibnya dengan tas pakaiannya.

"Anda tidak boleh mengikat rambut anda lagi, begitu perintah Sajangnim kepada saya tadi."

Hah?

Kali ini Sungmin tidak bisa menahan gumaman kagetnya. Tetapi pelayan wanita itu tidak bereaksi apa-apa, setelah selesai membereskan semuanya, dia berpamitan dan melangkah keluar dari kamar.

Meninggalkan Sungmin sendirian di kamar.

Sejenak Sungmin termangu, lalu teringat pesan Kyuhyun tadi. Sarapan. Tadi Kyuhyun bilang begitu kan? Mungkin Kyuhyun dan Soonkyu sudah menunggu disana.

Dengan bergegas, Sungmin melangkah ke ruang makan.

.

.

Lelaki itu menatap Yesung lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun.

Dibalik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Sungmin yang berisi pakaiannya dan tentu saja ikat rambutnya.

"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu." Gumamnya tegas.

Yesung menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan Marcus"

Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau,Yesung, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu."

"Saya selalu setia kepada anda berdua." Jawab Yesung, suaranya masih datar.

Marcus tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya kalau dia ingin memerangkap seseorang. "Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Kyuhyun… tapi padaku?" dengan pelan Marcus beranjak tepat di hadapan Yesung yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan itu mulai kelihatan gelisah.

"Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu," jawab Yesung cepat-cepat.

"Kau memang harus setia padaku," gumam Marcus dengan nada malasnya yang biasa, "Karena kalau tidak… aku akan marah. Dan kalau aku marah…. Ah, tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan?" Marcus tersenyum sangat manis.

Wajah Yesung pucat pasi, keringat dingin mulai mengalirdi pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas, yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.

Ah, kenapa Kyuhyun Sajangnim tidak muncul-muncul?

"Saya bersumpah tidak akan berkhianat," gumam Yesung akhirnya.

Marcus terkekeh. "Ya… Ya… karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak aka nada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya." Marcus menoleh, senyumnyahilang dan menatap Yesung tajam, "Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengertikan?"

Yesung mengernyit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Anak gadisnya dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu, sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemmudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah, dan semua itu terjadi setelah Yesung mencoba mengingatkan kakek Sungmin bahwa ada bahaya mengintai cucu mereka.

Senyum Marcus muncul lagi melihat kernyitan Yesung, di lalu menatap Yesung ramah. "Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku karena kebaikan hatiku?" gumamnya ramah.

Yesung segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah. "Te… Terimakasih Tuan Marcus."

Marcus terkekeh mendengarnya, tampak puas.

"Dan kudengar anak gadismu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"

Yesung langsung pucat pasi begitu Marcus mengungkapkan hal itu di depannya. Tidaak mungkinkan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdosa? Tapi Yesung kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Marcus pasti mampu. Lelaki ini tidak punya sedikit pun belas kasih di hatinya.

"Saya bersumpah akan setia pada anda Tuan Marcus, tapi saya mohon, jangan sakiti cucu saya. Dia masih kecil.."

"Hei… Kau menghinaku." Marcus terkekeh, "aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk anak dan cucumu, lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?"

Yesung menatap Marcus dan bulu kuduknya berdiri. Marcus mampu, dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Marcus memastikan kalau Yesung tahu bahwa Marcus mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.

"Bagus," Marcus tampak puas dengan sikap diam Yesung, "Aku ingin kau setia padaku, bukan kepada Kyuhyun," Marcus merenung lalu menatap tas Sungmin yang terbakar habis, "Menjijikkan sekali pakaian itu, pakaian murah yang membuat kecantikan gadisku lenyap," tiba-tiba Marcus menoleh kepada Yesung, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"

Yesung langsung mengangguk.

"Ibunya, perempuan murahan itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, Ibu paling pendengki yang pernah aku tahu dan menurutku…" api di mata Marcus menyala, "Ibu semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini."

Yesung makin pucat ketika melihat api di mata itu. Itu api yang sama yang muncul ketika Tuan Marcus memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak di inginkannya.

Yesung berdoa, untuk Soonkyu. Apapun yang direncanakan Tuan Marcus padanya, Yesung berharap agar Kyuhyun Sajangnim bisa membujuk Tuan Marcus untuk membatalkannya. Kalau tidak berhasil, yah… Semoga Tuhan melindungi Soonkyu.

TBC

.

.

Sebenarnya dari awal saya bingung akan menjadikan Kyuhyun sebagai Daren dan Marcus sebagai Lucas atau sebaliknya.

Tapi karena saya tidak suka dengan nama Marcus -yang menurut saya terkesan angkuh dan pemberontak- akhirnya saya pilih Marcus berperan sebagai Lucas.

Masih banyak Typo(s) ya? Saya mohon maaf.

Untuk chapter ini sudah lumayan panjang kan?

Saya usahakan chapter depan akan update cepat. Karena Ramadhan nanti saya tidak janji bisa posting chapter baru.

Jangan lupa tinggalkan jejak ne..

Pay.. Pay..

Kim Ah Reum