FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship

Rated : T PG-15

Length : Part (On Going)

.

Part 9

.

***
Author POV

.

"Noona, kau punya obat pusing?"tanya Jaejin sambil menghampiri guru UKS, Lee Yeonhee. Miki yang mendengar suara Jaejin tak jauh dari tempatnya-pun langsung menoleh.

"Ini. Kenapa? Kau sakit?"Yeonhee selaku guru UKS memberikan obatnya dengan raut wajah cemas. Jaejin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Tidak, aku hanya minta"Jaejin-pun mengambil obat itu dari tangan Yeonhee. Miki yang berada tak jauh didepan mereka hanya bisa melihat dengan raut wajah cemberut.

"Ah…sepertinya dia hanya ingin menggoda Yeonhee-shii"gerutu Miki. Tiba-tiba saja Jaejin membalikkan tubuhnya kearah Miki, Miki-pun langsung mengalihkan pandangannya. Jaejin mengampirinya.

"Ini, simpan"senyum Jaejin sambil memberikan obat pusing tadi kepada Miki. Miki hanya bisa mendangakan kepalanya dan menatap Jaejin heran.

"Eh? Kenapa?"bingung Miki. Jaejin hanya tersenyum kecil.

"Simpan saja. Jaga-jaga kalau kau pusing"senyum Jaejin. Yoona & Soyeon yang ada disamping Miki langsung mendelik tajam.

"A..aku? oniisan memberikannya kepadaku?"Miki hanya bisa menunjuk-nunjuk dirinya heran.

"Uhum..itu karena kau butuh perhatian lebih. Yoona & Soyeon tidak kuberikan karena mereka bisa menjaga dirinya sendiri. Simpan saja"Jaejin meraih tangan Miki dan meletakkan obat itu disana. Ia hanya tersenyum dan kembali ketempat panitia lain.

Suasana hening sejenak. Tapi tak lama, terdengar suara cekikikan Yoona & Soyeon. Miki-pun langsung melirik heran.

"Hihi…ternyata itu maksudnya…Jaejin sunbae itu benar-benar lucu…"tawa Soyeon.

"Eh? Kenapa kalian malah tertawa?"gerutu Miki yang masih menatap heran kedua temannya itu.

"Miki, sepertinya Jaejin sunbae benar-benar menganggapmu sebagai adiknya"senyum Yoona. Miki terdiam sejenak memikirkan kata-kata Yoona.

"E…eh…Apa? Jadi itu maksudnya?"akhirnya Miki mengerti apa maksud sunbaenya itu.

"Hahaha…iya, dia menganggapmu adik kecilnya yang harus dijaga ketat. Makanya dia memanjakanmu"Soyeon hanya bisa terkekeh geli bersama Yoona.

"Ash…dia benar-benar menganggapku seperti itu ya? Ck…"cemberut Miki sambil menggerutu kesal.

"Yah…tapi kau senang-kan diperlakukan seperti itu?"Soyeon melirik tajam kearah Miki sambil tersenyum nakal.

"Kau pasti senang sekali Jaejin sunbae baik padamu"sambung Yoona.

"Ke…kenapa…"gumam Miki sambil menundukkan wajahnya malu-malu.

"Wajahmu itu…waktu Jaejin sunbae bersama Yeonhee songsaenim, kau cemberut. Begitu Jaejin sunbae menghampirimu, kau langsung berseri-seri…Aigoo...dasar anak yang sedang jatuh cinta"ledek Soyeon sambil mengacak-ngacak rambut Miki.

"Ah..kalian memperhatikanku dari tadi?"Miki menatap kedua temannya itu.

"Tentu saja, tidak diperhatikan juga raut wajahmu itu terlihat sekali"jelas Soyeon. Tiba-tiba saja seseorang berdiri menghalangi mereka bertiga.

"Hey gadis Jepang, dimana Jaejin hyung?"Minhwan berdiri tepat didepan Miki sambil menatapanya tajam.

"Sudah kubilang, namaku Miki!"seru Miki yang ikut membalas tatapan tajam pujaan sekolah dihadapannya. Yoona & Soyeon hanya bisa menahan amukan kecil Miki.

"Katakan saja dimana Jaejin hyung, aku mencarinya dari tadi"Minhwan tak memperdulikan omongan Miki barusan.

"Kenapa kau tanya padaku? Kau-kan panitia, masa tidak tahu"kesal Miki.

"Apa aku harus tahu semuanya? Jaejin hyung-kan sejak kemarin bersamamu terus, makanya kau jangan merepotkannya"sinis Minhwan. Lagi-lagi Yoona & Soyeon harus menahan amukan Miki.

"Aku tidak merepotkannya! Ck..sudahlah, aku sedang malas ribut denganmu. Dia ada disana, bersama panitia lainnya"Miki menunjuk kearah yang dimaksud dengan nada kesal. Minhwan-pun melirik kearah yang ditunjuk dan segera beranjak meninggalkan ketiga gadis itu.

"Ah..bahkan terima kasih saja tidak ada!"seru Miki sambil menginjak-injakkan kakinya ketanah dengan keras.

"Ng…Minhwan sedang bad mood ya?"gumam Yoona yang masih melirik kearah Minhwan.

"Iya, sejak kemarin dia juga tidak menerima pemberian gadis-gadis lain. Biasanya dia ramah dan baik, sepertinya sekarang dia sedang bermood jelek. Makanya cara bicaranya seperti itu"Soyeon hanya bisa memiringkan kepalanya dan menatap Minhwan bingung.

Miki-pun menghela nafas panjang dan menahan emosi mendengar gumaman-gumaman kedua temannya itu.

Kalau saja kalian tahu, cara bicaranya memang seperti itu padaku. Ck…hanya karena aku melihatnya di klub malam, hufth…

Pikir Miki.

"Yah..mungkin dia juga lelah karena jadi panitia"Soyeon masih melanjutkan pembicaraan soal Minhwan.

"Sudahlah! Cepat kita kembali ke yang lain, mereka pasti menunggu"Miki-pun langsung menarik tangan Yoona & Soyeon pergi.

.

***
Hongki POV

.

Aku tidak menyangka Hyung ada disini..

"Jaejin…"

Aku rasa aku menyukainya…

Tidak apa-kan kalau kubilang aku menyukainya? Itu tidak ada urusannya denganmu

"Ck…"kugelengkan kepalaku kencang. Entah kenapa pikiran-pikiran ini sangat menggangguku sekarang. Aku tidak mau memikirkannya.

"Hah…"kualihkan pandangamku kearah Jonghun saat kudengar suara helaan nafasnya barusan.

"Jonghun, kau tidak apa-apa?"tanyaku cemas. Jonghun hanya mengangguk. Raut wajahnya datar. Entah dia menatap kemana sekarang. Sepertinya ada sesuatu yang jadi pikirannya.

"Jonghun…bagaimana…dengan kau dan Kazu?"kulontarkan lagi sebuah pertanyaan. Kali ini pertanyaan yang bisa dibilang menjadi Point untuknya.

"Apanya yang bagaimana?"Jonghun balik bertanya.

"Maksudku…kau sudah bicara padanya? Tentang…perasaanmu…"kalimat terakhir sengaja kuucapkan pelan. Tak terlalu berharap dia akan menjawabnya.

"Ck…perasaan apa…"Jonghun hanya tersenyum tipis.

"Jonghun…sebenarnya kau itu menyukainya atau tidak? Aku masih tidak mengerti dengan sikapmu ini…"ucapku. Jonghun diam sejenak dan menghela nafas panjang.

"Sudah kubilang…aku juga tidak mengerti dengan diriku sekarang…"jawabnya pelan.

"Benar-benar tidak mengerti?"sambungku. Dia mengangguk.
"Aku…yang aku tahu sekarang, aku tidak suka kalau dia berdekatan dengan anak itu…"gumam Jonghun pelan.

"Hm…itu artinya kau cemburu. Pada Seunghyun-kan?"Aku hanya bisa menatapnya penuh tanda tanya.

"Hah, cemburu? Begitukah?"Jonghun terkekeh kecil.

"Yah…kalau cemburu, bisa dibilang suka. Ada perasaan lain yang kau rasakan?"tanyaku lagi.

.

Jonghun POV

.

"Yah…kalau cemburu, bisa dibilang suka. Ada perasaan lain yang kau rasakan?"tanya Hongki.

Kenapa tiba-tiba kau baik seperti ini? Ada yang kau rencanakan yah?

Kata-kata Kazu terus terngiang dikepalaku.

"Aku…ingin terus berada disampingnya…"jawabku pelan. Hanya itu yang bisa kusimpulkan sekarang. Aku tidak suka dia dekat dengan Seunghyun, itu cemburu? Aku ingin terus berada disampingnya, terlebih aku tahu dia sedang sakit sekarang. Aku ini kenapa?

"Tapi…kau tidak bilang kau mencintainya…"ucap Hongki. Giliranku yang menatapnya sekarang.

"Aku tidak tahu untuk yang satu itu"jawabku. Hongki hanya bisa menghela nafas.

"Apa kau hanya simpati? Atau sejenisnya? Ah..hal itu hanya kau yang tahu"ucapnya sambil melipat kedua tangannya.

Aku-pun masih memikirkan kata-kata Hongki. Cinta? Itu-kah yang kurasakan sekarang. Aku tidak tahu. Banyak orang yang bilang mereka mencintaiku tapi aku sama sekali tidak tahu apa arti dari kata itu. Aku hanya terpikir soal Kazu sekarang.

"Hongki, aku mau pergi ke suatu tempat"ucapku pada Hongki.

"Apa? Kau mau kemana? Sendiri?"Hongki menatapku heran.

"Iya, sendiri. Nanti aku akan menghubungimu"senyumku. Aku-pun langsung pergi meninggalkan Hongki.

.

Hongki POV

.

Aku berjalan dipinggir jalan pusat Kyoto sendirian. Yah, Jonghun meninggalkanku. Dia bilang, dia ada urusan. Kelihatannya serius sekali, karena itu aku biarkan dia pergi.

"Halo, Minan?"aku mencoba menghubungi Minan dengan ponselku.

"Sekarang kau dimana?...ng? Taman? Ah..baiklah"aku-pun menutup teleponku sambil melirik-lirik sekelilingku. Akhirnya kutemukan tempat yang kucari. Aku-pun langsung berlari menuju taman tempat tujuanku.

"Dimana mereka? Benar ini-kan tamannya?"aku masih melihat-lihat sekelilingku. Berharap menemukan rombongan murid MyeoungDam yang sedang study tour ditaman ini. Mataku langsung terkunci begitu melihat beberapa orang murid dengan seragam yang kukenal, terlebih lagi salah satunya adalah orang yang paling kucari. Aku-pun segera menghampiri gadis-gadis itu.

"Ng…sepertinya mereka masih study…"gumamku pelan sambil mengintip-ngintip dari balik pohon. Orang yang kucari terlihat sibuk dengan catatannya begitu juga teman-temannya. Benar Kira, akhirnya aku melihatnya lagi.

"Kira, aku mau menanyakan hal ini lagi kepada sunbae, aku masih tidak mengerti"ucap salah satu dari gadis itu.

"Ah, aku ikut. Kira kau tunggu disini saja"sambung salah seorang lagi.

"Hm, baiklah"Kira hanya mengangguk. Kedua gadis itu-pun pergi meninggalkannya. Kulihat sekeliling tempatnya berdiri. Tak ada murid lain. Aku-pun memberanikan diri keluar dan menghampirinya.

"Ng…sedang sibuk?"ucapku pelan saat berdiri dibelakangnya. Kira-pun langsung menoleh kearahku.

"Kau ada disini?"wajahnya terlihat sedikit bingung. Aku-pun mengangguk sambil tersenyum.

"Sepertinya kau sedang kesulitan…ada tugas?"tanyaku lagi. Ia-pun kembali mengalihkan pandangannya kearah buku catatannya.

"Yah…tugas individu"jawabnya singkat.

"Oh, tentang apa?"tanyaku lagi. Ia-pun menatapku.

"Apa itu urusanmu?"ia tersenyum tipis.

"Hm, mungkin aku bisa bantu?"aku-pun langsung mengungkapkan maksudku dan Ia langsung menatapku heran.

"Ha? Untuk apa kau melakukan itu?"

"Sudah kubilang-kan aku su-…ah, kau itu Hoobae kesayanganku"aku berusaha mencari jawaban yang bagus. Namun Ia masih memandangiku heran. Aku-pun mengambil paksa buku catatannya dan membacanya.

"Hey, kembalikan"ia berusaha mengambil bukunya kembali.

"Ah…ternyata benar. Pasti tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya…"gumamku yang masih membaca tugas-tugasnya.

"Eh?"ia hanya bisa terdiam bingung. Aku-pun tersenyum padanya.

"Hehe, aku akan membantumu. Ini mudah, terlebih lagi kau orang Jepang, tidak ada kesulitan untuk komunikasi, kau hanya tinggal bertanya pada penduduk lokal"jelasku sambil tersenyum. Ia masih menatapku heran. Tak mau menunggu lagi aku-pun langsung menggandeng tangannya ikut bersamaku. Mencari beberapa penduduk lokal yang sekiranya tahu tentang budaya ini. Aku jelaskan pada Kira maksud dari tugasnya, ia-pun mengangguk mengerti dan melakukannya sesuai arahanku.

.

***
Author POV

.

Kazu berjalan luntang-lantung dengan badan lemas. Tugas individu terpampang jelas dipikiran dan buku catatannya. Mungkin akan lebih muda kalau ia kerjakan bersama Hyunmi dan yang lainnya. Tapi Kazu lebih memilih menyendiri. Sama seperti waktu istirahat tadi, ia hanya butuh waktu sendiri untuk menyembunyikan sakitnya. Lagipula kalau sendiri, ia bisa istirahat semaunya. Waktu yang diberikan cukup lama, jadi tidak akan ada yang curiga kalau dia istirahat ditempat lain.

"Ah…sebenarnya aku masih tidak mengerti maksud tugas ini…"gerutu Kazu sambil menatap malas buku catatannya. Sesekali rasa mual & pusingnya kembali menghadang, terlebih lagi tubuhnya sangat lemas. Kazu memaksakan kaki berjalan lagi, namun ternyata kondisi tubuhnya sudah tidak bisa bekerja sama lagi. Badannya oleng dan sukses membuatnya melayang jatuh mendekati tanah, namun..

TAP.

Seseorang menopang tubuhnya sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Kazu masih dalam keadaan lemas setengah sadar. Ia tahu ada orang yang menahannya namun ia tidak bisa mendangakan kepalanya melihat wajah orang itu.

"Bodoh, sudah tahu sakit masih saja memaksakan diri"hanya suara tajam itu yang bisa ia dengar. Suara tajam yang sangat ia kenali. Suara tajam yang hanya ditujukan padanya.

Choi Jonghun.

Jonghun berusaha mengangkat tubuh Kazu. Dan kembali menopangnya saat tubuh Kazu sudah berdiri tegak. Ia melihat sekelilingnya, mencari kalau saja ada tempat duduk Pasti itu lebih baik daripada membiarkan gadis yang sedang sakit disampingnya tetap berdiri lemas.

Melihat ada objek yang dimaksud, Jonghun-pun menopang tubuh Kazu perlahan menuju bangku taman yang kosong. Ia dudukkan perlahan tubuh gadis Jepang itu.

"Hng…Jo…Jonghun…"gumam Kazu pelan. Ia mencoba mengangkat kepalanya dan menatap Jonghun.

"Jangan banyak bicara sekarang"sela Jonghun. Kazu hanya bisa terdiam heran menatap bola mata tajam Jonghun yang sedang menatapnya sekarang.

"Ah..aku harus mengerjakan tugasku"Kazu berusaha untuk bangkit, namun lagi-lagi tubuhnya oleng. Jonghun-pun dengan sigap langsung menahan tubuh gadis Jepang itu untuk kedua kalinya.

"Bagaimana bisa kau mengerjakan tugasmu kalau kau saja tidak punya tenaga untuk berdiri?"bentak Jonghun dengan suara kencang. Kazu-pun langsung terdiam. Baru kali itu ia melihat amarah Jonghun.

"Hah…kau ini…"Jonghun hanya bisa memutar bola matanya & menghela nafas panjang melihat Kazu.

"Duduk dan istirahat"perintah Jonghun. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menuruti Jonghun sekarang, pikir Kazu. Kazu-pun duduk diam sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap Jonghun.

"Kau…sebenarnya ada apa? Kenapa kau seperti ini?"tanya Kazu pelan tanpa melihat kearah Jonghun. Jonghun diam sesaat.

"Kau pikir aku kenapa?"Jonghun malah balik bertanya.
"Hah? Kau itu aneh sekali, aku saja bertanya kau kenapa, kau malah balik bertanya"kesal Kazu sambil mendesis pelan.

"Aah…kalau begitu tidak usah tanya! Aku juga tidak mengerti aku kenapa"Jonghun ikut kesal. Kazu yang sama sekali tidak mengerti maksudnya-pun hanya bisa menganga heran dan diam. Tidak mau lagi meladeni Jonghun.

"Hah…disaat seperti ini kau malah sakit…kau semakin membuatku merasa tidak karuan…"gumam Jonghun pelan sambil menghela nafas panjang.

"Kazu…aku…"tidak sempat meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu bersandar dipundaknya. Jonghun-pun langsung menoleh.

"Hah?"ia terkejut melihat Kazu yang tertidur dipundaknya.

Jadi..dia tidak dengar ucapanku barusan?

Jonghun-pun kembali memeriksa suhu tubuh Kazu.

"Ck…lebih baik aku membawanya kembali ke hotel sekarang" *kok kesannya dewasa ya? Author koplak*

.

***
Kira POV

.

"Aaaah….selesai…selesai…"aku tersenyum lebar saat melihat buku catatanku yang sudah terisi penuh dengan materi yang kukumpulkan. Tiba-tiba saja seseorang menempelkan minuman dingin ke pipiku.

"Hongki!"aku terkejut dan meneriakinya.

"Hehehe…ini minumlah, kau pasti haus"ucap Hongki sambil memberikan minuman itu kepadaku. Aku mengangguk dan mengambilnya dari tangan Hongki.

"Hem...bagaimana? sudah tuntas semua tugasnya?"tanya Hongki yang duduk disampingku.

"Iya, berkat kau…aku bisa menyelesaikannya dengan cepat. Mau tidak mau, aku harus berterima kasih"gumamku pelan.

"Heh? Mau tidak mau? Ya ampun..kau benar-benar membenciku ya?"Hongki meraut manja sambil memajukan bibirnya. Ash…rasanya aku ingin sekali memalingkan wajahku agar tidak melihatnya. Ini terlalu manis.

"Benci? Siapa bilang aku membencimu?"akhirnya kucoba memalingkan wajahku.

"Lalu…kenapa selama ini kau selalu menghindar dariku? Kelihatannya kau tidak suka padaku"ucapnya. Aku diam sejenak.

"Kau itu…memang sering bilang suka dengan wanita lain yah?"aku-pun bertanya. Hongki terlihat kaget mendengar pertanyaanku.

"Kenapa? Kau tidak suka aku seperti itu? Kau cemburu yah?"kali ini ia tersenyum evil. Sialan laki-laki ini! Baru kuajak bicara, dia sudah meledekku.

"Untuk apa aku cemburu dengan seorang Cassanova! Kau itu benar-benar menyebalkan, baik aku membencimu!"kesalku sambil membuang muka.

"E..eh? Kenapa kau malah marah? Ma..maafkan aku.."ia berusaha minta maaf, tapi aku tetap membuang muka.

"Maafkan aku…kata-kataku barusan…aku memang sering bilang suka…tapi padamu, aku merasa berbeda.."mataku langsung terbelalak saat mendengar ucapannya itu. Apa maksudnya? Padaku?

Aku-pun langsung menoleh kearahnya.

"Hah? Padaku?"ucapku dengan wajah heran. Ia menatapku sekarang. Sepertinya ada hal yang ingin dia katakan.

"Mungkin…karena aku…."ia terlihat sedang memikirkan sesuatu sekarang. Namun mataku langsung beralih kebenda yang menggantung dilehernya. Benda yang bisa membuatku berpaling dari ucapannya karena aku benar-benar menyukainya.

"Ah! Skull!"seruku sambil menunjuk bandul berbentuk skull dikalung emasnya. Ia terlihat bingung dan langsung melihat kearah kalungnya juga.

"Itu skull-kan? Keren…aku baru melihat yang seperti itu…"ucapku dengan mata berbinar-binar.

"Eh? Kau juga suka ini?"tanyanya heran. Aku mengangguk mantap.

"Wah…haha..ternyata kita memang cocok ya…"senyumnya sambil menatapku.

"Maaf…aku jadi memotong pembicaraanmu, apa yang mau kau katakan tadi?"aku merasa bersalah karena sudah memotong pembicarannya. Ia hanya tersenyum lebar.

"Hahaha…aku pikir kita ini cocok. Makanya suka yang kubilang padamu itu berbeda…aku ingin sekali lebih dekat denganmu"jelasnya sambil tersenyum. Aku-pun hanya bisa mengangguk. Jadi itu alasannya, aku juga merasa kami ada kecocokan, bicara dengannya juga tidak membosankan.

"Kau mengerti? Karena itu…jangan menghindar lagi…aku hanya ingin dekat denganmu, bicara seperti ini benar-benar terasa menyenangkan"senyumnya.

"Yah..baiklah. Tapi jangan sampai aku menjadi incaran fans-fansmu nanti"ucapku sambil tersenyum. Hongki hanya mengangguk.

"Ah..aku harus kembali sekarang"ucapku sambil beranjak dari kursi.

"Apa? Kembali? Tunggu sebentar…masih ada waktu-kan?"sepertinya Hongki kecewa.

"Aku harus kembali sekarang, Wonbin pasti mencariku"ucapku tanpa kusadari. Hongki-pun langsung terdiam.

"A..ah..maksudku Wonbin sunbae! Dia mentor dikelasku, kalau ia tahu aku memisahkan diri dari teman-teman, aku bisa dapat teguran"jelasku.

"Kau…dekat dengannya?"Mata Hongki masih terbelalak heran. Aku-pun tak tahu kenapa reaksinya seperti itu? Aku hanya bisa mengangguk pelan.

"Dia mentor dikelasmu? Kau sekelas dengan Minan-kan?"tanyanya lagi.

"Minhwan? Iya, karena dia panitia, dia juga yang membantu Wonbin sunbae"jawabku. Kulihat raut wajah Hongki semakin aneh. Namun aku harus segera kembali sekarang, kalau tidak orang itu pasti akan cemas, aku sudah tahu kebiasaanya.

"Maaf..aku kembali sekarang"ucapku sambil membalikkan badanku dan melangkah pergi, namun tiba-tiba Hongki menarik tanganku sampai tubuhku kembali berbalik arah. Ia terlalu kuat menarik sehingga tubuhku-pun oleng terpeleset pembatas trotoar.

DUAGH.

"Aaah…"rintihku saat merasa punggungku sedikit sakit karena berbenturan dengan jalan. Namun mataku terbelalak saat melihat Hongki meringkuk disampingku.

"Ho..Hongki? kau tidak apa-apa?"panikku saat aku ingat aku sempat menariknya saat terjatuh tadi. Ia masih meringkuk tanpa memperlihatkan wajahnya.

"Hongki?"aku-pun mulai cemas. Namun kurasakan ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal genggaman tanganku. Mataku terbelalak saat melihat kalung Hongki ada digenggamanku.

"Akh…leherku…"tiba-tiba kudengar suara lirih Hongki. Perasaanku semakin tidak enak saat ingat apa yang kulakukan pada Hongki tadi. Tidak sengaja aku menarik kalungnya saat aku terjatuh!

"Hongki! kau tidak apa-apa? Kau terluka?"aku berusaha mengangkat tubuhnya yang masih meringkuk. Ia-pun mengangkat kepalanya perlahan. Tangan kiri tidak ia lepaskan dari lehernya. Ia masih meringis.

"Hongki…lehermu…"pelan-pelan kuraih tangan kirinya dan melihat apa yang terjadi. Mataku terbelalak saat melihat luka gores yang cukup panjang dileher bagian kirinya. Benar dugaanku, pasti kalung yang kutarik sampai putus ini melukai lehernya.

"Ho..Hongki..kau berdarah…"aku semakin cemas.

"Ah…haha, tidak apa-apa"ia tertawa kecil dan kembali memeggang lehernya.

"Kau harus diobati! Ikut aku kembali kerombongan, aku akan membawamu ke guru UKS!"ucapku.

"Kira!"tiba-tiba saja kudengar suara seseorang memanggilku dari arah lain. Aku-pun menoleh. Wonbin ada disana, agak jauh dariku. Dan Ia langsung berlari menghampiriku.

"Kau kembali saja"Hongki beranjak dari duduknya sambil mengambil kalungnya dari tanganku.

"Ta..tapi..lukamu…ah, juga kalungmu.."aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.

"Sudahlah. Kau sudah dipanggil, jangan bilang aku ada disini ya"Hongki hanya tersenyum tipis dan segera pergi meninggalkanku.

.

Wonbin POV

.

Mataku terkejut saat melihat orang itu ada bersamanya. Ia ada disebrang sana tak terlalu jauh dengan tempatku berdiri. Apa yang dia lakukan disini?

"Kira!"aku-pun memanggil gadis Jepang yang kucari dari tadi. Aku berlari menghampirinya. Kulihat orang itu, Lee Hongki sudah pergi meninggalkannya.

"Wo…Wonbin…"ucap Kira pelan saat melihatku.

"Apa yang kau lakukan disini? Kau bersama siapa tadi?"aku berusaha bertanya.

"A..aku sedang mengerjakan tugas ini. Aku sendiri"ucap Kira yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tahu ia berbohong, aku benar-benar yakin tadi itu Hongki.

"Hah…baiklah. Kau benar-benar membuatku cemas, sekarang kita kembali ke kelompok"aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi. Aku ingin tahu alasan mengapa Hongki ada disini.

Aku-pun meraih tangan Kira dan menggandengnya ikut bersamaku. Kulihat ia masih melirik kearah belakang. Namun matanya langsung berpaling saat ia menyadari aku sedang memperhatikannya.

Apa Hongki…berhubungan dengan Kira?

.

***
Minhwan POV

.

"Baik, semuanya sudah beres"ucapku setelah yakin semua tugas individu sudah selesai kukerjakan. Aku-pun menutup buku itu dan mencari Shin yang kebetulan mengerjakannya bersamaku.

"Shin-ah, bagaimana? Punyamu beres?"tanyaku sambil mendekati Shin yang kelihatannya sudah selesai berinteraksi dengan masyarakat lokal.

"Iya, punyaku sudah selesai. Kau bagaimana?"tanya Shin balik. Aku hanya mengangguk. Kami-pun membalikkan tubuh kami dan bersiap kembali kekelompok, namun langkahku langsung terhenti saat melihat seseorang dihadapanku.

"Aa, Choi Minhwan"seru gadis Jepang itu yang tak lain adalah Miki. Aku memandangnya sejenak dengan tatapan datar dan kembali melanjutkan langkahku seolah tak memperdulikannya.

"Apa kau sudah selesai? Kau murid pertukaran dari Jepang temannya Kira-kan?"langkahku kembali berhenti saat kusadari Shin tidak mengikutiku, ia sedang berbicara dengan Miki. Aku-pun menoleh.

"Iya. Aku temannya, kau teman sekelas Kira?"senyum Miki.

"Iya, aku teman sekelasnya. Bagaimana dengan tugas individual-mu? Pasti tidak masalah bagimu untuk berinteraksi dengan masyarakat sini?"tanya Shin lagi. Mereka-pun semakin memperpanjang obrolan mereka.

"Shin…"panggilku dengan raut wajah malas. Shin-pun menoleh.

"Ah? Kau menungguku ya? Kalau mau duluan tidak apa-apa kok Minhwan"senyum tanpa dosa Shin. Kalau saja ada efek yang tergambar, mungkin asap mengepul sudah keluar dari telingaku saat melihat Shin.

"Shin…kita masih harus membantu para sunbae…"gerutuku lagi.

"Eh? Oh iya…ash…merepotkan, kalau begitu aku duluan ya. Lain kali kita ngobrol lagi"Shin-pun pamit dengan Miki. Aku masih menoleh kearah mereka sampai Shin menghampiriku. Tak kusangka Miki sempat melirik kearahku, dan mehrong* (menjulurkan lidahnya)

Cih..kenapa dia? Pasti kesal karena teman ngobrolnya kuambil..

Dasar anak itu..

Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Shin-pun mengajakku kembali ke kelompok.

"Untuk apa kau mendekatinya? Kau tidak mungkin mendekati seseorang tanpa alasan-kan?"tanyaku pada Shin.

"Haha..ada yang kusukai…"ucapan Shin langsung membuatku berhenti melangkah.

"K..kau suka padanya?"kagetku. Shin-pun melihatku dengan heran.

"Kenapa ekspresimu begitu? Kau dekat dengannya ya?"tanya Shin balik.

"I..itu..bukan! Maksudku..kenapa kau bisa suka padanya? Hah..aku heran..banyak sekali orang yang menyukai si pendek itu, memangnya dia begitu menarik ya?"aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan tawa kecil. Tapi entah kenapa Shin malah semakin menatapku heran.

"Si pendek? Kau benar-benar dekat dengannya ya?"tanya Shin lagi.

"Tidak!"kutegaskan nada bicaraku dan menatap tajam Shin.

"Hehe..sepertinya ada yang aneh"senyum Shin nakal. Aku-pun hanya bisa menelan ludah.

"Memangnya kenapa kalau aku suka padanya? Dia memang manis kok"sambung Shin. Aku hanya bisa terdiam, tapi entah kenapa kata-katanya barusan seperti menantangku duel.

"Hahahaha..ekspresimu semakin aneh Minhwan!"tiba-tiba saja Shin tertawa kencang.

"Hah?"aku hanya bisa menganga heran.

"Tenang saja, aku bukan suka padanya kok. Aku suka pada temannya, Yoona"

"Apa? Temannya? Lalu kenapa kau bilang dia manis?"

"He? Habis Miki memang manis kok"jawab Shin enteng. *author kesemsem, ngek*

"Ck…ucapanmu sama saja dengan Jaejin hyung"aku-pun kembali melanjutkan langkahku disusul Shin.

"Hehe..tenang saja…aku tidak akan merebutnya kok.."aku-pun langsung mendelik tajam kearah Shin.

"Kenapa kata-katamu itu seolah berpikir aku menyukainya?"tanyaku sinis.

"Eh? Aku kira kau memang suka padanya…habis hanya dia yang kau panggil istimewa begitu, coba pada gadis lain..kau hanya memanggil mereka dengan nama biasa"entah ucapannya ini meledek atau jujur.

"Heh..aku hanya memanggil sesuai kenyataan. Memangnya pendek itu panggilan istimewa ya?"ucapku singkat.

"Yah..haha..baiklah-baiklah, terserah padamu"senyum nakal Shin sambil menepuk-nepuk punggungku kencang. Kami-pun melanjutkan langkah kami kembali ke kelompok.

.

***
Author POV

.

"Erngh…"erang Kazu saat mulai terbangun dari tidurnya. Ia coba membuka mata dan mengedip-ngedipkannya beberapa kali sampai bisa terbuka sempurna. Ia perhatikan ruangan sekelilingnya. Desain yang sama namun ia yakin bukan kamarnya.

"Dimana aku?"ia-pun langsung bangkit dari tidurnya. Memastikan lagi ruangan di sekelilingnya yang ternyata memang bukan kamarnya.

"Ini dimana? Bukankah tadi aku ada ditaman? Ugh…"belum sempat mengingat apa yang ia lakukan, kondisi badannya kembali tidak enak.

Sial…padahal sudah tertidur, tapi masih saja mual dan pusing…

Ash…gatal juga!

Kazu mengusap-usap pelan pergelangan tangannya yang gatal, namun matanya langsung terbelalak saat melihat seorang laki-laki tengah tertidur disampingnya.

"Jo…Jo…Jonghun?"kaget Kazu. Pujaan sekolah bernama Jonghun itu tengah tertidur pulas dengan posisi duduk disamping tempat tidurnya.

Kenapa dia ada disini?

Ah…aku ingat! Tadi aku bersamanya!

Ja..jangan-jangan ini kamar hotelnya? Kenapa aku bisa ada disini?

Kazu semakin stress dengan pikiran-pikiran anehnya. Namun wajahnya kembali berpaling kearah pujaan sekolah itu saat mendengar erangan-erangan kecil dari mulut sang pujaan.

Ia tatap wajah sang pujaan yang sedang terlelap itu.

Apa dia yang membawaku kesini? Sepertinya dia benar-benar mencemaskanku..

Tapi kenapa?

Kenapa tiba-tiba ia seperti itu?

Kazu masih menatap wajah mulus-tampan milik Jonghun. Pikirannya-pun kembali melayang, mengingat bagaimana ia mengenal Jonghun.

Sulit dipercaya…aku dicemaskan oleh seorang Choi Jonghun…

Sejujurnya aku sangat senang sekarang…

Karena aku…

Kazu mendekatkan wajahnya kearah Jonghun. Pipi mulus Jonghun terbentang lebar dihadapannya. Entah setan apa yang merasuki Kazu sekarang, yang membuat ia ingin sekali mendaratkan bibirnya disana.

Kazu semakin mendekatkan wajahnya.

Jonghun, sebenarnya aku…

KLAK.

Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamar itu dan terkejut melihat Kazu yang sudah berhasil mendaratkan bibirnya di pipi mulus Jonghun. Kazu-pun tak kalah kaget saat melihat orang itu berdiri mematung didepan pintu setelah melihatnya berhasil mencium pipi seorang Choi Jonghun.

"Ho..Hongki sunbae..?"

"Ka..zu….apa yang kau…lakukan?"

.

To Be Continued (^_^)

Now Playing : Park Shinhye – The Day We Fall In Love (OST kali ini melenceng dari FTI)

.

Aku mohon reviewnya ya, yang banyak juga gapapa. Kritik juga aku terima, tolong bilang kalau ada yang kurang memuaskan, ada yang jelek, ada yang gak jelas. Salah Typo atau POV, bahasa yang aneh, adegan yang lebay, atau apapun, aku mau tahu kesalahanku. Karena itu aku perlu banget komentar dari Readers, biar aku tambah semangat juga ngetik & publishnya. Aku kepikiran kalau komennya dikit, hiksu… (T_T). Jeongmal Gomawo (^_^)