FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Friendship
Rated : T PG-15
Length : Part (On Going)
.
Part 10
.
***
Hongki POV
.
Wonbin pasti menungguku…
"Aaah…"nyeri pada leherku yang terluka masih terasa. Namun kata-katanya itu yang sampai menyebut nama Wonbin kupikir lebih menyakitkan dihatiku dibanding luka ini.
"Ck…aku mau tidur saja"ucapku sambil membuka pintu kamar hotelku.
DEG.
Aku langsung terdiam saat melihat seseorang berada diatas tempat tidur dan mencium Jonghun. Jonghun? Gadis itu mencium pipinya. Kubelalakan mataku untuk memastikan siapa dia, dan dugaanku benar. Aku memang mengenalnya, gadis Jepang itu adalah Kazu.
Ia menyadari keberadaanku, ia-pun tak kalah terkejutnya denganku.
"Ho…Hongki sunbae?"ia tampak benar-benar terkejut melihatku.
"Kazu…apa…yang kau lakukan?"aku-pun sama. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Aku-pun berjalan mendekatinya, masih menatapnya heran.
"Kau…"
"Su…sunbae-.."belum sempat ia menjelaskan, erangan Jonghun sudah memotong pembicaraan kami.
"Erngh…"Jonghun mengerenyitkan alisnya, berusaha membuka matanya sebelum akhirnya terbuka sempurna. Ia angkat wajahnya dan menatap sekelilingnya.
"Ho..Hongki? kau sudah pulang?"kagetnya saat melihatku.
"Jonghun…kau…"aku masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Jonghun juga melirik kearah Kazu.
"Kau juga sudah bangun?"tanyanya santai pada Kazu. Aku benar-benar tidak mengerti situasi ini.
"Jonghun, kau yang membawanya kesini?"tanyaku pada Jonghun. Kazu hanya menatapku lirih, sepertinya ia takut aku mengatakan hal yang baru saja kulihat kepada Jonghun.
"Ng..itu…dia sakit, jadi kubawa kesini…"ucap Jonghun tanpa melihat kearahku.
"Sakit? Benarkah?"tanyaku lagi. Kazu-pun bergegas turun dari tempat tidur, namun langkahnya tak seimbang, dia seperti akan jatuh, aku-pun menahan badannya.
"Kau benar-benar sakit ya? Sepertinya kau demam…"ucapku pada Kazu. Ia-pun segera melepaskan tanganku dan berusaha berdiri sendiri.
"Ma..maaf..lebih baik aku kembali kekamarku sekarang"senyumnya tipis.
"Tunggu! Kau bisa jalan sendiri?"Jonghun langsung menghampirinya, kualihkan pandanganku kearah Jonghun. Kazu hanya mengangguk pelan dan melirikku, seolah ada yang ingin dibicarakan. Aku menunjuk diriku heran, dan ia mengangguk. Aku-pun menghampirinya dan kami bicara menghindari Jonghun. Jonghun hanya menatap kami heran.
"Sunbae…hal yang tadi…jangan katakan padanya…"bisik Kazu.
"Kenapa kau menciumnya?"tanyaku heran dengan suara kecil.
"Aku benar-benar minta maaf…akan kujelaskan nanti"ia memohon padaku, dan aku hanya bisa mengangguk sementara ini. Ia-pun pamit padaku namun tidak pada Jonghun, dan ia langsung pergi dari kamar kami.
Sekarang giliranku untuk menginterogasi Jonghun. Aku langsung menatap pemuda tampan itu dengan tatapan tajamku. Ia hanya membalas tatapanku dengan wajah agak santai.
"Apa maksudnya Jonghun? Kau membawanya kemari?"tanyaku heran. Ia-pun duduk diatas kasur seperti bersiap untuk menjelaskan semuanya.
"Aku…tadi siang waktu kau suruh aku mendekatinya, aku sudah tahu kalau dia sakit. Karena itu tadi aku meninggalkanmu, aku mencarinya"jelas Jonghun sambil melirikkan matanya sekilas kearahku.
"Lalu?"tanyaku lanjut.
"Dia memaksakan diri untuk tetap ikut study tour, tapi badannya sudah benar-benar lemas. Ia tertidur saat bersamaku ditaman, karena itu aku bawa kemari"jelasnya lagi.
"Ah…aku mengerti. Kau tidak membawanya kembali kekamarnya karena takut ketahuan ada disini oleh guru yang berjaga?"tanyaku lagi. Jonghun-pun mengangguk.
"Hah…kau membuatku terkejut saja, kupikir ada murid lain yang masuk kekamar kita…"
"Hongki, kau terluka?"kaget Jonghun saat menyadari darah yang masih mengalir dileherku.
"Eh? Ah…ini…"aku kembali memeggang leherku yang tergores, akibat kejadian tadi, aku sempat melupakan luka ini. Dan sekarang terasa nyeri kembali. Jonghun-pun menghampiriku dengan cemas.
"Kenapa bisa begini? Apa yang kau lakukan? Mana kalungmu?"tanya Jonghun bertubi-tubi. Sekarang giliranku untuk duduk diatas tempat tidur, Jonghun-pun mengambil peralatan PKK dimeja.
"Jelaskan ini padaku"tegas Jonghun sambil mengobati lukaku.
"Ash…kenapa hari ini kita punya masalah masing-masing ya.."aku hanya tersenyum tipis dan Jonghun langsung menatapku tajam, seolah ia benar-benar menuntut jawaban.
"Ini tergores kalungku…lihat…kalungku putus…"ucapku sambil menunjukkan kalung kesayanganku kepada Jonghun.
"Kenapa bisa putus? Bahkan sampai melukaimu seperti ini?"tanyanya lagi.
"Tadi aku bersama Kira…"aku-pun memulai pembicaraan dan Jonghun hanya diam menanggapi setiap ceritaku. Kemudian ia membereskan peralatan PKK setelah selesai mengobati lukaku.
"Hongki…kau bertanya bagaimana perasaanku terhadap Kazu, sekarang giliranku untuk tahu. Kau benar-benar menyukainya-kan? Sejak malam itu saat kau membawanya"ucapan Jonghun sukses membuatku terdiam dan memikirkan kata-katanya.
"Ng…kurasa kau benar…aku memang menyukainya…"akhirnya kutakan perasaanku. Walaupun Jonghun bukan orang yang dimaksud, setidaknya dia (sahabatku) sudah tahu soal hal ini.
"Benar-kan…kenapa selama ini kau bersikeras kalau kau hanya tertarik padanya? Kau hanya mau menganggapnya Hoobae kesayanganmu…kalau kau hanya seperti itu, tidak mungkin kau mau menyusulnya kesini untuk mengawasinya bersama Wonbin…"ucap Jonghun. Mendengar nama Wonbin, perasaan hatiku langsung kacau kembali.
"Jonghun…kenapa aku harus bertemu dengan orang itu lagi? Kenapa harus dia yang mendekati Kira? Ah! Padahal kuharap aku tidak akan pernah lagi berurusan dengannya, Ck!"kujatuhkan tubuhku keatas kasur sambil meneriakkan semua pikiran yang menggangguku. Jonghun hanya bisa diam melihatku dan menghela nafas panjang.
Ya..itu benar, aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Cukup masalah itu yang menjadi urusan terakhirku dengannya. Ck…
"Pengkhianat…"ucapku kesal.
"Hongki…sudahlah…"ucap Jonghun pelan.
"Pengkhianat...Pengkhianat…Pengkhianat!"nada bicaraku makin tinggi semakin aku mengingat masalah itu. Masalah yang membuat aku dan dia benar-benar berpisah seperti ini.
"Hongki sudahlah! Untuk apa kau ingat lagi, kau sendiri yang memutuskan seperti itu!"Jonghun-pun ikut meninggikan nada bicaranya melihat tingkahku. Yah, aku tahu. Jonghun juga pasti tidak ingin mengingat masalah itu, masalah yang membuat kami berdua-Minhwan-Wonbin-dan Jaejin hidup terpisah seperti ini.
Sulit kupercaya, dia yang dulu pernah hidup bersamaku bisa menjadi orang yang paling kubenci dimasa depan.
"Hah…baiklah, lupakan masalah ini…"gumamku yang masih mendesis kesal mengingatnya. Jonghun hanya diam.
"Jonghun..kau sendiri bagaimana? Kau sudah yakin dengan perasaanmu terhadap Kazu? Aku lihat kau benar-benar mengkhawatirkannya, terbukti kau mencarinya dan membawanya kemari"ucapku sambil melirik Jonghun.
"Aku tidak tahu, dibilang menyukainya…tidak juga. Memang bagaimana rasanya menyukai seseorang? Seperti kau menyukai Kira?"ia balik bertanya padaku.
"Hah…kau sendiri yang yakin aku menyukai Kira, kau bisa mengenali perasaan orang lain tapi tidak dengan perasaanmu sendiri…"gerutuku kepada Jonghun yang masih menatapku penuh tanda tanya.
"Ck…apa aku bisa langsung mengerti dengan perasaan seperti itu"entah kenapa sekarang Jonghun malah terlihat kesal.
"Ng…besok adalah hari bebas, acara itu pasti akan dilakukan. Kau tahu-kan?"seruku.
"Oh, acara itu…aku rasa pasti dilakukan. Itu memang keinginan murid-murid MyeoungDam setelah mereka jadi senior-kan. Memangnya kenapa?"tanya Jonghun.
"Bagaimana kalau kita ikut acara itu diam-diam? Aku bersama Kira dan kau bersama Kazu, kita pastikan perasaan kita disana"usulku.
"Ha? Ikut? Kau tidak takut ketahuan murid lain? Bisa-bisa kau jadi kejaran para Primadonna nanti"heran Jonghun.
"Tidak akan..kalau acara seperti itu, tidak akan ketahuan. Bagaimana? Mungkin kalau kau menghabiskan waktu bersamanya lagi, kau bisa tahu perasaanmu"
"Aku rasa dia tidak akan ikut, dia masih sakit"
"He? Oh iya..kalau begitu kalian habiskan waktu berdua saja ditempat lain! Tempat yang bisa ia pakai istirahat juga…sayang sekali kalau kau melewatkan waktu ini, ingat besok pagi ia akan kencan dengan Seunghyun!"seruku lagi sambil menunjuk-nunjuk Jonghun.
"Seu..Seunghyun? Ck, aku lupa masalah itu…entah kenapa tiap aku mengingat hal itu aku jadi kesal"Jonghun memang terlihat kesal sambil mengigit bibirnya.
"Memang dasar cemburuan…iya sudahlah, hanya itu usulku. Besok sebisa mungkin aku akan menghabiskan waktuku bersama Kira, aku juga akan ikut acara itu! Sekarang aku mau tidur"aku-pun langsung mengguling-gulingkan badanku mencari posisi yang nyaman sebelum akhirnya benar-benar tertidur.
.
***
Kira POV
.
Akhirnya study tour kami selesai. Besok adalah hari terakhir dan hari bebas untuk bersenang-senang. Namun pikiranku masih melayang dengan orang itu, Lee Hongki.
"Bagaimana lukanya ya? Aku juga sudah merusakkan kalungnya, pasti kalung itu sangat mahal…Ash! Dasar Bodoh!"aku mengacak-ngacak rambutku sendiri untuk mengungkapkan rasa kesalku. Aku terlalu bodoh sampai bisa berbuat seceroboh itu.
"Hng…bagaimana ya?"gumamku cemas.
"Apanya yang bagaimana?"tiba-tiba saja seseorang sudah berdiri disampingku dan berbicara padaku.
"Wo..Wonbin? kau membuatku terkejut!"kagetku saat melihat sunbae tampan itu disampingku. Entah kenapa setiap melihat Wonbin, jantungku berdegup kencang. Lama-lama aku terbiasa dengan perlakuan manisnya, karena itu sepertinya aku juga menyukai sikapnya.
"Sedang apa kau disini sendiri? Menyendiri lagi?"tanya Wonbin sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa…Cuma mencari udara segar…"gumamku sambil mengalihkan pendanganku.
"Hmm...sebenarnya aku mencarimu…"ucapnya pelan. Aku-pun langsung menoleh kembali kearahnya.
"Ha? Kenapa lagi? Kau itu suka sekali mencariku…"ucapku sambil tertawa meledek.
"Hhem..kau sudah tahu kebiasaanku. Sejak bertemu denganmu, aku ingin sekali bisa dekat denganmu, kau menyadarinya-kan?"senyumnya lagi. Aku mengangguk pelan dengan wajah tersipu malu.
"Iya. Kau selalu mendekatiku…sebenarnya aku juga mau bertanya, kenapa kau mendekatiku?"ucapku takut-takut, karena sesungguhnya aku ingin tahu alasannya.
"Itu…..tidak akan kukatakan sekarang. Ada hal lain yang mau kutanyakan"ia tidak menjawabku dan malah tersenyum meledekku.
"Ck, baiklah. Apa yang mau kau tanyakan?"tanyaku ketus karena aku agak kecewa dia tidak mau memberitahukan alasannya sekarang.
"Kau…dekat dengan Hongki?"aku-pun langsung terdiam mendengar pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba ia membicarakannya? Apa dia tahu Hongki ada disini? Jangan-jangan dia melihatku dengan Hongki?
"Apa kau ada hubungan sesuatu dengan Hongki?"tanyanya lagi.
"Ho..Hongki? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"tanyaku kaget.
"Sepertinya…kau memang dekat dengannya…aku pernah melihatnya beberapa kali bicara denganmu disekolah"ucapnya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kami sama sekali tidak dekat"jawabku singkat.
"Hm…benarkah?"tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan.
"Syukurlah"ia tersenyum. Aku langsung terdiam heran.
"Kenapa? Sepertinya kau senang sekali?"tanyaku.
"Haha, tidak apa-apa"ia tersenyum lagi. Sepertinya ada yang dia sembunyikan. Aku-pun hanya bisa diam tak mau lagi memperpanjang pembicaraan soal Hongki.
"Baiklah, hanya itu yang mau kutanyakan. Sebaiknya kau kembali kekamarmu, kau tidak mau kena flu musim panas-kan?"lagi-lagi ia mengacak-ngacak rambutku.
"Iya, baik. Aku kembali sekarang. Jangan mengacak-ngacak rambutku lagi"aku bergumam kesal. Namun sebenarnya aku merasa sedikit senang karena dia memperhatikanku. Entah kenapa, aku belum pernah seperti ini terhadap laki-laki sebelumnya.
.
Author POV
.
Satu lantai dari balkon tempat Kira & Wonbin berdiri, ternyata Hongki memperhatikan mereka sejak tadi. Raut wajah kesal terpampang jelas diwajahnya, mungkin lebih tepatnya dimakan oleh api cemburu.
"Siapa yang akan mendapatkannya…ck, kata-katamu waktu itu ternyata memang tantangan yah"
.
***
Author POV
.
Keesokan Harinya
.
"Hyung! Kenapa dia juga ada disini?"
"Memangnya kenapa kalau aku ada disini?"
Lagi-lagi pertengkaran MinKi (Minhwan-Miki) dimulai. Baru saja hari bebas dimulai, kedua makhluk Tuhan ini sudah memulai kebiasaannya. (=_=)
"Minan, bukankah lebih baik kau ikut denganku daripada harus jadi incaran siswi-siswi lain. Aku tahu kau sedang menghindari mereka"bisik Jaejin kepada Minhwan sambil melirik deretan siswi-siswi MyeoungDam disekeliling mereka yang sudah melihat dengan tatapan memburu. (*o*)
"Iya, tapi kenapa harus ada dia?"sinis Minhwan sambil melirik kearah Miki.
"Apa kau terganggu kalau ada Miki? Tidak-kan?"tanya Jaejin heran.
"Hah…terserah Hyung saja"Minhwan-pun pasrah. Memang tidak ada alasan baginya untuk menolak Miki, Jaejin memang mengajaknya dan Miki. Kalau Minhwan tidak bersama Jaejin sekarang, mungkin di hari bebasnya ini dia akan terkepung bersama para siswi-siswi lain yang sudah siap mengantri berkencan dengan pujaan sekolah mereka ini.
"Tenang saja, aku juga tidak akan mengganggumu"Miki membalas sinis kearah Minhwan. Dan Minhwan hanya bisa melirik malas.
"Jaejinie~"tiba-tiba saja seseorang berteriak memanggil nama Jaejin dengan manis dari arah belakang. Mereka bertiga-pun menoleh serentak.
"Ah, noona kau sudah datang?"Jaejin-pun menyambut Yeonhee dengan senang hati. Ia berlari menghampiri Yeonhee
Yeo…Yeonhee-shii?
Jangan-jangan…dia juga ikut bersama kami?
Pikir Miki cemas.
"Kenapa? Kau cemburu ya?"senyum tipis Minhwan sambil meledek Miki.
"Ha? Mana mungkin, untuk apa aku cemburu…berhenti menggodaku!"kesal Miki.
"Hah…dasar kau itu…sudahlah, ayo jalan. Aku mau segera lepas dari tatapan-tatapan mengerikan ini…"lirik Minhwan cemas kearah siswi-siswi disekelilingnya. Namun Miki masih memandangi guru dan murid itu yang sedang mengobrol.
"Kau mau jalan atau tidak? Aku pergi sekarang, nanti juga Jaejin hyung menyusul"ucap Minhwan lagi sambil melirik datar Miki dan mulai berjalan. Miki tak menjawab apa-pun, ia hanya membalikkan tubuhnya dan mengikuti langkah Minhwan dengan raut wajah agak muram.
Minhwan terus berjalan tanpa bicara sedikitpun dengan Miki. Miki-pun tak seberisik biasanya karena masih memikirkan Jaejin dan Yeonhee yang berjalan tak jauh dibelakang mereka. Minhwan yang merasa suasana ini agak suram-pun membalikan badannya, menghadang Miki.
"Hey…jangan buat suasana suram…seharusnya hari ini kita bersenang-senang-kan?"gerutu Minhwan dengan raut wajah datar.
"Aku tidak suram kok"ucap Miki singkat tanpa melihat kearah Minhwan. Jelas sekali terdengar nada suram dari suaranya. (=_=)
Minhwan-pun melirik kearah Jaejin dan Yeonhee dibelakang mereka, memang terlihat mereka akrab sekali.
"Kau tidak mau bersenang-senang?"tanya Minhwan.
"Nanti saja bersama Yoona & Soyeon"jawab Miki singkat.
"Kau tidak mau membeli souvenir?"tanya Minhwan lagi sambil melirik toko souvenir.
"Di rumahku juga banyak"singkat Miki lagi.
"Cemilanmu tidak kau makan?"Minhwan kembali bertanya.
"Aku tidak lapar"dan lagi-lagi hanya jawaban singkat yang diberikan Miki.
Urat nadi-pun keluar di wajah Minhwan. Maksudnya ia merasa kesal dengan jawaban-jawaban singkat Miki. (Efek Komik)
"Hey! Berhenti menjawabku singkat-singkat seperti itu! Mana semangatmu yang biasanya?"kesal Minhwan. Miki-pun langsung menoleh heran kearah Minhwan.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau tidak suka kalau aku berisik? Sekarang ini aku memang tidak mau bicara banyak kok"Miki-pun terlihat kesal dengan tingkah Minhwan.
"Ck…aku lebih tidak suka lagi kau muram seperti ini…"ucap Minhwan sambil mengalihkan pandangannya dan agak mengecilkan volume suaranya.
"Memang kenapa?"walaupun pelan, Miki masih bisa mendengar suaranya. Ia hanya menatap Minhwan heran dan juga agak kesal.
"Kau itu lebih bagus kalau ceria"ucap Minhwan singkat tanpa melihat kearah Miki.
DEG.
Apa yang ia katakan barusan?
Dia…memujiku?
Pikir Miki.
Entah kenapa ia merasa tersentuh dengan ucapan Minhwan barusan. Mungkin karena salah satu pujaan sekolah itu memujinya. Padahal selama ini mereka selalu bertengkar, baru kali Minhwan memujinya.
"Ba…bagus?"gumam Miki. Minhwan masih tersipu malu dengan ucapannya barusan. Sepertinya ucapannya itu sukses membuat gadis manis didepannya merona. (^_^) *author narsis gila!*
"Bagus? Kau pikir aku barang kau bilang bagus?"Minhwan-pun langsung menganga saat melihat Miki kembali membentaknya dengan semangat tinggi.
"Masih untung aku bilang bagus! Dasar kau itu tak tahu dipuji..menyesal aku memujimu barusan!"Minhwan-pun membalas teriakan Miki.
"Tapi kenapa bagus? Kesannya kau seperti memuji barang…"gerutu Miki dengan raut wajah cemberut. Minhwan-pun hanya bisa diam tak tahu lagi harus berkata apa. Ucapan Miki memang benar, kenapa ia malah memakai istilah Bagus? Apa ia terlalu malu untuk bilang Kau lebih Manis kalau ceria? *injek-injek author*
"Ehm…terima kasih…"Minhwan langsung tercengang mendengar ucapan Miki barusan.
"Terima kasih? Untuk apa?"bingung Minhwan.
"Hhem..ternyata kau lucu juga. Aku senang kok kau puji"senyum lebar Miki. Minhwan-pun semakin tercengang melihat senyuman gadis Jepang didepannya itu. Walaupun sering bertemu, namun ini pertama kalinya Miki tersenyum tulus padanya.
"Iya…"ucap Minhwan pelan sambil mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
"Hehe…mau jalan-jalan?"tiba-tiba Miki mendekatinya dan mengulurkan tangannya mengajak Minhwan pergi. Minhwan melirik kearah gadis mungil itu. *ngek*
"Ehm..iya-…"Minhwan mengulurkan tangannya perlahan mendekati tangan gadis Jepang itu, tapi...
"Miki!"belum sempat Minhwan menyetuh tangan Miki, Jaejin sudah memanggilnya, membuat Miki mengalihkan pandangannya kearah Jaejin.
"Oniisan!"seru Miki sambil tersenyum lebar.
"Yah…kenapa kalian meninggalkan kami? Ayo jalan lagi~"senyum Jaejin sambil menggandeng tangan Miki yang hendak Minhwan gandeng. Minhwan-pun langsung terdiam dan menarik kembali tangannya.
"Minari? Kau tidak apa-apa?"tanya Yeonhee heran saat melihat raut wajah Minhwan yang berubah seketika. Minhwan langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak. Ayo jalan lagi"ucap Minhwan sambil melanjutkan langkahnya diikuti Yeonhee.
.
***
Kazu POV
.
Aku berguling-guling diatas tempat tidur sendirian. Terus-terusan menggerutu untuk melampiaskan kekecewaan & kekesalanku. Aku sudah membatalkan janjiku dengan Seunghyun hari ini, aku juga terpaksa tidak bisa ikut acara bebas karena sakit.
"Argh! Menyebalkan!"teriakku frustasi. Aku menghela nafas panjang.
"Hah…kenapa aku tidak dibolehkan keluar? Padahal aku sudah lebih baik dari kemarin…"gerutuku pelan.
"Aku ingin pergi! Ingin! Ingin! Ingin! Aku mau menikmati hari bebas~~~ huwaaa~~~"teriakku memelas.
"Dan lagi…aku tidak enak dengan Seunghyun…sepertinya ada yang mau dia katakan…"pikiranku-pun melayang mengingat Seunghyun. Aku benar-benar merasa tidak enak padanya.
"Untuk apa kau memikirkan orang lain? Lebih baik kau pikirkan dirimu"tiba-tiba saja seseorang sudah berbicara dihadapanku.
"Jo..Jonghun?"kagetku saat melihatnya berada tepat dihadapanku. Ia hanya menatapku datar.
"Bagaimana bisa kau ada disini? Kau mendengar ucapan-ucapanku ya?"tanyaku kepada Jonghun.
"Kulihat semua guru ikut pergi jalan-jalan, sepertinya tidak ada yang berjaga disini. Jadi aku kemari, suaramu itu terdengar sampai luar tahu. Kau bahkan tidak dengar aku sudah berkali-kali mengetuk pintu"jelasnya masih dengan raut wajah datar.
"Kenapa kau bisa melihatnya? Jangan-jangan kau…menunggu sampai semuanya pergi?"
"Iya, aku menunggu didepan kamarmu secara sembunyi-sembunyi"jawabnya singkat. Aku-pun langsung terdiam.
Dia menunggu didepan kamar? Sejak kapan?
Dia menunggu…agar bisa bertemu dengaku?
"Kenapa?"gumamku pelan.
"Eh?"
"Kenapa kau melakukan itu? Untuk apa kau kesini? Aku benar-benar tidak mengerti sikapmu belakangan ini…kenapa tiba-tiba kau perhatian padaku?"ucapku lagi. Jonghun diam sejenak sambil menatapku dalam. Tak lama, ia-pun membuka mulutnya.
"Untuk itu aku disini…mungkin dengan bersamamu seharian, aku bisa tahu bagaimana perasaanku…"
DEG.
"Perasaan?"aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan barusan, lebih tepatnya aku tidak mengerti ucapannya.
"Kau mau menikmati hari bebasmu ini-kan?"ia bertanya padaku.
"Eh? I..iya"ucapku pelan.
"Aku akan menghabiskan hari ini bersamamu. Ikutlah denganku, tenang saja. Aku sudah memilihkan tempat yang bisa menjadi tempat istirahat juga"jelasnya. Aku terdiam sejenak memikirkan kata-katanya.
"Kau…melakukan itu semua…"gumamku pelan.
"Kau bisa-kan? Atau kau masih tidak enak badan?"tanyanya lagi.
"Ah…aku…aku bisa, aku sudah lebih baik dari kemarin.."ucapku.
"Baiklah. Aku tunggu kau diluar"ucapnya sambil meninggalkan kamarku.
Aku masih terdiam heran. Sebenarnya dia kenapa? Apa maksudnya perasaan?
Jonghun…sikapmu itu membuatku merasa istimewa sekarang…
Sebenarnya ada apa?
Jangan buat aku berharap…
Karena aku…
Aku menyukaimu Choi Jonghun…
.
***
Jonghun POV
.
Kuperiksa lagi suhu tubuhnya. Kutempelkan punggung tangan kananku dikeningnya.
"Kau masih demam ya? Benar tidak apa-apa?"tanyaku saat merasakan suhu tubuhnya yang masih sedikit panas.
"I..iya, hanya agak demam. Suhunya sudah turun sejak semalam. Aku tidak apa-apa"jawabnya.
"Hmm..baiklah, ayo.."aku-pun langsung menggandeng tangannya. Kelihatannya dia terkejut dengan apa yang kulakukan. Aku sendiri tidak percaya aku melakukannya. Sepanjang ini, aku hanya mengikuti kata hatiku. Entah kenapa aku merasa harus memperlakukannya dengan baik. Aku juga merasa tidak mau kehilangan dia.
Dia hanya diam disampingku. Sepertinya wajahnya tersipu malu. Aku-pun ingat dia punya janji dengan Seunghyun hari ini. Apa dia sudah membatalkannya?
"Bagaimana janjimu dengan Seunghyun?"tanyaku pelan.
"He? Kenapa kau tahu?"ia terkejut.
"Sudah kubilang, suaramu tadi sampai diluar. Aku dengar soal janjimu dengannya"ucapku bohong. Karena sebenarnya aku sudah tahu saat Seunghyun mengajaknya, aku ada ditempat yang sama waktu itu.
"Oh…memalukan sekali…"gerutunya pelan. Aku-pun melirik kearahnya.
"Mungkin orang yang mendengar suaramu itu tidak akan percaya kalau kau sedang sakit, haha"senyumku. Ia semakin tercengang melihatku sekarang. Mungkin karena ini pertama kalinya aku tersenyum padanya.
Aku hanya minta sifat sewajarnya kok
Kata-katanya waktu itu kembali terngiang dikepalaku. Kalau dipikir-pikir, mungkin dia memang kesal melihat sikapku yang membedakannya dengan murid-murid lain.
"Kau…akan pergi bersama Seunghyun?"tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku sudah membatalkannya semalam"jawabnya pelan. Terlihat sekali raut wajah tidak enaknya. Ia pasti tidak mau mengecewakan anak itu. Aku-pun tahu apa tujuan Seunghyun hari ini, sudah pasti…dia akan menyatakan perasaannya kepada Kazu.
"Kau mau menemuinya dulu?"walaupun aku tidak suka melihatnya bersama Seunghyun, tapi raut wajahnya itu entah kenapa membuatku tidak nyaman.
"Ng? Tidak usah…mungkin dia sudah pulang. Nanti saja kami bicarakan dirumah…"ucapnya pelan. Aku rasa dia benar-benar kecewa.
"Apa hubunganmu dengannya?"tanyaku lagi.
"Kami hanya teman…"
"Apa kau…menyukainya?"ia langsung terkejut mendengar pertanyaanku barusan.
"Ke…kenapa kau menanyakannya?"
"Bagaimana kalau dia menyatakan perasaannya padamu?"
"Kenapa kau bicara seperti itu, seolah kau sudah kenal dengannya?"wajahnya terlihat semakin bingung. Aku-pun menghela nafas.
"Ah..tidak, hanya menebak. Sudahlah, ayo kita jalan"ucapku yang kembali menarik tangannya pelan.
.
***
Seunghyun POV
.
Aku benar-benar terpuruk sekarang. Semalam Kazu menelponku, dia bilang dia tidak bisa menemaniku sekarang karena ia sedang sakit.
Kecewa sekaligus cemas melanda hatiku. Padahal aku benar-benar mengharapkan kencan hari ini sebelum aku kembali ke Korea, namun satu sisi aku juga cemas tahu dia sakit.
"Seunghyun, kau mau kemana?"tanya salah seorang teman sekelasku saat melihatku berjalan meninggalkan rombongan kelasku yang sedang mengobrol.
"Aku mau pergi sebentar"senyumku tipis.
"Kau sudah selesai beres-beres-kan? Ingat setengah jam lagi kita berangkat"ucap Hyunjung, teman sekelasku itu.
"Iya, aku hanya sebentar. Aku akan kembali"senyumku lagi sambil melanjutkan langkahku. Namun panggilan Hyunjung sekali lagi menghentikan langkahku.
"Seunghyun…"panggilnya. Aku-pun menoleh.
"Jangan tersesat lagi…jangan lupa Handphonemu.."ujar Hyunjung yang kelihatannya agak cemas. Aku-pun mengangguk dan tersenyum tipis, kemudian melanjutkan langkahku.
Kebetulan Hotel yang menjadi tempat SMA MyeoungDam menginap tak jauh dari hotelku. Aku juga sudah tahu jalannya, semoga saja aku bisa bertemu dengannya. Aku-pun sampai didepan hotelnya, hotel yang terlihat mewah. Jelas saja, MyeoungDam memang sekolah hebat.
Aku-pun mengambil Handphoneku dan bersiap menghubungi Kazu untuk bertanya nomor kamarnya. Namun pandanganku langsung teralih kearah suara yang kukenal tak jauh dari tempatku berdiri.
"Kazu?"mataku terbelalak saat melihat Kazu keluar dari hotel bersama dengan seseorang, Choi Jonghun?
Kenapa Kazu bersama dengannya?
.
To Be Continued (^_^)
Now Playing : FT Island – Even It's Not Necessary
.
Ayoooo di komeeeeennnn~~~ (^_^)
Jangan bosen-bosen untuk komen yah, biar aku makin semangat nulis & publish. Ada kesalahan-kah dichapter ini? Banyak? Yah, tolong kasih tahu ya. Masukan saran juga sangat membantu. Sekali lagi terima kasih udah nyempetin waktu baca Mr. Cassanova. Jeongmal Gomawo, Honto ni Arigatou~ (^_^)
