Junmyeon mengetuk pintu yang di tunjuk Chanyeol tadi, setelah mendengar jawaban 'masuk' dari dalam Junmyeon membuka pintu dan segera mendekat ke arah meja seorang dokter yang ternyata masih muda itu dan duduk setelah di persilahkan.

"ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut dengan suara khasnya yang berwibawa.

"begini dokter..."

Junmyeon menggantungkan kalimatnya dan mengarahkan pandangannya kearah plakat diatas meja sang dokter yang bertuliskan

Oh Sehun, Ph.D.

.

.

.

.

.

.

Title : ASTRAY

Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)

Rate : T to M (for save)

Main Cast :

Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.

Desclaimer :

Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.

Warning :

Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

Sementara Junmyeon sedang mengadakan sesi curhat doong! bersama sang psikiatri, Baekhyun memutuskan untuk menunggu di ruang kerja kekasihnya, mumpung kekasihnya ini tidak ada pasien.

"ada apa dengan direkturmu itu?" tanya Chanyeol sambil merangkul kekasih mungilnya ini.

"Junmyeon namanya, Chan."

"iya iya... kenapa dia?"

"gangguan mental." Jawab Baekhyun acuh

"serius?, kalau aku tidak salah kira dia baru bekerja disana seminggu ini kan, dan dia sudah terkena gangguan mental? Hebat benar tekanan kerja disana." Chanyeol terkejut bukan main, Baekhyun mengatakan gangguan mental seolah itu hanya sebuah penyakit alergi ringan.

"bercanda sayang. Aku masih belum tau, tapi tadi pagi dia cerita padaku kalau dia selalu mengalami gangguan tidur." Ceritanya sambil memainkan salah satu kancing di kemeja Chanyeol, lalu tiba-tiba Baekhyun mengangkat kepalanya. "aaahh...begini, sekarang aku ingin tanya padamu jika seseorang mengalami gangguan seperti sleep paralysis setiap malam menurutmu dia kenapa?"

Mata Chanyeol melirik keatas,berpikir. "mungkin benar katamu kalau dia tekanan mental, karena setauku sleep paralysis terjadi salah satunya karena kondisi psikis yang kurang baik."

"tapi say, kalau menurutku ini berhubungan dengan rumah barunya karena dia juga bilang kalau dia mengalami itu sejak dia pindah, semacam ada aktifitas paranormal mungkin?"

Baik Chanyeol maupun Baekhyun sama-sama diam. Semua kemungkinan terasa benar karena kejadiannya pun belum begitu pasti. Jika memang keadaan psikis seharusnya tidak sampai terjadi sesering itu melihat Junmyeon memiliki kondisi emosional yang baik-baik saja, tapi kalau dikaitkan dengan dunia supranatural pun belum ada bukti fisik makhluk tersebut menampakkan diri ketika Junmyeon sadar, setidaknya sampai saat ini Baekhyun tak mendengar kata-kata penampakan keluar dari cerita Junmyeon.

.

Tokk...Tokk...Tokk...

"masuk." Seru Chanyeol bersamaan dengan keduanya yang saling melepaskan diri. Setelah pintu terbuka nampaklah Junmyeon dengan keadaan yang... yaa, bisa dibilang tidak terlalu berubah sejak dia masuk ke ruang psikiatri tadi.

"bagaimana Hyung? Apa yang psikiatri itu katakan?" serang Baekhyun bahkan sebelum pantat Junmyeon mendarat di busa sofa.

"sejauh ini..." Junmyeon menggantungkan kalimatnya dan baik Baekhyun maupun Chanyeol ikut tegang menanti apa yang akan disampaikan pria berwajah pucat dihadapan mereka.

"tidak membantu." Jawab Junmyeon pada akhirnya. "sarannya tidak membuatku puas sama sekali. Dia bilang kondisi psikologiku normal, dan aku sudah mengatakannya padamu Baek kalau aku baik-baik saja, jadi tadi dokter hanya menyarankan agar aku lebih banyak istirahat, minum air putih dan olah raga, hanya itu."

Mendengar penjelasan Junmyeon, satu dari tiga orang di ruangan itu mengubah ekspresinya secara dramatis, "hyung, kalau begini aku jadi yakin kalau penyebabnya adalah rumahmu. Ini sebuah teror, hyung."

"Baek, kau pikir ini adegan film?, tidak perlu sampai se-drama itu ah, kau ini berlebihan sekali." Sela Chanyeol yang membuat Junmyeon memandangnya heran 'ey,tumben sekali dia tidak sejalan dengan pacarnya?'

"tapi Chan, kalau sudah begini hasilnya aku yakin itu perbuatan roh jahat. Dia mengambil kesempatan saat kau tidur hyung, mulai sekarang kau harus waspada." Baekhyun memperingatkan dengan mata sipitnya yang kesulitan mendelik.

"baiklah, terserah apa katamu. Tapi aku juga mau tanya padamu Chanyeol."

"ya?" yang disebut namanya menatap heran.

"Baekhyun tidak pernah cerita kalau kau seorang dokter."

"itu karena kau tidak pernah bertanya." Sela Baekhyun

Junmyeon memandang Baekhyun tanpa minat dan kembali memandang Chanyeol, "lalu kalau boleh aku tau, kau dokter apa?"

"aku dokter spesialis anak." Jawab Chanyeol dengan deretan giginya yang ikut eksis

"spesialis anak?" ,yang ditanyai Junmyeon hanya mengangguk, "kau yakin bukan spesialis 'membuat' anak?"

"hah?" Baekhyun dan Chanyeol memang mengeluarkan seruan yang sama namun dengan makna berbeda, Chanyeol dengan ekspresi bertanya sedang Baekhyun dengan ekspresi terkejut.

"lupakan saja, baiklah kalau begitu aku akan pulang sekarang."

"ee..ap..apa perlu kuantar?" tawar Baekhyun setelah kembali dari keterkejutannya.
"tidak usah, aku naik taksi saja."

"kau yakin?" tanyanya sekali lagi, memastikan.

"iya. Yasudah kalau begitu terima kasih Baek sudah mengantarku kesini, aku pamit dulu. Permisi."

"silahkan." Jawab Baekhyun dan Chanyeol bersamaan, "hati-hati dijalan,hyung." Tambah Baekhyun dan Junmyeon hanya menjawabnya dengan senyum singkat lalu berlalu begitu saja.

.

.

.

Sesampainya dirumah Junmyeon tak langsung mengganti pakaiannya. Setelah melempar jas, dasi dan tasnya dia langsung menuju kearah dapur, membuka kulkasnya dan mengambil sebotol jus jeruk untuk dia tuangkan ke gelas berukuran besar. Membawa segelas jus jeruknya duduk di meja makan dan mulai membuka aplikasi web browsernya untuk berselancar di dunia maya.

"papan ouija..." lirih Junmyeon membaca deretan huruf yang tertera di ponselnya. "papan ouija adalah salah satu permainan yang sering digunakan sebagai media berkomunikasi dengan makhluk astral..." Lanjutnya membaca beberapa penjelasan disana, setelah membacanya keseluruhan Junmyeon menyimpan poselnya diatas meja dan terlihat merenung.

"papan ouija...dimana aku bisa mendapatkannya?" namun kemudian dia ingat kalau beberapa meter dari rumahnya ada sebuah tempat unik yang menjual barang-barang tidak umum, kalau dia beruntung mungkin dia bisa mendapatkannya disana.

Ide yang bagus, direktur muda tersebut kemudian membuka kulkasnya lagi dan mengambil sebuah apel merah disana, lantas Junmyeon kembali melangkahkan kakinya keluar rumah sambil menggigit apelnya, berniat untuk mendapatkan benda yang dia inginkan.

.

Junmyeon membuka pintu tempat yang dia maksud tadi sehingga terdengar bunyi gemerincing lonceng, sementara di salah satu ujung ruangannya terlihat seorang wanita cantik berdiri di belakang sebuah meja.

"ada yang bisa saya bantu?" sapanya setelah wanita itu melihat Junmyeon mendekat kearahnya.

"eng... apa disini menjual papan ouija?"

Wanita itu tersenyum sejenak sebelum menjawab, "kau ingin menguji nyali?"

Junmyeon hanya mengangkat satu alisnya, entah maksudnya mengiyakan atau hanya tak ingin menjawab pertanyaan tersebut.

"mari saya tunjukkan." Ucap wanita itu keluar dari mejanya dan membimbing Junmyeon menuju ke salah satu sisi ruangan di balik rak-rak medium yang berjajar cukup rapi disana. "ini benda yang kau inginkan."

Junmyeon melihat sebuah papan kayu dengan warna khasnya yang dibubuhi alfabet dan angka-angka serta simbol matahari dan bulan yang belum dia mengerti maksudnya. Junmyeon mengambil salah satunya dan membawanya ke meja tempat wanita berdiri tadi untuk kemudian dia tukar dengan sejumlah uangnya.

Setelah mendapatkan benda yang dia ingin Junmyeon segera membawanya pulang dengan perasaan yang campur aduk. Dia bukan tidak mengerti resikonya tapi rasa penasarannya juga mendominasi. Akhirnya setelah berusaha mengumpulkan keyakinannya, Junmyeon mantap akan melakukannya malam ini juga.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, menurut panduan yang Junmyeon baca tengah malam adalah waktu yang tepat untuk melakukan permainan ini selain karena suasananya yang tenang banyak yang bilang pada jam-jam ini semua makhluk halus akan melakukan aktifitasnya, jadi Junmyeon pikir akan lebih mudah berkomunikasi dengan mereka.

Semua lampu di dalam rumahnya ia matikan kecuali lampu-lampu teras dan belakang rumahnya, menurut teorinya sendiri dia tidak ingin menarik perhatian makhluk-makhluk lain dari luar rumahnya dengan membuat rumahnya seolah tak berpenghuni sama sekali, dia ingin fokus pada makhluk-makhluk dunia lain yang ada didalam rumahnya.

Junmyeon kini telah berada didalam kamarnya, duduk bersila di lantai menghadap papan ouijanya yang juga ia letakkan dibawah dengan penerangan 2 buah lilin di sisi kanan dan kirinya.

Junmyeon menghela nafas sambil menggenggam planchette, sebuah papan segitiga kecil dengan lubang ditengahnya yang berfungsi sebagai penunjuk, sebelum akhirnya dia meletakknan planchette-nya di atas huruf "G" dan kemudian meletakkan jari telunjuk dan tengahnya diatasnya. Junmyeon memutar-mutar planchette-nya perlahan searah jarum jam lalu menutup matanya dan mulai merapalkan mantra.

"wahai jiwa-jiwa lain yang ada dirumah ini, mendekatlah dan tunjukkan diri kalian." Rapal Junmyeon dengan lirih namun penuh keyakinan dan konsentrasi.

Beberapa detik diawal tak membuahkan hasil, namun Junmyeon tetap merapalkan mantranya dengan lebih serius.

Menit berikutnya dia mendapati tekanan pada jarinya tak terkontrol, planchette yang ia pegang seolah punya kaki untuk bergerak sendiri sesuai keinginannya gerakannya tak lagi berputar seperti yang Junmyeon lakukan diawal namun bergerak kesegala arah. Sadar akan keganjilan yang terjadi perlahan Junmyeon mulai membuka matanya dan melihat api pada 2 lilin yang ia nyalakan telah padam salah satunya. Perasaannya mulai diliputi khawatir, namun ia tetap bertekad untuk melanjutkan permainan ini sampai ia berhasil mengajak salah satu dari mereka berkomunikasi dan meminta mereka pergi supaya tidak lagi mengganggu tidurnya.

"beritahu aku siapa namamu?" Junmyeon mulai melontarkan pertanyaan. Seharusnya jika berhasil planchette itu akan bergerak disekitar huruf yang tertera hingga menjadi sebuah tulisan.

Tapi bukannya sebuah kata yang terangkai planchette Junmyeon justru seperti ingin berlari, semakin bergerak tak beraturan. Seketika Junmyeon menekan planchette-nya sedikit lebih kuat agar berhenti dan berhasil, untuk sesaat planchette tersebut berhenti dan Junmyeon menghela nafasnya lagi yang kini sudah terlihat memburu.

Hening sejenak... dia mengatur nafasnya dengan tetap memperhatikan planchette-nya yang tak menunjukkan gerakan apapun setelah ia tekan cukup kuat dan dia mulai kembali mengumpulkan konsentrasinya.

Junmyeon sudah akan membuka mulutnya sebelum dia merasakan sebuah tarikan kuat pada jari yang ia gunakan untuk menekan planchette hingga tubuhnya terhuyung kedepan hingga membuat satu-satunya lilin penerangannya terjatuh dan padam karena tersenggol lengannya, detik berikutnya kamar Junmyeon menjadi gelap sepenuhnya.

Nafas Junmyeon kian memburu, dia bertahan pada posisinya dan memperhatikan ruangannya yang sama sekali tidak dimasuki cahaya. Ini sudah lebih dari ganjil, ini tidak benar dia merutuki keputusannya yang tidak ia pikirkan matang-matang. Dia tidak habis pikir bahwa kegagalannya akan sampai separah ini. Ingat bahwa permainan ini tak akan berhenti dan roh-roh jahat itu akan selalu mengikutinya sebelum dia berhasil mengarahkan planchette pada kalimat "good bye" , Junmyeon mulai berusaha bangkit.

Braakkk...Prrangg...

"akh.." Namun respon yang ia terima sungguh diluar dugaan, dia baru akan menyangga tubuhnya untuk bangkit namun sesuatu yang tak dapat ia lihat seperti menghantamnya hingga ia terpelanting kebelakang dan berakhir dengan punggungnya yang menabrak nakas hingga sebuah pigura diatasnya terjatuh menimpa kepalanya, tak lama dia merasakan sebuah cairan mengalir melewati pelipis kirinya, dia tau mungkin keningnya telah terluka akibat pigura tadi.

Sambil menahan sakit luar biasa di punggung dan kepalanya Junmyeon kembali berusaha bangkit untuk mencari planchette yang terlempar entah kemana. Junmyeon meraba-raba lantainya untuk mencari benda kecil tersebut ditengah kamarnya yang sungguh gelap, dia tidak bisa menyalakan lampu begitu saja sebelum ia mengakhiri permainannya dengan benar. Itu sama saja kau membiarkan roh-roh jahat yang bersamamu tadi terus mengikutimu, karena mereka merasa kau tidak menyuruhnya pergi, itu isi panduan yang Junmyeon baca sebelumnya.

Setelah mendapatkan planchette-nya kembali Junmyeon berusaha untuk menyalakan lilinnya agar dia bisa melihat dimana letak kata "good bye" di papan tersebut. Berhasil membuat satu lilinnya menyala, Junmyeon terkejut melihat papan ouijanya tiba-tiba terlempar dan menghantam wajahnya cukup keras dan terjatuh begitu saja. Junmyeon tak bisa menahannya lebih lama lagi sebelum kepalanya hancur menerima serangan fisik semalaman seperti ini.

Melawan penjahat mungkin lebih baik menurut Junmyeon karena setidaknya dia masih bisa menghindar atau melawan, tapi jika yang dihadapinya makhluk tak kasat mata begini bagaimana ia bisa melawan?, menghindarpun rasanya sulit.

Junmyeon membenahi letak papan ouijanya dan meletakkan kembali planchette-nya keposisi awal kemudian dia merapalkan mantra untuk mengatakan pada roh-roh tersebut bahwa permainan akan berakhir, merasa planchette-nya akan bergerak Junmyeon segera mengarahkannya pada sebuah kalimat "good bye" yang tertera di ujung bawah papan ouijanya. Dia menahannya sebentar agar roh-roh itu berhenti mengerjainya lagi.

Setelah suasana kembali seperti semula dengan api pada lilin yang kembali terlihat berdiri sempurna Junmyeon bangkit menuju saklar lampu untuk menyalakannya dan betapa terkejutnya ia jika keadaan tempat tidurnya berantakan. Selimut yang telah jatuh ke lantai, bantal guling yang tak sesuai tempatnya hingga spreinya yang seperti mengumpul ditengah kasurnya.

Junmyeon menghela nafas lelah, "kupikir hanya aku yang mendapat serangan." Entah sudah berapa kali dia menghela nafas seharian ini. Melihat kondisi kamarnya yang tak berbentuk membuat dirinya tak berhasrat sama sekali untuk menidurinya oleh karena itu dia memutuskan untuk tidur di sofa depan tv saja, sebenarnya masih ada satu kamar lagi tapi dia sudah menggunakannya sebagai ruang kerja pribadinya.

Tanpa merapikan apapun –kecuali lilin dan papan ouijanya- Junmyeon langsung menuju sofa ruang tv dan membaringkan tubuhnya disana, melamun sebentar sampai akhirnya matanya redup sendiri dan membawanya ke 'dream'land.

.

.

.

"urrgh...ahh..."

Pria berparas malaikat itu meregangkan badannya sambil mengerang dengan keras, tubuhnya serasa remuk sampai ke sumsum tulang dan inti selnya. Nyeri sekali, tapi dia bersyukur setidaknya tidurnya kali ini sangat nyenyak.

Tunggu...

Nyenyak? ,benarkah?

Pria bermarga Kim tersebut reflek langsung terduduk dan melihat kearah jam mejanya dan terkejut melihat angka digital yang tertera di layarnya.

07.56 a.m

Namun keterkejutannya itu hanya berlangsung sesaat karena hal yang pertama, untuk memaksakan diri datang ke kantor pun meski dia bisa ngebut dia tetap akan terlambat. Kedua, dia agaknya sadar kalau semalam ini dia tidak terbangun sama sekali. Ini memang pertama kalinya Junmyeon mengawali tidurnya dengan tidur di sofa, biasanya dia akan pindah ke sofa ini hanya jika dirinya terbangun karena mimpi buruknya atau yang Baekhyun sebut sleep paralysis itu. Pikiran Junmyeon kembali melayang, apa mungkin memang kamarnya saja yang bermasalah? Atau lebih tepatnya roh-roh jahat itu hanya menghuni kamarnya.

Tak mau terlalu lama merenung Junmyeon beranjak mengambil ponselnya yang ia simpan di atas meja, memilih satu nomor di list kontaknya dengan nama 'sekretaris Yoon' dan menghubunginya.

"aku tidak masuk kerja hari ini, tolong hubungi bagian HRD dan katakan bahwa aku sedang tidak begitu sehat. Nanti kalau ada sesuatu atau informasi yang penting kau bisa menghubungiku." Ucapnya setelah teleponnya tersambung.

Istirahat penuh seharian ini mungkin pilihan yang jenius untuk Junmyeon. Dia baru mendapatkan tidur yang berkualitas pagi ini jadi dia tidak ingin merusaknya dengan buru-buru datang ke kantor dan menghancurkan reputasinya sebagai direktur yang teladan karena dia terlambat.

Setelah meletakkan kembali ponselnya Junmyeon mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Kebiasaan Junmyeon sebelum mandi adalah menuju wastafel di kamar mandinya untuk sikat gigi, namun betapa terkejutnya ketika ia melihat kearah cermin. Dahi hingga pelipisnya penuh dengan darah yang mengering. Junmyeon baru ingat kalau dia tak sempat mengobati lukanya semalam dan membiarkannya terbuka begitu saja. Baiklah, dia akan segera menuntaskan acara membersihkan dirinya dan akan merawat lukanya setelah itu.

.

Setelah mandi dan merawat lukanya yang ternyata tak cukup jika hanya ditutup oleh plester biasa sampai dia harus menggunakan kasa dan merekatkannya dengan plester gulung, Junmyeon merapikan rumahnya seperti yang sehari-hari dia lakukan, maklum lah masih single. Membersihkan kamarnya yang seperti baru terkena gempa dan menata kembali semua barang-barang sesuai tempatnya. Tak sengaja Junmyeon melihat papan ouijanya yang semalam ia taruh diatas nakas, "kau yang menyebabkan punggungku memar, kepalaku berdarah dan kamarku berantakan." Ucapnya setengah kesal pada papan permainan mistis yang dengan mudahnya membuat Junmyeon penasaran hingga merasakan akibatnya.

Krrruukkk...

Junmyeon melihat kearah perutnya, "dan sekarang kau membuatku lapar." Dengusnya bodoh, jelas dia lapar karena memang belum sarapan dan kemarin dia juga melewatkan makan malamnya hanya demi memahami perintah-perintah dalam permainan ouija.

Setelah mengutuk tak jelas pada papan permainan yang tak bersalah itu, akhirnya Junmyeon mengambil dompet dan ponselnya untuk dia bawa keluar. Sarapan di luar mungkin cukup menyenangkan mengingat selama ini Junmyeon melalui jam sarapannya hanya dengan roti panggang dan secangkir kopi instan.

.

Rumah Junmyeon memang masuk kedalam sebuah gang –tidak sempit karena masih bisa dilalui mobil- namun letaknya cukup strategis, tinggal jalan kaki beberapa meter keluar gang dan jalanan kota sudah dihadapannya dengan berbagai toko, tempat makan dan sebagainya yang berjajar di pinggirannya. Mata Junmyeon tergoda dengan salah satu Breakfast Restaurant disana, disebut seperti itu karena memang bukanya hanya di jam sarapan saja.

Junmyeon masuk dan langsung di sambut oleh aroma manis dan gurih yang menguar dihidungnya. Sengaja ia memilih duduk ditepi kaca besar yang membatasi area dalam restaurant dengan jalanan sehingga ia bisa leluasa sarapan sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan dan orang-orang disekitarnya.

"selamat pagi, silahkan menunya tuan."

Junmyeon mengalihkan pandangannya dan sejenak dia terpana dengan wajah manis itu –ekhem...dia satu jenis dengan Junmyeon ngomong-ngomong- sebelum kemudian dia melihat daftar menunya.

"gyeranjjim, miyokguk dan nokcha." Junmyeon mengakhiri pilihan menu sarapannya dengan mengangkat kepala seperti melihat wajah si pelayan, memang...tapi sekaligus mencuri pandang pada name tag yang dikenakan pelayan tersebut, 'Lay' –ulangnya dalam hati.

"baiklah, mohon tunggu sebentar." Pamit pelayan tersebut sambil membawa catatan menu yang baru saja Junmyeon pesan, dia benar-benar ingin memanjakan perutnya dengan sarapan yang jauh lebih mengenyangkan dari sekedar roti dan kopi.

Tanpa disadari si pelayan tentu saja, ternyata Junmyeon memperhatikan pelayan tersebut sampai benar-benar menjauh dari tempat duduknya. Junmyeon sedikit menyesal duduk di pojokan begini, tau gitu dia duduk dekat kasir saja supaya bisa lebih sering curi-curi pandang saat pelayan itu menyerahkan daftar menu ke bagian pantry melalui meja kasir.

Tanpa sadar Junmyeon mengulas senyum tipis, menertawakan pikiran gilanya yang mungkin sekarang sedang mengalami fase 'tertarik' secara berlebihan pada seseorang.

Beberapa menit berlalu dan mata teduhnya menangkap siluet pelayan yang dia pikirkan dari kejauhan sedang berjalan menuju kearahnya.

Junmyeon tersenyum miring, dia tidak menyangka kalau otaknya benar-benar berfungsi dengan sangat baik di saat-saat penting begini. Segera dia mengubah rautnya menjadi sangat frustasi dengan menumpukan keningnya pada telapak tangannya yang menyangga diatas meja.

Sang pelayan idaman sampai di meja Junmyeon, "pesanannya tuan, emm..tuan?"

"ahh ya?" Junmyeon reflek mengangkat kepalanya dan melihat menunya yang telah sampai, "oh,sudah sampai. Letakkan saja." ,tak lupa dengan raut frustasinya.

"baiklah," si pelayan tersebut menata makanan Junmyeon dengan rapi di mejanya. Tadinya Lay –pelayan tersebut- berniat langsung pergi, namun melihat wajah pelanggannya yang seperti orang putus asa itu mengusik rasa ingin taunya.

"eum,tuan...maaf kalau aku lancang. Tapi saya perhatikan anda seperti mengalami masalah yang berat."

'got it, ternyata aku memang tampan sampai bisa menarik perhatiannya.' Batin Junmyeon tak sesuai tema.

"ya." Dia membuat pandangannya menerawang. "aku punya masalah yang berat, dan aku perlu seseorang yang bisa mendengarkanku. Mendengarkan saja, tidak perlu memberi solusi."

Tak ada jawaban dari lawan bicara Junmyeon, namun dari ekor matanya dia melihat Lay seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.

"eung...kalau anda tidak keberatan, mungkin aku bisa membantu eem, maksudku mungkin aku bisa mendengarkan anda." Jawabnya ragu dengan aksen bicara yang terdengar imut.

'I can't believe it's so easy. Sekali lagi terima kasih wajah tampanku.' Junmyeon terbahak dalam hati dibalik raut wajah yang telah dia buat frustasi.

"benarkah?" tanya Junmyeon memastikan

"tentu saja Tuan."

"hhh, baiklah kau boleh duduk." Si pelayan manis itu menuruti perintah Junmyeon duduk dihadapannya. "sebelumnya aku ingin minta padamu untuk berhenti berbicara formal dan memanggilku tuan, karna kita sedang jadi teman bicara saat ini jadi, panggil saja aku Junmyeon." Katanya sambil mengulurkan tangan dan di sambut hangat oleh tangan lembut si pelayan. Junmyeon ingin lompat-lompat rasanya.

"aku Lay." Jawab sang pelayang yang sepertinya langsung beradaptasi dengan permintaan Junmyeon.

Perkenalan yang baik, namun setelah ia menarik tangannya barulah Junmyeon menyadari betapa bodohnya dia. Dia kan cuma akting frustasi di tengah keadaanya yang bisa dibilang baik-baik saja. Hey, ingat kalau tidurnya nyenyak semalam?. Jadi sekarang dia bingung mau cerita apa. 'sial...ayolah otak cerdas, aku harus bicara apa sekarang ini?' akhirnya Junmyeon frustasi sungguhan.

Lay memicingkan matanya, "Jun..myeon...ee, kau mau bicara apa? silahkan!"

"aku..." –'ayolaah...aku harus bicara ap...ahaa' ,fiuhh...otak cerdas Junmyeon ternyata tidak berhenti berfungsi.

"aku sedang mengalami masalah tidur." Junmyeon menangkap raut tak terbaca dari Lay, perasaannya ketar-ketir sekarang takut kalau Lay menganggap masalah yang diciptakan Junmyeon terlalu konyol untuk dijadikan alasan seseorang frustasi.

"hm, itu memang masalah klasik seorang pekerja. Tapi jika dibiarkan dampaknya juga akan buruk bagi tubuh."

Rasanya Junmyeon ingin pulang kampung dan mencium kaki ibunya, 'terima kasih Tuhan, ternyata dia meresponnya dengan baik. Sudah manis ramah pula.'

"iya. Dan ini juga bukan tanpa sebab. Kalau hanya kelelahan mungkin masih bisa kuatasi. Tapi ada faktor eksternal yang membuat aku jadi kurang tidur." Junmyeon kepikiran untuk menceritakan apa yang dialaminya.

"oh ya, apa itu?"

"ada rekanku yang bilang bahwa aku mengalami semacam sleep paralysis, tapi kalau menurutku ini lebih daripada itu. Seperti...ada yang aneh dengan rumahku." Efeknya luar biasa, sebelumnya Junmyeon tak pernah merasa senyaman ini bercerita tentang dirinya pada orang yang terhitung baru ia kenal.

"memangnya hal macam apa yang kau alami itu?"

"selalu saat aku tidur aku akan terbangun di tengah malam karena sebelumnya seperti ada bayangan atau makhluk apalah itu sebutannya yang seakan ingin mencekikku, parahnya itu terjadi setiap malam selama seminggu ini berturut-turut." Junmyeon melihat Lay merespon dengan gestur matanya yang melebar, terkejut mungkin?

"kau sudah mencoba berkonsultasi?"

"sudah, kemarin. Dan hasilnya tak memuaskan. Dokter psikologi tempatku konsultasi kemarin itu mengatakan kalau psikis ku baik-baik saja. Stabil dan tidak ada masalah sedikitpun."

Junmyeon terbawa suasana. Dia sampai lupa memperhatikan bagaimana ekspresi Lay karena terlalu asik bercerita, tapi ya sudahlah sekalian saja mungkin pria manis di depannya ini punya solusi yang lebih baik daripada Baekhyun. 'ngomong-ngomong soal Baekhyun, dia sudah tau belum ya kalau aku tidak ke kantor hari ini?'

"kau sudah menggunakan cara lain?, eem..yaa..mungkin konsultasi ke psikiatri lain atau mencoba apa begitu?"

"semalam, aku bermain ouija." Jawab Junmyeon ringan. Lay makin melebarkan matanya,

"ouija?, sendirian?"

"iya."

"kau pernah bermain itu sebelumnya?"

"tidak, ini pertama kali."

"bodoh."

Junmyeon tersentak. Oke, ini cukup berlebihan baginya karena selama 26 tahun hidup dan bersosialisasi, Lay adalah orang pertama yang berani mengatainya 'bodoh' hanya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam mengobrol. Karena terlalu terkejut, Junmyeon langsung mengalihkan perhatiannya pada makanan yang baru ia sadar belum disentuhnya sama sekali. Dia mengambil sendok dan memasukkan potongan besar gyeranjjim kedalam mulutnya.

Mendapati keadaan yang tiba-tiba hening, Lay menyadari kalau ada yang salah dengan ucapannya.

"ee..eh..maaf bukan begitu maksudku. Aku hanya...em..kau tau bermain ouija untuk amatir benar-benar berbahaya. Kau tidak tau makhluk apa yang akan kau hadapi. Aku hanya berpikir kalau kau terlalu nekat." Dari nada bicaranya Junmyeon tau Lay sedang panik. Junmyeon mengulas senyum singkat ditengah kunyahannya tanpa Lay sadari. Tapi dia belum juga menjawab, menggoda sedikit tidak masalah kan.

"maaf Junmyeon..."

Mulut Junmyeon berhenti mengunyah seketika. Demi wajah cantik ibunya, baru kali ini Junmyeon mendengar namanya terdengar begitu manis ketika diucapkan. Dia jadi ingin mendengarnya sekali lagi.

"apa kau bilang?"

"maaf.." ulang Lay dengan nada yang masih lirih

"aku tidak dengar."

"aku minta maaf. Maafkan aku." Kali ini Lay mengucapkannya dengan cukup lantang

"maaf pada siapa?" Junmyeon melancarkan aksinya

"padamu?"

"padaku? Memang siapa namaku?"

Lay mengernyit, tapi kemudian dia paham kalau pria itu menggodanya.

"maafkan aku, Junmyeon yang tampan."

Demi penguasa bumi dan surga, Junmyeon ingin fanboying rasanya. Dia hanya ingin Lay mengucapkan namanya sekali lagi saja, eeh ternyata dapat bonus imbuhan kata 'yang tampan' kan girang jadinya.

"baiklah, aku maafkan." Wajahnya sih santai tapi siapa tau kalau jantungnya berdetak tidak karuan.

"begini saja aku punya saran. Kalau kau mau mencoba, aku punya alamat seorang paranormal yang namanya sudah terkenal di daerah sini. Jika memang menurutmu rumah yang kau tempati itu berhantu mungkin kau bisa meminta bantuannya untuk membersihkan rumahmu."

"paranormal?"
"iya, dan kalau kau ingin berkomunikasi dengan roh-roh tersebut dia mungkin juga bisa mendampingimu bermain ouija." Saran Lay terdengar bagus untuk Junmyeon.

"boleh juga, kau bisa berikan alamatnya?"

"tunggu sebentar, kartunya ada di dompetku. Aku akan mengambilnya dulu."

Junmyeon hanya mengangguk sebagai jawaban.

Mungkin tidak sampai satu menit Lay sudah kembali ke mejanya dengan membawa selembar kertas kecil berbentuk persegi panjang.

"ini kartu namanya, alamatnya tertera disitu. Kau boleh membawanya."

"Kim-Min-Seok" lirih Junmyeon mengeja satu persatu nama yang tertera disana. "dia laki-laki?"

Lay menggeleng, "perempuan."

"namanya terdengar seperti laki-laki."

"mana ku tau, aku bukan yang memberi nama." Jawab Lay polos, ya memang benar bukan dia orang tua atau yang memberi nama pada paranormal itu dan Junmyeon hanya mengangguk bodoh.

"baiklah kalau begitu kurasa aku terlalu lama mengobrol, aku harus kerja lagi. Maaf ya?"

"ahh, tidak tidak. Justru aku yang minta maaf karena sudah merepotkanmu, dan...terima kasih ya sudah menemaniku ngobrol."

"tidak masalah, aku senang bisa membantu. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa." Pamit Lay sambil membungkuk sopan dan mengulas senyum terbaiknya. Sedangkan Junmyeon hanya membalas dengan ikut membungkukkan badannya.

Sepeninggalan Lay, Junmyeon memutar-mutar kartu nama di tangannya. Sampai akhirnya dia mengambil ponsel dan men-dial sebuah nomor

"hal-"

"HYUUUNG...KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU KALAU TIDAK DATANG KE KANTOR, HAH?"

Ohh...telinganya yang berharga. "maaf Baek, aku lupa."

"lupa kau bilang? Aku terlanjur mengerjakan semua laporanku sampai mataku perih supaya bisa segera kau tanda tangani dan ternyata hari ini kau memilih hanya berbaring di ranjangmu seharian?, tau begini aku ngopi saja daripada harus menyelesaikan laporan buru-buru."

Tipikal Baekhyun. Dia adalah satu-satunya bawahan paling kurang ajar yang Junmyeon miliki, yang berani membentak atasannya begini. Semoga saja Baekhyun tidak marah-marah di depan karyawan lainnya.

"baik baik...maafkan aku. Begini saja, kalau kau sudah menyelesaikan laporanmu hari ini juga kau kerumahku dan bawa semua berkas yang harus ku tandatangani, sekaligus ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"baiklah. Eh tapi, hyung. Kau tinggal sendirian ya?"

"iya. Kenapa?"

"kau tidak akan memperkosaku kan nanti dirumahmu? Jangan mentang-mentang kau tinggal sendirian lalu kau akan berbuat seenaknya denganku."

Junmyeon bitter drop /sweet drop udah umum #ctakk/ , kalaupun dia sebrengsek itu Junmyeon bisa bersumpah meskipun ada kesempatan besar tidak akan melakukannya pada Baekhyun, terlalu berisik.

"kau bisa sewa bodyguard kalau kau mau."

"baiklah aku percaya padamu. Kalau begitu setelah makan siang aku ke rumahmu, kirimkan alamatnya lewat sms saja."

"hmm... baiklah kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu." Tanpa menunggu jawaban lagi Junmyeon langsung memutus sambungan teleponnya. Junmyeon melihat mejanya dan nampak makanannya masih cukup banyak, tanpa banyak mengeluh lagi dia menghabiskan sarapannya yang sudah terasa dingin.

.

.

.

.

.

.

"perumahan Jamwon jalan Guri, rumah nomor 1.10, benar ini pasti rumahnya." Seorang pria berperawakan mungil dengan eyeliner tegas keluar dari sedan hitamnya. Sambil mengedarkan pandangannya pria tersebut mendekati sebuah rumah yang terbilang mewah, menggunakan dominan material kayu dengan warna alaminya dan bergaya modern klasik.

Tokk...Tokk...Tokk... Tokk...Tokk...Tokk... Tokk...Tokk...Tokk... Tokk...Tokk...Tokk...Jdakk (?)

"HEH.."

Pria ber-eyeliner itu tersentak kebelakang mendapati sang pemilik rumah keluar tiba-tiba dan membentaknya.

"punya sopan santun tidak? ,biasa saja mengetuk pintunya." Junmyeon tak habis pikir, tidak bisakah Baekhyun sedikit lebih normal setidaknya untuk sehari saja?

"hhehe, takutnya nanti kau tidak dengar." Si pelaku hanya cengengesan merasa tak bersalah.

"masuklah." Dengan perasaan yang masih dongkol karena dia hampir menumpahkan minumannya mendengar ketukan brutal dari Baekhyun, Junmyeon mempersilahkan tamunya itu untuk duduk dan menyamankan diri di sofa ruang tamu rumahnya.

"kau mau minum apa?"

"apa saja asal jangan air putih atau sirup, dirumahku juga banyak." Mulut Baekhyun terasa tanpa beban saat mengatakannya.

Junmyeon menoleh dengan raut datar, "kau mau kopi rasa sianida?"

"kau bercanda?" mata Baekhyun menyiratkan rasa was-was dibalik pertanyaanya. Tanpa menjawab apapun atau setidaknya merubah ekspresi psikopatnya, Junmyeon akhirnya berlalu menuju dapur.

Junmyeon kembali dari dapur dengan membawa 2 gelas cola dingin dan beberapa makanan kecil. Setelah itu dia mulai meminta laporan-laporan Baekhyun dan berkas-berkas mana saja yang harus dia tanda tangani. Selesai dengan pekerjaannya, Junmyeon menyusunnya kembali dan menyerahkan lagi pada Baekhyun.

"jadi, kau ingin membicarakan apa lagi denganku?" buka Baekhyun setelah semua laporan dan berkasnya ia simpan dalam tasnya.

"Baek, kau tau permainan papan ouija?"

"tau. Kenapa?"

"kau pernah memainkannya?"

"belum. Memangnya ada apa? kau ingin memainkannya?"

"sebenarnya, aku sudah mencobanya semalam."

"Apaaaah?, kau bermain ouija? Dengan siapa?" tiba-tiba Baekhyun menegakkan duduknya

"sendirian."

"HAAAHH..." ,dan kali ini dia sampai berdiri.

"Baek, berhenti terlalu heboh. Kau mau tetangga berpikir macam-macam?" benar kan, Baekhyun jadi hal keempat yang membuat Junmyeon gampang emosi setelah ngantuk, lapar dan gerah.

"tapi... Hyung, astaga apa kau sudah gila?, kau bilang kau bermain ouija sendirian? Kau ini bodoh atau bagaimana sih?"

Baiklah, sepertinya setelah ini Junmyeon akan benar-benar mengutuk papan ouijanya karena sudah 2 orang yang berani mengatainya bodoh, yang satu baru kenal sedang satunya lagi adalah bawahannya. Betapa kejamnya dunia.

"hyung, aku bilang padamu ya, meskipun sudah terlambat. Bermain ouija itu sangat berbahaya untuk dilakukan sendirian apalagi oleh orang awam sepertimu. Mencoba berkomunikasi dengan makhluk halus itu tak semudah seperti kau bicara dengan bawahanmu, kau tidak tau makhluk seperti apa yang kau hadapi. Aku tanya padamu, apa yang sudah kau dapat dari permainan itu?"

Junmyeon menunjuk dahi kirinya yang ditambal kasa dan plester. Baekhyun memicing tak mengerti,

"maksudnya? Ada apa dengan keningmu?"

"seperti ada yang melemparku, punggungku menabrak nakas dan pigura jatuh menimpa kepalaku." Jelas Junmyeon singkat dengan wajah biasa saja.

"tuh kan, apa ku bilang. Mereka bahkan bisa melakukan serangan fisik dan melukaimu. Belum lagi jika mereka tidak bisa diusir, kau akan lebih menderita daripada yang telah kau alami sebelumnya."

Kalau sudah begini Junmyeon jadi ingat ibunya yang sering memarahinya waktu kecil saat dirinya terlalu lama main pasir sampai kaki dan tangannya gatal-gatal.

"tenanglah Baek, aku tau kau sangat menyayangiku. Tapi kau tak perlu sampai sekhawatir itu. Karena jika sampai hal itu terjadi aku akan bisa menanganinya."

"bagaimana caranya?" Baekhyun baru ingat kalau dia masih berdiri, jadi dia kembali duduk.

"dengan ini." Junmyeon menggamit sebuah kartu dengan jari telunjuk dan tengahnya. Penasaran, Baekhyun langsung mengambil alih kartu tersebut.

"Kim Min Seok?, siapa dia?"
"seorang paranormal terkenal di daerah sini. Kau tau, aku mendapatkannya dari seorang pria manis pelayan restaurant." Junmyeon menjelaskan dengan raut berbinar mengingat wajah Lay si pria manis yang Junmyeon maksud.

Baekhyun sedikit mengernyit, "kau naksir seorang pelayan restaurant?"

"ya belum sampai ke tahap naksir begitu sih, hanya saja aku kagum dengan wajah manis dan sikap ramahnya."

"siapa namanya?"

"Lay" Junmyeon mengatakannya dengan raut bangga

"namanya jelek." Kalau ini film kartun Junmyeon pasti sudah terjengkang kebelakang, kalaupun nama itu terdengar aneh ditelinga Baekhyun seharusnya dia tidak usah memberi komentar, buat orang jengkel saja.

"terserah apa katamu. Yang pasti besok aku akan mencari alamat ini untuk mendapatkan kepastian tentang keadaan rumahku. Kau ingin membantu?"

"kedengarannya itu ide bagus. Baiklah, tapi aku tidak berniat ingin membantu."

Tuhaan...kalau saja di dunia ini tidak ada hukum, karma dan dosa Junmyeon bersumpah akan membuang Baekhyun ke kolam buaya.

"kau tidak ingin pulang?, kurasa Chanyeol sedang membutuhkanmu." Junmyeon tidak mengusir, cuma pengen Baekhyun cepat pulang saja.

"oh, kau benar. Aku tidak harus kembali ke kantor karena aku sudah ijin pulang lebih awal untuk mengantarkan laporan padamu. Haha...baiklah kalau begitu direktur, aku pamit pulang. Semoga besok kau berhasil menemukan alamat tersebut. Sampai jumpa, selamat siang."

"iya... sampai jumpa." Jawabnya masih duduk di sofa, dia tidak perlu repot harus berdiri dan mengantar Baekhyun sampai depan rumahnya, toh sepertinya pria itu tidak mempermasalahkannya.

Setelah rumahnya kembali sepi sejak Baekhyun pulang, Junmyeon kembali memperhatikan kartu nama tersebut lalu beralih melihat kearah kamarnya.

"semoga aku bisa bertemu dengannya besok."

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

It's a looong chapter right? Hehe. Banyak yang nungguin mas Iching keluar ya?

Semoga Chap ini memuaskan ya... Dan untuk masalah rate, maaf kalo saya bikin baper dengan rate M padahal ga ada adegan begituannya, sebenarnya saya bikin T to M itu karena saya pikir percakapan Junmyeon dan Baekhyun itu kan rada-rada bikin pikiran melayang ya jadi buat alasan keamanan aja :D ,atau mungkin diganti T aja? tapi kalo memungkinkan seiring berjalannya waktu rencananya saya akan bener-bener buat ini jadi rate M #hiyahaha. Kepikiran ampe kesitu sih tapi belom pasti di chap berapa.

Anyway terimakasih untuk ;

heeriztator, viviyeer, Slhan, xingmyun, TaoTaoZiPanda, MinnieZhang, 12, ARox25, , Maple Fujoshi2309, .35, taolinna6823

yang sudah review di chap.2

Okelah, Happy Reading and Review juseyo...