FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship

Rated : T

Length : Part (On Going)

.

Part 12

.

***
Author POV

.

"Giliranku hampir tiba…kenapa Wonbin belum kembali?"gumam Kira cemas karena merasa sudah cukup lama menunggu sunbae yang berjanji menemaninya uji nyali itu. Kepalanya masih menoleh kesana-kemari mencari sosok yang dicari. Tubuhnya-pun tak bisa dipungkiri sudah ikut merinding mendengar teriakan-teriakan dan efek horror Night Tour itu.

GREP.

Tiba-tiba saja tangannya ditarik masuk melewati celah semak yang cukup besar.

"Ho..Hongki?"Hongki-pun langsung menbekap mulut Kira sebelum suaranya menggelegar dan membuat keberadaannya diketahui oleh yang lain. Ia-pun mengisyaratkan Kira untuk diam.

"Kenapa kau ada disini?"tanya Kira berbisik. Hongki-pun tersenyum lebar.

"Sudah kuduga acara ini pasti diadakan. Aku disini untuk ikut bersamamu"jelas Hongki dengan nada yakin. Kira-pun terkejut mendengarnya.

"Tapi kau bisa ketahuan yang lain-kan?"Kira semakin heran dengan kemauan Hongki.

"Tenang saja, aku sudah bekerja sama dengan panitia yang berjaga"tiba-tiba suara lain ikut terdengar dalam pembicaraan mereka. Suara itu tak lain adalah milik Minhwan.

"Minhwan? Bagaimana bisa?"Kira masih terlihat bingung.

"Sudahlah, yang penting kalian masuk sekarang. Aku yang menggantikan panitia itu sementara, jadi hanya aku yang tahu kalian masuk kedalam"jelas Minhwan.

"Kali ini aku ucapkan terima kasih banyak padamu Minan! Kekeke, ayo kita jalan"Hongki-pun langsung menarik tangan Kira memasuki arena Night Tour itu. Dan Minhwan hanya bisa menghela nafas panjang menuruti permintaan Hyung tertuanya itu.

"Minan"tiba-tiba saja pandangan Minhwan teralih oleh suara seseorang yang baru saja memanggilnya. Suara yang benar-benar dikenalnya. Ia benar-benar terkejut saat melihat orang yang ia bayangkan memang berdiri dihadapannya.

"Wonbin…hyung…"ucap Minhwan pelan. Dengan ekspresi yang sulit diartikan, Wonbin-pun mendekati hoobaenya itu.

"Se…sedang apa kau disini?"tanya Minhwan dengan nada cemas.

"Aku mencari pasanganku Kira, dia ada disini-kan?"pertanyaan Wonbin sukses membuat bibir Minhwan terkunci.

"Kira? Aku tidak tahu…"ucap Minhwan pelan. Entah kenapa Wonbin malah menatapnya tajam sekarang.

"Aku tahu Minan, dia yang membawanya-kan?"lagi-lagi Minhwan dibuat tersentak.

"Hah..dia benar-benar tidak berubah..tetap saja seperti dulu.."tanpa banyak bicara, Wonbin-pun segera melangkahkan kakinya memasuki tempat itu, namun Minhwan menahan tangannya.

"Kau juga menyukainya?"tanya Minhwan. Wonbin-pun mendelik tajam kearah Minhwan.

"Iya, aku menyukainya"Wonbin-pun segera melepaskan tangannya dari Minhwan dan kembali melangkahkan kaki memasuki tempat Night Tour, meninggalkan Minhwan yang masih terdiam kaku dibelakangnya.

.

***
Jonghun POV

.

Kapan dia datang? Ini udah 5 menit berlalu setelah aku meneleponnya

Apa jarak dari kamarnya kesini terlalu jauh?

Huh..apa aku yang terlalu berlebihan menunggunya? Ck…

"Jonghun"akhirnya kudengar juga suara yang kutunggu-tunggu. Kulihat gadis itu berjalan pelan mendekatiku. Entah kenapa melihatnya sekarang dihadapanku, aku merasa lega seakan-akan ada sesuatu yang sudah terpenuhi. Yah..seperti disaat kau haus dan minuman datang padamu, kebutuhanmu terpenuhi bukan? *contohnya aneh, author pabo*

"Kenapa lama?"tanyaku singkat. Ia terlihat kaget mendengar pertanyaanku barusan.

"Eh? Apa aku lama? Padahal aku langsung turun begitu menerima teleponmu"jawab Kazu yang masih bingung dengan pertanyaanku barusan. Sepertinya memang aku yang berlebihan menunggunya.

"Ash..sudahlah, kemari!"perintahku kepada Kazu. Ia-pun menuruti perkataanku dan semakin memperpendek jaraknya.

Drrrttt…Drrrttt…

Tiba-tiba saja Handphone yang ada digenggamannya bergetar, ia-pun melirikku sekilas seolah meminta izin mengangkat telepon itu dan aku hanya bisa mengangguk.

"Eh? Seunghyun?"mataku langsung terbelalak begitu mendengar nama itu disebutnya saat melihat layar Handphonenya.

"Ada apa dia menelepon? Halo…Seung?"Kazu-pun mengangkat teleponnya. Perasaan menyesal memenuhi batinku sekarang, untuk apa aku mengijinkannya mengangkat telepon apa lagi telepon itu dari dia?

"Loudspeker suaranya!"seruku singkat.

"Eh?"Kazu terkejut melihatku.

"Kubilang Loudspeker suaranya!"lantangku lagi. Kazu-pun langsung membekap Handphonenya.

"Jonghun? Kau kenapa? Bisakah membiarkanku sebentar? Ini privasiku"ia terlihat agak kesal dengan perintah-perintahku.

Privasi? Oh, jadi telepon dari orang itu adalah privasimu?

Privasi yang tidak boleh diketahui oleh AKU sekalipun?

Aku-pun segera merebut Handphone itu dari tangannya.

"Jonghun?"tanpa bicara banyak, aku-pun langsung mematikan Handphone itu.

"Kutarik izinku barusan. Tidak ada yang boleh mengganggu saat kita berdua!"tegasku sambil mendelik tajam kearahnya yang terlihat sangat terkejut dengan pernyataanku barusan.

"Kau…sebenarnya ada apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti sikapmu!"mungkin kesabarannya mulai habis menghadapi tingkah egoisku sejak tadi. Aku-pun mendekap dan menyandarkannya didinding pohon agar dia tidak bisa lepas dariku.

"Jo…Jonghun…"

"Kau…tidak boleh ada seorang-pun yang mengganggu kita disaat seperti ini, terutama bocah itu!"gertakku keras.

"Apa maksudmu?"ia hanya bisa menatapku nanar.

"Kau tidak boleh mengalihkan pandanganmu kearah lain! Hanya aku! Hanya aku yang harus kau pandang!"jelasku lagi, kali ini nada bicaraku semakin meninggi. Emosiku-pun semakin tak beraturan, apa ini yang namanya termakan api cemburu? Semarah ini-kah?

"Jonghun! Lepaskan aku! Ternyata kau memang berniat mengerjaiku ya? Sudah cukup!"Kazu-pun memberontak. Ia mengira sikapku ini tak jauh beda dengan sifat penindasku saat aku mengancamnya karena ia melihatku di klub malam itu. Ia benar-benar memberontak, ia berusaha melepaskan cengkramanku dari kedua tangannya.

"Lepaskan! Kau itu-…Hmmpth!"mulutnya langsung terkunci begitu aku melumat bibirnya.

"Hmpph"aku benar-benar mengunci bibir itu sekarang. Semakin dalam kulakukan hal ini, sampai yakin bahwa ia benar-benar tidak bisa bicara lagi. Detik-pun telah terlewati, saat kusadari nafasnya mulai tak beraturan, aku-pun melepaskan bibirku. Kulihat ia mengambil nafas dalam-dalam dengan mata tidak percaya terus menatapku.

"Kau…mulai sekarang adalah milikku…"ucapku tegas. Kazu hanya terdiam kaku dihadapanku. Kesan takut dan terkejut mewarnai wajahnya. Kedua lenganku-pun kulingkarkan mengelilingi pinggang dan punggungnya. Kini badannya sudah kudekap erat.

"Kau dengar…sekarang kau adalah milikku. Uzumi Kazu…adalah milik Choi Jonghun…"kuberbisik ditelinganya. Ia masih terdiam. Aku-pun merenggangkan pelukanku dan menatap dalam wajahnya yang hanya berjarak 3 centimeter.

"Jangan dekati pria lain lagi, kau hanya boleh memandangku…hanya aku. Ingat itu"

"Jonghun…apa…maksudmu?"bibirnya bergetar.

"Mulai hari ini…kau adalah kekasihku…"

.

***
Author POV

.

"Kyaa!"Kira tersentak kaget saat ia tersandung sesuatu yang mirip batu nisan(?) yang menjadi property dari nigt tour.

"Kau tidak apa-apa?"tanya Hongki yang sejak tadi berada disamping Kira. Kira tak menjawab apa-apa, namun wajahnya yang terlihat agak pucat sudah bisa menjelaskan semuanya.

"Kau takut ya?"tanya Hongki pelan tapi Kira malah mengalihkan pandangannya, mungkin dia malu mengakuinya dihadapan Hongki. Melihat hal itu, Hongki-pun tersenyum manis. Dengan segera ia menggenggam tangan Kira erat. Kira yang merasa tangannya berada dalam dekapan hangat Hongki-pun hanya bisa terdiam sambil menatap Hongki dalam.

"Tenang saja, aku disini. Ayo kita selesaikan misi dan segera keluar dari sini"senyum Hongki. Kira masih terdiam dihadapannya. Mereka-pun melanjutkan langkah bersama, sampai akhirnya bertemu dengan 2 jalan yang terpisah.

"Eh? apa ini? 2 jalan?"bingung Hongki. Ia-pun membaca papan petunjuk yang tertera jelas didepan kedua jalan itu.

"Apa? Jadi kita berpisah disini?"kagetnya setelah ia selesai membaca peraturan tersebut.

"Maskot Night Tournya berbeda untuk laki-laki & perempuan, mereka harus melewati jalan ini, laki-laki di kiri & perempuan dikanan…"Kira bergumam sambil membaca peraturan tersebut. Hongki-pun melirik kearah hoobaenya itu.

"Aku bisa menemanimu lewat jalan ini kalau kau mau, aku ikut ini hanya untuk bersenang-senang bukan untuk mendapatkan maskot"ucap Hongki. Kira-pun langsung menoleh kearahnya.

"Tidak, kau tetap harus lewat jalan itu"balas Kira.

"Tapi kau tidak apa-apa? Kau takut-kan?"Hongki menaikan sebelah alisnya.

"Semua orang sejak tadi juga sudah takut, ini memang resiko ikut hal seperti ini. Sudahlah, a..a..aku bisa…nanti diujung jalan kita bertemu lagi"ucap Kira dengan wajah agak yakin. Hongki-pun mempertajam pandangannya sekali lagi.

"Sudahlah cepat sana pergi! Jangan tatap aku dengan pandangan seperti itu!"gerutu Kira yang wajahnya agak memerah karena sejak tadi si pujaan sekolah tidak melepaskan pandangannya.

"Haha..baiklah-baiklah, kita bertemu di ujung jalan OK? Bye~"seru Hongki yang langsung berjalan memasuki jalan disebelah kiri.

.

Kira POV

.

"Haaaah…"aku menghela nafas panjang untuk mempersiapkan diriku melewati jalan menyeramkan(?) ini. Sial! Kenapa harus ada acara seperti ini?

"Kyaaaa!"aku langsung berlari kencang setelah melihat sesuatu(?) menggelinding keluar dari balik semak.

"Ah! Apa tadi? Bola? Ash…sial! Aku harus segera keluar dari sini, dimana maskotnya?"perasaan kesal dan takut bercampur jadi 1. Aku menolehkan kepalaku kesegala arah mencari-cari benda(?) yang menjadi kunci dari Night Tour menyebalkan ini.

"Ah! Disana!"seruku saat melihat benda dimaksud. Aku-pun segera berlari mendekati tempat itu dan mengambil boneka yang jadi maskot MyeoungDam, bedanya ada embel-embel Night Tour disana.

"Kira"aku tolehkan kepalaku kearah lain saat mendengar seseorang memanggil namaku. Mataku langsung terbelalak lebar saat melihat orang itu berdiri dihadapanku.

"Wo…Wonbin…"

Ia menatapku dengan tatapan tajam dan berjalan mendekat.

GREP.

Aku tersentak sekarang. Wonbin mendekapku erat. Menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya. Bisa kurasakan detak jantungnya yang cepat, tak jauh berbeda denganku.

"Kira…ada yang mau kukatakan…"

.

Hongki POV

.

Aku sudah sampai diujung jalan, namun orang yang kutunggu-tunggu sejak tadi belum menampakan dirinya.

"Dimana dia? Jangan-jangan terjadi sesuatu.."aku-pun mulai cemas. Sepertinya Kira memang takut dengan hal seperti ini, jangan-jangan dia pingsan dijalan?

Aku-pun segera melangkahkan kakiku memasuki jalan yang terletak disebelahku itu. Tak perduli panitia atau apa melihatku, toh sejak tadi mereka kira aku murid kelas satu. Wajahku tidak akan terlihat karena topi ini, terlebih lagi ini malam hari dan sangat gelap.

Tiba-tiba saja kudengar suara Kira tak jauh dari tempatku berdiri, aku-pun semakin dalam memasuki jalan itu. Perasaanku langsung lega begitu kulihat punggung Kira tak jauh dari kejauhan, namun…

DEG.

"Wonbin…"mataku terbelalak. Apa yang dilakukan Wonbin disini? Bahkan dia…memeluk Kira?

.

Author POV

.

"Kira…ada yang ingin kukatakan…"ucap Wonbin pelan. Ia-pun merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah Kira.

"Wonbin..kenapa? kalau ada panitia yang melihat-…"

"Tidak ada orang disini. Aku sudah mengaturnya"

"Apa?"ucapan Wonbin sukses membuat Kira terkejut. Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan? Batin Kira. Tiba-tiba saja Wonbin mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Sebuah Kalung?

Ia-pun memasangkan kalung tersebut dileher Kira.

"Kira…aku…menyukaimu…"Kira-pun langsung terdiam begitu Wonbin menyelesaikan kalimatnya. Seakan disihir, ia hanya bisa menerima semua perlakuan Wonbin.

"Aku menyukaimu…sangat menyukaimu…"lanjut Wonbin.

"Wo..Wonbin…kau…"

"Kenapa? Kau tidak percaya padaku…aku serius…"raut wajah Wonbin memang menunjukkan keseriusannya.

"Bukan begitu…tapi…."Kira mengalihkan wajahnya yang memerah, memikirkan sesuatu.

"Ada apa? Ada orang lain yang kau suka?"Kira langsung tersentak dengan pertanyaan itu. Sesungguhnya dalam hatinya, perasaannya sama dengan Wonbin. Namun entah kenapa ada sesuatu yang ia rasa masih mengganjal.

"Wonbin…aku…"Wonbin hanya bisa diam menunggu jawaban dari hoobaenya itu dengan raut wajah cemas.

"Aku…juga menyukaimu…"

.

Hongki POV

.

"Aku…juga menyukaimu…"pikiranku langsung kosong. Hanya kata-kata itu yang berputar didalam otaku sekarang. Sudah kusadari, Wonbin tahu keberadaanku. Sejak tadi-pun ia mencuri lirik kearahku. Tatapannya itu benar-benar membuat kebencianku melunjak. Terlebih lagi aku bisa mendengar dan melihat jelas apa yang mereka lakukan sejak tadi terutama kalung itu.

Dan tak kusangka, hal yang lebih buruk terjadi. Wonbin dan Kira…berciuman.

DEG.

Hatiku serasa hancur sekarang. Sakit bahkan sangat sakit. Aku bisa melihat jelas bibir mereka bertautan satu sama lain dengan penuh cinta. Cinta? Itu benar, karena tidak mungkin eskpresi Kira seperti itu kalau dia tidak mencintai Wonbin. Wajah cantik itu, wajah orang yang sedang jatuh cinta, wajah orang yang bahagia karena cintanya terbalas oleh orang yang disukainya.

Aku-pun melangkahkan kakiku mundur, menjauhi kedua orang itu.

.

***
Miki POV

.

Aku terus mencengkram lengan baju milik Jaejin niisan. Aku tidak berani untuk membuka mataku, suara-suara mengerikan ini sudah cukup membuat bulu kudukku merinding. Aku tidak mau pemandangan menyeramkannya membuat jantungku berhenti. *Miki & Author Lebay*

"Miki…"kudengar suaranya memanggilku pelan. Aku-pun mendangakan kepalaku sambil berusaha agar mataku hanya tertuju pada Jaejin niisan, bukan pemandangan menyeramkan disekeliling kami.

"Kau…benar-benar takut ya?"ia kembali bertanya padaku. Kulihat mata kecilnya itu menatap lurus kearahku. Aku-pun hanya mengangguk pelan.

Kulihat ekspresi diwajahnya langsung berubah seketika, kali ini ia terlihat agak cemas.

"Ah..maafkan aku…aku pikir kau hanya pura-pura takut…"aku hanya diam dan menundukkan kepalaku.

"Ekspresimu sejak tadi datar-datar saja…tapi badanmu gemetar & tanganmu semakin kuat mencengkramku…kau benar-benar ketakutan ya?"tanyanya lagi.

"Ehm…maaf…walaupun ekspresiku seperti ini…sebenarnya aku takut…aku takut dengan hal seperti ini…"gumamku pelan. Tiba-tiba saja tangannya mengusap-usap kepalaku dengan lembut.

"Kau itu memang orang yang menarik ya, aku benar-benar minta maaf. Baiklah, ayo kita segera keluar dari tempat ini"Jaejin niisan-pun meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Wajahku merona merah saat kurasakan adanya kehangatan dihatiku, walaupun masih dalam keadaan takut namun suara Jaejin niisan dapat membuatku tenang kembali. Dan langkah kami berhenti di depan 2 jalan yang terpisah.

"Eh?"mataku membulat sempurna. "Pi..pisah? jalan ini dilalui sendiri…?"

"Aku lupa kalau ada tantangan seperti ini"gumam Jaejin niisan yang ikut membac peraturan. Ia-pun menoleh kearahku.

"Kalau kau ketakutan, tidak apa-apa, aku akan menemanimu, kita tetap dijalan yang sama"ucapannya semakin membuatku tersentak. Sejujurnya aku memang tidak mau berpisah ditempat seperti ini, tapi kalau begitu berarti lagi-lagi aku merepotkannya-kan? Dia sudah lari dari pekerjaannya sebagai panitia hanya untuk menemaniku, aku tidak mau merepotkannya lagi.

"Kita jalan sendiri-sendiri saja…"ucapku pelan setengah tak yakin dengan keputusanku.

"Kau serius?"ia meyakinkanku. Aku diam sejenak sambil memutar bola mataku, namun akhirnya aku mengangguk.

"Hah…baiklah kalau itu maumu, jalan ini pendek kok. Kau lari saja, aku akan menunggu diujung jalan"senyum Jaejin niisan. Melihat senyumnya hatiku-pun kembali tenang. Akhirnya kuberanikan langkahku memasuki jalan menyeramkan itu. Jaejin niisan-pun ikut melangkah melewati jalan disebelahnya.

.

Author POV

.

Apa anak itu baik-baik saja? Aku mencemaskannya, batin Jaejin yang masih berjalan melewati jalan itu. Namun langkahnya berhenti mendadak saat seorang panitia muncul dihadapannya.

"Hyaaa! Ash...kau mengagetkanku! Kenapa keluar mendadak begitu?"kesal Jaejin yang dibuat terkejut oleh kemunculan sosok hantu(?) yang tak lain adalah panitia yang berjaga dengan kostum itu.

"Aaa…maaf ketua OSIS, ternyata benar kau. Kenapa kau ikut? Yang lain mencarimu tahu"ucap orang. Jaejin hanya menghela nafas dan memutar bola matanya. Ah, ketahuan -pikirnya.

"Ketua OSIS kau harus kembali ke post sekarang, mereka butuh bantuanmu"ucap orang itu lagi.

"Aku harus menyelesaikan permainan ini"Jaejin mencoba melangkahkan kakinya melewati orang itu seakan tidak mau mendengarkan ucapannya. Namun tangannya ditarik dan membuat langkahnya tersendat.

"Tidak ketua, kau harus kembali sekarang…mereka benar-benar membutuhkanmu"bujuk orang itu lagi.

"Ya! Aku kesini bersama adik kelas, dia pasti sudah menunggu diujung jalan sana. Lepaskan aku!"Jaejin berusaha menghindar lagi, namun orang itu tidak melepaskan tangannya.

"Sudahlah ketua…setelah ini tidak ada rintangan lagi kok, lagipula jalan ini pendek. Dia pasti sudah keluar"kali ini orang itu malah menariknya keluar dari jalur(?), maksudnya agak kepinggir jalan.

"Tapi…"

"Ayo ketua, lewat sini saja"tanpa mendengar alasan Jaejin, orang itu terus membawa Jaejin pergi bersamanya.

.

Miki POV

.

Perasaanku kacau sekarang. Tidak kusangkan jalanan ini lumayan panjang, sial! Apanya yang pendek. Tubuhku mulai gemetaran, semua bulu kudukku merinding. Maskot sial yang menjadi kunci Night Tour-pun tidak kunjung kutemukan.

Suasana hening dan mencekam. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Tiba-tiba kudengar suara sesuatu dibalik semak, bulu kudukku-pun semakin menegang.

"To….To..long…..ss…sa..ya…hiiii…."

"KYAAAAAAAA!"aku berlari kencang, tak perduli jalan mana yang kuambil. Aku benar-benar ketakutan sekarang, walaupun aku tahu yang tadi itu hanya panitia, namun tetap saja, takut ya takut!

Aku terus berlari tanpa tujuan, tak perduli dengan maskot sialan yang harusnya kucari, aku hanya ingin keluar dari sini secepatnya.

SRAAAK. "A..apa?"

"Kyaaaaaaaa!"

.

***
Minhwan POV

.

Iya, Aku menyukainya.

Ucapan Wonbin hyung tadi benar-benar memenuhi pikiranku. Hongki hyung menyukai Kira, Wonbin hyung juga. Ash..kenapa harus 2 orang itu? Apa tidak cukup hanya dengan masalah waktu itu, aku mohon…jangan ada perseteruan lagi.

Aku mengacak-ngacak rambutku tanpa tujuan. Mataku-pun sejak tadi mencuri pandang kearah Kira yang sudah keluar dari tempat Night Tour. Entah kenapa perasaanku tidak enak, sepertinya ada sesuatu yang terjadi diantara dia dan Wonbin hyung.

"Minan, apa kau lihat Miki?"pertanyaan Jaejin hyung membuyarkan lamunanku. Aku-pun langsung menoleh kearahnya.
"Miki? Ada apa? Tidak, dari tadi aku tidak melihatnya"jawabku sambil menatap Jaejin hyung penuh tanda tanya.

"Tadi aku masuk bersamanya"

"Apa? Kau masuk kesana? Bukankah kau tidak boleh ikut? Kau-kan panitia hyung"aku semakin heran dengan Jaejin hyung.

"Ash…bukan hal itu yang harus dibicarakan sekarang. Dimana Miki? Apa dia belum keluar…"raut wajah cemas terpampang jelas disana, diwajah Jaejin hyung. Aku-pun semakin heran, entah kenapa perasaanku yang sejak tadi kacau, sekarang malah bertambah.

"Kenapa kau malah menanyakannya? Bukankah kau bersamanya?"tanyaku.

"Ditengah jalan aku dibawa kesini oleh yang lain, jadi aku meninggalkannya didalam"jawaban Jaejin hyung sukses membuatku terkejut.

"Apa? Kau tinggalkan dia didalam? Sendiri?"

"Ketua OSIS! Ketua! Ini gawat!"tiba-tiba saja salah seorang sunbae panitia berlari menghampiri kami dengan raut wajah kacau. Kami berdua-pun mengalihkan pandangan ke orang itu.

"Ketua, ada murid yang hilang! Miki dari kelas 1-c, sepertinya dia tersesat dijalan lain!"

DEG.

Nafasku tercekat saat mendengarnya. Aku menelan salivaku dengan susah payah. Berita ini benar-benar membuatku lemas.

"Mi…Miki hilang?"Jaejin hyung-pun tak kalah terkejut.

"Kenapa? Ada apa dengan Miki?"Kira yang berdiri tak jauh dari kami-pun langsung ikut menghampiri begitu nama temannya disebut-sebut.

"Bagaimana bisa? Ash…ini semua karena aku meninggalkannya!"teriak Jaejin hyung frustasi.

"K..kau meninggalkannya? Kenapa? Kau tidak tahu dia sangat takut dengan hal seperti ini!"emosi Kira mulai naik saat tahu kenyataannya. Aku diam beberapa saat dengan semua keributan ini, namun entah kenapa hatiku tidak bisa tenang.

Miki hilang.

Aku langsung beranjak dan berlari memasuki kawasan Night Tour.

"Minan? Kau mau kemana?"

.

***

Aku terus berlari tak tentu arah, berputar-putar dan kembali melangkah maju. Kutengokan kepalaku kesegala penjuru dengan nafas tersengal-sengal akibat berlarian. Namun aku tidak perduli itu semua, kenapa aku secemas ini? Anak aneh itu hilang dan aku harus menemukannya.

"Kau dimana bodoh…ck!"aku kembali berlari maju. Hingga akhirnya sampai di 2 jalan yang terpisah, tanpa pikir panjang aku langsung masuk kejalan yang dilalui untuk wanita. Aku masih menengokan kepalaku kesegala arah berharap orang yang kucari ada didepan mataku. Namun nihil, tidak ada satupun petunjuk, tempat ini terlalu gelap. Di tempat segelap ini dia tersesat? Kesabaranku habis.

"MIKI!"akhirnya kuteriakan nama anak aneh itu.

"Miki! Kau dimana?"aku berlari memutari kawasan itu, mungkinkah dia ada disini?

Aku terus berlaru sambil meneriakan namanya, tak perduli nafasku sudah mengeluh dan membuatku semakin tersengal-sengal. Aku terus mencari. Dan langkahku berhenti saat aku merasa ada suara dibawah sana, kualihkan pandanganku. Mataku-pun semakin terbelalak.

"Te..bing?"

.

***
Miki POV

.

"Akh…"aku meringis kesakitan sambil mengusap pelan kakiku yang terluka. Tergores ranting-ranting pohon, dan berdarah. Hah…aku harap tidak ada hal yang lebih buruk terjadi. Aku tersesat, jatuh kedalam tebing, sendirian & terluka, malang sekali (==")

"Ta..kut…"tak bisa dipungkiri, sekarang seluruh tubuhku gemetaran. Tempat ini sangat gelap, tidak ada siapapun kecuali aku, sendirian…tidak ada cahaya…aku benci suasana seperti ini.

"Gelap…aku benci gelap…"runtukku dalam hati. Aku tidak berani mengeluarkan suaraku saat ketakutan, karena aku takut ada 'sesuatu' yang mendengar & dia akan muncul dihadapanku.

"Tidak…aku mohon…jangan ada apa-apa…"aku menengelamkan wajahku dikedua lutut yang kutekuk. Tak perduli ada darah disana, hanya ketakutan yang mencengkram pikiranku sekarang.

"Hiks….takut…"air mataku-pun mulai berlinang. Aku memang cengeng, kondisi ini benar-benar menyiksa karena itu aku menangis. Jantungku berdetak makin kencang, tubuhku gemetaran, aku tak berani membuka mata, aku hanya bisa menutup telinga berharap tidak ada suara aneh yang terdengar. GOD, pikiranku mulai aneh sekarang, aku sudah berpikir yang macam-macam.

Siapapun tolong aku…aku mohon…

"Miki!"aku tersentak. Kudengar namaku diteriakan oleh seseorang. Aku-pun memberanikan diri mengangkat kepala & membuka mata.

"Miki! Kau dimana?"kudengar lagi suara itu. Sejenak perasaanku langsung tenang, apakah sudah ada orang yang akan menyelamatkanku?

"Aku disini!"aku coba mengeluarkan suaraku.

"Aku disini! Dibawah!"air mataku semakin mengalir deras. Aku sudah berteriak, namun tidak ada balasan lagi. Apaah orang itu sudah pergi? Dia tidak tahu aku disini?

Angin malam yang berhembus membuat daun-daun kering bertebangan, memunculkan suara yang terdengar menyeramkan ditelingaku. Pikiranku kembali berkecamuk.

"Aku mohon…tolonglah aku…"tangisanku makin pecah.

"Mi..ki..?"tangsiku berhenti sejenak saat kudengar sseorang memanggil namaku dari belakang. Aku masih ketakutan, siapa itu? Bukan sesuatu yang sejak tadi kutakutkan-kan?

Kudegar langkahnya semakin mendekatiku. Aku-pun langsung membalikkan tubuhku menatap orang itu.

"Mi-…"suaraku tertahan saat melihat siapa orang yang berdiri dihadapanku. Choi Minhwan.

Tatapannya tak kalah terkejut denganku. Seakan berkerja dengan otomatis, entah kenapa aku langsung berdiri, berlari memeluknya kencang.

.

Minhwan POV

.

"Minhwan!"aku hanya bisa terdiam. Gadis ini baru saja berlari & memelukku sekarang. Tangisnya pecah dipundakku yang jauh lebih tinggi dari letak kepalanya. Kedua tangannya bukan memeluk namun mencengkram bajuku seakan tidak mau melepaskannya. Kurasakan tubuhnya gemetaran dari atas sampai bawah, suaranya-pun terdengar parau. Anak ini…benar-benar ketakutan?

"Hiks…takut…..aku benci gelap…."suaranya yang bergetar terdengar ditelingaku. Gelap? Memang, tempat ini sangat gelap, menyeramkan & tidak ada siapapun. Aku tidak bisa bayangkan perasaannya yang tersesat ditempat seperti ini, ia pasti sangat ketakutan.

Tangisnya makin pecah, aku-pun mengusap rambutnya pelan. Tanganku yang lain mengusap punggungnya yang gemetaran. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tidak bisa mendengar tangisan pilunya, membayangkannya sendirian sejak tadi disini saja aku sudah tidak kuat. Seberapa besar ketakutan yang ia terima? Miki…

"Tenanglah…aku disini…"ucapku pelan sambil terus mengusap rambutnya.

"Hiks…Mi…Minhwaaaan…"

.

***
Jonghun POV

.

Mulai hari ini…kau adalah kekasihku…

"Apa…yang kukatakan tadi…"pikiranku berkecamuk.

"Ah tidak! Apa yang kulakukan tadi? Aku menciumnya? Kenapa…ada apa dengan diriku…"aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan kuat. Tidak percaya dengan apa yang tadi kulakukan padanya. Aku memintanya jadi kekasihku? Dan bahkan lebih buruknya, aku menciumnya duluan…

"Jonghun-ah! Sebenarnya ada apa dengan dirimu? Cinta saja tidak bisa dipastikan, kenapa kau lakukan itu?"teriakku frustasi, memaki diriku sendiri. Aku bahkan tidak yakin dengan perasaanku.

BRAK!

Tiba-tiba saja puntu kamar terbuka kencang. Kulihat Hongki masuk dengan raut wajah nanar.

"Hongki? ada apa?"tanyaku bingung. Ia tidak langsung menjawabku, ia berjalan menghampiri lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya.

"Kita pulang sekarang"jawabnya singkat tanpa menatap kearahku.

"Apa? Pulang?"Ia masih berkutat dengan lemari, mengambil tas dan memasukan semua pakaiannya kesana. Aku-pun menghampiriny.

"Hongki ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?"tanyaku cemas.

"Cepat bereskan pakaianmu Jonghun, kita pulang sekarang!"tegas Hongki sekali lagi.

"Tapi kenapa?"

"Pokoknya kita pulang! Aku sudah muak disini!"aku-pun terdiam. Hongki benar-benar marah sekarang. Kulihat wajah nanarnya menatapku tajam. Aku tahu ia marah, aku sangat mengenalnya. Karena itu aku tahu, air mata yang ia sembunyikan. Dia marah namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Hongki, ada apa lagi denganmu?

.

To Be Continued..

.

Notes : Arrrgh! Ini study tour kpn selesainya sih? Yaish…silahkan timpuk author krn tak menepati janji, OK HALAMAN masih BANYAK, ALUR masih saja LAMBAT, dan PUBLISHnya TELAT BANGET! . JEONGMAL MIANHAE (==")

Pasrah deh klo readers udah pada BOSEN…aku juga bosen(?) hiks…

Insya Allah kelanjutannya bisa lebih seru (janji lagi?), Amiin…

JEONGMAL GOMAWO~~~ T.T (specially for HongRhii)