"kau tidak ingin pulang?, kurasa Chanyeol sedang membutuhkanmu." Junmyeon tidak mengusir, cuma pengen Baekhyun cepat pulang saja.

"oh, kau benar. Aku tidak harus kembali ke kantor karena aku sudah ijin pulang lebih awal untuk mengantarkan laporan padamu. Haha...baiklah kalau begitu direktur, aku pamit pulang. Semoga besok kau berhasil menemukan alamat tersebut. Sampai jumpa, selamat siang."

"iya... sampai jumpa." Jawabnya masih duduk di sofa, dia tidak perlu repot harus berdiri dan mengantar Baekhyun sampai depan rumahnya, toh sepertinya pria itu tidak mempermasalahkannya.

Setelah rumahnya kembali sepi sejak Baekhyun pulang, Junmyeon kembali memperhatikan kartu nama tersebut lalu beralih melihat kearah kamarnya.

"semoga aku bisa bertemu dengannya besok."

.

.

.

.

.

.

Title : ASTRAY

Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)

Rate : T to M (for save)

Main Cast :

Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.

Desclaimer :

Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.

Warning :

Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

22.00 p.m

Junmyeon masih setia menatap televisi dengan beberapa toples camilan dihadapannya meskipun sudah tak terhitung berapa kali dia menguap dalam 30 menit terakhir. Tadinya sih dia ingin khusyu' begadang mumpung besok hari libur, tidak ada tugas yang harus dia selesaikan dan juga film favoritnya akan tayang pertama kali di layar kaca malam ini kurang lebih satu jam lagi. Tapi apa daya saat kekuatan matanya hanya tinggal 5 watt, akhirnya dia memutuskan untuk tidak memaksakan diri dengan mengurungkan niat begadangnya.

.

Setelah menunaikan rutinitas malamnya sebelum tidur seperti yang selalu diperintahkan ibunya sejak kecil –minum susu, sikat gigi, cuci tangan dan kaki- Junmyeon kemudian menuju singgasanahnya untuk segera beristirahat.

Baru saja dia akan menaiki ranjangnya tiba-tiba dia merasa seperti angin melewati tengkuknya. Dia menoleh kebelakang, pandangannya mengitari seluruh isi kamarnya. Hawa dingin serasa melingkupi seluruh tubuhnya yang berbalut piyama biru.

Kriiieett...Braakk...

Junmyeon berjengit lalu segera membalikkan badannya kembali dan dia mendapati jendelanya yang mendadak terbuka lebar serta membawa hembusan angin yang kencang hingga menyibak kordennya. Junmyeon mengernyit, seingatnya dia sudah mengunci jendelanya dengan benar. Perlahan Junmyeon mendekati jendelanya bermaksud hendak menutupnya kembali, tapi sebelum itu dia sedikit melongokkan kepalanya keluar untuk memastikan apa mungkin ada ulah orang lain disini.

Whuuuss...Jdaakk...

"AAKH..." Belum sempat Junmyeon memasukkan kembali kepalanya tiba-tiba 2 daun pintu jendelanya kembali terdorong masuk dan menghantam wajah Junmyeon dengan sangat keras. Reflek ia merunduk sambil memegangi wajahnya yang seluruhnya terasa ngilu sekarang dibarengi dengan cairan pekat yang mengalir dari kedua lubang hidungnya.

"ough, shit..." umpat Junmyeon karena kepalanya terasa sangat pening sekarang. Dia melihat lagi kearah jendelanya dan anehnya jendela tersebut kembali tertutup rapat seperti tak terjadi apa-apa. Pria 26 tahun itu mendongak untuk menahan aliran darah dari hidungnya yang belum berhenti mengalir.

Srett...Dhaakkk...

Kembali dia berjengit dan menatap kearah nakas disebelah kirinya. Dia menatap laci nakas itu yang dia yakini tadi terbuka dan tertutup sendiri. Junmyeon mecoba mendekati nakasnya, dia berjalan perlahan untuk memastikan sesuatu.

Srett...Dhaakkk...

"akhh...fucking bitch...arrggh.." Junmyeon makin fasih mengumpat saat salah satu laci nakas tersebut tiba-tiba keluar menghantam tulang kering Junmyeon lalu jatuh begitu saja menimpa jemari kakinya. Ditengah wajahnya yang mengernyit menahan sakit, kini ekor matanya menangkap sekelebat bayangan hitam melewati dindingnya dan sigap dia mengalihkan dirinya pada apa yang ia lihat barusan, namun ketika ia memandang seluruh isi kamarnya dia tak mendapati apapun.

Keadaan diperparah dengan darah yang mengalir lewat hidungnya sedari tadi tak juga berhenti hingga membuat matanya mulai berkunang-kunang, dia sudah tak peduli darahnya yang kini mulai mengalir melewati leher, mengotori piyamanya dan sebagian wajahnya saat ia mengusapnya asal.

Junmyeon akan meninggalkan kamarnya, namun belum sempat ia melangkah tubuhnya terdorong oleh udara kosong yang seperti memiliki kekuatan hingga punggungnya menabrak dinding. Tubuhnya merosot, sambil menetralkan keterkejutannya Junmyeon kembali mengitari kamar dengan pandangannya. Nafasnya memburu dan keringat dingin membanjiri pelipisnya, tenggorokan serta bibirnya pun terasa kering belum lagi mimisannya yang belum berhenti menambah lemah kondisi Junmyeon.

Ditengah pandangannya yang semakin buram, Junmyeon kembali mengusak hidungnya dengan lengan kirinya bermaksud menghilangkan cairan merah pekat yang mengganggu pernafasannya, namun detik itu juga ia menyadari disudut kamarnya ia melihat suatu wujud. Seperti seseorang namun dia tidak lihat betul bentuk jelasnya. Awalnya dia melihat wujud tersebut transparan, namun semakin dia melihatnya wujudnya semakin pekat dan semakin mendekat kearahnya. Detik berikutnya dia mendengar suara berisik, jendelanya kembali terbuka dan tertutup dengan sendirinya secara brutal, begitu pula dengan nakasnya, bahkan lemari pakaiannya pun sama hingga membuat baju-bajunya berserakan keluar dengan sendirinya ditambah lagi berbagai suara derit-derit benda yang sangat tidak nyaman ditelinganya. Terakhir, ia mendapati lampu dikamarnya pecah dan ia merasakan beberapa materialnya mengenai wajah dan lengannya.

Kamarnya menjadi gelap. Deja vu, ia merasakan keadaan ini sama seperti ketika ia bermain ouija kemarin malam hanya saja ini jauh lebih parah. Nafasnya semakin terengah-engah lalu sesaat kemudian tiba-tiba dia melihat kembali sosok yang tadi ia lihat sudah berada tepat dihadapannya. Dia tak dapat melihat bagaimana wajah sosok tersebut namun ia bisa melihat makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar seperti hendak menelannya dengan tangan-tangan belulang yang telah mencengkeram leher Junmyeon hingga ia kesulitan bernafas. Junmyeon mendelik saat bagian muka makhluk itu semakin mendekat kearahnya dengan cairan busuk menjijikkan didalam mulutnya yang kini bisa Junmyeon lihat dengan jelas. Makhluk itu mengeluarkan suara seram yang menggetarkan tubuh Junmyeon, semakin kepala makhluk itu mendekat nafas Junmyeon semakin tersendat dan...

.

"HUAHH..." Junmyeon terlonjak bangun dan menghirup oksigen dengan brutal.

Setelah nafasnya sedikit kembali normal ia mengedarkan pandangannya kesekeliling. Ruang TV, dengan televisi yang masih menyala dan toples-toples cemilan yang berserakan dimeja. Rupanya tadi dia sudah tidak kuat menahan kantuknya hingga tak sadar tertidur dengan posisi yang masih duduk di sofa ruang tv nya.

Junmyeon mengusap wajahnya kasar lantas ia beranjak menuju dapur dan menenggak sebotol air mineral dingin disana. Junmyeon merenung, inikah yang dimaksud Baekhyun tadi siang?

"tuh kan, apa ku bilang. Mereka bahkan bisa melakukan serangan fisik dan melukaimu. Belum lagi jika mereka tidak bisa diusir, kau akan lebih menderita daripada yang telah kau alami sebelumnya."

Itu kata-kata Baekhyun yang diingat Junmyeon. Junmyeon menghela nafas dan membawa tubuhnya menuju kamarnya.

Setelah memasuki kamarnya, Junmyeon tiba-tiba berhenti. Seperti ada hawa aneh dikamarnya. Mata Junmyeon tiba-tiba saja terpaku pada salah satu sudut kamarnya. Sudut dimana dalam mimpinya tadi dia melihat sosok menyeramkan tersebut tepat disamping lemari pakaiannya. Untuk beberapa menit bahkan dia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali seolah-olah disudut itu dia bisa melihat sesuatu seperti dalam mimpinya. Perlahan Junmyeon mendekati sudut kamar yang sejak tadi membawa perasaannya menjadi aneh, semakin mendekat bahkan lengannya pun dengan sendirinya perlahan terangkat seperti hendak menggapai sesuatu, dia akan menyentuh sudut tersebut sebelum reflek tangannya ia tarik kembali saat hiasan dinding berupa tirai kecil di sisinya bergoyang dengan sendirinya. Junmyeon memperhatikan tirai tersebut dan entah kebetulan atau apa gerakan tirai itu juga berhenti seketika seperti ada yang sengaja menggoyangkannya kemudian menahannya kembali.

Junmyeon menelan ludah, semoga ini memang hanya hembusan angin yang kebetulan lewat. Sekali lagi dia mengalihkan atensi kearah sudut dindingnya namun saat tak sengaja menunduk dari sudut matanya dia menangkap sebuah benda aneh terselip dibawah lemari pakaiannya. Junmyeon melihat ujung benda tersebut yang berwarna keruh, mungkin awalnya berwarna putih hanya saja karena lama terselip disitu jadi berubah warna.

Pria yang sebenarnya sudah sangat mengantuk itu akhirnya lebih menuruti rasa penasarannya untuk mengambil benda mencurigakan yang terselip diantara celah dinding dan lemari pakaiannya. Sekedar tau saja bahwa beberapa barang disini memang sudah ada sejak Junmyeon pertama kali pindah, termasuk lemari besar ini dan Junmyeon belum pernah sekalipun menggeser barang-barang 'bawaan' tersebut apalagi untuk mengecek sudut-sudut dibaliknya.

Dia memungut benda usang tersebut dan memperhatikannya. Didapatinya sebuah tabung ramping setinggi kurang lebih 8cm dengan beberapa butiran didalamnya yang terlihat berjamur, dia mengamatinya lebih detail.

"seperti tabung obat..." setelah diam beberapa saat Junmyeon baru ingat kalau penghuni rumah ini memang dulunya pindah karena anaknya sakit.

"mungkin ini obat anaknya dulu. Eh, berarti kemungkinan ini adalah kamar anaknya." Pandangan Junmyeon sejenak menerawang keatas lalu kembali melihat tabung kecil yang dia temukan tadi, "apa mungkin anak itu sakit karena diganggu oleh makhluk-makhluk halus dikamar ini ya?, ooh, atau bisa juga mereka memutuskan pindah karena tau kalau anaknya sakit akibat gangguan makhluk halus disini. Hmm... jadi memang aku yang harus menyelesaikan masalah dirumah ini." Ucap Junmyeon manggut-manggut layaknya detektif.

"baiklah kalau begitu, supaya hal yang telah menimpa anak malang tersebut tidak terulang kepadaku atau mimpi burukku tadi menjadi kenyataan. aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang kerjaku saja. Jangan harap kalian bisa menggangguku lagi malam ini." Tegas Junmyeon seperti ada orang yang tengah dia ajak bicara, padahal hanya udara kosong atau mungkin beberapa makhluk tak kasat mata itu juga sedang memperhatikan Junmyeon dengan mata melotot dan mulut yang dipenuhi cairan menjijikkan berbau busuk?,hiiiiii...

.

.

.

.

.

Seperti yang sudah dia perkirakan semalam, kalau dia tidak akan diganggu istirahatnya ketika dia tidur di ruangan lain, tepatnya di sofa ruang kerjanya. Ini semakin membuatnya yakin bahwa kamarnya tak beres dan semakin memantapkan hatinya untuk menemui Kim Min Seok, paranormal yang disarankan si pelayan manis bernama Lay waktu itu.

Junmyeon sudah ganteng level parah sekarang. Jeans abu-abu gelap dan t-shirt hitam dengan model rambut lift up dan parfum yang semerbak kemana-mana seperti di iklan pelembut pakaian.

"apa aku sarapan di restaurant itu lagi ya?" Junmyeon menimbang sambil menggigiti ujung ponselnya. "bodoh sekali kenapa aku tidak minta nomor ponselnya waktu itu?, malah kartu nama peramal." Yaa, namanya juga sedang berbunga-bunga, hal penting pun bisa jadi lupa. Mabeuleus...mabeuleus.. #Jarjit #abaikan :D

Tanpa berpikir lebih lama lagi, sebelum Lay dipatok ayam(?) Junmyeon bergegas pergi ke breakfast restaurant kemarin dengan langkah percaya diri seperti akan presentasi di depan tender.

Hanya butuh beberapa menit dan junmyeon sudah memasuki restaurant yang dia maksud dengan tidak mengulangi kesalahan dimasa lalu –duduk dipojokan- dan kini dia lebih memilih duduk di dekat meja kasir. Junmyeon melihat kesekeliling namun tak mendapati batang penis –daang wiiuuw...wiiuuw- ulangi, batang hidung orang yang dia cari atau mungkin mendengar sayup-sayup suaranya.

"Selamat pagi. Silahkan menunya, tuan."

Junmyeon menoleh dan senyumnya luntur seketika saat yang memberinya menu bukanlah orang yang dia cari.

"omurice dan Jus jeruk saja." Pesannya asal dan tanpa minat.

"baik tuan, mohon tunggu sebentar." Dan pelayan itupun pergi.

Junmyeon menghela nafas setelahnya sambil memasang wajah merana. "nggak asik ah," keluhnya.

Seperti sebelumnya, makanannya datang hanya dalam waktu beberapa menit saja setelah ia memesan. Junmyeon hanya memperhatikan makanannya yang diletakkan satu persatu dengan lemas.

"silahkan, selamat menikmati." Ucap pelayan tersebut dengan suara riangnya.

"ee, permisi." Junmyeon menginterupsi pelayan tersebut yang hendak kembali.

"ya, tuan?"
"kau tau pelayan disini yang bernama Lay?"

"iya saya tau, memangnya ada apa tuan?" jawab pelayan itu sopan.

"boleh ku tau kemana dia?"

"oh, hari ini dia ijin. Dia bilang dia akan menjenguk sahabatnya yang sedang sakit."

"memang sahabatnya itu dirawat dimana?"

"saya kurang tau tuan, tapi seingat saya diluar kota."

"oh, begitu." Junmyeon manggut-manggut

"ada lagi yang bisa saya bantu tuan?"

"ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya itu saja."

"baiklah saya permisi tuan." Pamit sang pelayang sambil membungkuk hormat.

"terima kasih, ya silahkan." Balas Junmyeon.

Dia menatap omurice dipiringnya dengan perasaan iba, iba pada dirinya sendiri yang terlanjur bersemangat dan penuh percaya diri tampil ganteng demi terlihat mengesankan di depan orang yang dia cari tapi malah orang tersebut tidak ada. Dia menyuapkan omurice kedalam mulutnya dengan wajah masam. Entahlah, pagi ini sarapannya terasa agak pahit dari biasanya.

.

.

.

Setelah menghabiskan menu sarapan baper'nya dengan penuh perjuangan, Junmyeon kini menyusuri jalanan distrik Seocho seorang diri dengan jemarinya yang tengah menggenggam sebuah potongan kertas persegi panjang, itu kartu nama Kim Min Seok. Berbekal informasi dari setiap orang yang dia tanyai sepanjang jalan tadi -karena dia belum paham betul daerah sini- Junmyeon melihat dengan teliti satu persatu nama jalan yang dia temui untuk dia cocokkan pada alamat yang tertera di kartu nama tersebut.

Sekitar 15 menit dia berjalan kaki akhirnya dia menemukan alamat yang dia maksud. Rumah bergaya minimalis dengan paduan warna nude terlihat dihadapannya.

Tokk..tokk..tokk...

Tidak ada jawaban. Baru saja Junmyeon akan mengangkat tangannya lagi, pintu kemudian dibuka menampilkan seorang wanita mungil dengan mata rubahnya yang dibubuhi eyeliner, rambutnya coklat lurus dengan sebuah bandana yang melingkari kepalanya. "tidak seperti paranormal.." batin Junmyeon

"benarkah?, aku tidak terlihat seperti paranormal?"

Junmyeon mendelik, orang didepannya ini bisa membaca pikirannya?

"iya. Aku bisa membaca pikiranmu."

"baiklah, berhenti mengeluarkan suara dalam kepalamu Junmyeon."

"jadi namamu Junmyeon?, benar apa yang kau pikirkan Junmyeon, berhenti bergumam dalam pikiranmu dan katakan ada perlu apa kau kesini?"

Junmyeon berkedip dan menggelengkan kepalanya. "eumm,ee..."

"oke, mungkin kau mau masuk dulu?" ucap wanita mungil itu memotong perkataan Junmyeon.

Tanpa menjawab apapun Junmyeon langsung mengekori wanita tersebut untuk masuk kedalam rumahnya. Seketika nuansa gypsy terasa begitu Junmyeon dapat melihat interior didalamnya, kali ini Junyeon tidak mau berkomentar dalam pikirannya.

"duduklah." ,Junmyeon melihat wanita tersebut duduk dibelakang meja kayu persegi yang ukurannya kurang dari satu meter dengan satu kursi lagi dihadapannya dan Junmyeon menuruti permintaan tersebut.

"kau yang bernama Kim Min Seok?" tanya Junmyeon ragu.

"menurutmu?"

"entahlah," Junmyeon menjawab dengan kikuk.

"ya, kau benar. Aku Kim Min Seok." Jelas wanita tersebut. "jadi, ada perlu apa kau datang kemari?, emm,tunggu..." Min Seok menghentikan ucapannya sambil memandang heran kearah Junmyeon, tepatnya sisi belakang Junmyeon.

"ada apa?" tanya Junmyeon penasaran

"kau ingin mengusir makhluk itu."

Junmyeon menoleh kebelakang sejenak lalu kembali menatap Min Seok dengan heran. "mengusir siapa yang kau maksud?"

Pandangan Min Seok beralih lagi pada Junmyeon. "kau tidak merasa sedang diikuti?" suara Min Seok melirih.

"diikuti siapa? Aku tidak mengerti maksudmu."

Min Seok meraih tangan kiri Junmyeon dan membalik telapak tanggannya menghadap keatas lalu meletakkan tangannya sendiri diatasnya. "tarik dan hembuskan nafasmu perlahan."

Junmyeon menurutinya, perasaannya berubah tidak enak sekarang.

"apapun yang terjadi jangan buat gerakan secara spontan, kau mengerti?" ,Junmyeon mengangguk.

"sekarang, perlahan-lahan lihat keisisi kiri dibalik bahumu."

Junmyeon menurutinya. Perlahan dengan gerakan yang hampir terkesan patah-patah dia menengok kesisi yang dimaksud Min Seok, jujur bulu kuduknya sedikit meremang sekarang. Sedikit lagi, Junmyeon akan mencapai sisi yang dimaksud Min Seok dan...

Reflek setelah dia mendapati apa yang mungkin Min Seok lihat juga, dia langsung memejamkan matanya dan memutar kembali kepalanya kearah depan.

Min Seok memandangnya serius. "apa yang kau lihat?"

Junmyeon membuka perlahan matanya sambil mengerutkan keningnya. "hanya kepala tanpa wajah dengan mulut yang terbuka lebar. Aku ingat semalam aku bermimpi bertemu dia. Makhluk apa itu?"

Min Seok melepas kontak tangannya dengan Junmyeon lalu melipat tangannya diatas meja. "memangnya sudah berapa lama kau bersamanya?"

"asal kau tau saja, meskipun aku sudah lama jomblo tapi aku masih menyukai manusia." Protes junmyeon.

Min Seok tersenyum ringan, "kurasa kau telah melakukan sesuatu hingga mengundangnya datang dan mengikutimu."

Junmyeon terdiam sejenak,

"ouija." ucap Junmyeon seketika.

"ouija?"

"ya. Dua hari yang lalu aku sempat bermain ouija, sendirian dan aku belum pernah melakukan itu sebelumnya. Silahkan jika kau juga ingin mengataiku bodoh seperti yang lain."

Min Seok kembali tertawa ringan, "sampaikan terima kasihku pada siapapun itu yang telah mengataimu bodoh." Junmyeon menaikkan satu sudut atas bibirnya, "atau mungkin kau hanya terlalu nekat." Lanjut Min Seok.

"jadi, kau mau apa kesini?, mengusir 'dia' atau sebenarnya bukan itu?" tanya Min Seok penuh penekanan disetiap katanya.

"sebelumnya boleh aku cerita dulu?"

"hmm...silahkan."

"begini, sebenarnya aku orang baru disini dan baru pindah sekitar seminggu yang lalu, ee..atau mungkin lebih. Tapi aku merasa aneh dengan kamar yang aku tempati dirumah baruku. Selama seminggu itu berturut-turut aku selalu bermimpi sama. Kau tau sindrom sleep paralysis?" ,Min Seok mengangguk dan Junmyeon melanjutkannya, "semacam itu dan anehnya ketika aku pindah tidur ditempat lain mimpi itu tidak datang, tapi itu tidak mungkin hanya sekedar keadaan psikis karena sebelumnya juga aku berkonsultasi ke psikiater dan dia bilang psikologiku baik-baik saja."

"kau sudah ke psikiater berapa kali?"

"satu."

"menganalisis keadaan psikologi seseorang itu tidak akan sangat akurat jika hanya dilakukan sekali, mungkin kau perlu kunjungan rutin."

"tidak tidak. Aku serius. Aku bukan tipikal orang yang mudah tertekan, selama ini aku selalu bisa mengendalikan pikiranku. Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan makhluk dibelakangku ini." Akhir Junmyeon dengan memberi kode lewat matanya pada sisi kiri belakang tubuhnya.

"kau yakin itu karena ulahnya?"

"ya. Lalu siapa lagi? Aku hanya tinggal sendirian dan mana mungkin bisa ada orang lain melakukannya?"

"apa di dalam mimpimu selama seminggu itu sosok ini yang kau lihat?"

Junmyeon berpikir sejenak. "sepertinya tidak, sosok ini baru aku lihat dimimpiku tadi malam."

"aku belum bisa menyimpulkan apapun, tapi perlu kau ketahui tuan Junmyeon bahwa sebenarnya setiap makhluk yang sengaja ataupun tidak kau panggil lewat media apapun awalnya dia akan menunjukkan diri padamu lewat mimpi. Jadi aku tidak yakin kalau makhluk ini penyebabnya mengingat tadi kau cerita melihatnya dalam mimpi semalam dan baru dua hari yang lalu kau bermain ouija." Min Seok melihat Junmyeon masih memperhatikannya secara seksama. "dan melihat dari caranya mengikutimu, dia bukan hantu rumahan."

"maksudnya?, dia hantu gaul begitu? ,sering keluar malam dan pulang pagi?" . Min Seok memutar bola matanya, ini klien terkonyol yang pernah mendatanginya.

"maksudku dia bukan tipikal hantu yang mendiami suatu tempat. Dia roh yang bebas, dia bahkan terlihat beberapa kali mengitarimu daritadi. Kau tadi juga bilang kan saat tidur di tempat selain kamarmu hal seperti mimpi itu tidak datang?" ,Junmyeon mengangguk. "itu yang kumaksud. Kau juga perlu tau kalau roh-roh seperti itu tidak bisa dengan mudah berpindah-pindah tempat seperti kita. Jadi aku yakin jika kasus yang kau alami sumbernya ada dikamarmu sendiri, bukan dia. Mungkin makhluk yang mengikutimu saat ini adalah hasil dari permainan ouijamu yang tak sengaja mengundangnya dari luar untuk masuk dan mengikutimu. Ingat bahwa kau hanya seorang amatir, melihatnya saja kau tidak bisa bahkan tidak merasakan apapun. Jadi sudah pasti ketika bermain itu kau tidak mampu membatasi mereka, siapa saja yang boleh mendekatimu." Jelas Min Seok panjang lebar.

Junmyeon terpaku, sepertinya dia sudah menciptakan masalah baru sekarang.

"kau bilang kau bukan tipe orang yang mudah tertekan, tapi sekarang kau terlihat berpikir keras." Cibir Min Seok.

"lalu, apa kau bisa mengusir yang sedang mengikutiku saat ini?" pinta Junmyeon.

"kemarikan kedua tanganmu." Junmyeon menurutinya dan Min Seok kembali meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua telapak tangan Junmyeon yang terbuka diatas meja. "tutup matamu dan konsentrasi. Aku akan berusaha mengusirnya, jadi apapun yang kau rasakan nanti jangan melawan. Mungkin itu salah satu reaksinya."

Junmyeon mengangguk dan mulai menutup matanya sambil berkonsentrasi. Dia tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan Min Seok, hanya terdengar seperti bisikan-bisikan yang tidak jelas apa bunyinya. Beberapa saat kemudian Junmyeon merasa bulu kuduknya berdiri dan tengkuknya merasakan hawa panas. Semakin lama rasa panas mulai menjalar hingga sebagian lengannya, Junmyeon berusaha untuk tidak terganggu sama sekali. Sekejap kemudian semuanya hilang begitu saja.

"sekarang kau boleh membuka matamu."

Junmyeon membuka matanya perlahan, "sudah selesai?, cepat sekali."

"tapi aku tidak bisa jamin dia dapat kembali lagi sewaktu-waktu atau tidak."

Junmyeon meringis, "semoga saja tidak."

"oke masalah yang ini sudah selesai. Sekarang kembali ke tujuan awalku datang kesini adalah untuk memintamu melihat keadaan rumahku. Apa kau bersedia?"

"kau berani bayar berapa agar aku mau datang kerumahmu?"

"berapapun yang kau mau, bahkan kalau kau bisa mengatasinya hingga tuntas aku akan memberimu bonus." ,ihwaw... sense of Holkay Junmyeon mulai keluar.

"haha, sebenarnya aku hanya bercanda. Tapi kalau itu kesepakatannya, baiklah. Tulis alamatmu disini dan nanti malam kita mulai 'mengoperasi' rumahmu." ,Min Seok menyodorkan sebuah note kecil.

Junmyeon segera menuliskan alamatnya disana, "ini, kutulis nomor ponselku juga barangkali kau ingin merubah rencana." Junmyeon mengembalikan note tersebut pada pemiliknya. "eee...apa aku juga harus menyiapkan sesuatu?"

"sesuatu apa?" ,sang peramal bertanya heran.

"yaa, sesuatu seperti persembahan mungkin?"

"oh iya. Tolong kau siapkan semangkuk darah segar dari salah satu anggota keluargamu yang belum menikah."

"kk..k...kau bercanda?" wajah Junmyeon mendadak pucat pasi.

Min Seok tertawa mencibir, "dasar bodoh, kau tidak perlu menyiapakan apapun. Kita tidak sedang melakukan ritual pemujaan tau."

Darah Junmyeon perlahan naik lagi kekepala, "hehe...lucu." tawanya garing. "baiklah kalau begitu, hubungi aku kalau kau mau datang."

Min Seok menjawabnya dengan anggukan pasti...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Firasat buruk bakal di protes nih gara-gara Lay ga muncul di Chap ini /junmyeon: "gue yang paling depan!"/ hehe. Lay nya biar istirahat dulu ya, gantian Min Seok yang keluar.

Banyak teori-teori hantu yang ga masuk akal rasanya disini, bukan pakar hantu jadi sotoy aja, semoga ga mengganggu imajinasi. Curcol dikit nih, ini pertama kalinya aku nulis FF dengan suasana real paling mendukung. Masa pas aku lagi serius-seriusnya ngetik bagian mimpi serem Junmyeon tiba-tiba hujan deres disusul mati lampu berkepanjangan, jadi merinding sendiri deh ngelanjutinnya –dasarnya emang penakut sih-. Baiklah, gimana sama chap ini masih kerasa horornya kah atau biasa aja? ,semoga ga mengecewakan ya...

Happy Reading and Review juseyo /hantu yang ngikutin Junmyeon bisikin sambil gelantungan di atap/