"oh iya. Tolong kau siapkan semangkuk darah segar dari salah satu anggota keluargamu yang belum menikah."

"kk..k...kau bercanda?" wajah Junmyeon mendadak pucat pasi.

Min Seok tertawa mencibir, "dasar bodoh, kau tidak perlu menyiapakan apapun. Kita tidak sedang melakukan ritual pemujaan tau."

Darah Junmyeon perlahan naik lagi kekepala, "hehe...lucu." tawanya garing. "baiklah kalau begitu, hubungi aku kalau kau mau datang."

Min Seok menjawabnya dengan anggukan pasti...

.

.

.

.

.

.

Title : ASTRAY

Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)

Rate : T (karena gak ada Baekhyun #pfftt)

Main Cast :

Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.

Desclaimer :

Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.

Warning :

Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.

... bacanya pelan-pelan ya, hihihi ...

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

Pria penghuni rumah nomor 1.10 itu kembali melihat kearah jam meja didepannya dengan perasaan yang menggerutu.

"tadi di telefon dia bilang akan datang jam 10, kenapa sampai jam 11 belum dat.."

Tokk...tokk...tokk...

"naah, mungkin itu dia." Segera sang penghuni rumah bangkit dari kegalauannya menuju pintu depan rumahnya yang tadi diketuk.

"panjang umur kau, baru saja aku menggerutu." Sapanya menyindir setelah membuka pintu dan menemukan seseorang yang sejak tadi membuatnya menunggu. Sedangkan yang disindir hanya nyengir.

"maaf, aku harus memenuhi panggilan alam dulu."

Junmyeon mengernyit ilfeel, "malam-malam begini?"

"kenapa?, ada masalah?" jawab wanita mungil itu polos

"euwh...tidak juga sih. Ya sudah silahkan masuk." Keduanya pun langsung memasuki rumah Junmyeon dan bersamaan pula mereka berhenti ditengah-tengah ruangan.

"aku heran rumah sebagus ini kenapa tidak ada bel didepannya?" tanya sang paranormal sambil memperhatikan langit-langit rumah Junmyeon.

"rumah ini memang sudah begini sejak aku tempati dan hingga saat ini aku belum berniat mengubah atau menambahkan properti apapun." Jawab Junmyeon yang agak heran kenapa bel rumah saja bisa jadi perhatian Min Seok. Junmyeon sih berharapnya begitu Min Seok masuk, paranormal mungil itu bisa langsung menggambarkan keadaan tak kasat mata yang ada dirumahnya. "kau akan melakukannya sekarang atau bagaimana?"

"dimana kamar yang kau maksud?"

Junmyeon menunjuk dengan dagunya kearah kanan dan Min Seok melihat sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Min Seok berjalan menuju ruangan atau kamar Junmyeon dengan diikuti sang pemilik di belakangnya.

"kau yakin kamarmu bermasalah?" tanya Min Seok sembari masuk dan mengedarkan pandangannya kesekitar.

Junmyeon menaikkan dahi, "lalu untuk apa aku memintamu kesini?"

"tapi aku tidak melihat atau merasakan apapun disini. Kamarmu bersih."

"kamarku memang selalu bersih, aku mengepelnya hampir tiap hari." Jawab Junmyeon lempeng.

Min Seok membuat gerakan seperti menarik ingus dari hidungnya dengan pandangan malas. "orang ini selain single ternyata bodoh juga."

"maksudku kamarmu terlihat baik-baik saja. Tidak ada roh-roh seperti yang tadi pagi mengikutimu atau aura-aura asing yang berbeda dengan kita yang berada diruangan ini." Min Seok mencoba menjelaskan dengan sabar dan keibuan meskipun dia belum pernah menikah apalagi punya anak.

"benarkah?"

"ya." Jawab Min Seok tak kalah singkat.

"ee...mungkin kau bisa masuk lebih dalam?"

Min Seok menurutinya dengan maju memasuki kamar Junmyeon lebih dalam, namun beberapa langkah Min Seok langsung membalikkan badannya dan merubah rautnya secara dramatis.

"ada apa?" tanya Junmyeon kaget.

"kau..." Min Seok menunjuk Junmyeon, "entah kenapa aku langsung punya firasat kalau kau akan mengunci pintu kamarmu dan melakukan hal tidak senonoh padaku, oleh karena itu kau menyuruhku masuk lebih dalam supaya aku tidak bisa kabur, ya kan?"

Junmyeon membeku. Sepertinya dia yang akan mencoba kopi dengan kandungan 15mg sianida. Apa wajahnya se 'om-om' itu sampai Min Seok pun, orang yang notabene Junmyeon anggap punya jalan pemikiran jauh lebih realistis daripada Baekhyun mencurigainya seperti itu?. Wajah unyu begini disangka cabul, kan ngapa banget kesannya.

"kau tidak ingin membuat sebuah kutukan untukku?, aku seperti menanggung malu seumur hidup setelah kau mengira aku seperti itu."

Min Seok menurunkan telunjuknya dari wajah Junmyeon dan mengubah rautnya menjadi iba.

"hhe, maaf. Tadi sore aku habis melihat berita kriminal tentang pemerkosaan gadis dibawah umur. Jadi aku parno sendiri." Min Seok menggigit kuku ibu jarinya.

"memang berapa usiamu?"

"27 tahun."

"kau bahkan jauh lebih tua dari perkiraanku."

Min Seok sweet drop. "baiklah-baiklah... aku akan mencoba lebih berkonsentrasi." Min Seok menarik nafas sambil memejamkan mata dan menghembuskannya perlahan. Selangkah demi selangkah Min Seok memasuki kamar Junmyeon dan terus memfokuskan pikirannya. Telapak tangan Min Seok menyentuh lemari besar Junmyeon dan ia berhenti sejenak.

"aku merasakan sesuatu yang berbeda disini."

"didalam lemariku?"

"sebentar." Min Seok kembali melanjutkan kegiatannya. Tangannya menyusuri pintu kayu lemari tersebut hingga membawanya kesudut kamar Junmyeon. Min Seok kembali memejamkan mata hingga terlihat sampai mengerutkan dahi. Junmyeon yang memperhatikannya dari jarak yang tak terlalu jauh berpikir mungkin Min Seok mulai merasakan sesuatu dan mencoba memusatkan pikirannya. Min Seok membuka matanya dan menegakkan kepalanya perlahan, Junmyeon masih memperhatikan lalu sesaat setelah dia melihat Min Seok mengarahkan pandangannya lurus kedepan paranormal itu terlihat berjengit kaget. Junmyeon sudah gatal sebenarnya ingin mengatakan apa yang Min Seok tau, tapi dia menahannya agar tidak mengganggu konsentrasi Min Seok. Wanita itu kemudian menoleh kearah Junmyeon dengan raut tak terbaca.

"ada apa?" tanya Junmyeon penasaran.

"kemarilah." ,Junmyeon menurutinya dan mendekat kearah sang paranormal berdiri. Sama seperti tadi pagi yang dilakukan Min Seok untuk membuat Junmyeon dapat melihat makhluk tak kasat mata yang mengikutinya. Min Seok menggenggam tangan kiri Junmyeon dan memerintahkan Junmyeon untuk mengarahkan tangan kanannya kedepan.

"kau tidak bisa melihatnya. Tapi kau mungkin bisa merasakan sesuatu." Ucap Min Seok.

"iya. Seperti ada sesuatu yang menghalangi sentuhanku." Junmyeon menatap kearah tangannya dengan perasaan bingung dan takjub luar biasa karena seumur hidupnya dia baru merasakan apa itu kemampuan spesial yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih saja.

"aku melihat aura yang nyata seperti manusia hidup meskipun aku belum bisa melihat wujudnya, inilah yang disebut astray."

"apa itu?"

"dunia lain dimana seseorang yang masih hidup jiwanya terperangkap disana." ,Junmyeon mengernyit masih bingung dan kurang mengerti penjelasan Min Seok.

"biasanya berkaitan dengan mati suri, koma atau seseorang yang melakukan perjalanan astral, namun tidak semua kasus bisa seperti ini hanya keadaan tertentu saja. Secara fisik dia masih dikatakan hidup, hanya saja jiwanya sedang berada di alam lain sehingga tidak berada dekat dengan raganya. Itulah yang menyebabkan dia bisa tersesat dan tidak tau harus bagaimana untuk kembali."

Perlahan Junmyeon mulai mengerti teori dari yang dikatakan Min Seok. "lalu apa kita bisa melakukan sesuatu padanya?"

"entahlah. Aku akan mencoba berkomunikasi dengannya. Tapi aku tidak bisa sendiri, kau tidak keberatan kalau aku mengundang satu orang lagi kesini untuk membantuku?"

"silahkan! Apapun yang kau butuhkan."

Min Seok kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

.

Tidak sampai 15 menit kemudian Junmyeon mendengar pintunya kembali diketuk. Keduanya pun keluar melihat siapa yang datang.

"maaf aku menghubungimu malam-malam begini." Sapa Min Seok setelah mempersilahkan sang tamu yang ternyata rekan Min Seok itu untuk masuk kedalam. "Junmyeon, ini rekanku, Jong Dae."

"senang bertemu denganmu." Ucap Junmyeon sambil berjabat tangan dengan Jong Dae. "maaf kalau aku merepotkan kalian karena harus datang malam-malam begini."

"tidak masalah. Ini sudah menjadi pekerjaan kami." Balas Jong Dae ramah.

Ketiganya kini menuju ruangan sebelumnya yang Junmyeon sebut sebagai kamarnya. Setelah Min Seok dan Junmyeon menjelaskan kronologinya dari awal hingga menyebabkan Min Seok harus meminta bantuan Jong Dae, barulah terlihat Min Seok dan Jong Dae akan segera melakukan sesuatu.

"Junmyeon, kau bisa meninggalkan kami berdua disini?"

Junmyeon mengangguk, "tentu saja."

"tolong kau tutup pintunya juga."

"hmm." Junmyeon akan berjalan keluar namun baru saja ia akan meraih handle pintunya tiba-tiba Junmyeon berbalik, "eeh... tapi jangan berbuat mesum ya?" ancamnya seperti yang sebelumnya dilakukan Min Seok saat menuduhnya akan berbuat tidak senonoh.

Min Seok hanya memandang Junmyeon datar tapi lain dengan Jong Dae yang melihatnya dengan awkward. Junmyeon mengendikkan bahu, "baiklah. Aku percaya kalian profesional." Setelah itu Junmyeon melangkah keluar dan menutup pintunya membiarkan Min Seok berdua saja dengan Jong Dae dikamarnya.

.

.

Beberapa menit setelah itu bersamaan dengan keluarnya Min Seok dan Jong Dae dari kamar Junmyeon, sang pemilik rumah pun terlihat keluar dari arah dapur membawa nampan dengan tiga mug berisi minuman diatasnya yang terlihat masih mengeluarkan kepulan asap tipis.

"nuna, kalian sudah selesai?" tanya Junmyeon sambil melangkah menuju sofa didepan televisinya yang kebetulan berada tak jauh dari mereka disusul oleh Min Seok dan Jong Dae yang mengikuti langkah Junmyeon. "duduklah." Pinta Junmyeon sambil meletakkan satu persatu mugnya diatas meja.

"sejak kapan kau memanggilku nuna?"

"sejak aku tau kalau kau lebih tua dariku." Keduanya kemudian diam tak ingin melanjutkan masalah panggilan yang sebenarnya tak perlu dibahas.

"ada apa disana sebenarnya?" tanya Junmyeon membuka pembicaraan.

"tadi pagi... eh, maaf sekarang pukul berapa?"

Junmyeon menengok kearah jam mejanya. "dua belas lebih lima belas menit."

"oh berarti kemarin pagi. Kau kan cerita padaku kalau kau baru pindah kesini, apa ini rumah yang kau bangun sendiri?"

"tidak. Rumah ini dulunya milik seseorang. Tapi aku adalah orang pertama yang menempati rumah ini setelah ditinggal oleh pemilik pertamanya."

"kau kenal dengan pemiliknya yang dulu?"

"itu aku juga tidak tau, karena aku membelinya dari situs pelelangan rumah disebuah bank. Jadi aku tidak pernah tau apalagi bertemu dengan pemilik sebelumnya."

"hmm..." Min Seok mengangguk ringan. "atau kau mungkin tau cerita tentang rumah ini dulunya dari tetangga sekitarmu?"

"yang aku tau pemilik rumah ini pindah karena anaknya sakit. Hanya itu, mereka tidak tau anaknya sakit apa, dirawat dimana atau pindah kemana. Tapi ketika aku tanya bagaimana keadaan rumah ini sebelumnya, mereka bilang kalau rumah ini baik-baik saja, keluarga yang tinggal disini pun orangnya ramah dan welcome dengan para tetangga. Intinya tidak pernah ada masalah sama sekali."

Melihat tak ada respon dari Min Seok, Junmyeon menelengkan kepalanya. "kau...memikirkan sesuatu?"

"ya." .Jawab Min Seok dan Junmyeon kembali menegakkan kepalanya. "jadi benar kalau astray itu adalah anak dari pemilik pertama rumah ini."

"maksudmu?"

"tadi aku mencoba untuk melakukan perjalanan astral untuk masuk kedalam dunianya dan laki-laki itu berkata kalau dia sudah tinggal disini sejak dia kecil. Dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba kau bisa ada dirumahnya."

"laki-laki?" tanya Junmyeon heran.

"ya dan kupikir dia seusiamu atau mungkin sedikit lebih muda, entahlah."

Semuanya terdiam kemudian dengan pikiran masing-masing. Junmyeon dengan pikirannya mengenai astray itu, Min Seok yang memikirkan kemungkinan cara yang bisa dilakukan untuk membimbing astray itu kembali ke raganya, serta Jong Dae yang berpikir kenapa dirinya terabaikan dan tidak diajak bicara sama sekali.

"lalu apa dengan gangguan tidur malamku itu, dia juga penyebabnya?" Junmyeon kembali dari keheningan.

"benar. Karena dia mengatakan bisa mendekatimu disaat-saat tertentu mungkin yang dimaksud ketika kau sedang tidur itu. Orang yang tidur keadaannya hampir sama seperti orang mati. Teoriku, kemungkinan jiwa kalian bertemu di dimensi yang sama namun karena dunia kalian berbeda maka kau menganggap itu sebagai sebuah mimpi. Dia hanya berusaha mendekatimu tapi karena pada dasarnya kau masih sadar dalam arti ya jiwamu masih disitu-situ saja, akhirnya kau merasa seolah dia akan mencekikmu karena kau tidak dapat melihatnya. Dan mulai sekarang dia tidak akan berusaha mendekatimu lagi karena aku bicara padanya bahwa apa yang dia lakukan itu mengganggumu, aku menjelaskan padanya kalau dia berada di dunia astray dan bukan dirumahnya sendiri."

"semoga astray itu menepati janjinya. Lalu, apa dia tidak bisa mendekatiku saat aku sadar?"

"tidak bisa. Karena sebenarnya itu hanya jiwa kalian yang bertemu. Ibaratnya seperti kalian berada dalam satu mimpi yang sama, sebuah dimensi yang sama namun keberadaan kalian yang berbeda. Kau...mengerti maksudku kan, Junmyeon?" telisik Min Seok melihat raut Junmyeon yang seperti orang kebingungan.

"ya..ya, aku mengerti." Jawabnya sambil mengangguk. "Lalu apa bisa kita membantunya kembali ke raganya?"

"bisa. Dengan bantuanmu juga."

"bantuanku?, aku bisa apa?" tanya Junmyeon bingung.

"seharusnya kau bertanya apa yang harus kulakukan?, bukan pertanyaan putus asa seperti itu." Jawab Jong Dae. Junmyeon menoleh kearah pemilik suara, dan dia baru sadar kalau ada satu orang lagi selain dirinya dengan Min Seok. Jong Dae yang teraniaya.

"Jong Dae benar, kau tidak harus punya kemampuan khusus untuk membantu kami. Yang kau perlukan hanyalah menemukan dimana pemilik pertama rumah ini tinggal dan temui anaknya."

"menemui anaknya?, kau bilang jiwanya tersesat, jadi aku harus bicara apa?" protes Junmyeon.

"hhh...begini, biar kujelaskan dari awal. Astray itu, mengatakan kalau dia ingin tau siapa dirimu. Meskipun dia tidak bisa menyentuhmu ketika kau sadar, tapi bukan berarti dia tidak bisa memperhatikan segala aktivitasmu. Dia mendengar suaramu dan dia mengerti apa yang kau bicarakan. Yang aku tau satu-satunya suara yang ia dengar sejauh ini adalah suaramu. Jadi jika kau ingin membangunkannya kau harus berada didekat raganya, sama seperti kau membangunkan orang yang sedang tidur." Jelas Min Seok.

"kenapa tidak keluarganya saja?, pasti kan mereka selalu berada di dekat raga astray itu, apa keluarganya tidak berusaha membangunkannya?"

"kau belum mengerti juga rupanya." Baik Min Seok maupun Jong Dae yang hanya mendengarkan turut menghela nafas lelah. "Junmyeon, pahami ini baik-baik. Tubuhmu itu hanya sebuah casing, sebuah tempat dimana jiwamu yang menggerakkannya. Kau tau bedanya orang hidup dan mati kan?" . Junmyeon mengangguk, lalu Min Seok mencoba menjelaskan kembali dengan lebih hati-hati. "oke, aku tidak tau sudah berapa lama dia disana sejak jiwanya terpisah dari raganya. Tapi dia mengatakan padaku jika hanya suaramu yang dia kenali, hanya suaramu yang terdengar. Kenapa? Karena sumber hidupnya berada disini, bersamamu meskipun dia berada didunia lain. Seandainya saja astray ini adalah pasien koma atau mengalami fase mati suri, maka ketika terbangun nanti kemungkinan dia akan merasa seperti bermimpi bertemu seseorang. Mungkin dia ingat, tapi mungkin juga tidak. Jadi kenapa dia hanya bisa mengenali suaramu, karena bisa jadi saat dia terbangun dan berada di dunia astray, raganya sudah berpindah namun jiwanya masih disini. Kau paham?"

"intinya astray itu hanya bisa mendengar suaramu. Jadi meskipun keluarganya berusaha membangunkannya disana tetap tidak akan berhasi." Tambah Jong Dae dan Min Seok mengangguk

Tanpa menjawab apapun dengan tatapan berpikir, Junmyeon mengambil mug berisi teh hangatnya dan meneguknya hingga tersisa setengah. Setelah meletakkan mugnya kembali Junmyeon melihat kearah Min Seok dan Jong Dae yang juga menatap kearahnya.

"o..oh...silahkan diminum dulu tehnya mumpung masih hangat."

Min Seok dan Jong Dae saling berpandangan sebentar, namun kemudian mengambil mug masing-masing dan meminum isinya dengan tenang.

"jadi aku harus menemui pemilik pertama rumah ini dan melihat kondisi anaknya?" tanya Junmyeon setelah Min Seok dan Jong Dae meletakkan kembali mug mereka.

"kau sudah paham belum apa yang kujelaskan tadi?" Min Seok balik bertanya.

"iya aku paham."

"kalau bisa kau harus menemukan mereka secepatnya. Bukannya berpikir negatif, tapi bisa saja keluarganya nanti menganggap dia sudah meninggal dan memutus jalan jiwa astray itu untuk kembali. Sehingga dia benar-benar akan meninggal."

"lantas kalau seandainya saja dia meninggal, apa dia akan tetap berada disitu?"

"tentu saja tidak. Dia akan berada di tempat yang semestinya."

Junmyeon mengangguk-anggukkan kepalanya.

"baiklah kalau begitu Junmyeon, kami harus pulang dan kau mungkin harus istirahat. Kurasa tiga jam lagi matahari akan segera terbit."

Junmyeon menengok kearah jam mejanya. Pukul 02.00 a.m

"wah, tidak terasa juga sudah menjelang pagi hari." Ucap Junmyeon, sambil ketiganya beranjak menuju beranda rumah Junmyeon.

"terima kasih ya kalian sangat membantu. Ngomong-ngomong kalian akan pulang berdua?"

"iya. Kenapa?" jawab Min Seok

"kalian ini pasangan kekasih ya?"

Min Seok dan Jong Dae tersenyum canggung, "yaaa, begitulah." Jawab Jong Dae.

"aiihh... ya sudah kalau begitu. Jaga Min Seok nuna ya Jong Dae hyung."

"eum...sebenarnya dia 2 tahun lebih muda dariku." Jawab Min Seok malu-malu meong.

"oh, benarkah?. Nuna lover ternyata, hahaha." . Min Seok mendelik mendengar candaan Junmyeon.

"kau sudah menyimpan nomorku kan?, kalau kau seudah bertemu keluarga itu segera hubungi aku dan akan aku jelaskan bagaimana cara membimbing astray itu kebali ke raganya." Jawab Min Seok sedikit dongkol.

"baiklah nunaa..."

"kami pamit dulu. Permisi." Jong Dae dan Min Seok membungkukkan badan hormat dan pergi dari sana dengan mobil yang dikendarai Jong Dae.

Setelah itu Junmyeon kembali masuk rumahnya, membereskan mug-mug bekas minuman mereka tadi tanpa mencucinya dan langsung menuju kamarnya.

Dikamarnya, Junmyeon duduk ditepi kasurnya dan menghadap kearah sudut dimana tadi Min Seok menjelaskan bahwa astray itu berada disana. Junmyeon menerawang sejenak sambil memperhatikan setiap sisi sudut tersebut.

"bagaimana aku bisa menemukan dimana keluargamu?, kalau mereka masih disekitar seoul sih tidak apa-apa, tapi kalau ternyata mereka membawamu ke luar negeri?." Racau Junmyeon seolah-olah dia bisa melihat astray tersebut dan mengajaknya bicara. Junmyeon teringat sesuatu. Segera ia membuka salah satu laci nakasnya dan mengambil sebuah tabung lusuh dengan isi yang berjamur, entah kenapa saat menemukannya waktu itu Junmyeon tidak membuangnya dan malah menyimpannya di dalam nakas. Junmyeon memutar-mutar tabung itu, memperhatikannya dengan seksama. Dia baru sadar kalau disekeliling tutup tabung itu terdapat sebuah coretan-coretan yang seperti sebuah rangkaian huruf.

"Z, A, N, I, G" eja Junmyeon membaca huruf yang masih terlihat disana.

"zanig? ,apa ini sebuah nama?" Junmyeon masih memutar-mutar tabung tersebut. Sebenarnya tidak hanya ada 5 huruf yang tertulis, ada beberapa. Hanya saja Junmyeon tidak dapat membacanya karena sebagian tulisannya luntur. Junmyeon memutuskan untuk menyimpan kembali tabung tersebut dan mulai berbaring di ranjangnya yang nyaman. Dia percaya kata Min Seok tadi bahwa paranormal mungil itu sudah meminta si astray untuk tidak berusaha mendekatinya. Kalau tidak berhasil juga ya tinggal geplak saja kepala Jong Dae dengan papan ouijanya. /me: kok Jong Dae bang? / myeon: kan Min Seok cewek./ oohhh/

.

.

.

.

.

.

titit titit...titit titit...titit titit... /jam wekernya rada nganu :D/

pria bermarga kim itu menjulurkan tangannya pada weker yang mengganggu tidur nyenyaknya dan menekan salah satu tombolnya agar bunyi berisik itu berhenti. Dia sudah membuka mata sayunya, tapi enggan beranjak dari posisi tengkurapnya dengan kepala yang menempel bantal. Dia berkedip beberapa kali. Benar kata Min Seok kalau tidurnya tidak akan terganggu, astray itu ternyata penurut juga. Meski hanya tidur tidak lebih dari 3 jam, tapi kalau nyenyak begini tidak jadi masalah buat Junmyeon. Dari dulu memang dia paling benci ketika tidur dan terbangun ditengah malam, karena untuk melanjutkan kembali tidurnya akan sangat susah. Ini masih pukul 5 pagi, waktu yang cukup lama sebelum dia berangkat ke kantor pada pukul 7 nanti. Alhamdulillah it's Monday, by the way.

"senin?" Junmyeon mengangkat kepalanya. "hahh...rasanya sejak pindah kesini aku seperti bekerja 24 jam penuh tanpa libur." Dan kemudian menjatuhkan kepalanya lagi.

"apa aku ambil libur saja?, ooh, atau sekalian cuti saja ya?" Junmyeon mengangkat kepalanya lagi dengan posisi tubuh yang masih sama, tiarap. "aaah, tapi kan belum juga 2 pekan aku bekerja masa sudah sering libur." Keadaan yang sama, dia menjatuhkan kembali kepalanya diatas bantal bulu angsanya yang empuk, nyaman dan hangat. Baru saja Junmyeon berniat menutup matanya kembali tiba-tiba ponselnya berdering.

"presdir?" seketika ia bangun dan duduk dengan khidmat untuk menerima panggilan dari atasannya. Padahal kan cuma telfon, sambil nungging pun nggak akan kelihatan -_-.

"selamat pagi, presdir." Sapa Junmyeon setelah menggeser ikon hijau dilayar ponselnya.

"pagi. Junmyeon, kau ingat kan kalau jam 9 nanti kita ada rapat direksi?" - balas orang diseberang.

'hah?, rapat direksi?, dimana?, aku tidak tau..' batin Junmyeon

"em..ee, i..iya presdir saya ingat." Jawab Junmyeon sambil memukul jidatnya. Dia tidak tau apa-apa, demi ibu mertuanya yang belum dia ketahui siapa orangnya #plakk.

"baiklah, aku minta kau datang lebih pagi hari ini bersama direktur-direktur dari divisi lain, aku sudah menghubungi mereka. Karena ada yang perlu kita evaluasi sebelum rapat nanti. Sebenarnya aku sudah menyampaikan ini hari sabtu kemarin tapi sekretarismu bilang kau sedang sakit. Oh ya, para investor juga akan hadir dalam rapat jadi kuminta kau mempersiapkan laporanmu dengan baik. Kau mengerti?"

Lempar hayati ke rawa-rawa bang. Sumpah demi astray yang menghuni sudut kamarnya, sekretarisnya bahkan tidak menghubunginya sama sekali apalagi memberitahu soal rapat hari ini. 'Kalau saja sekretarisku tidak memiliki keluarga aku akan...akan...hah sudahlah, akan kuapakan aku juga tidak tahu.'

"Junmyeon. Kau masih disana"

"aa..aaah... iya presdir saya dengar anda."

"yasudah kalau begitu kau segera siap-siap. Selamat pagi."

"nee, selamat pagi presdir." –sambungan telefon terputus.

Junmyeon membentur-benturkan ponsel ke jidat mulusnya yang seperti tak pernah ditumbuhi jerawat itu berkali-kali. "ya Tuhaaaan... semoga ada keajaiban datang padaku." Ratapnya sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berdo'a.

.

.

.

.

.

.

.

.

-skip time- at office.

"oke, saya akan mengakhiri rapat kali ini, tapi sebelumnya terima kasih atas kontribusi yang luar biasa dari para direktur diperusahaan kami yang saya yakin sudah bekerja sangat keras selama ini. Saya harap hasil dari rincian aktivitas perusahaan dan laporan keuangannya bisa diterima baik oleh bapak-bapak dan ibu-ibu investor sekalian sebagai jaminan bahwa berinvestasi di perusahaan kami adalah pilihan yang tepat." Seluruh audience terlihat mengangguk puas. "baiklah sekian, saya akhiri rapat besar kali ini. Selamat siang." Setelah seorang lelaki paruh baya yang menyandang gelar presdir itu turun dari podiumnya, terlihat semua orang yang berada disana juga mulai membubarkan diri satu persatu. Kecuali seorang pria muda yang menyandang status sebagai salah satu direktur disana yang lebih memilih membuka ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.

"ini aku kim Junmyeon."

...

"apa ada yang harus kuselesaikan hari ini?"

...

"aku akan pulang lebih awal. Jika ada yang mencariku tolong bilang bahwa aku ada urusan penting dan mendesak."

...

"oke. Hubungi aku tiap kau dapat informasi apapun."

...

Junmyeon menutup sambungan telefonnya dan menghela nafas panjang. Berterima kasihlah Junmyeon pada nasib baik yang menyelamatkannya hari ini. Karena laporan yang dibutuhkan adalah rekap yang diberikan Baekhyun padanya beberapa hari kemarin saat dirinya bolos kerja dengan alasan sakit.

Mendengar dari sekretarisnya bahwa hari ini dia sedang tidak ada kegiatan apapun setelah rapat direksi, Junmyeon memutuskan pulang lebih awal untuk menunaikan(?) janjinya pada Min Seok yang baru ia ingat ditengah rapat tadi. Mencari keluarga pemilik pertama rumah yang telah menjadi miliknya sekarang.

Junmyeon segera turun ke basement dimana mobilnya terparkir. Mengendarai sedan silver metalicnya dengan kecepatan normal membelah jalanan ramai distrik Seocho.

.

Usai berganti pakaian dan membawa 2 benda paling penting dalam hidupnya –ponsel dan dompet- Junmyeon melangkah keluar. Keluar dari kawasan perumahannya menuju jalan utama dengan melewati gang yang menjadi rutenya setiap hari. Sebenarnya Junmyeon juga tidak tau akan kemana meskipun dia sudah punya niat untuk mencari pemilik pertama rumahnya sebelum semua terlambat. Junmyeon tak bisa membayangkan jika saja keluarga astray itu telah menyerah dan membiarkannya pergi lantas Junmyeon baru datang dan mengatakan bahwa sebenarnya anak tersebut masih bisa kembali dengan sedikit bantuannya. Junmyeon menggelengkan kepalanya menghapus bayangan betapa sakitnya perasaan keluarga itu nanti, jika seandainya itu yang terjadi. Tapi Junmyeon berharap dia diberi kesempatan untuk berhasil lebih cepat dari yang ia duga, minimal tepat waktu.

Entah kenapa, langkah Junmyeon menuntunnya untuk belok kearah kiri dan membawanya duduk disebuah halte bus yang sudah tidak asing untuknya. Junmyeon tau ada seorang lagi yang duduk disebelahnya, namun ia tidak peduli lagipula ini bukan halte neneknya jadi siapapun boleh duduk disana.

Selama beberapa menit Junmyeon tak kunjung dapat ide harus memulai pencarian darimana. Para tetangganya sama sekali tak membantu, mereka tidak ada yang tau pindah kemana keluarga tersebut.

Pandangan Junmyeon melayang kearah kiri dan melihat sebuah bus akan melintas, namun ternyata bus itu berhenti dihadapannya dan dia melihat sesorang yang tadi duduk disebelahnya segera menghampiri bus tersebut. Begitu tau siapa gerangan orang tersebut Junmyeon langsung membelalakkan matanya.

"Lay?" ,panggilnya cukup keras dengan nada bertanya.

Yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. "kau?, kau yang waktu itu curhat padaku di restoran itu kan?"

"em..e..ya," Junmyeon agak malu karena perkataan Lay membuat beberapa orang yang lewat disitu menoleh padanya. "namaku Junmyeon kalau kau sudah lupa."

"aah, hehe...maafkan aku aku tidak terlalu pandai mengingat orang."

"JADI NAIK TIDAK?" teriak sang sopir dari dalam bus.

Lay menengok kearah sang sopir. "maafkan aku, aku tidak jadi naik." ,pintu bus pun tertutup dan pergi meninggalkan Lay dengan Junmyeon.

"kenapa tidak jadi?"

"tidak apa-apa aku bisa naik bus berikutnya. Lagipula sepertinya tadi sudah penuh bus nya."

"ooh, memang kau mau kemana?"

"aku akan menjenguk sahabatku yang sedang sakit."

"oh iya kemarin aku ke restoran itu lagi, tapi ternyata kau tidak masuk. Rekanmu bilang kau ijin untuk menengok temanmu yang sakit. Apa dia orang yang sama dengan yang akan kau jenguk hari ini?"

Lay hanya menjawabnya dengan anggukan. "memang dia sakit parah ya?" lanjut Junmyeon.

"lebih dari sekedar parah. Aku bahkan tidak tau apakah dia bisa sembuh kembali." Jawab Lay dengan raut yang berubah sedih.

Junmyeon jadi ikut prihatin. "boleh aku tau dia sakit apa?"

"dia overdosis antihistamin dan benzodiazepin. Aku tidak tau kalau ternyata dia sudah lama mengonsumsi obat-obatan tersebut."

"kenapa dia harus sampai mengonsumsinya?"

"aku akui memang dia bekerja dengan tekanan yang luar biasa. Jadi dia mengonsumsi antihistamin supaya bisa tidur nyenyak dan benzodiazepin agar tidak mudah depresi. Tapi aturannya yang salah."

"aku turut prihatin." Sedih Junmyeon sedang Lay menanggapinya dengan senyum.

"oh iya, ngomong-ngomong kau juga mau kemana?" tanya Lay.

"aku?, tidak tahu." Jawab Junmyeon lesu. Lay mengernyitkan dahi masih menatap Junmyeon berharap pria itu akan melanjutkan ucapannya. "ada yang harus kucari sebenarnya. Tapi aku bingung mau mulai dari mana."

Lay nampak berpikir. "kalau mulai dari ikut menjenguk sahabatku bagaimana?"

Maksudnya ikut Lay gitu?, naik bus berdua dan duduk bersebelahan gitu?, terus dia pura-pura ngantuk dan nyender di pundak Lay gitu?, atau..atau.. busnya penuh dan mereka harus berdiri lalu sopirnya ngerem mendadak dan mereka terdampar kesudut dengan posisi Junmyeon yang mendekap Lay, begitu?. Ooh betapa Junmyeon mengamini semua khayalannya agar salah satunya jadi kenyataan.

"Junmyeon?. Kenapa lama sekali berpikirnya?"

"eh..oh..em..ya, boleh juga. Lagipula aku masih tidak tau harus kemana."

"ya sudah ayo berdiri" Ajak Lay setelah dia juga berdiri.

"hah? apanya?" tanya Junmyeon bingung, apanya yang harus berdiri?, dia? Atau "adik"nya? #wakzz

"kok apanya sih. Ya kamu atuh ayo berdiri."

"oh, emang mau ngapain?" tanya Junmyeon lagi masih tidak paham maksud Lay

"itu busnya sudah datang." Tujuk Lay pada bus yang sudah berhenti manja didepan mereka.

"ah, iya iya..ayo." dan merekapun berakhir dengan naik bus berdua.

Selesai~

.

.

.

.

.

.

.

.

#digamparbolakbalik. Belom ding, scroll lagi kebawah :D

.

.

.

.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dengan tak terjadi apapun seperti apa yang dikhayalkan Junmyeon. Mereka akhirnya sampai disebuah rumah sakit yang terlihat elit berada dikawasan Gangnam.

'samseong medical center? Waw... kaya juga rupanya teman Lay ini.' Batin Junmyeon karena dia tau kalau rumah sakit ini menggunakan teknologi paling mutakhir dengan biaya perawatan yang jauuuuh dari kata terjangkau.

Tak ada percakapan berarti antara Lay dengan Junmyeon. Junmyeon sih sebenarnya sangat ingin mengetahui lebih jauh tentang Lay, kehidupannya mungkin atau cerita-cerita ringan tentang kesehariannya. Tapi Junmyeon juga merasa ini suasana yang kurang tepat untuk melakukan pendekatan. Terlalu dini, katanya.

Saat ini mereka berada di lantai 12 rumah sakit. Suasana berbeda makin terasa begitu pintu lift terbuka dan Junmyeon menjejakkan kaki dilantai mengkilapnya. Lantai VVIP. Sambil tetap mengikuti Lay, Junmyeon mengedarkan pandangannya. Lantai ini begitu senyap dengan nuansa elegan yang kental. Interior yang khas sekali dengan kalangan kaum jetset. 'ini sih lebih mirip hotel...'

"sstt...hehh...Junmyeon." Lay berteriak dengan suara rendah memanggil junmyeon, karena lantai ini begitu senyap jadi berisik sedikit saja sudah pasti akan mengganggu.

Junmyeon celingukan setelah dia mendengar ada bisikan keras yang memanggil namanya. Junmyeon memutar tubuhnya kebelakang dan mendapati Lay dengan jarak beberapa meter dibelakangnya. Dia membelalak dan melihat Lay memberikan gestur lambaian tangan berarti menyuruh dia kembali.

"kau mau apa jalan terus sampai kesana?" tanya Lay setelah junmyeon menghampirinya.

"kau sih tidak bilang kalau berhenti." Sangkal Junmyeon.

"lagian kau juga malah sibuk memperhatikan yang lain." .Junmyeon membeku sesaat, ditelinganya Junmyeon mendengar perkataan Lay barusan lebih seperti "iih, sayang kamu kok malah merhatiin orang lain bukan perhatiin aku?" . 'muehehe...' tawa Junmyeon dalam hati.

"kamu ngapain senyum-senyum begitu." Junmyeon kicep. Dia nggak sadar rupanya kalau daritadi Lay perhatikan.

Tanpa bicara lebih banyak lagi Lay membuka pintu ruangan bertuliskan vvip.6 itu dan langsung masuk kedalam diikuti oleh Junmyeon. Begitu masuk, Junmyeon melihat seseorang yang terbaring sendirian disebuah ranjang –yang Junmyeon pikir terlihat terlalu nyaman untuk ukuran ranjang rumah sakit- dengan berbagai alat medis melekat ditubuhnya yang terlihat begitu ringkih. Junmyeon memperhatikan lengan pasien tesebut, terlihat kurus dan sangat pucat. Lalu pandangannya berangsur-angsur menelusuri tubuh pasien itu hingga menatap wajahnya. Junmyeon terpaku sesaat ketika melihat wajah pucat dengan pipi yang cekung itu. Pasien itu bahkan tidak terlihat seperti orang asing untuk Junmyeon. Tanpa sadar ia merasa darahnya berdesir lembut diiringi tempo detak jantungnya yang secara konstan mulai meningkat.

"orang itu...

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Wahaa...akhirnya selesai juga ngelanjutin chap ini setelah curi-curi waktu ditengah tugas yang menggila. Penjelasan sedikit ya, kalo antihistamin itu obat anti alergi yang efek sampingnya ngantuk berat dan benzodiazepin itu obat penenang semacam anti depresan gitu deh.

Then, gimana sama chap ini?, apa sudah mengobati rasa kangen kalian sama Lay? Walaupun lagi-lagi dia Cuma nyempil diakhir cerita, hehe. Sekali lagi saya mengingatkan kalau apapun yang berhubungan dengan dunia supranatural disini murni fiksi ya... istilah astray juga saya dapet dari bahasa inggris yang artinya tersesat. Jadi terciptalah dunia yang semacam itu dalam imajinasi spongebob :D

Kemarin saya lupa ngucapin terima kasih, terus yang uname nya ada titik2nya gitu jadi gak kebaca ya... padahal saya nulisnya lengkap loh. Jadi sekarang yang unamenya disertai titik aku buat spasi aja ya biar kebaca.

Thank To :

Viviyeer , Slhan , TaoTaoZiPanda , pororo , heeriztator , Mery Zhang , chenma , joonxing world , xing1002 , Maple Fujoshi2309 , MinnieZhang , cumberbatch's , vitrop , Isaaq Lahey , cora , PikaChen , xingmyun , Shinta lang , parkchanyeol chanyeol 35 , Richjoonmoney , Kyuuxiu , qwertyxing , xxcbaekido , koganeno , lolamoet , aerii0110 , kookiesue , munakyumin137

Okee... Happy reading and Review juseyo...