FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance
Rated : PG-15
Length : Part (On Going)
.
Part 13
.
***
Auhtor POV
.
"Kau bilang apa tadi? Kau dan Jonghun sunbae…"Miki menatap Kazu tajam dengan kedua mata bulatnya. Apa yang baru saja dikatakan sahabatnya itu benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Itu benar…aku dan Jonghun…berpacaran…"ucap Kazu sepelan-pelannya, bahkan suaranya hampir tak terdengar.
"APA? Kau serius? Ba..bagaimana bisa? Bukankah kau dan dia…"Miki makin tersentak tak percaya. Jelas sekali dalam ingatannya, Kazu TIDAK pernah akrab dengan Jonghun. Bahkan sepertinya Jonghun benar-benar membenci Kazu.
"Tapi itu memang benar Miki…aku sendiri tidak mengerti, aku juga tahu ini sangat mendadak-…"
"Sangat Kazu, sangat! Bagaimana bisa kau pacaran dengannya? Memangnya kau menyukainya?"tanya Miki lagi. Kazu menundukkan kepalanya sejenak, kemudian mengangkatnya lagi & menatap lurus kearah mata Miki.
"Aku memang menyukainya…sejak pertama kali melihatnya, aku sudah menyukainya…"jelas Kazu.
"Lalu kenapa kau tidak menceritakannya pada kami?"heran Miki sambil menunjuk dirinya & Kira yang sejak tadi hanya duduk diam dibelakangnya.
"Ng..waktu itu aku belum yakin…tapi sekarang aku sudah yakin, aku memang menyukai Jonghun"ucap Kazu. Miki-pun menghela nafas panjang, ia menolehkan kepalanya kearah Kira.
"Kira…apa pendapatmu?"tanya Miki. Kira membelalakan matanya saat ditanya seperti itu. "Ha? Apa?"
"Pendapatmu Kira, pendapatmu! Kau setuju Kazu berpacaran dengan Jonghun sunbae?"Miki berbalik heran dengan tingkah Kira yang sepertinya tidak menyimak apa yang dibicarakan sejak tadi.
"Pacaran? Ah..ng..iya sudah…memang kenapa…"Kira mengalihkan pandangannya. Sepertinya jawabannya itu justru tidak memberi "jawaban".
"Kira! Ada apa denganmu? Kau juga aneh sejak pulang dari Kyoto"Miki hanya bisa terheran-heran dengan tingkah laku kedua sahabatnya itu. Kira diam sejenak memikirkan sesuatu.
"Miki…Kazu...ada yang ingin kukatakan"ucap Kira pelan sambil menatap wajah kedua sahabatnya takut-takut. Kazu & Miki-pun menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung sahabat didepannya.
"Kalian…suka dengan Wonbin-kan?"
"Hah? Su…suka?"Miki terkejut dengan pertanyaan Kira.
"Bukan suka yang seperti itu! Maksudku..kalian suka dengan kepribadiannya-kan? Kalian tidak ada masalah dengannya-kan?"tanya Kira lagi. Kazu & Miki semakin membelalakan matanya.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau tanyakan hal itu?"Miki balik bertanya. Kazu masih memikirkan kata-kata Kira, dan memang sudah takdirnya mempunyai otak yang encer. Sepertinya ia mulai mengerti apa maksud Kira.
"Kira…jangan-jangan…kau dan Wonbin sunbae…"gumaman Kazu membuat Miki menoleh liar kearahnya.
"Iya, aku juga berpacaran dengannya sekarang…"Miki langsung menatap horror kedua sahabatnya.
"APA? Kira kau juga? Yaish…apa Kyoto itu wahana cinta? Sepulang dari sana 2 temanku langsung dapat pacar!"teriak Miki frustasi. Kazu & Kira-pun hanya bisa terdiam sambil melihat tingkah mengenaskan(?) Miki.
"Miki…aku sudah katakan semuanya-kan? Aku tidur ya…besok kita harus sekolah…"pinta Kazu dengan wajah memelas.
"Haaah…aku juga sudah mengantuk, ayo kembali kekamar, lampunya segera kumatikan"ucap Kira yang langsung bangkit dari kuris dan menarik tangan Kazu menuju kamar mereka, meninggalkan Miki yang masih berdiri mematung.
.
***
Author POV
.
Pagi yang cerah mewarnai MyeoungDam yang kembali dipenuhi oleh murid-murid setelah kegiatan study tournya. Para Pujaan sekolah baru selangkah melewati pembatas jalan dengan gerbang utama, namun teriakan yang menyambut mereka sudah seperti para Pujaan itu berada tepat dihadapan mereka.
"Sunbae! Jonghun sunbae, selamat pagi!"
"Minhwan~ selamat pagi!"
Jonghun & Minhwan hanya tersenyum sesekali membalas teriakan para Primadonna mereka. Namun teriakan mereka sudah pasti akan lebih meriah jika ada Hongki disana.
"Hyung, kau benar-benar tidak bisa membujuknya untuk masuk sekolah?"tanya Minhwan kepada Jonghun.
"Kalau aku saja tidak bisa menanganinya, berarti dia memang tidak ingin diganggu-kan"jawab Jonghun tanpa melihat kearah Minhwan yang sudah mengerutkan kedua alisnya. Gerak-gerik bola matanya terlihat sayu, ia-pun menghela nafas panjang saat mereka berdua sampai ditangga.
"Kenapa harus dengan Wonbin hyung…"Jonghun menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Minhwan barusan. Ia-pun mengurungkan niat untuk masuk kekelasnya.
"Kau tidak usah memikirkan apapun, Hongki akan segera melupakannya"
"Tapi hyung…"
"Masuk kekelasmu sekarang, sebentar lagi pelajaran dimulai"Minhwan-pun tidak bisa membalas ucapan Jonghun lagi. Tanpa basa-basi, Jonghun masuk kedalam kelasnya, sementara Minhwan masih menatapnya lirih sebelum akhirnya ia-pun ikut melangkahkan kaki menuju kelasnya.
.
Kazu POV
.
Tidak ada yang tahu statusku sekarang. Uzumi Kazu, murid pertukaran kelas 1 adalah pacar seorang Choi Jonghun, murid kelas 3 yang notabenenya adalah salah satu Pujaan sekolah. Selintas senyum selalu tersungging dibibirku saat mengingat hal itu. Aku menyukainya, tentu saja aku sangat senang karena aku adalah kekasihnya sekarang. Ah…aku benar-benar tidak percaya!
"Ah? Jonghun?"seruku saat melihat Jonghun baru saja melintas tak jauh didepanku. Aku-pun mengejarnya.
"Jonghun-ah"panggilku saat jarak kami sudah dekat. Ia-pun menghentikan langkah, membalikkan tubuhnya kearahku, hanya diam dan menatapku.
"Ng…kau sudah makan?"aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sekarang aku adalah pacarnya, bukankah ini yang dilakukan setiap wanita saat bertemu kekasihnya? Ini waktunya makan siang, aku berhak memastikan-kan apa kekasihku ini sudah makan atau belum.
"Aku sedang tidak nafsu makan"jawab Jonghun singkat.
"Eh? Kenapa? Kau tidak sakit-kan?"tanyaku cemas.
"Tidak…sudahlah, aku mau kembali kekelas sekarang"ucap Jonghun yang langsung membalikkan kembali tubuhnya. Aku hanya terdiam, aku sudah tahu sikap ini. Walaupun kekasihku, dia tetap bersikap dingin, tapi kupikir ini memang sifatnya jadi aku tidak perlu khawatir dengan hal itu.
"Kazu!"aku langsung mengangkat kepalaku saat Jonghun memanggil namaku. Kulihat mata tajamnya menatapku kembali, namun dengan ekspresi yang berbeda sekarang.
"Ingat ucapanku, tidak ada laki-laki lain yang boleh mendekatimu"jelas Jonghun. Aku terdiam sejenak, tentu saja aku sangat mengingat kata-kata Ego dari sang Pangeran ini. Dan sekarang aku mengerti, siapa orang yang paling ia tidak suka berada didekatku.
"Ah..iya…aku & dia hanya teman Jonghun…"
"Teman atau bukan, aku tidak mau dia mendekatimu lagi!"aku tersentak. Ada apa lagi dengan si Pangeran Ego ini? Sepertinya moodnya sedang buruk.
"Jonghun! Tapi-…"Jonghun tidak mendengarkanku, ia melanjutkan langkahnya & meninggalkanku sendirian.
"Haaah…mungkin aku harus lebih terbiasa dengan ke-egoanya itu…"
.
***
Miki POV
.
Hari ini aku kembali ke UKS. Luka yang kudapat saat terjatuh ditebing waktu itu, Yeonhee onnie bilang ia ingin merawatnya. Onnie? Ya, dia mau aku memanggilnya seperti itu.
"Onnie, kenapa kau mau merawatku? Aku bisa lakukan sendiri dirumah…"gumamku yang hanya bisa duduk diam karena Yeonhee onnie sedang mengganti plesterku.
"Ya~ lukamu cukup lebar, kalau tidak ditangani ahlinya bisa infeksi, lagipula aku tidak yakin kau merawatnya dirumah…kau pasti membiarkannya"Yeonhee onnie menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku tajam. Aku hanya diam dan memainkan gerak-gerik bola mataku, yah memang benar apa yang dikatakannya.
"Lagipula ini gara-gara si bodoh Jaejin meninggalkanmu sendirian dihutan itu, ckck…biar aku yang merawatmu sebagai ganti dia meminta maaf"aku terdiam mendengar ucapan Yeonhee onnie barusan. Kali ini aku sudah terbiasa dengan bayang-bayang Jaejin niisan yang selalu mengikuti hidupnya, karena aku sudah tahu semuanya.
"Tapi Miki…aku penasaran…apa yang kau lakukan bersama Minari malam itu?"
DEG.
"O..onnie, kenapa malah menanyakan hal itu? Kami tidak melakukan apa-apa"gumamku sambil mengalihkan pandangan. Sebenarnya malam itu, saat Minhwan menyelamatkanku, kami tidak langsung kembali ketempat yang lain.
"Ah~~ ceritakan padaku~ apa yang terjadi~"Yeonhee onnie tersenyum nakal. Dia pasti sedang menggodaku sekarang, tentu saja dia tahu aku & Minhwan sudah seperti Tom & Jerry kalau bertemu. Bagaimana bisa kami melewati beberapa jam bersama dimalam hari. Sepertinya hal ini memang harus kuceritakan sebelum Yeonhee onnie berpikir macam-macam lagi. (=_=)
.
::Flash Back::
.
"Kita tidak bisa langsung kembali keatas, sejak tadi aku tidak melihat ada jalan untuk naik keatas"Minhwan menghela nafas panjang, membuatku memikirkan sesuatu.
"Minhwan, kalau tidak ada jalan…berarti kau juga terjatuh kesini?"tanyaku polos.
"Dasar bodoh! Bukan terjatuh, tapi aku memang sengaja menjatuhkan diri untuk-…ah, tidak! Itu semua tidak ada urusannya denganmu"Minhwan memajukan bibirnya sambil cemberut. Mendorong jidadku pelan dengan telunjuknya.
"He? Maksudnya…kau sengaja menjatuhkan diri kesini agar bisa menemukanku?"
"Sudah kubilang bukan urusanmu! Yang penting kau tidak sendirian lagi-kan sekarang, ck"Minhwan mengalihkan wajahnya dariku. Namun tak lama ia kembali menatapku.
"Sebaiknya kita cari tempat terang dulu, cuaca malam ini cerah kok, hanya saja kita berada ditempat yang salah…terlalu lebat pohon disini"jelas Minhwan sambil menengok sekeliling. Kami-pun berjalan mancari tempat terang, Minhwan membantu langkahku karena dia tahu kakiku terluka dan akhirnya sampailah kami dibantaran rumput yang disinari langsung oleh cahaya rembulan.
Kenapa aku merasa adegan ini seperti yang ada dikomik-komik?
Kenapa malah menemukan tempat romantis seperti ini?
Aku berkutat dengan pikiranku. Ini keajaiban atau memang ulah author yang ingin melebih-lebihkan suasana(?) (=_=) *plak, kembali ke cerita*
"Ah, sinyal Handphoneku sudah ada! Aku akan menelpon Jaejin hyung"Minhwan-pun langsung menelpon Jaejin niisan untuk meminta bantuan. Aku hanya duduk diam, kulirikkan mataku keatas.
"Wah…bintang…"aku tersenyum lebar saat melihat kumpulan bintang bertebaran dilangit menemani sang Rembulan. Cahaya yang melawan kekelaman langit gelap itu benar-benar indah. *sastra author kacau, jangan diketawain ya*
"Huh? Kau melihat apa?"bingung Minhwan yang sudah selesai menelpon Jaejin niisan. Aku tersenyum kearahnya dan menunjuk apa yang sedang kulihat. Minhwan ikut menolehkan kepalanya keatas.
"Ternyata disini masih terlihat jelas…kalau di Tokyo aku sudah jarang melihatnya. Ah…indah sekali-kan?"gumamku sambil tersenyum.
"Kau suka bintang?"tanya Minhwan. Aku-pun mengangguk. "Sangaaaat sukaaaa"senyumku lebar.
Kami-pun diam selama beberapa saat sambil melihat pemandangan indah itu.
"Kau itu penakut-kan? Kenapa memilih jalan sendiri? Jaejin hyung benar-benar meninggalkanmu?"tiba-tiba saja Minhwan bertanya padaku.
"Eh? Night Tour tadi? Bukan, Jaejin-niisan sudah menawarkan diri menemaniku tapi memang aku yang memutuskan untuk jalan sendiri…"jelasku pada Minhwan. Kulihat ia menatapku dalam.
"Kenapa?"tanyanya lagi.
"Hmm…karena aku tidak mau merepotkannya lagi. Dia sudah lari dari pekerjaannya karena menemaniku Night Tour, kalau aku tidak mendapatkan maskot Night Tour dan dianggap gagal, itu pasti akan sangat mengecewakan Jaejin-niisan…"jelasku sambil mengalihkan pandanganku kembali ke langit.
"Tapi pada akhirnya kau tetap gagal-kan, dan malah terjebak disini…ckck itu akibatnya kalau kau memaksakan diri"sindir Minhwan. Aku-pun menundukkan kepalaku dengan raut wajah cemberut. "Aku-kan hanya tidak mau mengecewakannya…"
Minhwan kembali terdiam beberapa saat.
"Kau benar-benar menyukainya ya?"aku tersentak dengan pertanyaannya barusan. Aku-pun langsung menolehkan kepalaku kearahnya."A..apa?"
"Kau menyukainya-kan? Jaejin hyung. Memaksakan diri sampai seperti ini, kau pasti sangat menyukainya"ucap Minhwan yang masih menatapku. Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya.
"Hah….sejak siang terus muram…cemburu dengan Yeonhee noona…kau itu gampang ditebak"ledek Minhwan.
"Ya! Kalau kau memang tahu, iya sudah! Tidak perlu meledekku-kan? Issh…memangnya kenapa dengan cemburu…"aku berdecak kesal dan kembali mengalihkan pandanganku darinya.
"Tenang saja…Jaejin hyung bukan pacar Yeonhee noona"
DEG.
"Eh? kau bilang apa?"aku kembali menoleh dan menatap Minhwan dengan mata terbelalak.
"Kau cemburu seperti orang bodoh. Yeonhee noona itu Noona-nya Jaejin hyung!"ucapan Minhwan semakin membuat mataku membulat sempurna.
"No…Noona? Maksudnya Kakak?"
"Iya bodoh! Makanya mereka sangat akrab karena mereka Kakak-beradik!"
"APA? Ta..tapi kata teman-teman mereka pacaran.."aku tersentak tak percaya. Minhwan-pun menghela nafas panjang & menatapku dengan wajah malas.
"Siapa yang lebih dekat dengan Jaejin hyung? Aku atau teman-temanmu? Aku sudah tahu ini sejak dulu, mereka memang tidak mempublikasikan hubungan kakak-beradik mereka"jelas Minhwan.
"Eh? kenapa?"bingungku sambil memiringkan kepala.
"Yaish..kau itu bodoh sekali sih! Untuk apa mempublikasikan hal itu? Kau pikir Jaejin hyung akan terang-terangan bilang hai, aku Lee Jaejin. Lee Yeonhee guru UKS adalah Noona-ku. Untuk apa dia melakukannya!"sekarang Minhwan malah memarahiku. Aku pikir dia memang benar.
"Iya-iya baik! Tidak usah bilang aku bodoh terus-kan~ issh~"gerutuku yang ikut kesal.
"Hah..kau itu memang seperti anak kecil. Sudah kubilang kau lebih bagus tersenyum, kau sudah tahu semuanya-kan, karena itu…jangan murung lagi…"
SIING.
Aku langsung terdiam. Tidak ada yang bicara setelah dia mengatakan hal itu. Aku-pun kembali menoleh kearahnya.
"Kau tidak suka aku murung?"tanyaku. Ekspresi diwajahnya langsung berubah, aku tidak tahu dia kenapa. Dia tidak menjawab, walaupun gelap, aku bisa melihat pipinya yang agak memerah saat aku menatapnya.
"Ya! Minhwan-ah!"aku-pun meraih tangannya untuk mendapat jawaban. Namun..
"Akh!"Minhwan langsung menarik tangannya sambil meringis kesakitan. Sebagian awan yang menutupi rembulan-pun menggeser, membuat cahaya semakin terang menyinari kami. Dan cahaya itu membuatku tahu semuanya.
"Haaaaah! Minhwan! Kau terluka?"panikku saat melihat banyak luka gores dilengannya. Minhwan hanya diam dan langsung menyembunyikan lengannya. Aku-pun menarik paksa lengannya, namun berusaha selembut mungkin agar tak membuatnya semakin meringis kesakitan.
"Ya! Kenapa kau tidak bilang kau terluka? Aku mana bisa lihat karena gelap! Ya ampun…banyak sekali…"aku semakin cemas saat melihat dengan jelas luka-lukanya.
"Biarkan…"ucap Minhwan, namun aku tidak perduli. "Ini tergores ranting-kan? Karena jatuh kesini-..ah bukan! ini karena kau menjatuhkan diri kesini!"
"Ck, kau pikir aku melakukannya untukmu? Sudah, biarkan saja"ucapnya lagi.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku merasa bersalah. Sini aku bersihkan dulu"aku kembali menarik tangannya dengan lembut. Minhwan hanya menggerutu kesal namun pada akhirnya ia hanya bisa menurut.
"Hhh...ternyata kau bisa juga merawat luka…"ucapnya pelan.
"Waktu kecil aku sering melakukannya untuk Tou-san…"jawabku singkat.
"Tou-san?"aku-pun tersadar bahwa aku baru saja memakai bahasa Jepang, jelas saja dia tidak mengerti.
"Maksudku…ng…appa?"kucoba mengingat panggilan untuk Ayah dalam bahasa Korea.
"Oh, memangnya appa-mu sering terluka?"tanyanya lagi. Aku-pun menganggukan kepalaku. "Appa-ku dulu suka menyelam, dia juga sering terluka karena tergores batu karang"
"Eh? Menyelam? Hebat…"ucapnya dengan nada kagum. Aku-pun menatapnya.
"Tapi sekarang sudah tidak, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya"senyumku setelah selesai membersihkan lukanya, walau hanya sekedar menyapu debu dengan sapu tanganku.
"Hmm…kau bisa merawat orang tapi tidak dengan dirimu sendiri…"gerutu Minhwan.
"Kalau itu aku hanya malas…jadi kubiarkan saja…"ucapku sambil beranjak dan berdiri. "Kapan Jaejin-niisan akan datang? Aku tidak mau tidur disini…"
"Heh…kau pikir aku mau tidur disini? Apalagi bersamamu, ck. Berdoa saja semoga ia cepat menemukan kita"lagi-lagi ia meledekku. Aku-pun mengerutkan alisku.
"Ya! Choi Minhwan! Kenapa kau senang sekali meledek-…aaa!"aku tersandung batu saat membalikkan tubuhku dengan cepat, dan Minhwan…
BRUG.
"A…aaah…"aku meringis saat tubuhku terjatuh. Aku mengangkat kepalaku perlahan.
"Hah!"aku terkejut saat melihat wajah Minhwan tepat dihadapanku. Aku baru sadar kalau aku jatuh menimpa tubuhnya. Ia tak bergeming, hanya diam menatap wajahku.
"Mi…Minhwan…"entah kenapa aku merasa tubuhku tak bisa kugerakkan. Posisi ini membuatku seolah terkunci. Minhwan menatapku dalam dengan kedua mata sipitnya.
"Miki…"bisa kurasakan debaran jantung kami berdua.
"Kalian….sedang apa?"tiba-tiba suara seseorang mengagetkan kami. Serentak kami-pun menoleh kearah sumber suara.
"Jaejin-niisan?"
"Hyu…Hyung?"
Jaejin-niisan menatap kami berdua dengan mata terbelalak. Aku-pun langsung menjauhkan tubuhku dari Minhwan.
"Ash..tanganku! ck, bisakah kau pelan sedikit?"Minhwan-pun ikut bangkit dan kembali memarahiku. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
"Ah! Kalian berdua terluka?"panik Jaejin-niisan yang sudah menghampiri kami berdua.
"Tidak apa-apa kok, lebih baik cepat bawa kami keluar dari sini"ucap Minhwan yang sudah berdiri disamping Jaejin-niisan. Kami-pun kembali ketempat yang lainnya dengan selamat.
.
::Flash Back END::
.
***
Author POV
.
"Baiklah, kalau begitu nanti sore aku akan menunggumu digerbang"senyum Wonbin saat permintaannya untuk kencan diterima oleh Kira.
"Tapi kenapa kau ingin kencan sore hari, sepulang sekolah?"bingung Kira. Wonbin-pun mengusap-usap rambut ikal Kira.
"Karena aku tidak sabar menunggu sampai hari Minggu"senyumnya jahil. Kira-pun langsung mengerutkan alisnya & menepis tangan Wonbin.
"Dasar iseng, cepat kembali kekelasmu"gerutu Kira. Wonbin-pun hanya membalas dengan senyuman & segera melangkahkan kakinya menuju kelas.
Hah…sikapnya tidak berubah, walaupun status kami sudah berubah sekarang. Pikir Kira yang ikut membalikkan badannya menuju kelas. Namun langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan seseorang dilorong sepi itu.
"Hongki…"gumam Kira pelan walaupun ia agak terkejut melihat Hongki berada didepannya. Hongki-pun tak kalah terkejut, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak menatap Kira.
"Ah, ternyata kau masuk? Soalnya aku dengar kau tidak masuk hari ini…"ucap Kira dengan senyum tipis, tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ada rasa bersalah dihatinya karena ia merasa sudah meninggalkan Hongki saat Night Tour.
"Kau tidak suka aku disini?"sinis Hongki.
"Eh?"kaget Kira. Tanpa bicara lagi, Hongki langsung berjalan melewati Kira.
"Ah, tu-tunggu sebentar…"halang Kira yang membuat Hongki menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan tubuhnya kearah Kira.
"Malam itu apa kau sudah pergi duluan? Aku tidak menemukanmu diujung jalan…maaf kalau aku lama…"ucap Kira tanpa memberitahukan alasan sebenarnya. Hongki menggigit bibirnya, nafasnya terasa berat. Ia berusaha untuk menghela nafas panjang untuk menahan kecewa & sakit hatinya. Ia memutar bola matanya, sejujurnya perasaannya sangat kacau sekarang.
"Hongki…"panggil Kira lagi. Hongki-pun membalikkan badannya. Matanya langsung bertemu pandang dengan kalung pemberian Wonbin yang terpajang rapi dileher Kira. Namun ia juga melihat couple necklace-nya terlilit disana.
"Aku tahu semuanya, kau bersama dengannya-kan?"ucap Hongki yang masih mengatur nafas karena jantungnya berdegup kencang.
"E-eh? kau…melihatnya…?"kaget Kira.
"Kau menyukainya?"tanya Hongki tegas. Kira-pun semakin tersentak. "I-iya…"
DEG.
Kali ini Hongki yang semakin tercekat. Walaupun ia sudah tahu, namun mendengarnya sekali lagi tetap saja membuatnya hancur. Untuk apa aku menanyakannya?. Runtuk Hongki dalam hati.
"Kalau begitu lepaskan kalung itu"Hongki mengarahkan telunjuknya kearah leher Kira.
"Eh? ka-kalung?"Kira-pun memeggang lehernya.
"Lepaskan kalung pemberianku. Kau sudah punya yang lebih bagus-kan, untuk apa kalung murahan seperti itu masih kau pakai?"ucap Hongki tajam sambil menatap Kira.
"Hongki? Apa maksudmu?"bingung Kira.
"Untuk apa kau memakai 2 kalung seperti itu? Toh, yang terlihat hanya kalung pemberiannya"nada bicara Hongki mulai bergetar.
"Bukankah kau bilang aku harus selalu memakainya? Ini couple necklace-kan?"
"Sekarang ini siapa yang jadi couple-mu? Kau sadar hal itu-kan!"bentak Hongki tiba-tiba. Kira-pun langsung terdiam kaku. Hongki juga terkejut dengan sikapnya, sepertinya ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia-pun menarik paksa couple necklace yang terlilit dilehernya hingga mengeluarkan darah segar disana.
"Hongki? lehermu-..!"panik Kira yang bersiap berlari mendekati Hongki, namun langkahnya terhenti saat Hongki membuang benda itu begitu saja dilantai.
"Lihat? Aku sudah membuangnya? Jadi mulai sekarang tidak ada lagi couple necklace!"ucap Hongki yang langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Kira yang masih terdiam kaku. Ia-pun membungkukan badannya dan mengambil kalung milik Hongki.
"Sebenarnya ada apa dengannya?"
Disisi lain, Wonbin yang ternyata belum kembali kekelas hanya bisa diam dibalik tembok yang menutupi dirinya. Ia mendengar semuanya, dan hanya bisa menghela nafas panjang dengan raut wajah tidak mengenakkan.
Hongki terus berjalan melewati lorong yang sudah kosong itu. Murid-murid lainnya sudah memulai pelajaran namun ia tidak perduli.
Untuk apa aku datang kesini?
Untuk apa aku masih berharap bertemu dengannya?
Kau sudah rasakan sendiri-kan Hongki! Kau hanya akan disakiti olehnya!
Tanpa ia sadari, air mata mulai berlinang melewati pipi mulusnya. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya. Berharap untuk terus menjauh tanpa harus melihat kebelakang lagi.
Lupakan….semuanya…
.
To Be Continued…
Now Playing : FT Island – You Don't Know My Feeling
.
Notes : masih kebanyakan yak? Mianhae…aku rada bingung ma adegan setelah Night Tour, jadi maaf klo ada adegan aneh atau berkesan "seadanya". Sepertinya lagi buta ide ini. Yang jelas ni FF pasti masih banyak kekurangannya-kan (=_=)
Arraso, Jeongmal Gomawo untuk yang udah baca (^_^)
Sampai jumpa di next chapter…
*Big Hug For You
