Tanpa bicara lebih banyak lagi Lay membuka pintu ruangan bertuliskan vvip.6 itu dan langsung masuk kedalam diikuti oleh Junmyeon. Begitu masuk, Junmyeon melihat seseorang yang terbaring sendirian disebuah ranjang –yang Junmyeon pikir terlihat terlalu nyaman untuk ukuran ranjang rumah sakit- dengan berbagai alat medis melekat ditubuhnya yang terlihat begitu ringkih. Junmyeon memperhatikan lengan pasien tesebut, terlihat kurus dan sangat pucat. Lalu pandangannya berangsur-angsur menelusuri tubuh pasien itu hingga menatap wajahnya. Junmyeon terpaku sesaat ketika melihat wajah pucat dengan pipi yang cekung itu. Pasien itu bahkan tidak terlihat seperti orang asing untuk Junmyeon. Tanpa sadar ia merasa darahnya berdesir lembut diiringi tempo detak jantungnya yang secara konstan mulai meningkat.

"orang itu...

.

.

.

.

.

.

Title : ASTRAY

Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)

Rate : T (karena masih gak ada Baekhyun #pfftt)

Main Cast :

Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.

Desclaimer :

Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.

Warning :

Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.

... bacanya pelan-pelan ya, hihihi ...

.

.

.

Chapter 6

.

.

.

"orang itu... kenapa dia mirip sekali denganmu?" tanya Junmyeon keheranan sambil bolak-balik melihat kearah Lay-pasien-Lay-pasien-Lay dan seterusnya.

Lay menatap Junmyeon jengah, "sampai lehermu putus pun wajah kami tidak akan berubah, jangan berlebihan seperti itu."

Dan berhasil, kini kepala Junmyeon hanya fokus menatap Lay. "kalau begitu jelaskan!"

"aku dan dia sudah bersahabat sejak kami SMA, aku juga heran kenapa dia bisa begitu mirip denganku dan parahnya lagi kami selalu satu kelas. Kuliah pun kami memutuskan untuk masuk di universitas yang sama meskipun dengan jurusan yang berbeda, aku di bidang bisnis sedangkan dia dibidang seni."

"tunggu dulu." Junmyeon tiba-tiba menyela dan Lay terpaksa berhenti. "kau mengambil jurusan dibidang bisnis?, maaf kalau aku kurang ajar tapi terlalu menggelitik jika kau kuliah di jurusan seprestisius itu tapi sekarang kau hanya bekerja sebagai pelayan restoran."

Lay tersenyum penuh arti yang tidak dipahami Junmyeon. "jangan menyimpulkan sepihak sesuatu yang bahkan tidak kau ketahui." ,Junmyeon memandang lekat Lay meminta penjelasan lebih perihal kata-katanya barusan.

"sebenarnya itu restoran milikku sendiri, aku foundernya."

Junmyeon mengangkat satu alisnya dengan dramatis. Dan Lay menyadari maksud dari gestur yang dibuat Junmyeon. "Kau pikir seorang pelayan biasa bisa bebas mengobrol dengan customer di jam kerja tanpa meminta ijin dan tidak ada yang menegurnya?" lanjut Lay.

Benar juga, junmyeon baru ingat kalau yang dia tau kan saat itu posisi Lay hanya seorang pelayan dan dia tidak curiga sama sekali saat Lay duduk menemaninya bicara tanpa takut ada yang menegurnya, jadi itu alasannya.

"lalu kenapa harus ikut jadi pelayan?"

"pebisnis yang baik adalah seseorang yang mampu mengenali customernya dengan baik dan memberikan pelayanan terbaik. Selain itu aku juga bisa dekat sekaligus mengawasi pegawaiku secara langsung, mereka akan merasa nyaman saat aku menganggap mereka sebagai rekan, bukan bawahan. Itu yang membuat restoranku berkembang baik meski hanya buka di jam sarapan." Lanjut Lay dengan sorot mata membanggakan dan Junmyeon sama sekali tidak menganggap itu sebagai sebuah kesombongan, malah dia semakin mengagumi sosok sempurna dihadapannya ini.

"Aku ingat betul saat kuliah kami sering bertukar tempat." Setelah membiarkan Junmyeon berkutat sebentar dengan pikirannya sendiri, Lay kembali melanjutkan ceritanya tentang sahabatnya yang terbaring lemah itu. "Aku jadi dia dan dia jadi aku. Pernah suatu ketika aku berada di toilet tiba-tiba seseorang masuk dan setelah melihatku dia malah lari tunggang langgang." Lay berhenti sejenak sambil sedikit tertawa mengingat cerita masa lalunya.

"kenapa begitu?" Junmyeon sudah tidak sabar tapi Lay masih cengengesan.

"aku pikir orang itu mengira aku adalah hantu, karena ternyata setelah orang itu keluar sahabatku ini masuk dan menceritakan kalau bertemu orang itu di pintu depan toilet sebelumnya. Kurasa saat itu dia tidak tau kalau wajah kami sama." Dan keduanyapun tertawa ringan.

"sejak SMA kami dijuluki doppelganger. Tidak ada ikatan darah tapi begitu mirip." Lanjut Lay

"aku pernah dengar mitos kalau kita sebenarnya punya tujuh kembaran didunia ini. Entah benar atau tidak, tapi kurasa kalian bisa menjadi bukti." Timpal Junmyeon dan Lay hanya mengangguk dengan wajah berbinar. "ngomong-ngomong kau belum memperkenalkan kami."

"aah, kau benar. Aku sampai lupa kan. Junmyeon kenalkan ini sahabatku,Yixing. Dan Yixing, ini temanku yang mungkin akan menjadi temanmu juga." Lay berbicara pada Yixing dengan lembut sambil menatap Junmyeon di kata terakhirnya, dan dibalas senyum lembut oleh Junmyeon. "namanya Junmyeon, kuharap kau senang bertemu dengan teman baru lagi." Tatapan Lay kembali sendu sambil menggenggam tangan dingin sahabatnya. Ditengah keheningan itu, Lay merasa ponselnya bergetar disaku celananya. Tanpa harus ijin keluar, Lay mengangkat panggilannya dengan suara rendah.

"halo."

...

"iya aku sedang di Gangnam sekarang."

...

"menjenguk Yixing."

...

"tidak, kali ini aku bersama seorang teman baru. Kau mau kesini juga?"

...

"baiklah. Hati-hati dijalan ya." Lay menyimpan ponselnya kembali.

"siapa?" Junmyeon kepo

"kalau dia sudah datang nanti ku kenalkan padamu. Kalau aku jelaskan sekarang kau juga pasti tidak mengerti."

Junmyeon hanya mengangguk. "Lay..."

"hmm..."

"kau tidak mau cerita lebih banyak tentang sahabatmu ini?"

"memangnya kau mau tau?"

Lagi-lagi Junmyeon hanya mengangguk. Lay berdiri dari posisi duduknya di ranjang Yixing kemudian berjalan kesisi lain ruangan dimana terdapat sofa nyaman dan meja pendek disana, diikuti oleh Junmyeon. Lay duduk dan mengambil sebuah benda lebar seperti tablet pc yang sedari tadi terletak diatas meja.

"kau ingin pesan minum atau makanan mungkin, sebelum aku mulai bercerita?" tanya Lay sambil tetap mengoprasikan benda tersebut.

"terserah. Aku ikut kau saja."

"ini. Klik apapun yang kau suka." Lay menyodorkan tablet pc tipis itu untuk Junmyeon.

"apa ini?"

"daftar menu. Kau tinggal klik gambarnya, tulis jumlah yang ingin kau pesan dan klik order. Mereka akan segera mengirimnya kemari."

Junmyeon menampilkan wajah cengo'nya. "dengan apa?, e-mail atau bluetooth?"

Lay melontarkan tawanya. "lalu kau pikir kita akan makan makanan hologram seperti plankton di kartun spongebob?"

Junmyeon tak menanggapi lagi dan memilih menu sambil masih berdecak kagum dalam hati. Sekali lagi dia berpikir kalau ini bukan rumah sakit tapi gedung penelitian NASA. Oke... dia berlebihan.

.

Setelah selesai berkutat dengan daftar menu tercanggih yang pernah dia temui dan pesanan keduanya telah sampai dihadapannya dengan tampilan penyajian khas hotel bintang lima, lay bersiap memulai ceritanya.

"kau ingin aku mulai cerita darimana?"

"kau belum cerita kenapa Yixing sampai harus mengonsumsi antihistamin dan benzodiazepin."

Lay meminum ice coffe blendednya sejenak untuk membasahi tenggorokannya. "Yixing dulunya adalah seorang penari profesional. Dia sering terlibat dalam sebuah pertunjukan besar di Korea dan juga sebagai salah satu guru di institut seni terbaik di Korea, setauku dia juga direkrut menjadi salah satu komposer disebuah agensi. Mulai dari situ aku tau kalau Yixing rutin mengonsumsi obat-obatan itu untuk memperbaiki jam tidurnya dan mengurangi kecemasannya diatas panggung. Pekerjaan menuntutnya untuk selalu menguras ide dan fisiknya yang prima. Sampai suatu ketika dia mengalami cidera serius karena terjatuh dari formasi saat ia berlatih menari untuk sebuah pertunjukan akbar, dokter bilang kalau Yixing harus istirahat total selama beberapa bulan dan memaksanya untuk tidak ikut dalam pertunjukan tersebut."

Junmyeon mendengar nada suara Lay berubah sedikit serak. Sedangkan Lay sendiri memang berusaha menahan gejolak perasaan sakit yang memenuhi dadanya. Menceritakan kembali keadaan Yixing sama seperti dia memutar film dan menyaksikan lagi bagaimana sahabatnya itu berurai air mata mendapati dirinya tak bisa tampil dipanggung yang dia impi-impikan.

"meskipun cidera itu karena sebuah kecelakaan yang biasa terjadi, namun hal itu menjadi sebuah penyesalan terbesar untuk Yixing, aku bahkan tidak mengerti seberapa penting pertunjukan itu untuknya. Ditambah lagi pekerjaannya sebagai komposer yang semakin membebaninya. Dengan keadaan pikiran yang kacau begitu Yixing tak mungkin dengan leluasa mencari ide, kabar terakhir yang aku dengar Yixing akan segera dikeluarkan dari agensi tersebut. Itu titik terendah dalam hidup Yixing dimana dunia yang ia cintai berantakan begitu saja karena sebuah cidera. Yixing berubah setelah itu, dia jadi mudah tertekan dan depresi. Ibunya bahkan bercerita padaku kalau Yixing sering tiba-tiba menangis dan kehilangan nafsu makan. Mungkin sejak saat itu tanpa sepengetahuan siapapun Yixing lebih sering mengonsumsi antihistamin dan benzodiazepinnya dengan dosis tinggi untuk mengendalikan emosinya."

Sreeeek...

Baru saja Junmyeon akan membuka mulut tiba-tiba ada yang menggeser pintu ruangan Yixing –ruang rawat di lantai ini memang menggunakan sliding door- dan masuklah seorang pria jangkung dengan setelan kemeja dan celana bahannya.

"kau..."

"hai sayang."

Junmyeon menoleh kembali kearah Lay secara kilat. Baru saja ia ingin mengatakan siapa pria yang baru saja masuk itu dan demi wajah kembar Lay dan Yixing, Junmyeon tidak salah dengar kan Lay tadi memanggil pria itu dengan sebutan 'sayang'?

"hai. Kau sudah lama disini?" tanya pria itu pada Lay.

"kau telfon tadi aku baru sampai disini, jadi tidak begitu lama." Jawab Lay. Junmyeon yang seketika envy dengan kedekatan yang ditunjukkan Lay dengan pria itu pun angkat bicara.

"kau... psikiatri di Sun Medical Center kan?, dokter Oh Sehun?"

"iya benar. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" orang yang dimaksud junmyeon, yang bernama Oh Sehun itu bertanya balik.

"aku Kim Junmyeon, aku pernah berkonsultasi denganmu beberapa hari yang lalu. Aku adalah teman dari pacarnya dokter Chanyeol. Junmyeon menggigit lidahnya, entah kenapa menyebut Chanyeol sebagai dokter membuat lidahnya kebas.

"ooh, iya iya aku ingat. Setelah hari itu Chanyeol sedikit bercerita tentang dirimu padaku."

"kalian sudah saling kenal?" tanya Lay ikut nimbrung.

"lebih tepatnya seperti hubungan klien dan konsultan. Kau sendiri, tidak pernah cerita punya teman namanya Junmyeon?" Jawab dan tanya Sehun.

'heh, memang kau siapa harus tau semua teman Lay.' Batin Junmyeon masih berpikir positif perihal panggilan sayang Lay untuk Sehun. Junmyeon pikir mungkin Sehun salah satu kerabat dekat Lay.

"oh begitu. Aku dengan Junmyeon tidak sengaja bertemu di restoranku, dia bercerita sedang mengalami masalah dengan tempat tinggal barunya saat itu." Jawab Lay dan sehun hanya mengangguk paham sebagai respon. "oh iya.. nah Junmyeon, kau tadi bertanya kan siapa yang menelfonku?, dan inilah orang yang menelfonku tadi. Dia Oh Sehun, pacarku."

Krakk... Junmyeon membeku

~aku sakiiit... aku sakit hati... Kau terbangkanku ke awan lalu jatuhkan kedasar jurang...~

Kalian dengar bunyi retakan?, dengar?, ya.. itu suara hati junmyeon yang mendadak 'bagai lapisan tipis air yang beku, sentuhan lembut kan hancurkan akuuu~'.

'pacar dia bilang?' . kalian pengen tau perasaan Junmyeon sekarang?, rasanya tuh... bayangin kalian terbang tinggi sampai bisa pegang awan-awan lembut tapi tiba-tiba brraakk... jatuh tanpa ada halangan dan mendaratnya tengkurep. Bayangin seberapa hancur isi dada Junmyeon, bahkan sampai berkeping-keping.

~Da Junmyeon mah apah atuh, hanya butiran debu.

"pacar ya?" sorot mata Junmyeon terlihat datar, tapi dengar baik-baik kalau suara junmyeon berubah bergetar. Junmyeon tuh ga bisa diginiin.

"Myeon, kau baik-baik saja?" Lay jadi khawatir karena mendadak Junmyeon terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya.

"aah, aku baik-baik saja. Bisa kita duduk saja?, kakiku pegal." Alibi, Junmyeon mah sebenarnya lemas tidak kuat menerima kenyataan. Kenyataan bahwa ternyata bukan orang tua Lay yang menjadi calon mertuanya kelak.

"kau juga mengenal Yixing?" tanya Sehun pada Junmyeon.

"tidak. Aku hanya ikut Lay saja." Jawab Junmyeon sekenanya. "kau bisa lanjutkan ceritamu Lay!"

"cerita apa?" Sehun yang baru datang merasa ingin tau apa yang sebelumnya dua orang itu bicarakan.

"tentang Yixing. Junmyeon ingin tau bagaimana awal Yixing bisa seperti ini." Jawab Lay

"hmm, kalau begitu lanjutkan saja." Sehun memberi ijin.

"sampai dimana aku tadi?"

"sampai Yixing harus mengonsumsi obat-obatan itu dengan dosis tinggi." Jawab Junmyeon

"aah, ya. Sampai suatu ketika aku mendapat kabar dari ibunya lewat sms kalau Yixing dibawa pindah keluarganya untuk mendapatkan perawatan serius di gangnam. Saat keesokan harinya aku menuju alamat yang dikirim ibu Yixing ternyata dia sudah dirawat disini. Ibunya bercerita bahwa tengah malam sebelumnya Yixing mengalami kejang dengan mulut berbusa, tadinya dia dibawa ke rumah sakit terdekat tapi kondisinya sudah tergolong berbahaya akhirnya malam itu juga keluarga Yixing memindahkannya ke rumah sakit ini. Dan beberapa hari setelahnya, keluarga Yixing menjual rumahnya yang berada di Seocho lewat Bank. Mereka pindah tanpa sepengetahuan tetangga-tetangga disana karena Yixing termasuk orang tersohor jadi keluarganya tak ingin Yixing menjadi sorotan karena insiden ini, tapi kabar terakhir yang kudengar rumah itu sudah dibeli."

Junmyeon terdiam sambil mencerna cerita Lay, dia merasa ada kemiripan dibeberapa cerita yang Lay katakan tadi dengan apa yang dialaminya.

"memangnya Yixing tinggal dimana?"

"kawasan perumahan dibelakang restoranku. Tepatnya di perumahan Jamwon jalan Guri rumah nomor 1.10"

Punggung Junmyeon dingin seketika. "tapi...i..itu rumahku."

"benarkah? Jadi kau yang membelinya?"

"iya. Waktu itu aku bilang padamu kan kalau aku baru pindah ke Seocho kurang lebih seminggu, dirumah itulah aku tinggal. Perumahan Jamwon jalan Guri nomor 1.10" jawab Junmyeon berapi-api.

"lalu kenapa kau sampai seheboh itu?" Sehun menimpali dengan keheranan melihat Junmyeon mengatakan hal tersebut seperti baru menemukan harta karun.

Junmyeon melirik Lay dan Sehun bergantian dengan raut bingung, "aku, harus mulai darimana ya?"

Lay dan Sehun saling bertatap dan mengerutkan dahi. "katakan saja apapun yang ada di pikiranmu saat ini!" ucap Lay memberi saran.

"temanmu... Temanmu itu...dia masih hidup."

Lay menghela nafas lemah, "dia memang masih hidup. Dia hanya mengalami koma. Meskipun sudah setahun dia belum sadar."

"TIDAK SALAH LAGI.."

"ssssstttt..." Lay dan Sehun kompak memperingatkan dan seketika Junmyeon langsung menutup mulutnya yang tidak bisa dikontrol barusan. "ini rumah sakit, bodoh. Kau bisa diusir jika membuat kegaduhan." Lanjut Lay.

"maaf...maaf... aku kelepasan. Maksudku begini, Yixing...kenapa dia tidak juga sadar selama ini, karena saat ini dia berada di dunia astray."

"astray? Di dunia medis tidak ada istilah seperti itu."

"ini bukan ranah medis, dokter Sehun. Jadi tolong dengarkan penjelasanku dan pahami hal ini pelan-pelan."

Setelah memastikan dua sejoli dihadapannya ini siap mendengarkan maka Junmyeon juga bersiap menjelaskan.

"astray, adalah tempat dimana orang yang masih hidup namun jiwanya terperangkap dialam lain. Aku sudah menemui paranormal yang kau sarankan waktu itu Lay dan kemarin aku bertemu dengannya dan dia datang kerumahku untuk melihat secara langsung apa yang menjadi penyebab gangguan malamku. Dan Yixing lah yang dia temukan disana, disudut kamar yang aku tempati sekarang ini."

"apa kau menempati kamar depan?" tanya Lay dan Junmyeon mengangguk. "itu kamar Yixing dulunya. Apa saja yang paranormal Min Seok katakan?"

"dia bilang astray itu laki-laki dan terlihat seumuranku. Dia telah tinggal disana sejak kecil, dia tak tau awalnya bagaimana tapi saat dia membuka mata dia terkejut kenapa tiba-tiba aku berada dirumahnya. Masalah sleep paralysis yang pernah aku ceritakan padamu juga, ternyata saat aku tidur jiwa kami sebenarnya saling bertemu. Astray itu atau Yixing bisa melihatku namun karena aku tidak tau wujud apa itu jadinya aku hanya melihatnya sebagai sebuah bayangan." Junmyeon mulai melihat reaksi yang tak langsung ditunjukkan oleh Lay dengan binar matanya yang terlihat sedih, bahagia atau terharu bercampur menjadi satu.

"namun yang lebih penting. Aku bisa membantu Yixing kembali." Lanjut Junmyeon.

Mendengar kata Yixing kembali, Lay langsung mengangkat wajahnya dan menatap tepat kearah wajah Junmyeon.

"sungguh?, kau bisa melakukannya?" tanya Lay dengan suaranya yang berubah parau seiring dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"hmm. Min Seok bilang Yixing hanya bisa mendengar suaraku karena aku adalah orang pertama dan satu-satunya yang dia tau setelah dia terbangun sebagai astray. Mungkin kau atau keluarganya juga sudah berusaha untuk membangunkan Yixing, tapi sayangnya Yixing melupakan itu semua saat dia hidup dengan jiwa barunya."

"maksudmu kau bisa membangunkannya?" tanya Sehun yang sebenarnya sejak awal mendengar kata 'astray' sudah diliputi penasaran.

"ya... tapi aku juga belum tau bagaimana caranya. Min Seok bilang langkah pertama aku harus tau dulu siapa astray itu lalu aku harus menghubungi dia, baru setelah itu dia akan memberitahuku bagaimana caranya."

"kalau begitu tunggu apa lagi, cepat beritahu paranormal Min Seok kalau kau sudah menemukan siapa astray itu dan bilang padanya untuk segera melakukan apapun agar Yixing bisa kembali. Cepatlah Junmyeon!" kata Lay dengan intonasi menggebu-gebu.

"sayang... kau tenanglah dulu. Hal ini mungkin tidak akan semudah itu. Bisa saja mereka butuh persiapan dulu sebelum melakukannya. Mungkin besok saja bisa kan, Junmyeon?" tanya Sehun.

Junmyeon sebenarnya masih panas hati mengetahui kalau Lay sudah punya pacar dan makin emosi jiwa saat seenak udelnya si Oh Sehun, Ph.D itu memanggil Lay dengan panggilan 'sayang' dan merangkul Lay didepan wajahnya tanpa beban. Hidup memang tak semulus paha member SNSD.

"Junmyeon, kau melamun?" tanya Lay

"tidak." Jawab Junmyeon lempeng.

"kenapa diam?"

"memang aku harus jawab apa?"

Keadaan berubah hening dengan wajah Junmyeon yang tiba-tiba berubah anyep.

"ada yang salah dengan perkataanku?" –batin Sehun.

"syukurlah kau tidak terlambat." Lay mencairkan suasana dengan perkataan lirihnya.

"terlambat untuk?"

"terlambat untuk memberitahu bahwa Yixing bisa kembali. Kau tahu, sebenarnya sudah sejak lama keluarga Yixing ingin menyerah dengan keadaan. Mereka ingin merelakan Yixing karena mereka pikir Yixing juga akan tersiksa melihat dirinya tak bisa pergi kemanapun. Tapi aku selalu mencegahnya. Entahlah, setiap kali aku juga ingin menyerah namun disaat yang sama aku juga yakin kalau Yixing pasti bisa kembali. Dan sekarang apa yang kuyakini mendapat jawaban. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika saja saat kau ke restoranku itu aku mengabaikanmu. Mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi atau mungkin lebih buruk lagi aku akan kehilangan Yixing. Hiks..." Lay mencurahkan perasaan bahagianya meski diiringi tangis. "meskipun kami bukan saudara, tapi kami punya hubungan yang sangat dekat. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi keluargaku, aku menganggapnya seolah-olah dia lahir dari rahim ibuku..hiks... terimakasih Junmyeon, terimakasih karena sudah mau bertemu denganku. Kau adalah orang yang dikirim Tuhan untukku dan Yixing."

Kali ini Sehun yang envy. 'kalau Junmyeon adalah orang yang dikirim Tuhan untukmu, lalu aku ini apa?'

"kau tenang saja. Aku dan Min Seok pasti akan berusaha sekuat mungkin agar Yixing bisa kembali." Tenang junmyeon melihat Lay yang sudah tak bisa lagi membendung air matanya. "baiklah kalau begitu, aku akan pulang sekarang agar aku bisa segera memberi kabar pada Min Seok."

"kenapa buru-buru sekali?, kau tidak ingin berkenalan dengan Yixing atau bicara sebentar dengannya?"

Junmyeon berhenti sejenak memikirkan tawaran Sehun. Detik berikutnya Junmyeon mengangguk dan beranjak menuju ranjang Yixing. Diperhatikannya wajah Yixing lekat-lekat, mungkin kalau tidak sakit begini wajah Yixing pasti se-manis Lay. Junmyeon mengarahkan pandangannya pada jemari Yixing yang dilingkari selang infus. Perlahan Junmyeon meraih jemari dingin tersebut dan menggenggamnya lembut bermaksud menyalurkan kehangatan tubuhnya pada Yixing, lalu ia merunduk untuk mendekatkan wajahnya kesisi wajah Yixing.

"Yixing... kau dengar aku?. Aku Junmyeon, orang yang seenaknya menempati rumahmu tanpa kau ketahui. Aku kemari bersama Lay, sahabatmu. Apa kau merindukannya?, dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu denganmu. Apa sekarang kau bingung dengan apa yang terjadi padamu?. Jangan khawatir aku berjanji, aku akan segera mempertemukan kalian berdua. Mungkin saat kau tersadar nantinya kau akan melupakan banyak hal, termasuk aku yang pernah kau jumpai dalam mimpimu. Tapi kumohon, jangan lupakan Lay. Seberapa banyak pun hal yang kau lupakan, berjanjilah untuk tidak melupakan Lay sedikitpun. Dia sangat menyayangimu. Kau paham Yixing?." Junmyeon menghela nafasnya lembut. Dia saja yang baru melihat Yixing sekali dengan keadaan seperti ini membuat hatinya turut sakit, bagaimana Lay yang sudah sangat dekat dengan Yixing dan menunggu selama itu. "aku pamit pulang, Xing. Bertahanlah sebentar lagi dan kau akan kembali hidup normal. Sampai jumpa." Dan entah makhluk apa yang merasuki Junmyeon namun seperti sebuah naluri Junmyeon mengecup lembut kening Yixing lantas menatapnya sejenak sebelum dia melepaskan genggaman tangannya. Bahkan sepertinya Junmyeon lupa kalau Lay dan Sehun memperhatikannya sejak tadi.

"aku akan pulang sekarang. Lay, tolong kau jaga Yixing baik-baik. Apapun yang terjadi biarkan Yixing seperti ini sampai aku memberikan kabar selanjutnya."

Lay menjawabnya dengan gumaman disertai anggukan. "ini Junmyeon, hubungi aku saat kau siap untuk membawa Yixing kembali." Lanjutnya sembari menghampiri Junmyeon dan memberikan kartu namanya.

Junmyeon menerimanya dan membungkuk singkat pada Lay dan Sehun. "aku permisi."

.

.

.

.

.

.

.

.

Epilog :

Seorang laki-laki pucat itu terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Dia merasa bingung dan sama sekali tidak tau apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sekarang ini.

"Yixing... kau dengar aku?"

Laki-laki tersebut mendongak merasa ada yang memanggil namanya. Namun ia tetap bingung karena dia hanya sendiri disini, lalu siapa yang memanggil...

"Aku Junmyeon, orang yang seenaknya menempati rumahmu tanpa kau ketahui."

Laki-laki itu masih menerawang keatas sambil tetap mendengarkan suara tersebut.

" Aku kemari bersama Lay, sahabatmu. Apa kau merindukannya?, dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu denganmu. Apa sekarang kau bingung dengan apa yang terjadi padamu?. Jangan khawatir aku berjanji, aku akan segera mempertemukan kalian berdua. Mungkin saat kau tersadar nantinya kau akan melupakan banyak hal, termasuk aku yang pernah kau jumpai dalam mimpimu. Tapi kumohon, jangan lupakan Lay. Seberapa banyak pun hal yang kau lupakan, berjanjilah untuk tidak melupakan Lay sedikitpun. Dia sangat menyayangimu. Kau paham Yixing?."

Suara itu tiba-tiba menghilang dan dia mengedarkan kembali pandangannya, lalu berhenti saat suara itu terdengar kembali olehnya.

"aku pamit pulang, Xing. Bertahanlah sebentar lagi dan kau akan kembali hidup normal. Sampai jumpa." Laki-laki itu mendadak kebingungan kembali, 'pulang? ,tunggu aku tak ingin sendirian lagi disini...' ucapnya.

Namun entah kenapa setelah itu perasaannya menjadi damai dan hangat, seperti sudah tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Dia masih tidak mengerti suara siapa itu dan apa maksudnya. Tapi dari semua yang dia dengar, dia hanya ingat satu kata

'Junmyeon...'

Epilog end.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued

Yoooo... ketemu lagi dengan saya. Maap ya updatenya lama, dalam kasus kali ini tugas-tugas masih menjadi tersangka utamanya.

Tadaaaa... pertanyaannya sudah terjawab disini kan tentang siapa "orang itu..." , siapa teman Lay yang koma dan yang terpenting siapa astray nya yeeey #krikk..krikk.. ,Lay dan Yixing emang punya wajah identik tapi nggak punya hubungan darah sama sekali. Kembar bukan berarti harus saudara kan?. Pernah nonton drakor 'Mask'? ,inspirasi karakter doppelganger Lay dan Yixing saya dapet dari situ. Okelah... semoga chapter ini gak mengecewakan yaah. Dan untuk Thanks to kayaknya saya rapel di chap end aja ga apa-apa ya, tapi tetep saya baca semua kok review-review kalian bahkan sampe berulang-ulang :D. Baiklah kalau begitu tugas sudah mendesah-desah ingin dijamah ini #bhakk. Last but not Least, Happy Reading and Review jutheyooo...