Entah makhluk apa yang merasuki Junmyeon namun seperti sebuah naluri Junmyeon mengecup lembut kening Yixing lantas menatapnya sejenak sebelum dia melepaskan genggaman tangannya. Bahkan sepertinya Junmyeon lupa kalau Lay dan Sehun memperhatikannya sejak tadi.

"aku akan pulang sekarang. Lay, tolong kau jaga Yixing baik-baik. Apapun yang terjadi biarkan Yixing seperti ini sampai aku memberikan kabar selanjutnya."

Lay menjawabnya dengan gumaman disertai anggukan. "ini Junmyeon, hubungi aku saat kau siap untuk membawa Yixing kembali." Lanjutnya sembari menghampiri Junmyeon dan memberikan kartu namanya.

Junmyeon menerimanya dan membungkuk singkat pada Lay dan Sehun. "aku permisi."

.

.

.

.

.

.

Title : ASTRAY

Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)

Rate : T dulu yaa...

Main Cast :

Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.

Desclaimer :

Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.

Warning :

Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.

... bacanya pelan-pelan ya, hihihi ...

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

Pria bermarga Kim itu berjalan dilorong rumah sakit dengan langkah yang terbilang pelan. Jujur, perasaannya mengatakan kalau dia ingin tinggal lebih lama lagi disana tapi sisi perasaannya yang lain juga menyuruhnya untuk segera pulang. Dia berhenti sejenak untuk berpikir sambil menatap lantai yang dia pijak.

"mungkin karena aku masih ingin bersama dengan Lay tapi pacarnya itu yang merusak suasana dan sangat mengganggu, tapi aku memang hanya orang lain diantara mereka, kenapa harus marah? atau... aku masih ingin menjaga Yixing tapi juga antusias untuk segera memberitahu Min Seok siapa astray itu?, tapi Lay sudah menjaga Yixing, jadi untuk apa aku disana, kenal juga tidak." Hhh... Junmyeon menghela nafasnya kasar. Kenapa tiba-tiba begini. Seperti dia dihadapkan pada suatu keputusan besar, padahal hanya ada dua keputusan untuknya, lanjut pulang atau kembali lagi dengan alasan 'tiba-tiba malas pulang'. Damn... kenyataannya kaki Junmyeon masih belum bisa melangkah kedepan atau kembali kebelakang.

"permisi... ada yang bisa saya bantu tuan?"

Junmyeon mendongak dan melihat seorang wanita berpakaian khas suster dengan membawa clipboard disalah satu lengannya.

"a..aah, tidak. Aku hanya emm.. sedang memikirkan sesuatu."

"oh, baiklah kalau begitu. Permisi."

"ya, silah... eh, suster tunggu!" interupsi Junmyeon yang membuat suster tadi kembali menghentikan langkahnya.

"ya?"

"maaf aku ingin bertanya, jika orang selain keluarga meminta catatan medis pasien disini apa diijinkan?"

"kalau itu anda bisa tanyakan langsung ke dokter yang bertanggung jawab, saya tidak berhak mengatakan detailnya kondisi pasien jika belum ada persetujuan sebelumnya." Jawab sang suster ramah.

"ooh begitu..." Junmyeon mengangguk paham. "tapi sus, apa anda kenal dengan pasien di ruang vvip.6 ?"

"maksud anda pasien Zhang?"

"bukan, Yixing namanya." Jawab Junmyeon polos dan suster itu hanya tersenyum simpul.

"iya maksud saya tuan Zhang Yixing, saya menyebut marganya."

Mendengar jawaban sang suster Junmyeon hanya mengangguk sambil tersenyum malu. "aah, begitu. Kira-kira kalau aku bertanya pada suster tentang keadaan Yixing apa suster mau menjawab?"

"kalau hanya tentang kondisi umum pasien mungkin saya bisa menjelaskan. Tuan Zhang sudah dirawat disini sejak setahun yang lalu namun kondisinya masih belum stabil. Melalui pemeriksaan rutin yang saya tau tanda-tanda vitalnya masih cukup baik, hanya saja dokter berasumsi ada faktor lain mungkin yang menghambat rangsangan pada otaknya sehingga tuan Zhang tidak merasakan stimulus apapun yang diberikan oleh sekitarnya. Secara medis hanya itu yang bisa saya sampaikan."

Junmyeon menyimak penjelasan suster tersebut dengan seksama, namun dikalimat terakhir Junmyeon menangkap maksud lain yang ingin disampaikan suster tersebut. "secara medis?, memangnya suster mempercayai hal lain yang bisa menjelaskan kondisi pasien?"

Sang suster tersenyum, "bukan apa-apa. Tapi selama belasan tahun saya bekerja disini kasus seperti tuan Zhang tidak hanya sekali dua kali terjadi. Meskipun rata-rata mereka pulih dengan bantuan medis, tapi ada diantaranya yang kembali karena kekuatan cinta."

Junmyeon tersenyum miring. Agak geli juga mendengarnya, dia pikir mungkin itu hanya terjadi dilayar kaca.

"benarkah?" tanya Junmyeon masih dengan senyum tak yakinnya.

"anda mungkin termasuk orang yang tidak percaya. Tapi saya termasuk orang yang percaya akan hal itu dan kalau boleh saya berpendapat, mungkin tuan Zhang belum tahu apa yang menjadi tujuannya untuk kembali. Jadi disana dia tidak tau harus berbuat apa."

Smirk Junmyeon perlahan luntur seiring dengan otaknya yang mulai mencerna setiap perkataan sang suster. Apa ini akan jadi masalah baru untuknya?, apa mungkin dia dan Min Seok bisa membimbing Yixing untuk kembali?, seandainya dia tak punya tujuan untuk kembali, apa mungkin semua ini akan sia-sia?

"tuan..." sang suster menyadarkan Junmyeon.

"aah, ya?"

"apa anda melamun daritadi?, jadi saya hanya bicara sendiri?"

"ah, tidak tidak. Saya mendengarkan anda. Terima kasih suster, maaf saya mengganggu."

Sang suster tersenyum ramah, "baiklah kalau begitu, saya permisi."

Keduanya pun saling menunduk hormat sebelum akhirnya Junmyeon kembali terpaku memikirkan perkataan wanita berseragam biru muda barusan. Namun belum sempat ia berpikir lebih jauh Junmyeon memilih untuk membuang jauh pikiran-pikirannya yang membuat dia ragu dan mempercepat langkahnya untuk segera sampai di rumahnya.

.

.

.

.

.

Hari sudah menjelang petang. Sepulang dari Gangnam tadi Junmyeon langsung mengistirahatkan sejenak dirinya untuk mencari ketenangan. Terlalu banyak yang dia pikirkan hari ini, mulai dari perasaannya yang masih ingin kembali ke rumah sakit itu, kata-kata suster tadi dan kekhawatiran yang tiba-tiba muncul kalau saja dia dan Min Seok gagal membimbing Yixing untuk kembali. Min Seok?, tunggu... ya Junmyeon baru ingat kalau dia harus memberitahu tentang hal ini kepada paranormal itu.

"halo." Sapanya setelah ia menghubungi nomor Min Seok dan mendengar bunyi tanda panggilannya diangkat.

"halo. Ada apa Junmyeon?"

"apa kabar?"

"baik. Sudah tidak usah basa-basi, katakan ada perlu apa kau menelponku?"

Junmyeon memandang ponselnya dan mencibir dalam hati. "heh, jangan mentang-mentang kau sudah mengenalku jadi kau bisa bersikap tidak sopan. Bagaimanapun aku ini klien yang harus kau segani."

"baiklah tuan Kim, ada yang bisa saya bantu?" nada suara Min Seok terdengar lebih kalem ditelinga Junmyeon, tapi siapa tau kalau Min Seok sedang menggulirkan matanya dengan malas diseberang sana.

"aku punya berita bagus. Sangat bagus malah. Kau mau tau?"

"apa?"

"hmm... mau tau aja apa mau tau banget?" suara Junmyeon berubah jahil

"ku tutup teleponnya ya?"

"eeits... tunggu tunggu, ya ya aku kan hanya bercanda. Oke, begini, jadi... aku sudah menemukan siapa astray itu."

"apa? benarkah? cepat sekali..."

"Junmyeon gitu loh."

"..."

"baiklah, baiklah. Jadi begini, ternyata astray itu adalah sahabat dekat dari temanku yang juga baru aku kenal. Dia yang memberiku kartu namamu dan menyarankanku untuk menemuimu waktu itu."

"dia mengenalku?, siapa?"

"susah menjelaskannya kalau begini. Bagaimana kalau kita ketemuan saja?, terserah kau yang tentukan tempatnya, atau mungkin di rumahku? Aku punya banyak ramen dan kopi, kalau kau mau."

"ide bagus. Baiklah aku akan kerumahmu setelah ini."

"oke, jam berapa?"

"tunggu saja. Aku ada urusan sebentar."

"baiklah. Sampai ketemu nanti." Tut... Junmyeon mengakhiri teleponnya.

.

.

Beberapa jam kemudian.

Tokk... tokk... tokk...

Junmyeon mengalihkan pandangannya dari televisi kearah pintu depan rumahnya dan langsung beranjak untuk membukakan pintu.

Cklek..

"ah, kau ternyata, lama sekali. Masuklah." Junmyeon mempersilahkan tamu yang sudah ditunggunya –Min Seok- itu untuk masuk kedalam rumahnya.

"apa astray itu masih mengganggumu?"

"tidak. Dia sudah jinak." Canda Junmyeon dan mereka berdua tertawa ringan. "kau mau kubuatkan ramen?"

"tidak perlu, aku baru dinner bersama Jong Dae."

"aaa... jadi itu urusan yang tadi kau maksud?, pantas saja lama sekali datangnya." goda Junmyeon dan Min Seok hanya tersenyum. "bagaimana kalau kopi atau coklat panas?"

"yang ada dalam kulkasmu saja. Jus jeruk atau air putih dingin juga boleh."

Junmyeon mengendikkan bahu dan langsung mengambil 2 gelas tinggi yang dia isi penuh dengan jus jeruk.

"jadi, bagaimana kau menemukan astray itu?" tanya Min Seok setelah Junmyeon selesai menuang jusnya.

"awalnya aku bertemu dengan seorang pelayan saat aku sarapan disebuah restoran. Aku menceritakan apa yang kualami seperti yang aku ceritakan padamu sebelumnya. Lalu dia memberiku kartu namamu dan menyuruhku kesana. Namanya Lay, pelayan sekaligus pemilik breakfast restaurant di ujung jalan munsan."

Min Seok berpikir sambil mengingat-ingat, "Lay...entahlah, mungkin aku yang lupa. Lalu?"

"tadi siang aku bertemu dengannya. Sebenarnya saat iku aku ingin melakukan apa yang kau suruh untuk segera mencari keluarga astray itu tapi karena aku bingung harus mulai darimana jadi aku hanya berdiam diri di halte. Lay mengajakku untuk ikut dengannya menjenguk sahabatnya yang sakit dan dirawat di rumah sakit Samseong, di Gangnam. Disanalah aku bertemu dengan dia, astray itu. Namanya Yixing, Zhang Yixing."

"dia orang China?"

"entah, tapi dari namanya sih kurasa iya."

"kau sudah bertemu keluarganya?"

"tidak. Tapi Lay cukup tau banyak tentang Yixing dan dia sangat berharap agar Yixing bisa kembali. Kurasa persahabatan mereka sangat erat. Lay bercerita kalau keluarganya sempat akan menyerah dan melepaskan Yixing, namun Lay selalu berhasil menahannya. Jadi sekarang dia menggantungkan harapannya pada kita, aku sudah bicara padanya bahwa kau dan aku bisa membuat Yixing kembali."

Min Seok menjilat bibirnya sejenak. "Junmyeon, maaf kalau aku tidak memberitahumu sejak awal kalau hal semacam ini juga tak mudah untuk dilakukan. Kita seperti bermain dengan takdir, aku sendiri bahkan tidak berani berjanji untuk berhasil membimbingnya kembali."

Junmyeon tersentak mendengar perkataan Min Seok, apa ini sebuah peringatan untuk mundur? Tapi mereka bahkan belum melakukan apapun. Tidak, dia tidak akan menyerah begitu saja. Bagaimanapun dia sudah terlanjur berjanji pada Lay untuk berjuang sekuat tenaga membawa Yixing kembali dan sekaligus berjanji pada Yixing untuk membuat hidupnya kembali normal. Apapun hasilnya nanti dia akan tetap melakukannya.

"aku tau mungkin ini sulit untukmu. Tapi kumohon berusahalah, aku akan lakukan apapun yang kau suruh. Ini demi kebahagiaan orang lain. Setidaknya meskipun gagal pada akhirnya, biarkan Lay mengetahui bahwa kita sudah berusaha sekuat tenaga. Dengan begitu mungkin hatinya akan lebih tenang."

"bagimu. Tapi kenapa aku malah berpikir sebaliknya. Bukankan akan lebih menyakitkan kalau awalnya kau melihat sebuah harapan tapi ternyata itu malah sia-sia belaka?"

"kau tau, aku juga khawatir sama seperti yang kau pikirkan. Tapi ayolah, jangan membuat spekulasi buruk. Kita bahkan belum melakukan apapun."

Min Seok mengangguk paham, "baiklah, maaf aku hanya terlalu khawatir. Kalau begitu, besok kita akan melakukannya."

Junmyeon pun ikut mengangguk yakin. "bisa dilakukan sore saja?, besok aku masih harus bekerja."

"sebisamu saja, Junmyeon. Besok kalau kau sudah pulang kerja, hubungi aku dan aku akan segera kerumahmu."

"baiklah."

"kalau begitu aku akan pulang sekarang."

"pulang?, kau bahkan belum meminum jusnya?"

"terima kasih, kau simpan lagi saja jusnya."

Junmyeon mendengus, "tau begitu tadi aku ambilkan air putih saja."

"pelit sekali jadi orang. Lagipula bibirku tak menyentuh gelasnya sama sekali, jadi kau masih bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri."

"ya ya... aku tau."

Min Seok kemudian berdiri dan bersiap untuk pamit. "Kau juga harus istirahat untuk menyiapkan mentalmu, mungkin besok akan jadi hari yang sulit." Pesan Min Seok sambil menyampirkan tasnya dibahu.

Junmyeon mengeluarkan smirknya. "terdengar seperti aku akan melihat istriku melahirkan bayi kembar besok."

Min Seok tertawa, "mungkin memang seperti itu rasanya. Baiklah, aku permisi."

"ne.. hati-hati dijalan."

.

Setelah percakapannya dengan Min Seok tadi, Junmyeon langsung memutuskan untuk segera istirahat. Mungkin ada benarnya kata Min Seok kalau dia harus istirahat untuk menyiapkan mentalnya, lagipula besok dia juga ada presentasi di kantornya. Junmyeon sudah berbaring dengan nyaman diatas tempat tidurnya, tapi kemudian dia beralih posisi menjadi miring menghadap sudut dimana astray itu berada. Junmyeon memandang lama sudut tersebut dan dalam pikirannya langsung tergambar wajah pucat Yixing dengan masker oksigennya.

"apa kau sedang melihatku sekarang ini?"

"apa kau bingung apa yang sebenarnya terjadi padamu?, atau... Min Seok sudah menjelaskan padamu?"

"bersabarlah sedikit lagi dan aku akan menyelamatkanmu dari sana. Aku harap, ada atau tidak tujuanmu untuk kembali kau harus mau kembali. Ada banyak orang disana yang mengharapkan kehadiranmu kembali ditengah-tengah mereka."

Tangan Junmyeon terulur seperti hendak menggapai sesuatu, namun ternyata ia hanya menggantungnya diudara begitu saja selama beberapa detik. "dan mungkin salah satunya aku." Lalu menarik lengannya kembali dan berbalik memunggungi sudut tersebut seraya memejamkan matanya untuk segera tidur.

.

~Yixing side~

Pria berparas sendu itu sedikit tersentak saat ia mendengar sebuah bunyi yang disusul masuknya seorang pria lain -yang kini tak asing baginya- kedalam ruangan yang ia tempati. Dia memperhatikan setiap gerak pria lain itu dari mulai saat membersihkan tempat tidurnya hingga pria itu berbaring.

'dia melihat kearahku.'

Pandangannya berubah cerah manakala pria yang ia tatap sedaritadi melihat kearahnya meski tidak fokus pada dirinya.

"apa kau sedang melihatku sekarang ini?"

Pria itu, Yixing. Sedikit tersentak saat suara tenang itu kembali lagi terdengar olehnya. Meski ini bukan yang pertama atau kedua kalinya ia mendengar suara pria dihadapannya itu, tapi baru dua kali ini dia merasa suara itu begitu lembut dan menenangkan.

'apa kau yang bernama Junmyeon?. iya...aku melihatmu'

"apa kau bingung apa yang sebenarnya terjadi padamu?, atau... Min Seok sudah menjelaskan padamu?"

Yixing menggeleng tak mengerti. 'apa maksudmu?'

"bersabarlah sedikit lagi dan aku akan menyelamatkanmu dari sana. Aku harap, ada atau tidak tujuanmu untuk kembali kau harus mau kembali. Ada banyak orang disana yang mengharapkan kehadiranmu kembali ditengah-tengah mereka."

Yixing melihat pria itu menjulurkan tangannya dan secara naluri Yixing juga menjulurkan lengannya berniat akan menggapai jemari tersebut.

"dan mungkin salah satunya aku."

Yixing menatap kembali pria tersebut dan betapa sakit hatinya saat jemari yang akan diraihnya itu kembali ditarik oleh pemiliknya seraya memunggungi dirinya.

'tidak... tunggu... jangan ditarik, kumohon kembalilah menghadap kemari.'

~end of Yixing side~

.

.

.

.

.

.

.

.

Pria penyandang gelar direktur muda itu kini sedang membereskan semua perlengkapannya dan bergegas untuk pulang. Sambil menenteng tas dan jasnya ditangan kiri serta ponsel ditangan kanan, ia berjalan cepat menuju basement sambil mengoperasikan ponselnya-

Dukk...

"Aww.."

-tanpa memperhatikan jalan.

"apa kau tidak punya jalur lain, hah?"

"berani-beraninya kau... Baekhyun?" junmyeon tidak jadi marah setelah tau siapa orang yang bertabrakan dengannya.

Yang merasa namanya baru saja disebut mendongak. "hyung?, kenapa kau disini?"

"aku mau ke basement, pulang. kau sendiri?"

"hehe, aku baru kembali dari rumah sakit."

"menemui Chanyeol?" ,Baekhyun hanya mengangguk canggung menanggapi pertanyaan Junmyeon. Namun mata Junmyeon menyipit.

"kau tidak apa-apa?, apa si kerdil itu menyakitimu?"

Baekhyun menaikkan ujung bibirnya, tersenyum miris. Dia tau siapa yang dimaksud Junmyeon dengan 'si kerdil' itu, tidak lain adalah pacarnya yang realitanya punya tinggi diatas rata-rata orang asia, Baekhyun pun tak tahu alasan Junmyeon menjuluki Chanyeol seperti itu. Kalau Chanyeol kerdil, lalu kau apa? smurf?, setidaknya itu yang dipikirkan Baekhyun.

"tidak. Dia tak akan pernah berani melakukannya. Memangnya ada apa?"

"sikapmu agak normal hari ini."

"aku sedang kurang enak badan sebenarnya."

"u..uwow... kau hamil?"

Baekhyun menganga, kalau tidak ingat ini dikantor dan pria didepannya ini atasannya dia pasti sudah menggeplak jidatnya.

"weh... sembarangan saja bicara. Kau pikir anakku akan keluar darimana kalau aku hamil?"

Junmyeon terdiam berpikir, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya keras.

"kenapa aku harus susah-susah berpikir. Sudahlah, aku mau pulang. Buru-buru."

"eeeh, tunggu hyung. Chanyeol bilang kalau dokter Sehun kemarin bertemu denganmu di rumah sakit Samseong, untuk apa kau kesana?"

"kapan-kapan saja kuceritakan padamu. Aku sedang buru-buru sekarang."

"y..yak... hyuuung."

Tanpa mempedulikan panggilan Baekhyun, Junmyeon kembali mempercepat langkahnya menuju basement untuk mengambil mobilnya.

"halo."

'...'

"aku perjalanan pulang sekarang. Kalau kau sampai duluan tunggu saja, aku akan cepat."

'...'

"iya. Baiklah."

Junmyeon menutup sambungan teleponnya dan segera memasuki mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya sampai kerumah.

.

.

.

Setibanya dirumah ternyata Junmyeon melihat wanita mungil itu sudah duduk di kursi teras rumahnya.

"kau menunggu lama?" sapanya setelah keluar dari mobil dan mengambil kunci rumah didalam tasnya.

"lumayan."

Junmyeon membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk, namun sesaat kemudian dia kembali melongok keluar. "kau tidak mau masuk?"

"disini saja. Aku hanya akan menyampaikan teknisnya karena setelah ini aku juga ada urusan."

"kencan dengan Jong Dae?"

"tidak. Urusan dengan klien lain."

"aah. Kau tidak keberatan kalau aku ganti baju dulu?"

"tidak, silahkan."

Beberapa saat kemudian Junmyeon kembali dengan membawa nampan berisikan 2 gelas minuman dan sepiring kukis.

"jadi, apa yang harus kulakukan?"

"kau bisa melakukannya hari ini?"

"bisa." Jawab Junmyeon cepat dan yakin

"begini, nanti kau harus ke rumah sakit dimanaa... siapa nama astraynya?"

"Yixing."

"ya, kau harus menemui Yixing disana. Sedangkan aku disini akan melakukan astral projection persis seperti yang kulakukan saat itu dikamarmu, kau tidak keberatan kan kalau aku dan Jong Dae dirumahmu tanpa kau?"

"tentu saja tidak. Sudah kubilang kemarin kan aku akan melakukan apapun yang kau suruh. Kalau kau juga butuh sesuatu yang ada dirumahku, kau boleh menggunakannya tanpa harus minta ijin padaku."

"termasuk perlengkapan pribadi?" tanya Min Seok setengah serius.

"euum... aku yakin tidak harus sampai begitu." Jawab Junmyeon ragu.

Min Seok tertawa kecil. "tidak. Aku tidak membutuhkan apapun."

"apa kali ini kita juga akan melakukannya tengah malam?"

Min Seok menggeleng. "kau bisa berangkat setelah ini. Mungkin aku akan selesai dengan urusanku sebelum jam makan malam. Jadi kemungkinan pukul 7 malam nanti kita bisa mulai melakukannya. Jam besuk disana bebas kan?"

"aku tidak tahu. Tapi untuk berjaga-jaga mari kita selesaikan sebelum pukul 9 malam."

Min Seok terdiam, antara ragu dan berpikir tentang perkataan Junmyeon barusan.

"setidaknya kita harus mencobanya. Aku juga akan bekerja keras sama sepertimu." Ucap Junmyeon menyemangati dan dibalas senyuman tulus dari Min Seok.

"ya sudah kalau begitu. Aku harus pulang dan kau mungkin juga butuh bersiap-siap. Nanti kuhubungi kalau aku dan Jong Dae sudah sampai dirumahmu."

"oke. Oh.. tunggu sebentar." Junmyeon berlari kedalam rumahnya dan mengambil sesuatu dibalik pintunya. "ini kunci rumahku, langsung masuk saja saat kau sudah sampai. Aku akan memakai duplikatnya."

Min Seok menerima kunci itu dan menyimpannya didalam tas. "baiklah. Aku permisi."

"yaa, hati-hati. Salam untuk Jong Dae."

Setelah Min Seok tak terlihat lagi olehnya Junmyeon mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi seseorang.

"halo, Lay."

"..."

"ya, ini aku Junmyeon."

"..."

"kau masih menemani Yixing?"

"..."

"setelah ini aku akan kesana. Aku sudah bertemu dengan paranormal Min Seok dan dia bilang akan melakukannya hari ini."

"..."

"tidak. Kemungkinan nanti malam. Kau tenang saja, kami akan berusaha sekuat tenaga."

"..."

"baiklah. Aku akan bersiap-siap sekarang. Sampai jumpa."

Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Lay, Junmyeon memandang ponselnya miris. Harusnya jika ia yang ada diposisi Sehun kalimatnya mungkin agak sedikit lebih panjang. Misalnya, 'baiklah. Aku akan bersiap-siap sekarang. Tunggu aku disana ya sayang, sampai jumpa. Aku mencintaimu.' ,hiks... tapi sekarang ini Lay sama seperti buah rambutan diujung pohon, sama-sama susah diraih oleh Junmyeon yang tidak terlalu tinggi. Hashtag Galau.

.

.

.

.

Setelah mengendarai sedan silver metalicnya selama beberapa jam kini Junmyeon tengah menyusuri koridor lantai rumah sakit dimana Yixing dirawat.

Sreet...

"oh, Junmyeon?" sapa seorang dari dalam ketika Junmyeon membuka pintu ruang rawat Yixing.

"maaf tidak mengetuk pintu. Aku lupa." Jawab Junmyeon canggung sambil menutup kembali pintunya.

"tidak apa-apa." balas orang itu –Lay- dengan senyum ringan andalannya.

"apa kau terus disini sejak kemarin?, sendirian?"

"seperti yang kau suruh. Aku harus menjaga Yixing."

"maaf kalau permintaanku merepotkanmu. Aku hanya... ya, sedikit khawatir karena sejauh ini hanya kau yang tau apa yang tejadi dengan Yixing."

"kau tau aku pun akan melakukan segala hal demi Yixing. Jadi tentu saja aku melakukan ini dengan senang hati."

Junmyeon tersenyum pada Lay dan beralih memandang Yixing. Junmyeon tersenyum, seperti yang selalu terjadi. Dia hanya mengikuti naluri, perasaannya tenang saat melihat Yixing baik-baik saja.

"Lay, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padamu terkait yixing."

"kalau begitu kita duduk disana saja sambil memesan sesuatu, bagaimana?"

Junmyeon mengangguk dan mengikuti Lay menuju sofa yang kemarin juga mereka gunakan untuk mengobrol.

"jadi, apa yang ingin kau sampaikan?" Lay mengawali setelah pesanan mereka datang dan meneguk minuman yang mereka pesan sekedar untuk membasahi tenggorokan terlebih dahulu.

"mungkin ini terkesan mendadak, tapi paranormal Min Seok juga baru memberitahuku kemarin."

Melihat raut ganjil Junmyeon, Lay mulai merasakan detak jantungnya meningkat dia tidak tau apa yang akan disampaikan Junmyeon tapi dia yakin kalau itu sesuatu yang mungkin terdengar buruk baginya.

"katakan saja, aku akan berusaha memahami."

"ini mungkin terdengar mudah, aku hanya harus membangunkan Yixing disini sedangkan Min Seok dan rekannya akan melakukan entah ritual atau apapun itu dirumahku untuk membimbing Yixing kembali dan tadaa, Yixing terbangun. Tapi faktanya, prosesnya tidak akan semudah itu. Min Seok bilang kita seperti bermain dengan takdir dan takdir bukanlah hal yang bisa kita prediksi." Junmyeon menghentikan kalimatnya sekedar ingin tau apa pendapat Lay, namun sampai beberapa detik reaksi Lay hanya sama. Diam dan masih memperhatikan Junmyeon. "Lay..."

"langsung saja Junmyeon. Meskipun berat tapi aku akan berusaha menerima segala kemungkinan terburuk dari hal yang akan kau sampaikan."

Melihat mata lembab Lay junmyeon jadi tidak yakin apa dia akan berkata jujur atau berbelok arah untuk tidak menggoyahkan keyakinan Lay bahwa Yixing pasti akan bangun. Tapi bagaimanapun itu, mempersiapkan diawal akan lebih baik daripada syok diakhir.

"Min Seok tidak bisa menjamin Yixing bisa kembali. Bagaimanapun dia hanya manusia dan tidak bisa mengendalikan hidup dan mati orang lain. Aku tau kau pasti sakit hati mendengarnya, tapi Min Seok bilang jangan berharap terlalu besar padanya." Junmyeon tau Lay sedang menahan nafasnya untuk mengendalikan air matanya yang sudah dipelupuk mata. Sedangkan Junmyeon harus menghela nafas untuk menenangkan hatinya. "aku tidak berjanji Yixing akan kembali, tapi aku berjanji bahwa aku dan Min Seok akan berusaha agar Yixing bisa kembali." Lay mengangguk dengan satu bulir yang lolos dari matanya, setidaknya dia mendengar kalau Junmyeon bersama Min Seok akan berusaha untuknya.

.

.

.

.

.

Samseong Medical Center, 19.20

Junmyeon berjengit saat getar ponsel dalam saku celananya menggelitik pahanya. Melihat nama yang tertera dilayar entah kenapa berangsur-angsur tengkuk Junmyeon terasa dingin. Dia nervous, takut dan tidak yakin bahkan perasaan itu seperti mengaduk perutnya lebih parah daripada saat dia interview kerja pertama kali dulu.

"ha...halo" sapanya kikuk karena tiba-tiba pita suaranya seperti terjepit sesuatu

"halo. Junmyeon, kau sedang dirumah sakit itu kan?"

"iya, aku sedang bersama dia."

"bagus. Aku sudah dirumahmu, kita akan melakukannya sebentar lagi."

"hmm..."

"jangan matikan teleponnya dan pakai headsetmu agar kau bisa mendengarkan sekaligus melakukan instruksi yang aku berikan padamu."

"tunggu sebentar." Junmyeon menjauhkan ponselnya dan berbalik.

"Lay, kau bawa headset?" ,Yang ditanya mengangguk.

"boleh kupinjam, aku perlu benda itu." Tanpa menjawab Lay langsung mengeluarkan benda serupa kabel itu dan memberikannya pada Junmyeon.

"kupikir kau tadi sedang menerima telepon."

"hmm." Jawab Junmyeon sambil memasang headset di ponselnya

"siapa?"

"Min Seok. Sebentar lagi kita akan melakukannya."

Mendengar nama tersebut Lay sontak membulatkan matanya. "sekarang? Boleh aku disini?"

"tentu saja. Mungkin kau akan sangat membantu." Jawab Junmyeon sambil tersenyum.

"halo. Min Seok, aku sudah memakai headset."

"setelah ini Jong Dae yang akan membimbingmu. Aku akan mencoba masuk kedunia Yixing dahulu, tolong bersabarlah karena mungkin ini akan sedikit memakan waktu."

"halo Junmyeon. Ini aku Jong Dae."

"ne. Apa Min Seok sudah mulai?"

"ya, kita harus tenang selagi Min Seok berkonsentrasi." Terdengar suara Jong Dae berubah jadi bisikan diujung sana.

"baik."

"Junmyeon, kita harus apa?" Lay bertanya penasaran karena Junmyeon tiba-tiba hanya diam. Namun Lay kemudian mengangguk setelah Junmyeon membuat gestur menyuruh Lay diam dengan telunjuk didepan mulutnya sambil menganggukan kepalanya yang berarti 'kau tenang saja dulu.'

Beberapa menit berlalu dan tak ada hal yang Junmyeon dan Lay lakukan. Lay bahkan hampir lupa jika ia sedang menunggu sampai kemudian tiba-tiba Junmyeon berkata "oke." dan mulai mendekati Yixing.

Lay hanya diam dan memperhatikan Junmyeon saat pria itu menunduk kearah Yixing sambil sedikit mengguncang pundak sahabatnya itu seperti sedang membangunkan orang tidur.

"Xing, kau pasti mendengarku kan. Ikuti saja suaraku, aku yakin kau pasti bisa menemukanku."

Daritadi Lay hanya bisa menatap Junmyeon dan Yixing bergantian, dia bingung harus membantu apa. jadi satu-satunya hal yang terlintas dipikirannya adalah dia harus menangkup jemari sahabatnya dengan kedua tangannya dan menyandarkan keningnya diatas genggaman itu, berdo'a.

Ditengah kekhusyu'an Lay berdo'a tiba-tiba dia merasa jemari Yixing menggenggam didalam tangkupan tangannya, seketika itu Lay mengangkat kepalanya dan melihat jemari Yixing meremas jemarinya dengan gerakan lemah. Pandangannya langsung tertuju pada wajah Yixing dan dia melihat nafas Yixing mulai tidak teratur, Lay mengalihkan pandangannya pada layar kardiografi yang juga menunjukkan getaran tidak stabil lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Junmyeon yang Lay pikir tidak jauh berbeda keadaannya dengan dirinya, bingung dan khawatir.

"Junmyeon, apa yang terjadi?" Lay bertanya dengan nada seperti berbisik.

"aku tidak tau. Tolong kau panggil dokter." Tanpa tunggu diperintah dua kali Lay langsung menekan tombol emergency yang berada disisi atas ranjang Lay.

Tak menunggu lama, seorang dokter masuk bersama 2 orang perawat dibelakangnya.

"dokter, Yixing menunjukkan reaksi." Lapor Lay pada dokter tersebut.

"baik, saya akan memeriksanya dulu. Tolong minggir sebentar." Pinta dokter itu agar 2 pria tadi –Lay dan Junmyeon- menjauh dari ranjang pasien agar sang dokter bisa memeriksa dengan mudah.

"halo, Junmyeon kau masih disana?, bagaimana keadaan Yixing?"

"ya, Yixing menunjukkan reaksi dan sekarang dia diperiksa oleh dokter." Kembali Junmyeon berbicara pada orang diseberang telepon.

"Min Seok bilang Yixing menjauhinya. Yixing bilang dia tidak punya tujuan untuk kemanapun."

Deg...

"tujuan?" gumam Junmyeon dalam hati

~ "Meskipun rata-rata mereka pulih dengan bantuan medis, tapi ada diantaranya yang kembali karena kekuatan cinta." ~

~ "mungkin tuan Zhang belum tahu apa yang menjadi tujuannya untuk kembali. Jadi disana dia tidak tau harus berbuat apa." ~

Kata-kata itu tiba-tiba saja mengisi rongga otak Junmyeon. Tujuan ... tujuan ... tujuan ... tujuan apa itu, yang membuat Yixing mau kembali, yang meyakinkan astray itu agar mau mengikuti Min Seok.

"bagaimana keadaan Yixing, dok?"

Lamunan Junmyeon buyar saat ia mendengar suara khawatir Lay yang bertanya pada dokter.

"kemungkinan pasien sedang mengalami peningkatan aktivitas otak. Tidak ada tanda-tanda serius, hal ini wajar terjadi pada pasien vegetatif karena bagian otak yang mengendalikan kesadarannya sedang tidak berfungsi dengan baik. Ibaratnya seperti orang mengigau. Jadi tidak perlu khawatir." Jelas sang dokter dengan ramah.

"terima kasih dokter." Jawab Junmyeon karena untuk saat ini dia cukup paham dengan penjelasan itu.

"baiklah, kami permisi." Pamit sang dokter beserta dua susternya.

"halo Junmyeon, kau masih disana?" setelah kepergian sang dokter Junmyeon kembali mendengar suara dari headsetnya.

"Min Seok?"

"ya, ini Min Seok. Barusan kudengar kau menyebut dokter. Apa terjadi sesuatu pada Yixing?"

"dokter bilang Yixing mengalami peningkatan aktivitas otak. Tadi dia menunjukkan reaksi, jari-jarinya seperti ingin menggenggam."

"benarkah?, kupikir itu hasil yang cukup baik setidaknya Yixing menemukan jalannya tapi mungkin dia masih ragu untuk pergi kesana."

"menurutmu apa yang membuat dia ragu?"

"mana ku tahu, aku tidak kenal Yixing apalagi masalah yang mungkin sebelumnya dia alami."

Junmyeon menjilat bibirnya. Baiklah, untuk hal ini Min Seok sama sekali tidak membantu. Junmyeon terdiam kembali sambil menggigiti kuku jempolnya. Saat ini dia melihat Yixing sudah kembali ke keadaannya semula, tenang meski terlihat rapuh.

~ "Meskipun rata-rata mereka pulih dengan bantuan medis, tapi ada diantaranya yang kembali karena kekuatan cinta." ~

~ "mungkin tuan Zhang belum tahu apa yang menjadi tujuannya untuk kembali. Jadi disana dia tidak tau harus berbuat apa." ~

Otak Junmyeon kembali memutar kalimat itu. Bahkan kini berulang-ulang ia memikirkannya, kekuatan cinta... tujuan kembali... kekutan cinta... tujuan kembali... kekuatan cintaaa "tunggu." Junmyeon mengangkat kepalanya saat otaknya memproses sesuatu. Pada akhirnya dia menarik nafas dan melangkah perlahan.

"Junmyeon..."

Dia bahkan tak mengindahkan panggilan Lay, hanya terus berjalan langkah demi langkah mendekati Yixing dan duduk disisi ranjangnya.

Dengan hati-hati Junmyeon meraih jemari Yixing dan menggenggamnya seperti yang kemarin dia lakukan. Tak hanya menggenggam jemari pria pucat itu, kini Junmyeon berani menangkup sebelah pipi Yixing dengan satu tangannya dan membelainya perlahan.

"Zhang Yixing..." ,di sisi lain Lay hanya terpaku melihat apa yang dilakukan Junmyeon dia hanya bisa melihat.

"tidakkah kau sangat mengenali suaraku?, bukankah kau sangat penasaran denganku hingga ingin menyentuhku?, aku disini Yixing, kemarilah. Ikuti kata hatimu dan pilih jalan yang ingin kau lalui." Junmyeon menghela nafas ringan.

"kau mungkin akan terkejut saat aku berkata aku ingin melindungimu. Tapi sejujurnya itu yang aku rasakan. Tidak peduli seberapa keras kau menolak, aku hanya ingin kau sadar bahwa sekalipun dunia tidak melihatmu, maka aku akan jadi satu-satunya orang yang paling memperhatikanmu. Aku akan jadi orang pertama yang paling bahagia saat kau kembali. Aku menunggu saat kita bisa bertemu, saat mata indahmu terbuka dan melihatku, saat kau membalas sentuhanku atau saat nanti kau akan menyebut namaku."

Lay tak mengerti maksud dari perkataan Junmyeon, tapi dia sangat tersentuh. Entah kenapa Lay merasa itu bukan sebuah bualan, Lay memang bukan seorang yang paham dengan psikologi tapi Lay yakin Junmyeon tulus mengatakan hal itu. Suaranya tidak menyiratkan keraguan sedikitpun.

"Yixing, kau masih mendengarku kan?. Kalaupun tak ada hal yang membuatmu ingin kembali, maka mulai sekarang aku yang akan menjadi hal itu. Aku adalah alasan yang membuatmu ingin keluar dari kesendirianmu disana. Kau pasti merasa kesepian disana, kemarilah aku akan menemanimu. Aku... aku bisa memelukmu saat kau butuh sandaran karena..." mata Junmyeon menyiratkan keraguan saat ingin mengatakan ini, tapi perasaannya tak bisa berbohong kalau, "aku juga ingin memelukmu."

Lay meneteskan air matanya. Bahkan Sehun tidak pernah seromantis itu. Kata-kata Junmyeon benar-benar menyentuh hati Lay dan dia barharap Yixing mampu mendengar itu.

Junmyeon sudah hampir menyerah saat beberapa menit berlalu dan Yixing tak menunjukkan reaksi apapun. Tapi bola mata Yixing yang bergerak dibalik kelopaknya yang terpejam mengubah keyakinan Junmyeon.

"aku disini Yixing, aku menunggumu." Bisik Junmyeon yang kemudian membuat jemari Yixing bergerak. Junmyeon tersenyum saat jemari Yixing seolah membalas genggaman tangannya.

Disisi lain Lay sebenarnya kembali khawatir melihat Yixing kembali menunjukkan reaksi seperti tadi, namun melihat Junmyeon yang lebih tenang Lay mengurungkan niatnya untuk melangkah kearah tombol emergency.

Junmyeon merasa genggaman tangan Yixing semakin mengerat, nafasnya kembali memburu dan gerakan matanya semakin tak beraturan.

"J..Junmyeon.." Lay mendekati Junmyeon dengan mulut bergetar tanda takut karena reaksi Yixing lebih intens dari sebelumnya. Mengetahui kekhawatiran Lay, Junmyeon memberikan senyum menenangkan agar Lay tak terlalu kebingungan.

Beberapa menit berlalu saat kemudian tiba-tiba Yixing tak menunjukkan reaksi kembali. Hening, Yixing kembali diam bahkan genggaman tangannya pada Junmyeon mengendur perlahan.

Baik Junmyeon maupun Lay memandang Yixing dengan pandangan yang sama, kecewa. Dalam benak mereka, mungkin inilah takdir yang harus mereka hadapi. Yixing belum sadar atau mungkin tidak akan pernah sadar.

Namun sekali lagi takdir bukanlah hal yang bisa diprediksi. Perlahan namun pasti Junmyeon dan Lay melihat bahwa kelopak mata Yixing bergerak. Keduanya harap-harap cemas sekarang dan mereka rasa ini bukan sekedar fatamorgana atau khayalan mereka karena terlalu berharap Yixing bisa kembali. Tapi iris gelap Yixing yang perlahan terlihat sudah dapat membuktikan bahwa ini bukan khayalan mereka.

Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana perasaan mereka berdua, bahkan saking antusiasnya Lay lupa dengan keberadaan tombol emergency dan lebih memilih berlari keluar untuk segera memanggil dokter.

Sedangkan Junmyeon dan Yixing hanya bisa saling menatap sambil tetap menautkan genggaman masing-masing. Yixing menatap Junmyeon dengan pandangan lemasnya sedangkan junmyeon mulai mengembangkan senyumnya ditengah keadaan matanya yang mulai lembab.

"Hai..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Epilog :

"Zhang Yixing..."

Min Seok sedikit mengernyitkan dahi saat mendengar suara lirih Junmyeon diseberang sana.

"tidakkah kau sangat mengenali suaraku?, bukankah kau sangat penasaran denganku hingga ingin menyentuhku?, aku disini Yixing, kemarilah. Ikuti kata hatimu dan pilih jalan yang ingin kau lalui."

Kali ini Min Seok mengerti, "Junmyeon sedang berusaha. Aku akan mencobanya lagi, Jong Dae. Tolong bantu aku." Jong Dae menganggukkan kepalanya dan bersiap mendampingi kekasihnya yang akan berusaha sekali lagi.

.

.

.

Yixing kelelahan. Daritadi dia seperti berlari namun ternyata dia tidak kemanapun. Suara itu menghilang dan dia tidak bertemu lagi dengan wanita itu. Yixing kembali duduk dan memilih untuk berhenti saja. Tapi sesaat kemudian dia mendengar suara itu lagi.

"Zhang Yixing..."

Yixing kembali berdiri dan mempertajam pendengarannya.

"tidakkah kau sangat mengenali suaraku?, bukankah kau sangat penasaran denganku hingga ingin menyentuhku?, aku disini Yixing, kemarilah. Ikuti kata hatimu dan pilih jalan yang ingin kau lalui."

Yixing sudah akan berjalan, namun wanita itu kembali menampakkan dirinya.

"ikuti saja apa kata hatimu. Dengarkan suaranya sambil memejamkan mata. Tenanglah, maka kau akan menemukan jalan itu." .wanita itu berkata dengan nada yang sangat serius. Yixing pun mengikutinya,

"kau mungkin akan terkejut saat aku berkata aku ingin melindungimu. Tapi sejujurnya itu yang aku rasakan. Tidak peduli seberapa keras kau menolak, aku hanya ingin kau sadar bahwa sekalipun dunia tidak melihatmu, maka aku akan jadi satu-satunya orang yang paling memperhatikanmu. Aku akan jadi orang pertama yang paling bahagia saat kau kembali. Aku menunggu saat kita bisa bertemu, saat mata indahmu terbuka dan melihatku, saat kau membalas sentuhanku atau saat nanti kau akan menyebut namaku."

Yixing menangis, dia ingin bertemu dengan pemilik suara ini. Tapi daritadi dia tidak menemukan apapun, dia masih melihat wanita itu yang terus menggumamkan sesuatu. Yixing kebingunan sekarang, apa yang harus dia lakukan?, dia harus berlari kemana?.

"Yixing, kau masih mendengarku kan?."

Yixing kembali mendongak keatas 'ya...aku masih mendengarmu.'

"Kalaupun tak ada hal yang membuatmu ingin kembali, maka mulai sekarang aku yang akan menjadi hal itu. Aku adalah alasan yang membuatmu ingin keluar dari kesendirianmu disana. Kau pasti merasa kesepian disana, kemarilah aku akan menemanimu. Aku... aku bisa memelukmu saat kau butuh sandaran karena..."

'karena apa?'

"aku ingin memelukmu."

Yixing terperangah, segera ia memejamkan matanya kembali dan menenangkan dirinya. Saat ia kembali membuka mata sebuah cahaya menyilaukan dengan titik hitam tak berujung terpampang didepannya. Meski takut, namun Yixing tak bisa menolak permintaan hatinya untuk melalui jalan tersebut. Tekadnya sudah bulat, kalaupun ia salah memilih jalan dan tak bisa bertemu dengan pemilik suara itu diujung sana, maka ia berdo'a agar setidaknya mereka diijinkan untuk bertemu di surga. Yixing menghela nafas dan melewati cahaya yang semakin memudarkan pandangannya...

.

.

.

Yixing membuka matanya namun pandangannya masih memudar. Cukup lama ia beradaptasi sampai matanya menangkap siluet seseorang pria. Dia melihat orang itu tersenyum yang entah kenapa membuat perasaannya hangat dan membuatnya juga ingin tersenyum andai saja otot wajahnya tidak terasa kaku dan dia terpana saat pria itu berkata,

"Hai..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued...

5k+ waaahh, ga terasa ngetik sebanyak itu :D

Junmyeon dan Yixing akhirnya bertemu di dunia nyata untuk pertama kalinya #syukuran. Tapi apa Yixing ingat Junmyeon? , gimana sama chap ini? Memuaskan?, membingungkan? Kurang gurih?

Semoga masih suka ya... buat sedikit bocoran, chap depan saya akan bawa KEJUTAN , apakah itu? Tunggu saja ya...

Kali ini saya mau ngucapin thanks to :

aerii0110 , Peppermint Amaranth , Xing1002 , TaoTaoZiPanda , shinta lang , Guest , chenma , KyuuXiu , xingmyun , Richjoonmoney , viviyeer , MinieZhang , SilentB , parkchanyeol chanyeol 35 , ammi298

yang sudah menyediakan waktunya untuk ngetik di kotak review chap. 5 dan 6 kemarin, ga ada yang kelewatan kan? . Jeongmal kamsahamnida #bow

last but not least, Happy reading and review juseyooooww...!