FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Oh Wonbin, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance

Rated : PG-15

Length : Part (On Going)

Warning : OOC tingkat Tinggi! Watak tokoh jauuuuuh beda dengan aslinya! Ceritanya makin LEBAY! Mianhae… (=..=v)

.

Part 15

.

***
Author POV

.

Kelima laki-laki & 3 gadis Jepang itu saling menatap satu sama lain. Situasi yang 'tidak tepat' semakin terasa karena tatapan mereka masing-masing. Jonghun mendengus kesal.

"Jo-Jonghun hyung?"Seunghyun tercekat melihat Jonghun yang berdiri menatapnya dengan tatapan dingin.

"Jonghun…ini…bisa kujelaskan…"kata-kata Kazu membuat Seunghyun terpikir dengan sesuatu yang baru-baru ini ia tahu.

Omo! Tadi aku bilang apa? Aku mengajak Kazu makan bersama? Aku menjemputnya? Didepan Jonghun hyung? Ash…sekarang aku mengerti kenapa ia menatapku seperti itu!. –batin Seunghyun-

"Minhwan! Jaejin! Kenapa kalian hanya diam disana? Cepat jalan! Kita harus segera latihan!"bentak Jonghun yang beralih kepada kedua magnaenya.

"Hyung?"Minhwan & Jaejin hanya bisa terdiam heran dengan sikap Jonghun yang tiba-tiba berubah.

"Itu benar. Cepat kita pergi dari sini!"sahut Hongki masih dengan tatapan dinginnya. Minhwan & Jaejin semakin terpaku diam, mereka hanya bisa menuruti kata-kata Hyungnya yang jelas-jelas tidak ber-mood baik.

Jonghun & Hongki-pun melangkah duluan meninggalkan gadis-gadis Jepang itu, diikuti Jaejin & Minhwan. Hanya selang beberapa menit, tubuh mereka-pun sudah lepas pandang dari ketiga gadis Jepang itu & juga Seunghyun. Seunghyun menoleh perlahan kearah Kazu.

"Sepertinya…aku membuat kesalahpahaman ya…"ucap Seunghyun sepelan-pelannya. Ia agak terkekeh karena tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa.

Kazu menghela nafas panjang, raut wajahnya berubah masam.

"Tidak apa-apa Seunghyun…"ucap Kazu dengan berat. "Aku akan menjelaskan padanya nanti…"tambahnya.

Raut wajah Seunghyun ikut berubah seiring dengan sikap Kazu yang terlihat agak terpukul.

"Kira, kau tidak apa-apa?"tanya Miki yang sejak tadi menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Ia hanya diam seperti memikirkan sesuatu.

Duet dengan Wonbin? Di depan semuanya? Didepan Hongki?...

Kira mengerutkan dahinya. Raut wajahnya berubah agak cemas.

"Kira?"panggil Miki lagi.

"Eh? Ah..iya.."Kira-pun tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kearah Miki & Kazu yang menatapnya heran.

"Ng? Kenapa? Ayo cepat kita pulang…ini sudah sore…"ucap Kira sambil melangkah lebih dulu. Namun ia langsung berhenti didepan Seunghyun & mendelik tajam kearahnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"tanya Kira datar. Seunghyun semakin terpaku diam dihadapan Kira. Yah…hubungan keduanya memang tidak begitu baik.

"Ng…tidak…"jawab Seunghyun pelan tak berani menatap Kira.

"Aigoo…Seungie-ah, waktu & maksudmu datang kemari sangat tidak tepat…sepertinya Jonghun sunbae salah paham…"Miki menyahut dari belakang sambil menghela nafas. Kazu mengigit bibirnya sebentar kemudian menghela nafas panjang. "Sudahlah, ayo kita pulang"ujar Kazu yang segera menyusul langkah Kira. Mereka berempat-pun pulang keapartemen bersama.

.

***
Jonghun POV

.

"Jaejin, menurutmu bagian ini perlu dirubah?"tanyaku pada Jaejin sambil menyodorkan secarik kertas aransemen kehadapannya.

"Hm, nadanya dinaikkan lagi Hyung. Seperti ini…"Jaejin-pun memainkan bassnya sebagai contoh. Aku mengangguk pelan & langsung mengambil gitarku. Memperbaiki bagian yang salah tadi.

"Ah…aku haus. Hyung, kita istirahat sebentar. Aku ingin beli minum"seru Minan yang masih duduk santai dibelakang drumnya.

"Ide bagus, aku juga haus"sahut Jaejin sambil menaruh bassnya dengan rapi.

"Kalau begitu temani aku ke minimarket depan Hyung! Jonghun hyung-Hongki hyung, kalian mau titip apa?"tanya Minhwan sambil menoleh kearahku & Hongki bergantian.

"Hm, aku samakan saja denganmu. Tapi jangan minuman dingin"jawab Hongki yang matanya masih terpaku dengan kertas berisikan lirik-lirik lagu. "Aku juga. Samakan saja"sambungku.

Minhwan & Jaejin-pun langsung keluar dari studio untuk membeli minuman. Kini hanya ada aku & Hongki yang masih sibuk dengan kertas-kertas liriknya.

"Hhm, apa kau masih menghapal?"aku menyeringai kecil. Hongki-pun melirik kearahku.

"Ya! Jangan buat kata-kata yang susah dihapal! Ck…hanya untuk acara ulang tahun, tapi aku merasa seperti akan konser besar"gerutu Hongki sambil melambai-lambaikan kertas lirik itu padaku. Aku terkekeh melihatnya.

"Hha, aku membuatnya bersama Jaejin. Bagus-kan? Kata-katanya menyentuh"senyumku.

"Kau buat se-menyentuh apapun juga, yang menyanyi tetap aku! Aku yang harus menghapalkannya"Hongki mengerucutkan bibir. Aku semakin tersenyum geli melihat tingkah cute-nya, setidaknya ini lebih baik dari pada wajahnya beberapa hari ini.

"Hah…sepertinya ucapan Jaejin tadi tidak mempengaruhimu ya…"ucapku yang agak menyindir pembicaraan sebelumnya. Hongki-pun mendelik tajam kearahku. "Masalah duet?"sahutnya. Aku mengangguk.

"Kau berniat melupakannya-kan? Tidak masalah dia duet dengan siapapun…"ucapku. Hongki beranjak dari kursinya, berjalan mendekatiku & merebahkan tubuhnya disampingku.

"Harusnya itu yang kulakukan, tapi apa aku bisa melupakannya?"gumam Hongki tanpa menatapku.

"Apa kau benar-benar mencintainya?"tanyaku lagi. Kali ini Hongki menoleh kearahku, matanya menatap lurus kedua bola mataku. Jelas sekali ada kesungguhan disana.

"Aku mencintainya, benar-benar mencintainya. Tapi…kalau memang begini akhirnya, aku akan berusaha melupakannya"aku menaikkan sebelah alisku mendengar ucapannya barusan.

Kalau benar kau mencintainya, pasti sulit bagimu untuk melupakannya. Hongki, aku sudah tahu watakmu. Aku hanya berharap kau bisa dapatkan yang terbaik.

Aku tersenyum simpul, menatap wajahnya dengan kedua mata Cassanova-ku ini.

"Iya, aku tahu. Lakukan saja hal yang menurutmu baik, aku akan mendukungmu"ucapku sambil menepuk pundaknya pelan.

"Dan sekarang giliranku yang bertanya Choi Jonghun.."ujar Hongki tiba-tiba. "Eh?"

"Sebenarnya kau serius atau tidak dengan Kazu? Di Kyoto kau begitu baik padanya, sekarang kau sudah dapat yang kau mau, tapi kau malah mengacuhkannya, sama seperti dulu. Aku tidak mengerti, ssshh…"Hongki mengerutkan dahi & mendengus pelan. Aku-pun bingung memikirkan jawabannya.

"Masalah cemburumu itu tidak hilang-hilang. Kalau kau mencintainya, katakan padanya Jong! Walaupun kau sahabatku, tapi aku tidak suka sikapmu ini…sama saja kau menyakitinya secara tidak langsung"Hongki kembali mendengus kesal. Hah? Apa sekarang dia marah padaku? (=_=)

"Hah..iya…aku juga akan coba merubah sikapku. Terima Kasih sarannya skullhong!"aku tersenyum kecil. Setidaknya agar pembicaraan ini selesai, aku sedang tidak ingin membicarakannya. Kami masih harus menyiapkan banyak hal untuk perform bulan depan.

Hongki hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama matanya-pun kembali berkutat dengan semua lirik yang tertera dikertas dan aku-pun kembali mengaransemen lagu-lagu tadi.

.

***
Author POV

.

Minhwan selesai memilih beberapa minuman & cemilan. Ia-pun bersiap menuju kasir, namun seseorang yang sejak tadi berada disampingnya tiba-tiba menghilang.

"Hyung?"Minhwan menolehkan kepalanya kesegala arah mencari Jaejin. Ia-pun melangkahkan kaki menyusuri tiap lorong berisi barang-barang belanjaan itu. Ditemukannya Jaejin berdiri didepan refrigerator besar tempat biasa menyimpan minuman dingin.

"Hyung, apa yang kau lakukan?"tanya Minhwan seraya menghampiri Jaejin. Jaejin-pun menoleh. "Ah, ini…aku sedang memilih susu…"senyumnya. (^_^)

"Susu?"Minhwan mengerutkan dahinya. Merasa sangat heran dengan ucapan Hyungnya yang tidak pernah membahas 'susu' sebelumnya.

"Ini…menurutmu lebih enak yang mana?"seru Jaejin sambil mengangkat 2 kotak susu rasa coklat & vanilla. Minhwan semakin mengerutkan dahinya.

"Kenapa tiba-tiba kau memilih susu hyung? Memangnya kau suka?"tanya Minhwan heran.

"Kemarin aku lihat Miki meminum ini, kelihatannya enak. Aku jadi ingin mencobanya"senyum lebar Jaejin.

"Miki?"heran Minhwan. Omongan Jaejin semakin tidak ia mengerti. Kenapa Jaejin hyung malah ingat Miki? Jadi dia mau membeli itu karena Miki?.

"Kalau begitu ikuti dia saja hyung…rasa apa yang dia minum.."jawab Minhwan dengan nada datar.

"Dia minum dua-duanya!"sahut Jaejin.

"Hah? Ya ampun…anak itu seperti bayi. Kalau begitu beli dua-duanya hyung"jawab Minhwan lagi dengan raut wajah agak malas.

"Tapi aku takut aku tidak suka, sayang kalau dibuang"jawaban Jaejin semakin membuat Minhwan mendengus kesal.

"Ayolah hyung~ kenapa cuma gara-gara anak itu kau jadi repot begini?"Minhwan menghela nafas panjang sambil melipat kedua tangannya.

"Bukan gara-gara Miki, Min. Tapi susu ini"Jaejin malah mengerucutkan bibir tipisnya, seakan membalas 'kebete-an' Minhwan.

"Yaish, cepat tentukan pilihanmu hyung. Aku tunggu dikasir"jelas Minhwan yang langsung berjalan menuju kasir.

Tak lama mereka-pun selesai membayar semua belanjaan. Mereka keluar minimarket sambil membawa 1 kantung plastik yang lumayan besar. Jaejin-pun membuka susu vanilla yang dipilihnya.

"Hmm…enak juga…"ucap Jaejin sambil menjilati bibirnya yang dibasahi susu. Minhwan hanya mendelik heran, terpampang juga raut wajah gusar disana.

"Semenjak bertemu dia, hidupmu jadi tak bisa lepas dari bayang-bayangnya hyung…"gerutu Minhwan yang mulai memasang tampang cemberut. Entah kenapa, ia hanya merasa gusar.

"Haha, habis dia lucu sekali. Baru kali ini aku bertemu dengan anak SMA seperti dia"Jaejin terkekeh.

"Dia bukan anak SMA hyung, dia anak SD! Sssh.."Minhwan mendengus kesal. Sepanjang perjalanan, mereka tak henti-hentinya membicarakan Miki. *Miki keselek susu kali dirumah*

"Hah…aku tidak menyangka kau sepolos itu tadi hyung. Aku kira kau sudah mengerti maksudnya, haha"Minhwan terkekeh saat mengingat aksi –menyatakan perasaan secara tidak langsung- Miki yang berakhir mengecewakan karena kepolosan hyungnya.

"Kau pikir aku sebodoh itu? Aku bukan lelaki polos"jawaban Jaejin langsung membuat Minhwan menghentikan langkahnya. "Eh?"

"Tentu saja aku tahu maksudnya"sambung Jaejin dengan nada datar. Ia kembali meminum susu kotaknya & segera membuangnya ditempat sampah saat cairan vanilla itu tak tersisa lagi.

"Kau tahu maksudnya? La-lalu kenapa kau bicara seperti itu?"heran Minhwan yang masih tak percaya dengan ucapan Jaejin barusan.

"Itu karena…aku tidak bisa menerimanya"jawab Jaejin pelan. Minhwan-pun langsung terdiam kaku mendengarnya. "Kenapa?..."

"Kenapa ya? Mungkin aku hanya belum siap. Aku tidak mau senyumnya itu hilang cuma gara-gara aku menolaknya"Jaejin terkekeh kecil. Raut wajah –tidak enak- terpampang diwajahnya.

"Kau menolaknya hyung? Bukankah kalian sangat dekat? Lagipula kau juga menyukainya-kan…"tanya Minhwan yang masih penasaran dengan penjelasan Hyungnya.

"Aku suka padanya tapi tidak seperti itu. Aku tidak bisa menyukainya sebagai seorang gadis, aku hanya menganggapnya sebagai adikku"

.

Minhwan POV

.

"Aku suka padanya tapi tidak seperti itu. Aku tidak bisa menyukainya sebagai seorang gadis, aku hanya menganggapnya sebagai adikku"entah kenapa telingaku serasa berdengung mendengar jawaban Jaejin hyung. Seakan menolak hal itu terdengar olehku.

Kau benar-benar menyukainya ya? Memaksakan diri sampai seperti ini, kau pasti sangat menyukainya

Ya! Kalau kau memang tahu, iya sudah! Tidak perlu meledekku-kan? Issh…memangnya kenapa dengan CEMBURU…

"Hyung…kau serius menolaknya?"tanyaku lagi.

"Ehm…aku memang tidak bisa membalas perasaannya…"jawab Jaejin hyung.

Anak itu…dia menyukai Jaejin hyung sampai seperti itu…

Kalau dia tahu kenyataan ini…

"Kenapa Minan? Apa ucapanku ada yang salah?"Jaejin hyung membuyarkan lamunanku.

"Ah? Hah..tidak..aku hanya berpikir, mungkin dia akan sedih kalau kau tolak"ucapku asal.

"He? Kenapa kau jadi perduli seperti ini? Bukankah banyak juga gadis-gadis yang kau tolak, tapi kau tidak pernah memikirkan perasaan mereka"Jaejin hyung terkekeh kecil. Jawabannya memang benar, seberapa banyak gadis yang kutolak, aku tidak pernah membahasnya lagi.

"Ini beda hyung. Gadis aneh itu menyukaimu, bukan aku"gerutuku pelan.

"Haha, iya sudahlah. Yang jelas jangan katakan hal ini padanya ya"pesan Jaejin hyung sambil tersenyum manis. Aku-pun hanya bisa menghela nafas & mengangguk. Kami-pun melanjutkan langkah kami kembali ke studio.

.

***
Kira POV

.

Apa kau sudah sampai dirumah? Maaf hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu, aku harus latihan untuk perform bulan depan. Aku dipilih untuk mengisi acara ulang tahun MyoungDam.

Wonbin

Aku menghela nafas melihat pesan yang tertera dilayar Handphoneku. Aku-pun segera menyetuh keypad Handphone untuk membalas pesannya.

Aku mengerti, tidak apa-apa. Aku sudah sampai rumah. Lakukan yang terbaik untuk perform-mu.

Aku melempar pelan Handphoneku keatas tempat tidur. Dengan segera kurebahkan tubuhku ini diatas kasur empukku.

"Hhh…sepertinya dia belum tahu kalau aku akan duet bersamanya"aku mendengus pelan.

"Kenapa? Kau tidak enak badan?"tiba-tiba Kazu ikut masuk kekamar dan melihatku yang berbaring seperti orang malas.

"Tidak…hanya mengantuk…"jawabku singkat sambil mengusap-usap mata dengan tangan kananku.

"Kira, Handphonemu bergetar"sahutnya saat ia melihat layar Handphoneku kembali menyala. Yah, aku juga merasakan getarannya. Pasti Wonbin yang membalas pesanku. Aku-pun mengambil dan membaca pesannya.

"Pasti dari Wonbin sunbae…"ucap Kazu yang sudah duduk disampingku. Aku hanya menganggukan kepalaku pelan.

"Hah…Wonbin sunbae itu terlihat sangat baik. Beruntung sekali kau punya pacar seperti itu, dia pasti sangat perhatian"aku-pun melirik kearah Kazu yang kelihatan lesu.

"Kenapa? Baru begitu saja kau sudah lesu…kalau si pangeran Cassanova itu bersikap dingin, kau balikkan saja lagi!"ucapku sambil kembali mengetik balasan untuk pesan Wonbin.

"Hah…aku-kan bukan kau yang dengan mudahnya bisa bersikap dingin.."keluh Kazu. (=_=)

"Ckckck…dia pasti cemburu dengan Seunghyun. Dasar si bodoh itu. Kau sudah menghubungi Jonghun?"tanyaku.

"Ditelepon tidak diangkat. Pesanku tidak dibalas. Ah…padahal waktu di Kyoto dia begitu baik, kenapa sekarang kembali dingin?..."Kazu langsung merebahkan tubuhnya disampingku seraya berkeluh kesah.

"Haish…tapi…jujur saja, aku lebih suka tipe cowok seperti Jonghun…"gumamku sambil memandang langit-langit.

"Ha? Kenapa? Kau tidak puas Wonbin sunbae?"heran Kazu yang langsung menoleh kearahku.

"Bukan…hanya saja…dia terlalu baik"jawabku. "Memang benar. Wonbin sunbae terlalu baik untukmu"Kazu langsung menyahut santai.

"APA? Jadi maksudmu aku tidak baik untuknya?"aku langsung menoleh kesal pada si Paus satu ini. (nb: Kazu sering dipanggil Paus =..=v). Kazu langsung mundur begitu melihat wajah kesalku.

"E-eh…bukan begitu! Maksudnya…sikap Wonbin sunbae itu terlalu baik padamu…kau-kan tidak suka tipe cowok seperti itu…"mendengar penjelasan Kazu, aku-pun sedikit menahan amarahku.

"Ck, darimana kau tahu aku seperti itu?"tanyaku sinis.

"Hey~ Kau pikir aku siapa? Tentu saja aku mengenalmu. Kau itu tidak suka dengan cowok penebar pesona, cowok yang bersikap terlalu baik kau juga tidak suka. Kau tidak suka dikirimi pesan yang hanya berisi salam atau sekedar bertanya Apa kabar? Sedang apa? Apa kau sudah makan?, kau tidak suka perhatian lebih seperti itu. Kau juga tidak terlalu suka ditelepon lama-lama hanya untuk ngobrol, karena kau tidak suka banyak bicara. Kau memang lebih suka dengan tipe yang seperti si Cool Prince itu…"gerutu Kazu diakhir penjelasannya. (=x=)

Hmm…ternyata dia mengenalku sejauh itu. Ah, tentu saja! Kami teman dekat, jelas saja kalau sudah saling kenal satu sama lain.

"Tapi…bagaimana kalau aku jatuh hati dengan si penebar pesona & si baik?"gumamku pelan.

"Ha? Apa? Kau bilang apa tadi?"sepertinya Kazu tidak mendengar ucapanku barusan.

"Bagaimana…kalau aku jatuh hati pada keduanya?"lanjutku. Kazu diam sejenak, ia menatapku bingung.

"Ha? Bisa kau ulangi kata-katamu? Aku masih tidak mengerti"bingung Kazu sambil mengerutkan dahinya. Yaish! Di saat begini otak jeniusmu malah macet!

"Aah…tidak-tidak…tidak usah dibahas lagi. Aku mau tidur…"belum sempat aku mengatur posisi untuk tidur, tiba-tiba saja pintu kamar kami terbuka membuat cahaya lampu ruang tamu menyilaukan mataku.

"Kiraaaaa~ bantu aku membuat nasi goreng~"rengek Miki yang berdiri dipintu.

"Ha? Nasi goreng? Tidak mau! Masak sendiri sana, aku ngantuk!"tolakku mentah-mentah. Tapi memang dasar keras kepala, dia malah menghampiriku.

"Aku tidak bisa~ Ayolah, aku lapar"bujuknya lagi.

"Lagipula kenapa jam segini kau belum tidur?"tanya Kazu yang masih terjaga disampingku.

"Aku masih melanjutkan fanfiction, kebetulan ada ide.."jawabnya santai. Aish..mulai lagi otak 'penghayal'-nya.

"Kalau begitu masak yang kau bisa. Di kulkas ada telur & sosis"ucapku sambil menawarkan alternatif lain.

"Ck, padahal aku mau nasi goreng. Iya sudah, Kazu! Temani aku masak! Aku takut sendirian"kali ini giliran Kazu yang menjadi incarannya.

"Tidak mau! Aku sudah ngantuk! Kau didalam kamar mengetik sampai subuh saja berani, masa masak sendiri tidak berani?"gerutu Kazu yang juga menolak permintaan Miki.

"Itu beda. Kalau dikamar aku berani, tapi kalau ditempat lain aku takut! Ayolah temani aku!"pintanya sambil merengek lagi.

"MIKIIII!"suaraku & Kazu-pun melengking bergema memenuhi seluruh ruangan(?) *lebay*

"Yaish…iya sudah!"Miki-pun mengerucutkan bibirnya & keluar dari kamar kami. Malam itu-pun terlewati. *Miki ciut*

.

***
Kazu POV

.

Hey, aku Kazu… Mungkin tak perlu kujelaskan. Aku kekasih salah satu Pujaan Sekolah ini, ya. Choi Jonghun.

Seseorang yang terlihat ramah pada semua wanita (tapi tidak denganku). Seorang Cassanova yang mampu membuat beberapa bahkan seluruh gadis-gadis yang mengenalnya berbondong-bondong mengejarnya layaknya Idola.

Mungkin jika mereka tahu kenyataanya, mereka pasti membenciku, karena aku telah merebut Mr. Cassanovanya. Itu karena cinta kami sama, cinta seorang gadis pada pemuda. Yang bedanya dia membalas cintaku sedangkan mereka tidak..

(Walaupun cintaku terbalas, tapi kurasa… nasibku lebih buruk dibanding mereka)

Saat Jonghun menjadi Kekasihmu, jangan pernah harapkan waktu berdua karena dia lebih memilih waktu untuk berlatih & mengkomposisikan lagu serta belajar.

"Jonghun!"berapa kali-pun kupanggil, dia tetap tak bergeming. Jangankan menyahut, menoleh saja tidak. Terpaksa aku juga yang harus menghampirinya. Sebelum itu kulihat sekeliling, tidak banyak orang disini. Bisa saja dia makin marah kalau aku terus-terusan meneriaki nama bahkan mengejarnya didepan murid-murid lain. Mereka pasti berpikir –ada hubungan apa Choi Jonghun dengan gadis Jepang ini-

"Jonghun, tunggu dulu.."dengan segera kuraih tangan kirinya. Menggenggam erat supaya ia tidak lari lagi. Namun tak lama kusadari satu hal ditengah-tengah nafasku yang tersengal karena berlari, dia sedang marah sekarang, Apa pantas aku melakukan ini?

"Ah…"segera kulepaskan tanganku. Ia-pun membalikkan badan, menatapku datar.

"Apa?"tanyanya singkat. Aku melirik kearah kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain lagi disini selain kami berdua.

"Jonghun…kemarin…Seunghyun-…"

"Aku tidak mau membicarakannya disini"belum sempat kujelaskan apapun, ia sudah menolak omonganku lebih dulu. GOD, aku harus bersikap seperti apa menghadapi Pangeran ini?

"Ng, ba-baik…aku mengerti. Kau pasti tidak mau hubungan kita diketahui oleh yang lain…"Jonghun mengerutkan dahi, menatapku heran setelah mendengar ucapanku.

"Pulang sekolah nanti, bagaimana kalau kita pergi berdua? Akan kujelaskan semuanya…aku minta waktumu"aku memohon dengan sangat padanya. Berharap kali ini dia mau mendengarku.

"Maaf. Aku ada latihan, mulai sekarang aku sibuk"ucap Jonghun dingin. Aku-pun hanya bisa terdiam pilu termakan oleh sikap ego-nya. Seakan tidak perduli, dia-pun pergi meninggalkanku.

.

***
Author POV

.

"Miki! Kau serius tidak mau ikut kekantin?"tanya Soyeon berulang kali. Jelas saja, Miki menolak ajakannya untuk makan siang sejak tadi., sejak pelajaran musik selesai.

"Tidak-tidak, sudah kubilang tidak. Aku mau disini saja"ucap Miki yang masih terpaku diam didepan piano yang berdiri cantik dihadapannya.

"Kau benar-benar tertarik dengan benda itu? Serius tidak mau membeli roti di kantin?"kali Yoona ikut membujuk Miki yang tetap menggelengkan kepalanya.

"Huh…baiklah, kami kekantin sekarang. Jangan salahkan kami kalau jam pelajaran siang nanti kau kelaparan"gerutu Soyeon yang langsung menarik tangan Yoona keluar dari ruang musik.

Kini hanya Miki sendiri yang berada diruang musik. Ia sudah minta ijin pada guru sehingga ia diperbolehkan untuk tetap berada diruang musik. Sekedar hanya untuk memainkan benda yang sudah dinanti-nantinya sejak tadi.

"Yeah! Akhirnya aku bisa menyentuh benda ini!"girang Miki sambil menyentuh tuts-tuts piano cantik itu.

"Yaaa~ Aku gugup…aku sudah lama sekali tidak memainkannya~ Senang sekali bisa menyentuh benda ini lagi~"Miki masih berseru dengan dirinya sendiri.

Ia-pun mulai menekan-nekan tuts sehingga mengeluarkan bunyi dari si piano cantik.

"Ah…aku bingung mau memainkan lagu apa…"gerutu Miki yang masih memainkan tuts itu secara acak, tak mengalunkan sebuah lagu sedikitpun.

Tiba-tiba ditengah kegusarannya, pintu ruang musik terbuka lebar & masuk seseorang yang sangat familiar.

"Eh? Ada orang?"kaget orang itu yang tak lain adalah Jonghun. Miki-pun tak kalah terkejut. "Jonghun sunbae…"

"Ng…Miki?"Jonghun menebak-nebak nama gadis Jepang dihadapannya itu. Miki-pun mengangguk.

"Apa yang kau lakukan disini?"tanya Jonghun seraya berjalan mendekati Miki yang masih duduk manis didepan piano.

"Main piano"jawab Miki singkat. Jonghun-pun menaikkan alisnya, mengingat sebelum masuk tadi ia mendengar suara-suara aneh(?) piano yang tidak menunjukkan sebuah lagu sama sekali.

"Memangnya kau bisa memainkannya?"tanya Jonghun lagi. "Tidak!"jawab Miki santai.

"Lalu…?"Jonghun-pun ikut dibuat bingung oleh tingkah Miki.

"Aku tidak bisa memainkan ini, tapi aku suka. Aku sudah menunggu-nunggu kesempatan bermain piano lagi sejak pertemuan pertama pelajaran musik, tapi baru hari ini kami praktek dengan piano. Karena itu aku minta ijin pada guru untuk memainkannya usai pelajaran"jelas Miki. Jonghun hanya mengusap-usap dagunya pertanda ia sedikit mengerti dengan penjelasan Miki.

"Kau bilang bermain piano lagi? Bukankah kau tidak bisa memainkannya?"tanya Jonghun lagi.

"Dulu waktu kecil aku pernah diajari sedikit oleh Kakekku. Kalau saja aku terus belajar, aku pasti bisa memainkan benda ini. Tapi sejak Kakekku meninggal, aku berhenti main piano"jelas Miki lagi. *kenapa jadi curhat Mik?*

Jonghun-pun kembali mengangguk pelan mendengar ucapan Miki.

"Tapi aku bisa memainkan satu lagu"sambung Miki. Jonghun-pun membelalakan matanya saat melihat Miki mulai memainkan tuts itu kembali. Menciptakan sebuah lagu yang terdengar sangat indah. "Uuuu~…u…u…u….u.."

Totemo ureshikatta yo (I was so happy, you were laughing)
kimi ga warai kakede ta (With a smile that melts everything away)
Subete o tokasu chou emi de (Spring is still far away inside the cold earth)

Haru wa mada tookute (Waiting for the time to sprout)
tsumetai tsuchi no naka de (For instance, even if today is painful)
Me fuku toki o matte ta 'n da (And yesterday's wounds remain)

Tatoeba kurushii kyou da to shite mo
Kinou no kizu o nokoshite ite mo
Shinjitai kokoro hodo ite yukere to(I want to believe that I can free my heart and go on)

Umare kawaru koto wa dekinai yo (I cannot be reborn)
Dakedo kawatte wa ikeru kara (But I can change as I go on, so)
LET'S STAY TOGETHER itsu mo (Let's stay together always)

Jonghun tercengang. Permainan piano Miki memang jauh dari kata sempurna, ia menekan tuts hanya untuk mengiringi lagu. Tapi entah kenapa Jonghun tetap tidak bisa bilang hal itu tidak bagus.

Suaranya tidak bagus, tapi tidak bisa kubilang jelek juga. Yang jelas cocok sekali ia menyanyikan lagu itu. Apalagi dengan permainan piano seperti itu –batin Jonghun-

"Kau hanya memainkan tuts sesuai lagunya. Bukan menjadi background untuk lagunya"komentar Jonghun sambil melipat kedua tangannya & menatap Miki tajam.

"Kan sudah kubilang…aku tidak bisa bermain piano…aku hanya bisa seperti itu.."gerutu Miki sambil mengerucutkan bibirnya didepan Jonghun.

"Tadi kau bilang kau bisa memainkan 1 lagu, kupikir kau memang bisa memainkannya. Tapi tadi tidak jelek juga…"ujar Jonghun.

"He? Benarkah? Ah! Su-sunbae bisa main piano-kan? Aku baca disitus Island Boys, sunbae dulu selalu jadi juara!"seru Miki tiba-tiba saat ia mengingat sejarah Jonghun.

"Island Boys? Ckck, ternyata kau membaca situs seperti itu juga toh…"Jonghun mengeleng-gelengkan kepalanya heran.

"Sunbae, bisa ajari aku main piano?"pertanyaan Miki langsung membuat Jonghun terkejut. "Mengajarimu?"kaget Jonghun.

"Iya, aku ingin sekali memainkan benda ini lagi. Minimal 1 lagu bisa aku mainkan aku juga sudah puas, tolong ajari aku~ aku ingin bisa memainkan lagu tadi dengan benar"Miki memohon sambil menepuk kedua tangan didepan wajahnya.

"Ajari saja Jong. Sayang sekali kalau dia tetap berakhir dengan permainan seperti tadi"tiba-tiba suara seseorang ikut menyahut dalam pembicaraan mereka.

"Hongki sunbae?"kaget Miki saat melihat Hongki masuk sambil bertepuk tangan kecil pertanda ia memuji permainannya barusan. Tak lama setelah Hongki masuk, seorang lagi pujaan sekolah yang tak lain adalah Minhwan, ikut melangkah kedalam ruang musik. Ia hanya menundukkan kepala dengan raut wajah tak tentu.

"Kalau kau mengajarinya, mungkin dia bisa tampil saat acara ulang tahun MyoungDam"sahut Hongki lagi.

"Eh? aku tampil?"Miki membelalak tak percaya. Hongki-pun tersenyum pada hoobaenya itu. "Aku suka lagunya, walaupun aku tidak mengerti artinya. Minhwan saja sampai tercengang didepan pintu tadi, hahaha"Hongki terkekeh sambil menunjuk-nunjuk Minhwan yang ada disampingnya.

"Ya! Hyung! Kau bicara apa? Siapa yang tercengang, Cih!"elak Minhwan sambil membentak-bentak Hongki. Namun ia langsung terdiam saat Hongki menjitak kepalanya. *nasib magnae*

Miki hanya bisa menganga heran melihat keakraban(?) 2 pujaan sekolah itu.

"Kau mau kuajari?"Miki-pun kembali menoleh kearah Jonghun saat ia bertanya padanya. "He? Sunbae mau mengajariku?"

"Tapi dengan syarat…"

"Eh?"

.

***
Kira POV

.

Aku menatap sinis kertas yang berada ditanganku. Kertas berisikan segala hal yang berhubungan dengan acara Ulang Tahun MyoungDam bulan depan.

Srakk.. Srakk..

Kubolak-balik beberapa lembaran itu. Dan tanganku berhenti dilembar ke-3. Mengerutkan dahi, mengerucutkan bibir kemudian menggigitnya, mendengus sebal & menghela nafas. Itulah ekspresiku saat melihat NAMAku benar-benar tertera disana.

Akegawa Kira, 1-F

Exchange Student from Higashi Gakuen - Japan

Perform : Singing (Duet with Oh Wonbin, 3-E)

"Ketua OSIS itu…dia benar-benar memasukkan namaku!"ucapku geram. Ini pertama kalinya aku tampil diatas panggung, selama ini aku tidak pernah ketahuan suka bernyanyi.

Kazu… Miki… ini gara-gara kalian juga!

Tapi tidak bisa kusalahkan mereka juga. Salah satu dari kami memang harus tampil, kalau tidak Higashi Gakuen akan sangat kecewa. Itulah alasan yang membuat kakiku melangkah menuju kelas khusus yang sudah disediakan bagi para peserta untuk latihan selama 1 Bulan ini. Tapi bukan kelas itu yang menjadi tujuanku sekarang. Wonbin sudah menungguku dikelas lain.

Jaejin juga yang menyuruhku untuk segera menemui Wonbin disana. Kuhentikan langkah kakiku didepan pintu kelas yang sudah siap kubuka itu.

"…maukah kau menyanyikan lagu duet bersamaku?"

"Eh?"aku tersentak saat mendengar suara seseorang wanita didalam sana. Apa ada peserta lain? Bukankah hari ini hanya aku & Wonbin yang memakai kelas ini? Kuurungkan niat untuk membuka kenop pintu tersebut, aku mengintip pada jendela kecil yang tergabung dengan pintu kelas itu.

"Won…bin…"

.

***
Wonbin POV

.

Wonbin….aku juga menyukaimu…

Aku terpaku diam sambil terus memangku gitar akustikku. Jika kalian adalah diriku sekarang, mungkin bisa terbayangkan seberapa senang perasaanku karena akan berduet dengan orang yang kusayangi. Terlebih lagi orang itu adalah kekasihmu sendiri.

Seharusnya aku sesenang itu…

Tapi…masih ada perasaan ragu didalam sini… Didalam Hati…

Apakah kekasihmu itu benar-benar menyukaimu?

Arigatou to kimi ni iwareru to nandaka setsunai
Sayounara no ato no tokenu mahou awaku horonigai
The flavor of life...

Tomodachi demo koibito demo nai chuukan chiten de
Shuukaku no hi wo yumemiteru aoi furu-tsu
Ato ippo ga fumidasenai sei de
Jirettai no wa nande, baby?

SRAKK.

Suara pintu yang terbuka membuat nyanyian & permainan gitarku terpaksa berhenti. Seseorang-pun ikut masuk bergabung denganku dalam ruangan ini.

"Kau datang juga Ki-…"aku tercengang saat kulihat seorang gadis berdiri disana. Bukan Kira. Gadis itu menatapku dengan kedua mata bulatnya. Berdiri diam sambil memberikan senyum manisnya.

"Oh Wonbin sunbae?"sapa gadis itu dengan ramah. Aku-pun membenarkan posisi pangkuan gitarku dan mengangguk pelan. "Iya, kau siapa?"

"Namaku Han Eybin dari kelas 1-D"senyum gadis itu seraya berjalan mendekatiku. Aku-pun membalas senyumnya. Ia berhenti dengan jarak yang 'sedikit lebih' dekat dihadapanku.

"Aku juga akan mengisi acara bulan depan. Sunbae…maukah kau menyanyikan lagu duet bersamaku?"aku tercekat mendengar ucapannya barusan, terlebih lagi ia bicara sambil menggenggam erat kedua tanganku sekarang.

"Du-duet? Tapi aku-…"

SRAKK.

Pintu-pun kembali terbuka, ucapanku terhenti saat kulihat Kira berdiri disana. "Kira?"

Gadis bernama Eybin itu ikut menoleh. Kira mengerutkan dahinya dan menatapku tak percaya.

"Wonbin… Apa yang kau lakukan?"

.

To Be Continued..

Now Playing : FT Island – Heartache

.

Hello.. Hello..

Gimana dengan part 15 ini? Lebih banyak dari biasanya. Aigoo… Ini FF kapan tamatnya ya? Aku pengen cepet-cepet tamat (=_=)

Kalau ada yang mau komen, di Part ini boleh tanya beberapa hal? (^_^)

.

Couple Favorit siapa? (Bukan Untuk YAOI!)

Tokoh yang paling disuka & tidak disuka?

Happy End? Sad End? Gantung(?) End?

.

Itu aja, selebihnya kalau mau komen pake bahasa sendiri kaya biasanya juga gapapa

Gomawo~ (^_^)

.

Ada yg tau lagu Jepang yang dinyanyiin Wonbin?