Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana perasaan mereka berdua, bahkan saking antusiasnya Lay lupa dengan keberadaan tombol emergency dan lebih memilih berlari keluar untuk segera memanggil dokter.
Sedangkan Junmyeon dan Yixing hanya bisa saling menatap sambil tetap menautkan genggaman masing-masing. Yixing menatap Junmyeon dengan pandangan lemasnya sedangkan junmyeon mulai mengembangkan senyumnya ditengah keadaan matanya yang mulai lembab.
"Hai..."
.
.
.
.
.
.
Title : ASTRAY
Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)
Rate : real M
Main Cast :
Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.
Desclaimer :
Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.
Warning :
"NC INSIDE" I told You
Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.
... bacanya pelan-pelan ya, hihihi ...
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Junmyeon terus memandangi mata setengah terbuka itu –yang kelihatannya juga sedang menatapnya- dengan binar bahagia. Tapi demi cicilan mesin cucinya yang baru lunas bulan lalu, Junmyeon merasa awkward sekarang karena dia baru sadar kalau sapaannya barusan terdengar menggelikan apalagi daritadi Yixing melihatnya tanpa ekspresi, tanpa respon dan tanpa kedipan sama sekali. Huhh... mungkin Yixing sedang menganggapnya aneh sekarang, harusnya tadi dia lari saja bersama Lay.
Sreekk
Junmyeon mengucap syukur dalam hati karena akhirnya dia punya alasan untuk lepas dari tatapan Yixing yang mengintimidasi.
"permisi tuan, dokter akan memeriksa pasien jadi pengunjung diharapkan keluar." Ucap seorang wanita berpakaian perawat.
"ya, baiklah."
Junmyeon keluar ruangan dan melihat Lay duduk di kursi tunggu depan ruangan Yixing sambil menundukkan kepalanya.
"kenapa tadi kau malah berlari keluar?" Junmyeon duduk di sebelah Lay yang membuat pria yang lebih muda darinya itu agak terkejut.
"oh, kau diusir perawat ya?" canda Lay dan mereka tertawa bersama. "sebenarnya aku juga tidak tau kenapa aku malah berlari keluar padahal ada bel emergency. Aku hanya terlalu bahagia dan ingin berteriak."
"kau berteriak di ruang dokter?" . Lay menjawab dengan anggukan malu sambil menggaruk dahinya.
Aiiihh... kalau tidak ingat Lay punya orang lain sudah Junmyeon peluk itu daritadi. Mengingat hal itu Junmyeon mendengus.
"eh Junmyeon, boleh aku bertanya sesuatu?"
Junmyeon mengangguk, "silahkan."
"menurutmu. Apa aku ini cocok dengan Sehun?"
Mata Junmyeon memicing perlahan. Dari sekian banyak pertanyaan tidak penting didunia ini kenapa Lay harus bertanya masalah itu, sudah pastilah Junmyeon akan menjawab-
"cocok kok." –BOHONG.
"benarkah?, asal kau tahu saja Sehun dulu punya kedekatan yang cukup spesial dengan Yixing, bahkan setelah kami pacaran banyak teman-teman kami yang tidak percaya. Mereka menduga kalau cepat atau lambat Sehun mungkin akan berpacaran dengan Yixing. Jadi aku bertanya padamu, sebagai orang awam kau mungkin lebih obyektif."
"huh... bagaimana mungkin aku akan mengatakan kalian tidak cocok setelah kalian membuatku iri dengan kemesraan kalian." –nah, yang iri itu baru jujur dari palung hati.
Lay tertawa kecil. "oh ya?, tapi aku juga iri kau bisa sebegitu romantisnya pada Yixing. Sehun saja belum pernah seperti itu."
Junmyeon agak bingung kali ini, "memangnya... aku melakukan apa pada Yixing?"
"apa kau penderita alzeimer?, barusan kata-katamu sungguh meyakinkan tapi sekarang kau lupa?. Tapi, oooh... tunggu dulu. Kalau kau bisa sampai tak menyadari begitu itu artinya semua berada dalam kendali alam bawah sadarmu. Jadi, selama ini kau menyukai Yixing? Kau menyukai Yixing sejak pertama bertemu?, hah?"
Junmyeon bingung harus menjawab apa. Disamping dia bingung kenapa dia bisa bicara sehalus dan selancar itu pada Yixing (Junmyeon ingat apa yang dia katakan sebenarnya) tapi dia juga tidak tau tentang perasaannya, dia menyukai Lay meski Lay sudah punya pacar dan yaa jujur saja sih kalau Junmyeon juga –sedikit- tertarik pada Yixing meski ia belum mengetahui lebih banyak tentang Yixing.
Sreekk...
Lay masih setia menunggu Junmyeon yang tiba-tiba melamun sampai akhirnya pintu kamar Yixing dibuka dengan keluarnya para tenaga medis yang tadi memeriksa Yixing.
"ah, dokter. Bagaimana keadaan Yixing?" Lay langsung berdiri menghampiri sang dokter diikuti junmyeon yang mendadak sadar dari lamunannya.
"kondisinya baik-baik saja. Tapi dikarenakan dia mengalami cidera cukup parah di pinggangnya sebelum koma dan belum sempat mendapatkan terapi apapun jadi kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan sementara dan lagi, karena pasien koma memiliki sedikit aktivitas otak di wilayah precuneus nya jadi besar kemungkinan pasien akan melupakan banyak hal. Jadi untuk saat ini jangan terlalu memaksa pasien untuk berkomunikasi atau mengingat hal-hal yang berat. dia harus menjalani masa pemulihan untuk beberapa hari kedepan."
Lay mengangguk lega, lega karena keadaan Yixing yang dijelaskan dokter barusan hanya bersifat sementara. Wajar untuk orang yang hanya terbaring dan tidur selama setahun, Lay saja yang pernah dirawat inap hanya sepekan mengeluh seluruh badannya kaku semua.
"baiklah kalau begitu kami permisi dulu." Sang dokter pamit dan langsung dipersilahkan oleh Lay dan Junmyeon.
Tanpa disuruh Lay langsung masuk ke ruangan Yixing dan meninggalkan Junmyeon yang terpaku kembali di depan pintu kamar Yixing yang sudah tertutup. Bukannya dia tidak ingin masuk atau menunggu diajak oleh Lay. Dia tiba-tiba teringat perkataan Min Seok waktu itu yang mengatakan kalau saat astray itu kembali dan sadar maka kemungkinan ia bisa melupakan apa yang terjadi padanya saat di dunia lain itu dan barusan dokter juga mengatakan kalau kemungkinan besar pasien akan melupakan banyak hal.
Jadi dia harus bagaimana?, pamit pulang saja pada Lay dan menyudahi sampai disini?, tapi kalau seperti itu kenapa dia merasa pecundang sekali hanya karena dokter bilang Yixing akan melupakan banyak hal sedangkan ia berharap Yixing akan mengingatnya. Tapi, hey... kau dan Yixing hanya bertemu di dimensi yang berbeda, mimpimu sendiri saja kau sering lupa.
Sreekk...
"oh, astaga." Lay berjengit mundur karena kaget. "ya ampun, kenapa kau berdiri disitu? , maksudku, kenapa kau tidak masuk dan malah hanya berdiri disitu?"
"aku... aku juga tidak tau kenapa hanya berdiri disini."
"dasar konyol. Ayo masuk, kau tidak ingin menyapa Yixing?, kau bilang kau menyukainnya."
"hah?, kapan aku bilang begitu?"
"tadi, matamu yang mengatakannya."
Junmyeon berkedip dua kali dengan wajah blo'on. Begitukah?
"aish.. kau ini kenapa sih? Kau tidak mau bertemu dengan Yixing ya?"
"tidak tidak... bukan begitu. Aku hanya khawatir kalau Yixing takut bertemu denganku karena aku orang asing."
"lucu sekali. Kau pikir Yixing korban penculikan dan dia mengalami trauma?. Ayolaah, kau kan datang bersamaku jadi Yixing tidak mungkin takut." Tanpa menunggu alasan Junmyeon lagi, Lay menariknya masuk ruangan.
"Xing, ini teman yang aku ceritakan tadi. Namanya Junmyeon." ,detak jantung Junmyeon seakan menembus dadanya. Entah kenapa dia ingin sekali mendengar Yixing mengucapkan "Junmyeon?, aku pernah bermimpi bertemu seseorang bernama Junmyeon. Apa kau orang yang ada di mimpiku itu?" tapi-
"aku tidak ingat pernah bertemu dia." Jawab Yixing dengan suara paraunya dan mata sayunya.
-sigh- yaa... harapan junmyeon yang terlalu muluk-muluk.
Lay melihat kearah Junmyeon sambil tersenyum maklum dan kembali menatap Yixing. "nanti kau pasti akan tau."
Drrtt...drrtt...
"oh, sebentar. Iya halo... sekarang?...oke baiklah... tidak apa-apa ada Junmyeon disini... baiklah, sampai jumpa." Lay menutup sambungan ponselnya dan berjalan buru-buru kearah tas punggungnya yang ia letakkan di sofa khusus pengunjung diruangan Yixing.
"kau mau kemana?" tanya Yixing bingung dengan Lay
"aku ada pertemuan penting, Xing. Maaf aku tidak bisa lama-lama menemanimu, kau tidak keberatan kan kalau ku tinggal bersama Junmyeon?"
"apa dia orang yang baik?" Yixing berkata lirih
"percaya padaku, kalau sampai dia melukaimu sedikit saja aku akan jadi orang pertama yang menemukannya dan meremukkan tulang rusuknya." Junmyeon menelan ludah. Meski hanya sebuah kata yang keluar dari mulut orang manis seperti Lay, tapi tetap saja mengerikan.
"baiklah. Hati-hati di jalan ya..."
"ne. Kau istirahat yang baik dan selalu turuti perkataan dokter, mengerti?"
Yixing hanya menganggukkan kepala lemah sebagai jawaban dan setelah itu Lay pamit tanpa mempedulikan atau minimal bertanya apakah Junmyeon setuju atau tidak untuk menjaga Yixing sendirian. "Lay benar-benar gila..."
Yixing diam, dan Junmyeon apalagi. Menyapa duluan dan bertingkah SKSD? Atau tunggu saja Yixing yang ngomong duluan tanya ini itu tentang Junmyeon?.
"ouwh my goodness, perasaan dulu waktu pertama kali presentasi rasanya tidak segugup ini. Aku hanya perlu bicara dengan satu orang. Tolong aku dewa..."
"jadi, kau ini ada hubungan apa dengan Lay?"
"demi wajah tampanku(?), terima kasih Tuhan akhirnya kau menyentuh hatinya untuk bicara duluan."
"aku..ee... tidak ada hubungan apa-apa. kami hanya teman."
"apa kau pernah atau sedang menyukai Lay?"
"aihh... apa Yixing satu family dengan Min Seok? Bisa membaca pikiran orang? Tidak, mungkin dia bisa mengetahui masa lalu seserorang."
"kau diam?, apa kau sedang berpikir bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu padahal kita baru pertama kali bertemu?"
Junmyeon sudah akan memberi klarifikasi saat dia sadar telinganya menangkap nada ganjil dari suara Yixing. Nadanya terlampau dingin dan Junmyeon baru tau kalau mata Yixing yang sayu itu berubah menusuk.
"memangnya kenapa?" tanya Junmyeon penasaran
"kalau memang benar seperti itu, pergilah. Aku tidak masalah kalau harus disini sendirian." Masih dingin dan tajam.
Kalau Junmyeon boleh terlalu percaya diri, apakah Yixing ini sedang tidak rela kalau dirinya menaruh perasaan pada Lay?, cemburu begitu?. Kalau benar, Junmyeon janji minggu depan ia akan pulang kerumah orang tuanya dan berterima kasih karena sudah melahirkannya dengan wajah setampan ini.
Junmyeon menggaruk tengkuknya. "eumm, aku tidak paham kenapa tiba-tiba kau begini dan apa maksudmu tapi... entahlah mungkin hanya menurutku saja kalau, kau seperti punya masalah dengan Lay?"
"bukan urusanmu." Yixing menghindari tatapan Junmyeon dengan menengok kesamping berlawanan dengan posisi Junmyeon.
"kupikir kalian sahabat dekat."
"aku tahu. Semua orang juga bilang begitu."
"lalu, apa masalahnya?"
"masalahnya adalah..." suara Yixing melunak, "semua orang menyukainya."
Junmyeon terdiam karena dia juga tidak tau harus berkomentar apa.
"yang lebih menyebalkannya lagi karena wajah kami yang mirip mereka selalu membandingkan kami tentang siapa yang lebih baik." Yixing menghembuskan nafas kasar. "dan sialnya, semua bilang Lay lebih baik. Dia manis, ramah, punya banyak teman dan murah senyum. Sedangkan aku hanya bayangan hitamnya yang tak akan pernah menjadi putih."
Junmyeon terenyuh. Apa Yixing sedang mengigau? Atau memang ada sebuah rahasia besar diantara persahabatan mereka yang -Junmyeon dengar dari cerita Lay- begitu indah?
"apa Lay tau hal ini?"
"kalau dia tau aku tidak mungkin berakting baik dan berharap dia disini lebih lama. Sejujurnya aku bersyukur dia bisa cepat pergi dihari pertama aku sadar."
Perasaan Junmyeon agak perih mendengar kenyataan tersebut. "apa hanya karena masa lalu itu?, Lay bahkan rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk menjagamu sepanjang hari dan dia berharap dia bisa mendampingimu saat kau tersadar untuk pertama kalinya. Dia sangat ingin bertemu denganmu tapi kau menolaknya? Harusnya kau sadar saat orang lain mengatakan Lay lebih baik daripada dirimu, itu memang kenyataan karena sikapmu yang seperti ini."
"kau tau aku tidak mungkin marah dan berteriak dalam keadaan lumpuh seperti ini." Kalimat Yixing penuh dengan penekanan ditiap katanya, Yixing berbicara dengan gigi mengatup menahan emosi. "jadi jika kau masih punya hati untuk tidak membuatku semakin sakit, kuharap kau mau pergi sekarang juga."
Junmyeon gelagapan. Dia mengutuk mulutnya yang tidak bisa dikontrol. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Junmyeon punya gambaran jika Yixing sadar dia juga ingin ikut merawat Yixing, mendampingi Yixing sama seperti yang Lay lakukan selama ini. Tapi sama sekali tidak terpikir olehnya jika percakapan pertamanya dengan Yixing sudah menimbulkan permasalahan. Dia tau dia terlalu kasar pada Yixing.
Merasakan suasana yang hening yixing kemudian menolehkan kepalanya dan melihat Junmyeon terpaku menatap Yixing.
"kenapa masih disitu?, kubilang kau-mmhhp"
Junmyeon sadar ini hal gila, tapi dia juga tidak tau kenapa dia sangat ingin melakukan hal ini.
Tak ada perlawanan, junmyeon tau itu karena Yixing tak akan bisa memberontak jadi satu-satunya hal yang dilakukan Junmyeon adalah menekankan bibirnya pada bibir Yixing hingga seakan-akan kepala Yixing melesak ke bantalnya.
Beberapa detik dan perlahan Junmyeon membuka matanya yang langsung berhadapan dengan iris Yixing yang tak bisa ia jelaskan maknanya, dia sedikit melonggarkan tekanan bibirnya agar bisa menyampaikan sesuatu.
"Lay memang orang yang paling menginginkanmu kembali. Tapi mulai sekarang kau juga harus tau bahwa aku pun memiliki keinginan yang sama meski aku tak mengenalmu. Aku tak akan berbohong kalau aku tertarik padamu tanpa kusadari. Jadi sekarang semuanya akan berubah, kalau kau benci tersadar hanya untuk bertemu lagi dengan Lay maka selanjutnya kau harus bahagia karena sudah tersadar dan bisa bertemu denganku. Kau mengerti?" , Yixing bergumam lirih, entah apa artinya tapi Junmyeon punya feeling Yixing menyetujuinya.
Dan sekali lagi Junmyeon menciumnya, tidak hanya menempel. Perlahan bibir Junmyeon bergerak untuk menyesuaikan diri. Dia melumat perlahan satu per satu belahan bibir Yixing sambil membasahinya, bibir Yixing sedang kering tentu saja. Junmyeon menelengkan kepalanya ke kanan dan mengusap poni Yixing yang menutupi dahinya.
Lumpuh bukan berarti Yixing tak bisa bergerak sama sekali. Perlahan ia menggeser lengan kirinya yang terkulai diatas ranjang dan menyentuh lengan kanan Junmyeon yang ia gunakan sebagai penyangga badannya. Sedikitnya Junmyeon tau apa maksud Yixing dan dia meraih kedua lengan Yixing untuk kemudian dia lingkarkan ke tengkuknya, sementara kedua lengannya sendiri ikut menelusup kebelakang punggung Yixing dan melingkari tengkuk Yixing agar mereka bisa saling memperdalam invasi masing-masing karena Yixing mulai membuka akses masuk untuk Junmyeon. Merasa tak perlu minta ijin karena jalur sudah dibuka, Junmyeon pun melesakkan lidahnya dan langsung menghisap lidah Yixing dengan sensual.
"engghh..."
Oh, shit. Junmyeon mabuk kepayang saat mendengar suara merdu itu datang dari orang yang sekarang ini paling dia inginkan. Ditengah kekacauan otaknya dia merasa menang sekarang karena sudah menjadi tersangka, bukan lagi seorang saksi yang hanya tak sengaja melihat Baekhyun sedang nganu dengan pacarnya di apartemen Baekhyun beberapa waktu yang lalu.
Junmyeon masih mendominasi permainan meskipun Yixing berusaha membalas. Junmyeon berhenti saat Yixing berusaha melawannya, namun hanya sesaat karena Yixing akan berhenti dengan sendirinya dan Junmyeon akan kembali mengambil alih. Begitu seterusnya sampai lewat beberapa menit dan tiba-tiba Yixing menggaruk tengkuk Junmyeon. Junmyeon yang merasa geli akhirnya melepas kontak lidah mereka dan mengerutkan lehernya.
"ada apa?"
"aku juga perlu bernafas."
"kau kan pakai selang oksigen, kenapa sampai kesulitan benafas?"
"aku tidak bisa konsentrasi pada dua hal sekaligus. Menghirup oksigen sementara aku harus fokus dengan gerakan bibirku. Lagipula hidungmu terlalu dekat, karbondioksida yang kau keluarkan ikut terhirup olehku."
"begitukah?" Junmyeon menanggapi dengan serius
"apa kau harus sedekat ini?, kau tidak pegal duduk sambil menelungkup seperti ini?"
"ya, memang harus sedekat ini. Bahkan kalau aku mau aku bisa lebih dan lebih lagi dekat denganmu." Ucap Junmyeon setengah berbisik, meletakkan kembali lengan Yixing yang masih melingkari tengkuknya ke tempat semula lalu ikut membaringkan kepalanya berbagi bantal dengan Yixing meski ia masih dalam posisi duduk.
"kau belum menjawab pertanyaanku tentang apa kau pernah atau sedang menyukai Lay."
"iya aku menyukainya."
"brengsek. Lalu kenapa kau melumatku?"
"agar kau tau dan yakin bahwa aku sudah tidak tertarik lagi dengannya." Junmyeon melingkarkan satu lengannya diatas perut Yixing.
"jadi saat kau tertarik pada seseorang kau akan melakukan itu?, apa kau juga melakukannya dengan Lay?"
Junmyeon mengecup pipi pucat Yixing. "tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali."
"apa kau selalu frontal begini?, belum 12 jam aku melihatmu dan kau sudah berani mencium sesuka hatimu?"
"aku tipe pria yang selalu mengikuti naluri." Haha, sebenarnya sih kesempatan dalam kesempitan saja. Junmyeon kan tau Yixing masih terlalu lemas untuk menghindar. Toh kelihatannya Yixing juga tidak terlalu marah meskupun agak tidak terima.
"kau tau. Ini pertama kalinya aku berani menyentuh seseorang hingga sejauh ini. Sebenarnya aku cukup khawatir kau akan sangat marah padaku, tapi melihat reaksimu sejauh ini, kurasa aku cukup percaya diri."
"kau hanya beruntung karena aku tidak bisa melawan, bahkan hanya sekedar untuk berteriak."
"kurasa juga begitu. Kau tidak ingin makan sesuatu?"
"kita sudah saling memakan tadi."
Junmyeon menyemburkan tawanya. "ternyata kau juga pandai bercanda. Maafkan aku karena sudah sempat berpikir kalau kau orang yang kaku dan egois."
"semua orang juga berpikir seperti itu."
Junmyeon tersenyum. Tak ingin lagi membahas masalah ini, Junmyeon mencari topik baru dan menanyakannya pada Yixing. "kudengar kau koma karena overdosis obat penenang dan anti alergi. Mungkin kau bisa menceritakan padaku kenapa kau bisa sampai seperti itu?"
"ya. Tapi penyebab utamanya adalah karena Lay."
Junmyeon sudah akan berkomentar, tapi sadar Lay adalah satu-satunya nama yang disebut Yixing barusan diapun mengatupkan mulutnya lagi. Niatnya ingin mengganti topik, tapi ternyata ia malah mengulik lebih dalam sepertinya.
"kau bisa cerita padaku." Kepalang tanggung, Junmyeon juga penasaran sekali sebenarnya.
"aku pasti sudah gila karena bercerita padamu." , Junmyeon terdiam. "tapi kau cukup dengarkan saja."
"sebelum mengenal Lay, aku sudah berteman dengan seseorang sejak aku baru pindah ke korea sekitar umur 4 tahun. Dia satu-satunya teman Korea ku yang pandai berbahasa Mandarin karena ibunya adalah orang China. Jadi kemana-mana aku akan selalu bersamanya dan bertanya ini itu. Dia juga menjadi penerjemahku selama kami sekolah dan menjadi guru privat bahasaku. Sampai ketika kami masuk SMA, aku bertemu dengan Lay yang begitu mirip denganku. Dengan sangat antusias aku mengenalkan mereka berdua berharap kami bisa bersahabat bertiga. Tapi tidak ketika aku sadar aku menyukainya tapi dia malah menyukai Lay. Dia bercerita banyak hal tentang Lay dan berkata bahwa Lay lebih perhatian daripada aku, lebih ceria daripada aku, intinya Lay lebih baik daripada Yixing. Saat itu aku masih bisa berpikir positif karena kupikir, dia hanya tertarik karena mereka baru pertama kali bertemu."
Junmyeon menggenggam tangan Yixing, dia tau emosi apa yang sedang dirasakan Yixing sekarang.
"lulus SMA kami berpisah karena saat itu dia harus kuliah di luar negeri sedangkan aku dan Lay berada di satu kampus yang sama. Lay semakin menjadi pribadi yang baik dan banyak disukai di universitas. Dan petaka untukku karena wajah kami kembar, meskipun bukan saudara tapi setiap hari aku akan selalu mendengar setiap orang membandingkan karakterku dengan Lay. Itulah awal kenapa aku sangat membenci dia ada disampingku."
Yixing menatap Junmyeon dan yang ditatap hanya memberikan senyum hangatnya. "lanjutkan saja, aku masih mendengarkan."
"lulus kuliah, kami bertiga bertemu kembali. Sahabat kecilku dengan profesinya, Lay dengan restorannya begitupun denganku yang akhirnya tergabung dalam klub tari terbesar di Korea selatan sekaligus menjadi pengajar di sabuah institut seni dan karena kecintaanku pada musik akupun direkrut untuk menjadi salah satu komposer di sebuah agensi artis yang cukup besar di korea. Namun setelah itu musibah datang bertubi-tubi. Kupikir dengan kembalinya sahabat kecilku dari luar negeri dan melihat keadaanku yang lebih baik maka dia akan kembali tertarik padaku, nyatanya?. Dia resmi berpacaran dengan Lay dan aku tidak bisa menerimanya. Aku frustasi dan mulai mengutuk Lay sepanjang hari. Aku bahkan menforsir diriku untuk bekerja tanpa henti karena jika sedikit saja aku lengah, aku pasti teringat akan hal itu. Dari situlah aku mulai mengonsumsi anti depresan dan antihistamin agar aku bisa tidur nyenyak tanpa harus bermimpi buruk. Puncaknya, saat aku latihan untuk pertunjukan akbar dan aku terjatuh dari formasi hingga cidera parah. Padahal jika aku bisa tampil di acara itu dan mendapat penilaian yang baik maka aku akan mendapat beasiswa untuk bergabung di akademi tari internasional di Perancis."
Sekarang Junmyeon tau alasan kenapa Yixing sangat menyesal ketika tak bisa tampil dalam pertunjukan akbar itu seperti yang telah diceritakan Lay sebelumnya.
"kenapa kau bisa sampai terjatuh?"
"karena aku melihat Lay dan pacarnya duduk berdua diujung tribun untuk menyaksikan aku latihan. Aku harus istirahat total saat itu. Tapi entah kenapa pikiranku semakin kacau bahkan aku tidak lagi produkti dalam menciptakan lagu. Aku mulai sering mendapat teguran dari CEO karena karyaku tidak berkembang sama sekali. Jadi aku mencoba untuk mengakhiri semuanya malam itu."
Satu air mata lolos mengalir melewati pelipis Yixing dan membasahi bantalnya. Junmyeon mengusap aliran kecil itu dan mengecup kening Yixing lama.
"Xing..."
"hmm"
"boleh ku tahu siapa sahabat kecilmu itu?"
"Sehun. Oh Sehun PH.D seorang ahli psikologi di Sun Medical Center, Seocho."
Junmyeon membeku. Dia bukannya tidak dengar cerita Yixing tentang Lay dengan pacarnya, tapi dia tidak menyangka sebelumnya kalau pacar Lay dulu adalah orang yang sama dengan pacarnya yang sekarang. Tadi Lay juga sempat bercerita kan kalu Sehun punya kedekatan spesial dengan Yixing dan lagi-lagi dia tidak sampai berpikir kalau Yixing dan Sehun adalah sahabat sejak kecil.
"kenapa kau diam saja?, kau mengenal Sehun?"
"ya, kurang lebih seperti itu. Kami saling bertemu kemarin setelah sebelumnya aku pernah menjadi pasien Sehun."
"apa kau frustasi sama sepertiku?"
"tidak seperti itu. Kapan-kapan saja saat kau sudah sembuh total, aku akan menceritakannya padamu karena sekarang kau harus tidur. Sudah lewat tengah malam dan kau harus banyak istirahat." Junmyeon menaikkan selimut Yixing sebatas dadanya.
"kau akan pulang setelah ini?, jangan pulang ya, disini saja."
"kenapa?"
"balasan karena kau sudah menciumku dengan memanfaatkan keadaanku yang lemah."
Junmyeon tersenyum tampan. "aku akan disini sampai besok."
Yixing mulai memejamkan matanya dan Junmyeon mengecup kedua kelopak mata Yixing. "mimpi indah, sayang."
"hoo, kau bahkan berani memanggilku seperti itu." Yixing berkata sambil masih memejamkan matanya.
"sudah jangan banyak bicara, cepat tidur.
"hmm, arrasseo."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
More than a month letter
"tidak apa-apa, pelan-pelan saja."
"pinggangku sudah sakit Myeon."
"oke oke, tahan sebentar." Junmyeon mengambil kursi roda dan meletakkan dibelakang pria manis berbalut sweater ungu tersebut. "nah duduklah."
"terima kasih." Pria manis itu –Yixing- kini sudah bisa tersenyum hangat sehangat pancake yang baru matang.
Kemarin Yixing baru boleh keluar dari rumah sakit setelah menjalani perawatan dan terapi intensif. Meski belum bisa berjalan normal dan tidak bisa terlalu jauh tapi ini hasil yang baik. Yixing hanya perlu membiasakan diri untuk melatih otot-ototnya lagi agar lebih kuat terutama pinggangnya yang dulu pernah cidera parah.
"gerimis, ayo kita masuk." Ajak Yixing dan Junmyeon menyetujuinya, segera ia mendorong kursi roda Yixing untuk masuk ke rumahnya, rumah Junmyeon.
Jadi, Yixing sekarang tinggal dengan Junmyeon?. Ya benar, sejak kejadian 'saling memakan' di rumah sakit waktu itu Junmyeon jadi semakin dekat dengan Yixing. Setiap akhir pekan atau saat dia bisa pulang kantor lebih awal dia pasti akan ke rumah sakit tempat Yixing dirawat untuk menemani mantan astray itu –hehe- menjalani masa pemulihannya, yang pada akhirnya membuat Yixing setuju dengan ajakan Junmyeon untuk tinggal dirumah pria itu. Sebenarnya Lay juga ingin Yixing tinggal di rumahnya saja, tapi Yixing pandai menolak secara halus dengan mengatakan rumah Junmyeon adalah rumahnya dulu jadi mungkin dia bisa merasa lebih nyaman. Modusnya sih, nyaman karena bersama ayang Myeonnie.
Junmyeon kini membawa Yixing masuk ke kamar mereka –ciyee bobok bareng ciyee- dan memandang hujan yang mulai lebat dari jendela.
"Xing..."
"ya?"
"apa kau masih membenci Lay?"
"kenapa kau peduli sekali dengan hal itu?"
"bukan apa-apa. tapi itu hanya masa lalu kalian dan bukan salah mereka juga kalau mereka berpacaran. Kau sendiri kenapa tidak jujur?"
"aku ingin berkata jujur. Tapi tidak bisa."
"kalau memang itu alasan kau membenci Lay, lalu sekarang apa masih dengan alasan yang sama kau membencinya?"
Yixing terdiam.
"apa aku tidak bisa menjadi alasan untuk kau melupakan masa lalumu itu?, kau masih menyukai Sehun?"
"tidak. Sebelumnya aku pernah berjanji, bahkan jika aku dilahirkan kembali dikehidupan selanjutnya aku tak akan sudi bertemu dengan Sehun."
Junmyeon meraih jemari Yixing dan menggenggamnya hangat. "mulai sekarang hiduplah dengan dirimu yang baru Xing. Tidur dengan nyenyak selama setahun kurasa sudah cukup untuk membuat pikiranmu kembali tenang. Tak usah dengarkan siapapun, sekarang kau hanya harus mendengarkanku. Aku yang akan menjagamu."
Yixing menanggapi dengan dingin, entah benar atau tidak tapi dipikirannya saat ini Junmyeon seperti sedang melindungi Lay, dan Yixing tidak suka hal itu.
"aku mau tidur. Punggungku pegal." Junmyeon akan bangkit untuk membantu Yixing. Tapi langsung diinterupsi. " Tidak perlu, duduk saja. Aku akan jalan sendiri."
Junmyeon duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan Yixing yang masih kesusahan untuk berjalan. "kupikir satu atau dua hari lagi kau pasti sudah bisa berlari. Perkembanganmu cukup baik."
"benarkah?" ,Junmyeon mengangguk dengan senyum hangatnya sedangkan Yixing mulai sedikit menambah kecepatan langkahnya karena terlalu antusias.
"kalau aku sudah bisa berlari maka aku akaa –woaah..."
Bruk...
As mainstream as in a drama, Yixing kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Junmyeon yang mencoba menahannya. Tidak, sebenarnya Junmyeon tidak menahan Yixing sama sekali justru dia mengambil kesempatan agar Yixing bisa jatuh diatas badannya.
"maaf,"
"aku tidak apa-apa."
"sungguh?" tanya Yixing khawatir dan dijawab dengan kecupan dari Junmyeon dibibirnya. "hmm, benar. Kau tidak apa-apa." ucap Yixing final yang membuat Junmyeon tertawa.
"bintang memang selalu terlihat indah jika dilihat dari bawah. Padahal ini masih sore, tapi aku sudah bisa melihat bintang yang paling indah."
Yixing tersenyum simpul, "kau tidak sesak aku menindih tubuhmu begini?"
Tiba-tiba Junmyeon merubah posisi dan berguling kesamping membuat Yixing kini yang berada dibawahnya.
"sekarang bagaimana?, apa kau merasa sesak karena aku berada diatasmu?" , goda Junmyeon.
Ya, Yixing merasa sesak sekarang. Bukan karena ditindih oleh Junmyeon, tapi karena jantungnya berdetak lebih cepat dan membuat nafasnya berantakan.
"aku mencintaimu." Lirih Junmyeon dengan halus dan menggoda.
Yixing meraih wajah Junmyeon, "aku juga mencintamu."
Tanpa membuang waktu Junmyeon segera meraup bibir Yixing dan menguasainya. Melumatnya intens dengan ritme yang teratur. Dari awal tautan Yixing sudah membuka mulutnya jadi Junmyeon tak harus susah payah minta ijin apalagi lapor RT untuk mengeksplor sang tuan rumah. Kegiatan 'saling memakan' itu kembali terjadi dan kini Yixing lebih giat untuk melawan, dia menarik tengkuk Junmyeon untuk bisa menggapai lebih dalam.
"eung, aahh..." ,jeda sebentar agar mereka bisa menghirup oksigen dan tak lama setelah itu keduanya kembali 'saling memakan'.
Kini tangan Junmyeon tak tinggal diam dengan menelusup ke balik sweater Yixing dan menyentuh salah satu sweet spot disana .
"eungghhh..." Yixing melenguh panjang sambil membusungkan dadanya dan semakin erat memeluk Junmyeon. Dengan gerakan cepat kini Junmyeon memasukkan kedua lengannya untuk mengangkat sweater Yixing dan melepasnya dengan sekali tarikan lalu melemparnya kebawah. Berganti, tangannya meraba kebawah dan meraih kancing celana Yixing dan membukanya sekaligus melucutinya hingga tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mulus Yixing.
Junmyeon kembali fokus kearea atas dimana wajah sayu menggoda milik Yixing menjadi daya tarik tersendiri untuknya. Kembali mereka saling berpelukan dengan Junmyeon yang mulai menginvasi ceruk leher Yixing.
"kau tidak ingin membuka pakaianku?" bisik Junmyeon yang membuat setiap inci kulit Yixing terasa panas.
"kenapa daritadi kau tidak membukanya sendiri?" Yixing bahkan sudah tak kuasa membuka mata.
"aku sudah melepaskan pakaianmu, jadi kenapa tidak kau lakukan saja sebagai bentuk balas budi."
"tsk.."
Yixing mulai membuka satu per satu kancing baju Junmyeon dengan gerakan yang cukup sensual. Hanya ujung-ujung jarinya saja yang tak sengaja menyentuh dada Junmyeon tapi itu cukup membuat bulu kuduk pria diatasnya meremang.
"perlu bantuan, sayang?"
"tidak. Aku hanya ingin menunjukkan padamu kalau aku belum bisa bermain kasar."
Junmyeon tersenyum lembut dan mengecup bibir Yixing. "aku akan melakukannya dengan lembut."
Butuh beberapa detik hingga Junmyeon akhirnya juga naked sama seperti Yixing.
"aku ingin tau apa kau tipe orang yang to the point atau yang suka berbasa-basi." Maksudnya adalah apakah Yixing ingin langsung ke inti permainan atau pemanasan dulu.
"aku bukan masochist, jadi lakukan foreplay mu dengan baik."
"with pleasure, dear."
Junmyeon kembali memulai dengan meraup bibir penuh Yixing yang sudah terlihat memerah. Menghisapnya atas bawah seperti orang kehausan. Perlahan jemari Junmyeon turun kearah puting Yixing dan memilinnya perlahan.
"ssshhh...aaahhhh"
Sengaja Junmyeon melepas pagutannya agar dia bisa mendengar suara merdu ini. Tangan Yixing merangsek menuju rambut Junmyeon dan meremasnya melampiaskan kenikmatan yang dia dapat dari telapak hangat Junmyeon diarea sensitivnya.
Kepala Junmyeon turun dan mulai memainkan lidahnya diatas puting Yixing sambil salah satu tangannya tetap memainkan sisi yang lain, sedangkan tangan satunya lagi meraih penis Yixing dan membelainya perlahan.
"aahhh, Junmyeonhh... kau, ahhh...aahhh..."
Junmyeon mendadak tuli karena terlalu fokus. Dia masih mengulum dan memilin sambil membelai setiap area sensitiv Yixing senikmat mungkin
"suck it, pleaseehhh, ouwhh..."
Junmyeon mengeluarkan smirknya. Segera ia turun dan mulai menjalankan aksinya. Satu tangannya berada di bawah sedangkan mulutnya mulai melahap 'burung mungil' yang akan menjadi hidangan pembukanya kali ini.
"shit..uurrgghhh...deeper aahhhh...wait, aaahhh"
Semakin Yixing berteriak, akal sehat Junmyeon semakin hilang entah kemana. Dengan gerakan konstan dia tetap memanjakan pisang berurat milik Yixing dengan sangat lihai, hingga pemiliknya sendiri pun hampir gila dibuatnya.
"I'm close.. ugh...Junmyeonhh aaarrhhhh...hah...hah..."
Yixing melenguh -setengah berteriak- panjang sampai terengah-engah mendapati orgasme pertamanya. Tapi sayangnya Junmyeon hanya membiarkan Yixing bernafas sebentar karena setelahnya Junmyeon melumuri jari manis dan tengahnya dengan cairan milik Yixing yang kemudian memasukkannya perlahan kedalam lubang hangat Yixing.
Kedua tangan Yixing mencengkeram bantal sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih.
"sshhh, sempit sekali." Pikiran Junmyeon melayang membayangkan betapa kuatnya nanti lubang Yixing mencengkeram miliknya. Baru jarinya saja sudah terasa sempitnya. Junmyeon mulai menggerakkan jarinya dengan tempo lambat sementara Yixing semakin mencengkeram erat bantalnya. Melihat ekspresi itu Junmyeon berinisiatif untuk membantu Yixing dengan kembali meraup bibirnya sambil memilin puting Yixing dan cengkeraman tangan Yixing berpindah ke punggung Junmyeon.
"therehhh..."
Got it, akhirnya Junmyeon menemukan sweet spot Yixing dan terus menghajar area tersebut sampai Yixing kuwalahan dan menggelinjang kesana kemari.
"aahhh...more...ssshhh...aaahhhh..."
"apa kau lupa namaku cantik?" bisik Junmyeon tepat ditelinga Yixing yang menambah sensasi luar biasa untuk Yixing.
"Junmyeonhhh...aaahhh...aku akan...aaahhhhh..." yang tarakhir itu teriakan kesal Yixing.
"damn it, kenapa kau berhenti?"
"kau hampir orgasme dua kali sementara aku belum mendapatkan apapun?" Junmyen kembali berada diatas Yixing, menuatkan kedua jemari mereka di sisi tubuh Yixing. "dan permainan sesungguhnya baru akan dimulai, get ready?"
"Yes, I am"
Lagi Junmyeon melumat bibir Yixing dengan rakus sambil mengocok penisnya sendiri dan mempersiapkannya didepan lubang hangat Yixing.
"tahan sebentar, sayang."
Yixing mengangguk dan Junmyeon langsung menghentak lubang Yixing dengan sekali dorongan kuat.
"aarrgghh...bitch, kau merobekku."
Junmyeon memeluk Yixing dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yixing sambil mengecupinya seperti simbol permintaan maaf.
"move."
Bisik Yixing dan Junmyeon segera menurutinya dengan gerakan perlahan pada awalnya. Namun sedikit demi sedikit Junmyeon menambah kecepatannya dan memasukkan miliknya sedalam mungkin sampai twins ball mereka beradu yang menambah sensasi nikmat diantara mereka.
"shit..ahhh... kenapa kau sempit sekali." Racau Junmyeon yang kini otaknya benar-benar tak bisa berpikir apapun kecuali lubang ketat Yixing yang benar-benar menjepitnya.
"ahh...Junmyeonhh kau terasa besar sekali didalam sana...ahahhhh..."
"kauh tenangh sajahh...hhh...dia masih bisa lebih besar lagi disanahhh...oughh..."
Bermenit-menit mereka habiskan dengan Junmyeon yang semakin liar menyodok yixing sampai tak ada lagi kesempatan untuk Yixing mengeluh nyeri dipinggangnya akibat terlalu keras terhentak dan terlalu lama mengangkang.
"oougghh...Zhang Yixing, akuh sangat mencintaimuhhh...ahh.."
"aku juga...ahhh... sangat mencintaimuhh...ssshhh..."
Junmyeon mengangkat pinggang Yixing dan meletakkan sebuah guling dibawahnya agar lubang posisi lubang Yixing sedikit lebih tinggi dan memudahkan penis Junmyeon untuk masuk lebih dalam, meski ia sama sekali tak menyadari Yixing yang meringis menahan nyeri saat Junmyeon mengangkat pinggangnya dengan gerakan yang tidak bisa dibilang lembut.
"aahhh... Yixing, kenapa lubangmu nikmat sekalihhh..." Junmyeon mulai berkata kotor saking gilanya, dia merasa setelah ini dia akan mulai terobsesi dengan tubuh Yixing.
"eunghhh...Junmyeonhh, kau benar-benar membuatku gila. Lebih cepat, sayanghh...aahhhsss"
"anything for you, baby."
Junmyeon kembali menambah dorongannya semakin cepat dan brutal. Dia bahkan tak peduli lagi dengan punggung Yixing. Lebih tepatnya lupa dengan keadaan Yixing.
Junmyeon mendekat kearah Yixing dan mengecup bibirnya lalu mengeratkan tubuh masing-masing.
"aku akan sampaihh Junmyeon."
"bersama sayang."
Junmyeon semakin menambah tempo gerakannya saat merasakan miliknya mulai membesar dan berkedut.
"Junmyeonhh, sayang...AAHHHH."
"Yixinghhh...AAAHHHHH..."
Bayangan putih membutakan mata mereka yang saling diliputi kenikmatan. Yixing terkulai lemas, Junmyeon melepas kontak mereka dan memindahkan guling dari bawah pinggang Yixing, lalu berbaring disisi Yixing sambil menarik selimut menutupi kedua tubuh telanjang mereka.
"ini luar biasa. Pantas saja Baekhyun ketagihan."
"Baekhyun?, siapa dia?"
"rekan kantorku. Kapan-kapan akan aku kenalkan padamu."
"kau bilang Baekhyun ketagihan, maksudmu kau sudah sering melakukan dengan dia?"
"ini pertama kalinya untukku. Baekhyun hanya sering bercerita setelah dia bercinta dengan kekasihnya."
"tidak sopan sekali bercerita masalah itu dengan orang lain."
"itulah Baekhyun."
"sayang..." Yixing beralih menyamping memandang Junmyeon sambil membelai pipi pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu. "boleh aku minta sesuatu?"
Junmyeon merangkul pinggang Yixing. "tentu saja sayang. Kau ingin apa?, ronde kedua?"
"bukan, sayang."
Junmyeon agak kecewa sebenarnya. "Lalu?"
"besok kita ke rumah sakit ya, pinggangku nyeri sekali setelah kau hajar."
"astaga."
Junmyeon membelalak karena baru sadar kalau tadi dia sama sekali tidak bermain lembut.
"apa aku menghancurkan pinggangnya?"...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
And it's what we call rate M. Gimana kejutannya?
BWAAAHHH... demi kegantengan mas Yixing yang ga pernah luntur, ternyata bikin NC itu susaaahhnya setengah sadar... ampe gigitin kerah baju ngetiknya. Padahal saya termasuk penggemar NC #doorrr tapi kenapa kalo nulis sendiri itu rasanya beda ya. Entahlah ini jadinya hot apa enggak, kalo enggak ya harap maklum ya teman-teman mental saya masih cetek banget ternyata.
Anyway, gimana dengan chap ini? Sudah sesuai ekspektasi kalian?, eh reader ada yang perkiraannya tepat ya kalo icing sama Lay rebutan Sehun, disini ceritanya mereka seumuran gitu. Tapi tenang, sekarang Junmyeon sudah jadi the one and only'nya Yixing.
Terima kasih ya buat :
mjejje , Xing1002 , xingmyun , aerii110 , Richjoonmoney , MinieZhang , SLhan , baba , guest , sexy af , sam , shinta lang , ammi298 , chenma , viviyeer , guest , RieYuri , Kim Candy , yeojaakoriya23 , kookiesue
yang sudah review di chapter kemarin...
oke, Happy Reading and Review juseyooowwhhh...
