"sayang..." Yixing beralih menyamping memandang Junmyeon sambil membelai pipi pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu. "boleh aku minta sesuatu?"
Junmyeon merangkul pinggang Yixing. "tentu saja sayang. Kau ingin apa?, ronde kedua?"
"bukan, sayang."
Junmyeon agak kecewa sebenarnya. "Lalu?"
"besok kita ke rumah sakit ya, pinggangku nyeri sekali setelah kau hajar."
"astaga."
Junmyeon membelalak karena baru sadar kalau tadi dia sama sekali tidak bermain lembut.
-"apa aku menghancurkan pinggangnya?"...
.
.
.
.
.
.
Title : ASTRAY
Genre : Romance, Mystery/Suspense (maybe)
Rate : T dulu :D
Main Cast :
Junmyeon, Yixing dan beberapa nama yang tersebut didalamnya.
Desclaimer :
Cerita ini original dari hasil ngayal saya sendiri selama beberapa minggu dan mungkin beberapa pengaruh dari kisah-kisah lain, sumber-sumber internet serta mitos-mitos yang beredar.
Warning :
Boy's Love, akan ada keberadaan kisah-kisah yang (mungkin) tak masuk akal, mengandung bahasa yang bhineka tunggal ika alias campur-campur serta tidak sesuai EYD.
... bacanya pelan-pelan ya, hihihi ...
.
.
.
Chapter 9
.
.
.
Pria yang sekarang sudah tidak jomblo lagi itu duduk dengan perasaan tak menentu. Gelisah, khawatir dan merasa bersalah. Bagaimana tidak, kemarin dia secara tidak sadar telah menghajar –diatas kasur- pacarnya yang sedang dalam masa penyembuhan pasca cidera. Berulang kali dia mengetuk-ngetukkan kaki dan meremas jemarinya sendiri menanti kabar kekasihnya yang sedang menjalani pemeriksaan. Kemarin sebelum pergulatan diatas ranjang itu terjadi Yixing masih bisa jalan meskipun belum bisa terlalu lama, tapi tadi pagi Yixing mengeluh kalau pinggangnya seperti ingin patah saat hendak beranjak menuju kamar mandi, kan parah itu namanya.
"haishh..." Junmyeon mengeluh sambil mengacak rambutnya. Gara-gara dia Yixing akan menjalani proses penyembuhan lebih lama lagi.
"kamu kenapa?"
Junmyeon tersentak dan segera manegakkan duduknya melihat orang yang sedang dia khawatirkan sudah berada dihadapannya dengan kursi rodanya.
"bagaimana kondisimu?, kau tidak apa-apa? apa cideranya semakin parah?, katakan padaku!"
Yixing tersenyum lembut. Ini bukan pertama kalinya Yixing dikhawatirkan oleh seseorang. Tapi karena Junmyeon yang melakukannya, Yixing mendadak merasa sangat berharga sekarang ini.
"hey, kenapa hanya tersenyum?, kenapa tidak menjawab?. Eoh...atau..sesuatu yang buruk tarja-"
"aku baik-baik saja cerewet." Yixing memotong celotehan Junmyeon. "bagaimana aku bisa menjawab kalau kau tidak berhenti bertanya, heum?" dia menangkup gemas kedua pipi Junmyeon sambil menariknya sedikit.
"benar kau tidak apa-apa?" kali ini Junmyeon yang menangkup kedua pipi Yixing.
Yixing mengangguk pasti. "hanya sedikit mengalami stress di area panggul, tapi tidak parah kok. Kau tenang saja."
"berapa hari kau harus istirahat total?"
"entah. Dokter hanya bilang kalau masih terasa sakit lebih baik jangan melakukan aktivitas berat dulu."
"kau bilang pada dokter itu karena aktivitas kita kemarin?" Junyeon berbisik.
"hehe, aku bilang kalau aku habis olahraga."
Hening sesaat, namun akhirnya mereka tertawa berdua menyadari kekonyolan masing-masing.
"kau ini." Junmyeon mengusak poni Yixing. "baiklah, ayo kita pulang."
.
.
.
.
.
Junmyeon dan Yixing kini berada di perjalanan hendak menuju rumah mereka. Namun karena belum terlalu siang dan karena hari ini Junmyeon libur, dia berniat ingin mengajak pacarnya itu ke suatu tempat.
"Xing, apa kau lelah?"
"tidak terlalu, kenapa?"
"kalau ku ajak ke tempat temanku, kau mau?"
Yixing berpikir sejenak. "boleh, tapi kalau aku sudah tidak kuat duduk kita pulang ya."
Junmyeon mengangguk "hmm, aku hanya ingin berterima kasih sekaligus mengenalkanmu padanya."
.
Sampailah mereka ke rumah dengan gaya minimalis dan paduan warna nude yang sangat Junmyeon kenali. Junmyeon membopong Yixing keluar dan mendudukkannya dengan nyaman di kursi rodanya lalu segera membawa Yixing kedalam.
Tokk...tokk...
Cklek
"oh, Junmyeon. Apa kabar?" sang pemilik rumah langsung mennyambut Junmyeon dengan hangat.
"baik. Kau sendiri?"
"aku juga baik-baik saja. Ayo silahkan masuk. Oh tunggu, kau membawa seseorang?"
Junmyeon merangkul pundak Yixing, "aku membawa orang yang kau selamatkan, Zhang Yixing. Dan sayang, ini temanku, Min Seok."
Min Seok mendelik dibuatnya, antara terenyuh karena bertemu dengan Yixing, astray yang dia selamatkan. Juga karena tidak percaya Junmyeon sudah memanggilnya dengan sebutan sayang.
Yixing menatap Junmyeon dengan bingung, dia sudah menyodorkan tangannya barangkali Min Seok ingin berjabat tangan dengannya sebagai tanda perkenalan, tapi ternyata wanita mungil itu tidak membalasnya dan malah bengong menatapnya.
"hey." Junmyeon menepuk ringan bahu Min Seok untuk menyadarkan wanita itu.
Berhasil, Min Seok langsung mengedipkan matanya beberapa kali sambil menggeleng cepat. "ah, maaf maaf. Ayo silahkan masuk." Min Seok langsung masuk kembali dan meninggalkan lengan Yixing yang masih menggantung.
"lupakan saja." Junmyeon menurunkan tangan Yixing.
"dia tidak mau berkenalan denganku?" tanya Yixing dengan wajah polos memelasnya.
"kupikir tidak seperti itu. Mungkin dia hanya terlalu terkejut melihatmu." Jawab Junmyeon sambil mendorong Yixing masuk kedalam.
"memang sebelumnya aku kenapa?"
"kau akan tau nanti." Bisik Junmyeon.
"kemarilah." Panggil Min Seok yang kini membawa 2 tamunya menuju ruang tamu yang lebih santai dengan sofa empuk dan meja yang terbuat dari kaca. Bukan bangku dan meja kayu seperti Junmyeon saat itu.
"senang bertemu denganmu, Yixing. Apa kau sudah sehat sekarang?"
Yixing merasa kikuk. Barusan wanita itu mengabaikannya tapi sekarang dia bertanya seolah sangat peduli padanya. "em, ya.. aku sudah cukup sehat."
"kalau boleh ku tahu, ada perlu apa kalian kemari?"
"tidak ada apa-apa. aku hanya ingin mengunjungimu sebagai bentuk terima kasih sudah mau berjuang keras membimbing orang ini." Junmyeon menoleh kearah Yixing dan Yixing juga menoleh kearah Junmyeon.
"itu juga karena kerja kerasmu. Kau yang membuat dia yakin untuk kembali." Jawab Min Seok dan Yixing kembali menoleh pada Min Seok.
"apa dia mengingatmu?" Min Seok bertanya lagi pada Junmyeon dan hanya dijawab dengan gelengan manis oleh satu-satunya pria tampan disana –karena Yixing pria cantik- :p
"hahh... kalian ini, jangan membuatku bingung. Kalian seperti bicara dengan kode rahasia yang tidak kumengerti." Iya, Yixing mulai jengkel. Dia diajak kesini hanya untuk menyaksikan dua manusia beda gender ini saling bertukar kode.
"Xing, sesaat setelah kau sadar dari koma mu waktu itu, apa kau sempat mengingat hal kecil?" tanya Min Seok yang mengerti perasaan Yixing.
"tidak. Tapi satu-satunya hal terakhir yang kuingat adalah ibuku yang berlari kearahku. Lalu setelah itu aku terbangun dan melihat wajah itu berada didepanku." Yixing menunjuk Junmyeon dengan dagunya.
"apa kau ingat pernah bermimpi sesuatu?" Min Seok bertanya sekali lagi.
Yixing mengangkat bahu, "tapi beberapa waktu belakangan ini aku sering merasa deja vu. Terlebih dengan perkataan Junmyeon." Kedua orang yang berada disana bersama Yixing mulai mendengarkan dengan serius. "Junmyeon berbicara ini dan itu, tapi ada beberapa kalimat disana yang aku pikir sudah kudengar berulang-ulang. Tapi saat aku bertanya padanya, dia hanya menjawab 'aku baru mengatakannya sekali.' ,aku tidak tau mungkin ada orang yang belum kuingat sampai sekarang yang pernah menyampaikan kalimat-kalimat itu."
Junmyeon yang mendengarnya hanya menghela nafas lembut sembari tersenyum dan membelai surai Yixing. "tidak perlu terlalu dipikirkan. Nanti kepalamu sakit." Saran Junmyeon
"apa aku pernah ada hubungan denganmu sebelumnya?, maksudku mungkin dulu kita pernah bertemu atau terlibat dalam suatu masalah atau apapun itu bersama Junmyeon juga?, apa kita bertiga pernah berada di masa lalu yang sama sebelum aku koma?" tanya Yixing bingung entah pada siapa yang pasti dia ingin jawaban.
"Yixing, entah kau paham atau tidak. Tapi aku bisa bertemu denganmu sekarang ini dan kau bisa kembali sadar sekarang ini adalah karena dia." Jelas Junmyeon perlahan sambil sesekali memperhatikan Min Seok.
Yixing masih diam dengan raut kebingungan tercetak jelas di wajah pucatnya.
"saat kau koma, jiwamu berada dialam lain. Di tempat yang tidak akan pernah kau pahami sebelumnya. Kau masih tinggal dirumahmu meski kenyataannya ragamu terbaring di rumah sakit di luar kota." Lanjut Junmyeon.
"b..benarkah?"
"jiwamu masih berada di kamarmu yang sekarang sudah kutempati. Kau berada disana sepanjang waktu dan berusaha meraihku dimalam hari sampai aku kesulitan tidur. Sampai akhirnya aku mencari pertolongan. Pertama temanku menyarankan agar aku menemui psikiatri untuk memeriksa barangkali aku hanya berhalusianasi atau mengalami gangguan tidur biasa. Disanalah aku bertemu dengan Sehun, dia mengatakan kalau aku baik-baik saja dan kondisi psikisku normal."
Tak hanya Yixing, Min Seok pun rupanya ikut menyimak cerita Junmyeon.
"lalu untuk pertama kalinya aku mendapat tidur nyenyakku saat aku memutuskan untuk tidur di sofa setelah aku bertempur dengan permainan ouija hampir semalaman. Jadi esoknya aku memutuskan bolos kerja untuk menikmati pagi indahku dan pergi sarapan ke breakfast restaurant di ujung jalan Munsan. Disitulah aku bertemu dengan Lay, aku tertarik padanya dan aku bercerita ini itu tentang masalahku yang selalu mengalami gangguan tidur."
Hidung Yixing mulai kembang kempis mendengar nama Lay. Tipikal Lay, yang selalu berhasil memikat hanya dalam sekali pandang, termasuk Junmyeon.
"Lay yang menyarankanku untuk menemui seorang paranormal tersohor di kota ini, dan orang itu adalah dia." Junmyeon mengalihkan pandangannya pada Min Seok yang langsung membuat wanita itu salah tingkah.
"dia yang menemukanmu, dia yang menjelaskan siapa sebenarnya kau ini dan dia juga yang membuat kau lepas dari kungkungan astray sehingga kau bisa kembali sekarang dan hidup sebagai manusia normal."
"astray?, siapa dia?, kita tidak sedang membahas cerita mitologi kan?" Yixing semakin kebingungan sendiri.
Junmyeon tertawa ringan, "mungkin paranormal Min Seok bisa menjelaskan." Timpal Junmyeon.
Min Seok menghela nafas sebelum memulai ceritanya. "dalam dunia supranatural, tempat jiwa-jiwa tersesat dimana sebenarnya dia masih bisa kembali, itulah yang kami sebut astray. Begitu pula jiwa yang terperangkap disana juga disebut sebagai astray. Dan kau, adalah bagian dari dunia itu saat kau mengalami koma. Roh mu melakukan perjalanan astral dan kau bertahan disana untuk waktu yang cukup lama."
Kerutan di jidat Yixing semakin tajam, dia hanya tak habis pikir kalau dia punya pengalaman luar biasa yang bahkan tidak pernah dia ketahui.
"tapi aku berada dikamarku?, bagaimana bisa?"
"karena itu tempat terakhir yang kau tau saat kau masih sadar. Jadi kau bertahan disana, meskipun kau sebenarnya telah berada di dunia yang berbeda. Kau bisa melihat kami, tapi kami tidak bisa melihatmu. Seperti hantu, hanya orang-orang tertentu yang bisa menemuimu." Lanjut Min Seok.
Yixing menyandarkan punggung di kursi rodanya. Perlahan dia memejamkan mata karena tiba-tiba kepalanya serasa terisi sesuatu.
"Xing, kau tidak apa-apa?" tanya Junmyeon yang mulai khawatir dengan sikap Yixing.
"orang itu..." tiba-tiba Yixing menggumamkan sesuatu. "sepertinya aku pernah bertemu seseorang, tapi aku tidak ingat kapan dan dimana."
Junmyeon dan Min Seok saling berpandangan. Mereka belum bisa memastikan tapi mereka yakin apa yang dikatakan Yixing barusan merupakan sebuah clue kalau Yixing mulai mengingat sesuatu yang tersimpan jauh dalam memorinya.
"kau ingat dia bicara apa?" tanya Min Seok
Yixing menggeleng pelan seperti tidak yakin dengan jawabannya.
"Yixing... kau dengar aku?"
Secepat angin Yixing menoleh kearah Junmyeon yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat yang membuat pikirannya berputar. "akh," Yixing merintih ringan saat otaknya memproses sesuatu yang tidak dia kehendaki.
" Aku kemari bersama Lay, sahabatmu. Apa kau merindukannya?, dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu denganmu."
Yixing mencengkeram pelipisnya saat suara-suara aneh mulai muncul dan saling bersautan didalam pikirannya sendiri.
"Mungkin saat kau tersadar nantinya kau akan melupakan banyak hal, termasuk aku yang pernah kau jumpai dalam mimpimu."
'suara ini, siapa... siapa di dalam mimpiku?, siapa orang itu?...' hatinya ikut berbicara dan memepertanyakan sesuatu.
"Yixing, sayang... kau tidak apa-apa?" Junmyeon kembali diliputi khawatir begitu pula Min Seok yang langsung beranjak dari tempatnya duduk lalu berjongkok dihadapan Yixing untuk ikut menenangkannya.
Tapi keadaan Yixing sama sekali tak berubah.
"Junmyeon..." Min Seok memanggil Junmyeon dengan maksud ingin bertannya apa yang harus mereka berdua lakukan untuk menenangkan Yixing. Namun reaksi mengejutkan ditunjukkan oleh Yixing yang seketika mengangkat kepalanya dengan raut syok.
"Junmyeon," lirihnya dengan mulut bergetar
"Xing?" panggil Junmyeon lembut.
"Junmyeon," ulang Yixing yang seketika itu juga otaknya seperti memutar sebuah film hitam putih tentang dirinya. Tentang bagaimana untuk pertama kalinya dia merasa sendiri di sebuah ruangan yang ia kenali sebagai kamarnya. Melihat seorang pria asing yang tiba-tiba berada disana namun tak menyadari kehadirannya.
"Kalaupun tak ada hal yang membuatmu ingin kembali, maka mulai sekarang aku yang akan menjadi hal itu."
"Kau pasti merasa kesepian disana, kemarilah aku akan menemanimu."
"aku disini Yixing, aku menunggumu."
Suara-suara itu kembali menggema di kepala Yixing. Semakin jelas, semakin terang wajah yang kini terputar di roll film dalam otaknya.
"Aku Junmyeon, orang yang seenaknya menempati rumahmu tanpa kau ketahui."
Kalimat final, dan Yixing kembali terseret ke dunia nyata dimana ia melihat satu orang pria dan satu wanita menatap khawatir pada dirinya. Tanpa sadar ia mencengkeram erat jemari Junmyeon yang tertaut dengan jarinya. Yixing menatap dalam kearah mata pria itu dan menemukan refleksi dirinya dengan jelas disana. Dan disana lah letak Yixing menaruh semua memori terdalamnya.
"Junmyeon. Jadi selama ini kau adalah orang itu?, k..kau adalah orang yang paling ingin aku temui saat aku tak tau aku berada dimana. Kau adalah orang yang paling ingin aku sentuh saat aku tak tau apa yang terjadi pada diriku. Dan kau, Junmyeon adalah satu-satunya nama yang kuingat saat itu. Tapi bodohnya aku kenapa aku bisa melupakan hal yang paling penting?, dari awal aku sadar hingga detik sebelum ini sebenarnya aku merasa mempunyai janji untuk segera menemui seseorang. Tapi aku tidak tau siapa itu, dan sekarang... sekarang aku menemukan jawabannya. Junmyeon..." Seluruh tubuh Yixing bergetar saat mengucapkan kata per kata tersebut.
Entah kenapa malah Min Seok yang ingin menangis. Dia menghela nafas lega dan kembali duduk ke tempatnya semula membiarkan kedua keturunan adam itu saling melepas rindu yang tak pernah mereka sadari.
Yixing memeluk Junmyeon erat dan menenggelamkan sebagian wajahnya kedalam dekapan Junmyeon yang juga tidak kalah hangatnya.
"berharap kau mengingat pertemuan pertama kita adalah hal paling mustahil yang pernah kupikirkan, tapi sayangnya aku selalu berdo'a agar kau mengingatku bukan sebagai orang asing lagi. Karena kita sudah saling bertemu jauh sebelum kau sadar." Suara Junmyeon kembali mengalun lembut di telinganya.
"maaf Junmyeon, maafkan aku."
Junmyeon mengecup kening Yixing lembut dan mengakhiri sesi termehek-mehek mereka setelah menyadari mereka masih berada di rumah orang lain dan jelas sang tuan rumah memperhatikan mereka daritadi.
"jadi, ekhem... Yixing, apa sekarang kau ingat dengan mimpimu dan janjimu?" tanya Min Seok kembali mencairkan suasana.
"iya aku sudah ingat."
"apa tidak ada hal yang tertinggal?"
Yixing diam sejenak. "emm... kurasa tidak."
Min Seok tersenyum miris, baiklah... da Min Seok mah apah atuh, cuma perantara saja.
"kau adalah wanita yang menyuruhku untuk berjalan mengikuti kata hatiku. Aku benar kan?" Yixing berkata seringan angin namun berefek besar bagi orang yang dimaksud.
Min Seok tersenyum cerah kemudian. Ternyata ingatan Yixing bagus juga.
"hahh... sepertinya aku memang tidur terlalu lama dan melewatkan banyak hal. Entah takdir macam apa ini yang mempertemukan kita dengan cara yang kurang lazim. Mendengar cerita kalian aku jadi merasa seperti zombie, bangkit dari kematian." Celoteh Yixing dengan nada bercanda, yang ditanggapi tawa renyah dari Junmyeon dan Min Seok.
"oh iya, ngomong-ngomong dimana Jong Dae?, dia tidak kemari?"
"dia sedang ada urusan di luar kota bersama orang tuanya untuk beberapa hari."
"siapa Jong Dae?"
"rekanku, yang ikut membantuku untuk membimbingmu kembali. Sekaligus, kekasihku." Min Seok mengakhiri kalimatnya dengan raut malu.
"kurasa kau terlalu banyak memakai blush on." Celetuk Yixing.
Min Seok menangkup pipinya sendiri, "tapi aku sedang tidak pakai blush on."
"benarkah?, lantas kenapa pipimu merah sekali?" tanya Yixing menggoda dan Min Seok semakin tertunduk malu.
"ah, kau ini."
Waktu bercanda selesai karena Yixing mulai merasa pegal di sekitar pinggang sampai tulang ekornya.
"maaf Min Seok, bukannya aku tak ingin berlama-lama disini tapi pinggangku mulai terasa nyeri dan aku harus istirahat."
"oh, kau sudah lelah?" tanya Junmyeon dan dijawab anggukan oleh Yixing. "kalau begitu kami pamit dulu, lain kali kami akan kemari lagi, boleh kan?"
"tentu saja, dengan senang hati aku akan menyambut kalian."
"kalau begitu kami pamit. Permisi." Pamit Junmyeon.
"daah, Min Seok." Imbuh Yixing sambil melambaikan tangannya
Min Seok membalas lambaian tangan Yixing, "ya silahkan. Hati-hati di jalan ya!"
Keduanya pun segera meninggalkan rumah Min Seok dan kembali ke rumah Junmyeon yang jaraknya tidak sampai 1km dari rumah Min Seok. Tinggal berbalik arah dan langsung belok di pertigaan pertama.
.
Sampai di depan rumah, Junmyeon sedikit terkejut melihat sudah ada sebuah mobil yang terparkir di pelataran rumahnya.
"siapa itu?" ,gumam Junmyeon setelah ia juga memarkir mobilnya di pelataran rumahnya yang sangat luas dan keluar untuk mengetahui siapa kiranya pemilik mobil tersebut.
"akhirnya kalian pulang juga." Sapa riang dari seseorang yang Junmyeon yakin adalah pemilik mobil tersebut.
"Lay?, sejak kapan kau disini?" tanya Junmyeon
Lay melihat arlojinya, "yaa, kurang lebih setengah jam yang lalu. Dimana Yixing?"
"oh, ya ampun." Hampir saja Junmyeon menyuruh Lay untuk segera masuk kerumahnya dan meninggalkan Yixing di dalam mobil. Dengan segera ia menyiapkan kursi roda Yixing dan membantu pacarnya itu keluar dari mobil.
"Xing Xing ku sayaaang... kau sudah sehat?" sapa Lay sangat riang sambil memeluk hangat Yixing.
Junmyeon memperhatikan reaksi Yixing yang sepertinya masih enggan memberikan senyum tulusnya untuk Lay.
"lumayan. Aku masih harus banyak istirahat. Ayo masuk!" ajak Yixing yang langsung disetujui oleh Junmyeon dan Lay.
"kau sendirian?" tanya Yixing setelah mereka bertiga sampai di dalam rumah.
"iya. Sehun sedang banyak kerjaan. Mungkin lain kali aku akan ajak dia kemari."
'tidak perlu.' – batin Yixing dingin yang berlawanan dengan jawabannya. "huh, dia terlalu banyak bekerja. Pasti menyenangkan kalau dia ada disini juga." Sekuat tenaga Yixing menyunggingkan senyum.
"kalian lanjutkan saja dulu ngobrolnya, aku akan mengambil minum." Sela Junmyeon
"maaf merepotkan." Ucap Lay
"tidak kok. Silahkan lanjutkan ngobrolnya." Junmyeon pun segera beranjak kedapur. Memang tujuannya untuk mengambil minuman dan beberapa camilan. Tapi ia sengaja berlama-lama untuk memberi ruang pada Yixing agar dia bisa lebih menerima Lay dan memandang sahabat yang tidak dia akui itu dengan cara yang lebih dewasa.
Sementara itu di ruang tamu setelah berbasa-basi keadaan menjadi canggung. Lay tidak tau lagi harus bicara apa karena dia merasa sedaritadi hanya dia yang bertanya ini itu pada Yixing sedangkan Yixing hanya menjawab tanpa ada pertanyaan balik.
"ngomong-ngomong, bagaimna hubunganmu dengan Sehun?" Yixing akhirnya mau bertanya.
"eum, baik. Kami baik-baik saja. Ku lihat kau semakin dekat dengan Junmyeon."
"hmm, kami sudah pacaran." Jawab Yixing ringan.
"benarkah?, wah hebat sekali, sejak kapan?" Lay nampak antusias mendengarnya.
"aku juga tidak tau pastinya kapan. Hubungan kami mengalir begitu saja."
"aku percaya Junmyeon pasti bisa menjagamu dengan baik. Dia sudah menyayangimu sejak pertama kali dia bertemu denganmu. Dia adalah orang yang menjawab semua do'aku."
Yixing mulai tertarik dengan arah bicara Lay. "maksudmu?"
"kau tahu, sejak pertama aku mendapat kabar dari orang tuamu bahwa mereka membawamu pindah untuk di rawat di Gangnam, aku merasa sangat terpukul. Aku menyesal karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku tau kau mengonsumsi obat-obatan itu, tapi yang bisa kulakukan hanya sebatas memperingatkanmu tanpa bisa mencegahnya. Aku merasa bersalah karena aku mengaku sebagai sahabatmu tapi aku tak bisa mendampingimu."
Raut Yixing perlahan melunak melihat jejak sembab yang terlihat di kedua mata Lay.
"aku berdo'a setiap hari agar aku di beri kesempatan untuk bersamamu lagi dan lebih memperhatikanmu. Setiap hari sepulang bekerja aku akan ke Gangnam untuk menemanimu. Aku berusaha untuk hadir disana setiap saat agar ketika kau sadar nantinya aku bisa langsung meminta maaf padamu. Bahkan, aku rela mendapat tamparan keras dari ibumu karena sudah menghalangi keinginan beliau untuk merelakanmu pergi."
Yixing terkejut bukan main. Lay, benarkah pengorbanannya sampai sebesar itu?
"merelakanku pergi?" lirih Yixing
Lay mengangguk. "orang tuamu memutuskan untuk menyerah dan ingin merelakanmu pergi. Mereka juga tak ingin melihatmu menghadapi kondisi yang tidak pasti. Namun aku mencegahnya."
Lay menyeka air matanya. "aku hanya merasa, kau belum pergi, aku akan menunggu sampai kapanpun itu. Keluargamu bilang jika aku ingin mempertahankanmu maka aku harus mengurusmu sendiri, dan aku menerimanya. Aku berjanji pada orang tuamu kalau aku akan menjagamu dengan baik. Dan kau tahu betapa bahagianya aku saat Junmyeon datang membawa kabar kalau dia bisa membawamu kembali. Hal itu bahkan lebih membahagiakan daripada perasaan saat aku membuka restoranku untuk pertama kalinya. Akhirnya aku bisa melihatmu kembali." Lay mendekati Yixing dan menggenggam erat tangan Yixing.
"akhirnya aku bisa meminta maaf padamu. Maaf karena aku belum bisa menjagamu dengan baik sebelumnya. Asal kau tahu aku sangat menyayangimu, aku benar-benar takut kehilanganmu, Xing. Itulah kenapa sebelumnya aku ngotot memintamu untuk tinggal bersamaku, namun karena kau lebih memilih untuk tinggal dengan Junmyeon dan aku juga percaya padanya, kupikir tidak ada alasan untukku terlalu khawatir karena Junmyeon pasti akan mendampingimu dengan baik."
Yixing tidak mengerti perasaan apa yang tiba-tiba menjalari hatinya. Dia tidak mengerti kenapa dia merasa sangat bodoh dan menyesal. Dia sadar bahwa dia hanya cemburu pada Lay dan alasan terbesarnya membenci Lay adalah hanya karena Sehun meninggalkannya bersama Lay. Tapi sekarang apa lagi yang dia harapkan?, ini semua bukan salah Lay karena setiap orang punya perasaan yang berbeda. Mungkin memang ada sisi Lay yang tidak dimiliki Yixing namun itu yang membuat Sehun tertarik. Sekarang dia memiliki Junmyeon, alasan terbesarnya untuk bertahan hidup dan hidup lebih baik. Dan dengan ketidak hadiran keluarganya dari pertama ia tersadar hingga sekarang sudah sangat membuktikan bahwa apa yang Lay katakan adalah kebenaran, karena Lay bukanlah orang yang pandai mengarang cerita.
Tanpa di duga Yixing segera menghambur kepelukan Lay. Dia memeluk Lay dengan erat seolah menyampaikan semua penyesalannya selama ini yang hanya melihat sisi tidak menguntungkan dalam dirinya ketika bersama Lay. Dia hanya mementingkan citra dirinya dihadapan orang lain yang tak pernah peduli padanya dengan mengabaikan Lay yang jelas-jelas paling peduli dengannya. Yixing terisak, menumpahkan segala emosinya yang ia pendam selama ini.
"kenapa kau baik sekali padaku? Hiks... maaf kalau selama ini sikapku sangat buruk kepadamu. Aku hanya berpikir kalau aku harus tersenyum padamu karena kau juga tersenyum padaku. Tanpa aku peduli apa arti itu semua. Aku bahkan tidak memperhatikanmu, aku sering meninggalkanmu pulang sendirian saat sekolah dulu dan aku sering menolak ajakanmu untuk pergi bermain saat kuliah dulu dengan alasan sibuk. Aku menyesal, Lay. Maafkan aku."
"Xing, sudahlah." Lay mengusap-usap punggung Yixing yang naik turun seiring sesenggukannya. "mari kita lupakan itu semua dan berjalan dengan kehidupan baru. Aku sudah sangat bersyukur kau bisa kembali dan jangan buat aku kembali merasa bersalah karena membuatmu sedih. Aku tak pernah sedikitpun merasa kau abaikan, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah mau menjadi sahabatku. Kau mau kan melupakan kenangan buruk kita dan mulai saling memperhatikan satu sama lain?"
Yixing mengangguk diatas bahu Lay. "aku menyayangimu, Lay."
"aku juga menyayangimu, Xing."
Keduanya pun melepas pelukan dengan senyum yang terkembang di kedua belah bibir masing-masing. Yixing sengaja tidak membahas Sehun. Cukup ia dan Junmyeon saja yang tau akan hal itu, dia tidak ingin persahabatannya diliputi perasaan sungkan satu sama lain hanya karena masalah ini.
"ekhem.. ngomong-ngomong Junmyeon lama sekali ya?"
Glondangg... /alamak jenis bunyi apa itu-_-/
Kita lihat ke sisi Junmyeon yang sedang salah tingkah di balik dapur sampai menjatuhkan nampan yang dia bawa. Yaa, sebenarnya Junmyeon sedaritadi nguping pembicaraan Lay dengan Yixing bahkan dia juga sempat meneteskan air mata saking terharunya. Dan mendengar Yixing yang mencarinya itu menyadarkan Junmyeon apa artinya kenyamanan untuk segera kembali dengan membawa minuman dan camilan yang dia janjikan.
"maaf agak lama, aku lupa dimana menyimpan semua kukis ku." Alasan konyol, ya Junmyeon juga tau.
"Xing, Lay... kenapa mata kalian sembab semua? , apa yang terjadi?" tanya Junmyeon sok khawatir.
"tidak usah sok polos, aku tau kau pasti lama di dapur karena menguping." Jawab Yixing judes.
Junmyeon face palm 'yaelah, ketauan juga.'
"e..eum.. silahkan diminum Lay."
Yixing dan Lay saling berpandangan dan melempar senyum geli melihat raut salah tingkah Junmyeon.
"sebenarnya aku tidak bisa lama-lama disini, aku masih ada urusan." Ucap Lay setelah dia meminum minumannya. "tapi aku janji setiap ada waktu aku akan kemari menjenguk kalian. Oh ya, sekali-kali kalian sarapan di restoranku aku akan membuatkan menu spesial untuk kalian."
"mahal tidak?" sindir Yixing bercanda.
"oh tenang saja, aku akan memberi diskon khusus untuk pasangan yang sedang kasmaran ini."
Ketiganya saling melempar tawa.
"baiklah, aku harus pergi sekarang. Tidak perlu mengantar kedepan, aku bisa sendiri. Kalian istirahat saja. Oke, sampai jumpa, Xing, Myeon."
"ne, hati-hati di jalan." Balas Junmyeon dan Yixing bersamaan.
.
Selepas Lay pergi, Junmyeon dan Yixing duduk berdua di ruang tamu dengan menikmati sisa camilan mereka yang sebenarnya tidak disentuh sama sekali oleh Lay.
"bagaimana perasaanmu?" tanya Junmyeon sambil merengkuh bahu Yixing.
"lega. Hanya itu." Yixing tidak bohong, saat ini dia hanya merasa dadanya lebih lapang dan pikirannya lebih ringan.
Junmyeon tersenyum dan mengecup surai Yixing. "ada beberapa tugas kantor yang harus kubereskan. Kau tidak apa-apa kan kutinggal sebentar?"
"kau mau pergi ke kantor?"
"tidak. Di ruang kerjaku, hanya menyusun beberapa berkas."
"hahh... kupikir kau akan berangkat kerja. Ya sudah sana."
"kau pasti sangat mencintaiku sampai tidak ingin aku pergi kemana-mana."
Yixing hanya mengerutkan bibirnya tak mau menjawab lebih banyak, sedangkan Junmyeon langsung beranjak menuju ruang kerjanya.
Tokk...tokk...tokk...
Baru saja Yixing hendak menjalankan kursi rodanya kearah kamar untuk beristirahat namun bunyi ketukan pintu sukses membuatnya berubah arah. Dia membawa kursi rodanya untuk berjalan kerah pintu dan membukanya.
"Hai Jun..." sapaan tamu itu terpotong dan langsung menatap kearah yang lebih rendah.
"kau siapa?"...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Yohoooo... normal scene egen tanpa ada enceh :D
Penasaran kenapa ini ff kagak kelar-kelar ya?, sama saya juga #plakk. Beneran, saya juga masih blur ini ff nya bakal end'nya dimana karena dari lubuk hati saya yang paling dalam #yaelaaah pengen aja ngelanjutin cerita ini terus. /reader:"bosen kale mbak.."/ hehe...
Kemarin saya baca ulang yang sudah di post kayaknya banyak typonya ya sampe chapternya aja belom diganti jadi 8. Maaph maaph yak, mudah mudahan kali ini typonya berkurang...
Anyway, thanks to :
RieYuri , viviyeer , Xing1002 , MinieZhang , Peppermint Amaranth , xingmyun , chenma , shinta lang , yeojaakoriya23 , basuuu324 , SilentB , mjejje
Yang sudah review di chapter kemarin.
Chapter ini semoga tidak mengecewakan ya...
Happy reading dan review juseyoo!
