Chapter 2
HUG AND KISS
Main Cast : Kim Mingyu / Seventeen's Mingyu
Jeon Wonwoo / Seventeen's Wonwoo
Pairing : Meanie / Minwon
.
Langkah sepatu menggema di ruang olahraga Daegu High School. Beberapa siswa dari ekskul basket tengah latihan untuk kejuaraan basket minggu depan.
Seorang lelaki tengah menggiring bolanya sambil berlari menuju ring. Dan setelahnya ia melemparkan bolanya ke ring dan bola itupun masuk ke dalam ring. Teman-temannya bersorak memberikan pujian.
Kim Mingyu. Siswa tingkat dua yang termasuk primadona sekolah. Baik dari fisiknya maupun akademiknya. Setidaknya sekitar lima belas piala telah ia sumbangkan ke sekolah. Paling banyak didapat dari prestasi mengagumkannya di bidang Bahasa.
Tidak heran, jika ia disukai oleh banyak orang di sekolah. Mungkin hampir semua warga sekolah ini menyukainya. Bahkan alumnipun menyukainya. Wajah tampan, badan semampai, otak cerdas. Siapa yang dapat membencinya?
Ia sudah berkali-kali mendapatkan banyak pernyataan cinta dari wanita ataupun pria. Bahkan guru di sekolahnya pun pernah menyatakan cinta padanya. Namun Mingyu selalu tersenyum lembut dan mengatakan,
"Aku telah dimiliki seseorang."
.
Lelaki berambut hitam itu masih terdiam di kelas dengan soal-soal yang menumpuk. Padahal ia bukan mahasiswa, tapi sibuknya ia seperti ia seorang mahasiswa. Berkutat dengan kertas-kertas putih membosankan.
'TING'
Ponsel pria itu berdering menandakan pesan dari Line. Ia membukanya dan tersenyum.
From : Lovely Gyu^^
'Aku baru selesai latihan, tunggu aku di kelasmu, ya?'
Baru saja lelaki itu akan membalasnya, pintu kelas dibuka secara perlahan oleh seseorang.
"Halo~ ada orang disini?" Lelaki itu tertawa dan melemparkan penghapus yang ada disisi kertas-kertas.
"Masuklah, bodoh." Seseorang itu tersenyum lalu akhirnya masuk ke kelas lelaki kutubuku itu sambil tersenyum.
"Bukankah sudah pernah kukatakan jangan memanggilku bodoh lagi, Jeon Wonwoo?" Wonwoo tertawa sinis.
"Kau itu bodoh, Kim Mingyu." Mingyu mengetuk kepala Wonwoo dan duduk di depan meja Wonwoo.
"Siswa teladan seperti ini kau bilang bodoh? Kau mengejek pacarmu sendiri ini bodoh? Heumm?" Mingyu memasang wajah kesal sementara Wonwoo hanya memutar bola matanya.
"Terserah." Wonwoo kembali larut dalam pekerjaannya sebagai sekertaris organisasi sekolah yang mengharuskannya mendata semua keperluan organisasi. Well, memang melelahkan, namun ini resikonya.
"Sedang mengecek apa, sayang?" Wonwoo sempat memerah sejenak mendengar panggilan kekasihnya itu. Namun ia berusaha menetralkan kembali degup jantungnya dan bersikap normal.
"Data keperluan pesta ulang tahun sekolah nanti. Hahh, tak terasa tinggal dua hari lagi." Mingyu tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan duduk disamping kursi Wonwoo. Mingyu mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo. Wonwoo sedikit tersentak melihatnya.
"Astaga. Sudah berapa lama kau begadang menyiapkan semua ini?! Kantung matamu seperti panda saja." Wonwoo merengut dan mengambil pulpen lalu memukulkannya ke kepala Mingyu.
"Hei, ini tugasku. Aku begadang kira-kira dari empat hari yang lalu." Tiba-tiba Mingyu menarik Wonwoo ke pelukannya.
"Kau harus istirahat, Wonie. Kau bisa sakit." Wonwoo hanya tersenyum dan membiarkan sejenak tubuhnya dipeluk oleh Mingyu. Sudah berapa lama ia tidak meraskan pelukan Mingyu? Ah, kira-kira sekitar dari seminggu yang lalu.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, Gyunie." Mingyu menggeleng dan melepaskan pelukannya. Mingyu menatap mata Wonwoo dalam.
"Aku tidak mau tahu, kita pulang sekarang." Wonwoo hendak mengelak namun akhirnya ia mengangguk dan membiarkan tangannya digandeng Mingyu ke depan gerbang sekolah.
.
Saat berjalan di koridor, tiba-tiba Wonwoo merasa kepalanya berputar-putar. Kakinya tersandung kaki yang lain dan menyebabkan tubuhnya oleng ke pelukan Mingyu. Mingyu yang tersentak langsung menangkap Wonwoo.
"Astaga, Wonwoo! Kau kenapa?! Apa aku bilang, kau sakit!" Wonwoo berusaha berdiri kembali namun akhirnya ia hanya oleng kembali dan tak sadarkan diri.
"JEON WONWOO!"
.
.
"Sayang~ Wonie~ Bangun sayang." Mingyu semakin khawatir. Sudah setengah jam yang lalu ia bawa Wonwoo ke rumah Wonwoo, namun kekasih yang menemaninya selama 2 tahun ini belum sadarkan diri juga.
"Eungh~" Mingyu buru-buru mendekat ke Wonwoo saat dirasai Wonwoo mulai sadar.
"M-ming-gyu." Darah Mingyu sempat berdesir saat Wonwoo pertama menyebutkan namanya saat sadar. Entahlah, Mingyu merasa ia adalah orang yang penting di hidup Wonwoo.
"Mingyu." Wonwoo telah membuka mata sepenuhnya. Mingyu tersenyum lega mengetahui Wonwoo baik-baik saja. Wonwoo pun balas memberikan senyumnya kepada Mingyu. Mingyu membantu Wonwoo untuk duduk di sofa.
"Maafkan aku merepotkanmu, Mingyu." Mingyu mengerutkan dahinya.
"Hei~ aku ini kekasihmu, chagi. Mana mungkin aku merasa direpotkan?" Mingyu kembali tersenyum tampan dan sedikit membuat Wonwoo terpana.
Wonwoo masih memandangi wajah sempurna kekasihnya. Merasa diperhatikan, Mingyu melirik Wonwoo dan Wonwoo langsung mengalihkan pandangannya. Mingyu terkekeh lalu mengusap rambut Wonwoo yang sedikit berantakan itu. Wonwoo makin merona saja dibuatnya.
"Bagaimana? Masih pusing?" Wonwoo menggeleng lucu. Mingyu yang melihatnya sangat gemas. Oh Tuhan, kenapa lelaki di hadapannya sangat menggemaskan? Tadinya Mingyu ingin mencubit pipi Wonwoo, namun tidak jadi karena ia masih ingat jika Wonwoo baru saja sadar dari pingsannya.
"M-Mingyu." Lamunan Mingyu buyar saat mendengar cicitan dari Wonwoo. Wonwoo menundukkan kepalanya.
"Ada apa sayang?" Wonwoo makin memerah. Mingyu yang penasaran meraih dagu Wonwoo dan menaikkan wajah kepiting Wonwoo. Sekarang wajah Wonwoo sangat dekat dengan wajah Mingyu. Tanpa sengaja, Wonwoo melirik ke benda di bawah hidung mancung Mingyu. Astaga, bisa- bisa wajah Wonwoo meledak sekarang.
"Hei, ada apa?" Suara lembut Mingyu memasuki pendengaran Wonwoo kembali. Wonwoo bercicit,
"Bolehkah aku memelukmu?" Walaupun cicitan Wonwoo pelan, Mingyu bisa mendengar jelas cicitan Wonwoo. Tertawa sekilas, lalu Mingyu menarik tubuh Wonwoo.
Alih-alih memeluk, Mingyu malah menempelkan bibirnya di bibir Wonwoo sambil memeluk tubuh Wonwoo. Wonwoo membulatkan matanya kaget. Mingyu menutup matanya menikmati kecupannya dengan Wonwoo. Wonwoo masih kosong. Tapi saat Mingyu mencoba bermain dengan bibirnya, Wonwoo akhirnya terhanyut dan menutup matanya menikmati ciumannya dengan kekasihnya.
Lima menit berikutnya, Mingyu melepaskan tautannya dengan Wonwoo dan beralih membawa tubuh Wonwoo ke pelukannya. Wonwoo memukul dada Mingyu gemas dan menenggelamkan wajahnya ke tubuh Mingyu.
"Nappeun, eum? Aku hanya bilang ingin dipeluk malah kau cium juga." Mingyu tertawa lalu berbisik tepat ke telinga Wonwoo.
"Kau menikmatinya juga kan, sayang?" Wonwoo buru-buru melepaskan pelukannya dan menatap tajam Mingyu.
"Aku marah padamu." Kata Wonwoo sambil memalingkan mukanya ke arah kiri. Mingyu menatap heran Wonwoo.
"Ehh? Kenapa?" Wonwoo mendekatkan wajahnya ke arah Mingyu lalu mengecup bibir Mingyu sekilas.
"Karena kau sembarangan mencuri start." Setelah berkata seperti itu, Wonwoo lari ke kamarnya meninggalkan Mingyu yang masih bengong tak mengerti ucapan Wonwoo. Setelah mengerti, Mingyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berdecak pelan.
"Anak itu." Gumam Mingyu dan menyusul Wonwoo ke kamar kekasihnya.
.
.
OMAKE
"Kau tidak akan pulang?" Wonwoo mendongak untuk melihat wajah Mingyu yang sedang berbaring memeluknya.
"Tidak. Aku masih merindukan kekasihku." Wonwoo mencibir.
"Huh, gombal." Mingyu mengelus kepala Wonwoo.
"Memangnya kau tidak merindukanku?" Wonwoo mendongak dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak merindukanmu." Mingyu merubah ekspresi wajahnya menjadi sedatar triplek. Wonwoo yang menyadarinya tertawa keras.
"Aku bercanda, sayang. Aku sangat merindukanmu." Wonwoo kembali menelusupkan wajahnya ke dada Mingyu.
"Aku tahu. Ya sudah, kita istirahat saja. Kau pasti lelah, kan?" Mingyu tak mendapat jawaban. Mingyu menundukkan kepalanya dan,
Wonwoo sudah tertidur.
Mingyu menghela nafas dan akhirnya tersenyum lalu menyusul Wonwoo ke alam mimpi.
Merasa Mingyu sudah tidur, Wonwoo membuka sebelah matanya lalu terkikik,
"Kau bodoh sekali, Gyunie." Wonwoo terkikik sedikit lebih keras. Tiga detik berikutnya Wonwoo merasakan seseorang berbisik ke telinganya,
"Menjahiliku, Wonie?" Wonwoo tersentak dan berbalik mendapati wajah Mingyu yang dekat dengan wajahnya. Wonwoo nyengir.
"Hehe. Aku ketahuan, ya?" Mingyu tersenyum misterius dan membuat Wonwoo takut.
"Mau kuhukum, sayang?" Wonwoo langsung meloncat dari tempat tidur lalu lari-lari di kamarnya.
"KYAAA, EOMMAA! AKU DIKEJAR TIANG LISTRIK BERJALAN, EOMMAA!" -Wonwoo-
"KAMI BAIK-BAIK SAJA, EOMONI!" -Mingyu-
'DUK'
"AARGGHH, KURSI SIALAN" -Wonwoo-
'BRUGH'
"KYAAA! PERGI KAU TIANG LISTRIK!" -Wonwoo-
"IT'S SHOWTIME!" -Mingyu-
"EOMM-MFH!" -Wonwoo-
.
FIN
Hope you like it :)
