FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Oh Wonbin, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance

Rated : PG-15

Length : Part (On Going)

Warning : NO EDIT! (Ini gak saya baca ulang, Mian klo ada salah typo/bahasa aneh)

.

Part 17

.

***
Author POV

.

"Jo-Jonghun hyung?"Seunghyun terkejut. Begitu juga dengan orang yang namanya disebut olehnya. Mereka hanya saling menatap kaget beberapa saat. Lamunan itu-pun dipecahkan oleh tepukan seseorang dipundak Jonghun. "Ya~ kenapa kau malah diam disini?"sahut Hongki.

Mata bulat Seunghyun-pun semakin terbelalak setelah keluar seorang lagi yang ia kenal.

"Hongki hyung!"serunya tanpa sadar. Hongki-pun menoleh kearah Seunghyun. "Hah? Sedang apa kau disini?"kaget Hongki.

"Hyung~ aku rasa kita sudah menemukan guitarist baru!"seruan Minhwan-pun membuat mereka kembali bertatap heran. "APA?"

.

Jonghun POV

.

"Sejak kapan kau bermain gitar?"tanya Minhwan antusias. Jaejin-pun ikut menatap bocah itu seolah penuh harapan.

"Err…sejak kecil…"jawabnya pelan.

"Berarti kau sudah mahir-kan? Selain gitar, apa kau bisa memainkan instrument lain?"kali ini Jaejin yang antusias.

"Tidak…tapi…aku bisa Rap…"kami semua-pun langsung terkejut mendengar jawabannya.

"Kau…bisa Rap?"heranku tak percaya. Hongki-pun melirik kearahku sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Wow! Apa kau ikut sebuah band?"tanya Jaejin & Minhwan. Bocah itu menggeleng kepala. "Tidak. Aku belajar otodidak"jawabnya singkat.

Jaejin & Minhwan-pun menatap satu sama lain, kemudian membisikkan sesuatu. Tak lama kemudian mereka menoleh kearahku dan Hongki menunjukkan Puppy Eyes seorang magnae.

Tidak. Jangan bilang kalian akan merekrut dia!

"Hyung, dia punya semua yang kita butuhkan"ucap Jaejin sambil menatapku & Hongki bergantian.

"Dia juga bisa Rap hyung. Jadi kita bisa menciptakan lagu tanpa harus pusing pada bagian Rapnya"sahut Minhwan yang ada disampingnya.

"Jaejin, bukankah kau bisa Rap? Selama ini kita menciptakan lagu juga tidak pusing pada bagian Rap"ucapku -pun mengerenyit kecewa.

"Rap-ku tidak terlalu bagus hyung…bagianku memang bukan Rap…"elak Jaejin dengan nada sok polos. Aku-pun hanya bisa mengerucutkan bibirku dan berdecak kesal.

"Hyung, kalau performa-ku bisa diakui olehmu, apa aku diterima masuk band ini?"tiba-tiba bocah itu beranjak dari kursi & langsung membuat kami terkejut oleh pertanyaanya.

Aku langsung terdiam saat melihat kesungguhannya mengatakan hal itu.

.

Seunghyun POV

.

Sudah impianku, aku sangat ingin bisa berlatih distudio ini. Studio mewah yang ada didalam gedung elit yang selama ini hanya bisa kulihat dari jauh. Namun bukan kemewahan itu yang kupandang, melainkan seperti apa orang-orang hebat yang berlatih ditempat seperti ini.

"Kalau kemampuanku bisa kutunjukkan & kau mengakuinya. Itu artinya aku bisa masuk band ini-kan Jonghun hyung?"tanyaku lantang. Jonghun hyung yang duduk dihadapanku hanya diam. Saling bertukar pandang penuh arti dengan Hongki hyung yang duduk disampingnya.

Baik. Diam sudah kuanggap sebagai 'iya'. Aku-pun sudah tak sabar lagi, aku memang harus menunjukkan kemampuanku jika ingin impianku terwujud.

Tanpa aba-aba, aku-pun meraih gitarku & berdiri diatas panggung kecil yang sudah dipenuhi oleh instrument-instrumen lainnya. Kuambil nafas dalam-dalam untuk menstabilkan pikiranku. Jaejin Hyung & juga Minhwan hanya bisa membelalakan mata melihatku.

If it's a big dream that cannot be reach, run as hard as possible

let's kick the gloomy sight away with your strong mind

If the big dream is torn apart,

you can start over from the beginning, gathering the pieces

If you try halfway, K.O

If you are only grieving, no go

I'm losing who I truly am

I was asking, being lost in the crowd

many times

sliding into such my mind,

our encounter changed my destiny suddenly yeah

in this downcasted town,

only your eyes reflected the sky

words are not needed. that passion moved my mind

we sometimes stumble on a distant way

but it's all right

you can learn something from it

being in a distant place sometimes makes you realize things.

shall I wander? I have a feeling that the answer might be here

what borthers you? if you get over it, OK

If you try your best, the answer is my way

(FT Island – Haruka)

Kuhentikan permainan gitarku bersamaan dengan alunan terakhir suaraku. Lagu itu berhasil kunyanyikan.

PROK! PROK! PROK!

Terdengar suara tepuk tangan yang meriah. Yah, walaupun hanya 2 orang yang bertepuk tangan, Jaejin hyung & Minhwan, namun tepukan itu benar-benar berarti bagiku.

"Ternyata kau bisa menyanyikan lagu Jepang! Hebat sekali!"seru Jaejin hyung.

"Seung, aku suka permainan gitar & rap-mu!"sahut Minhwan dengan senyum lebar yang kemudian mengacungkan 2 Ibu Jari tangannya kepadaku.

Aku hanya bisa tersenyum lega, setidaknya masih ada orang yang menanggapi permainanku. Aku melirik kearah Jonghun hyung, orang yang paling ingin kuminta pengakuannya.

"Petikan gitar macam apa itu? Aku bisa merasakan kau gemetaran, kau gugup hah?"ucapan tajam Jonghun hyung benar-benar menusuk hatiku. Namun entah kenapa aku malah merasa lega. Dia bahkan menyadari kesalahan sekecil itu, artinya dia benar-benar mendengarkan permainanku-kan?

"Jo-Jonghun hyung…"Minhwan ikut menganga heran mendengar kritikan tajam dari Jonghun hyung.

"Ikut aku!"tegas Jonghun hyung seraya menyuruhku mengikutinya saat ia beranjak dari kursi & berjalan keluar meninggalkan ruang studio. Aku-pun segera melangkahkan kaki menyusulnya & meninggalkan Jaejin-Hongki hyung & juga Minhwan yang masih terperanjat diam.

.

***
Jonghun POV

.

Aku tidak bisa mengelaknya, permainan anak itu barusan…

Aku tidak bisa bohong mengatakan bahwa aku tidak suka…

Aku harus mengakuinya?

"Jadi…bagaimana Hyung?"tanyanya dengan wajah polos. Hanya ada kami berdua di tempat ini. Sengaja kupilih tempat sepi karena aku ingin membicarakan hal ini berdua saja dengannya.

"Permainanmu masih jauh dari kata sempurna! Kau belajar dimana sih?"ucapku ketus. Anak itu menatapku sumringah dengan kedua mata besarnya. Seolah tak perduli dengan kata-kata tajamku barusan.

"Tadi sudah kubilang-kan hyung, aku belajar otodidak. Jadi maaf kalau permainanku tidak bagus"jawabnya sambil terkekeh pelan.

Aku-pun terdiam mendengar jawabannya. Otodidak? Apa dia bilang begitu tadi? Aku sama sekali tidak dengar. Dia belajar otodidak tapi permainannya sudah seperti itu?

"Sejak kapan kau belajar gitar?"tanyaku lagi.

"Tadi juga sudah kubilang hyung…sejak aku kecil…sepertinya waktu SD…"ucapnya kembali terkekeh. Aku juga tidak mendengar bagian itu, aku yang tadi memang benar-benar tidak memperdulikan ucapannya.

Aku kembali terperanjat. Dia tak jauh beda denganku, kami sama-sama belajar sejak kecil. Namun yang membuatku terpukau adalah, dia belajar itu semua sendiri, sedangkan aku saat itu belajar bersama guru pembimbing. Otodidak & performanya hampir menyamaiku yang sudah berlatih dengan pembimbing-pembimbing profesional.

"Maaf hyung… Aku tahu permainanku jelek & tak pantas untuk bersanding dengan orang-orang seperti kalian. Tapi… aku sangat menyukai gitar, aku ingin sekali bisa bergabung bersama kalian, walaupun statusku hanya sebagai 'pembantu' untuk performa kalian"ucapnya dengan senyum tipis. Walaupun begitu, bisa kulihat kesungguhannya menjalankan niatnya.

"Jadi hanya seperti itu niatmu? Kau terima hanya berstatus sebagai 'pembantu'? Apa hanya seperti itu kesungguhanmu?"gertakku padanya.

Ia membelalakan matanya lebar-lebar. Dengan segera ia menggeleng kuat.

"TIDAK! Aku bukan orang dengan niat serendah itu hyung! Hanya saja sekarang aku masih tahu diri! Band itu punyamu, bukan aku. Aku masih menghormatimu hyung! Karena itu aku masih terima walaupun tugasku hanya membantu!"ucapnya dengan nada lantang. Tentu saja aku tahu maksudnya, aku hanya ingin melihat semangatnya lebih dari ini.

Aku-pun menyeringai sedikit. "Kalau begitu tunjukkan kemampuanmu yang lebih dari ini. Permainanmu masih jauh dari kata sempurna, tapi kuakui… Bakatmu luar biasa"

Seketika Seunghyun langsung terdiam kaku mendengar ucapanku. Matanya kembali membelalak lebar tak percaya.

"Ma-maksud hyung…"

"Aku tidak mau mengulang kata-kataku. Jangan sampai kau tidak mengerti maksudnya atau kau benar-benar tidak kuterima karena otak bodohmu itu!"ucapku ketus.

"Hyu-hyung…"dia semakin menatapku sumringah. Senyum lebar kini terpampang diwajahnya.

"Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau melihat kemampuan 'standar'mu itu dalam memainkan gitar. Kau bisa merusak citra seorang guitarist"cibirku lagi dengan bahasa yang semakin tajam. Aku memang tidak bisa jujur.

GREP.

"Hah…!"sekarang giliranku yang terperanjat kaku. Apa ini? Kenapa anak ini memelukku?

"Hyung! Terima kasih banyak! Aaaah~"teriaknya dengan senang seraya mempererat pelukannya.

"Ya! Kenapa kau memelukku?"teriakku kesal sambil melepas paksa pelukannya.

Ia masih menatapku berbinar-binar tanpa rasa bersalah(?) sedikit-pun. Dan kemudian kembali tersenyum lebar. "Pokoknya terima kasih hyung!"

Aku hanya bisa diam. Aku-pun tak lupa bahwa dia adalah orang yang bisa dibilang paling aku 'benci' kehadirannya.

Secara otomatis dia sudah kuanggap sebagai saingan walaupun orang yang kami perebutkan(?) sudah jelas-jelas jatuh ketanganku.

Namun untuk saat ini & juga kondisi ini, aku rasa aku bisa melupakannya sedikit. Setidaknya dengan begini aku bisa mengawasinya lebih dekat.

.

***
Author POV

.

Langkah riang sepasang kaki jenjang membuat beberapa orang melirik aneh kepada sang pemilik kaki(?). Bagaimana tidak? Song Seunghyun, si Jangkung itu kini tengah memamerkan sederet gigi putihnya sambil bersenandung entah lagu apa, hanya senandung yang terdengar senang.

"La La La~"tak henti-hentinya pipi chubby itu menggembung tiap senyum bahagia tersungging dibibirnya. Gitar dipunggungnya ikut berlompat-lompat(?) ria seiring kedua kaki jenjang itu menghentak berkali-kali ditanah. Namun kebahagiaan itu membuat Seunghyun lupa dengan penglihatannya. Ia terus memejamkan mata sambil membayangkan bahwa dirinya adalah seorang anggota Band sekarang. Namun bagaimanapun juga, 'Mata' sangatlah penting, karena kalau tidak…

BRUGH.

Lihat? Kau bisa menabrak seseorang. "Aaaah…"rintih seorang gadis yang ditabrak Seunghyun dengan cukup keras tadi. Seunghyun yang ikut terjerambab disampingnya-pun langsung bangun setelah yakin tidak ada yang salah pada dirinya, hanya gadis itu yang harus dia tolong.

"Ma-maaf.. Kau tidak apa-apa?"tanya Seunghyun cemas. Gadis itu-pun mengangkat wajahnya sambil terus meringis kesakitan. "Ka-Kazu?"kaget Seunghyun saat melihat wajah gadis itu yang tak lain adalah Kazu.

"Ukh…"Kazu tak perduli dihadapannya Seunghyun atau bukan, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah rasa nyeri dipergelangan tangannya yang entah kenapa tidak mereda sejak tadi.

"Kazu? Ke-kenapa.. ta-tanganmu…"Seunghyun-pun mulai panik saat menyadari ada yang tidak beres dengan Kazu.

"Aah… Tidak tahu, tanganku sakit"lirih Kazu yang masih berusaha memijat-mijat pergelangan tangan tempat ia bertumpu saat jatuh tadi. Seunghyun-pun sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi walaupun ia tak begitu yakin.

Banyak orang yang lulung-lantang berjalan disekitar mereka, beberapa dari mereka bahkan menatap dengan tatapan aneh. Bisa jadi mereka berpikir, 'Siswa SMA Yudon menyakiti seorang Siswi MyeoungDam' Oh Tidak! –batin Seunghyun-

Sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi, Seunghyun-pun membawa Kazu pergi dari tempat ramai itu.

.

Kazu POV

.

Aku rasa tanganku terkilir karena jatuh tadi. Tubuhku yang berat tentu saja tidak kuat ditopang oleh tangan kecil(?) ini. (=_=)

"Ukh.."aku masih meringis saat Seunghyun mengompres tanganku dengan air hangat.

"Ma-maafkan aku… sungguh.. aku benar-benar minta maaf…"ucap Seunghyun berulang-ulang dengan wajah memelas. Sejak tadi aku memang hanya diam seolah tidak mendengar permintaan maafnya, namun bukan itu maksudku. Hanya saja pikiranku diganggu oleh rasa nyeri ini.

Namun sejak tangan ini disentuhnya lembut sambil mengusapkan kain hangat itu, aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

"Tidak apa-apa"ucapku pelan. Seunghyun-pun langsung menoleh cepat kearahku. "Ta-tapi.."Seunghyun memelas lagi.

"Tadi kau minta maaf-kan? Kenapa pakai 'Tapi' lagi"ucapku sambil menghela nafas panjang.

"Bukan begitu. Bagaimanapun juga ini salahku, kau sampai terkilir seperti ini"gumamnya pelan.

"Sudah kubilang tidak apa-apa. Salahku juga, aku sedang melamun tadi"senyumku tipis.

"Eh? Kenapa melamun? Kau ada masalah?"Seunghyun-pun semakin khawatir dengan keadaanku. Tak bisa kupungkiri, aku memang melamun sejak tadi karena memikirkan sesuatu.

"Tidak, tidak ada apa-apa"aku mengelak. Untuk apa membicarakan masalah ini dengannya, ini tidak ada hubungannya dengan Seunghyun.

"Apa ada hubungannya denganku?"aku tersentak oleh ucapannya. Bagaimana bisa ia sepikiran denganku?.

"Karena Jonghun hyung? Apa dia belum memaafkanmu? Itu karena aku-kan?"ia langsung mencecarku dengan beberapa pertanyaan.

"Kazu, tolong jangan seperti ini terus. Kalau memang ada hubungannya denganku, bilang saja! Aku tidak mau melihatmu yang menderita seperti ini!"gertak Seunghyun. Aku-pun terdiam, baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Apa dia marah?

"Sudahlah Seung-"

"Lagi-lagi kau seperti ini!"aku kembali tersentak. "Kau selalu bilang tidak apa-apa! Kau selalu bicara seolah tidak ada masalah apa-apa! Kau tidak membiarkanku sedikitpun untuk membantumu! Aku benci sifatmu itu Zu!"mataku membulat sempurna. Dia benar-benar marah.

Suasana-pun langsung hening setelah Seunghyun menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya bisa terdiam kaku, tak percaya dengan apa yang baru kudengar. Seunghyun-pun membuang muka sambil berdesis kesal. Apa aku memang kelewatan kali ini? Seunghyun yang biasanya selalu tersenyum, sampai marah seperti ini.

"Seung… aku…"

"Maaf.. Aku sudah membentakmu.."ucap Seunghyun pelan seiring ia menolehkan kembali wajahnya menghadapku. Aku kembali terdiam dan menatapnya dalam.

"Aku hanya tidak suka… melihatmu murung seperti ini… kalau memang ini ada hubungannya denganku, aku harus membantumu…"ujarnya sambil menggenggam tangan kananku yang tidak terkilir dengan sangat lembut. Jantungku bergejolak hebat merasakan sentuhan hangat dari Seunghyun.

"Apa Jonghun hyung cemburu padaku? Baik, aku akan jelaskan padanya. Aku hanya temanmu, aku-"

"Seung"kupotong ucapannya. "Terima kasih"aku-pun tersenyum. Seunghyun hanya menatapku diam.

"Terima Kasih karena kau selalu mencemaskanku. Benar, aku tidak apa-apa. Sekalipun ada yang salah, adanya kau disampingku itu yang membuatku bertahan"sambungku. Seunghyun memalingkan wajahnya sejenak. Bisa kulihat semburat merah mewarnai wajah chubby-nya walaupun aku tidak tahu apa yang membuatnya tersipu malu seperti itu.

Tak lama kemudian ia-pun kembali menatapku, tapi kali ini berbeda. Aku merasa ada yang ingin ia katakan dibalik tatapan tajamnya itu.

"Kazu… sebenarnya aku…"aku masih terdiam bingung. "Sebenarnya aku su-"

"Apa yang kalian lakukan?"selintas suara menganggetkanku dengan Seunghyun. Spontan, baskom kecil berisi air hangat untuk kompres yang ditaruh dipangkuanku-pun terjatuh seiring aku menggerakkan kakiku refleks.

PYASSH. Air hangat itu membasahi seragam atas Seunghyun. Aku-pun segera meraih kain lain yang masih kering untuk mengelap seragam Seunghyun. Aku memajukan badanku spontan agar tanganku bisa meraih seragam basahnya.

DEG. DEG. DEG.

Kenapa aku berdebar seperti ini? Baru kusadari, wajah kami terpaut sangat dekat sekali, bahkan hidungku hampir menyentuh hidung Seunghyun.

"Kazu!"teriak Miki yang langsung membuyarkan lamunanku. Aku lupa dengan kedatangannya tadi.

"A-ah.. Aku pergi dulu!"ucap Seunghyun yang langsung beranjak dan meninggalkanku & Miki. Suara pintu tertutup-pun terdengar pertanda ia sudah keluar dari rumah ini.

Miki menghampiriku. "Kau… kenapa? Apa yang kau lakukan dengan Seunghyun?"tanya Miki sambil menatapku tajam.

"Ng.. Ti-tidak, tadi dia mengantarku kerumah karena tanganku terkilir saat jatuh dijalan"ucapku gelagapan. Entah kenapa jantungku belum bisa tenang, wajah Seunghyun tadi masih tergambar jelas dipikiranku.

"Kazu… benar…tidak ada apa-apa?"tatapan Miki semakin menginterupsi. Aku menggeleng cepat & tersenyum. Miki masih menatapku curiga, namun tak lama kemudian ia-pun kembali kekamarnya.

"Aaaah…"aku menghela nafas panjang. "Ada apa denganku? Kenapa aku terus memikirkan Seunghyun?"

.

***
Author POV

.

"Aku tidak kuat!"teriak Kira frustasi sambil mengatur nafasnya. Wonbin terkekeh kecil saat melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya Imut.

"Hihi.. Kau terlalu memaksakan suaramu. Nyanyi saja seperti biasa, tak usah berpikir untuk membawakannya sempurna"senyum Wonbin sambil menghentikan permainan gitarnya. Kira & Wonbin memang sedang berlatih bersama membawakan lagu duet mereka. Sudah lebih dari seminggu mereka latihan seperti ini, Kira-pun mulai terbiasa, namun tetap saja ada saat dimana ia merasa kesulitan membawakannya.

"Hufth… wajar saja, baru kali ini aku latihan serius. Selama ini aku menyanyi Cuma karena hobi, bagus atau tidak ya aku tidak perduli"umpat Kira sambil duduk dikursi yang terletak disamping Wonbin. Wonbin tersenyum manis kepada kekasihnya itu.

"Tapi suaramu bagus, kuakui itu"ucap Wonbin. Kira hanya mendengus pelan kemudian mengambil air minumnnya. Kira yang menengadah meneguk air minumnya, otomatis membuat lehernya terekspos sepenuhnya. Wonbin menatap dalam kedua benda cantik yang melingkar dilehernya.

"Kalung itu… sudah lama kau pakai-kan?"Kira menoleh saat mendengar gumaman Wonbin. "Kalung?"spontan, Kira-pun menyentuh kedua benda cantik yang melingkar dilehernya.

Wonbin mengangguk. "Kalung berbandul skull itu… sudah ada lebih dulu sebelum aku memberikanmu kalungku-kan?"

Kira diam sambil memainkan bola matanya kekiri & kanan. "Kau suka skull ya?"tanya Wonbin lagi.

"Iya"jawab Kira pelan. "Hhm, kau mengingatkanku dengan seseorang"senyum Wonbin.

Kira-pun membelalak bingung. "Temanku… dia juga suka sekali dengan skull"senyum tipis Wonbin.

"Hongki?"sahut Kira spontan. Wonbin-pun langsung menoleh heran kearah kekasihnya itu.

"E-eh? Maaf, aku salah ya? Habis sepertinya kalian saling kenal"ujar Kira. Wonbin-pun diam sejenak, tak lama senyum tipis tersungging dibibir tebalnya.

"Dari mana kau tahu dia suka skull?"tanya Wonbin. Kira terkesiap dengan pertanyaan Wonbin barusan.

"I-itu… bukankah setiap siswi disekolah ini tahu tentang pribadi pujaan sekolah itu"Kira berusaha mengelak.

"Jadi kau salah satu fansnya seperti yang lain?"sambung Wonbin. "Ha? Bu-bukan! bukan seperti itu!"elak Kira.

"Hm, kau jujur saja.. dia dekat denganmu-kan?"senyum tipis Wonbin. "Da-darimana kau tahu?"kaget Kira.

"Sebenarnya aku sudah tahu sejak di Kyoto. Bukankah dia yang mengajakmu jalan-jalan & membeli kalung itu"Kira semakin tersentak. Ia tak menyangka Wonbin tahu semuanya.

"Maaf…"ucap Kira pelan. Wonbin mengerenyit bingung. "Untuk apa?"

"Aku sudah membohongimu waktu itu. Aku bersama Hongki…"jawab Kira sejujurnya. Walaupun belum yakin dengan perasaanya terhadap Wonbin, namun tetap saja ada rasa mengganjal jika ia harus berbohong kepada seseorang yang berstatus sebagai Kekasihnya.

Suasana-pun hening sejenak. Tak ada yang bicara, atmosfir canggung-pun perlahan-lahan mulai terasa, terlebih lagi hanya ada mereka berdua di 1 kelas yang cukup besar itu.

"Ehm…tidak apa-apa. Dia orang baik kok"ucapan Wonbin memecahkan suasana canggung itu. Kira-pun mengangkat kepalanya & menoleh kearah Wonbin. Wonbin hanya tersenyum miris, berusaha menyembunyikan kekecewaan & sakit hatinya didepan Kira.

"Dia pasti senang karena menemukan seseorang yang punya ketertarikan yang sama dengannya"senyum Wonbin.

"Wonbin, aku tidak tahu hubungan kalian sedekat itu"ucapan Kira langsung membuat senyum diwajah Wonbin memudar secara perlahan.

"Bukankah kau juga dekat dengan Minhwan? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu bergabung dengan 3 pujaan sekolah itu?"tanya Kira dengan wajah polos. Wonbin diam sejenak sambil memalingkan wajahnya.

"Wonbin?"panggil Kira. Wonbin-pun menoleh. "Haha, ada sesuatu diantara kami"Wonbin terkekeh kecil.

"Sesuatu?"Kira mengerenyit heran sambil menatap tajam Wonbin. Wonbin-pun bangkit dari kursinya & berjalan mendekati Kira. Ia merunduk perlahan agar posisinya sejajar dengan kekasihnya itu.

"Sepertinya hal ini memang harus kuceritakan. Tapi… tidak sekarang…"perlahan kedua lengan jenjang Wonbin menarik Kira kedalam dekapannya dengan lembut.

"Wo-Wonbin… kenapa…?"tanya Kira yang wajahnya sudah dipenuhi dengan semburat merah. Ia terkejut sekaligus (sedikit) senang dengan perlakuan Wonbin.

Wonbin tidak menjawab apa-apa. Karena aku belum siap kehilanganmu –batin Wonbin-

SRAKK.

Tiba-tiba pintu terbuka seiring dengan masuknya seseorang kedalam ruangan itu. Spontan, Kira-pun mendorong tubuh Wonbin (agak) kasar agar segera melepaskan pelukannya.

"Maaf, apa aku mengganggu?"tanya gadis itu yang tak lain adalah Eybin dengan wajah tidak enak.

"Ti-tidak, tidak apa-apa!"sahut Kira tegas. Wonbin masih terdiam disampingnya tanpa menoleh kearah Eybin. Matanya menatap kosong lantai marmer dibawahnya saat pikirannya mulai terusik dengan sikap-sikap aneh Kira yang tentu saja sudah ia ketahui alasannya. Kira belum bisa mencintainya dengan tulus.

"Sunbae…"panggil Eybin pelan. Wonbin-pun mengangkat kepalanya perlahan & menoleh kearah Eybin.

"Maaf, aku butuh bantuanmu lagi. Aku tidak bisa berlatih sendiri"ucap Eybin sambil melirik sekilas kearah Kira. Kira hanya menatap Eybin seolah ia mendukung segala usaha Eybin untuk merebut Wonbin darinya. Karena memang dia sendiri yang meminta Eybin untuk melakukan hal itu.

"Ada kesulitan lagi?"tanya Wonbin kepada Eybin. "Iya, aku benar-benar butuh bantuan sunbae"pinta Eybin yang agak terdengar memaksa. Namun memang itulah bentuk usahanya.

"Bantu dia saja Wonbin. Maaf, sepertinya aku mau pulang sekarang"ucap Kira ikut dengan nada memohon kepada Wonbin.

"Mau pulang bersama?"tawar Wonbin. Kira-pun menggeleng cepat. "Tidak usah. Kau masih harus membantu Eybin, latih dia Wonbin! Kalau sampai performanya buruk, aku kecewa padamu~"gerutu Kira yang sebenarnya hanya mencari alasan.

"Maaf.. aku tidak bisa mengantarmu…"ucap Wonbin pelan.

"Tidak apa-apa. Kau memang sunbae berbakat, jelas saja kalau banyak adik kelas yang butuh bantuanmu"senyum Kira sambil menoleh kearah Eybin. Eybin hanya diam karena masih merasa canggung dengan permintaan Kira.

"Iya sudah. Hati-hati dijalan"senyum tipis Wonbin. Ia-pun berjalan mendekati Eybin. "Ayo… kita latihan"Wonbin & Eybin-pun meninggalkan Kira dikelas itu.

.

***
Author POV

.

Miki terus memikirkan kejadian tempo hari saat ia melihat Seunghyun & Kazu berdua dirumah. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka karena Kazu agak terlihat bersikap aneh, -batin Miki-.

"Apa mungkin Seunghyun memang suka pada Kazu? Seperti kata Jonghun sunbae…"gumam Miki sambil menopang dagu diatas kedua lututnya yang ia tekuk. Pikirannya masih melayang dengan hubungan ketiga orang itu.

"Ternyata kau memang memata-matai temanmu sendiri ya"suara itu membuyarkan lamuan Miki. Ia-pun langsung menoleh karena merasa sangat familiar dengan suara itu.

"Aku bukan orang seperti itu!"protes Miki dengan wajah cemberut kepada salah satu pujaan sekolah yang membuyarkan lamunannya itu. Choi Minhwan.

"Kalau bukan memata-matai lalu apa? Jelas sekali kau mengawasi kedua orang itu"ucap Minhwan datar sambil memperpendek jaraknya dengan Miki.

Miki hanya mendengus kesal & membalikkan lagi tubuhnya menghadap lapangan baseball yang hanya berisikan beberapa orang yang sedang latihan. Lebih baik dari pada menatap wajah menyebalkan pujaan sekolah itu, pikir Miki.

"Sebaiknya kau biarkan saja hubungan mereka. Kau tidak perlu ikut campur"sambung Minhwan yang entah sejak kapan sudah ikut duduk disamping Miki. Untung tempat ini sepi, kalau tidak Minhwan tidak akan tenang duduk ditempat terbuka seperti ini, apalagi bersama seorang gadis.

"Sejak kapan kau perduli denganku? Apapun yang kulakukan, itu urusanku-kan"ketus Miki. Minhwan-pun terkesiap dengan kata-kata Miki, memang benar, sejak kapan ia memikirkan gadis yang dijulukinya 'pendek' itu?

"Ya! Siapa juga yang memikirkanmu? Aku hanya kasihan pada temanmu itu, dimata-matai oleh temannya sendiri"elak Minhwan sambil ikut menggerutu kesal.

"Yak! Sudah kubilang aku bukan orang yang seperti itu… aku-kan hanya membantu Hyungmu itu!"balas Miki.

"Kau bilang kau tidak perduli pada Jonghun hyung. Kalau begitu biarkan saja"ucap Minhwan.

"Aaaah… kau tidak mengerti. Awalnya juga kupikir begitu, tapi entah kenapa aku yakin.. Jonghun sunbae memang mencintai Kazu, dia hanya tidak tahu caranya. Karena itu aku mau membantunya"jelas Miki.

"Ya, kau memang benar. Jonghun hyung hanya tidak tahu caranya"sahut Minhwan. Miki-pun langsung menoleh cepat kearah pujaan sekolah itu. "Kau setuju denganku?"heran Miki.

Minhwan hanya mendengus malas. "Hanya untuk yang satu ini"jawab Minhwan.

Miki semakin menatapnya bingung. Tadi Minhwan memikirkanya, sekarang ia sependapat dengannya. Apa dunia sudah terbalik? Mereka yang biasanya berselisih kenapa jadi (sedikit) lebih akrab seperti in?

"Berhenti menatapku seperti itu. Menyeramkan. Seperti ditatap oleh hantu"ledek Minhwan.

"Cih, ternyata masih saja ketus. Percuma aku berpikir lebih akrab tadi"gerutu Miki sambil mengerucutkan bibirnya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Jaejin hyung?"pertanyaan tiba-tiba Minhwan semakin membuat Miki mengerenyit heran. "Kenapa jadi Jaejin-niisan?"

"Tidak. Aku hanya bertanya"ucap Minhwan sambil memutar bola matanya. Entah kenapa sejak ia tahu kalau Jaejin tidak menyukai Miki, hal itu selalu mengusiknya.

Miki tetap diam, ia masih bingung dengan tingkah Minhwan yang menurutnya lain daripada biasanya.

"HEI, AWAS!"tiba-tiba saja salah satu pemain baseball dilapangan berteriak kencang kepada Minhwan & Miki. Minhwan langsung menoleh cepat, dilihatnya bola baseball yang melambung cepat kearah Miki.

DUAGH.

"Mi-Minhwan?"panik Miki saat bola itu menghantam keras kepala Minhwan yang sudah melindunginya. Minhwan-pun langsung ambruk menimpa tubuhnya. Dia pingsan.

"Mi-Minhwan.."pekik Miki yang hanya bisa terdiam kaku. Minhwan tak bergeming sedikit-pun, beberapa orang yang berlatih Baseball-pun langsung menghampiri mereka & membantu membawa Minhwan ke UKS.

.

TBC (MAKSA!)

Now Playing : Super Junior – Don't Don (gak nyambung)

.

Maaf Updatenya lama banget, FIC BLOCK! Saya gak bisa berpikir jernih buat lanjutin ini, makanya bersambungnya maksa gitu. Aigoo (=_=)

Sekali lagi Jeongmal Mianhae yo~