FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Oh Wonbin, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rated : T
Length : Part (On Going)
Warning : ALUR LAMBAT, BERTELE-TELE, SUNGGUH MENYIKSA MATA
.
Part 18
.
***
Minhwan POV
.
"Agh.."kurasakan pusing yang menjalar. Aku sadar aku tengah berbaring ditempat tidur sebuah ruangan putih yang kukenal, UKS. Kenapa aku? Ah, aku ingat. Tadi ada bola baseball yang menabrakku(?) (=_=)
Karena apa? Gadis pendek itu, ckckck. Tunggu! Ke-kenapa aku menolong gadis itu?
"Minhwan!"lamunanku buyar seketika saat suara itu berteriak menyerukan namaku. Gadis pendek yang tiba-tiba muncul dari balik tirai itu langsung saja menyambarku.
"Kau sudah sadar? Kepalamu masih sakit? Masih pusing? Sebelah mana yang sakit?"cercaan pertanyaannya semakin membuatku pusing.
"Yak! Apa kau bisa diam? Kau membuatku semakin pusing!"kumarahi gadis pendek itu. Ia-pun langsung diam & tertunduk takut. Tumben sekali dia tidak melawanku.
"Ma-maaf…"aku mengerenyit heran saat mendengar kata maaf darinya. "Aku sudah melukaimu, maaf"sambungnya lagi.
"Dasar gadis bodoh. Bola melayang seperti itu malah tidak sadar. Akh, kepalaku pusing"jawabku dingin seraya mengelus-elus bagian belakang kepalaku yang dihantam bola.
Ia tak bicara apapun, bahkan mendesis kesal sekalipun tidak. Ada apa dengannya? Padahal aku sudah bicara sedingin itu, biasanya dia marah.
"Aku… benar-benar minta maaf"suaranya lebih terdengar berbisik. Apa dia sungguh menyesal?
Kutatap wajahnya, aku terperangah. Selama ini walaupun kami terkadang bersama, baru kali ini dengan sendirinya aku menatap wajah Childy itu.
Ia tertunduk lesu, tak tampak semangat sama sekali dari kedua bola mata bulatnya. Raut wajahnya cemas, apa dia benar-benar menyesal?
"Sudahlah"ucapku santai. Jujur, aku tidak suka wajah murungnya. Ia-pun mengangkat wajahnya perlahan, melirik kearahku dengan takut-takut.
"Tidak apa-apa"ucapku lagi. Ia masih diam & menatapku. "Aku tidak apa-apa. Jangan berwajah seperti itu"
"Minhwan…"kini ia menatapku lirih. "Padahal kau tidak perlu melakukan itu. Kenapa tiba-tiba kau loncat kehadapanku & melindungiku?"tanyanya pelan.
Kini aku yang terdiam. Kenapa ya? Aku juga tidak tahu. Spontan saja, 'Aku tidak mau gadis ini terluka'
"Wajar saja, aku ini laki-laki. Kau pikir laki-laki akan membiarkan wanita yang terluka? Walaupun kita musuh, tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkan-"
"Kau anggap aku musuh?"aku tersentak. "Jadi selama ini kau anggap aku musuhmu?"tanyanya lagi.
Tidak. Sepertinya aku salah bicara, apa yang aku katakan? Darimana aku dapat kata-kata kejam seperti itu? Aku-pun tak bermaksud-
"Kalau begitu… aku benar-benar minta maaf. Kau pasti sangat menyesal sudah menolong musuhmu sendiri"aku terdiam kaku. Jujur aku bingung dengan kata-katanya, dia terlalu berpikir miris. Tapi aku tahu kenapa ia sampai berpikiran begitu.
"Kalau begitu aku duluan. Sekali lagi maaf"ia segera melangkahkan kaki menjauhi tempat tidurku. Spontan aku berusaha menahannya.
"Tunggu"ucapku tegas sambil kugenggam erat tangan kirinya. Ia tak berbalik, hanya diam.
"Kau.. aku sudah pernah bilang, aku tidak suka wajah murungmu. Tapi aku lebih tidak suka lagi dengan pikiran mirismu itu"ia berbalik seiring aku menyelesaikan kalimatku. Dahinya mengerenyit, matanya menatapku bingung.
"Baik, kali ini kuakui aku yang salah. Maaf sudah menyebutmu musuh"aku memalingkan wajahku. Terpana malu dengan kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulutku.
"Kau…"ia bergumam pelan. Aku-pun melepaskan tanganku yang sejak tadi menggenggamnya erat.
"Kita bukan musuh. Kau menganggapku apa? Terserah padamu"ucapku asal. Aku sudah kehabisan kata-kata, suasana canggung ini benar-benar tidak menyenangkan.
"Penolong…"aku terkejut mendengar jawabannya. "Eh?"kutatap wajahnya tak percaya.
Ia menatapku seperti agak tersipu malu. "Kau… penolongku. Sudah kuanggap begitu"aku semakin tidak mengerti kata-katanya.
"Kau bicara apa sih? Kenapa aku penolongmu?"tanyaku heran.
"Ternyata kau memang tidak sadar ya? Sejak awal kita bertemu, bukankah kau selalu menolongku?"ia malah balik bertanya. Rasanya otakku sedang berputar-putar mengingat masa lalu.
"Mungkin karena kita terlalu sering bertengkar jadi kau tidak menyadari semuanya. Aku-pun baru menyadarinya. Sejak awal saat kau mengejar pencuri tasku, saat aku muram karena cemburu dengan Yeonhee onnie, kau yang menemaniku & bilang jangan berwajah muram, saat aku tersesat di hutan Night Tour, kau yang menemukanku, lalu tadi… kau melindungiku dari bola baseball itu"jelasnya panjang lebar.
Memoriku berputar bersama cerita yang kudengar dari mulutnya, kini teringat jelas apa yang ia ceritakan. Benar, kuakui semua itu benar. Aku juga baru menyadarinya, kenapa… aku selalu menolongnya?
"Sebenarnya aku-pun berpikir… kenapa kita selalu bertengkar?"pertanyaannya membuat lubang besar dihatiku. Lubang yang tak membiarkanku menemukan jawabannya.
"Padahal kita tidak punya masalah satu sama lain. Bertengkar hanya karena hal-hal sepele. Ah, aku lupa. Bukankah kau tidak mau menganggapku temanmu?"
Teman? Aku jadi temanmu? Hahahaha Dengar ya gadis Jepang. Kalau kau bisa jadi temanku, lalu kita berdekatan, mengobrol bersama disekolah. Itu artinya gadis-gadis lain juga bisa jadi temanku segampang itu, kau bisa bicara semudah ini karena kau tidak tahu rasanya dikejar-kejar! Mana bisa aku tenang disekolah kalau begitu!
Aku teringat kata-kataku padanya dulu. Mungkin kata-kata itu terdengar sepele seperti candaan, tapi kalau kupikir-pikir itu kejam juga.
"Minhwan, katakan sesuatu. Kenapa dari tadi kau hanya diam saja?"gerutunya. Aku-pun menoleh.
"Kau… benar. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti itu"aku bingung harus memberi jawaban apa. Suasana kembali hening, kembali canggung, tak ada yang lanjut bicara diantara kami.
"Minari, kau sudah sadar?"tiba-tiba suara Yeonhee noona memecahkan aura canggung diantara kami. Kami-pun menoleh serempak kearahnya.
"Masih sakit? Kau payah sekali sih, Cuma dihantam bola begitu saja langsung pingsan"goda Yeonhee noona sambil berjalan mendekatiku & Miki.
"Hihi kalian berdua sama saja. Saling mencemaskan satu sama lain"aku & Miki-pun serentak menatap horror kearah Yeonhee noona. Apa maksudnya?
"Aku mau kembali duluan, permisi Onnie"dengan cepat Miki-pun berjalan meninggalkan kami berdua & keluar dari ruang UKS.
"Hhe wajahnya lucu sekali kalau sedang malu"Yeonhee noona terkekeh kecil sambil terus menatap arah kepergian Miki.
"Noona apa maksudmu?"tanyaku heran. Ia-pun menoleh kearahku. "Dia.."Yeonhee noona menunjuk kearah Miki pergi. "Sampai membolos pelajaran untuk menungguimu disini"mataku sukses terbelalak.
"Hah?"Yeonhee noona kembali tersenyum. "Padahal dia sudah terlanjur membolos, kenapa tidak disini saja? Apa aku mengganggu kalian tadi?"ucap Yeonhee noona dengan wajah polos.
Aku masih terdiam, apa benar dia begitu? Benar juga, ini sudah pertengahan pelajaran. Dia benar-benar membolos untuk menungguku disini?
"Ya~ kenapa kau malah melamun? Masih sakit?"seru Yeonhee noona sambil menepuk punggungku. Aku-pun menggeleng.
"Ckckck.. iya sudah, kau istirahat saja lagi. Jonghun & Hongki akan segera kesini"jelas Yeonhee noona. Aku-pun mengangguk menuruti kata-katanya.
.
***
Miki POV
.
DEG. DEG. DEG. DEG.
Minhwan. Minhwan. Minhwan. Minhwan.
Kenapa dengan Minhwan? Kenapa aku jadi terus memikirkannya seperti ini? Oh~
Rasanya wajahku memanas, segera saja kututupi wajah ini dengan kedua tanganku. Otakku masih saja 'bergumam' menyerukan nama Minhwan.
Aku masih berdiri didepan pintu UKS. Jantungku berdegup tak karuan, rasanya lemas sekali untuk melangkahkan kaki. Lagipula aku harus kemana sekarang? Aku sudah terlanjur membolos, tidak mungkin aku masuk ditengah-tengah pelajaran seperti ini.
"Kita bukan musuh…"gumamku sepelan mungkin. "Kita… bukan musuh…"senyum lebar tersungging diwajahku.
Lega sekali rasanya mendengar dia bicara seperti itu. Aku-pun tak mau terus-terusan bertengkar tak jelas seperti itu, sebenarnya aku sangat ingin berteman dengannya sejak ia menolongku.
Semakin ia menolongku, semakin aku ingin dekat dengannya. Dekat dan lebih dekat.
"Yaish, Miki apa yang kau pikirkan? Kau seperti orang bodoh"gerutuku pada diriku sendiri. Aku menoleh kekiri & kanan. Sepi. "Ash.. harus kemana aku sekarang?"aku-pun segera melangkahkan kaki meninggalkan ruang UKS.
.
***
Author POV (Few Day Later)
.
Hari ini-pun Hongki-Jonghun-Jaejin-Minhwan & juga Seunghyun berlatih bersama untuk performa band mereka. Kerja sama semakin baik, walaupun terkadang Jonghun masih bersikap dingin & tegas kepada Seunghyun. Tapi Seunghyun yakin, Jonghun begitu karena dia ingin permainan gitarnya (Seunghyun) bisa jadi lebih baik.
Hubungannya dengan yang lain-pun perlahan mulai akrab. Hongki sama ketusnya dengan Jonghun saat menghadapi Seunghyun, namun bedanya pembawaan Hongki lebih santai saat bicara dengan Seunghyun.
Karena seumuran, Minhwan-pun ikut dekat dengan Seunghyun, Jaejin juga merasa senang dengan keberadaan Seunghyun.
"Jonghun hyung, bisa kita bicara?"tanya Seunghyun kepada Jonghun yang masih meyendiri memainkan gitarnya di studio. Member lain sedang ke mini market untuk membeli snack & minuman.
Jonghun-pun menoleh kearah Seunghyun kemudian mengangguk. Dengan segera Seunghyun duduk dikursi yang ada disamping Jonghun.
"Hyung… bisa-kan aku percaya padamu?"Jonghun mengerenyit mendengar pertanyaan Seunghyun. "Maksudmu?"heran Jonghun.
"Kazu… bisa-kan kupercayakan dia kepadamu?"Jonghun terkejut mendengar ucapan Seunghyun.
"Apa maksudmu? Kenapa membahas masalah ini?"seru Jonghun dengan nada yang agak kesal. Sudah susah payah ia mengubur rasa bencinya kepada Seunghyun demi band mereka tapi malah Seunghyun sendiri yang mengungkit-ungkit masalah yang sedang dihindari Jonghun itu.
"Hyung, hari itu saat aku menjemput Kazu disekolah, sungguh kami tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengajaknya makan ramen, kami memang biasa pergi bersama seperti itu"jelas Seunghyun. Namun kata-katanya justru membuat Jonghun sulut termakan api cemburu karena ia tahu Kazu memang sering pergi bersama Seunghyun.
Jonghun-pun berdecak kesal. "Berani sekali kau membahas masalah lain saat latihan, padahal permainan gitarmu masih buruk!"Jonghun menyangkal.
"Hyung, aku mohon… maafkan Kazu, dia tidak salah. Yang salah adalah aku"lirih Seunghyun sedangkan Jonghun masih bersikap tak perduli.
"Hyung…"panggil Seunghyun lagi. Jonghun yang sudah habis kesabarannya-pun segera menaruh gitarnya dengan kasar. "Aku sudah memaafkannya! Masalahnya sudah selesai, kenapa kau malah mengungkit-ungkitnya lagi?"marah Jonghun.
Seunghyun-pun terlonjak kaget dengan emosi & jawaban Jonghun. "K-kau sudah memaafkannya? Lalu.. kenapa dia masih muram?"heran Seunghyun tak percaya.
Jonghun-pun ikut terkejut dengan ucapan Seunghyun. "Apa? Dia muram?"segelintir perasaan khawatir-pun menyerang Jonghun. Dia tahu pasti, Kazu seperti itu karena memang sikap cueknya yang masih tidak berubah. Ia ikut merasa bersalah.
"Hyung, kau tidak melakukan hal lain yang membuatnya sedih-kan?"tanya Seunghyun lagi.
"Apa maksudmu? Jadi kau menuduhku melakukan sesuatu yang tidak baik padanya?"seru Jonghun yang kembali kesal atas kata-kata Seunghyun.
"Bukan Hyung.. Justru aku percaya padamu"kali ini ucapan Seunghyun membuat Jonghun terdiam. "Kau cemburu padaku, itu artinya kau sayang padanya-kan? Kau pasti takut aku merebutnya darimu karena hubungan kami yang dekat. Tenang saja Hyung, aku tidak seperti itu"ucap Seunghyun lagi.
"Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan? Tolong jangan buat aku pusing memikirkan kata-katamu"ucap Jonghun yang berusaha meredam amarahnya.
"Aku bukannya tidak percaya padamu Hyung, aku hanya takut Kazu menangis lagi. Ia sangat mencintaimu, karena itu aku harap kau tidak menyakitinya"jelas Seunghyun. Jonghun-pun terdiam memikirkan kata-katanya.
"Kau-pun tahu aku suka padanya. Aku terkejut sekali saat tahu ternyata kau adalah Kekasihnya, tapi aku relakan dia Hyung. Aku percayakan dia padamu"Seunghyun menoleh kearah Jonghun & menatapnya dalam.
"Seunghyun, kau…"Jonghun tidak tahu harus berkata apa. Seunghyun-pun tersenyum lembut kepadanya.
"Kau yang mendapatkan dia. Jaga dia Hyung, jangan sampai dia menangis lagi. Aku percaya padamu, Jonghun Hyung"
Jonghun hanya bisa diam menerima semua kata-kata Seunghyun. Tak tahu harus bagaimana, ia merasa sangat tersentuh dengan semua ucapan Seunghyun.
Tiba-tiba pintu studio terbuka & masuklah kedua member yang lain. Minhwan & Jaejin.
"Hyung, Hongki Hyung bilang latihan hari ini selesai. Dia sudah pulang duluan"seru Minhwan. Kedatangan mereka membuyarkan suasana hening diantara Jonghun & Seunghyun.
"Jadi kita boleh pulang sekarang?"Seunghyun menyahuti kata-kata Minhwan. Jonghun hanya diam dan menatap Seunghyun. Dia tahu, anak itu sudah merelakan Kazu & mempercayakan gadis itu padanya.
"Iya sudah. Cepat bereskan barang-barang kalian, besok sore kita akan latihan lagi"ucap Jonghun mencoba bersikap seperti biasanya. Semua member-pun menuruti kata-kata sang Leader & bersiap untuk pulang.
.
***
Kira POV
.
Aku berjalan pulang sendiri lagi. Sebenarnya Wonbin sudah mengajakku untuk pulang bersama, tapi kubiarkan dia untuk melatih Eybin. Ini memang sudah keputusanku.
Dan lihat? Aku sama sekali tidak cemburu dengan kedekatan Eybin & Wonbin, aku hanya merasa jahat. Karena aku sudah seenaknya menerima Wonbin padahal aku belum tahu pasti tentang perasaanku. Aku sayang padanya, aku-pun suka padanya, tapi tidak seperti itu. Tidak seperti dia mencintaiku.
"Hah…"aku menghela nafas panjang. Kalau bukan Wonbin, lalu siapa yang aku suka?
Kususuri jalan ditaman yang sudah diwarnai sinar mentari sore ini. Beberapa orang berjalan melewatiku & mereka berpasangan. Taman ini memang taman umum yang indah untuk sepasang kekasih & keluarga. Aku suka pulang melewati jalan ini karena suasananya yang asri.
Namun mataku langsung terkunci kepada seorang lelaki yang duduk dibangku taman sendirian, tanpa pasangan, sama sepertiku.
"Hongki…"lelaki itu benar Hongki. Kenapa ia sendiri? Dimana Jonghun & Minhwan?
Ia hanya duduk diam disana sambil memainkan I-Phonenya. Bisa kurasakan debaran jantungku bergejolak saat aku melihatnya. Beberapa hari ini aku memang tidak melihatnya, entah apa… seperti ada rasa rindu.
Aku-pun mengambil dompetku yang ada didalam Tas. Kukeluarkan couple necklace milik Hongki yang saat itu ia buang dihadapanku. Kugenggam erat benda itu, aku-pun menghela nafas panjang & memutuskan untuk mendekatinya.
"Hongki.."panggilku pelan saat aku sudah berdiri tepat dihadapannya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, memindahkan pandangannya dari I-Phone & menatapku. Matanya sendu, apa dia sedang tidak bersemangat saat ini?
"Kenapa kau ada disini?"tanyanya datar. "Aku baru pulang dari latihan"jawabku. Ia diam sejenak sambil mengalihkan pandangannya, kemudian kembali menatapku & tersenyum tipis.
"Oh, aku lupa. Setiap hari kau selalu latihan dengan Kekasihmu itu-kan? Tentu saja, bahagia sekali sepasang Kekasih yang akan duet ini"ucap Hongki sambil terkekeh pelan. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya, ditelingaku itu terdengar seperti sebuah sindiran dan aku tidak mau memusingkan hal itu.
"Ini"kuulurkan couple necklace miliknya. "Jangan seenaknya kau membuang benda ini. Ini adalah benda yang menggantikan kalung skull-mu yang aku rusakkan-kan? Kalau kau tidak memakainya, aku merasa bersalah"jelasku sambil terus mengulurkan couple necklace itu.
Kali ini tatapan Hongki berpindah keleherku. "Kenapa kau masih memakainya? Padahal sudah ada kalung cantik pemberian Kekasihmu itu disana. Bukankah kalung itu lebih cocok dipakai oleh seorang gadis dibanding kalung skull murahan ini?"ia kembali tersenyum tipis. Aku semakin tidak mengerti kata-katanya.
"Hongki, kita sudah sepakat-kan? Kalau aku memakai kalung ini berarti kau sudah memaafkanku. Tapi kalau kau seperti ini… apa kau marah padaku? Karena aku meninggalkanmu waktu Night Tour? Apa aku melakukan kesalahan lain? Hongki… aku tidak mengerti…"ucapku dengan nada lirih. Tentu saja aku sangat merasa bersalah, sepertinya ada sesuatu yang kulakukan sampai membuatnya marah & membuang couple necklace ini.
Bukannya menjawab, Hongki malah menoleh kearah kanan-kiri seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa kau sendirian?"tanyanya tiba-tiba. Aku-pun mengangguk.
"Lihat.. semua yang ada disini adalah sepasang Kekasih & Keluarga"ia tersenyum miris. Aku hanya mengerenyit bingung dengan kata-katanya sejak tadi.
Tiba-tiba saja ia berdiri & langsung memelukku dengan erat. Aku hanya bisa terdiam kaku didalam dekapannya. Jantungku berdegup tak karuan, perasaanku juga begitu. Namun 1 hal pasti yang kurasakan, aku senang dia memelukku.
"Kau mau tahu alasannya aku membuang Kalung itu?"tanyanya dengan nada lembut. Bisa kurasakan nafasnya yang tenang disekitar leherku. Aku-pun mengangguk pelan.
"Itu karena… Aku menyukaimu…"
DEG.
Menyukaiku? Menyukaiku bagaimana? Seperti yang biasa ia bilang? Menyukaiku karena aku Hoobae kesayangannya. Entah kenapa hatiku sakit tiap kali mengingat aku hanya dianggap Hoobae-nya, jujur aku ingin ia menganggapku lebih dari Adik Kelas.
"Hongki… sudah kubilang… jangan bilang 'suka' seperti itu…"ucapku lirih. Tolong jangan membuatku berharap.
"Tidak"aku tersentak dengan sahutannya. "Aku tidak main-main. Aku… serius menyukaimu. Aku mencintaimu.. Akegawa Kira.."aku terdiam kaku. Rasanya mulutku tak bisa bergerak untuk menyahuti setiap ucapannya.
Ia mempererat pelukannya. Mencium pundakku dengan lembut. Namun kurasakan sesuatu mengalir disana, pundaku seidikit basah. Apa Hongki menangis?
"Aku bodoh sekali, memeluk Kekasih orang seperti ini. Tapi kumohon… biarkan seperti ini, 5 menit saja…"ucapnya lirih. Aku hanya bisa mengangguk & ikut memelukknya erat.
Kami hanya diam satu sama lain, melewati menit-menit penuh keheningan. Tak ada yang menatap aneh kepada kami, karena tempat ini memang tempat untuk sepasang Kekasih. Apa kami terlihat seperti sepasang Kekasih sekarang?
Hongki-pun melepaskan pelukannya. Kutatap wajahnya dalam. Matanya merah, sepertinya dia memang habis menangis.
"Hha..maaf ya, aku sudah memelukmu"ia terkekeh kecil, namun bisa kurasakan pedih hatinya dibalik senyum tipis itu.
"Hongki… kau benar-benar menyukaiku?"aku-pun memberanikan diri untuk bertanya. Ia mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi, mungkin aku akan menyerah"aku kembali tersentak dengan ucapannya. Kali ini ia mengangkat tanganku yang sejak tadi menggenggam couple necklace miliknya.
"Buang saja benda ini & itu"ia menunjuk couple necklace milikku. "Aku akan berusaha melupakanmu. Karena itu kau tidak perlu lagi merasa bersalah kalau tidak memakai kalung ini. Tenang saja, aku memang sudah memaafkanmu"senyumnya tipis.
Hari-pun semakin sore. Beberapa pasangan & keluarga kecil terlihat sudah meninggalkan taman indah ini & memilih untuk pulang kerumah.
Tak beda dengan Hongki, setelah mengatakan hal itu ia-pun melangkahkan kaki meninggalkanku.
Aku tidak main-main. Aku… serius menyukaimu. Aku mencintaimu.. Akegawa Kira..
Kata-kata Hongki masih mengusik otak & hatiku. Pikiranku kalut. Aku-pun sadar, selama ini, aku juga mencintainya. Sebenarnya aku senang dengan semua sikapnya yang selalu mendekatiku, aku-pun senang karena dia selalu bilang suka padaku.
Namun aku hanya takut. Aku takut berharap, aku takut termakan kesedihan kalau pada akhirnya dia memang hanya menganggapku sebagai Adik kelas.
"Aku… tidak mau kau lupakan…"mataku masih menatap kosong arah kepergian Hongki.
"Jangan lupakan aku… Hongki…"pikiranku semakin penat, apalagi saat aku ikut memikirkan Wonbin. Benar, masih ada Wonbin. Apa yang harus kulakukan? Aku harus bagaimana? Aku.. sudah menyakiti 2 orang lelaki yang sudah mencintaiku.
.
***
Kazu POV
.
Masih saja. Masih saja aku memikirkan Seunghyun. Sebenarnya ada apa denganku? Aku tidak menyukainya-kan? TIDAK. Aku hanya mencintai Jonghun, seberapa-pun dingin dia memperlakukanku, aku tetap mencintainya.
Aku mengguling-gulingkan tubuhku diatas kasur besar ini. Kira belum pulang, karena itu aku bisa puas memakai 1 tempat tidur ini. Pikiranku masih kacau.
Mungkin karena Seunghyun selalu bersikap baik padaku yang haus kasih sayang Jonghun. Seunghyun seperti pengganti disaat aku butuh kasih sayang seperti itu. Aku benar-benar suka dengan semua perlakuan aku takut, aku takut terlalu dalam termakan oleh kebaikannya.
'Aku tidak Selingkuh-kan?'
Hal itu yang yang kutakutkan. Tentu saja aku mencintai Jonghun, tapi karena yang baik padaku adalah Seunghyun, aku takut aku malah jatuh ketangan Seunghyun.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka & masuklah Kira. Ia langsung menaruh tasnya sembarang & segera merebahkan tubuh disampingku. Kutatap wajahnya yang terlihat lesu itu.
"Kira, kau tidak apa-apa?"tanyaku agak cemas. Ia-pun menoleh kearahku, mata sipitnya yang biasa tajam kini menatapku lirih.
"Aku harus bagaimana Kazu?"tanyanya memelas. "Eh?"aku-pun terkejut.
"Kau ada masalah? Ada apa?"kali ini aku bertanya serius padanya. Aku beranjak dari tidur & duduk disampingnya. Ia ikut bangun & duduk menghadapku.
"Aku… menyukai Hongki…"aku benar-benar terkejut dengan jawabannya. "A-Apa? Hongki sunbae? Bukankah kau menyukai Wonbin sunbae?"
Kira menggeleng. "Aku juga suka Wonbin, tapi tidak seperti aku menyukai Hongki. Yang aku cintai itu Hongki"jelas Kira.
"Lalu… kenapa kau menerima Wonbin sunbae?"tanyaku lagi. "Waktu itu aku belum bisa memastikan perasaanku, Tapi sekarang aku yakin, aku menyukai Hongki"Kira menghela nafas panjang. Ia-pun kembali menatapku.
"Aku… harus bagaimana?"tanyanya dengan pertanyaan yang sama padaku. Aku-pun berpikir keras untuk mendapat jawabannya.
"Maaf.. aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku rasa kita dalam masalah yang sama…"ucapku seraya menghela nafas panjang. Masalahku & Kira tidak jauh berbeda.
"Kau? Ada apa denganmu? Apa kau menyukai orang lain selain Jonghun?"tanya Kira bingung. Aku menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja… Seunghyun…"aku-pun menceritakan semuanya kepada Kira. Kira juga ikut bingung dengan ceritaku. Pikiran kami sama-sama kalut karena Cinta. *halah*
Kami-pun kembali merebahkan tubuh diatas kasur setelah selesai menceritakan masalah satu sama lain. Kira menghela nafas panjang sambil memijit-mijit dahinya.
"Kita harus membuat keputusan. Kita harus tegas dengan perasaan kita, kalau tidak kita hanya akan menyakiti mereka"aku hanya bisa mengangguk setuju dengan kata-kata Kira.
"Hah.. penat sekali. Aku ingin Refreshing…"keluh Kira.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama? Kau & aku, kita bahas masalah ini ditempat lain yang lebih nyaman agar kita bisa berpikir jernih"usulku.
"Ehm.. boleh juga. Kebetulan sejak tiba disini kita belum pernah jalan-jalan di Seoul"ucap Kira seraya menyetujui ajakanku.
Kami-pun menyepakati waktu & memutuskan untuk pergi berdua dihari itu.
***
Author POV
.
Acara Ulang Tahun MyeoungDam semakin dekat. Terhitung 5 hari lagi sebelum hari H. Semua panitia maupun pihak sekolah semakin sibuk mempersiapkan acara yang akan didatangi perwakilan sekolah luar negeri dari masing-masing murid pertukaran itu.
Tak terkecuali dengan semua siswa/-i yang akan mengisi acara. Hongki-Jonghun-Jaejin-Minhwan & juga Seunghyun semakin giat berlatih demi performa yang baik. Begitu juga Wonbin & Kira.
Namun ada hal yang membuat pikiran Miki gusar akhir-akhir ini. Seperti yang ia perhatikan, hubungan Seunghyun & Kazu terlihat semakin dekat. Sebenarnya ia-pun tak mau ambil pusing dengan hubungan orang lain, namun ini menyangkut sahabatnya sendiri. Ia takut kalau Kazu melakukan sesuatu dengan Seunghyun tanpa Jonghun ketahui. Ia bahkan hampir menyimpulkan Kazu sudah berselingkuh dengan Seunghyun. *Astaga Tuhan, Tobat lu Mik-* (=_=)
Dan ada 1 hal membuatnya benar-benar terkejut. Ia baru tahu kalau Seunghyun ikut kedalam Band yang dipimpin oleh Jonghun.
"Bagaimana bisa ia masuk band itu? Artinya setiap hari dia bertemu dengan Jonghun sunbae-kan? Bagaimana kalau Jonghun sunbae tahu Seunghyun semakin dekat dengan Kazu? Aku tidak mau dia memutuskan Kazu, karena pasti Kazu akan sangat sedih! Aaaah~ Miki, pikirkanlah sesuatu yang baik!"gumam Miki frustasi kepada dirinya sendiri. Ia tahu betul sahabatnya Kazu sangat mencintai Jonghun, karena itu ia tidak mau hubungan keduanya rusak. Ia berjanji pada Jonghun untuk mengawasi hubungan Seunghyun & Kazu, namun selama ini Miki tidak pernah tega untuk bilang sejujurnya kepada Jonghun kalau hubungan mereka berdua semakin dekat.
"Sepertinya kau frustasi sekali"sapaan seseorang langsung membuat Miki menoleh kearah sumber suara. Ia langsung terkesiap begitu tahu orang yang mengajaknya bicara adalah Minhwan.
"Kenapa? Sikapmu aneh sekali?"bingung Minhwan saat menyadari sikap aneh Miki. Miki-pun merasa aneh dengan perasaannya, ia semakin sering memikirkan Minhwan. Namun kali ini ia ingin mengabaikan perasaan itu, karena ada masalah lain yang harus dia pikirkan.
"Hhh…aku memang sedang frustasi.."keluh Miki sambil tertunduk lesu. Minhwan-pun langsung duduk disamping Miki. Hanya ada mereka berdua & beberapa Kakak kelas dikantin yang sedang sepi itu. *perasaan tiap mereka berduaan, sepi mulu ya* (=..=)
"Masalah Jonghun hyung?"pertanyaan Minhwan benar-benar tepat sasaran. Miki-pun mengangguk lesu & Minhwan menghela nafas setelah tahu jawaban Miki.
"Sudah kubilang, kau tidak perlu ikut campur"ucap Minhwan datar.
"Harusnya begitu, tapi aku memikirkan Kazu. Aku takut Jonghun sunbae marah lagi padanya"ucap Miki pelan. Minhwan-pun tak tahu harus menjawab apa, memang tidak salah kalau dia memikirkan sahabatnya sendiri.
"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan masalah ini. Aku berharap kau tidak melakukan kesalahan kalau-kalau kau bertindak gegabah, karena jika sahabatmu itu tahu kau mengawasinya, aku rasa dia akan sangat kecewa padamu. Dia akan berpikir kau tidak percaya padanya"jelas Minhwan. Miki-pun semakin tertunduk lesu, memang benar apa yang dikatakan Minhwan.
"Ng..ada yang mau kutanyakan. Bagaimana bisa Seunghyun bergabung dengan band kalian?"kali ini Miki mencoba mengganti topik.
"Kami butuh guitarist lagi, kebetulan kami bertemu dengannya & kemampuannya sangat bagus. Karena itu kami merekrutnya"jelas Minhwan. Miki-pun mengangguk menanggapi jawaban Minhwan & tak lupa mengucapkan kata "Oh~"
"Tapi, kukira kalian akan tampil berempat saja. Bukankah kemampuan kalian sudah sangat bagus, kenapa butuh guitarist lagi?"Miki melanjutkan pertanyaannya.
"Kami merasa kehilangan 1 orang, karena kami sudah biasa berlima…"kali ini jawaban Minhwan membuat Miki menaikkan sebelah alisnya & menatap Minhwan bingung.
"Be-berlima? Maksudnya?"tanya Miki heran. Minhwan-pun diam sejenak, ia berpikir apa boleh menceritakan hal itu kepada orang lain. Namun sebenarnya ia-pun tertekan memikirkan masalah itu, walaupun sudah terbiasa memendamnya tapi ada saatnya ia ingin membagi bebannya kepada orang lain, hanya saja ia tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Tidak mungkin kepada Jonghun apalagi Hongki, karena masalah ini memang meyangkut mereka. Jaejin? Masalah ini juga menyangkutnya. Ia juga tidak mau mengusik Wonbin karena masalah itu juga berhubungan erat dengan Wonbin. Minhwan-pun menghela nafas panjang.
"Rahasiakan hal ini dari siapapun… aku harap aku bisa percaya padamu…"ucap Minhwan sambil menatap Miki dalam. Awalnya Miki bingung dengan kata-kata Minhwan, namun dengan segera ia mengangguk mantap.
.
***
Kira POV
.
Kutatap kertas lirik yang sudah hampir sebulan ini kupelajari. Ini adalah lagu duetku dengan Wonbin, namun tetap saja perasaanku tidak ada padanya. Pikiranku masih kalut.
Aku hanya terdiam tanpa ada keinginan untuk latihan sekarang, padahal Songsaenim sengaja memberikan waktu siang ini untuk latihan. Wonbin-pun mungkin sedang menuju kemari untuk latihan. Namun rasanya aku enggan memikirkan ini semua sekarang.
Kusentuh couple necklace skull-ku dengan Hongki. Terus saja teringat pertemuan sore itu. Ia tetap tidak menerima couple necklace-nya, bahkan ia menyuruhku untuk membuang dua-duanya. Tapi aku tidak mau, ini adalah benda yang menghubungkanku dengannya. Dengan orang yang kucintai.
"Aku mohon jangan lupakan aku… Hongki, aku mencintaimu…"kutundukkan kepalaku & menopangnya dengan kedua tanganku. Tanpa kusadari, gumaman itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Kira…"aku langsung mendangak cepat saat kudengar suara seseorang yang sangat familiar. Dan benar, Wonbin sudah berdiri dihadapanku. Dia hanya diam & menatapku.
Oh Tidak, apa dia dengar kata-kataku tadi? Tolong jangan sampai dia dengar. "Wo-Wonbin aku-…"
"Apa kau sakit?"ia memutus ucapanku. "Sakit?"aku terdiam bingung.
Ia-pun berjalan mendekatiku & meraba dahiku dengan lembut, apa dia mengecek suhuku?
"Hm, badanmu agak panas. Kau sakit? Kau pucat sekali.."ujarnya dengan raut wajah cemas. Aku memang merasa kurang enak badan, kepalaku-pun pusing, mungkin karena aku terlalu memikirkan masalah-masalahku.
"Kalau kau sakit, aku akan bilang pada Songsaenim supaya tidak ada latihan hari ini"ucap Wonbin lagi. Aku-pun menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak apa-apa. Tetap disini saja"ujarku.
Syukurlah, sepertinya dia tidak dengar apa yang aku ucapkan tentang Hongki.
Wonbin-pun menghela nafas panjang. "Iya sudah, istirahat disini saja. Kita pura-pura latihan"ucap Wonbin dengan senyum tipis. Aku-pun membalas senyumnya, jujur saja ada saat-saat tertentu dimana Wonbin membuatku merasa nyaman & tenang, karena itulah aku menyukainya.
"Lalu… apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu latihan ini?"tanya Wonbin sambil melihat-lihat instrumen musik yang biasa menemani latihan kami.
"Hm.. apa yang waktu itu mau kau ceritakan?"sahutku. Wonbin-pun menatapku bingung. "Ceritakan? Ceritakan apa?"
"Kau bilang kau mau menceritakanku sesuatu, tapi tidak sekarang. Soal Hongki & juga yang lainnya, kau bilang Hongki temanmu-kan?"ucapku lagi. Aku-pun penasaran sebenarnya hubungan mereka seperti apa.
Wonbin terlihat memikirkan sesuatu. "Kau mau kuceritakan itu sekarang?"aku-pun mengangguk cepat. Wonbin tersenyum tipis, kemudian ia-pun mulai menceritakan masa lalunya kepadaku.
.
To Be Continued..
Now Playing : FT Island – Distance
.
A/N : OK, bersambung (gantung lg) sampai disini. Kayanya banyak Hurt/Comfort disini makanya aku tambah ke Genre. Next Part seperti yang udah diduga, aku bakal nyeritain masa lalunya Hongki-Jonghun-Wonbin-Jaejin-& Minhwan. Aku harap cerita ini bisa cepet selesai, AMIIN!
.
Gomawo, Arigato~ *kissu
