Disclaimer : Masashi Kishimoto

Blutschande by Nami-switch

WARNING! banyak minusnya.

Chapter 2!

Happy reading~

.

.

"ini untukmu." Ino memberikan replika burung merpati putih yang tadi Sasuke dapatkan saat ia menang salah satu permainan yang ada di festival malam yang sedang mereka berdua kunjungi.

"Untukku?"

"Ya. Ternyata ada dua replika burung merpati yang tadi kau dapat." Jelas Ino, Sasuke mengambil replika burung merpati putih itu dari tangan Ino.

"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Sasuke disela-sela perjalanan mereka.

"Aku mau makan, aku lapar."

"Kau suka ramen?" Tanya Sasuke

"Ya"

"Disana ada kedai ramen yang sangat enak, kau mau mencoba?" Ino menjawab dengan mengangguk dengan begitu antusias.

Mereka berjalan menuju kedai ramen yang ada di festival malam.

"Ojisan, aku pesan ramen 2 mangkuk."

"Ha'i."

Tak lama kemudian pesanan mereka tiba.

"Itadakimasu."

.

.

"Hah, kenyang sekali."

"Ini sudah malam, kita harus pulang." Ucap Sasuke. Ino langsung menarik lengan kanan Sasuke dan melihat arloji yang berada ditangan Sasuke itu, kemudian Ino tersenyum cerah.

"Ini baru jam delapan." Ucap Ino, "Ayo kita cari mainan yang lebih seru." Lanjutnya.

Ino menarik lengan Sasuke, Sasuke pun hanya bisa menurut karena ia tidak ingin Ino benar-benar akan kembali ke Suna, bisa-bisa ayah dan ibu tirinya memotong uang jajannya selama setahun jika hal itu sampai terjadi.

.

.

"Wah indahnya." Ino bergumam takjub. Mereka sedang dalam bianglala, dan kini mereka berada ditempat yang paling tinggi, dari atas situ, mereka bisa melihat keindahan konoha.

Saat Ino sedang menikmati pemandangan yang ada dibawah sana, Sasuke lebih memilih menyibukan diri dengan ponsel pintarnya.

"Hei, jangan melakukan hal yang bodoh" ucap Sasuke saat melihat Ino berdiri dari tempat duduknya, tangan kanannya pun direntangkan keluar untuk menggapai sesuatu yang ada didedaunan pohon yang ada didekat mereka.

Ino tidak mendengarkan kata-kata Sasuke, ia tetap mengulurkan tangan kanannya keluar, bahkan kini bukan hanya tangan kanannya saja, setengah badannya pun kini sudah sedikit condong kedepan, dan tangan kirinya digunakan untuk memegang salah satu tiang pembatas.

Semakin lama tubuhnya semakin condong keluar dan, "Kyaaa." Tangan Kiri Ino yang digunakan untuk jadi pertahanan terlepas secara tiba-tiba. Jika Sasuke tidak dengan cepat menarik tubuh gadis itu, mungkin tubuh gadis itu sudah terhempas dibawah sana, serta cairan merah segar membaluti seluruh tubuh mungilnya.

"Sudah kubilang, jangan bertingkah macam-macam, jika kau kenapa-kenapa, nanti aku juga yang menerima resikonya!" Ucap Sasuke dengan mata hitam yang berkilat marah.

"Maaf." Ino mengucapkannya dengan sangat pelan, kini wajah gadis itu terlihat sangat pucat, mungkin ia syok dengan apa yang terjadi padanya barusan, terlebih lagi ia mendengar ucapan Sasuke yang membuatnya takut dengan pemuda itu.

.

.

.

.

Rupanya, tangan kanan Ino berdarah cukup banyak, tangannya terluka karena kegores oleh besi yang lumayan tajam.

"Kau benar-benar tidak apa?" Ino menggeleng sambil tersenyum manis, "kau benar-benar tidak ingin kerumah sakit?" Ino menggeleng lagi sambil tersenyum.

"Dasar keras kepala" gumam Sasuke.

"Ayo, sekarang kita harus pulang" Ucap Sasuke sambil menarik lengan Ino

"Tapi..."

"Tidak ada penolakkan! Sekarang kau harus mendengarkan kata-kataku." Huh, ternyata saudara tirinya itu galak sekali jika sedang marah, sama seperti kakaknya yang kini sedang berada di suna, Deidara.

"Tapi..."

"Ada apa lagi, hah?" Tanya Sasuke dengan nada kesal.

"Replika burung merpati punyaku terjatuh dipohon itu, makanya tadi aku ingin mengambilnya." Jelas Ino sambil menunjuk pohon yang tadi membuatnya hampir terjatuh.

"Jadi tadi kau bersikap bodoh seperti tadi hanya untuk mengambil replika burung merpati itu?" Ino mengangguk dengan polosnya.

Sasuke mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya, "ini, ambil saja punyaku." Ia menyodorkan replika merpati putih miliknya ke Ino.

Ino mengambilnya sambil tersenyum, "Terima kasih."

"Hm." Balas Sasuke, "sekarang kita harus pulang" lanjutnya sambil berjalan meninggalkan Ino yang masih diam ditempat sambil menatap replika burung merpati yang ada ditangannya.

"Jika aku sudah sampai dimobil duluan, aku akan langsung pulang, jangan harap aku akan menunggumu." Ucap Sasuke cukup keras, Ino langsung berlari menuju Sasuke yang kini berjarak cukup jauh dengannya.

.

.

.

"Okaeri." Ucap seorang pria saat Ino dan Sasuke tiba dirumah.

"S-siapa kau?" Ino terlihat ketakutan saat melihat seorang pria yang tengah duduk memunggungi mereka, bahkan kini ia bersembunyi di belakang tubuh Sasuke.

"Jangan takut, ini aku, Itachi." Pria bernama Itachi itu berbalik, kemudian tersenyum geli saat melihat wajah Ino yang terlihat ketakutan.

"Kau sudah pulang dari Korea?" Tanya Sasuke

"Ya, pekerjaanku disana sudah selesai. Tapi nanti dua hari lagi aku harus pergi ke Kiri untuk membantu ayah disana." Jelasnya dengan tenang.

Ino tak berhenti menatap wajah Itachi, ia baru sadar kalau kini dirinya memiliki dua saudara tiri yang tampan, bahkan sangat tampan.

"Apa aku boleh ikut ke Kiri? Aku ingin bertemu dengan Ibu."

"Maaf, kau tidak bisa ikut kesana karena kau harus sekolah." Ino mengangguk paham, kemudian langsung menyeritkan dahinya.

"Aku akan sekolah? Sekolah dimana?"

"Kau akan sekolah di sekolah yang sama dengan Sasuke." Ucap Itachi, Sasuke membulatkan kedua matanya, "disekolah yang sama denganku?"

"Ya, memangnya kenapa?" Itachi menatap Sasuke tajam

"Apa kau tidak bisa mencarikannya sekolah yang lain?" Protes Sasuke.

"Itu perintah dari ayah." Itachi menatapnya semakin tajam

"Tsk." Sasuke mendecih, kemudian pergi menuju kamarnya.

"Aku tidak masalah jika aku harus sekolah di tempat yang biasa-biasa saja, tidak perlu sekolah ditempat yang bagus seperti sekolah Sasuke. Lagipula, aku tidak biasa sekolah ditempat yang mewah." Ino merasa tak enak hati dengan Sasuke, pasti dirinya akan selalu merepotkan Sasuke jika mereka berada satu sekolah.

"Ini perintah dari Ayah, kau tidak boleh menolak."

"Baiklah."

"Ini sudah malam, lebih baik kau segera tidur."

"Ya, oyasumi Itachi-nii"

"Oyasumi" Ino kemudian pergi meninggalkan Itachi sendiri.

.

.

.

Ino terbangun dari tidurnya, pandangannya mengarah pada jam yang menunjukkan pukul 8 am.

"Aku kesiangan." Padahal hari ini Ino ingin sekali membuatkan sarapan untuk Sasuke dan Itachi, tetapi hari ini dia malah bangun kesiangan.

Ia berjalan gontai menuju dapur. Dan, benar saja, di ruang makan telah penuh dengan makanan.

"Ohayou." Sapa seorang pria bersurai hitam panjang dikuncir rendah.

"Itachi-nii? Kau yang memasak semua ini?"

"Bukan aku, tapi dia." Itachi menunjuk kepada gadis bersurai coklat yang tengah mengenakan apron.

"Ohayou, Ino." Gadis cantik itu tersenyum kepada Ino.

"Kau siapa?" Tanya Ino dengan polos.

"Aku Nohara Rin, yoroshiku." Gadis bernama Rin itu ber-ojigi dihadapan Ino

"Aku Yamanaka Ino, Yoroshiku ne." Ino pun ber-ojigi dihadapan Rin setelah memperkenalkan diri.

"Yasudah, ayo kita sarapan." Seru Itachi.

"Dimana Sasuke?" Tanya Ino saat dirinya tak menemukan batang hidung saudara tirinya itu.

"Dia belum pulang sejak tadi malam." Jawab Itachi.

"Tadi malam?" Ino menyerit dan mendudukan dirinya dikursi makan.

"Ya, tadi malam setelah kalian berdua pulang, tak lama kemudian dia pergi lagi, dan, sampai sekarang belum pulang." Ucap Itachi, kemudian menyumpit makanannya.

"Dia pergi kemana?" Tanya Ino dengan penasaran.

"Dia pasti ketempat menjijikkan itu lagi." Ucap atau gumam Itachi sambil mendecih.

"Lebih baik kita bicarakan itu setelah makan." Rin berucap seperti itu karena ia tau bahwa tunangannya itu bisa-bisa tidak bernafsu makan jika terus menerus membahas tentang hal calon adik iparnya itu.

.

.

"Bangun, Sasuke-kun" Sasuke mengerjapkan matanya saat seorang gadis berambut merah itu menguncangkan pelan tubuhnya.

"Ohayou." Ucap Sasuke kepada gadis itu yang kemudian dibalas dengan kekehan kecil.

"Jam segini sudah tidak pantas disebut pagi lagi, Sasu."

Sasuke menyerit saat melihat jam yang menunjukkan pukul setengah 12 kurang, bahkan Sasuke sendiri pun tak menyangka bahwa ia bisa tidur sampai sesiang itu.

Ini bukan hal yang asing lagi baginya. Bermalam disebuah bar bersama teman-teman yang kemudian berakhir diatas ranjang kekasihnya, itu bukan hal yang biasa lagi bagi Sasuke, ia sudah terlalu sering seperti itu, terlebih lagi saat kedua orang tua dan kakaknya tidak ada dirumah, bisa-bisa ia tak terlepas dari alkohol seharian.

"Aku harus segera pulang." Sasuke bangkit dari tidurnya.

"Mengapa buru-buru sekali? Padahal aku sudah memasakkan makan siang untukmu." Gadis cantik berambut merah itu mengerucutkan bibirnya.

"Maaf sayang, tapi Itachi sudah pulang dari Korea, dan dia bisa membunuhku jika dia tau aku masih suka ke bar." jelas Sasuke sambil membelai surai milik gadis dihadapannya. Gadis itupun mengangguk paham.

"Yasudah, aku pulang dulu ya." Sasuke mencium bibir kekasihnya secara singkat, kemudian berjalan pergi.

"Jaa, Sasuke-kun."

"Jaa ne, Karin." Sasuke tersenyum kepada gadis bernama Karin sebelum menghilang dibalik pintu apartemen milik gadis Uzumaki itu.

Ya, hanya Karin, Miku, dan Mikoto yang bisa membuat Sasuke menjadi pria yang lembut, bahkan Sasuke jadi lebih sering tersenyum jika sedang bersama dengan salah satu dari ketiga perempuan itu.

Tapi, kini yang dimiliki Sasuke hanyalah Karin, Miku dan Mikoto sudah pergi meninggalkannya sendirian, bahkan Sasuke ingin membenci kedua perempuan itu karena sudah tega meninggalkannya, tetapi tentu saja, Sasuke tidak mampu untuk membenci kedua perempuan itu.

.

.

"Kau darimana?" Baru saja Sasuke melangkah tiga langkah memasuki rumahnya, tiba-tiba sebuah suara membuat langkahnya terhenti, ia pun menoleh.

"Itu bukan urusanmu." Balas Sasuke, kemudian melangkah pergi.

"Huh, aku kan hanya bertanya." Ino mendengus sebal.

.

.

.

"Sasuke!" Sasuke melirik kearah kakaknya yang memandangnya dengan tatapan tak suka.

"Ada apa?"

"Aku ingin bicara denganmu, tetapi tidak disini, aku tunggu kau di ruangan kerjaku." Ucap Itachi kemudian berjalan kearah ruang kerjanya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi saat sudah tiba diruang kerja Itachi.

"Bukan kah kau sudah pernah berjanji padaku bahwa kau tidak akan pernah ke-bar dan mabuk-mabukkan lagi?" Tanya Itachi masih tetap menatap Sasuke dengan pandangan tajamnya.

"Hm"

"Lalu, mengapa kau mengingkarinya?"

"Ck, bicara apa kau ini." Sanggah Sasuke.

"Jangan bohong! Aku menemukan beberapa botol alkohol dikamar mu." Itachi menarik kerah baju Sasuke, lalu menghempaskannya dengan sangat keras.

"Jika aku katakan 'iya', kau mau apa?" Sasuke berucap dengan santainya, seperti tidak ada rasa takut secuil pun saat melihat kemarahan kakaknya.

Sasuke tau, sebenci apapun Itachi dengannya, Itachi tidak akan bisa menyakitinya, karna Itachi sangat menyayanginya, tetapi Sasuke malah memanfaatkan rasa sayang dari kakak kandungnya itu untuk terus bertindak semena-mena.

"Aku berani bersumpah kalau Ibu akan sangat kecewa jika tau anak kesayangannya ini menjadi anak brandal yang seolah tak peduli masa depan."

Diam, Sasuke hanya diam tak bergeming sedikitpun.

"Sekarang Ino tinggal disini, dan mulai sekarang dia sudah menjadi tanggung jawabmu, belajarlah menjadi pria yang bisa dipercaya, anggap saja Ino adalah adik kandung mu." Sasuke memalingkan wajahnya sambil mendecih kesal.

"Aku tidak akan pernah bisa menganggapnya seperti adik kandungku, sampai kapan pun adikku hanya Miku, bukan Ino atau siapapun." Setelah selesai mengucapkan ucapannya, Sasuke keluar dari ruang kerja Itachi, dan tak lupa menutup pintu ruang kerja Itachi dengan sangat keras.

"Sasuke, kau sama saja ingin membunuhku secara perlahan-lahan jika kau begini terus."

"Ibu, Miku-chan... Apa yang harus aku lakukan untuk hal ini?" Itachi mengusap wajahnya dengan kasar, mata hitam kelamnya sedikit mengeluarkan cairan bening. Uchiha Itachi bukan pria lemah dan cengeng, tetapi Uchiha Itachi bisa menangis dengan cepat jika itu menyangkut keluarga atau kekasihnya.

.

.

To Be Continue.

.

.

Chap 2 nya sudah di publish^^

Karna diriku masih author newbie dan fanfic ini masih banyak kekurangannya, jangan lupa untuk review yha.

Arigachuu~