A GOOD LEADER

Main Cast : Seventeen's Scoups / Choi Seungcheol

Seventeen's Jeonghan / Yoon Jeonghan

Pairing : Seunghan / Jeongcheol

.

Menjadi seorang leader bukan sesuatu yang mudah, namun tidak juga berat dijalani. Selama ia menjalani hidup sampai sekarang ini, ia tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan menjadi seorang leader dari dua belas orang pemuda berumur belasan tahun.

Beberapa tahun yang lalu, Seungcheol mengikuti audisi di agensi untuk meraih cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Ia berkali-kali mengucap syukur pada Tuhan setelah ia mendapat surat penerimaannya menjadi trainee di agensi Pledis.

Seungcheol menjalani masa-masa trainee nya dengan penuh peluh. Tapi ia sangat bahagia karena ia bersama teman-temannya. Tak pernah tergambar sedikitpun bahwa ia akan menjadi seorang leader dari grup yang akan membesarkan namanya. Paling-paling ia hanya bermimpi mendapat posisi vokalis utama atau rapper utama.

Sampai pada saat itu, ia ditunjuk oleh sang presdir menjadi leader dari grup bernama Seventeen. Dan disinilah ia sekarang, berdiri memegang tombak kepercayaan para member untuk membangun grupnya.

Bukan jarang, sangat sering malah, ia merasa bahwa ia tidak pantas mendapat gelar seorang pemimpin dalam grup. Ia merasa tak pernah berbuat apapun untuk grup. Contohnya saja, lagu Seventeen semua dibuat oleh Jihoon, dan koreografi Seventeen dibuat sendiri oleh Soonyoung. Lantas apa perannya ia di grup?

Belum lagi Jihoon sering sekali menunjukkan kharisma seorang leader di hadapan para member ataupun para fans. Ia selalu merasa bahwa Jihoon-lah yang pantas menjadi seorang leader. Bukan Choi Seungcheol.

.

Helaan nafas seseorang terdengar di seluruh penjuru ruang latihan Seventeen. Suasana ruangan saat ini memang sedang lengang, karena seluruh member telah kembali ke dorm setelah menuntaskan latihannya untuk acara akhir tahun.

Oh, kecuali satu member.

Ia berkali-kali menghela nafas –tak jarang mengumpat- jika ia menulis lirik rap yang aneh. Rambutnya pun sudah berantakan karena diacaknya berkali-kali.

Seungcheol mengutak-atik mouse beserta keyboard nya. Sejujurnya, ia sangat lelah saat ini. Mereka baru saja menyelesaikan konser mereka, lalu latihan selama lima jam nonstop, dan sekarang masih berkutat di depan komputer menulis bagian rapnya untuk album ketiga Seventeen. Namun tetap saja, ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Berarti sudah dua jam Seungcheol berkutat disini. Seungcheol menghela nafas –lagi-. Akhir-akhir ini Seungcheol memang banyak sekali pikiran.

Merilekskan dirinya sebentar tidak masalah sepertinya. Ia meregangkan badannya dan menengadah menatap atap ruang latihan. Ia menutup matanya.

'CKLEK'

Suara pintu terbuka. Seungcheol terlalu lelah untuk membuka matanya. Paling juga itu member yang lain-

"Seungcheol?"

Seungcheol refleks membuka mata ketika ia mendengar suara lembut itu. Ia menoleh ke arah pintu dan menemukan pemuda bersurai merah itu di depan pintu. Seungcheol tersenyum lalu mengayunkan tangannya menyuruh Jeonghan masuk.

Jeonghan melangkahkan kakinya dan berjalan menuju tempat Seungcheol. Jeonghan tersenyum simpul. Namun sorot matanya tak bisa berbohong untuk menyiratkan rasa prihatin yang dalam.

"Kau belum kembali? Besok kita ada acara akhir tahun, Cheol-ah." Seungcheol tersenyum kembali. Kekasihnya memang yang terbaik. Rasa lelahnya entah pergi kemana sekarang.

Jeonghan menarik kursi di dekat meja dan menempatkannya di sebelah kursi Seungcheol. Pandangan Jeonghan belum lepas dari tatapan prihatin terhadap kekasih tampannya.

"Pekerjaanku belum selesai, Han." Seungcheol tersenyum kecil. Jeonghan tahu, kekasihnya akhir-akhir ini sangat lelah. Ia berbohong jika ia tidak lelah juga. Tapi jabatan Seungcheol lah yang menjadi beban bagi Seungcheol.

"Cheollie." Seungcheol mengalihkan pandangannya ke arah wajah cantik kekasihnya.

"Iya?" Jawab Seungcheol lembut namun terkesan lemah. Jeonghan makin sedih.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk menyelesaikan semuanya. Kau juga butuh istirahat, Cheollie. Kau bisa sakit kalau begini terus." Seungcheol sangat bersyukur mempunyai Jeonghan. Jeonghan adalah pemuda tipikal perhatian dan lembut. Seungcheol mengelus rambut halus Jeonghan.

"Aku tidak apa-apa, Hannie. Ini memang tugasku." Seungcheol mencoba tersenyum lagi untuk memastikan dirinya kepada Jeonghan bahwa dia baik-baik saja. Tapi Jeonghan terlampau peka, hingga akhirnya Seungcheol menghela nafas berat.

"Pekerjaanku sangat telat, Jeonghan. Hansol, Mingyu dan Wonwoo sudah hampir selesai. Sedangkan aku? Aku yang menjabat sebagai leader dari Hiphop Team belum menyelesaikan apapun. Seperempatnya saja belum. Huft, aku bukan leader yang baik, kan, Jeong-"

'CHU'

"Sudah selesai bicaranya?" Seungcheol mengerjap. Jeonghan tersenyum tulus ke arah kekasihnya.

"Dengar, Seungcheol. Hansol, Mingyu dan Wonwoo masih hampir selesai, kan? Kau belum bisa menyelesaikan ini semua karena kau banyak pikiran. Dan Choi Seungcheol," Jeonghan menjeda sebentar dengan mengambil nafasnya lalu melanjutkan kembali ucapannya.

"Kau adalah leader terbaik yang pernah ku kenal. Jadi berhenti mengatakan kau adalah leader yang buruk untuk Seventeen. Kau tahu, fans ikut sedih saat kau selalu merendahkan dirimu. Aku mohon, Cheol-ah. Berhenti merendahkan dirimu." Jeonghan mengakhiri perkataannya dengan mata yang berair.

Seungcheol langsung mendekap kekasihnya. Ia memang butuh seseorang untuk menjadi sandarannya. Ia terlalu bodoh untuk tidak menyadari bahwa kekasihnya selalu ada di sisinya. Selalu siap untuk menjadikannya sandaran. Ia selalu berasumsi bahwa dirinya pengecut.

Seungcheol membiarkan air matanya mengalir membasahi baju pemuda kelahiran Oktober itu. Jeonghan lega. Akhirnya Seungcheol bisa sedikit menenangkan dirinya. Jeonghan membiarkan Seungcheol bertumpu di bahunya. Sampai kemudian Seungcheol berbisik di telinga Jeonghan.

"Terima kasih untuk semuanya, angel. Aku bodoh baru menyadari dirimu sekarang. Maafkan aku, Hannie." Jeonghan tersenyum manis. Begitupun Seungcheol.

"Iya, kau memang bodoh, Seungcheol. Bagaimana bisa orang sekeren dirimu kau bilang tidak pantas menjadi leader." Seungcheol tertawa.

"Hehe. Iya maaf maaf." Seungcheol menggaruk tengkuknya. Jeonghan jadi gemas sendiri.

"Uuu~ kenapa kau imut sekali, Cheollie~?" Jeonghan mencubit gemas kedua pipi Seungcheol. Seungcheol mengaduh kesakitan.

"Aakkhh! Jeongie! A-aww! Aaa!" Jeonghan masih asyik mencubiti pipi Seungcheol. Seungcheol akhirnya membalas.

"Kyaa~ Seungcheol!" AHAHAA GELI! AHAHA!" Seungcheol menggelitiki Jeonghan. Lima menit kemudian mereka lelah dengan saling mencubiti dan menggelitik. Mereka duduk berhadapan. Seungcheol menatap mata Jeonghan intens. Jeonghan salah tingkah.

"Sekali lagi terima kasih, Han-ah. Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini. Saranghae." Dan ucapan Seungcheol terakhiri dengan kecupan cinta yang mendarat di bibir sang pemuda cantik.

Mereka saling menikmati satu sama lain. Takut terbawa suasana, Seungcheol melepaskan pagutannya duluan. Wajah mereka sama seperti tomat segar. Merah matang.

"Ayo pulang."Jeonghan menggandeng lengan kiri Seungcheol. Namun Seungcheol masih enggan bangkit.

"Tapi tugasku.." Jeonghan menatap garang Seungcheol. Ya sudah jika seperti ini. Sisi setan Jeonghan keluar. Seungcheol hanya bisa pasrah.

"Pulang sekarang atau tidur di ruang tamu dorm?"

Tuh kan.

Seungcheol menghela nafas. Akhirnya ia bangkit dan pasrah digeret Jeonghan ke dorm. Masa bodoh lah dengan komputernya.

.

Saat mereka sampai di dorm, suasana sudah gelap. Seungcheol menyalakan lampu dan-

"Sudah kuduga." Gumam Seungcheol dan Jeonghan bersamaan. Jangan lupakan facepalm mereka.

Bantal sofa sudah ada dimana-mana. Stick play station tercecer. Snack kentang tumpah. Sementara makhluk-makhluk penyebab 'kericuhan' ini sudah menghilang di balik kamar masing-masing. Memeluk pasangannya masing-masing. Pintu kamar mereka juga dikunci pula.

Sudah pasti.

Disengaja.

Mengotori tapi enggan membersihkan. Dasar.

Jeonghan melirik Seungcheol lalu menyeringai. Seungcheol merasakan hawa yang tidak enak.

"Cheol-ah. Kau~ leader yang baik, bukan?" Seungcheol meneguk ludah.

"Jangan bilang-"

"Uuu~ Kau pintar sekali, Cheollie." Jeonghan buru-buru lari ke dapur dan kembali ke hadapan Seungcheol membawa dua buah tongkat. Jeonghan tersenyum creepy. Seungcheol menatap horor tongkat yang ada di tangan Jeonghan.

"Clean this dorm ALONE, okay?" Seungcheol rasanya ingin mati saja.

Yeah, sebelum Jeonghan maju dan membisikkan sesuatu ke telinga Seungcheol.

"Kau boleh meminta apapun dariku setelah dorm ini bersih. Tapi ingat, setitik debu aku temukan, kau habis di tanganku, Choi Seungcheol." Dan Jeonghan melenggang pergi. Meninggalkan Seungcheol dengan seringaiannya.

'Bukan aku yang habis di tanganmu, Jeonghan. Tapi kau yang habis karenaku. Keke.' Batin Seungcheol.

.

Fin

Huahh, akhirnya update juga. Maaf baru update sekarang. Ini juga lagi ngambil kesempatan buat publish lewat pc. Pake handphone susah x_x Maaf kalo hasilnya mengecewakan. Dan untuk Jisoo x Woozi and Jun x Minghao, itu entah kapan bisa dipublish, secara aku lagi pengen fokus UN /kelas 3 SMP mbabro/ Tapi kalau Allah menghendaki, mungkin nanti bisa publish. Lagipula nunggu plot dateng itu susah. Berdoa aja semoga bisa update lagi hihi.

Last, buat para reviewer, thank you so much~ Ini review terbanyak dari ff-ff aku sebelumnya. Ga nyangka bisa dapet banyak respon positif ^o^/

Semoga ga pada bosen yaa sama ff nya u.u Mind to review? /wink bareng Seungcheol/