Disclaimer : Masashi Kishimoto

Blutschande by Nami Switch

.

.

WARNING! Typo(s), bad ide, OOC (maybe), dan masih banyak lagi minusnya.

Happy Reading^^

.

.

.

Ino menata segala keperluan untuk sekolah besok. Kata Itachi, dia sudah didaftarkan di sekolah yang sama dengan Sasuke, dan besok adalah hari pertamanya sekolah. Jujur saja, Ino merasa sedikit gugup untuk melewati hari pertamanya sekolah di konoha high school

Buku, alat tulis, seragam dari sekolah lama dan tas cantik berwarna ungu lembut, Ino tersenyum simpul saat semua sudah tertata rapih dihadapannya.

krek!

Ino mengalihkan pandangan kearah daun pintu kamar yang kini telah terbuka sempurna, "Sasuke, ada apa?" Ino menyernyit saat melihat Sasuke datang dengan membawa beberapa buku didalam pelukannya.

"Ini buku-buku pelajaran milikmu," ucapnya, Ino mengambil alih buku-buku itu dan menatanya didalam lemari buku

Sasuke meneliti setiap sudut kamar, ia sangat yakin bahwa Ino adalah gadis yang apik dan sangat mengerti keindahan. Lihat saja! Ino bahkan mampu merubah ruangan yang semula terlihat seperti gudang kini terlihat seperti kamar sang putri raja, sangat bersih dan terdapat wangi yang sangat menenangkan, bahkan entah sudah berapa kali Sasuke menghirup nafas dalam dalam hanya agar dapat merasakan wangi itu lebih jelas.

"Apa kau masih ada keperluan denganku?" Tanya Ino yang mulai bingung saat melihat Sasuke tak kunjung pergi dari kamarnya.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Ino, pemuda itu langsung pergi keluar kamar si gadis pirang.

.

.

.

Mungkin Ino masih akan melanjutkan tidurnya jika tidak ada seorang penganggu yang tega menyiram wajah cantiknya dengan percikan air.

"Huh, menganggu sekali kau ini." ucap Ino yang terdengar seperti gumaman dengan mata yang masih tertutup serta wajah yang sedikit basah akibat percikan air

"Ini hari pertama mu sekolah, Ino." ucap Sasuke, orang yang membangunkan Ino dengan cara aneh itu. Perlahan Ino mulai bangkit dan berjalan kekamar mandi yang berada didalam kamar.

BUGH!

Sasuke menoleh kearah sumber suara, dahinya menyernyit heran saat mendapati Ino terduduk didepan pintu kamar mandi yang masih tertutup sambil mengusap-usap dahinya yang sedikit memerah. Otak cerdas Sasuke kemudian menyimpulkan bahwa gadis itu terjatuh karena menabrak pintu kamar mandi yang masih tertutup, mungkin terdengar aneh, tetapi tidak aneh jika Ino berjalan dengan mata terpejam.

"Tidak ada waktu untuk meratapi kebodohanmu, cepatlah bersiap!" Kemudian Sasuke mulai melangkah kearah pintu, Saat sudah diambang pintu, kemudian Sasuke menoleh lagi kearah Ino yang masih saja duduk didepan pintu kamar mandi, "Cepatlah bersiap atau aku akan meninggalkanmu sekarang juga." gadis pirang itu langsung bangkit. Hm, rupanya ancaman Sasuke berbuah hasil.

.

.

.

Ino berjalan di koridor, matanya meneliti setiap tulisan yang tertera disetiap bagian depan ruang kelas yang kini sudah mulai ramai.

Salahkan perut sensei yang ditugaskan untuk mengantarnya tiba-tiba melilit sehingga harus segera pergi ke toilet, dan salahkan juga Uchiha Sasuke yang dengan teganya tak mau mendampingi saudara tirinya itu sehingga sekarang ini gadis cantik itu terlihat seperti orang bodoh yang salah alamat.

Ino mendengus kesal saat orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya memandang dirinya dengan dahi berkerut. Itu tentu saja karena Ino mengenakan seragam sekolah dari sekolah lamanya di Suna.

2-C

Gadis pirang itu tersenyum saat melihat kelas yang terdapat tulisan '2-C'

"Apa kau murid baru?" tanya seseorang dari arah belakang membuat Ino menoleh kearah wanita cantik yang tengah tersenyum padanya.

"Iya, saya murid pindahan dari Suna."

"Kau Yamanaka Ino?" tanya wanita berambut hitam itu. Ino menanggapinya dengan mengangguk, "Saya Yuuhi Kurenai, wali kelas 2-C"

"Saya Yamanaka Ino,"

"Hajimemashite," Ino berojigi dihadapan Kurenai sensei. Kurenai sensei pun perlahan ia membungkukkan tubuhnya juga, "Hajimemashite, Ino"

Suara bel masuk sudah berbunyi, Kurenai menoleh kearah muridnya yang berada disebelahnya "Ayo kita ke kelas."

.

.

.

Baru saja Ino masuk selangkah kedalam ruang kelasnya, ia sudah langsung membatu ditempat. Ino menatap kesal kearah pemuda yang terlihat 'bodo amat' dengan kehadirannya. Sepertinya mimpi buruk Ino terjawab nyata, ia dan Sasuke sekelas, "tidak disekolah, tidak dirumah, mengapa aku harus selalu bertemu dengannya." batinnya mendengus kesal.

"Ino," Suara Kurenai menyadarkan Ino dari lamunannya. Ino pun beranjak menjauh dari ambang pintu, "Silakan perkenalkan dirimu"

"Konnichiwa mina-san, Yamanaka Ino desu. Yoroshiku." Ino membungkukkan badannya, tepat saat ia menegakkan kembali tubuhnya, secara tak sengaja matanya beradu pandang dengan onyx milik Sasuke.

"Ne, silakan duduk dibangku yang kosong" Ino mengangguk kemudian berjalan menuju bangku yang kosong. Saat Ino berjalan melewati Sasuke, Ino melirik kesal kearah Sasuke. Tentu saja ia masih kesal karena tadi Sasuke meninggalkannya sendiri diparkiran.

Ino mendudukan dirinya dibangku, saat itu juga Ino merasa risih dengan tatapan seorang gadis yang seolah meremehkannya. Ino pun bersikap seolah tak melihat gadis itu dan mulai mengeluarkan buku dari dalam tas nya.

.

.

.

Sudah seminggu Ino bersekolah di sekolah baru nya ini, tetapi tidak ada yang menarik sama sekali. Kecuali saat ini, saat gadis bernama Hinata tiba-tiba menghampirinya dan mengajaknya makan siang bersama.

"Ya-yamanaka-san, apa kau mau makan siang bersama ku?" ujarnya malu-malu. Jari-jari kecilnya mengenggam bento yang ada ditangannya.

"Hm, sebenarnya aku ingin, tetapi aku tidak membawa bekal. Apa kau mau menunggu ku? Aku ingin ke kantin sebentar untuk membeli makanan ringan." Ino bangkit dari bangkunya, tetapi tiba-tiba Hinata menahan lengannya.

"Tidak perlu, aku membawa dua bento." Hinata memberikan salah satu kotak makannya kearah Ino.

"Arigatou, maaf jika aku merepotkanmu." Ino mengambil kotak makan itu sambil tersenyum, Hinata pun membalas dengan tersenyum malu-malu.

Di sela-sela makan siang nya, Ino kembali membuka suara, "Hyuga, apa setiap hari kau selalu membawa bekal dua?" tanya Ino dengan wajah polosnya.

"Hihi, tidak. Aku hari ini sengaja membawa dua bekal karena aku ingin mengajakmu makan bersama."

Ino terdiam. Se'niat' itukah Hinata ingin makan siang bersamanya, sehingga gadis pemalu itu sampai membawa dua bekal untuk dirinya.

"Terima kasih..." Dahi mulus milik gadis Yamanaka itu berkerut saat mendengar kata-kata yang seharusnya ia ucapkan malah keluar dari bibir sang gadis Hyuga yang ada dihadapannya.

"Terima kasih karena kau sudah mau berbicara denganku." kini Ino sungguh terpaku di hadapan Hinata, ia hanya bisa menatap gadis dihadapannya yang sedang menundukkan wajahnya.

"Selama aku bersekolah disini, tidak ada satupun yang mau bicara denganku."

"Memangnya kenapa? Kurasa kau gadis yang sopan dan sangat baik. Mengapa mereka tidak ingin bergaul denganmu?" Hinata tersenyum kaku

"Karena mereka menganggapku aneh" ujarnya, tatapannya terlihat sendu tetapi bibirnya masih memperlihatkan senyum tipis.

"Aah, mereka berbicara seperti itu karena mereka iri denganmu, Hinata." kini Ino pun memanggil Hinata dengan nama kecilnya, mendengar hal itu senyum Hinata semakin ketara, ditambah dengan semburat merah tipis yang menghiasi pipi putihnya membuat gadis itu terlihat semakin imut dan menggemaskan.

"Terima kasih, I-ino." Hinata sedikit ragu saat memanggil Ino dengan nama kecilnya, tetapi melihat senyum lembut yang diberikan oleh Ino membuatnya yakin bahwa Ino pantas untuk dijadikan seorang teman atau mungkin sahabat.

"Tidak perlu sungkan. Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu, makanan yang kau berikan ini enak sekali"

.

.

.

Ino berjalan mondar-mandir dengan gelisah di depan gerbang sekolah. Sudah hampir satu setengah jam lebih ia menunggu disini tetapi Sasuke tak kunjung datang. Sasuke memang sudah bilang pada Ino bahwa ia akan ke toko buku dan Sasuke menyuruh Ino untuk menunggunya. Tetapi toko buku itu jaraknya cukup dekat dari sekolah, tapi sampai kini sudah mulai sore, Sasuke tak kunjung tiba

Hah, andai saja tadi Ino menerima tawaran Hinata untuk pulang bersama, mungkin ia tidak akan menunggu bosan disini. Ino yang kesabarannya sudah diujung batas pun akhirnya merogoh sakunya untuk mengambil ponsel

From : Me

To : Sasuke no baka

Kau dimana? mengapa lama sekali? apa kau memang sengaja ingin membuatku lelah menunggumu?!

Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk

From : Sasuke no baka

To : Me

Kau pulang sendiri saja, aku ada acara dengan teman-teman ku

Ino mendengus kesal membaca balasan pesan. Ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan kasar. Kemudian Ino berjalan menjauh dari pekarangan sekolah

Setelah berjalan sudah cukup jauh, Ino seakan teringat sesuatu, "aku dimana?" ucapnya dengan otak yang mulai linglung sambil memandang keadaan disekitarnya

"Ah bodohnya, aku kan tidak tahu jalan." Ino memukul-mukul pelan kepalanya, menggerutuki kebodohannya.

Ino akhirnya pun pasrah, dia berjalan mengikuti kemana langkah kaki membawanya pergi. Ia cuma bisa berharap bahwa jalan yang dipilihnya merupakan jalan yang benar menuju kediaman uchiha.

.

.

.

Sasuke terdiam. Di saat teman-temannya sibuk berbicara yang aneh-aneh karena pengaruh alkohol, pemuda berambut hitam legam itu hanya diam. Bahkan ia tak menyentuh sedikitpun gelas berisi cairan bening itu.

Pikirannya seolah sudah tersita oleh seorang gadis yang kini entah berada dimana. Ia merasa bersalah karena membiarkannya pulang sendirian.

Gadis itu adalah tanggung jawabnya, jika terjadi sesuatu pada Ino, pasti Sasuke yang kena imbasnya. Dan terlebih lagi, Sasuke ingin membuktikan pada kakaknya bahwa dia bisa menjadi pria yang bisa diandalkan.

.

.

.

Hujan mengguyur wilayah Konoha malam itu. Sasuke dengan tergesa langsung menerobos pintu masuk rumahnya, "Ino!" panggilnya. Tetapi tidak ada suara khas wanita yang membalas panggilannya.

"Ino!" ia masuk lebih dalam kedalam rumah. Keadaan disana terlihat lumayan gulita. Sasuke menghidupkan saklar lampu, keadaan disekitarnya kosong, tidak ada sosok yang dicarinya.

Setelah menghembuskan nafas dengan cukup keras, Sasuke langsung berlari menuju kamar saudara tirinya yang berada dilantai dua. Tetap kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan si gadis pirang tersebut.

Mata kelamnya menatap keluar jendela. Hujan semakin deras, kilat-kilat petir pun kian mengganas, mungkin akan terjadi badai sebentar lagi. Pikiran buruk tentang Ino mulai merasuki pikirannya. Ya, walaupun Sasuke tidak suka dengan keberadaan gadis itu, tetapi dia tidak sejahat yang dikira, dia masih menyimpan peduli untuk Ino.

.

.

.

Sasuke menajamkan penglihatannya dua kali lipat. Kaca mobil yang terlihat berembun membuat penglihatannya sedikit memburam, "Ck, dimana anak itu?" entah sudah berapa kali pemuda Uchiha itu mendengus frustasi.

Berkali-kali, berpuluh-puluh kali atau bahkan beratus-ratus kali Sasuke menghubungi ponsel Ino. Tetapi tetap saja balasan yang ia terima hanyalah dari operator yang berbicara bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.

Sasuke memberhentikan laju mobilnya, ia memicingkan matanya saat melihat helaian pirang berada diantara tumbuhan yang berada ditepi trotoar.

Pemuda Uchiha itu sangat yakin sekali bahwa objek yang dilihatnya adalah Ino. Tentu saja itu adalah Ino. Memangnya ada orang normal yang mau duduk di trotoar saat hujan setengah badai sedang terjadi, kecuali jika orang itu tidak memiliki tujuan seperti Ino saat itu.

Sasuke keluar dari dalam mobilnya tanpa menggunakan payung, baju seragam sekolahnya pun langsung basah seketika.

"Ino!" karena suara yang diciptakan oleh hujan dan petir yang ada cukup membuat bising, Sasuke memanggil gadis itu dengan cukup keras.

Si pemilik rambut pirang itu menoleh, tanpa ba-bi-bu ia langsung memeluk tubuh pemuda yang tadi memanggil namanya. Entah sadar atau tidak, Sasuke membalas pelukan gadis itu dengan memeluk pinggang Ino.

"Sasuke, a-aku takut..." ucap Ino dengan bibir yang bergetar.

"... Aku takut hujan," lanjutnya masih dengan bibir yang bergetar akibat kedingingan. Sasuke tercekat, kata-kata yang dikeluarkan oleh gadis itu mengingatkan dia kepada adiknya.

.

.

.

Sasuke berlari menerobos hujan yang makin mengamuk. Ditangannya mengenggam beberapa bingkisan yang baru saja ia beli di supermarket.

Pemuda berusia 13 tahun itu mempercepat langkahnya saat mata hitamnya telah menangkap rumah pohon yang beberapa tahun yang lalu ia buat berdua dengan kakak-nya.

"Miku-chan." saat sudah masuk kedalam rumah pohon tersebut, Sasuke langsung memeluk tubuh adik perempuannya yang mengigil kedinginan.

"Niisan, aku takut..." ucap gadis berusia 6 tahun itu dengan terisak didalam pelukan Sasuke.

"Aku takut hujan."

.

.

.

Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Ino masih tertidur lemas diatas ranjangnya. Pelan-pelah ia membuka mata nya saat indra pendengarannya mendengar suara pintu utama tertutup, "Akhirnya dia sudah pergi."

kemudian terkikik pelan saat melihat ada beberapa butir obat dan air kompresan yang terdapat dimeja sebelah ranjangnya.

Dengan mengendap-endap dia berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Ia tersenyum menang saat melihat keadaan rumah yang sepi.

Ino memakan roti yang diolesi dengan selai strawberry dengan lahap, tanpa menyadari si pemuda berambut raven itu tengah berjalan kearahnya dengan seringai dibibirnya.

"Sepertinya tidak ada orang sakit yang makan serakus itu." Ino berhenti melahap rotinya. Matanya membulat dengan horror.

"S-sasuke?"

"Kau tidak sekolah?" Lanjutnya dengan asal, "sekarang hari minggu," balas Sasuke dengan cepat

"b-bukankah tadi kau sedang pergi?" tanya Ino lagi. Sasuke tak menjawab, namun tiba-tiba pria berambut pirang terang masuk kedalam rumah mereka dengan baju yang basah, "oi! Ino, kau sudah siuman?" ucapnya dengan ceria sambil berjalan menuju Ino

"ada apa kau kembali?" pria pirang bernama Naruto itu menghentikkan langkahnya, "ah aku sampai lupa..."

"... aku ingin mengambil ponsel ku," setelah mengambil ponsel miliknya, Naruto tersenyum kearah dua orang saudara tiri itu, "kalian terlihat akur," ucapnya dengan cengiran khas milik si pirang itu, "jaa!" Naruto pun akhirnya kembali pergi dari hadapan Sasuke dan Ino

"Jadi, sandiwara ku ketahuan ya," ucap Ino sambil menunduk saat Naruto sudah pergi

"Aku tidak bodoh. Mana mungkin aku bisa kau bohongi seperti itu."

"Kau pikir aku tidak curiga dengan makanan yang setiap hari selalu berkurang secara tiba-tiba.."

"Jika kau ingin berbohong. Berbohonglah dengan sedikit lebih pintar." ucap Sasuke dengan nada mengejek. Sedangkan Ino telinganya sudah mulai panas mendengar ucapan Sasuke. Ternyata Sasuke bisa cerewet pada waktunya.

"Aku minta maaf. Aku berbohong seperti itu agar kau menyesal dengan perbuatanmu yang dengan seenak jidat menyuruhku pulang sendiri,"

Saat kejadian 3 hari yang lalu itu Ino memang sungguh-sungguh pingsan, tetapi hanya beberapa jam saja. Saat Ino terbangun tengah malam, ia melihat Sasuke tertidur disofa yang berada dikamarnya, entah mengapa Ino merasa sangat senang saat melihat hal itu.

Ino berbohong seperti itu bukan hanya untuk membuat Sasuke menyesal. Tetapi juga untuk membuat Sasuke lebih perhatian dengannya. Saat di Suna Deidara sangat memperhatikan adik perempuannya itu. Dan mungkin kini Ino mulai merasa kehilangan rasa perhatian seorang kakak. Tidak salahkan jika dia ingin mendapatkan perhatian lagi.

Ino menoleh kearah Sasuke. Entah kenapa pemuda itu terlihat dua kali lipat lebih tampan saat dalam keadaan berantakan seperti itu, apalagi rambut hitamnya yang seolah menggoda Ino untuk segera menyentuh surai kelam itu, "ada apa?" tanya Sasuke saat merasa dirinya sedang di perhatikan oleh gadis pirang itu

"tidak ada,"

"jika kau sudah selesai makan, kau harus bersih-bersih rumah, halaman, cuci piring, dan mencuci pakaian. Tidak boleh protes! itu karena kau sudah istirahat selama tiga hari," perintah Sasuke, Ino yang mendengarnya pun langsung membulatkan kedua matanya.

"dasar kejam!" pekik Ino dengan kesal. Sasuke mengangkat kedua bahunya dan kemudian pergi meninggalkan Ino

.

.

To be continue~