ANNOYING PERSON EVER

Main Cast : Seventeen's Woozi / Lee Jihoon

Seventeen's Joshua / Hong Jisoo

Pairing : Jizi/? HunShua/?

.

Sekolah masih lengang saat ini. Jelas. Ini baru jam enam pagi. Mungkin sebagian orang masih baru bangun tidur atau mengelap liur-ew. Jihoon bergidik sendiri membayangkannya.

Well, sebenarnya bukan hal aneh jika menemukan pria berambut oranye itu sudah berjalan di koridor sekolah. Jihoon memang sudah terbiasa berangkat jam segini.

Jihoon tiba di kelasnya dan langsung melesat ke bangkunya. Jihoon melihat mejanya. Jihoon menghela nafas dan mengambil tissue yang selalu ada di tas hitamnya. Lalu ia membersihkan tulisan 'Good morning, tiny. Have a good day!'. Seharusnya sih itu menjadi kata penyemangat di harinya.

Jika saja kata itu bukan tertulis di mejanya. Sekali lagi di MEJANYA menggunakan spidol papan tulis. Orang gila macam apa yang mau mencorat-coret properti sekolah seperti ini. Untung saja spidolnya bukan permanen, walaupun bukan Jihoon yang menulisnya, tetap saja jika ketahuan dia yang dihukum karena bagaimanapun tulisan itu ada di mejanya.

Ya, inilah rutinitas pemuda Lee itu setiap hari. Lelah ya jelas. Tapi bagaimana lagi? Orang yang mengganggu hidupnya selama dua tahun belakangan ini sudah kebal terhadap omelannya. Bahkan saat ia berpura-pura ingin memukul orang itu dengan gitar, orang itu malah tersenyum dan mengusak rambut Jihoon lalu pergi meninggalkan Jihoon yang mematung.

Eh? Mematung?

Iya. Sialnya.

Jihoon menyukai orang gila itu. Memang bodoh, sih. Tapi bagaimana lagi? Ini tentang hati.

.

Suasana kelas mulai ramai dengan suara berisik khas kelas. Si oranye memainkan ponselnya. Entah bermain apa. Guru Kim belum datang dan anak-anak masih bisa santai sebelum menghadapi guru killer itu. Di tengah keasyikannya, tiba-tiba si blonde mendekatinya.

"Oi, Jihoon." Jihoon mendongak sedikit lalu hanya menggeram. Karena mendapat reaksi yang tidak enak, si blonde merengut.

"Kau sedang bermain apa sih? Serius sekali."

"Biasa. Candy Crush Saga. Sudah level 150." Soonyoung berdecak.

"Astaga. Bermain permainan yang elit, dong." Jihoon mendengus.

"Heh. Lebih elit mana dengan permainan Pou?" Soonyoung hendak memprotes ucapan Jihoon namun terpotong oleh seorang wanita jangkung yang masuk ke kelas.

"Anak-anak, maaf aku terlambat. Sekarang keluarkan pekerjaan rumah kalian." Jihoon langsung meraih tasnya dan mencari buku Sejarah miliknya.

Loh? Kok tidak ada?

Jihoon mengingat-ingat dimana bukunya. Kemarin ia selesai menulis materi, setelah itu sesosok pemuda datang dan memin-

Gawat.

Jihoon melirik ke arah sebrang kirinya dan menemukan orang itu mengayunkan buku Sejarah nya sambil tersenyum licik. Jihoon memelototi orang itu agar mengembalikan bukunya tapi orang itu malah memasukkan buku milik Jihoon ke dalam tasnya. Jihoon tidak sadar bahwa-

"Lee Jihoon. Mana pekerjaanmu?" Sial.

"Bukuku dipinjam Hong Jisoo, saem!" Wanita itu menatap bingung Jihoon lalu berbalik menatap Jisoo.

"Benar, Hong Jisoo?" Jihoon menatap tajam si pemuda Hong. Yang ditanya malah mengendikkan bahunya.

"Untuk apa aku meminjam bukunya? Bilang saja kalau kau belum mengerjakannya, pendek." Jisoo sedikit tertawa remeh di akhir katanya. Sedangkan Jihoon sudah memerah menahan amarahnya.

"KEMBALIKAN BUKUKU, HONG JISOO!" Jihoon berteriak dengan muka merahnya. Jisoo hanya tertawa.

"LEE JIHOON, KELUAR!" Jihoon membulatkan matanya lalu menatap guru Kim.

"Tapi, saem.."

"KELUAR!"

.

Dan disinilah ia sekarang berdiri menatap kosong koridor di depan kelasnya. Sebenarnya bisa saja Jihoon ke kantin, namun Jihoon tidak lapar. Lagipula ini masih sangat pagi untuk makan siang.

Jihoon menghela nafas lagi. Serius. Dulu saat ia dilahirkan, ia punya salah apa, sih? Bisa bertemu dengan orang se-menyebalkan Hong Jisoo? Jihoon sejujurnya sering menyayangkan sifat pemuda kelahiran LA itu. Padahal Jisoo itu orangnya -terlihat- baik, tinggi, tampan, dan mempunyai senyum yang indah. Pokonya intinya Jisoo itu pemikat hati orang. Ya buktinya saja Jihoon yang notabene nya susah untuk suka pada orang, bisa diluluhkan oleh senyum Jisoo.

Makanya, kenapa di saat ia menyukai seseorang, ia malah dijahili dan dibuat kesal terus olehnya. Dan sialnya lagi, Jihoon tidak bisa membenci si Hong itu. Soonyoung dan Jeonghan -sahabat Jihoon- sudah sering mengenalkan pria lain untuk membantu Jihoon move on dari Jisoo. Tapi hasilnya nihil. Jihoon sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Jisoo.

Tapi jangan salah sangka, Jihoon tidak mencintai Jisoo. Walaupun argumen ini seringkali ditentang oleh kedua sahabatnya, tapi Jihoon bersikeras menyatakan bahwa ia hanya menyukai Jisoo.

.

Jihoon mencuci mukanya di wastafel. Memikirkan Jisoo memang terkadang membuatnya pusing. Tentu saja. Siapa manusia yang akan menyukai pengganggu hidupnya? Ya, ada. Namanya Lee Jihoon yang menyukai Hong Jisoo.

'CKLEK'

Suara engsel pintu toilet terbuka. Menampakkan seorang pemuda berperawakan standar -untuk laki-laki- dengan rambut hitamnya dan wajah yang tampan. Jihoon hampir tersedak saat mendongakkan kepalanya.

"Bagaimana rasanya dihukum untuk ke enam puluh enam kalinya, pendek?" Jihoon meredam amarahnya. Jihoon berbalik untuk menghadap pemuda menyebalkan itu.

"Seperti biasa, Hong." Jisoo tersenyum licik dan melangkah maju mendekati pemuda imut itu. Biasanya, Jisoo akan berhenti di jarak tiga langkah di depan Jihoon. Tapi sekarang Jisoo terus melangkah dan membuat posisi mereka hanya terpisah beberapa meter. Jihoon tak bisa menutupinya, Jihoon gugup.

Jisoo terus melangkah mendekat ke arah Jihoon sampai Jihoon refleks mundur dan terpojok di dinding kamar mandi. Jisoo mengurung Jihoon dengan kedua tangannya. Tatapan Jisoo yang tadinya mengintimidasi tiba-tiba berubah melembut sekaligus..iba?

"Jihoon." Darah Jihoon berdesir mendengar namanya dipanggil untuk pertama kalinya oleh Jisoo. Karena selama ini Jisoo hanya memanggilnya pendek atau panggilan menyakitkan lainnya. Pandangan mereka terkunci satu sama lain.

"Apa kau tidak lelah?" Pertanyaan Jisoo membuat dahi Jihoon mengerut.

"M-maksudmu?" Jihoon menutup mata saat tangan Jisoo terangkat seakan ingin memukul Jihoon. Tapi Jihoon tersentak. Jisoo mengelus rambutnya. Sentuhan itu berakhir dalam lima detik. Lalu Jihoon merasakan langkah kaki pergi keluar dari kamar mandi.

Tepat saat pintu kamar mandi tertutup, Jihoon merosot ke lantai. Badannya sudah lemas total. Padahal ia hanya diperlakukan seperti itu oleh Jisoo. Bisa saja Jisoo hanya mempermainkannya seperti biasa. Tapi entah mengapa Jihoon merasakan hal berbeda.

Terutama melihat tatapan Jisoo padanya tadi.

'Bolehkah aku berharap?'

.

Jisoo datang ke kelas dengan uring-uringan. Seokmin dan Mingyu yang melihatnya dibuat heran.

"Ada apa, Jisoo?" Tanya Seokmin sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Namun bukannya menjawab, Jisoo hanya melamun dan menatap menerawang. Mingyu berdecak.

"Apa kali ini tentang Lee Jihoon lagi?" Seokmin mendelik ke arah Mingyu namun akhirnya menghela nafas.

"Astaga, Hong. Apa susahnya sih tinggal bilang?!" Jisoo menatap tajam Seokmin.

"Masalahnya apa dia menyukaiku juga atau tidak? Kalau tidak bisa habis aku." Tanpa disangka Mingyu tertawa. Jisoo dan Seokmin menatap heran pemuda tinggi itu.

"Ya ampun, Hong. Kau takut ditolak?" Jisoo mendelik ke arah Mingyu.

"Mana ada orang yang akan menolakmu? Well, kecuali aku tentunya. Kau ideal type untuk seorang pacar, Hong." Seokmin menganggukan kepalanya setuju.

"Iya. Aku setuju. Nyatakan saja, Hong. Toh urusan diterima atau tidaknya itu urusan nanti." Jisoo mulai tersenyum. Sahabatnya ini memang terkadang -sering- menyebalkan, tapi saat ia membutuhkan seseorang, mereka selalu ada untuknya. Uh, cheesy.

"Tumben kalian bijak seperti ini. Tak heran Soonyoung dan Wonwoo jatuh cinta pada kalian." Mingyu dan Seokmin agak tersipu. Eits, jangan salah paham. Mereka tersipu karena perkataan Jisoo, oke. Bukan karena Jisoo.

"Diam, Hong."

.

Ya, sebenarnya Jisoo memang menyukai orang yang selalu ia ganggu setiap hari itu. Jisoo rela memikirkan hal-hal terjahil untuk menjahili pemuda berambut oranye itu. Alasan klise sebenarnya. Ia ingin pemuda pendek itu menganggapnya. Ya walaupun menganggapnya sebagai orang menyebalkan, tapi itu lebih dari cukup untuk Jisoo.

Dan kejadian di kamar mandi tadi, sebenarnya Jisoo ingin mengungkapkan perasaannya pada pemuda Lee itu. Tapi entah mengapa, Jisoo malah mengeluarkan kata-kata itu. Iya. Jisoo belum siap untuk menyatakan perasaannya. Tapi sebenarnya alasan terbesarnya sampai sekarang tidak menyatakan perasaannya karena ia takut ditolak oleh pemuda itu. Ia takut kecewa. Hanya itu.

Tapi Jisoo tak bisa menahannya lagi. Ia sudah bulat akan menyatakan perasaannya pada Jihoon. Dan dengan itu Jisoo tersenyum dan menaruh sesuatu di meja'nya'. Setelahnya Jisoo berbalik keluar kelas dan tersenyum sepanjang perjalanan ke rumahnya.

.

Jihoon datang ke kelasnya agak siang hari ini. Jihoon semalam menemani Lee Chan -adiknya- mengerjakan pelajaran Fisika sampai tengah malam. Untungnya Chan termasuk anak yang standar dan mudah mengerti. Tapi tetap saja Jihoon kesiangan dari jadwal biasanya.

Jihoon hendak mengeluarkan tissue nya, tapi ia mematung saat membaca tulisan di mejanya.

'I'm sorry, Jihoon. I love you.'

Beku. Jihoon beku sebeku es. Kata-katanya memang sangat ambigu. Jihoon sempat berpikir orang yang menulis kalimat itu di mejanya bukanlah Jisoo. Tapi orang gila mana lagi yang berani mencoret-coret mejanya seperti ini selain Jisoo? Soonyoung tak mungkin, apalagi Jeonghan.

Jihoon masih dalam mode mute nya. Jihoon berusaha mencari arti dari kata-kata itu tapi yang dapat Jihoon tangkap hanya satu.

Jisoo menyukainya..juga.

Walaupun Jihoon tidak mengerti apa arti dari kata 'I'm sorry, Jihoon' nya, tapi kata kedua sudah membuat matanya berair. Entah karena apa. Ditambah seseorang memeluknya dari belakang.

"I'm sorry, Jihoon. I love you." Kata itu pas terdengar di telinganya. Dan tetes air mata Jihoon pun jatuh tanpa di komando. Jisoo tersentak saat menemukan Jihoon menangis. Jisoo buru-buru membalikkan badan Jihoon dan memeluk Jihoon.

"Maafkan aku, Jihoon." Jihoon menggeleng di dekapan Jisoo dan melepas pelukan Jisoo. Jihoon menatap mata Jisoo. Mencari kebohongan di mata Jisoo. Nihil.

"K-kau-benar-ini,"

'CUP'

"Iya, Jihoon. Kau bisa lihat dan dengar sendiri, kan ucapanku?" Jisoo tersenyum tulus. Jihoon terharu. Ia menubruk Jisoo dan memeluk Jisoo lagi.

"Bagaimana bisa kau menyukaiku sedangkan kau setiap hari menjahiliku, hah?" Jisoo terkekeh dan mengelus rambut Jihoon.

"Alasan klise, Jihoon. Aku ingin kau menganggapku ada. Tapi aku terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku. Dan aku tak menyangka kau menyukaiku juga." Jihoon melepas pelukan Jisoo dan tersenyum mengejek.

"Eii siapa juga yang menyukaimu? Aku kan belum bilang." Jisoo mencondongkan wajahnya.

"Lagipula kau akan menyatakan kata yang aku inginkan. Jadi biar saja." Jihoon memukul Jisoo dan mereka tertawa bersama.

.

OMAKE

"Aaa~ mereka imut sekali." Kata Soonyoung sambil memeluk Seokmin. Seokmin mengusak rambut Soonyoung.

"Iya, sayang. Tapi kita lebih imut dari mereka, ya kan?" Soonyoung mengetuk kepala Seokmin pelan sambil merona.

"Diam kau, kuda." Seokmin merengut tapi kemudian ia memeluk kekasihnya lagi sambil menonton 'tontonan gratis' di kelas sana.

"Uh. Aku mual melihat tingkah cheesy mereka." Mingyu terkekeh lalu menatap kekasihnya gemas.

"Memangnya kita tidak pernah chessy?" Wonwoo mendelik.

"Iya, kau yang cheesy. Kalau aku sih, maaf maaf saja." Mingyu menggoda kekasih tsundere nya ini.

"Yang waktu itu mengatakan 'Kau pahlawanku, Mingyu. Kalau tidak ada kau-'umph."

"Diam." Dan dengan itu Mingyu terdiam membisu.

"Akhirnya mereka bersatu juga. Aku sudah capek melihat mereka uring-uringan sendiri." Jeonghan menyenderkan kepalanya ke bahu Seungcheol. Seungcheol hanya tertawa.

"Iya, gengsi mereka keterlaluan. Syukurlah, sayang." Jeonghan dan Seungcheol tersenyum bersama.

.

FIN

Yess another chapter is updated! Dan aku tahu hasilnya sangat mengecewakan ToT Maaf yaa reader-nim T.T Aku sengaja post JiZi dulu karena di review ada yang minta Woozi duluan. Walaupun ada juga sih yang minta JunHao, tapi plot untuk mereka belum ketemu TT. Dan di review ada yang ngusulin buat Woozi dikapelin sama Seungcheol, Soonyoung atau Mingyu. Sayangnya, aku adalah Seunghan, Soonseok, dan Meanie hardshipper :3 Dan Woozi tinggal punya Jisoo :3 Moment JiZi emang jarang, cuman mereka cute kok menurutku :3

Aku juga sempet –sering- kepikiran buat bikin ff diluar ff ini. Maksudnya bikin ff baru :v Tapi aku sering kepikiran buat sisa chapter ff ini dan sekarang tinggal JunHao yang belum. Nah, boleh ga aku nanti post ff baru? Pairnya..Cheolsoo :3 Anyone Cheolsoo shipper here? Kalau mau, nanti aku bisa usahain buat bikin ff nya ;) Yang mau usulin pair monggo :) Review again~~