CLICHE LOVE

Main Cast : Seventeen's Jun / Wen Junhui

Seventeen's The8 / Xu Minghao

.

Banyak orang yang bilang jika usia yang paling menyenangkan untuk memiliki kekasih adalah masa remaja atau awal masuk dewasa. Ya kira-kira sekitar belasan tahun, lah.

Dan argumen itu dibenarkan oleh teman-temannya seperti Soonyoung dan Seokmin. Mereka sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu. Dan Jun tidak berbohong jika dia sangat iri melihat teman-temannya sudah mempunyai kekasih. Bahkan mereka semua mempunyai periode hubungan yang cukup langgeng.

Lah dia sendiri belum pernah sama sekali berpacaran. Bukan dia tidak laku juga, sih. Sebenarnya lelaki China itu cukup populer dengan ketampanannya dan keahlian martial arts-nya di sekolah. Jun juga cukup sering mendapat surat pernyataan cinta dari adik kelasnya atau seangkatannya. Namun, Jun belum mendapatkan yang pas dengan hatinya. Teman-temannya juga sudah pernah mengenalkan dia dengan seseorang. Tetap saja, hatinya kosong.

Sebenarnya, Jun mempunyai tipe ideal untuk menjadi kekasihnya. Namun sialnya, disaat dia benar-benar menyukai seseorang, orang itu malah orang yang dekat dengannya.

Si pemuda Xu, asal China juga. Dan paling parahnya,

Pemuda itu sahabatnya.

.

Teman-temannya sudah pasti belum tahu jika ia menyukai pemuda berwajah manis itu. Walaupun Mingyu, pernah curiga kepadanya. Mungkin bisa dibilang sampai sekarang.

"Hei, Jun, kapan kau akan menembak Minghao?" Lihat sendiri, kan?

"Sudah kubilang aku tidak menyukainya, tiang." Jun juga punya gengsi, oke? Mau ditaruh dimana mukanya kalau ketahuan dia menyukai Minghao?

Mingyu mendengus, "Heh, memangnya aku bodoh apa? Cepat sana tembak nanti diambil orang, loh." Jun mengangkat kepalanya dan melayangkan bukunya ke kepala Mingyu. Mingyu mengaduh.

"Aduh, hei, hyung! Kenapa kau memukulku?! Tinggal bilang saja kau menyukai Minghao apa susahnya, sih?" Jun menghiraukan ucapan Mingyu dan memilih membaca lagi novelnya.

"Berisik."

'Karena dia sahabatku, Mingyu Kim.'

.

"Hei, Jun-ge! Ayo pulang!" Seorang pemuda berambut ikal mendekati Jun yang sedang membaca di perpustakaan. Jun yang menyadarinya mengangkat kepalanya dan tersenyum sekilas, lalu bangkit membereskan bukunya.

"Ayo, Minghao. Sebentar, ya." Minghao hanya mengangguk imut lalu mereka keluar dari perpustakaan.

Di tengah perjalanan pulang, Jun melirik ke arah Minghao lalu tersenyum manis. Minghao yang merasa dilirik langsung menatap Jun heran.

"Jun-ge? Hei, kau kenapa?" Jun hanya tersenyum penuh arti sedangkan Minghao masih bingung.

"Sebelum pulang, kita mampir dulu di toko bunga ibuku, ya?" Minghao tersenyum lalu mengangguk. Jun mengusak rambut Minghao sampai berantakan yang membuat Minghao merengut.

"Hei, kau merusak rambutku, hyung idiot!" Jun tertawa dan kembali berjalan dengan Minghao di sampingnya.

.

"Annyeong, eomoni." Seorang wanita berwajah Chinese mendekati mereka berdua.

"Hei, Junnie. Eh, ada Minghao juga?" Minghao dan Jun tersenyum bersamaan yang membuat ibu Junhui tersenyum gemas melihatnya.

"Aduh, kalian kompak sekali, ya. Coba kalian berpacaran. Pasti kalian romantis sekali." Jun memutar bola matanya malas. Ibunya memang selalu begitu. Walaupun jauh didalam hati Jun dia senang ibunya menyukai Minghao juga dan menginginkan dia dan Minghao berpacaran.

Sedangkan di sisi lain Minghao sedang menunduk menahan malu karena ibu sahabatnya itu. Jun yang melihat Minghao menundukkan kepalanya mengelus rambut Minghao dan berbisik, "Maafkan ibuku, ne?"

Minghao hanya mengangguk. Dan tanpa diketahui oleh Jun, Minghao menghela nafas pelan.

'Kapan kau peka, ge.'

.

"Maaf aku hanya membuatkan kalian ini saja, tidak apa-apa kan?" Jun dan Minghao hanya tersenyum manis lalu mengangguk.

"Tidak apa-apa, eomoni. Ini enak, kok." Jawab polos Minghao. Ibu Junhui makin gemas melihat tingkah pemuda yang ia sayangi seperti anaknya sendiri itu.

"Ya sudah aku tinggal dulu, ya." Ibu Junhui melenggang ke counter toko. Ia tersenyum lembut sambil memerhatikan anak laki-lakinya dan sahabat anaknya itu.

"Andai saja mereka itu mempunyai hubungan ya, eomma." Tiba-tiba seorang perempuan mendekati ibunya. Ibu Jun mengangguk setuju.

"Iya, tapi biarkan saja, lah. Toh aku rasa mereka tidak lama lagi akan jadian." Zifen -kakak perempuan Jun- memutar bola matanya.

"Seobsesi itu kah eomma ingin Minghao menjadi menantumu, eomma."

"Sstt. Memangnya kau tidak mau Minghao jadi adik iparmu, huh?"

"Terserah, eomma." Setelah itu Zifen ikut memerhatikan dua orang di ujung sana yang sedang menikmati kue jahe dan teh.

.

"Ah. Sudah sore. Ayo pulang, Minghao." Minghao hanya ikut saja, lalu mereka pamitan dengan ibu Jun dan Zifen. Tentunya tidak lupa dengan godaan ibu Junhui yang lagi-lagi membuat Minghao merona.

Di tengah perjalanan pulangnya, Minghao menghentikan langkahnya yang membuat Jun juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Minghao.

"Ge. Aku ingin ke taman." Jun membolakan kedua matanya. Hell, ini masih musim dingin, oke?

"Apa? Kau gila?" Minghao memanyunkan bibirnya dan merajuk pada Jun.

"Ayolah ge~ Aku sedang ingin ke taman." Jun menatap ragu sedangkan Minghao masih dengan pose merajuknya. Tidak tahan melihat aksi Minghao, akhirnya Jun menghela nafas pasrah dan mengangguk. Minghao melompat riang dan menarik Jun ke taman dekat sungai Han.

Saat sampai disana, hanya beberapa orang yang sedang ada disana. Tentu saja. Orang-orang pasti lebih memilih berdiam di rumah dan menggulung mereka dengan baju tebalnya daripada datang ke taman dengan cuaca seperti ini.

Minghao langsung mendudukkan dirinya di kursi taman yang tidak terkena salju, lalu menyuruh Jun untuk duduk disampingnya.

Lama mereka berdiam diri tanpa berbicara, akhirnya Jun mencoba membuka pembicaraan.

"Minghao." Minghao menoleh ke arah Jun dan menjawab dengan gumaman.

Jun berdehem sebentar. "Apa kau pernah menyukai seseorang?" Minghao terdiam cukup lama lalu akhirnya menjawab.

"Ya, aku pernah menyukai seseorang. Bahkan hingga saat ini." Hati Jun serasa remuk saat mendengar Minghao sedang menyukai seseorang. Tapi Jun berusaha menutupinya dengan senyumnya.

"Kau sendiri, ge?" Jun tersentak mendengar pertanyaan Minghao. Namun sekali lagi Jun tutupi dengan pernyataan santainya.

"Ya, aku juga sedang menyukai seseorang." Tanpa diketahui Jun, ekspresi Minghao berubah seketika dari ceria menjadi mendung. Tidak seperti Jun, Minghao bukanlah orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Jika ia sedih, maka ia akan menunjukkan bahwa ia sedih.

"Ah, begitu. Kau sudah lama menyukainya, ge?" Jun tersenyum simpul.

"Empat tahun." Minghao hanya menggumam.

"Kau sendiri sudah berapa lama menyukainya?"

"Sama sepertimu, empat tahun." Setelah itu hanya suara angin yang mengisi pendengaran mereka berdua.

"Jun-ge/Minghao." Tanpa diduga mereka ingin berkata bersamaan. Mereka salah tingkah.

"Ah, kau duluan saja, ge." Jun mengambil nafas dalam lalu bangkit dari duduknya dan berlutut di depan Minghao. Minghao yang melihatnya terkesiap.

"Eh, ge. Kau mau apa?"

"Minghao, aku mohon, kau dengarkan aku baik-baik." Jun menghela nafas lalu menatap tepat ke mata Minghao.

"Minghao, aku tahu aku bukan orang yang pantas menjadi kekasihmu tapi, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, Minghao. Orang yang selama empat tahun ini mengisi hatiku adalah dirimu. Aku memang pengecut karena baru menyatakannya sekarang. Tapi kau tahu kita sudah bersahabat sangat lama, bukan? Aku takut bukannya aku mendapatkanmu, aku malah kehilangan sahabatku.

Maka dari itu, detik ini, aku menyatakan perasaanku terhadapmu. Aku tidak memaksamu untuk menerimaku, Minghao. Tapi aku mohon, setelah ini, kau jangan pergi dariku. Jika kau menolakku, kita masih bersahabat, ne? Baiklah Xu Minghao, wo ai ni."

Air mata Minghao jatuh begitu saja saat Jun mengucapkan kalimat terakhirnya. Mereka masih bertatapan. Tapi lima detik kemudian Minghao menguasai dirinya dan menghambur memeluk Jun. Jun tersentak. Dia..diterima?

"Minghao, kau menolakku atau menerimaku?" Minghao melepas pelukannya dan mengetuk kepala Jun.

"Kau ini memang manusia tidak peka ya, ge." Jun semakin terkejut dengan pernyataan Minghao. Pernyataan Minghao terkesan ambigu -bagi Jun-.

Minghao yang melihat pemuda Shenzen itu masih dalam mode off nya memutar bola matanya. "Astaga, kau diterima, ge. Ya ampun."

Jun semakin membulatkan matanya dan setelah itu melepas pelukan Minghao seutuhnya dan dia mulai melompat-lompat tak jelas di taman dan membuat Minghao facepalm.

Jun masih dalam mode senangnya dan masih melompat-lompat setelah pernyataan Minghao sepuluh detik yang lalu. Minghao masih facepalm.

"Kalau kau tidak berhenti dalam satu detik kedepan, kau ku tolak." Jun refleks berhenti dan berlari lalu memeluk erat Minghao. Minghao cuma menggelengkan kepalanya melihat betapa senangnya kekasih barunya itu.

"Jadi orang yang selama empat tahun ini kau sukai itu aku?" Minghao terkekeh dan mengangguk.

"Makanya kau keterlaluan ya, tidak peka sama sekali." Minghao merengut lagi dan membuat Jun tertawa.

"Hehe. Aku bukan tidak peka, sayang. Aku juga kan menyembunyikan perasaanku dari teman-teman. Makanya aku terkesan cuek dan tidak peka terhadapmu. Padahal aku sangat berharap kau menyukaiku juga." Giliran Minghao yang tertawa kali ini.

"Terserah. Well, kau percuma menyembunyikan perasaanmu dulu, toh semuanya sudah mengetahuinya." Jun terkejut.

"Apa? Mereka tahu dari siapa?"

"Orang yang tahu kau menyukaiku dan orang yang selalu menggodamu tentangku." Jun menggeram.

"Dasar Kim Mingyu mulut ember." Minghao tertawa kecil.

"Eh tunggu, kalau semuanya tahu berarti kau..?" Minghao mengangguk santai.

"Tentu saja aku tahu kau menyukaiku." Jun mendecih.

"Yah, pernyataanku tadi sia-sia, dong. Tidak mengejutkanmu."

"Siapa bilang? Aku memang tahu kau menyukaiku, tapi kalau terucap langsung dari mulutmu kan lebih jelas." Jun tersenyum dan Minghao menyenderkan kepalanya kebahu Jun.

"Kau mau membeku disini? Ayo pulang." Minghao menggeliat.

"Ah~ aku tidak mau. Aku masih ingin bermanja-manja padamu." Jun tersenyum manis dan akhirnya membiarkan Minghao di pundaknya.

"Wo ai ni, Minghao."

"Wo ai ni, Junhui."

.

Fin

MANSAE! \^o^/ Akhirnya chapter terakhir selesai! Butuh perjuangan nyari ilham/? buat bikin chapter terakhir ini TT Alhamdulilah udah selesai :) Terima kasih untuk semuanya yang selama ini ngikutin ff saya /deep bow/ Maaf jika chapter terakhir tidak memuaskan T.T Thanks a lot for your support guys!

RnR?